Aku kembali ke rumah kecil ini. Setelah sekian lama dan sekian waktu.
Pertama, izinkan aku berkata jika rindu itu masih ada. Meski kadang tersamarkan, namun tak pernah hilang.
Kedua, aku masih hidup sekarang. Ajaib sekali bukan? Setelah dihantam duka semendera itu. Setelah terpuruk sekejam itu. Dan aku masih tidak berteman. Seperti dugaanmu tentu saja.
Aku tidak tahu selama ini siapa yang telah kuajak berbicara mengenai duka-duka tentang namamu. Mungkin tembok, mungkin nyamuk, mungkin juga kemampuan bodohku mengarang cerita.
Aku menyamarkan keberadaanmu menjadi banyak nama. Mulai dari pangeran licin dari dunia Harry Potter, hingga artis legenda dari Korea.
Aku menjelmakan banyak kisah kita menjadi rupa-rupa judul, meski hampir kesemuanya berisi sama. Kehilangan, trauma ditinggalkan, mimpi-mimpi terbengkalai, perjuangan.
Beberapa kali aku menyamarkanmu menjadi alam semesta dengan keindahan abadi yang kujabarkan dalam susunan kalimat sedemikian rupa.
Dan dari kesemuanya membuatku tersadar, bahwa satu-satunya hal yang kubutuhkan hanyalah berbicara.
Dear Ari.
Kau merindukan mereka? Karena mereka menabung rindu yang kian menggunung spesial hanya untukmu.
Beberapa kali si sulung menangis karena teman-temannya mencandai dirinya dengan sebutan anak yatim. Dan kau tahu apa tanggapanku? Tertawa.
Terlihat kejam. Tapi aku tidak bisa memberinya kebahagiaan palsu. Dia perlu tahu bahwa itulah dirinya. Cap istimewa yang hanya bisa di percayakan oleh Tuhan. Di kemudian hari, dia akan tetap mendengar bercandaan seperti itu, entah dari teman-teman, lingkungan atau dari orang tak di kenal. Jika hari ini aku marah, kemungkinan di kemudian hari dia juga akan marah ketika hal serupa kembali mendatanginya.
Aku ingin dia melihat, bahwa status istimewa itu tidak sembarang orang bisa menanggungnya. Tempat kita berat, tidak semua orang bisa menjalaninya. Bukan hanya beban soal besok kita mau makan apa, tapi juga beban bagaimana kita tumbuh kuat tanpa penopang lengkap.
Aku ingin si sulung menerima keadaannya. Itulah benang merah takdir yang diterimanya. Jika dia sendiri tidak bisa menerima, maka dia akan berakhir. Aku selalu ingin dia tumbuh dan berlanjut. Bukan berakhir.
Tidak usah ditanya seberapa keras aku menjeritkan tangis saat tengah menyuguhi tawa pada aduan si sulung saat itu. Tidak ada orang tua mana pun yang ingin melihat anaknya di anugerahi status satu itu. Tidak ada yang berbahagia juga. Tapi aku perlu mempersiapkan si sulung supaya menjadi sosok tegar kedepannya.
Dear Ari.
Menjadi orang tua tunggal itu berat. Sangat berat.
Suatu hari aku bangun dengan separo napas tertinggal di alam mimpi. Di lain hari aku tertinggal napas saat kebutuhan hidup mengajakku lomba lari.
Kepergianmu mengacaukan jalan pernapasanku. Padahal semua orang tahu, seberapa penting proses bernapas yang benar bagi keberlangsungan hidup seseorang.
Dear Ari.
Aku benci menjadi orang yang harus mengambil dan menanggung sebuah keputusan. Aku menakutkan terlalu banyak hal. Aku... Aku tidak sekuat itu mempertanggung jawabkan keputusan sekecil aapun yang pernah keluar dari mulutku.
Aku amnesia tentang cara menggantungkan hidup. Seringnya aku hanya bisa melayang tanpa daya begitu saja, di udara. Antara ingin terbang tapi tidak bisa, tapi menapak dengan tenang sudah tidak bisa kulakukan.
Aku... Seambigu itu.
Dear Ari.
Aku butuh bahu. Ada gumpalan beban yang menggayuti kedua pundakku. Rasanya melelahkan sekali. Sungguh. Bahkan jika di paksa memilih antara mematahkan kedua lengan hingga pangkal atau memilih bertahan, bisa jadi aku akan mengambil pilihan pertama. Hanya karena... Ini benar-benar terlalu berat dan melelahkan.
Dear Ari.
Kenapa namamu mengabu secepat itu?
Dear Ari.
....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar