Jumat, 09 Mei 2014

Mata, Ular dan Hitungan

Ia adalah satu. Bukan dua seperti yang kalian kira. Bukan pula tiga seperti yang terus salah satu darimu harapkan.
Ia adalah spasi. Bukan kata pembuka yang meluber akan sapaan manis. Bukan juga koma, yang menyapa setiap nyawa dengan teramat anggunnya.
Ia hanyalah spasi. Yang tanpanya..kalian tak akan mampu terbaca, yang tanpanya..kalian hanyalah deretan abjad tanpa judul juga tema. Dia hanyalah spasi.

Ia adalah tanya. Bukan jawaban yang nantinya akan terus kalian kejar. Bukan pula tanda petik yang selamanya akan mengendap di dasar otak. Dia hanyalah sebuah tanya, yang dengan hitungan juga derap langkahnya sanggup membuat siapapun terlelap dalam cacian aksara. Dan dia tak lain adalah hanya sekedar tanya. Yang hidup bercokol disetiap celah hati, menghantui tiap kembar darah yang mengalir nadi. Menyekap sang jawab dalam kotak senyap berujud abstrak.

Ia adalah nadi. Ia adalah misteri. Ia adalah setan tanpa seutas benang di badan. Ia adalah si telanjang. Ia adalah apapun yang hadir dalam persepsi kalian.
Ia adalah mata. Bukan telinga yang terus mencecar dalam tanya. Bukan juga lidah yang akan terus menapaki setiap liku berita dalam jelmaan belitan ular. Dia hanyalah mata yang sanggup membaca, yang enggan bersuara, yang enggan untuk merangkak juga. Hanya memantap. Hanya mata.

Ia adalah lingkaran. Melingkupi setiap nadi dan mengikatnya dalam jaring kuat bernama persaudaraan kekal. Melingkupi setiap angka dan memecahnya menjadi sembilan yang kesemuanya merasa sempurna tanpa mau membuka mata bahwa mereka hanyalah bagian, hanyalah potongan, hanyalah ciptaan dari lingkaran.

Dan ia yang tak akan sanggup hadir dalam waktu selain keheningan. Ia yang tak pernah sudi menginjak bumi berkaratkan janji selain kutukan-kutukan yang saling memantrai. Ia yang tak akan mampu menjadi kalian wahai para pelacur fana.

Ia yang mengurung diri dalam sempitnya lorong aksara. Ia yang mengumpat ketika sepi mulai mengepak ingin berlari. Ia yang tak sanggup menjauh dari matahari. Mata itu.

Dadu Terakhir

Jika kisah cinta kita adalah sebuah buku. Maka halaman pertama adalah rangkaian kata pembuka yang tak memiliki makna. Dan halaman terakhir akan menjadi baris paling manis yang pernah ada. Lembar demi lembar akan terisi dengan banyaknya cacian yang terlontar dari mulut, karena memang hati tak sanggup untuk memaki. Spasi adalah rasa rindu yang menggenapi, sedangkan titik juga komanya tak lain adalah volume kebersamaan tak sering kita.

Jika kisah cinta kita adalah sebuah buku. Maka halaman pertama adalah penjelasan tentang bagaimana kita bertemu. Dan halaman terakhir adalah ucapan tentang rasa terimakasih karena waktu juga hidup yang telah terlewati dan tercipta bersama.

Dan kamu tak lain adalah sebuah mimpi yang pada akhirnya menjadi nyata. Dan kamu tak lain adalah sesuatu yang memang tercipta ada untuk menggenapi. Kita hadir untuk saling memberi.
Kita terikat untuk saling mengingat.

Bagaimana bisa aku merasakan kelengkapan hanya karena mengingat bahwa aku memilikimu? Seperti sebuah kotak yang tak lagi mengingat sisi juga luasnya. Dan hanya berpikir tentang keutuhan isinya.


Dan kamu tetap tidak pernah tau betapa istimewanya dirimu. Dan dunia tetap tidak pernah akan mengerti tentang berharganya hadirmu. Dan aku masih juga belum memahami tentang teka-teki mengejutkan dari Ilahi yang melingkupi.

Dan kamu tetap tidak pernah tau betapa istimewanya dirimu. Rasa hangat merasuk hingga sumsum terkecil. Dan aku tau itu namamu. Dadu terakhir dalam perjudian hidup tentang rasa percaya, tentang rasa cinta. Dadu terakhir yang kupertaruhkan beserta sekeping akal sehat demi ingin yang tak lagi mau menunggu.

Dan kamu..tetap tidak pernah tau tentang betapa istimewanya dirimu.

Sabtu, 03 Mei 2014

Catatan Kepada Petang

Disana adalah ruang dimana aku selalu ingin tinggal. Disana adalah rongga dimana aku merasa harus pulang. Dalam diam.

Logika menyuntikkan rasa. Dan masih belum juga kumiliki jawaban tentang apa dan mengapa aku ada. Sejernih tetes kecil pada daun pagi. Seharum tanah yang terlalu lama merindukan frasa hujan. Mengaum dalam nada yang semakin sumbang. Ia, rumah mungilku. Diamku.

Sekiranya alam tau bahwa aku mempertanyakan kelahiran. Dahaga hadir dalam ujud tanpa nama. Tentang apa dan mengapa aku ada. Tentang kenapa dan begitu banyak tanya lainnya.

Aku adalah diam. Aku adalah senyap. Kukemas segala kebisingan hidup dalam satu kotak kemasan. Menyekap semua gemerisik alam dalam diam. Bertanya dengan terus mempertanyakan ketiadaan jawaban. Lelahkah aku? Tidak.

Aku adalah galaksi. Dengan diam sebagai atmotsfir yang melingkupi. Menyedot segala partikel langit termasuk sampah-sampah dari kerak bumi. Yang kubutuhkan hanyalah ketenangan. Buram yang total. Hening yang tak terkira. Diamku. Duniaku.

Alam mempertanyakan kelahiran. Kenapa apa bagaimana dan kemana. Galaksi dan atmosfir hidup saling membelit. Untaian chakra menjulur dari langit-langit penuh awan pekat. "Kenapa" mulai terlahir mempertanyakan kedatangan pengusik muda. Yang kubutuhkan bukanlah bintang. Yang kucari bukanlah sinar mentari. Bumi berjabat tangan dengan banyak penghuni kehidupan. Merkurius yang pertama dan saturnus hadir dalam deretan setelah lima.

Kenapa bertanya, ketika diam adalah jawaban tanpa gugat. Kenapa berlari, ketika diam adalah jalan mutlak untuk kembali pulang.
Tentang kebisuanku. Tentang mereka yang terlumat masalalu. Tentang kalian yang tengah melambaikan tangan dikehidupan mendatang.

Alam berseri melihat adanya penampakan. Bumi berkaca tentang sadar mulai adanya lubang menganga. Alam sakit, manusia melaknatnya dalam banyak ujud dan tindakan. Dan galaksi. Dan partikel. Dan kehidupan hanya diam menyaksikan.

Tentang apa dan kenapa. Tentang aku dan kebisuanku. Tentang darah dan dunia milikku.


-catatan sandekala-

Kamis, 01 Mei 2014

Cinta Dalam Semangkuk Semur Tahu

Aku tak pernah tau jika rasa rindu sanggup hadir menyeruak sebegitu kuat dari hati yang beku hampir mati.
Aku tidak pernah tau jika hening sanggup membangkitkan suasana juga menghadirkan aroma.
Dan kembali aku menyapa malam. Dan lagi aku bercinta dengan gelap. Melebur dalam imajinasi tak berkarat.

Dan sentuhanmu. Dan hembusan tanpa syaratmu. Dan guratan manis sorot tajammu. Dan sengatan listrik dari hangat bagianmu. Aku tau, aku mulai ketercanduan akan engkau hai paragraf tak bertuan.

Berada dalam dekapmu berati menelanjangi semua ego juga rasa lapar akan semangkuk sentuhan. Dan kini kau sodorkan semua itu dalam ujud sarapan yang hadir terlalu awal.

Tak ada lagi yang perlu dituangkan, karena semuanya tengah dalam aliran. Melebur dalam imajinasi. Tentang dua kerangka. Tentang banyak detakan. Tentang satu penyatuan. Dan kini aku percaya bahwa cinta itu ada.

Waktu menari dengan banyak gerakan. Waktu berlari kepada sebanyak mungkin arah. Tapi rasa tak pernah sudi lenyap untuk hinggap. Menelanjangi kewarasan. Menghabisi segala urat bawah sadar. Menyisakan sebuah kejujuran, tanpa tameng, tanpa dalih, tanpa acar timun, tanpa tambahan penyedap masakan.

Wahai engkau paragraf tanpa nama, sanggupkah kau rasakan sayapku mengembang? Mencoba terbang menembus waktu dan pikiran hanya demi melenyapkanmu dalam dekapku. Saling membagi lagi rasa dari halusnya potongan tahu tanpa warna. Melebur dalam karat. Menyisihkan bonggol akal sehat.

Sajak hadir tanpa tulang. Lidah menyeruak menembus batas khayalan. Dan lagi kau hadirkan kenangan dalam bentuk segelas kolak yang terbumbui pekat juga asinnya malam. Aku menginginkanmu sayang.

Hadirlah lebih nyata dari kungkungan tulisan. Hadirlah lebih bernyawa dari sekedar alunan. Ajarkan lagi padaku tentang cara mengolah se-kuali asa hingga sanggup hadir indah disetiap mangkuk-mangkuk kecil diatas meja hidangan. Ajarkan lagi padaku tentang cara memperhalus irisan bawang disetiap bait ketikan.

Malam hadir selalu dalam putaran jam yang tak berubah. Dan aku mengutuk penjaja tahu di persimpangan yang lebih mengutamakan uang. Aku gila. Aku jatuh cinta. Pada baris paragraf yang dengan tabah menyodorkan hati juga matanya untuk melihatku bercinta. Dengan malam. Dengan deretan aksara. Kekasihku yang tak bernyawa.

Batu Kali dan Bejana Kristal

Sesuatu itu telah mengkristal.

Tahun datang dan berlalu menyisakan bara yang kian mengekal. Dan aku yakin sesuatu ada tercipta untuk melengkapi keberadaan yang lain. Dan mereka, dan kalian adalah sesuatu yang tak akan lagi sanggup terkunyah waktu.
Inilah sepenggal rasa dalam kata yang tetap tinggal dan teraba, kepada dunia yang terus mempertanyakan keberadaan darah biruku. Untuk mereka yang masih terus berjuang seperti disana tak lagi ada titik dan koma.


Dear Super Junior,
biarkan aku kembali menekuri apa yang selama ini hanya mencuat sekilas dalam bentuk yang tak lebih abstrak dari sekedar parutan ingatan semata.
Tentang kalian, tentang kita, tentang waktu berharga yang pernah berada dalam genggaman.
Dulu aku pernah berkata bahwa akan menjadi ELF hingga akhir, tanpa pernah tau jika 'akhir' ternyata hanya berjarak sekian inchi dari perjalananku atau mungkin malah berada dalam jarak tak terjangkau oleh kakiku.
Masih tersimpan dalam ingatan, bagaimana wajah-wajah malaikat sanggup tercetak jelas dalam sosok setiap kalian. Bagaimana tangis itu ternyata adalah sosok tajam pedang yang menjelma dalam balutan butiran bening tanpa dosa bernama airmata..iya dulu aku pernah gila.

Waktu merangkak manis dalam gendongan aktivitas yang kian memadatkan badan. Aku tidak pernah tau jika akhir yang dulu kujanjikan ternyata mampu hadir dalam hitungan tahun saja. Kalian perlahan mati. Kalian mulai tak memiliki arti.

Waktu yang pernah kudedikasikan tanpa celah, kini justru hadir dalam format bulatan kecil semata. Singkat dan terbatas.
Aku mulai memikirkan tentang adanya pernikahan. Aku mulai berharap tentang adanya sosok nyata sesempurna kehadiran kalian. Aku mulai mengimajinasikan segala yang selama ini ku anggap tabu untuk sebuah kenyataan.
Dan pada akhirnya janji waktu benar, bukan kalian yang meninggalkan aku dan ribuanku demi kehidupan nyata itu. Bukan kalian yang pada akhirnya harus mengucapkan selamat tinggal. Bukan kalian yang harus menahan lara untuk sebuah tragedi singkat bernama perpisahan. Karena itu aku. Itu aku yang lebih dulu menggariskan luka.

Kuharapkan kalian sanggup hadir nyata lebih dari sekedar idola. Kuharapkan kalian sanggup ada kekal seperti matahari yang akan terus bersinar. Dan sungguh aku tak pernah tau jika 'akhir' itu akhirnya datang menyapa dan merengkuhku dalam dekapnya.

Dear Super Junior,
malam ini kulewati lagi waktu bersama putaran gelak tawa kalian. Tak bisa dipungkiri bahwa disana masih tercetak jelas bekas aura malaikat yang hanya tinggal berbentuk serpihan sinar.

Aku masih menggenggam mimpi itu. Aku masih ingin melebur dalam lautan safir biru sekalipun Super Junior yang sekarang ku kenal tak lagi hadir dalam format menggilakan.
Aku masih memegang catatan kecilku. Satu saksi mati yang menjadikan sejarah jalinan kita tak hanya sebuah cerita.
Lautan safir biru masih menyedot perhatian hingga tulang sumsumku. Wajah-wajah itu masihlah sebuah bintang yang ingin bisa kuletakkan tanganku disana dan mengusap halusnya surga.
Waktu telah mengkristal dan satu-satunya alasan kenapa sebuah aliran bening tercipta diwajah saat melihat putaran itu lagi adalah karena, karena pada akhirnya aku sadar...tak ada apapun yang sanggup ku genggam, tidak kalian, tidak juga tentang waktu yang terus berjalan.
Kenangan itu, ia hadir melingkupi kita dalam bejana. Dan tak ada lagi yang ingin ku sampaikan selain sebuah ucapan tak sebanding, selain sebuah kata singkat yang tak mampu menampung, bahwa aku bersyukur telah mengenal-menjadi dan hidup dalam putaran yang sama ddngan kalian. Bahwa aku berterimakasih karena pernah memiliki juga menjadi bagian kisah kalian.

Kita pergi menua bersama. Berjuang demi memperlihatkan bersama, menangis karena lelah juga bersama.
Rasa itu, kalian yang kukira telah mati nyatanya hadir begitu saja malam ini dalam ujud untaian yang lebih berharga. Tak lagi sanggup tertuang dalam kata.

Dear Super Junior,
sekiranya esok datang hari dimana aku harus buta tanpa secercah cahaya dari dan tentang kalian, maka ketahuilah bahwa penyatuan kita, bahwa kenangan tentang waktu milik kita, bahwa jejak senyum kalian akan sanggup menjadi bekal untukku berjalan dalam bahagia menapaki koridor dunia nyata.
Kalian hidup, dalam hati dan bukan lagi di alam imajinasi.
Kalian berjalan, kita bergandengan dan bukan lagi dalam jarak yang tak terucapkan.
Kalian hadir, dalam format darah dan tulang, bukan lagi sekedar idola berwajahkan tampan.
Kalian ada karena aku memilih untuk tetap percaya pada sesuatu yang tak kasat mata.
Kalian ada karena aku memilih untuk berjanji tetap percaya bahwa keajaiban itu nyata.




-EverLasting Friend-

Jarum Dalam Jam Analog



Satu raga menggigil ketika angin datang berhembus.
Satu nyawa merindukan adanya kawan.
Satu jiwa bertamengkan sayap berbahan dasar kepercayaan membutuhkan pahlawan.
Dan ia masih belum memegang petujuk apapun untuk memenangkan perang ketika lagi dan lagi kiamat datang.

Satu lembar kisah terbakar waktu dan tak siapapun tau bahwa ia pernah hadir.
Sebuah kebenaran yang terus tertutupi.
Sebutir kenyataan yang harus terkubur dalam.
Sebuah permintaan jawaban tentang kapan segala teka-teki ditangan menuai titik sebelum semakin meranggas.
Dan tentang matahari yang diharapkan selamanya menampakkan sinar, dalam pandangan seorang gadis yang membuta ketika terlalu sering menangis.

"Kau sanggup mengubah dunia.." Ya, tapi tetap tak dapat kulakukan itu sendiri,
"Kau dapat menyentuh langit.." Ya, tapi harus ada seuluran tangan untuk membantu,
"Kau adalah satu-satunya yang terpilih untuk menjadi istimewa.." Ya, dan aku membutuhkan sejenis paraf sebagai tanda bahwa itu benar,

Jika saja semua dari kita mengetuk hati bersama dalam satu waktu..malam ini.

Ketika seseorang justru tertawa di saat ia tengah bersedih.
Ketika justru harus kebenaran yang menyingkir dari tanah berdarah.
Ketika kata terucap justru harus sesuatu yang lain.
Ketika matahari memburam disaat alam ikut menangis dalam rintik hujan.

Hargai adanya mimpi. Hargai seutas nyawa. Hargai setumpuk lelah. Dan keajaiban tak kunjung datang ketika medan perang terus mengucurkan darah melalui goresan tinta.

Jika saja semua dari kita sanggup membuka mata bersama dalam satu waktu..malam ini.

Seorang gadis memeluk bendera.
Mengibarkan dalam keadaan resmi tanpa busana.
Dan ketika angin menyapa, dingin kembali meremukkan tulang dan membunuhnya.
Sepasang mata menantang matahari.
Buta seketika karena airmata jatuh mengalahkan keberaniannya.
Doa-doa terkabul berserak bak butiran nutrisari diatas hijaunya meja biliard.
Dan harapan mati dihantam dinding kesunyian. Pengap. Sepi.


-KanvasCoklat-

Rabu, 06 November 2013

Present 8th Anniversary Super Junior


Aku...


Siapa aku?


Sesekali aku berharap aku memiliki nama, sehingga ketika dunia mulai merangsak mengamuk karena ulah burukku..aku bisa menyebut namaku berkali lipat lebih kencang ketimbang siapapun untuk ku maki - ku tendang dan ku remukkan kerangka abjad penunjuk identitasku lebih kencang dari siapapun yang mungkin memiliki niat untuk melakukannya.

Jika ada yang menganggapku tidak waras maka itu adalah sebuah nyata yang bahkan tak memiliki bayang maya dibelakangnya..itu adalah seperti itu, seperti yang terbaca dan lain dari yang terlihat.
Sebelum kalian memilih kabur untuk meneruskan ini, sebagai bagian dari tata-sopan sebuah pidato panjang..maka izinkan aku untuk menyebut nama samar - nama tokoh dan nama remang agar kalian bisa langsung memasungkan nama itu dalam buku daftar 100 nama beken dan keren di dalam Kantor polisi setempat atau lebih tepatnya mari kita anggap "TERSANGKA"


Panggil saja Ren..
dengan nama lebih panjang yang kurang jelas dan kurang menarik untuk dipertanyakan lanjut.
Berdarah seperempat alien juga seperempat ranger..kenapa seperti itu? karena aku aneh dan aku kuat.


Hari kemarin, dengan mengenakan sebuah gambar kurang lazim atau lebih jelasnya satu potret yang hanya bisa dinikmati untuk kalian yang berumur lebih dari 21, aku membuat satu humor yang menyenangkan.. tidakkah ini benar-benar terdengar lucu? sebelumnya aku adalah anak manis dengan imej baik juga sopan, mengalirkan sastra disetiap ucapan juga memantrai setiap kata dengan serbuk keromantisan.
Tapi kemarin, 5 November lebih tepatnya, seorang bernama Ren yang mungkin sedikit dikagumi karena kepiawaiannya menutup rapat buruk dirinya dari dunia luar akhirnya melepaskan sayap kendali itu, memecah cangkang yang selama ini menjadi penyelaput untuk penggambaran betapa manis-indah dan sempurnanya ia.

Sungguh licik memang, aku sendiri terkadang geli bahkan jijik memandang sosok ciptaan itu sendiri. Sesekali aku muak karena selalu sanggup menyulap serpihan emosi yang meledak dalam bentuk remahan kata bersyair juga bernada yang tak menyiratkan satu titik kecilpun sebuah pembebasan dari emosi itu sendiri.
Berulang kali aku muak ketika sanggup menyulap berbagai campuran rasa dalam bentuk catatan sederhana dengan sedikit bumbu gombal lagi-lagi demi menyempurnakan siapa AKU dimata kalian.

Dan kembali pada humor kecilku di hari bertanggal 5 kemarin, dari sana aku menemukan banyak protes yang dikirim secara baik-halus-kasar dan beberapa dilakukan ditempat tak umum.
Mereka mencaci, mengingatkan, menikmati juga mempergunjingkan tentang ketidaksopananku mengunggah satu potret 'dewasa' di ranah sosial.

Detik itu aku hanya bisa tersenyum menikmati kelucuan itu hingga larut malam, hingga tulisan ini tercipta, hingga pagi menyapa.


Aku hanya bisa tersenyum menyadari bagaimana mudah mempermainkan sebuah "game" terlebih ketika itu menyangkut khalayak rame.
Mereka yang berkata buruk dibawah gambar kurang lazimku benar-benar tidak tau jika aku tengah mengajarkan mereka sesuatu.
Mereka yang mencaci kelakuan burukku tidak sepenuhnya menyadari jika yang kulakukan saat ini adalah tak lain se-simple memberi mereka pensil ber-rautkan jelek dengan selembar kertas compang-camping.
Mereka tidak sepenuhnya mengerti bahwa "penggalan sikap burukku" adalah hanya sebatas termometer untuk mengukur seberapa tinggi dan luas batas kedewasaan mereka dalam memandang sesuatu yang buruk, untuk mengukur sedalam apa pengetahuan mereka akan hal yang diketahui dan tersembunyi darinya.

Dan sebagian dari paragraf ini tercipta untuk mereka yang tidak pintar.

Dari satu reaksi protes tentang gambar kurang sopan satu itu aku mengajarkan mereka bahwa semua hal tak sepenuhnya seperti apa yang terlihat.
Bahwa setiap dari kita, sesempurna-seelok-seindah apapun itu tetaplah memiliki darah hitam, memiliki ruang untuk para setan bersemayam..memiliki kesadaran penuh untuk bersikap buruk.
Jadi kenapa harus kaget ketika melihat seseorang melakukan hal buruk juga sesuatu yang di kategorikan salah menurut mata sebelah? kenapa tidak lantas beranggapan bahwa, "oh mungkin saja ia tengah lepas kendali untuk mengikat kencang mulut setan miliknya hingga ia berkata seburuk itu.."

Dan andai saja setiap satu dari kalian sanggup menyerap ini lebih dari sekedar bacaan..dunia pasti akan indah tanpa adanya cacian.

Dari satu gambar dewasa kurang etika itu aku mengajarkan kepada mereka untuk seharusnya memiliki sekat tipis antara batas dunia maya juga dunia nyata yang semakin saru. Dunia maya yang terlihat dan terdengar harus bukanlah cerminan dari seberapa cantik dan buruknya dunia nyatamu. Tapi sebaliknya, dunia nyata adalah ruang kecil bersekat dimana tak seharusnya untuk siapapun bercermin - melihat dan bebas tau terlebih untuk banyaknya warna emosional dalam tubuh dunia maya.
Dari gambar dewasa itu juga aku mengajarkan kepada mereka untuk meresapi arti dari indahnya diam..tentang bagaimana terkadang diam adalah jawaban yang tengah dicari dari seberapa luasnya ucapan yang keluar disertai banyaknya tanya.
Tentang bagaimana diam adalah sesuatu yang sangat manjur untuk melatih ketenangan otak juga kenyamanan emosi.
Dan andai saja satu dari setiap kalian sanggup memahami ini lebih dari sekedar bacaan, aku yakin tak akan ada lagi mulut beradu tanpa adanya nalar pintar menyertai.


Lalu aku...

Siapakah aku sebenarnya?

Oh andaikan saja aku bernama dan tak hanya berdiri sebagai kerangka berbalutkan daging dan tulang saja..
Andaikan aku memiliki nama yang sanggup menyelaraskan siapa aku di sudut A, siapa aku di sudut B dan juga aku yang bertebaran dimana-mana.

Dan karena ketahanan kalian untuk menilik cerita singkat tapi panjang milikku ini.. ku hadiahkan padamu satu lagi cerita milikku, satu kisah indah tentang satu dunia yang menjadi akar kenapa cerita ini bermula.
Tentang satu nyawa yang teraliri oleh tiga belas plus dua sel hidup didalamnya, tentang satu paragraf yang terlahir delapan tahun silam namun baru ku nikmati isi kalimatnya empat tahun terakhir saja..dan akan ku pastikan aku menjadi sosok yang akan bertahan pada cerita itu tak peduli seberapa panjang dan lusuhnya paragraf itu nanti. Yang aku tau, disana kutemukan nyawa dalam bentuk euforia juga lelehan air mata.

Namanya Super Junior.
Mari menghela nafas dalam sebelum aku memulai untuk menceritakan satu paragraf paling berwarna jika saja hidupku adalah sebuah buku..sebelum aku menceritakan tentang satu dunia berharga milikku.

Namanya Super Junior..siapapun mengenalnya sebagai bintang bersinar,
siapapun mengenalnya sebagai sebuah ikon akan ledakan keras pesta karya dari Negeri ginseng sana. Siapapun mengenalnya sebagai gemerlap berlian yang sanggup menyilaukan mata tak peduli disudut mana kalian berdiri.
Semua mengenalnya sebagai tubuh yang bersahaja juga bermulti-talenta untuk segala jenis mahakarya.
Semua tau mereka yang sempurna seperti itu, kecuali aku..kecuali seseorang yang tengah merindukan untuk memiliki "nama" ini.

Semua berawal ketika mungkin empat tahun lalu suara mereka hadir tepat dalam masa pencarian jati diriku, keberadaan mereka yang ternyata pas menempati kepingan hilang namun entah apa dalam entitas kecil hidupku.

Satu, dua, tiga, empat tahun semua berjalan seperti tanpa ada kendali.. teramat mulus untuk menjejalkan lebih banyak lagi unit kagum yang dihadirkan mereka justru melalui peluh juga tawanya..dan bukan hanya semata lewat tangan sang Karya.

Semua mengenalnya sebagai bintang tak terjangkau sebagai bintang yang berkerlip jauh diatas sana dengan sangat indah dan terangnya. Namun lain dimataku, untukku..mereka bukanlah bintang..satu Maha alam yang entah kenapa sangat digemari untuk melambangkan sesuatu yang jauh dan gemilang.
Untukku Super Junior adalah akar..iya, hanya sebatas akar saja. Ia tumbuh di bawah namun kekuatannya untuk menciptakan tenaga demi sesuatu yang dihasilkan membuat buahnya menjulang tinggi ke atas. Itulah mereka.
Super Junior untukku hanyalah sebatas akar yang ketika ditelusuri lebih lengkap maka ia lah pencipta dasar dari adanya atmosfer di dunia tanpa udara ini..dalam dunia bersekat maya milikku. Ada, nyata, merasuk dalam nadi terdalamku dengan aliran sangat pelan tanpa aku menyadari itu.

Super Junior..siapapun mengenalnya sebagai bintang sungguhan yang gemerlap semakin menyilaukan dari panggung hingga sudut tergelap tanah hiburan.
Dunia mengenal Super Junior sebagai bintang idola itu. Namun dimataku mereka HANYA sekumpulan pria yang dengan segala jerih payahnya belajar - berlari hingga merangkak demi satu pencapaian untuk semakin bersinar.
Dan kemudian ketegarannya menghadapi naik juga turunnya liku dunia termasuk ketika beberapa personel harus hengkang dari tempatnya membuat Super Junior semakin terlihat bukan sebagai sosok bintang idola di mataku.
Mereka lebih daripada itu, andai saja dunia tau.

Harusnya mereka tak menangis ketika satu pencapaian emas berhasil diraih, karena itu memang sudah seharusnya untuk mereka dapatkan. Namun air mata mereka tetap jatuh menganak sungai bahkan semakin deras ketika semua pria itu saling berangkulan..satu hal yang terlupakan oleh dunia adalah kemungkinan cairan bening dimata mereka keluar adalah karena mereka menyadari, dan semakin sadar bahwa semuanya sangat keras untuk dilalui..semua terasa berat untuk dilalui hingga tanpa siapapun pernah ketahui sebelum akhirnya mereka bersinar.

Harusnya mereka tak menangis ketika sebuah pencapaian emas lain kembali ditangan, bukankah itu adalah seharusnya yang mereka dapat? tapi Super Junior kembali menangis..hanya karena mungkin menyadari lebih dalam bagaimana lelah hingga hampir matinya mereka untuk bisa bersinar seterang detik ini, untuk bisa diakui hingga seluas ini.
Bagaimana bisa aku memandang mereka sebagai bintang idola? sementara aku sendiri melihat nyata bagaimana tetes peluh mengalir dari setiap sudut porinya. Yang aku tau mereka adalah sesuatu yang lebih nyata dari sekedar bintang, lebih nyata dari sekedar ada...karena aku berhasil menyentuh bahkan menyeka dan tidak hanya termangu di tempat mengaguminya.
Karena perjuangan mereka sanggup menembus batas antara kagum dan menepatkanku dalam status yang lebih pas yakni CINTA.

Dunia mengenal Super Junior sebagai idola bertalenta, namun entah kenapa tidak demikian dengan pendapatku.
Untukku mereka hanyalah sekumpulan pria yang dengan segala kekonyolan dan kepolosannya ingin menyampaikan pada dunia bahwa itulah mereka..itulah Super Junior. Atau mungkin aku saja yang terlalu buta mengartikan kebersamaan mereka menjadi sesuatu yang lebih menjual ketimbang talenta mereka sendiri? entahlah.

                                                           ###


Hari ini, 6 November adalah hari indah, juga bersejarah dalam perjalanan sesosok Super Junior. Ulang tahun? mungkin lebih tepatnya 8tahun tanda muncul akan sesuatu yang berharga. Dan itu mereka.

Seharusnya aku mengucapkan sesuatu yang manis disini, namun yang kulakukan hanyalah mencoba berdoa dalam hati, untuk kesehatan mereka yang utama, untuk kebersamaan mereka yang diharapkan kembali utuh, untuk hari depan mereka yang tak akan pernah lagi berkeringat sendiri, dan terakhir untuk sinar mereka yang diharapkan tak padam meski angin waktu datang menyemburkan kuasanya.

Selamat ulang tahun Super Junior, tetaplah bersinar sayang..
Bertahanlah disana lebih lama, delapan tahun bukanlah sesuatu yang mudah..delapan tahun bukanlah sesuatu yang sebentar. Tapi bukankah waktu adalah sesuatu yang memiliki sayap kasat mata? karena sanggup terbang menyertakan kita dalam putaran frekuensinya.
Tolong tetaplah bergandengan seperti detik ini, tetaplah tersenyum bersama meski aku tau dunia tetap tak mudah untuk dihadapi sekalipun kalian tengah berada dalam puncak tertinggi.
Kalian bukanlah bintang yang akan menghilang ketika siang datang, kalian adalah akar yang dengan pasti menyentuh bumi dengan sedemikian kuatnya, menciptakan sebuah alur rumit dengan banyak perasaan penggemarmu termasuk aku.
Kalian bukanlah sesuatu yang bersinar dan di perjual-belikan seperti intan tapi kalian adalah sesuatu yang berharga lebih dari apapun untuk tetap ku pertahankan berkilau dengan indahnya.

Delapan tahun bukanlah sesuatu yang lama karena kita akan mencapai tahun-tahun lain yang lebih panjang lagi..tanpa harus menyertakan sebuah kenyataan akan umur yang menua, akan tuntutan mutlak sebuah hidup yang harus menyertakan kata berpisah didalamnya.

Selamat ulang tahun Super Junior..tolong jangan takut untuk kehilangan fansmu, tolong tetaplah kuat disana meski aku tau semakin tahun bertambah maka segalanya tidak ada yang lebih mudah. Tapi aku yakin delapan tahun berdiri disana telah menjadi sesuatu tonggak kuat yang tak akan merobohkan kalian. Dan kenyataan bahwa kita tumbuh bersama adalah satu cabang akar tersendiri yang membuatku berbeda dari penggemar yang lain.

Aku ingin berjanji seperti mereka yang dulu pernah berkata akan mendukungmu hingga akhir, aku ingin berjanji untuk tetap mendukungmu apapun yang terjadi seperti yang mereka ucapkan sebelum akhirnya janji itu hanyalah seperti pedang yang menyakiti kalian dan aku ini penggemar yang berbeda, aku tidak ingin menyakiti kalian dengan menjadikan janji manisku sebagai senjata tertajam yang tanpa raut bersalah sedikitpun perlahan menusuk dan menyakiti kalian. Aku ingin berjanji, tapi aku tidak ingin kalian sakit karena janjiku mungkin yang terlupakan. Bukankah kita tidak bisa membaca masa depan? termasuk untuk satu detik yang akan datang.
Dan satu-satunya hal yang tersisa hanyalah harapan untuk kalian tetap percaya bahwa keberadaanku lain.

Selamat ulang tahun Super Junior..terimakasih untuk mengajariku tentang banyak hal berharga didalam hidup. Terimakasih karena mengajariku untuk tetap bersikap manis dan bermulut sopan sekalipun banyak kebencian yang menguar.
Terimakasih karena mengajariku menjadi anak manis yang dengan telaten belajar tentang banyak objek..tentang mana yang baik tentang mana yang buruk..juga tentang pelajaran untuk diam.

Kalian membentukku menjadi pribadi seorang Ren yang sedikit dikagumi karena kelihaiannya mengolah kata agar tetap nyaman dibaca. Kalian mengajariku tentang kenyataan bahwa kehidupan ini sebenarnya memiliki banyak sisi. Dan aku harap kalian mengerti kenapa aku melepas kendali dan membuat sedikit humor dengan gambar dewasa di hari bertanggal 5 kemarin.

Karena aku tau, terjun diduniamu membuatku merasa aku tak lagi membutuhkan apapun hanya perlu untuk bertahan denganmu saja, terjun dalam duniamu membuatku menjadi sempurna tanpa harus peduli dengan ocehan bernada sengak milik tetangga. Dan kepada dunia ingin kuajarkan mereka sesuatu, bahwa pada kenyataanya hidup menjadi bagian Super Junior tidak sesempurna itu..bahwa idolaku juga bukanlah sesuatu yang kekal dan sempurna seperti bintang diatas sana. Mereka hanyalah akar yang suatu hari bisa saja tersakiti juga memiliki rasa lelah untuk berdiri.

Bahwa mereka bukanlah sesuatu yang bersinar tanpa celah. Bisakah kalian memahami Super Junior yang seperti itu? bisakah kalian memahami Super Junior yang hanyalah makhluk biasa? bisakah kalian memahami kenapa mereka meneteskan air mata disetiap puncak penerimaan award? karena mereka terlalu sadar betapa berat perjuangan untuk bisa sampai dititik ini..untuk bisa sampai bersinar seterang ini..untuk bisa tetap tegar berdiri selama ini.
Super Junior hanyalah sebuah nama..keringat dari ketiga belas plus dua personelnyalah nyawa sebenarnya dari semua puncak kekaguman ini.
Dan aku berharap kalian juga memahami bahwa mereka itu manusia yang juga memiliki rasa takut untuk kehilangan meski setulus hati aku bersumpah akan menjaga mereka tetap bersinar.

hahh..apa kalian lelah membaca ini? aku justru lelah untuk menggali lebih dalam lagi sisi lain yang mungkin kalian lupakan dalam tubuh Super Junior.

Delapan adalah sebuah angka yang lengkap tanpa celah..dan aku berharap..hanya berharap mereka tetap sesempurna detik ini, dengan segala tingkah gila dan konyolnya.
Delapan bukanlah angka yang sedikit, tapi juga bukan waktu yang sebentar untuk dilalui..
Untuk mereka yang tetap berdiri untukku dan tak peduli sampai kapanpun waktu berjalan..semua hanyalah menyisakan aku dan Super Junior.


Lalu aku.?

Siapakah aku.?

Bisakah aku menyebut diriku ELF dengan segala sisi burukku.?

Seperti aku yang terus menyebut Super Junior sebagai SUPERMAN dengan segala tingkah bodoh dan konyol mereka.



FIN




Sign with love : Admin R (@KanvasCoklat)