Rabu, 13 Januari 2016

Lelaki Tertampan

Ia bukanlah jenis lelaki yang diidamkan banyak wanita. Kulitnya hitam akibat terlalu sering terpapar sinar matahari. Kakinya penuh bekas luka di kiri dan juga di kanan, entah itu karena jatuh atau tergores atau bekas alergi atau malah cinderamata dari panas knalpot si kuda besi. Bulatan matanya tidak begitu putih dan jernih, tapi bola kecil hitamnya menyimpan bongkahan banyak bara. Ditelapak tangannya terdapat banyak kapal, kulit mati yang kian mengeras dan menimbulkan efek aneh disaat telapak itu ia gunakan untuk meraba dan menyentuh. Keras yang akan mengingatkanmu pada masa-masa berseragam, keras yang terasa seperti gumpalan tanah liat kering ditelapak tangan sisa membuat prakarya. Mungkin seperti itu. Ia, aku tegaskan sekali lagi bukanlah jenis lelaki yang diperebutkan banyak wanita. Namun aku, manusia dengan jenis kelamin dipertanyakan ternyata berhasil ditaklukkannya.
.
.
Dulu, aku selalu memiliki anggapan bahwa lelaki tampan adalah mereka yang memiliki kulit putih dan semulus pualam. Mereka yang memiliki tatanan rambut menarik dengan sedikit lencir di ujung tengkuk. Mereka yang bermata putih yang saking jernihnya sanggup terpantul bayangan objek di depan lewat bola matanya. Aku selalu menganggap lelaki tampan ialah mereka yang berkaki jenjang, berbulu jarang, dengan kuku-kuku lentik bersih. Dulu aku selalu menganggap tampan adalah apa yang sanggup dicerna oleh retina, bukan apa yang dihasilkan dari perpaduan debat banyak indera. Dulu aku selalu berkhayal bisa menyentuh kulit-kulit bak pualam milik idola ternama, berkayal juga bisa meneliti setiap jengkal leher mulus mereka, menangkupnya dalam resapan jemari, membiarkan tangan-tanganku menikmati sajian halus yang sekali lagi kuibaratkan mirip pualam.
.
.
.
Dan itu adalah aku yang dulu, aku yang masih mencari jawaban kenapa aku ada, aku yang masih berkeliaran menangkapi ribuan tanda tanya. Sekarang, aku telah memiliki. Dengan bangga aku akan memamerkan diri bahwa aku telah memiliki. Lelakiku bukanlah jenis yang banyak diidamkan para wanita. Kulitnya legam, rambut ikal halus dan tak tertata, matanya hampir menyerupai warna abu, kakinya pun penuh cinderamata. Namun alam berhasil menyihirnya menjadi lelaki penuh misteri. Setidaknya sihir itu benar-benar bekerja padaku. Bagiku ia teramat tampan. Lelakiku adalah jenis yang hanya ada satu dialam ini, ia terlahir istimewa untuk menyempurnakanku. Untuk itulah aku tak pernah alpa mengucap syukur karena berhasil memilikinya. Aku tau, dari semua yang pernah kumiliki..dari yang tergenggam ataupun terikhlaskan. Dengan percaya diri kunyatakan bahwa aku masihlah yang paling beruntung diantara semuanya.
.
Namanya Ari. Ariku. Aku selalu suka memandangi kelopak matanya lama-lama, mengecupi hingga bibirku mati rasa. Binar retinanya selalu menyimpan bongkahan banyak bara. Memandanginya lama-lama sanggup menularkan asa, harap dan tak lupa juga kehangatan. Matanya adalah bagian terindah yang bisa kuapresiasi hingga saat ini. Sorotnya membuatku aman sekaligus nyaman, berada jauh dari mata itu selalu mendatangkan takut berlebih, khawatir tak beralasan. Aku selalu suka membenamkan mukaku dikerumunan helai ikal halusnya. Menyesapi aroma shampo yang tertinggal disana, menyisir helai itu hingga tengkuk dan membiarkan jemariku beristirahat dipangkalnya. Mendekapnya adalah hal terbaik yang pernah kulakukan hingga hari ini. Membiarkannya meringkuk dalam dekapan menghadirkan padaku perasaan agung melebihi jatuh cinta. Pernahkan engkau terhanyut pada perasaan hingga titik itu ?
Aku selalu suka menautkan jemariku pada jemarinya, menyalurkan energi baginya yang tak pernah sudi memperlihatkan luka. Aku tahu ia makhluk terkuat yang pernah kutemui. Jemari kasarnya selalu menyadarkanku lagi dan lagi bahwa aku adalah perempuan. Ya, alam selama ini mengombang-ambingkan pengetahuanku, terkadang aku merasa gagah seperti kaum adam, terkadang aku merasa jelita seperti halnya kaum hawa. Dan ia selalu berhasil membuatku merasa perempuan, ia selalu berhasil membuka tabir yang melumuti waktu bahwa aku sudah seharusnya memiliki kehalusan dan kelembutan seorang wanita yang selama ini sangat asing bagiku. Ia membuatku merasa sempurna.
.
.
.
Dulu aku menamai idola tampanku sebagai si malaikat tanpa sayap. Kini, ketika aku terbangun dari tidurku dan menyadari Ari berada lelap mendekapku, saat itulah aku merasa bahwa Tuhan begitu sayang kepadaku. Malaikat tanpa sayap tak lagi ada dalam format idola, ia hadir nyata. Dulu aku selalu bermimpi untuk bisa mengecupi iris karamel idolaku, kini lagi-lagi aku merasa Tuhan terlalu menyayangiku. Ari yang tengah terlelap lebih mendamaikan ketimbang memandangi air terjun niagara di seberang sana. Dulu aku selalu berdoa untuk bisa meski hanya satu kali saja melihat idola tampanku tanpa penghalang layar kaca. Dan kini, Ari bagiku adalah lelaki tertampan yang pernah berhasil kudekap erat-erat, lebih dari itu karena kini dan entah kapanpun nanti..aku telah berhasil memilikinya. Lelaki berhargaku. ARI. :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar