Sabtu, 01 Februari 2025

Hari

Dear Ari, hari ini aku menyerah lagi.

Sesosok monster di dalam diriku mengaum lagi. Raungannya begitu keras dan memilukan. Sampai-sampai aku tidak bisa melawan. Hanya pasrah dan mendengarkan.

Dear Ari, hari ini aku merajuk lagi.

Sebongkah bara kembali menyengat kulitku. Padahal letaknya ada di dalam nadi, harusnya tidak sampai melukai permukaan kulit, tapi itu terjadi. Luka bakarnya sampai membuatku berair mata. Rasanya panas sekali.

Dear Ari, hari ini aku merayu lagi.

Agar semesta sanggup memutar kembali waktu dan sudi mengembalikan nyawamu. Agar maut tak kembali dengan keadaan sia-sia, aku rela mengikuti langkahnya, sebagai ganti karena telah menukar sanderanya, mengambil tempat disisinya, yang seharusnya di isi oleh dirimu.

Dear Ari, hari ini aku mengeluh lagi.

Sebongkah lelah tergusur dari tebing tinggi. Yang pucuk gunungnya sama sekali tidak tercapai mata. Aku tertimpa olehnya seketika. Meski mengaduh bukan kebiasaanku, tapi aku melakukannya, demi menggenapi kebutuhanku sebagai manusia.

Dear Ari, hari ini aku berserah lagi.

Berkali-kali menggumamkan nama-Nya seperti merapal sebuah mantra. Bertanya dan kembali bertanya. Kemana kiranya kapal koyak ini akan membawaku. Gelombang besar memecah bertubi-tubi, kayuku melapuk, awakku tak bersisa, sisa dayungku masih kokoh dan utuh, tapi tanganku tergetar oleh ketiadaan kuasa.

Dear Ari, masihkah engkau disana, memunguti setiap keluh kesahku. Karena jika engkau pergi, maka aku tidak akan berpikir ulang lagi dalam menemui Dia dengan inisiatif mandiri.

Dear Ari, menurutmu apalagi kini yang tersisa dariku.
Nadi-nadi menyala, nafas-nafas menguapkan api, aku remuk karena hantaman godam besi, seseorang telah menghancurkanku lewat jalur dalam. Pengecut sekali memang, tapi aku mengenali seseorang itu. Sangat mengenalnya. Dia adalah diriku sendiri.

Dear Ari, aku menenggak racun lagi hari ini.

Segelas piala dengan cairan berpendar di sodorkan di depan mataku. Cairan di dalamnya bening seperti kaca, jernih seperti pandangan. Aku tergoda untuk mencelupkan satu ruas jari hanya untuk mencicipi. Tapi rupanya bukan rasa manis yang menyambutku, itu kegetiran, jenis racun yang bekerja secara diam-diam, menipu semua calon korbannya dengan penampilannya yang begitu tenang.

Dan aku memainkan perjudian lagi kali ini. Kutenggak isi piala hingga tak bersisa. Kapan itu termulai dan kapan itu terakhiri, seolah tak ada yang mengerti. Semua hanya terjadi. Terjadi. 



02022025-