Ia adalah awal, dasar dari adanya kehidupan. Setidaknya beberapa nyawa memang hadir dari keberadaannya.
Ia adalah yang terus mencicipi segala umbi, memeluknya dalam gundukan berarti setelah ia relakan pucuk baru menjulang menggapai ibundanya.
Tentang satu petak kanvas yang tercoreng banyak sapuan kehidupan. Tentang satu bentang alas yang menyemai jutaan mikroba dalam lumatan energinya. Akankah engkau sadar kawan, ia terbiasa dalam pijakan, ia terbiasa dalam kungkungan imortal molekul dasar alam.
Dan ia yang memahami tentang adanya pengasingan juga kesepian lebih dari siapapun di semesta raya ini.
Minggu, 27 Juli 2014
Jumat, 25 Juli 2014
Alam Yang Mengikatkan
Hujan menyambut senja dipenghujung bulan ketujuh. Satu tahun lalu, dibangku yang sama, dipetak yang sama juga pernah terukir kisah. Satu cerita yang hanya menyisakan dalam ingatan berupa kepingan lumatan bernada santai. Ia pernah ada disini, hadir beserta dinginnya malam yang tak sanggup menjebol kehangatan tembok bambu. Ia pernah ada dibangku ini. Tempat dimana seonggok tubuh tengah memeluk diri berbalutkan dingin dikala senja mulai melambaikan tangannya.
Ini adalah satu catatan tentang si bisu dan si kepala batu. Keduanya sama keluar dari perut ibunda dan bukan terlahir paksa dari pecahan batu raksasa. Dan hujan mempertemukan mereka disela perjalanan masing-masing menuju mati.
Hidup tak ubahnya adalah lingkaran tunggal yang mana sudut pusatnya adalah cara pandang setiap manusianya. Si bisu mengisyaratkan Si kepala batu agar memberi ruang bagi hujan menunjukkan aksinya dalam dingin yang meremukkan tulang, ia membentuk berbagai pola dari kedua tangannya, menyapu udara
melalui pergerakan jemarinya. Dan yang ditangkap oleh lawan bicaranya hanyalah isyarat baku tanpa makna. Keduanya bergumul dalam peperangan bahasa, saling melumat berbagai tanya meleburkan mereka dalam berbagai persepsi juga sudut tangkapan.
Hujan mereda ketika gelap datang membawa angin menyejukkan. Tak ada lagi dingin menusuk yang melingkupi, kecuali ketika udara berhembus kuat menyusup paksa tiap tameng-tameng tembok bambu. Hangat telah tercipta atau mungkin dingin yang telah membias dan memaksa jaring kulit terbiasa dengan kutukan mantranya. Tetap tak ada kata terucap dari salah satu mereka. Cuaca yang menyalami diri dalam hangat tak mengubah Si bisu dan Si kepala batu untuk bisa saling mendekat bukan dalam urusan jarak. Dan alam mengerti jalan tengah untuk mengikat keduanya. Bukan dengan pemahaman, bukan dengan kesadaran. Namun melalui rintik hujan yang meneteskan ribuan aksara dan panjangnya untaian kata. Alam berpuisi dalam hujan untuk ia yang tak sanggup sekedar mengucap "a" dari mulutnya. Alam berirama dalam senandung mesra untuknya yang tak mengenal partikel halus bernama suara. Suara dari banyak mulut, banyak hati, banyak alinea. Alam menyerahkan pada keduanya teka-teki melalui rintik hujan. Dan dingin kembali datang.
Satu kotak penuh kilas balik telah terkemas rapi, teronggok manis disamping sesosok tubuh dengan rambut berkuncir. Satu tahun berlalu semenjak cerita abstraknya disaksikan alam. Si bisu telah berhasil mengucap beberapa suku kata, si kepala batu mulai sadar dengan adanya air dan partikel halus yang menyerbuki bumi, tempat tinggalnya. Dan hujan masih saja meneteskan puisi, hujan masih saja menyajikan irama. Dulu rintik-rintik merdu itu masih sanggup merayu, dulu rintik-rintik bernada itu masih sanggup membekukan waktu. Dulu dingin yang datang bersamaan rintik besar itu masih sanggup meremukkan sendi bahkan mematikan.
Dan sekarang yang tersisa adalah pembiasan rasa. Alam sanggup menghidangkan hujan sebagai tali untuk membahasakan apa yang harus terucap, tapi alam sepertinya tak sanggup mencermati setiap arti dari ayunan jemari juga berbagai pola tangan yang diciptakan Si bisu, tapi alam sepertinya tak sanggup memasuki area dasar bahwasanya didataran kehidupan ini ada partikel keras juga yang menjadi alas bagi bumi dalam garis keseimbangannya.
Waktu dan hujan berlomba meracuni kesadaran untuk menyerah menyatukan Si bisu dan Si kepala batu, tapi harapan tersemai dari masing keduanya. Alam menang dalam upaya pengikatan. Hujan berperan bak Joker dalam sinemanya yang menyimpan banyak elegi misteri. Dan yang tersisa sekarang hanyalah pembiasan rasa. Pembunuhan sadis terhadap jaring kulit beserta lapisan dibawahnya. Ia yang tengah teronggok mengalirkan air dari retina, memeluk sekotak penuh kilas balik kisahnya. Dan ia yang tengah mengudara mencoba bernegoisasi dengan alam agar berhenti merayakan euforia kemenangan dan berharap ada formula nyata lain yang sanggup menghadirkan suara dari teman berteduhnya.
Dingin kembali menyapa, remah-remah tajam mencuat menusuk tiap inchi tulang. Dingin kembali mencoba menghunuskan tajam kuasanya. Tanpa peduli jika Si bisu tengah sendiri didalam bilik sama seperti satu tahun lalu ia melewati amukannya bersama ia yang tengah mengangkasa. Membiarkan dingin melumuri keduanya dalam diam yang targambarkan oleh satu goresan saja.
Dan sepertinya alam belum terketuk lagi untuk mau membantu menghadirkan resep ampuhnya. Ia hanya memandang, membiarkan rintik hujan kembali menyapa, membiarkan Si bisu terdiam ketika lelah menghampiri pergerakan tangan isyaratnya, membiarkan Si kepala batu mengais sendiri jawaban yang sebenarnya ada dalam genggaman namun tak disadarinya. Alam hanya memandangi keduanya. Membiarkan asa mempermainkan waktu yang juga tengah mempermainkan retina salah satu dari mereka hingga kemudian meneteslah air yang dikandungnya.
Ini adalah satu catatan tentang si bisu dan si kepala batu. Keduanya sama keluar dari perut ibunda dan bukan terlahir paksa dari pecahan batu raksasa. Dan hujan mempertemukan mereka disela perjalanan masing-masing menuju mati.
Hidup tak ubahnya adalah lingkaran tunggal yang mana sudut pusatnya adalah cara pandang setiap manusianya. Si bisu mengisyaratkan Si kepala batu agar memberi ruang bagi hujan menunjukkan aksinya dalam dingin yang meremukkan tulang, ia membentuk berbagai pola dari kedua tangannya, menyapu udara
melalui pergerakan jemarinya. Dan yang ditangkap oleh lawan bicaranya hanyalah isyarat baku tanpa makna. Keduanya bergumul dalam peperangan bahasa, saling melumat berbagai tanya meleburkan mereka dalam berbagai persepsi juga sudut tangkapan.
Hujan mereda ketika gelap datang membawa angin menyejukkan. Tak ada lagi dingin menusuk yang melingkupi, kecuali ketika udara berhembus kuat menyusup paksa tiap tameng-tameng tembok bambu. Hangat telah tercipta atau mungkin dingin yang telah membias dan memaksa jaring kulit terbiasa dengan kutukan mantranya. Tetap tak ada kata terucap dari salah satu mereka. Cuaca yang menyalami diri dalam hangat tak mengubah Si bisu dan Si kepala batu untuk bisa saling mendekat bukan dalam urusan jarak. Dan alam mengerti jalan tengah untuk mengikat keduanya. Bukan dengan pemahaman, bukan dengan kesadaran. Namun melalui rintik hujan yang meneteskan ribuan aksara dan panjangnya untaian kata. Alam berpuisi dalam hujan untuk ia yang tak sanggup sekedar mengucap "a" dari mulutnya. Alam berirama dalam senandung mesra untuknya yang tak mengenal partikel halus bernama suara. Suara dari banyak mulut, banyak hati, banyak alinea. Alam menyerahkan pada keduanya teka-teki melalui rintik hujan. Dan dingin kembali datang.
Satu kotak penuh kilas balik telah terkemas rapi, teronggok manis disamping sesosok tubuh dengan rambut berkuncir. Satu tahun berlalu semenjak cerita abstraknya disaksikan alam. Si bisu telah berhasil mengucap beberapa suku kata, si kepala batu mulai sadar dengan adanya air dan partikel halus yang menyerbuki bumi, tempat tinggalnya. Dan hujan masih saja meneteskan puisi, hujan masih saja menyajikan irama. Dulu rintik-rintik merdu itu masih sanggup merayu, dulu rintik-rintik bernada itu masih sanggup membekukan waktu. Dulu dingin yang datang bersamaan rintik besar itu masih sanggup meremukkan sendi bahkan mematikan.
Dan sekarang yang tersisa adalah pembiasan rasa. Alam sanggup menghidangkan hujan sebagai tali untuk membahasakan apa yang harus terucap, tapi alam sepertinya tak sanggup mencermati setiap arti dari ayunan jemari juga berbagai pola tangan yang diciptakan Si bisu, tapi alam sepertinya tak sanggup memasuki area dasar bahwasanya didataran kehidupan ini ada partikel keras juga yang menjadi alas bagi bumi dalam garis keseimbangannya.
Waktu dan hujan berlomba meracuni kesadaran untuk menyerah menyatukan Si bisu dan Si kepala batu, tapi harapan tersemai dari masing keduanya. Alam menang dalam upaya pengikatan. Hujan berperan bak Joker dalam sinemanya yang menyimpan banyak elegi misteri. Dan yang tersisa sekarang hanyalah pembiasan rasa. Pembunuhan sadis terhadap jaring kulit beserta lapisan dibawahnya. Ia yang tengah teronggok mengalirkan air dari retina, memeluk sekotak penuh kilas balik kisahnya. Dan ia yang tengah mengudara mencoba bernegoisasi dengan alam agar berhenti merayakan euforia kemenangan dan berharap ada formula nyata lain yang sanggup menghadirkan suara dari teman berteduhnya.
Dingin kembali menyapa, remah-remah tajam mencuat menusuk tiap inchi tulang. Dingin kembali mencoba menghunuskan tajam kuasanya. Tanpa peduli jika Si bisu tengah sendiri didalam bilik sama seperti satu tahun lalu ia melewati amukannya bersama ia yang tengah mengangkasa. Membiarkan dingin melumuri keduanya dalam diam yang targambarkan oleh satu goresan saja.
Dan sepertinya alam belum terketuk lagi untuk mau membantu menghadirkan resep ampuhnya. Ia hanya memandang, membiarkan rintik hujan kembali menyapa, membiarkan Si bisu terdiam ketika lelah menghampiri pergerakan tangan isyaratnya, membiarkan Si kepala batu mengais sendiri jawaban yang sebenarnya ada dalam genggaman namun tak disadarinya. Alam hanya memandangi keduanya. Membiarkan asa mempermainkan waktu yang juga tengah mempermainkan retina salah satu dari mereka hingga kemudian meneteslah air yang dikandungnya.
Minggu, 13 Juli 2014
Politik Di Perpustakaan Tua
Bapak Prabowo Subianto,
Saya bisa membayangkan perasaan Anda jika semua itu benar-benar terjadi: Anda begitu mencintai rakyat Indonesia, tetapi rakyat Indonesia lebih mencintai orang lain daripada Anda. Saya mengerti bagaimana rasanya patah hati; Betapa pedih cinta yang tak terbalaskan. Kita bisa mengerti pikiran dan perasaan seorang laki-laki yang ingin menghancurkan pesta pernikahan pujaan hatinya, kadang-kadang patah hati memang jauh lebih berbahaya daripada revolusi. Tetapi kita juga tahu, hanya mereka yang terlalu putus asa yang mewujudkan pikiran dan rencana-rencana buruk semacam itu jadi kenyataan—meledakkan rasa sakit hati jadi kebencian-kebencian yang menghancurkan. Dalam situasi semacam itu, barangkali kita perlu sekali lagi bertanya pada diri sendiri: Apa dan siapa yang sebenarnya kita cintai? Semoga kita bukan termasuk para pecinta yang dibutakan ilusi: Orang-orang yang dengan lantang berkata bahwa mereka mencintai setulus hati padahal sesungguhnya hanya memikirkan diri dan kebahagiaannya sendiri. Pak Prabowo, saya yakin Anda bukan orang semacam itu. Anda mencintai republik ini dengan tulus, bukan karena ambisi dan kepentingan-kepentingan pribadi. Demikianlah, Bapak Prabowo yang baik, surat ini tak akan mengatakan hal lain yang lebih penting lagi, kecuali: Kadang-kadang mencintai adalah soal melepaskan harapan-harapan. Jika pada saatnya Anda harus menghadapi kenyataan yang pahit, sekali lagi, saat Anda dikalahkan takdir yang seolah-olah mengandaskan semuanya, percayalah: Tak ada pengorbanan yang sia-sia untuk cinta yang lebih besar dari segalanya. Jika memang semua ini tak seperti yang Anda inginkan dan rencanakan, relakan saja. Relakan. Tak perlu merasa sakit hati karena pernah berkorban sedemikian besar untuk mencintai republik ini, tak perlu menyesal mengapa dulu Anda tak melakukan kudeta saat Anda bisa melakukannya, percayalah: Tak ada pengorbanan yang terlambat untuk cinta yang selalu tepat waktu. Anda sudah melakukan yang terbaik untuk membuktikan cinta Anda pada rakyat Indonesia. Sialan memang, kadang-kadang cinta membalas pengorbanan kita dengan caranya yang menyebalkan. Tetapi mau bagaimana lagi? Bukankah cinta memang bekerja dengan caranya yang rahasia dan tak terduga-duga? Bapak Prabowo, terima kasih telah mencintai republik ini seperti sedemikian besar Anda melakukannya. Tak ada seorangpun yang bisa berdiri di atas sepasang sepatu yang Anda kenakan saat ini. Anda barangkali pecinta sejati yang tak ada duanya. Jika kelak rakyat Indonesia lebih memilih orang lain untuk menjadi presidennya, relakanlah, relakan saja, biarkan mereka hidup bahagia meski tidak dalam dekapan Anda.
… Maka Anda akan tetap bisa melihatnya dari jauh, dengan cinta yang terus tumbuh: Rakyat Indonesia akan hidup bahagia dengan presiden yang dipilih dan lebih dicintainya. Jika saat itu tiba, semoga Anda juga berbahagia, meski tak menjadi presiden Indonesia.
Tetaplah berkuda,
Fahd Pahdepie (Fahd Djibran)
Saya bisa membayangkan perasaan Anda jika semua itu benar-benar terjadi: Anda begitu mencintai rakyat Indonesia, tetapi rakyat Indonesia lebih mencintai orang lain daripada Anda. Saya mengerti bagaimana rasanya patah hati; Betapa pedih cinta yang tak terbalaskan. Kita bisa mengerti pikiran dan perasaan seorang laki-laki yang ingin menghancurkan pesta pernikahan pujaan hatinya, kadang-kadang patah hati memang jauh lebih berbahaya daripada revolusi. Tetapi kita juga tahu, hanya mereka yang terlalu putus asa yang mewujudkan pikiran dan rencana-rencana buruk semacam itu jadi kenyataan—meledakkan rasa sakit hati jadi kebencian-kebencian yang menghancurkan. Dalam situasi semacam itu, barangkali kita perlu sekali lagi bertanya pada diri sendiri: Apa dan siapa yang sebenarnya kita cintai? Semoga kita bukan termasuk para pecinta yang dibutakan ilusi: Orang-orang yang dengan lantang berkata bahwa mereka mencintai setulus hati padahal sesungguhnya hanya memikirkan diri dan kebahagiaannya sendiri. Pak Prabowo, saya yakin Anda bukan orang semacam itu. Anda mencintai republik ini dengan tulus, bukan karena ambisi dan kepentingan-kepentingan pribadi. Demikianlah, Bapak Prabowo yang baik, surat ini tak akan mengatakan hal lain yang lebih penting lagi, kecuali: Kadang-kadang mencintai adalah soal melepaskan harapan-harapan. Jika pada saatnya Anda harus menghadapi kenyataan yang pahit, sekali lagi, saat Anda dikalahkan takdir yang seolah-olah mengandaskan semuanya, percayalah: Tak ada pengorbanan yang sia-sia untuk cinta yang lebih besar dari segalanya. Jika memang semua ini tak seperti yang Anda inginkan dan rencanakan, relakan saja. Relakan. Tak perlu merasa sakit hati karena pernah berkorban sedemikian besar untuk mencintai republik ini, tak perlu menyesal mengapa dulu Anda tak melakukan kudeta saat Anda bisa melakukannya, percayalah: Tak ada pengorbanan yang terlambat untuk cinta yang selalu tepat waktu. Anda sudah melakukan yang terbaik untuk membuktikan cinta Anda pada rakyat Indonesia. Sialan memang, kadang-kadang cinta membalas pengorbanan kita dengan caranya yang menyebalkan. Tetapi mau bagaimana lagi? Bukankah cinta memang bekerja dengan caranya yang rahasia dan tak terduga-duga? Bapak Prabowo, terima kasih telah mencintai republik ini seperti sedemikian besar Anda melakukannya. Tak ada seorangpun yang bisa berdiri di atas sepasang sepatu yang Anda kenakan saat ini. Anda barangkali pecinta sejati yang tak ada duanya. Jika kelak rakyat Indonesia lebih memilih orang lain untuk menjadi presidennya, relakanlah, relakan saja, biarkan mereka hidup bahagia meski tidak dalam dekapan Anda.
… Maka Anda akan tetap bisa melihatnya dari jauh, dengan cinta yang terus tumbuh: Rakyat Indonesia akan hidup bahagia dengan presiden yang dipilih dan lebih dicintainya. Jika saat itu tiba, semoga Anda juga berbahagia, meski tak menjadi presiden Indonesia.
Tetaplah berkuda,
Fahd Pahdepie (Fahd Djibran)
Minggu, 06 Juli 2014
Monster
Deretan tetes langit turun dengan sangat rapat disepertiganya malam. Selamat pagi alam..selamat pagi sayang.
Seonggok tubuh meringkuk kecil bertutup rapat selimut tebal. Aura jingga memenuhi ruang membungkus pekat gundukan diatas kasur, ia tengah merindukan..ia tengah menginginkan..dan yang bisa ia tunjukkan hanyalah rangkaian aksara, bukan wicara.
Pagi datang, pagi berlalu secepat mata berkedip. Dan tak ada dingin yang lebih membunuh ketimbang ingin yang tak terucapkan.
Dear sayang..terketukkah engkau ketika nanti kulahirkan satu paragraf untukmu? Satu pengucapan yang tak sanggup diperlihatkan si daging kenyal tanpa tulang. Lidah.
Seseorang berkata padaku, tak ada yang lebih bijak dari seorang guru ketimbang waktu. Benarkah itu? Lalu kenapa pelajaranku berhenti ditempat tanpa mau menaiki masa jabat? Iya, ini tentang keberadaanmu sayang..tentang banyak wajahku..dan tentang hujan yang menyatukan.
Adalah sebuah mimpi, tetap sebuah mimpi ketika aku akhirnya memilikimu. Menemukanmu adalah seperti ketika mereka yang dalam kuyup menemukan gubuk untuk persinggahannya. Malang untukmu tentu saja ketika harus menerima tamu tak tau adat dalam keadaan basah mengenaskan.
Taukah engkau sayang? Raga milikku membalut sempurna sesosok monster. Menyemainya dengan gigih hingga kemudian perlahan menguasai, mengajariku untuk memaki, mencabik bahkan melayangkan kepalan tangan.
Pernahkah engkau merasakan amukannya? Pernahkah engkau terluka karena jangkauan cakar-cakarnya? Dengan segala daya dan kuasaku, maafkanlah ia. Harusnya ku ikat ia lebih kencang dari sebelumnya. Harusnya kumusnahkan saja monster mengerikan itu, sebelum akhirnya engkau mati karena tak lagi sanggup bertahan dengan jilatan apinya. Maaf sayang karena membiarkan ia tetap hidup..karena aku sendiri sungguh kewalahan menjinakkannya.
Derap langkah hujan terhenti tepat di ujung pagi. Menyisakan dingin tak terbaca lengkap dengan tremor kekalnya. Seonggok tubuh masih disana, meringkuk menginginkan peluk. Ia masih merindukan. Ia masih berkaca dibayangan matanya. Tetes-tetes harap turun dengan serdadu yang kian jarang. Rentetan kata mengaum pasti memecah selaput nyata. Ini mungkin akan menjadi paragraf singkat, atau sebaliknya. Tergantung kepala. Tergantung seberapa kuat engkau sanggup berjabat dengan monster didalamku.
Seonggok tubuh meringkuk kecil bertutup rapat selimut tebal. Aura jingga memenuhi ruang membungkus pekat gundukan diatas kasur, ia tengah merindukan..ia tengah menginginkan..dan yang bisa ia tunjukkan hanyalah rangkaian aksara, bukan wicara.
Pagi datang, pagi berlalu secepat mata berkedip. Dan tak ada dingin yang lebih membunuh ketimbang ingin yang tak terucapkan.
Dear sayang..terketukkah engkau ketika nanti kulahirkan satu paragraf untukmu? Satu pengucapan yang tak sanggup diperlihatkan si daging kenyal tanpa tulang. Lidah.
Seseorang berkata padaku, tak ada yang lebih bijak dari seorang guru ketimbang waktu. Benarkah itu? Lalu kenapa pelajaranku berhenti ditempat tanpa mau menaiki masa jabat? Iya, ini tentang keberadaanmu sayang..tentang banyak wajahku..dan tentang hujan yang menyatukan.
Adalah sebuah mimpi, tetap sebuah mimpi ketika aku akhirnya memilikimu. Menemukanmu adalah seperti ketika mereka yang dalam kuyup menemukan gubuk untuk persinggahannya. Malang untukmu tentu saja ketika harus menerima tamu tak tau adat dalam keadaan basah mengenaskan.
Taukah engkau sayang? Raga milikku membalut sempurna sesosok monster. Menyemainya dengan gigih hingga kemudian perlahan menguasai, mengajariku untuk memaki, mencabik bahkan melayangkan kepalan tangan.
Pernahkah engkau merasakan amukannya? Pernahkah engkau terluka karena jangkauan cakar-cakarnya? Dengan segala daya dan kuasaku, maafkanlah ia. Harusnya ku ikat ia lebih kencang dari sebelumnya. Harusnya kumusnahkan saja monster mengerikan itu, sebelum akhirnya engkau mati karena tak lagi sanggup bertahan dengan jilatan apinya. Maaf sayang karena membiarkan ia tetap hidup..karena aku sendiri sungguh kewalahan menjinakkannya.
Derap langkah hujan terhenti tepat di ujung pagi. Menyisakan dingin tak terbaca lengkap dengan tremor kekalnya. Seonggok tubuh masih disana, meringkuk menginginkan peluk. Ia masih merindukan. Ia masih berkaca dibayangan matanya. Tetes-tetes harap turun dengan serdadu yang kian jarang. Rentetan kata mengaum pasti memecah selaput nyata. Ini mungkin akan menjadi paragraf singkat, atau sebaliknya. Tergantung kepala. Tergantung seberapa kuat engkau sanggup berjabat dengan monster didalamku.
Minggu, 29 Juni 2014
Kura Dan Si Pemancing Sayu
Paragraf untuk satu sel rumit yang tapaknya tengah dalam luaran radar.
Bait mengalir tanpa adanya sendatan, titik dan koma adalah batu kali yang menjadi pijakan. Ia melaju tanpa adanya titah, mengaliri apapun yang digariskan Penciptanya.
Dear engkau yang tak bernama...luasmu adalah seni juga kesedihanku. Dalammu menenggelamkanku melalui riaknya tanya, menelan dalam diam segalanya. Akankah memang engkau didesain tercipta untuk menyiksa?
Puluhan rubik tenggelam didasar kali. Indah, jika kau memandangnya dari dataran atas. Tapi tidak ketika kakimu menjelajah dalam buta diatasnya, mereka menggelincir, mereka menyandung, mereka membuatmu luka.
Dan ini adalah hanya cerita tentang si pemancing amatir, mencelupkan ujung pancing dalam dinginnya air hidup, menyapu segala yang melewatinya..menunggu sebuah nyawa.
Hanya menunggu tangan abstraknya menemukan nyawa. Luasnya kemungkinan dari segala sisi mematikan asa si pemancing untuk menjelajah. Ia hanya menginginkan satu nyawa dalam genggaman..ia hanya membutuhkan satu nyawa ikan yang mau bertahan.
Derap rintik hujan menimpa hijaunya si daun pisang penadah. Menjadi saksi akan satu kegigihan ditepi kali. Tak ada yang memahami, tak ada yang mengerti. Samar yang semakin memburam tersiram rintik menunjukkan satu aliran. Bukan pada si kali, tapi ada pada ujung mata si pemancing sayu itu. Dalam samar juga terdengar ia menggumam, melafalkan pinta, mengigaukan harap.
Dear engkau yang luasnya tak tercakup jari, tak sanggupkah engkau menundukkan satu menara ego milikmu? Bukan karena aku bersimpati pada si pemancing sayu dibawah guyuran hujan, tapi karena langkahmu juga tak tercakup olehku. Aku tak menginginkan untuk menggenggam satu nyawa milikmu. Atau mungkin mengharapkan bisa menyentuh dasaran tanpa menggoyahkan letak rubik dialas luasmu. Tidak, kulitku tak sehalus aliran airmu. Nadiku tak sehangat buaian jerammu. Dan aku hanya ingin sampai pada tujuanku..diseberang sana yang entah berujud apa.
Nyawa tercipta tak lain untuk menyelesaikan sebuah tanya, tanda agung yang dititipi Sang Pencipta justru sebagai bekal. Agar umatnya selalu sadar akan tugas. Sesingkat itu tujuan manusia tercipta sebenarnya.
Dear pemancing sayu, aku tak mengenalmu..kita bukan teman. Tapi satu hal tentang menaklukkan adalah jaring yang membelit kita untuk saling berjabatan. Ya..kita sama-sama tengah menunggu kali berbaik hati, menyerahkan keluasan juga kekuasaannya pada kecilnya ingin kita. Dunia mungkin akan berpikir aku dan engkau adalah manusia terlalu keras kepala yang tak sanggup menaklukkan aliran bernama kali. Tidakkah mereka tau bahwa sebenarnya ialah yang terlalu kuat membentengi diri dari dekapan kita?
Dear pemancing sayu, kita bukan teman..tapi untuk satu ini kita sepakat harus menjadi kawan. Luasnya ia meruntuhkan kesabaranmu, dalamnya ia menghancurkan nyaliku. Mungkin jika kita bersatu si kali akan menyurutkan tinggi juga derasnya aliran.
Hanya saja sayang, kita bukan teman..kita tak akan sanggup berteman. Engkau adalah sejenis hampir sempurna bernama manusia, sedang aku adalah seekor kura.
Dear aliran kali, biarkan detik ini aku menangis, menyelami lagi rasa nikmat akan sulitnya menaklukkan luasmu. Biarkan detik ini guyuran hujan menyamarkan aliran air dibutiran kecil mataku. Engkau yang selalu bersekongkol dengan dunia dan menganggap aku makhluk tak berdaya, engkau dengan kebesaran tembokmu yang sanggup mengikis bahkan kerasnya cangkangku, menelanjangiku dalam ribuan tanya, membiarkanku menggigil dalam kutukan diammu juga.
Aku tak memiliki ingin agung untuk menggenggammu, luasmu terlalu sulit untuk kulalui. Yang aku inginkan hanyalah berjingkat rapi tanpa menyentuh rubik agungmu, lolos dalam jerat palungmu, dan..dan..berhasil mendarat pada dataran lain.
Dear aliran kali, dunia berpikir aku terlalu keras pada inginku..dunia berpikir aku terlalu keras pada diriku. Yang sebenarnya adalah engkau yang terlalu luas untuk kujangkau..engkau yang terlalu rapat untuk ku sentuh. Dan mataku tak sekuat cangkangku, bisakah aku meneteskan lagi airmata ini? Diammu bertubi menyakitiku. Membunuhku.
Bait mengalir tanpa adanya sendatan, titik dan koma adalah batu kali yang menjadi pijakan. Ia melaju tanpa adanya titah, mengaliri apapun yang digariskan Penciptanya.
Dear engkau yang tak bernama...luasmu adalah seni juga kesedihanku. Dalammu menenggelamkanku melalui riaknya tanya, menelan dalam diam segalanya. Akankah memang engkau didesain tercipta untuk menyiksa?
Puluhan rubik tenggelam didasar kali. Indah, jika kau memandangnya dari dataran atas. Tapi tidak ketika kakimu menjelajah dalam buta diatasnya, mereka menggelincir, mereka menyandung, mereka membuatmu luka.
Dan ini adalah hanya cerita tentang si pemancing amatir, mencelupkan ujung pancing dalam dinginnya air hidup, menyapu segala yang melewatinya..menunggu sebuah nyawa.
Hanya menunggu tangan abstraknya menemukan nyawa. Luasnya kemungkinan dari segala sisi mematikan asa si pemancing untuk menjelajah. Ia hanya menginginkan satu nyawa dalam genggaman..ia hanya membutuhkan satu nyawa ikan yang mau bertahan.
Derap rintik hujan menimpa hijaunya si daun pisang penadah. Menjadi saksi akan satu kegigihan ditepi kali. Tak ada yang memahami, tak ada yang mengerti. Samar yang semakin memburam tersiram rintik menunjukkan satu aliran. Bukan pada si kali, tapi ada pada ujung mata si pemancing sayu itu. Dalam samar juga terdengar ia menggumam, melafalkan pinta, mengigaukan harap.
Dear engkau yang luasnya tak tercakup jari, tak sanggupkah engkau menundukkan satu menara ego milikmu? Bukan karena aku bersimpati pada si pemancing sayu dibawah guyuran hujan, tapi karena langkahmu juga tak tercakup olehku. Aku tak menginginkan untuk menggenggam satu nyawa milikmu. Atau mungkin mengharapkan bisa menyentuh dasaran tanpa menggoyahkan letak rubik dialas luasmu. Tidak, kulitku tak sehalus aliran airmu. Nadiku tak sehangat buaian jerammu. Dan aku hanya ingin sampai pada tujuanku..diseberang sana yang entah berujud apa.
Nyawa tercipta tak lain untuk menyelesaikan sebuah tanya, tanda agung yang dititipi Sang Pencipta justru sebagai bekal. Agar umatnya selalu sadar akan tugas. Sesingkat itu tujuan manusia tercipta sebenarnya.
Dear pemancing sayu, aku tak mengenalmu..kita bukan teman. Tapi satu hal tentang menaklukkan adalah jaring yang membelit kita untuk saling berjabatan. Ya..kita sama-sama tengah menunggu kali berbaik hati, menyerahkan keluasan juga kekuasaannya pada kecilnya ingin kita. Dunia mungkin akan berpikir aku dan engkau adalah manusia terlalu keras kepala yang tak sanggup menaklukkan aliran bernama kali. Tidakkah mereka tau bahwa sebenarnya ialah yang terlalu kuat membentengi diri dari dekapan kita?
Dear pemancing sayu, kita bukan teman..tapi untuk satu ini kita sepakat harus menjadi kawan. Luasnya ia meruntuhkan kesabaranmu, dalamnya ia menghancurkan nyaliku. Mungkin jika kita bersatu si kali akan menyurutkan tinggi juga derasnya aliran.
Hanya saja sayang, kita bukan teman..kita tak akan sanggup berteman. Engkau adalah sejenis hampir sempurna bernama manusia, sedang aku adalah seekor kura.
Dear aliran kali, biarkan detik ini aku menangis, menyelami lagi rasa nikmat akan sulitnya menaklukkan luasmu. Biarkan detik ini guyuran hujan menyamarkan aliran air dibutiran kecil mataku. Engkau yang selalu bersekongkol dengan dunia dan menganggap aku makhluk tak berdaya, engkau dengan kebesaran tembokmu yang sanggup mengikis bahkan kerasnya cangkangku, menelanjangiku dalam ribuan tanya, membiarkanku menggigil dalam kutukan diammu juga.
Aku tak memiliki ingin agung untuk menggenggammu, luasmu terlalu sulit untuk kulalui. Yang aku inginkan hanyalah berjingkat rapi tanpa menyentuh rubik agungmu, lolos dalam jerat palungmu, dan..dan..berhasil mendarat pada dataran lain.
Dear aliran kali, dunia berpikir aku terlalu keras pada inginku..dunia berpikir aku terlalu keras pada diriku. Yang sebenarnya adalah engkau yang terlalu luas untuk kujangkau..engkau yang terlalu rapat untuk ku sentuh. Dan mataku tak sekuat cangkangku, bisakah aku meneteskan lagi airmata ini? Diammu bertubi menyakitiku. Membunuhku.
Sabtu, 28 Juni 2014
Dalam Pelukan Alam
Aku memiliki nama, satu tragedi bernama kelahiran menyerahkan padaku satu tanda. Dan dedaunan tak akan pernah sekalipun mempertanyakan kenapa ia harus tumbuh menggapai matahari sementara akar justru alam biarkan meranggas ke dalam.
Dan ini bukan tentang kelahiran, tapi tentang sebuah kehadiran. Ya, kehadiran.
Suatu hari aku bertanya kepada cermin, dalam ucapan yang hanya tersalurkan tanpa suara. Kenapa aku berbeda? Kenapa aku tak bersuara? Kenapa mereka sanggup berucap kata beraneka rupa?
Getaran-getaran halus pembangun traumatik akan adanya guncangan alam kembali menyapa. Alam diam, namun artefak bernyawaku mengirimkan sinyal dan berkata alam memintaku bercanda. Jadilah aku seonggok tubuh tanpa rasa. Bayangan membentengi keraguan akan adanya pembohongan massal. Dan adakah yang meragukan kejujuran dari sebuah cermin?
Ribuan tanya melayang diudara tentang kenapa, bagaimana, juga dimana. Menangkap mereka satu demi satu hanya menimbulkan kengerian semata. Aku tak sanggup menjabarkan untaian tanya itu. Yang aku bisa hanyalah memandangi, menikmati sisi lucu dari sebuah keabstrakan lugu.
Aku mulai mengenali diriku, melalui cermin, sesuatu yang sanggup ku percaya didunia ini. Sesekali disana, aku meringis, tertawa, menangis juga bertanya. Kadang juga hanya diam memandangi partitur berirama yang tercipta diantara lipatan mata dan rambut diatasnya. Cermin sekali lagi membuatku tercengang kemudian tertawa, tubuhku ternyata benaran artefak bernyawa. Lekuk juga bagiannya saling menyapa juga bertautan menciptakan gerakan. Terkadang samar kudengar kakiku berteriak marah, hanya karena setiap saat harus menginjak ibu kandung alamiahnya. Tanah.
Engkau memang tergariskan untuk menapakinya sayang, dan tanah tak akan bersedih selama ia berada dalam pijakanmu, bukan diatas raga dan mengurukmu.
Aku kembali mengenali siapa diriku, aku terbelah dalam banyak jiwa yang menyembunyikan diri dalam setiap bagian berbeda namun terikat dalam satu artefak sama. Tak pernah lagi ada tanya tentang siapa diriku, hanya jawab yang memastikan keberadaan penjelasan diluar nalar. Dan kemudian tanya beranak tanya, jika hanya aku yang sanggup mengetahui siapa sebenarnya diriku..lalu akankah ada manusia diluaran sana yang akan bertahan dengan ketidakhadiranku? Sel paralel menyelubung didasar batok kepala kembali bekerja, mengais lagi jawaban dari tak terhingganya ruang diudara.
Dan daun mulai merasakan sentuhan tanah, ketika ia berhenti untuk tumbuh, ketika ia berhenti untuk berobsesi.
Udara. Alam kembali menunjukkan kuasanya yang seketika membuatku terdiam gagu. Haruslah sesosok dewa yang sanggup menjadi temanku. Bukankah hanya dewa yang dibawah kekuasaan alam sanggup mendeteksi pergerakan alam itu sendiri? Atau mungkin juga hanya udara kosong yang sanggup ada bersama ketidakhadiranku. Dan alam..bisakah aku mencintaimu sayang? Keluasanmu adalah kekuatan tersendiri untuk bisa menandingi cakaran akarku di hampir seluruh kerak bumi.
Bisakah aku mencintaimu sayang? Saling ketidakhadiran kita yang justru nanti akan menjadi rel bagi perbedaan mutlak kita. Serahkan padaku magnet terbesarmu yang sekiranya sanggup menjaga isi bumi tetap pada letaknya. Karena pada hari penyatuan kelak kita. Tak akan kuizinkan sepotong kayupun terdiam dalam geram. Semua melebur. Akan.
Bisakah aku menginginkanmu alam? Ketidaksanggupanku mengimbangi permainan manusiawi, keluguanku menyikapi sebuah alibi, dan ketidakberayaanku memerangi diri yang hanya sanggup memasrah pada cermin. Bisakah memahami kenapa aku diasingkan didasar mars? Menyebutku penghuni asal hanya karena bercabangnya tangan-tangan otakku sementara milik penghuni bumi lurus tanpa adanya kelokan.
Dan aku menunggu, alam menjatuhkan karma sakral nan agungnya pada sosok abnormal sepertiku.Menunggu titahnya yang terbawa hembusan angin menusuk kepekaanku. Dan tidakkah engkau merasa bahwa hanya aku yang sanggup merekam hingga jejak terhalusmu, alam?
Dadu berputar anggun dimeja judinya. Enam sisi kepunyaannya yang menunjukkan pada dunia tentang sisi tak sebenarnya. Menghadirkan tanya yang oleh mereka justru disebut sebagai pertanda.
Aku..aku dan cermin adalah sama, tapi aku yang berdiri didalam sana lebih hebat ketimbang aku yang terbungkus artefak bernyawa ini. Semua mengalir dengan tanpa paksaan juga tanpa tatapan mencurigakan. Dan seketika sebuah tanya kembali menyeruak dari balik kayu berpernis pembingkai kaca. Siapkah engkau?
Tetes air menerjang hangat atap, alunan piringan hitam dialam komedi, tanah yang menyerpihkan diri. Semua mendadak terasa nyata. Semua terasa hadir. Menjadikanku seseorang terbodoh abad ini. Untuk apa aku hadir pada mereka yang tak pernah menginginkan aku ada? Untuk apa aku hadir pada mereka yang tak pernah menganggapku nyata? Getar halus menyapa lagi..bukan guncangan alam, lagi dan lagi artefak bernyawaku yang mengirimkan sinyal. Tanda unik bahwa aku hanya harus percaya. Pada kehidupan. Akan kehadiran alam.
Dan ini bukan tentang kelahiran, tapi tentang sebuah kehadiran. Ya, kehadiran.
Suatu hari aku bertanya kepada cermin, dalam ucapan yang hanya tersalurkan tanpa suara. Kenapa aku berbeda? Kenapa aku tak bersuara? Kenapa mereka sanggup berucap kata beraneka rupa?
Getaran-getaran halus pembangun traumatik akan adanya guncangan alam kembali menyapa. Alam diam, namun artefak bernyawaku mengirimkan sinyal dan berkata alam memintaku bercanda. Jadilah aku seonggok tubuh tanpa rasa. Bayangan membentengi keraguan akan adanya pembohongan massal. Dan adakah yang meragukan kejujuran dari sebuah cermin?
Ribuan tanya melayang diudara tentang kenapa, bagaimana, juga dimana. Menangkap mereka satu demi satu hanya menimbulkan kengerian semata. Aku tak sanggup menjabarkan untaian tanya itu. Yang aku bisa hanyalah memandangi, menikmati sisi lucu dari sebuah keabstrakan lugu.
Aku mulai mengenali diriku, melalui cermin, sesuatu yang sanggup ku percaya didunia ini. Sesekali disana, aku meringis, tertawa, menangis juga bertanya. Kadang juga hanya diam memandangi partitur berirama yang tercipta diantara lipatan mata dan rambut diatasnya. Cermin sekali lagi membuatku tercengang kemudian tertawa, tubuhku ternyata benaran artefak bernyawa. Lekuk juga bagiannya saling menyapa juga bertautan menciptakan gerakan. Terkadang samar kudengar kakiku berteriak marah, hanya karena setiap saat harus menginjak ibu kandung alamiahnya. Tanah.
Engkau memang tergariskan untuk menapakinya sayang, dan tanah tak akan bersedih selama ia berada dalam pijakanmu, bukan diatas raga dan mengurukmu.
Aku kembali mengenali siapa diriku, aku terbelah dalam banyak jiwa yang menyembunyikan diri dalam setiap bagian berbeda namun terikat dalam satu artefak sama. Tak pernah lagi ada tanya tentang siapa diriku, hanya jawab yang memastikan keberadaan penjelasan diluar nalar. Dan kemudian tanya beranak tanya, jika hanya aku yang sanggup mengetahui siapa sebenarnya diriku..lalu akankah ada manusia diluaran sana yang akan bertahan dengan ketidakhadiranku? Sel paralel menyelubung didasar batok kepala kembali bekerja, mengais lagi jawaban dari tak terhingganya ruang diudara.
Dan daun mulai merasakan sentuhan tanah, ketika ia berhenti untuk tumbuh, ketika ia berhenti untuk berobsesi.
Udara. Alam kembali menunjukkan kuasanya yang seketika membuatku terdiam gagu. Haruslah sesosok dewa yang sanggup menjadi temanku. Bukankah hanya dewa yang dibawah kekuasaan alam sanggup mendeteksi pergerakan alam itu sendiri? Atau mungkin juga hanya udara kosong yang sanggup ada bersama ketidakhadiranku. Dan alam..bisakah aku mencintaimu sayang? Keluasanmu adalah kekuatan tersendiri untuk bisa menandingi cakaran akarku di hampir seluruh kerak bumi.
Bisakah aku mencintaimu sayang? Saling ketidakhadiran kita yang justru nanti akan menjadi rel bagi perbedaan mutlak kita. Serahkan padaku magnet terbesarmu yang sekiranya sanggup menjaga isi bumi tetap pada letaknya. Karena pada hari penyatuan kelak kita. Tak akan kuizinkan sepotong kayupun terdiam dalam geram. Semua melebur. Akan.
Bisakah aku menginginkanmu alam? Ketidaksanggupanku mengimbangi permainan manusiawi, keluguanku menyikapi sebuah alibi, dan ketidakberayaanku memerangi diri yang hanya sanggup memasrah pada cermin. Bisakah memahami kenapa aku diasingkan didasar mars? Menyebutku penghuni asal hanya karena bercabangnya tangan-tangan otakku sementara milik penghuni bumi lurus tanpa adanya kelokan.
Dan aku menunggu, alam menjatuhkan karma sakral nan agungnya pada sosok abnormal sepertiku.Menunggu titahnya yang terbawa hembusan angin menusuk kepekaanku. Dan tidakkah engkau merasa bahwa hanya aku yang sanggup merekam hingga jejak terhalusmu, alam?
Dadu berputar anggun dimeja judinya. Enam sisi kepunyaannya yang menunjukkan pada dunia tentang sisi tak sebenarnya. Menghadirkan tanya yang oleh mereka justru disebut sebagai pertanda.
Aku..aku dan cermin adalah sama, tapi aku yang berdiri didalam sana lebih hebat ketimbang aku yang terbungkus artefak bernyawa ini. Semua mengalir dengan tanpa paksaan juga tanpa tatapan mencurigakan. Dan seketika sebuah tanya kembali menyeruak dari balik kayu berpernis pembingkai kaca. Siapkah engkau?
Tetes air menerjang hangat atap, alunan piringan hitam dialam komedi, tanah yang menyerpihkan diri. Semua mendadak terasa nyata. Semua terasa hadir. Menjadikanku seseorang terbodoh abad ini. Untuk apa aku hadir pada mereka yang tak pernah menginginkan aku ada? Untuk apa aku hadir pada mereka yang tak pernah menganggapku nyata? Getar halus menyapa lagi..bukan guncangan alam, lagi dan lagi artefak bernyawaku yang mengirimkan sinyal. Tanda unik bahwa aku hanya harus percaya. Pada kehidupan. Akan kehadiran alam.
Jumat, 13 Juni 2014
Koma Di Langit Tua
Apa saja..apapun itu yang sekiranya bisa kalian telan tanpa harus berusaha mengunyah terlebih dahulu, aku ingin menulisnya. Menghabiskan sepertiga malam dalam lumatan hangat deretan abjad yang tertata. Tentang aku, tentang malaikat tak bersayap, tentang cuaca, tentang lebah dengan putik sari favoritnya.
Udara menyekap dalam aroma yang tak jauh beda seperti malam kemarin karena aku berada diruang yang sama, antara percampuran asin yang menguap, residu penyedap rasa juga wangi cendana. Ini kamarku, sekat dimana kuhabiskan lebih dari setengah waktuku ketika tengah lepas dari ruangan kerja. Ini kamarku, aliensi kotak raksasa yang menjadi saksi semua kegiatanku. Aku tidak sedang ingin memperkenalkan ruang tercintaku kepada mata dunia tentu saja, aku hanya ingin berbicara tentang persamaan lainnya, sekat antar makhluk non-melata, aku-kamu dan mereka.
Sebelum ini, sebelum malam ini menyahut segala rasa rindu akan kegilaanku bersama paragraf tampan, aku memiliki teman..cukupan kubatasi ia hanya sekedar teman karena alasan yang mana hanya waktu yang sanggup menjelaskan tanpa menghasilkan efek drama. Aku tak mempercayai kata sahabat, ruang sakral dimana didalamnya tak ada batasan, sedangkan dalam gelombang nyata antara tak ada batas juga penghianatan hanya dipisahkan kulit tipis ari.
Ia adalah sesuatu yang ingin terus kupertahankan ada. Ia adalah sesuatu yang ingin kujaga kebersamaannya. Ia adalah sosok yang ingin kujadikan saudara. Dan aku bersumpah lidahku gatal ingin sekali memanggilnya "sahabat".
Aroma panas terik bercampur segarnya pucuk daun padi yang terbakar matahari disuatu siang yang telah lalu adalah saksi, saksi ketika segala perbedaan juga kehadiran belum menjadi spasi yang menganga. Memisahkan.
Aku merindukan saat itu, ketika tangan-tangan kami saling melayangkan tinju, meruapkan segala kenakalan yang terkadang melewati batas wajar. Dibawah terik, ditengah gempuran dunia padi, didalam gubuk.
Aku merindukan saat ketika mereka adalah penduduk mars yang tengah bertamu ke hamparan bumi, sedangkan tanah luas ini adalah milikku, miliknya, milik kita.
Semuanya terasa indah, semua terasa mencengangkan ketika detik ini kusadari ia hanyalah tinggal sebatas kenangan. Dalam hati aku bersorak riang, karena telah kuprediksikan gelombang ini akan menyerbu ruang kelabu antara aku dan ia yang tak kuketahui nama belakangnya. Dan aku bersiap lebih daripada yang siapapun pernah mengira. Bukankah memang tak ada kata selamanya didunia ini? Dan semuanya terjawab sekarang. Langkah kami tetap berderap menuju arah yang kemungkinan sama namun memiliki ruap suara yang berbeda. Keinginanku untuk terus menjaganya ditelan paksa oleh unsur bernama kenyataan. Ia tak lagi membutuhkan kehangatanku, tak lagi memerlukan kehadiranku, lalu haruskah aku memaksa untuk tetap menjaganya? Kurasa ada yang salah disini. Sesuatu, terkadang harus terhenti bukan karena ia tidak lagi peduli, namun karena sadar kepeduliannya tak lagi diartikan. Dan aku memilih jalan berjingkat kebelakang, menyusuri lagi tapak yang sejatinya jika dibahasakan dalam kata tak bersamar akan terucap menjadi kesendirian. Merenungi pelajaran apa yang sanggup ku cerna dari semua tadi tanpa harus melukai dinding usus, karena memang tak ada perpisahan yang tak menyakitkan. Membaui lagi aroma hangat yang pernah tercipta, dikandang kambing, ditengah kerumunan sepeda bermotor diparkiran, didalam gubuk, ditengah gempuran sunyi kamarnya, hanya aku dan dia.
Ah...semuanya kenapa terasa masih didepan retina? Tidak bisakah ini berefek juga seperti cara kerja mie-instan rasa kaldu ayam diruang indra pencecap? Yang mana engkau tak akan lagi mengingat aroma dari kepulan asap dirongga bergigi ketika menyiramnya dengan segelas air. Kuat dan lenyap seketika.
Ia yang kini kulepas bersama senyum miliknya yang kuadoni dari percampuran rasa sayang juga sesendok airmata. Ia yang hanya bisa kupandang jauh dengan mulut tak berhenti mengucap mantra. Mengingatkannya. Menunjukkan padanya bahwa sepertinya ia salah memilih jalan setapak, bahwa seharusnya cinta miliknya tak seharusnya membutakan dan melanggar norma sekalipun aku harus berkata tak apa jika tsunami kebahagiaan itu menyapu lenyapkan kebersamaan kita. Dan norma adalah batu ditengah kali yang berserak acak tanpa bisa siapapun melenyapkan karena ia akan terus terlihat ada sepanjang aliran itu berjalan. Dan norma adalah sepertinya tak lain seperti hantu yang bercokol dibelakang pintu, benci ketika menyadari mereka ternyata ada tapi tak punyai kuasa untuk mengusirnya. Hanya butuh diam dan tidak mengusiknya.
Kawan, betapa ingin aku meneriakkan ini..betapa ingin aku meluruskan apa yang sekiranya dunia pandang benar..tapi bahkan menyentuh waktu juga tanganmu adalah hal mustahil sekarang. Aku tak di ijinkan, untuk lebih peduli, untuk lebih memperhatikan..karena kita adalah teman.
Dan penutup dari sepertiga malam ini adalah koma, tergantung manis dan melambai diangkasa. Memutar piringan hitam bergambar kita. Namun aku memiliki jalan. Yang lain.
Udara menyekap dalam aroma yang tak jauh beda seperti malam kemarin karena aku berada diruang yang sama, antara percampuran asin yang menguap, residu penyedap rasa juga wangi cendana. Ini kamarku, sekat dimana kuhabiskan lebih dari setengah waktuku ketika tengah lepas dari ruangan kerja. Ini kamarku, aliensi kotak raksasa yang menjadi saksi semua kegiatanku. Aku tidak sedang ingin memperkenalkan ruang tercintaku kepada mata dunia tentu saja, aku hanya ingin berbicara tentang persamaan lainnya, sekat antar makhluk non-melata, aku-kamu dan mereka.
Sebelum ini, sebelum malam ini menyahut segala rasa rindu akan kegilaanku bersama paragraf tampan, aku memiliki teman..cukupan kubatasi ia hanya sekedar teman karena alasan yang mana hanya waktu yang sanggup menjelaskan tanpa menghasilkan efek drama. Aku tak mempercayai kata sahabat, ruang sakral dimana didalamnya tak ada batasan, sedangkan dalam gelombang nyata antara tak ada batas juga penghianatan hanya dipisahkan kulit tipis ari.
Ia adalah sesuatu yang ingin terus kupertahankan ada. Ia adalah sesuatu yang ingin kujaga kebersamaannya. Ia adalah sosok yang ingin kujadikan saudara. Dan aku bersumpah lidahku gatal ingin sekali memanggilnya "sahabat".
Aroma panas terik bercampur segarnya pucuk daun padi yang terbakar matahari disuatu siang yang telah lalu adalah saksi, saksi ketika segala perbedaan juga kehadiran belum menjadi spasi yang menganga. Memisahkan.
Aku merindukan saat itu, ketika tangan-tangan kami saling melayangkan tinju, meruapkan segala kenakalan yang terkadang melewati batas wajar. Dibawah terik, ditengah gempuran dunia padi, didalam gubuk.
Aku merindukan saat ketika mereka adalah penduduk mars yang tengah bertamu ke hamparan bumi, sedangkan tanah luas ini adalah milikku, miliknya, milik kita.
Semuanya terasa indah, semua terasa mencengangkan ketika detik ini kusadari ia hanyalah tinggal sebatas kenangan. Dalam hati aku bersorak riang, karena telah kuprediksikan gelombang ini akan menyerbu ruang kelabu antara aku dan ia yang tak kuketahui nama belakangnya. Dan aku bersiap lebih daripada yang siapapun pernah mengira. Bukankah memang tak ada kata selamanya didunia ini? Dan semuanya terjawab sekarang. Langkah kami tetap berderap menuju arah yang kemungkinan sama namun memiliki ruap suara yang berbeda. Keinginanku untuk terus menjaganya ditelan paksa oleh unsur bernama kenyataan. Ia tak lagi membutuhkan kehangatanku, tak lagi memerlukan kehadiranku, lalu haruskah aku memaksa untuk tetap menjaganya? Kurasa ada yang salah disini. Sesuatu, terkadang harus terhenti bukan karena ia tidak lagi peduli, namun karena sadar kepeduliannya tak lagi diartikan. Dan aku memilih jalan berjingkat kebelakang, menyusuri lagi tapak yang sejatinya jika dibahasakan dalam kata tak bersamar akan terucap menjadi kesendirian. Merenungi pelajaran apa yang sanggup ku cerna dari semua tadi tanpa harus melukai dinding usus, karena memang tak ada perpisahan yang tak menyakitkan. Membaui lagi aroma hangat yang pernah tercipta, dikandang kambing, ditengah kerumunan sepeda bermotor diparkiran, didalam gubuk, ditengah gempuran sunyi kamarnya, hanya aku dan dia.
Ah...semuanya kenapa terasa masih didepan retina? Tidak bisakah ini berefek juga seperti cara kerja mie-instan rasa kaldu ayam diruang indra pencecap? Yang mana engkau tak akan lagi mengingat aroma dari kepulan asap dirongga bergigi ketika menyiramnya dengan segelas air. Kuat dan lenyap seketika.
Ia yang kini kulepas bersama senyum miliknya yang kuadoni dari percampuran rasa sayang juga sesendok airmata. Ia yang hanya bisa kupandang jauh dengan mulut tak berhenti mengucap mantra. Mengingatkannya. Menunjukkan padanya bahwa sepertinya ia salah memilih jalan setapak, bahwa seharusnya cinta miliknya tak seharusnya membutakan dan melanggar norma sekalipun aku harus berkata tak apa jika tsunami kebahagiaan itu menyapu lenyapkan kebersamaan kita. Dan norma adalah batu ditengah kali yang berserak acak tanpa bisa siapapun melenyapkan karena ia akan terus terlihat ada sepanjang aliran itu berjalan. Dan norma adalah sepertinya tak lain seperti hantu yang bercokol dibelakang pintu, benci ketika menyadari mereka ternyata ada tapi tak punyai kuasa untuk mengusirnya. Hanya butuh diam dan tidak mengusiknya.
Kawan, betapa ingin aku meneriakkan ini..betapa ingin aku meluruskan apa yang sekiranya dunia pandang benar..tapi bahkan menyentuh waktu juga tanganmu adalah hal mustahil sekarang. Aku tak di ijinkan, untuk lebih peduli, untuk lebih memperhatikan..karena kita adalah teman.
Dan penutup dari sepertiga malam ini adalah koma, tergantung manis dan melambai diangkasa. Memutar piringan hitam bergambar kita. Namun aku memiliki jalan. Yang lain.
Langganan:
Postingan (Atom)