Ari pergi, semestaku berpusat pada pemikiran-pemikiran yang kuciptakan sendiri. Bukan lagi dari euforia yang di sebabkan oleh keberadaan Ari.
Aku rindu menjadi akar tanaman, yang meranggas, tertimbun tanah, dan di jadikan sebagai jungkat-jungkit oleh biota tanah. Kendati kata rindu hanya bisa di sandingkan dengan kejadian, cuplikan-cuplikan kenangan yang sudah berlalu, tapi menjadi akar tanaman adalah salah satu angan yang selalu kudoakan supaya menjadi nyata.
Aku rindu Ari, tapi aku lebih rindu menjadi diriku ketika Ari masih ada di sini.
Dulu bintang-bintang dan rembulan berputar di sekelilingku, menemani keseharian dan menjadi bagian dari kehidupanku. Sekarang tidak lagi, pernak-pernik alam semesta ini mendadak mewujud menjadi sesuatu yang manusiawi. Aku menemukan sinar oranye berpendar di sekitar tawa yang merebak di wajah anak perempuanku, aku membaui aroma manis awan dari gumpalan surai yang bertumpuk halus di kepala anak laki-lakiku.
Dua janin bertumbuh yang menyebutku sebagai ibu mendadak menjelma menjadi matahari sekaligus langit untukku. Bagaimana tepatnya itu bisa terjadi, aku bahkan tidak tahu. Kesedihan bertumpuk bersama harapan, air mata melelehkan darah berwarna pekat, balon-balon berisi bisikan berhamburan melalui celah kecil ventilasi di atas jendela rumah.
Setelah berkutat dan di dekap semua itu, pemikiran-pemikiran menggeser keyakinan. Akulah alam semesta ini, bagaimana mungkin selama ini tidak kusadari? Kala pucuk pelangi mulai menghilang di balik semak rerimbunan, aku menjelma menjadi apa saja, mulai dari musang pincang, rumput sewarna tulang, hingga jamur bertudung warna-warni.
Dan aku masih saja merindukan diriku sebagai manusia seutuhnya. Kala Ari masih di sini, mendekap semuanya, dan berbagi udara dengannya.
Awalnya kukira aku telah lebur menjadi serpihan abu, sempat takut juga pada keberadaan angin-angin, karena mereka pasti akan menerbangkanku dengan begitu mudahnya. Tapi tidak, aku melebur bersama tanah, dan terkadang menjadi tanah itu sendiri tanpa lebih dulu kusadari.
Awalnya kukira aku akan terkubur bersama tanah merah yang menelan Ari, hingga kutumbuhkan sayap di punggung dengan kekuatan tak terduga, sakitnya luar biasa, tapi aku ternyata mengerahkan usaha, melarikan diri dari lengan-lengan tak terlihat yang mungkin bisa menjangkau dan menjejalkanku ke dalam pusara berisi kenangan-kenangan tentang Ari.
Aku melihat genangan air selangkah di depanku, bayangan bening itu menangkapku dalam gambaran mengenai seseorang yang di cium oleh air sungai hingga habis nafas, kenangan-kenangan gelap mengenai Bapak yang hingga kini belum bisa kuatasi, sampai ketika aku pergi menjemput lautan, dan di sana kutemui genangan yang lebih besar, bahkan sangat besar, hingga diri ini beserta ketakutan-ketakutan yang di bawanya seolah tak berarti apa-apa.
Beralih pada bangunan yang kusebut rumah, pondasi-pondasi kokoh yang mulai menunjukkan tanda-tanda penuaannya. Kendati terkadang aku pergi, beranjak dan menetap, tapi rumah itu tak kan pernah terganti, hingga kata-kata meluncur bak dentuman martil pada objek pukulannya, aku dan pemikiranku meruntuhkan kekokohan bangunan yang kusebut rumah. Aku membuatnya berserakan, bebatuan kecil dan pasir-pasir.
Ari pergi dan pemikiran-pemikiran mengenai tumbuh dan berkembang mendadak terhenti. Aku tidak memiliki cukup pupuk untuk menyemai dan menumbuhkan apapun, bahkan biji kebencian sekalipun. Dan separuh dunia mengutuk perginya sisi kometitif dalam diriku, karena dalam semua ajang yang kumasuki, kurelakan semuanya berjalan tanpa perlu diri ini menyertakan diri. Aku pecundang yang berdiri di balik kerendahan hati.
Binatang-binatang menyertai pemikiran-pemikiranku di kala hari di selimuti awan gelap dan tetes-tetes air kecil mulai turun membasahi bumi. Berbicara mengenai biota kecil-kecil yang seringnya terlupakan, hingga binatang-binatang berukuran giga yang hanya hidup di alam fantasi manusia. Aku merasakan getaran mereka semua, memahami komunikasi, dan mendadak beralih menjadi bagian dari kawanan-kawanan itu. Bertanya mengapa manusia keji, mengapa manusia mengotori udara dengan serapah, mengapa manusia serakah, dan lain sebagainya. Yang mana hampir semuanya merupakan gambaran dari ketidakpuasan sisi lainku terhadap manusia, dan mempertimbangkan kembali pengukiran status mereka sebagai makhluk hampir sempurna. Maksudku, bagaimana itu bisa?
Dan meski semua bahasa berhasil kukelabui dengan ketiadaan aksara, satu-satunya pertanyaan yang selalu mengendap di sana selalu meluber dengan cairan berwarna sama. Sudahkah aku cukup berguna sebagai manusia?
Aku melihat geliat kegunaanku bangkit dengan intensitas lebih ketika Ari sudah tak lagi menampakkan diri sebagai salah satu penduduk bumi. Mengukir banyak setapak anyar, menjajal banyak kemungkinan yang selama ini selalu kuhindari, dan...berjalan di atas pemikiran-pemikiran yang berhasil kuciptakan sendiri. Dan meski aku tidak begitu yakin apa fungsinya itu bagi eksistensi kehidupan lain, kurasa aku cukup berguna juga akhirnya, jika bukan untuk dunia ini, setidaknya untuk duniaku sendiri.
Milyaran bakteri yang mendiami raga ini pasti tengah berpesta pora di dalam sana, karena mendung mengarat yang bertahun-tahun kebelakang setia memayungi semesta mereka akhirnya tercerahkan oleh waktu. Aku sembuh karena kepergian Ari, meski itu hanya berarti satu hal bahwa aku sudah tidak bisa lagi merasakan kompleksitas sebagai manusia. Mati rasa ini sudah beralih menjadi sesuatu yang permanen dan akan bertahan mungkin hingga hari terakhir bakteri-bakteri tersebut mendenyutkan keberadaan mereka.
Air mata ini tidak mengering, sumber dan rute alirannya masih ada, membekas di sepanjang garis otot sekitaran mata. Tapi pemikiran-pemikiran memaksanya untuk mengirit-irit laju pengeluaran. Dan rasa lelah membunyikan kode indikasi dengan suara paling keras. Sudahkah aku bangkit dari segala kepedihan tentang kepergian Ari? Berapa normalnya waktu yang di butuhkan manusia lain untuk bangun saat berada di posisi ini sebenarnya?
Dan matahari, dan langit-langit beserta awan dalam pelukannya. Sudahkah aku cukup baik untuk mereka?
Baikkah jika aku kehilangan hingga batas tanya pada siapa sebenarnya diri ini? Karena terkadang, di malam-malam pekat saat yang terjaga hanya raga ini dan alunan suara dari alam yang di bungkam oleh sunyi, aku merasakan perpecahan dari bagian raga ini. Ketidak sinambungan yang begitu kentara, bukan lagi berdiri di antara alam bawah sadar, tapi nyatanya aku benar-benar mempertanyakan kenapa perasaan ini tidak terhubung pada jalinan sel yang merambati bagian tangan? Milik siapakah itu? Yang bergerak tanpa mengenal waktu? Yang berusaha tanpa mengenal kata lusa.
Lalu kebiasaan-kebiasaan baru yang normalnya tidak akan kujajal apalagi di lakukan secara konstan dan berulang. Namun kebiasaan-kebiasaan itu benar-benar mewujud sebagai jalanan baru. Meski aku tak pernah mempermasalahkan mengenai opsi lain yang mungkin tidak akan pernah kupilih, tapi kepergian Ari memberiku kekuatan untuk mencicipi mereka semua.
Dan pertanyaan mendasar yang menjadi alasan sebenarnya kenapa paragraf ini tercipta, kerisauan yang mendadak hadir di hari minggu pertama bulan kesembilan tahun ini.
Sudah cukupkah aku dalam bermetamorfosa?