Beberapa yang lain menyerupai batu, tidak peduli seberapa keras hujan dan terik mengguyuri dirinya, dia akan tetap keras seperti itu, tak tersentuh apalagi berubah.
Aku adalah salah satu yang menyerupai batu. Terlahir dari seseorang yang murni manusia dan di namai tanah. Entah filosofi apa yang terpikirkan oleh pengandungku saat itu, tapi yang pasti aku bertumbuh sejalur dengan nama yang di sematkan oleh mereka di awal perjalanan. Terinjak, dan menjadi pijakan. Ya, aku mengalami keduanya secara bersama-sama. Masa kecil yang di harapkan bisa membawa keceriaan di dalamnya, ternyata hanya menyisakan aku dengan rasa malu yang sedikit berada di bawah garis standar. Pengandungku dengan secara gamblang dan menyatakan sedini mungkin tentang siapa dirinya, siapa diriku, dan siapa mereka. Tunduk menjadi sesuatu yang sulit di cerna saat itu, tapi kepalaku terus di paksa agar melakukannya tidak peduli apa arti dan tujuannya. Pengandungku benar-benar sesiap itu membentuk diriku agar bisa sejajar dengan dirinya.
Tumbuh lebih besar membawa keliaran di setiap langkahku. Aku mulai bisa mempertanyakan, aku mulai bisa mengatakan tidak, namun jawaban yang selalu kutunggu dan kucari tak pernah datang dengan gamblang dan segera. Aku harus menunggu lebih dari sekedar lama untuk mengetahui apa sebenarnya makna terselubung di balik tunduk yang selalu di jejalkan kedalam kepalaku. Awal mula terbentuknya batu di dalam diriku, meski saat itu aku justru menyalahi artinya sebagai calon lahirnya bibit kayu. Aku berontak, tidak mengerti harus menjadi siapa diriku saat itu, tidak ada panutan yang bisa membimbing langkahku, karena jujur saja aku tidak pernah melihat siapa-siapa, efek pelajaran tunduk yang terlalu dini membuatku takut untuk melihat sekitar, kemanapun mata memandang hanya ada tanah dan jangkauan satu langkah di depan kakiku sendiri. Tunduk, bisakah aku mengutuk keberadaannya?
Tentang namaku memang ada filosofi yang terkandung di dalamnya, aku menyadari itu ketika benar-benar telah tumbuh dewasa. Selain menjadi tempat berpijak dan terinjak, adalagi sesuatu istimewa yang dimiliki oleh tanah, yakni menjadi dasar bagi adanya kehidupan. Tidak peduli seberapa tingginya seseorang, tidak peduli seberapa besarnya dia, tanah tetaplah landasan bagi semuanya. Awal dan akhir adanya kehidupan, tempat berpasrah bagi raga-raga yang telah padam, tempat terakhir bagi nyawa-nyawa yang tak lagi memiliki cahaya.
Dan meresapi semua itu membuatku akhirnya bisa menikmati kutukan yang selama ini selalu hadir di tengah-tengah serapah panjangku. Tunduk yang begitu telaten mengajarkan. Ada hal penting yang lupa untuk ku buka tutup sajinya, yakni tentang sebuah pandangan. Pengandungku sepertinya paham benar tentang bibit-bibit batu yang akan tumbuh di dalam diriku, bahwa kenyataan tentang menjadi batu yang meski terlihat diam dan tak bergerak namun juga terdapat fakta lain yang menyelubunginya, yakni tentang kekuatannya untuk menyakiti, tentang kebisuannya, tentang tak ketersentuhannya. Pengandungku secara tidak sengaja mengantisipasi segalanya sedemikian rupa. Di jadikanlah tunduk sebagai pelajaran sekaligus pengajar pertamaku. Di jadikanlah tunduk sebagai remah roti yang di harapkan bisa menyumpal mulut sekaligus mengenyangkanku. Karena pengandungku mungkin memahami ini, bahwa ketika sebuah batu mulai membuka mulut dan mengeluarkan suaranya, bukan keindahan yang dapat diperdengarkan, tapi serapah dan sekali lagi serapah. Itu saja.
Oh, aku ingin menangis sekarang, batu yang selama ini kuagung-agungkan keberadaannya, batu yang tidak hanya kupoles namun juga kukubur dalam-dalam lewat namaku agar tak seorangpun mencium betapa keras dan tak tersentuhnya dia. Namun kenyataannya tak ada raga yang sanggup mengubur dirinya sendiri tanpa bantuan, tanpa terlihat oleh sekitar.
Batu dan tanah tidak di takdirkan untuk bisa berkombinasi hingga bisa menciptakan identitas baru. Batu dan tanah memiliki entitas kuat di dalam diri masing-masing, dan menyatukan keduanya hanya akan membuat benturan baru, peperangan tiada akhir.
Dan kata itulah yang menggambarkan tumbuh kembangku hingga hari ini. Kemanapun kaki melangkah tak pernah kutemui jawaban atas segala pertanyaan yang memenuhi angka-angka hidupku. Tentang kenapa harus menjadi batu dan bukan kayu, tentang kenapa harus tanah dan bukan api. Pertanyaan yang jawabannya menghilang ditelan kesunyian dan kegelapan. Aku terlalu takut untuk membuka kunci keduanya, lebih memilih untuk tidak mengetahui apa-apa ketimbang harus bertamu pada keduanya.
Namun hari ini, di tengah kepungan keramaian sayup-sayup, di tengah tangisan yang terasa kian menghambar, aku, manusia perpaduan batu dan tanah, yang tidak pernah menemui jawaban tapi akhirnya bisa terkenyangkan dengan pemikiran dan kesadaran, terimakasih semesta, untuk tamparan dan pemahamannya.
Jika kita tidak bisa menerima diri sendiri bagaimana manusia lain akan menerimanya? Aku sudah mengetahui tentang perihal nama, perihal tentang berperan sebagai apa diriku di dunia. Tengah belajar dan sepertinya selamanya akan berada di tahap itu untuk bisa menerima dan menikmatinya. Dan manusia di luar sana menuntut terlalu banyak dariku, menuntut agar aku bisa sejajar dan bisa menjadi senormal mereka. Ini terasa seperti kamu adalah seekor katak yang di paksa menjadi peserta di arena pacuan kuda. Lompatanku tidak akan bisa menyamai langkah mereka, jangkauanku berada jauh dari yang di harapkan, tapi satu yang mereka benar-benar lupa, bahwa katak dan kuda bahkan di gariskan untuk hidup di dua dunia yang berbeda. Aku tidak bisa, dan manusia tidak bisa memahami jawaban tidak.
Dear tanah, siapapun kamu nanti atau sekarang, bahkan jika sampai akhir ternyata dirimu tetap tak di kenal namun tetap menjadi pijakan, bisakah kita bersalaman dan menjadi teman? Aku tahu seperti apa pahit dan keluasan dirimu. Aku bahkan satu-satunya yang paham tentang betapa berat dan langkanya menjadi dirimu. Aku ingin engkau tahu, bahwa jika di sodori pilihan, akupun ingin menjadi kayu, yang suatu saat akan bertemu api lalu terbakar dan menjadi abu, untuk sesaat di terbangkan angin sebelum akhirnya jatuh kepelukanmu, satu-satunya tempat yang bersedia menjadi penampungku. Satu-satunya tempat yang memang di sediakan semesta untuk menjadi tempat peristirahatanku. Sedangkan menjadi batu, selamanya aku hanya akan menjadi beban untukmu, di biarkan menghalangi langkah pejalan, di telan pun hanya menyamarkan keberadaanku dari pandangan. Aku benar-benar tercipta untuk menjadi semengganggu itu. Alasan kenapa hanya segelintir saja di antara ribuan yang di gariskan untuk menjadi seperti aku. Menjadi batu.
Dear tanah, keluasanmu mungkin bisa menempatkanku di daratan mana saja yang benaran jauh dari jangkauan, keluasanmu mungkin bisa saja menyembunyikanku bahkan di relung terdalam, tapi apa aku tidak seberharga itu untuk terlihat dan di perjuangkan? Aku bahkan ingin mengutuk siapapun yang bertanggung jawab akan diriku, tapi semesta adalah hal baik, memberinya serapah bukan hal yang bagus untuk di lakukan. Bahkan ketika manusia-manusia lain tidak menerima perpaduan kita berdua dalam satu raga, serapah masihlah hal yang tidak bagus untuk di ucapkan.
Aku sekompromi itu untuk keberadaan kita, dan manusia-manusia lain yang tidak memiliki andil apa-apa, hanya bertugas mengamati dan mengomentari, mereka bahkan tidak mau repot-repot untuk mengerti dan menerima. Hanya menerima dan raga ini masih menerima cela.
Kepada raga yang mungkin pernah merasa ingin menyerah pada adanya kehidupan. Jika bisa, aku ingin meminta maaf untuk pertemuan batu dan tanah di dalammu. Dirimu mengandung identitas yang sulit untuk di ajak berbagi rasa dalam setiap kesempatan. Dirimu bahkan mengandung jawaban yang sulit untuk di terima dengan akal. Tapi demi dirimu, aku dan tanah akan mencoba untuk sejajar dengan baik-baik saja, tapi demi dirimu aku dan tanah pun akan mencoba untuk belajar tunduk agar kita benar-benar berjalan sejajar. Tumbuh lah lebih lama dan lebih tegar dari semuanya. Karena dirimu memang terlahir untuk menjadi berbeda. Bahkan ketika seluruh dunia mengabaikan dan hanya mencela, bahkan ketika seisi dunia tidak bisa menerima, ketahuilah bahwa akan selalu ada tanah yang siap untuk menghibur dan mengubur, ketahuilah bahwa ada batu yang akan selalu sedia untuk menjadi bantal dan penopang. Berhenti untuk ragu dan tersenyumlah, selalu ada dirimu yang menjadi teman terbaikmu. Selalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar