Alam Semesta,
.
.
.
.
.
.
.
Pertemuan ini akhirnya menjadi nyata. Sesuatu yang membuat tiap perjalanan jarum jam menjadi berlipat lebih menegangkan. Sebuah penantian yang menguras kesabaran. Namun aku menikmati setiap pergerakan yang tersalurkan hangat melalui dinding perut. Menikmati setiap detak jantung yang merasuk dalam tiap pejaman mata. Engkau akhirnya melihat dunia.
Batasan yang selama ini menjauhkan aku dan engkau agar hanya saling mengenal sebatas antar perasaan saja akhirnya pupus dalam waktu singkat. Satu jam yang menjungkirbalikkan persepsiku selama sekian tahun tentang adanya kehidupan. Satu jam yang mengantarku lebih dekat kepada sang pencabut kontrak hidup, namun belum diizinkannya untukku membubuhkan paraf tanda pengakhiran.
Kita akhirnya bertemu sayang. Kita baru saja bertemu, namun aku yakin kita akan menjadi teman baik. Berbagi kebahagiaan dalam setiap langkah dan kita akan selalu bersama.
Tanganmu terasa begitu asing, seperti awan wangi yang baru saja keluar dari tempat cetaknya. Tanganmu terasa begitu asing dalam genggaman, seperti cokelat padat yang bertemu pemanas. Terasa melelehkan.
Redup kecil retinamu terasa begitu asing, seperti bohlam menyala didalam gelapnya kamar, menyiram hingga setiap sudut dengan sinar keemasan yang nyaman.
.
.
.
.
.
Perjalanan panjang yang kita lalui ini. Dimana semuanya membuat kita bertambah kuat. Perjalanan ini, kita akan melakukan dan terus menapakinya dengan bersama-sama.
.
.
.
.
.
Kaki mungilmu mulai menapaki alam, menyapa satu demi satu tumbuhan dan bebatuan. Membelai angin yang menyapu lembut raut wajah nan menggemaskan milikmu. Dan aku menyukai setiap ketakjuban yang terpancar dari bola rapuhmu. Kekaguman yang selalu lolos dari binar matamu. Juga, kehebohan dari setiap pengalaman pertamamu.
.
Langkah baru, pemahaman baru. Dalam kehadiranmu yang baru saja dan terasa seperti hitungan jam bagiku, engkau telah mendatangkan sebuah dunia baru. Seluruh dunia terasa baru.
Dengarlah sayang, alam menyapa kita..mereka menyambut kedatanganmu. Siap memanggil aku dan engkau dalam petualangan baru yang lebih menantang sekaligus menakjubkan.
.
.
.
.
Perjalanan panjang yang kita lalui ini. Dimana semuanya membuat kita bertambah kuat. Perjalanan ini, kita akan melakukan dan terus menapakinya dengan bersama-sama.
.
.
.
Dalam langkah yang masih menjadi misteri. Dalam dunia yang maha tak terjangkau ini, tersungkur dan bahkan jatuh mungkin akan terjadi. Tapi aku tahu, aku yakin itu yang akan menempa juga mengajarimu menjadi lebih kuat. Mereka yang akan membukakan matamu untuk lebih bisa belajar tentang adanya titik rendah dan juga spasi, koma sebuah babak baru.
Lewat alam yang menyuguhkan begitu banyak keajaiban dan berlimpahnya sajian. Lewat matahari dan hujan kita akan belajar tentang kehidupan.
Jika kehadiranmu adalah sebuah momen dimana engkau dengan caramu mengajariku kesabaran dan ketabahan. Maka perjalanan kita nanti akan menjadi episode baru, dimana engkau akan mengajariku lebih tentang banyak sudut yang selama ini tertutupi selaput peka yang mengikis seiring bertambahnya usia. Mereka akan melihat tanganmu lah yang dibalut erat pengamanan dariku demi tercapainya langkah baru, tanpa tahu jika sesungguhnya akulah yang tengah engkau tuntun untuk melangkahi tapak baru dalam dunia yang baru juga. Kita tengah belajar bersama tentang kehidupan. Dan tumbuh bersama.
.
.
.
.
.
.
Perjalanan panjang yang kita lalui ini. Dimana semuanya membuat kita bertambah kuat. Perjalanan ini, kita akan melakukan dan terus menapakinya dengan bersama-sama.
.
.
.
.
.
Lihatlah betapa mengagumkannya semua ini. Lihat betapa dekatnya kita. Bukan lagi terbatasi oleh selaput ari dan juga dinding perut, apalagi terbatasi oleh teka-teki ilahi yang selalunya menyisakan tanya dan juga misteri. Lihatlah betapa jauh sudah perjalanan kita yang kita lakukan. Berawal dari sebuah ikatan tanpa unsur kesengajaan. Berawal dari kata 'Ya' yang tak pernah memiliki ujung ataupun hulu demi sebuah pertanyaan kenapa. Berawal dari nol yang menjembatani ribuan kata teruntai hingga detik ini.
Sungguh, engkau tidak pernah tahu betapa kehadiranmu telah dengan sangat pas menyempurnakan kelengkapan bahagiaku. Dan aku bersyukur untuk keajaiban itu. Dan aku bersiap untuk melangkah, menanti adanya jurang, menembus segala daya yang alpa untuk diperjuangkan. Dan aku bersiap untuk menjadi tembok bagi dunia yang hendak meruntuhkan juga menjegal langkahmu.
Lihatlah betapa mengagumkannya semua ini. Lihat betapa dekatnya kita sekarang, dan berapa jauh sudah kita menapakkan langkah. Namun ini barulah awal. Permulaan langkah.
Didepan sana perjalanan masih panjang, dan bila langkahku tak sanggup mengantar pada derap terakhirmu, semoga engkau ingat bagaimana awal dari perjalanan ini. Semoga engkau engkau ingat, kita telah berbagi ruang, berbagi cinta dan berbagi kebahagiaan.
.
.
Sayang dengarlah, mereka memangil aku dan engkau. Dalam perjalanan baru untuk dunia yang juga baru.
Jumat, 27 November 2015
Sabtu, 21 November 2015
Catatan Selepas Hujan
"Kita memang tak pernah tahu apa yang dirindukan sampai sesuatu itu tiba di depan mata. Kita tak pernah menyadari ketidaklengkapan hingga bersua dengan kepingan diri yang tersesat dalam ruang-waktu...-AKAR-"
.
.
.
.
.
.
.
Purbalingga. Nov'21
.
.
Kabut petang membayangi dengan jelas dari balik kaca ventilasi kamar. Uap air hujan semakin memburamkan pandangan langit luar. Yang terlihat di kaca hanyalah pantulan diriku yang tengah menatap sendu menikmati keheningan. Adzan isya baru saja selesai berkumandang, menandakan masih terlalu awal untuk mata ini terlelap dan menjemput mimpi. Dan lagi, menjadi tuna karya sepertiku memberikan peluang lebih untuk bisa menikmati tidur siang, jadi, tak ada alasan lain untuk pergi tidur sekarang, alih-alih otak dikepala memang tengah sibuk berputar.
.
.
.
Malam ini, adalah tepat bulan keempat aku resmi menyandang status baru sebagai seorang Istri. Status membanggakan yang untuk mencapainya diperlukan tak hanya tetes keringat tapi juga
tetesan darah. Bagaimana tidak, Ayahku tercinta meninggal dunia justru 40 hari tepat sebelum hari paling sakralku. Apa kiranya yang lebih meremukkan batin dan membuatnya hancur ketimbang paksaan untuk tersenyum lebar menjemput tamu kondangan disaat bayangan ayah terbujur kaku justru masih segar diingatan. Terlepas dari pontang-pantingnya mengurus finansial tentu saja. Tapi aku beruntung, disampingku, di sekelilingku berdiri manusia-manusia tangguh yang sanggup menyulap aroma duka menjadi gelak tawa.
Ibu adalah yang pertama, kendati beliaulah yang menangis paling lama dihari meninggalnya Ayah, tapi Ibu adalah jawaban terkuatku untuk bisa kembali menatap ke depan.
Ari, yang saat itu masih berstatus sebagai pacar. Keberadaannya adalah seperti nyala bohlam. Terang yang membuatku tetap membuka mata. Terang yang memicu secuil harapan muncul disaat sebuah ketakutan akan keyakinan bahwa hariku tidak akan lebih terang setelah kepergian Ayah. Dan ia membawa terang itu dengan binar penuh kehangatan.
Keluarga besar, yang tanpa tangan, kaki juga pemikiran mereka maka status "Istri" milikku pasti ribuan kali akan lebih berat untuk kusandang.
Dan terakhir, yang bahunya tak akan pernah dilupa. Para sahabat juga adik yang rela menyodorkan punggung tangan demi ikut menghapus duka.
.
.
.
.
.
.
Lelehan air jatuh dari retina. Perlahan. Tetes demi tetes.
Aku hari ini, tidak akan pernah hadir selengkap dan sebaik ini tanpa mereka. Nama-nama yang terlalu berharga untuk sekedar diucapi kata terimakasih. Pemahaman diri yang kupelajari jauh-jauh hari seperti terlepas begitu saja dari ingatan. Aku yang berdiri gagah menjulang tak akan pernah bisa meski hanya sekedar bernafas tanpa bantuan mereka. Lalu kenapa terkadang masih kubiarkan monster yang hidup didalamku memperlihatkan gigi juga menampakkan cakar ? Aku merasa buruk rupa. Maafkan aku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Rintik hujan kembali mengguyur tanah, menambah senyap dari gelap yang tak pernah bertuan.
Tuhan, aku sungguh merasakan betapa buruk rupanya diriku. Dengan segala daya menyajikan ego juga kekanakan pada mereka yang pernah hadir menyuapiku kehangatan.
.
Tuhan, untuk malam ini. Lepaskan aku untuk menapaki luasnya cakrawala aksara ini dan membagi secuil kehangatan pada salah satu nama berharga milikku. Ia, adik kecilku..yang lima hari lalu tengah berbahagia untuk keduapuluh tahun tepat hari kelahirannya. Ia yang pernah bergandengan tangan bersamaku menapaki masa-masa tak terlupakan. Ia yang punggung tangannya hadir disaat kepergian Ayah. Ia yang tengah dalam jalan menuju pendewasaan. Ia yang kuharapkan memiliki jiwa sekokoh mimpinya. Ia yang kuharapkan paham dengan segala tipu daya dunia fana. Ia yang kuharapkan sanggup belajar pada waktu, pada setiap perubahan yang menghampirinya. Ia yang kuharapkan juga sanggup belajar juga bertahan dari segala sakit, kecewa, dan kehancuran yang mungkin akan mendatanginya.
Ia yang kuharapkan mengerti tentang arus hidup yang kadang lucu, kadang membingungkan. Ia yang selalu kuharapkan kebahagian menyertai deru nafasnya. Sekalipun jika aku, sahabatnya, atau bahkan orang yang dicintainya tak sanggup lagi ada untuk bergandengan bersamanya. Ia yang selalu kuharapkan sanggup menemukan tempat berteduh bagi dirinya sendiri disaat aku atau siapapun tak ada disisi untuk memayunginya.
.
.
.
.
Dear adik kecil, mungkin engkau akan menemukan catatan ini dan mendengar semua harapanku atau mungkin juga tidak. Tak apa, tidak pernah ada harapan yang salah alamat, tidak pernah ada doa yang tak sampai selama kita merangkul Yang Kuasa sebagai perantaranya. Disini, semoga engkau menemukan kehangatan yang secara pribadi kubagi denganmu.
Dear adik kecil, jadilah semakin kuat sayang seiring dengan bertambah usiamu. Jadilah sesuatu yang baik sekalipun jika itu hanya engkau dan Tuhan yang tahu. Teruslah menjadi pribadi putih sekalipun dunia ini hitam, buas dan mengancam. Belajar dan terus belajar berteman dengan dirimu sendiri maka engkau tidak akan pernah kesepian. Semoga engkau paham.
Selamat malam. :-)
.
.
.
.
.
.
.
Purbalingga. Nov'21
.
.
Kabut petang membayangi dengan jelas dari balik kaca ventilasi kamar. Uap air hujan semakin memburamkan pandangan langit luar. Yang terlihat di kaca hanyalah pantulan diriku yang tengah menatap sendu menikmati keheningan. Adzan isya baru saja selesai berkumandang, menandakan masih terlalu awal untuk mata ini terlelap dan menjemput mimpi. Dan lagi, menjadi tuna karya sepertiku memberikan peluang lebih untuk bisa menikmati tidur siang, jadi, tak ada alasan lain untuk pergi tidur sekarang, alih-alih otak dikepala memang tengah sibuk berputar.
.
.
.
Malam ini, adalah tepat bulan keempat aku resmi menyandang status baru sebagai seorang Istri. Status membanggakan yang untuk mencapainya diperlukan tak hanya tetes keringat tapi juga
tetesan darah. Bagaimana tidak, Ayahku tercinta meninggal dunia justru 40 hari tepat sebelum hari paling sakralku. Apa kiranya yang lebih meremukkan batin dan membuatnya hancur ketimbang paksaan untuk tersenyum lebar menjemput tamu kondangan disaat bayangan ayah terbujur kaku justru masih segar diingatan. Terlepas dari pontang-pantingnya mengurus finansial tentu saja. Tapi aku beruntung, disampingku, di sekelilingku berdiri manusia-manusia tangguh yang sanggup menyulap aroma duka menjadi gelak tawa.
Ibu adalah yang pertama, kendati beliaulah yang menangis paling lama dihari meninggalnya Ayah, tapi Ibu adalah jawaban terkuatku untuk bisa kembali menatap ke depan.
Ari, yang saat itu masih berstatus sebagai pacar. Keberadaannya adalah seperti nyala bohlam. Terang yang membuatku tetap membuka mata. Terang yang memicu secuil harapan muncul disaat sebuah ketakutan akan keyakinan bahwa hariku tidak akan lebih terang setelah kepergian Ayah. Dan ia membawa terang itu dengan binar penuh kehangatan.
Keluarga besar, yang tanpa tangan, kaki juga pemikiran mereka maka status "Istri" milikku pasti ribuan kali akan lebih berat untuk kusandang.
Dan terakhir, yang bahunya tak akan pernah dilupa. Para sahabat juga adik yang rela menyodorkan punggung tangan demi ikut menghapus duka.
.
.
.
.
.
.
Lelehan air jatuh dari retina. Perlahan. Tetes demi tetes.
Aku hari ini, tidak akan pernah hadir selengkap dan sebaik ini tanpa mereka. Nama-nama yang terlalu berharga untuk sekedar diucapi kata terimakasih. Pemahaman diri yang kupelajari jauh-jauh hari seperti terlepas begitu saja dari ingatan. Aku yang berdiri gagah menjulang tak akan pernah bisa meski hanya sekedar bernafas tanpa bantuan mereka. Lalu kenapa terkadang masih kubiarkan monster yang hidup didalamku memperlihatkan gigi juga menampakkan cakar ? Aku merasa buruk rupa. Maafkan aku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Rintik hujan kembali mengguyur tanah, menambah senyap dari gelap yang tak pernah bertuan.
Tuhan, aku sungguh merasakan betapa buruk rupanya diriku. Dengan segala daya menyajikan ego juga kekanakan pada mereka yang pernah hadir menyuapiku kehangatan.
.
Tuhan, untuk malam ini. Lepaskan aku untuk menapaki luasnya cakrawala aksara ini dan membagi secuil kehangatan pada salah satu nama berharga milikku. Ia, adik kecilku..yang lima hari lalu tengah berbahagia untuk keduapuluh tahun tepat hari kelahirannya. Ia yang pernah bergandengan tangan bersamaku menapaki masa-masa tak terlupakan. Ia yang punggung tangannya hadir disaat kepergian Ayah. Ia yang tengah dalam jalan menuju pendewasaan. Ia yang kuharapkan memiliki jiwa sekokoh mimpinya. Ia yang kuharapkan paham dengan segala tipu daya dunia fana. Ia yang kuharapkan sanggup belajar pada waktu, pada setiap perubahan yang menghampirinya. Ia yang kuharapkan juga sanggup belajar juga bertahan dari segala sakit, kecewa, dan kehancuran yang mungkin akan mendatanginya.
Ia yang kuharapkan mengerti tentang arus hidup yang kadang lucu, kadang membingungkan. Ia yang selalu kuharapkan kebahagian menyertai deru nafasnya. Sekalipun jika aku, sahabatnya, atau bahkan orang yang dicintainya tak sanggup lagi ada untuk bergandengan bersamanya. Ia yang selalu kuharapkan sanggup menemukan tempat berteduh bagi dirinya sendiri disaat aku atau siapapun tak ada disisi untuk memayunginya.
.
.
.
.
Dear adik kecil, mungkin engkau akan menemukan catatan ini dan mendengar semua harapanku atau mungkin juga tidak. Tak apa, tidak pernah ada harapan yang salah alamat, tidak pernah ada doa yang tak sampai selama kita merangkul Yang Kuasa sebagai perantaranya. Disini, semoga engkau menemukan kehangatan yang secara pribadi kubagi denganmu.
Dear adik kecil, jadilah semakin kuat sayang seiring dengan bertambah usiamu. Jadilah sesuatu yang baik sekalipun jika itu hanya engkau dan Tuhan yang tahu. Teruslah menjadi pribadi putih sekalipun dunia ini hitam, buas dan mengancam. Belajar dan terus belajar berteman dengan dirimu sendiri maka engkau tidak akan pernah kesepian. Semoga engkau paham.
Selamat malam. :-)
Senin, 16 November 2015
Otak Melata
Aku bukanlah orang baik lagi ketika mulai menyatakan diri bahwa aku adalah orang yang baik.
Aku berhenti menulis ketika mulai mendeklarasikan diri sebagai penulis.
Aku mulai kesepian seusai mencatat dengan teliti siapa saja nama teman-teman.
.
Ayahku pergi tepat ketika aku selesai berfikir bahwa aku merindukan sosok nyata seorang ayah.
Buku pertamaku tetaplah yang pertama dan hanya jadi yang pertama tepat ketika aku mulai berbangga diri bahwa aku memang bisa.
Sepi yang awalnya tercium samar keberadaannya, mulai menusuk tepat ketika aku mulai menunjukkan pada sebuah nama betapa beruntung karena aku memilikinya.
.
Hidup ini, tidak akan menjadi lebih aneh lagi jika aku bisa mengendalikan semuanya. Tidak akan menjadi lebih membingungkan lagi jika aku bisa berdamai dengan segalanya.
.
Kepalaku. Tidak mungkin hanya berisi cairan dan gumpalan-gumpalan zat yang tak kuketahui namanya. Aku percaya, disana terdapat seonggok nyawa. Aku percaya disana terdapat sebuah nama. Sesuatu yang mengatur dari pergerakan kaki hingga saluran darah. Tidak, bukan itu. Aku tau yang engkau semua maksudkan. Tapi maaf, aku adalah sesuatu anomali.
.
Disela ketidaksibukanku akan ketiadaan kegiatan yang harus kulakukan. Dengan tumpukan protein yang setiap hari kujejalkan. Tidak bisakah seorang aku mulai berfikir tentang adanya sesuatu yang janggal ? Atau mungkin mulai membedah dan mencari sendiri apa yang menjadi parasit dengan menumpang hidup seenak jidatnya didalam kepalaku ?
Aku mulai gila.
.
Sore ini, didalam skala kecil rumah. Dan bukan dalam alam pikiran. Aku mulai menggelisahkan sesuatu. Ibu. Sekian hari berkutat dalam atap dan atmosfir sama dengannya mulai membuatku berfikir. Ia. Kenapa perkataan seringnya (re; cerewetnya) selalu memusingkan kepala ? Tidak. Aku belajar sesuatu sekarang. Aku tidak ingin kehilangan ibuku untuk saat ini. Dan belum siap untuk saat kapanpun. Ya! Bom yang kuledakkan diawal paragraf adalah ketakutan terbesarku sekarang. Bom yang kuledakkan diawal paragraf adalah pelajaran yang harus kutelan cepat-cepat.
.
Bagaimana ini bisa terjadi. Aku. Seseorang ter-ndableg yang pernah kutahu, ternyata mulai menakutkan sesuatu yang bahkan belum terjadi. Bagaimana bisa ? Ataukah ini efek lelah karena jam tidur yang berlebihan ? Ataukah ini keresahan yang lama muncul namun tak izinkan muncul ke permukaan ?
Aku mencemaskan terlalu banyak hal.
Dari pemikiran wajar seperti, "bagaimana jika koneksi internet putus disaat aku meng-upload catatan ini?"
Sampai pemikiran yang terkadang kurang masuk akal, "bagaimana jika ternyata ular hidup didalam bantal yang kupakai?", "bagaimana jika ternyata aku ini bukan manusia utuh, tapi setengahnya berdarah cicak?"
.
Aku tau, aku harus mulai menekan pemikiran-pemikiran menyimpang milikku. Aku tau, aku harus mulai percaya bahwa aku manusia sepenuhnya dan bukan blasteran cicak melata. Aku harus mulai percaya bahwa aku tidak membunuh ayahku hanya karena aku pernah menginginkannya untuk hadir dalam format yang berbeda. Aku harus mulai percaya bahwa buku kedua, ketiga dan seterusnya akan hadir tepat pada waktunya. Aku harus percaya bahwa suami adalah teman terbaik dan mungkin tak seharusnya ku elukan ia kedalam paragraf panjang seperti aku mengelukan banyak temanku sebelumnya.
Aku akan mulai percaya bahwa sebenarnya aku bukanlah anomali atau sesuatu yang lain hanya karena sadar didalam kepala mungkin tumbuh nyawa.
.
.
Apa arti semua ini ? Bagaimana mungkin aku bertanya sebodoh ini ?
Kepalaku tidak menyimpan seonggok nyawa tentu saja. Tapi disana tersimpan juga ekor, taring, bahkan cakar milikku. Disana tersimpan keinginan juga hasrat terdasarku yakni keinginan untuk memanjat, merayap, melata. Mungkin juga, sesuatu yang selalu kukira ular didalam bantal pastilah itu aku yang tengah bertransformasi menjadi diriku yang lain.
Bagaimana bisa aku sejenius ini ! Meresahkan sesuatu hal yang bahkan tidak ada, lalu menuangkannya dalam sebuah cerita, lalu mempertanyakan sendiri apa kiranya keresahan yang tengah kuhadapi, lalu..lalu..wush ! Lagi-lagi aku menduga didalam kepalaku juga terdapat jemari, ia yang menjabarkan sendiri setiap keresahan dan mencocokkannya dengan jawaban.
Semua ini apa ? Apa yang kutakutkan ? Apa yang selalu menggigilkan tubuhku ? Gempa bumi ? Siapa dia ?
.
Shit ! Ini bukan jenius ! Aku tau nama yang lebih pas untuk mewadahi segala argumen ini. Mimbar ketinggian itu, mikrofon yang menggemakan itu, lampu yang menyorot dan menyilaukan itu. Semuanya tai cicak ? Jadi..panjang lebar aku menulis semua ini, hanya seperti ini tema keresahannya ?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Waktu ternyata adalah sejenis dinding. Serakus apa keinginanku untuk melihat semua sebelum saatnya. Hanya akan membuat telapak tangan dan kakiku halus tanpa kapalan. Semuanya akan datang seiring dengan luasnya dinding yang kujelajah. Semuanya akan datang seiring dengan waktu yang ditapaki.
Lalu kenapa pernah kuinginkan untuk bisa terbang ? Menjadi cicak itu jauh lebih menyenangkan. I swear ! ;-)
Aku berhenti menulis ketika mulai mendeklarasikan diri sebagai penulis.
Aku mulai kesepian seusai mencatat dengan teliti siapa saja nama teman-teman.
.
Ayahku pergi tepat ketika aku selesai berfikir bahwa aku merindukan sosok nyata seorang ayah.
Buku pertamaku tetaplah yang pertama dan hanya jadi yang pertama tepat ketika aku mulai berbangga diri bahwa aku memang bisa.
Sepi yang awalnya tercium samar keberadaannya, mulai menusuk tepat ketika aku mulai menunjukkan pada sebuah nama betapa beruntung karena aku memilikinya.
.
Hidup ini, tidak akan menjadi lebih aneh lagi jika aku bisa mengendalikan semuanya. Tidak akan menjadi lebih membingungkan lagi jika aku bisa berdamai dengan segalanya.
.
Kepalaku. Tidak mungkin hanya berisi cairan dan gumpalan-gumpalan zat yang tak kuketahui namanya. Aku percaya, disana terdapat seonggok nyawa. Aku percaya disana terdapat sebuah nama. Sesuatu yang mengatur dari pergerakan kaki hingga saluran darah. Tidak, bukan itu. Aku tau yang engkau semua maksudkan. Tapi maaf, aku adalah sesuatu anomali.
.
Disela ketidaksibukanku akan ketiadaan kegiatan yang harus kulakukan. Dengan tumpukan protein yang setiap hari kujejalkan. Tidak bisakah seorang aku mulai berfikir tentang adanya sesuatu yang janggal ? Atau mungkin mulai membedah dan mencari sendiri apa yang menjadi parasit dengan menumpang hidup seenak jidatnya didalam kepalaku ?
Aku mulai gila.
.
Sore ini, didalam skala kecil rumah. Dan bukan dalam alam pikiran. Aku mulai menggelisahkan sesuatu. Ibu. Sekian hari berkutat dalam atap dan atmosfir sama dengannya mulai membuatku berfikir. Ia. Kenapa perkataan seringnya (re; cerewetnya) selalu memusingkan kepala ? Tidak. Aku belajar sesuatu sekarang. Aku tidak ingin kehilangan ibuku untuk saat ini. Dan belum siap untuk saat kapanpun. Ya! Bom yang kuledakkan diawal paragraf adalah ketakutan terbesarku sekarang. Bom yang kuledakkan diawal paragraf adalah pelajaran yang harus kutelan cepat-cepat.
.
Bagaimana ini bisa terjadi. Aku. Seseorang ter-ndableg yang pernah kutahu, ternyata mulai menakutkan sesuatu yang bahkan belum terjadi. Bagaimana bisa ? Ataukah ini efek lelah karena jam tidur yang berlebihan ? Ataukah ini keresahan yang lama muncul namun tak izinkan muncul ke permukaan ?
Aku mencemaskan terlalu banyak hal.
Dari pemikiran wajar seperti, "bagaimana jika koneksi internet putus disaat aku meng-upload catatan ini?"
Sampai pemikiran yang terkadang kurang masuk akal, "bagaimana jika ternyata ular hidup didalam bantal yang kupakai?", "bagaimana jika ternyata aku ini bukan manusia utuh, tapi setengahnya berdarah cicak?"
.
Aku tau, aku harus mulai menekan pemikiran-pemikiran menyimpang milikku. Aku tau, aku harus mulai percaya bahwa aku manusia sepenuhnya dan bukan blasteran cicak melata. Aku harus mulai percaya bahwa aku tidak membunuh ayahku hanya karena aku pernah menginginkannya untuk hadir dalam format yang berbeda. Aku harus mulai percaya bahwa buku kedua, ketiga dan seterusnya akan hadir tepat pada waktunya. Aku harus percaya bahwa suami adalah teman terbaik dan mungkin tak seharusnya ku elukan ia kedalam paragraf panjang seperti aku mengelukan banyak temanku sebelumnya.
Aku akan mulai percaya bahwa sebenarnya aku bukanlah anomali atau sesuatu yang lain hanya karena sadar didalam kepala mungkin tumbuh nyawa.
.
.
Apa arti semua ini ? Bagaimana mungkin aku bertanya sebodoh ini ?
Kepalaku tidak menyimpan seonggok nyawa tentu saja. Tapi disana tersimpan juga ekor, taring, bahkan cakar milikku. Disana tersimpan keinginan juga hasrat terdasarku yakni keinginan untuk memanjat, merayap, melata. Mungkin juga, sesuatu yang selalu kukira ular didalam bantal pastilah itu aku yang tengah bertransformasi menjadi diriku yang lain.
Bagaimana bisa aku sejenius ini ! Meresahkan sesuatu hal yang bahkan tidak ada, lalu menuangkannya dalam sebuah cerita, lalu mempertanyakan sendiri apa kiranya keresahan yang tengah kuhadapi, lalu..lalu..wush ! Lagi-lagi aku menduga didalam kepalaku juga terdapat jemari, ia yang menjabarkan sendiri setiap keresahan dan mencocokkannya dengan jawaban.
Semua ini apa ? Apa yang kutakutkan ? Apa yang selalu menggigilkan tubuhku ? Gempa bumi ? Siapa dia ?
.
Shit ! Ini bukan jenius ! Aku tau nama yang lebih pas untuk mewadahi segala argumen ini. Mimbar ketinggian itu, mikrofon yang menggemakan itu, lampu yang menyorot dan menyilaukan itu. Semuanya tai cicak ? Jadi..panjang lebar aku menulis semua ini, hanya seperti ini tema keresahannya ?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Waktu ternyata adalah sejenis dinding. Serakus apa keinginanku untuk melihat semua sebelum saatnya. Hanya akan membuat telapak tangan dan kakiku halus tanpa kapalan. Semuanya akan datang seiring dengan luasnya dinding yang kujelajah. Semuanya akan datang seiring dengan waktu yang ditapaki.
Lalu kenapa pernah kuinginkan untuk bisa terbang ? Menjadi cicak itu jauh lebih menyenangkan. I swear ! ;-)
Selasa, 27 Oktober 2015
B . I
Besok, tepat 2 minggu saya resmi menyandang gelar pengangguran.
Sebelum ini, saya bekerja disebuah tempat dengan penghasilan yang bisa dikatakan tinggi jika dibandingkan dengan penghasilan rata-rata untuk jenis pekerjaan yang sama dikota saya.
4 tahun 1 bulan tepatnya saya mendedikasikan bukan hanya waktu, tenaga tapi juga hati saya. Ya, saya jatuh cinta dengan pekerjaan saya. Karena mungkin ini kali pertama bagi saya benar-benar tabah melewati tahap per tahap dunia keras manusia tua. Saya mulai bekerja di tempat itu ketika berumur 19 tahun. Saya mulai masuk, dikucilkan sebagai anak baru yang tidak memiliki teman. Berkenalan dengan rutinitas bangun pagi pulang petang. Berjabat tangan dengan aroma gedung beserta bau pekerjaan. Beradaptasi dengan dunia yang kelak menempatkanku pada kelas baru babak pendewasaan.
Ditempat itu, saya memiliki teman. Tidak banyak, hanya dalam hitungan jari saja. Saya memiliki satu atau mungkin dua nama yang kelak kuangkat mereka menjadi saudara. Tempat saya bekerja itu sangat keras. Harus diakui...ketidakadilan adalah hal yang wajar. Normal. Kesenioran juga diterapkan disana. Dan harus diakui..saya sempat depresi karenanya. Tapi saya bertahan. Tahap demi tahap, hari demi hari. Semua yang awalnya terasa sangat berat dan melelahkan perlahan mulai bisa kunikmati. Menikmati dengan jalan mengabaikan. Ah...akhirnya, tempat yang selalu kusebut sebagai neraka bisa juga menghadirkan suasana surga. Keadaan sama, tapi otak saya yang mendesain semuanya berbeda. Teriakan saya pandang sebagai sebuah lelucon. Disaat mereka para rekan kerja saya berlomba menunjukkan kecantikan, saya tetap bertahan dengan memandang mereka sebagai dagelan. Lelucon saja. Dan, disana saya juga memiliki beberapa sosok yang tidak saya sukai. Jika mayoritas penghuni gedung membenci pemimpin mereka yang terkadang menjengkelkan dengan berbagai macam aturan tak masuk akalnya. Saya, justru membenci orang yang terkadang lewat. Saya membenci mereka yang saya butuhkan. Saya membenci untuk alasan yang tak masuk akal juga. Sampai pernah, dalam hati saya berjanji..saya akan bisa bekerja mandiri tanpa bantuannya. Dan itu terbukti berhasil. Surga oh surga.
Dan tentang jatuh cinta. Ya, pekerjaan apalagi yang bisa membuat saya begitu takjub dalam menikmatinya selain ditempat itu. Terlebih, disana terdapat juga satu atau dua tempat untuk mencuci mata, saya tergoda, pada rekan kerja. Oh tidak. Ini bahaya!
Ketika semua sudut neraka berhasil saya taklukkan. Tibalah saya pada hari dimana saya memutuskan untuk keluar dan berhenti dari tempat itu. Hari itu sungguh pagi yang cerah. Tanpa pemberitahuan kepada siapapun, saya mengundurkan diri. Dengan alasan tak masuk akal dan jelas kebohongan belaka. Surat pengunduran diri ditangan. Saya sempat menangis. Rekan kerja saya juga menangis. Kenapa ! Surga ini..saudara saya..kenapa harus saya tinggalkan ?! Bisakah surat pengunduran diri ini saya robek dan buang saja lalu saya kembali bekerja ?
Tapi entah bisikan apa, satu demi satu tanda tangan saya dapatkan. Saya resmi dengan semangat.
Tempat parkir yang sehari-harinya bising, hari itu senyap. Saya tertawa linglung memikirkan keputusan yang hanya dirapatkan tidak kurang dari lima detik.
Saya mengundurkan diri dengan tenang.
Satu hari setelah pengunduran diri itu. Saya mulai kesana-kemari menyodorkan surat lamaran kerja. What the !
Dua hari, sepuluh hari. Pada akhirnya saya menyerah mencari jawaban kenapa saya mengundurkan diri saat itu. Bosan ? Iya pasti. Saya melewati masa emas pengangguran saya dengan kegiatan monoton. Bangun tidur, mandi (kadang), membersihkan rumah (kadang), makan (kadang), nonton tivi (pasti). Tuhan. Saya tidak akan menyesali keputusan saya. Lalu apa ?
Saya merindukan surga itu, pekerjaan saya, saudara2 saya, rekan berkelahi selama jam kerja saya. Ahh..saya tidak akan menyesalinya.
Saya memang termasuk orang yang keras. Orang lain memandang saya unik dan sebagainya. Entahlah.
Dan hari ini. Sepulang dari rutinitas mengitari pasar. Saya mulai merenung. Saya bukan lagi manusia yang sama. Ya...keputusan dua minggu lalu membebaskan saya. Setiap orang yang saya temui seakan menyayangkan keputusan saya untuk keluar dari tempat kerja. Tapi saya..secara pribadi..menginginkan ini. Memiliki waktu untuk memanjakan diri meski hanya dengan tidur sepanjang hari setelah sekian tahun waktu milik saya tergadaikan. Saya bebas. Saya bisa tersenyum. Saya bisa menyuapi batin saya dengan waktu yg bergizi. Sesuatu yang tak pernah saya lakukan sebelumnya. Dan saya masih yakin tidak memiliki penyesalan untuk keputusan dua minggu lalu. Batin saya, jiwa saya, saya yang berdiam didalam saya, mereka membutuhkan kehadiran saya. Dunia tidak akan pernah habis keinginan jika kita terus menurutinya. Dan saya rasa, tidak ada siapapun dan apapun yg dapat memperlakukan "saya" sebaik saya sendiri.
Dan hari ini. Saya memutuskan, tumpukan buah tomat dipasar lebih enak dipandang juga "mengenyangkan" ketimbang slip gaji. Kelegaan yg tak akan tergantikan. Sekian.
Sebelum ini, saya bekerja disebuah tempat dengan penghasilan yang bisa dikatakan tinggi jika dibandingkan dengan penghasilan rata-rata untuk jenis pekerjaan yang sama dikota saya.
4 tahun 1 bulan tepatnya saya mendedikasikan bukan hanya waktu, tenaga tapi juga hati saya. Ya, saya jatuh cinta dengan pekerjaan saya. Karena mungkin ini kali pertama bagi saya benar-benar tabah melewati tahap per tahap dunia keras manusia tua. Saya mulai bekerja di tempat itu ketika berumur 19 tahun. Saya mulai masuk, dikucilkan sebagai anak baru yang tidak memiliki teman. Berkenalan dengan rutinitas bangun pagi pulang petang. Berjabat tangan dengan aroma gedung beserta bau pekerjaan. Beradaptasi dengan dunia yang kelak menempatkanku pada kelas baru babak pendewasaan.
Ditempat itu, saya memiliki teman. Tidak banyak, hanya dalam hitungan jari saja. Saya memiliki satu atau mungkin dua nama yang kelak kuangkat mereka menjadi saudara. Tempat saya bekerja itu sangat keras. Harus diakui...ketidakadilan adalah hal yang wajar. Normal. Kesenioran juga diterapkan disana. Dan harus diakui..saya sempat depresi karenanya. Tapi saya bertahan. Tahap demi tahap, hari demi hari. Semua yang awalnya terasa sangat berat dan melelahkan perlahan mulai bisa kunikmati. Menikmati dengan jalan mengabaikan. Ah...akhirnya, tempat yang selalu kusebut sebagai neraka bisa juga menghadirkan suasana surga. Keadaan sama, tapi otak saya yang mendesain semuanya berbeda. Teriakan saya pandang sebagai sebuah lelucon. Disaat mereka para rekan kerja saya berlomba menunjukkan kecantikan, saya tetap bertahan dengan memandang mereka sebagai dagelan. Lelucon saja. Dan, disana saya juga memiliki beberapa sosok yang tidak saya sukai. Jika mayoritas penghuni gedung membenci pemimpin mereka yang terkadang menjengkelkan dengan berbagai macam aturan tak masuk akalnya. Saya, justru membenci orang yang terkadang lewat. Saya membenci mereka yang saya butuhkan. Saya membenci untuk alasan yang tak masuk akal juga. Sampai pernah, dalam hati saya berjanji..saya akan bisa bekerja mandiri tanpa bantuannya. Dan itu terbukti berhasil. Surga oh surga.
Dan tentang jatuh cinta. Ya, pekerjaan apalagi yang bisa membuat saya begitu takjub dalam menikmatinya selain ditempat itu. Terlebih, disana terdapat juga satu atau dua tempat untuk mencuci mata, saya tergoda, pada rekan kerja. Oh tidak. Ini bahaya!
Ketika semua sudut neraka berhasil saya taklukkan. Tibalah saya pada hari dimana saya memutuskan untuk keluar dan berhenti dari tempat itu. Hari itu sungguh pagi yang cerah. Tanpa pemberitahuan kepada siapapun, saya mengundurkan diri. Dengan alasan tak masuk akal dan jelas kebohongan belaka. Surat pengunduran diri ditangan. Saya sempat menangis. Rekan kerja saya juga menangis. Kenapa ! Surga ini..saudara saya..kenapa harus saya tinggalkan ?! Bisakah surat pengunduran diri ini saya robek dan buang saja lalu saya kembali bekerja ?
Tapi entah bisikan apa, satu demi satu tanda tangan saya dapatkan. Saya resmi dengan semangat.
Tempat parkir yang sehari-harinya bising, hari itu senyap. Saya tertawa linglung memikirkan keputusan yang hanya dirapatkan tidak kurang dari lima detik.
Saya mengundurkan diri dengan tenang.
Satu hari setelah pengunduran diri itu. Saya mulai kesana-kemari menyodorkan surat lamaran kerja. What the !
Dua hari, sepuluh hari. Pada akhirnya saya menyerah mencari jawaban kenapa saya mengundurkan diri saat itu. Bosan ? Iya pasti. Saya melewati masa emas pengangguran saya dengan kegiatan monoton. Bangun tidur, mandi (kadang), membersihkan rumah (kadang), makan (kadang), nonton tivi (pasti). Tuhan. Saya tidak akan menyesali keputusan saya. Lalu apa ?
Saya merindukan surga itu, pekerjaan saya, saudara2 saya, rekan berkelahi selama jam kerja saya. Ahh..saya tidak akan menyesalinya.
Saya memang termasuk orang yang keras. Orang lain memandang saya unik dan sebagainya. Entahlah.
Dan hari ini. Sepulang dari rutinitas mengitari pasar. Saya mulai merenung. Saya bukan lagi manusia yang sama. Ya...keputusan dua minggu lalu membebaskan saya. Setiap orang yang saya temui seakan menyayangkan keputusan saya untuk keluar dari tempat kerja. Tapi saya..secara pribadi..menginginkan ini. Memiliki waktu untuk memanjakan diri meski hanya dengan tidur sepanjang hari setelah sekian tahun waktu milik saya tergadaikan. Saya bebas. Saya bisa tersenyum. Saya bisa menyuapi batin saya dengan waktu yg bergizi. Sesuatu yang tak pernah saya lakukan sebelumnya. Dan saya masih yakin tidak memiliki penyesalan untuk keputusan dua minggu lalu. Batin saya, jiwa saya, saya yang berdiam didalam saya, mereka membutuhkan kehadiran saya. Dunia tidak akan pernah habis keinginan jika kita terus menurutinya. Dan saya rasa, tidak ada siapapun dan apapun yg dapat memperlakukan "saya" sebaik saya sendiri.
Dan hari ini. Saya memutuskan, tumpukan buah tomat dipasar lebih enak dipandang juga "mengenyangkan" ketimbang slip gaji. Kelegaan yg tak akan tergantikan. Sekian.
Rabu, 21 Oktober 2015
a.. B.. c.. d...
Hatiku yang malang, kembali tercabik oleh sebuah sapaan. Hatiku yang malang, kembali tergores oleh mata yang beririsan. Dan mata itu sekali lagi memberitahuku sebuah kejujuran. Dengan apa aku harus membencimu ?
Aku tau semua sudah harus berakhir. Bahkan awal dari cerita ini tak seharusnya ada. Tapi tawamu yang menyandera akal sehat, senyum sinismu yang perlahan menggariskan luka. Aku hanya bisa berdiri sendiri disini, memeluk hatiku yang malang.
Siang itu, adalah akhir bulan kelima saat engkau datang dengan raut kusutmu. Matamu bersahabat, tapi tidak dengan tutur ucapmu. Beruntung aku ada dengan segala keanomalianku. Sanggup membaca apa yang disuguhkan retina.
Hari bergulir dengan membawa pula cinta yang tertambat pada hati. Tidak! Senyum itu tak akan kubiarkan melelehkanku. Hidung yang menjulang itu tak akan kubiarkan menyaingi tinggi nalarku. Bahkan jemari kokohmu tak pernah lepas dari incaran mata musangku. Hatiku yang malang, jatuh pada tebing yang curam. Hatiku yang malang, melihat surga dari gelap jerujinya.
A.. B.. C.. D...
Sekali lagi anomali memberitahuku, bahwa hatimu sesungguhnya mulai memanggil. Mata yang memberitahuku kejujuran. Tak pernah aku seyakin ini sebelumnya. Engkau makhluk hebat...sanggup menahan rasa yang sedemikian besar hanya karena si keparat keadaan yang tak mengizinkan. Aku tau, keanomalianku menempati ruang kosongmu dengan teramat pas. Aku tau, keanomalianku menyandera akal juga hatimu dengan sigapnya. Tidak bisakah sekali saja bibirmu menggantikan matamu untuk menyampaikan kejujuran itu ?
Hatiku yang malang, melayang tak tertangkap diawan. Hatiku yang malang, terpikat oleh misteri yang tak pernah terpecahkan. Dan mata itu sekali lagi memberitahuku sebuah kejujuran. Dengan apa aku harus membencimu ?
Jalan tertutup salju didepanku kini. Dingin, putih sepanjang mata memandang. Dan hadirmu tetaplah misteri bagiku. Tak akan kuulangi perjudian yang dulu pernah membobol retina. Tak akan kuakui suasana hati bahwa aku juga mulai menginginkan. Sungguh rasa ini anomali seperti halnya aku. Mungkinkah hatimu tengah dalam masa menyembuhkan diri kini ? Setelah jarak yang terlihat sekarang ? Akankah hatimu juga merasa malang karena tetap kubiarkan semuanya sebagai misteri tunggal ? Yang aku tau..jalanku sekarang sungguh terasa membekukan dan aku tak tau bagaimana cara untuk mengungkapkan kerinduan.
Jemari kokoh itu, hidung yang menjulang itu, raut wajah yang menyimpan sesuatu. Hati yang masih menyimpan segudang tanya. Biarkan aku hidup dengan kepercayaan diri bahwa hatimu selalu memanggilku. Biarkan aku bernafas dengan keyakinan sendiri bahwa namamu selalu merindukan kehadiranku. Biarkan aku mendekap sendiri hatiku yang malang.
Rindu selalu lolos muncul ke permukaan. Lalu dengan apa harus kubahasakan ? Koma mati di ujung jalan, titik berhenti di persimpangan, bahkan spasi tak sudi menampakkan dirinya digaris start.
Hatiku yang malang. Mengais sendiri aksara yang berserakan. Demi sesuap rindu yang bisa tercerna oleh mata. Anomali kembali menyapa dalam rinai hujan sebelum petang. Aku menyiakan banyak musim hanya karena misterimu ? Mungkinkah ? Ini pasti bukanlah kesia-siaan karena disetiap keping namamu, terselip senyum bahagia milikku. Dan sekali lagi bayang matamu yang tengah menyampaikan kejujuran memanggil nalar dan mulai menyidangku. Harus dengan apa aku membencimu ?
Hatiku yang malang, tak akan kubiarkan engkau merasakan dingin menggigit ini. Hatiku yang malang, kudekap engkau degan semua kehangatan. Mari kembali menapaki jalanan kering ini. Mungkin diujung persimpangan sana akan kita temukan aksara untuk membahasakan kerinduan. Mungkin diujung persimpangan sana akan kita temukan belati demi membunuh rasa yang tak wajar. Tak akan kubiarkan dingin membunuhmu wahai hatiku yang malang. Melangkah sekali lagi dalam dekapanku. Karena aku tau, waktu tak pernah gagal memberikan sebuah jawaban tepatnya.
Misteri memanggil..misteri kembali menyapa. Hidung yang menjulang, jemari kokoh, bibir yang menyimpan pedang, mata yang menyajikan kejujuran. Anomaliku menamai mereka semua dengan cinta. Anomali merangkul semua itu dalam kasih tak sewajarnya. Dan yang aku percayai hanyalah hati yang terus melihat kejujuran diujung tombak matanya. Merobekku dan meninggalkannya dalam jalan penuh misteri miliknya.
Aku tau semua sudah harus berakhir. Bahkan awal dari cerita ini tak seharusnya ada. Tapi tawamu yang menyandera akal sehat, senyum sinismu yang perlahan menggariskan luka. Aku hanya bisa berdiri sendiri disini, memeluk hatiku yang malang.
Siang itu, adalah akhir bulan kelima saat engkau datang dengan raut kusutmu. Matamu bersahabat, tapi tidak dengan tutur ucapmu. Beruntung aku ada dengan segala keanomalianku. Sanggup membaca apa yang disuguhkan retina.
Hari bergulir dengan membawa pula cinta yang tertambat pada hati. Tidak! Senyum itu tak akan kubiarkan melelehkanku. Hidung yang menjulang itu tak akan kubiarkan menyaingi tinggi nalarku. Bahkan jemari kokohmu tak pernah lepas dari incaran mata musangku. Hatiku yang malang, jatuh pada tebing yang curam. Hatiku yang malang, melihat surga dari gelap jerujinya.
A.. B.. C.. D...
Sekali lagi anomali memberitahuku, bahwa hatimu sesungguhnya mulai memanggil. Mata yang memberitahuku kejujuran. Tak pernah aku seyakin ini sebelumnya. Engkau makhluk hebat...sanggup menahan rasa yang sedemikian besar hanya karena si keparat keadaan yang tak mengizinkan. Aku tau, keanomalianku menempati ruang kosongmu dengan teramat pas. Aku tau, keanomalianku menyandera akal juga hatimu dengan sigapnya. Tidak bisakah sekali saja bibirmu menggantikan matamu untuk menyampaikan kejujuran itu ?
Hatiku yang malang, melayang tak tertangkap diawan. Hatiku yang malang, terpikat oleh misteri yang tak pernah terpecahkan. Dan mata itu sekali lagi memberitahuku sebuah kejujuran. Dengan apa aku harus membencimu ?
Jalan tertutup salju didepanku kini. Dingin, putih sepanjang mata memandang. Dan hadirmu tetaplah misteri bagiku. Tak akan kuulangi perjudian yang dulu pernah membobol retina. Tak akan kuakui suasana hati bahwa aku juga mulai menginginkan. Sungguh rasa ini anomali seperti halnya aku. Mungkinkah hatimu tengah dalam masa menyembuhkan diri kini ? Setelah jarak yang terlihat sekarang ? Akankah hatimu juga merasa malang karena tetap kubiarkan semuanya sebagai misteri tunggal ? Yang aku tau..jalanku sekarang sungguh terasa membekukan dan aku tak tau bagaimana cara untuk mengungkapkan kerinduan.
Jemari kokoh itu, hidung yang menjulang itu, raut wajah yang menyimpan sesuatu. Hati yang masih menyimpan segudang tanya. Biarkan aku hidup dengan kepercayaan diri bahwa hatimu selalu memanggilku. Biarkan aku bernafas dengan keyakinan sendiri bahwa namamu selalu merindukan kehadiranku. Biarkan aku mendekap sendiri hatiku yang malang.
Rindu selalu lolos muncul ke permukaan. Lalu dengan apa harus kubahasakan ? Koma mati di ujung jalan, titik berhenti di persimpangan, bahkan spasi tak sudi menampakkan dirinya digaris start.
Hatiku yang malang. Mengais sendiri aksara yang berserakan. Demi sesuap rindu yang bisa tercerna oleh mata. Anomali kembali menyapa dalam rinai hujan sebelum petang. Aku menyiakan banyak musim hanya karena misterimu ? Mungkinkah ? Ini pasti bukanlah kesia-siaan karena disetiap keping namamu, terselip senyum bahagia milikku. Dan sekali lagi bayang matamu yang tengah menyampaikan kejujuran memanggil nalar dan mulai menyidangku. Harus dengan apa aku membencimu ?
Hatiku yang malang, tak akan kubiarkan engkau merasakan dingin menggigit ini. Hatiku yang malang, kudekap engkau degan semua kehangatan. Mari kembali menapaki jalanan kering ini. Mungkin diujung persimpangan sana akan kita temukan aksara untuk membahasakan kerinduan. Mungkin diujung persimpangan sana akan kita temukan belati demi membunuh rasa yang tak wajar. Tak akan kubiarkan dingin membunuhmu wahai hatiku yang malang. Melangkah sekali lagi dalam dekapanku. Karena aku tau, waktu tak pernah gagal memberikan sebuah jawaban tepatnya.
Misteri memanggil..misteri kembali menyapa. Hidung yang menjulang, jemari kokoh, bibir yang menyimpan pedang, mata yang menyajikan kejujuran. Anomaliku menamai mereka semua dengan cinta. Anomali merangkul semua itu dalam kasih tak sewajarnya. Dan yang aku percayai hanyalah hati yang terus melihat kejujuran diujung tombak matanya. Merobekku dan meninggalkannya dalam jalan penuh misteri miliknya.
Sabtu, 17 Oktober 2015
Oktober
Angin panas dipenghujung bulan oktober kian menambah bara yang tengah menyala disetiap ujung sel milikku. Bergejolak, menyemburkan ribuan tanya dan membungkam semua nafas terhela.
.
.
Bagiku, ini seperti rutinitas. Perasaan mencabik yang terus terulang dalam jangkauan waktu berdimensi. Saat dimana setiap jengkal raga terasa mengalir rakus bongkahan api menyala. Panas. Namun yang dibutuhkan bukan air. Pernahkah engkau merasakan detik-detik menegangkan itu ?
.
Aku adalah sejenis binatang hutan. Dan bulan oktober tidak pernah mau berramah tamah dengan keberadaanku seperti juga bulan lain di setiap musim panas. Ia akan membakarku dalam dahaga yang tak pernah keluar dari kabut gelapnya. Sisi misterius miliknya terus memutar roda dan memaksaku merasakan lagi saat-saat menyakitkan ketika darah hidup didalamku harus meletup karena suhu panasnya.
Aku membenci ini. Aku tak pernah menyukai panas terkhusus dibulan oktober ini. Semua yang semula tergenggam, tersadari dan terkontrol mendadak membegal diri dari roda putarnya. Tak ada yang sanggup terpahami karena memang semua terjadi apik didalam raga yang tak tercela.
Oh alam...sekiranya engkau sudi untuk mengetahui apa yang tengah terjadi.
Oh alam...sekiranya engkau mau mendengar apa yang tengah menikam ulu hati salah satu monster peliharaanmu.
.
Oktober berjalan dengan sangat lambat. Seakan ditiap langkahnya diselingi pula tari bahagia karena melihatku tersiksa.
Bukan. Bukan karena aku membenci bulan istimewa ini. Bukan pula karena panas yang dibawanya berkepanjangan ini. Aku membenci ketika ragaku harus menguap seiring meningginya matahari. Aku membenci karena ia terus menampakkan diri, sesuatu yang dalam penghujan menjelma bak kelinci lemah tak berdaya.
Oh alam...kenapa engkau terus diam.
Siapa dia yang tengah bersarang di dalamku. Siapakah dia yang terus membakar hingga persendianku. Sesuatu yang lainkah ? Atau diriku yang menghangus karena lama tak terjamah oleh alam ?
.
.
Bagiku, ini seperti rutinitas. Perasaan mencabik yang terus terulang dalam jangkauan waktu berdimensi. Saat dimana setiap jengkal raga terasa mengalir rakus bongkahan api menyala. Panas. Namun yang dibutuhkan bukan air. Pernahkah engkau merasakan detik-detik menegangkan itu ?
.
Aku adalah sejenis binatang hutan. Dan bulan oktober tidak pernah mau berramah tamah dengan keberadaanku seperti juga bulan lain di setiap musim panas. Ia akan membakarku dalam dahaga yang tak pernah keluar dari kabut gelapnya. Sisi misterius miliknya terus memutar roda dan memaksaku merasakan lagi saat-saat menyakitkan ketika darah hidup didalamku harus meletup karena suhu panasnya.
Aku membenci ini. Aku tak pernah menyukai panas terkhusus dibulan oktober ini. Semua yang semula tergenggam, tersadari dan terkontrol mendadak membegal diri dari roda putarnya. Tak ada yang sanggup terpahami karena memang semua terjadi apik didalam raga yang tak tercela.
Oh alam...sekiranya engkau sudi untuk mengetahui apa yang tengah terjadi.
Oh alam...sekiranya engkau mau mendengar apa yang tengah menikam ulu hati salah satu monster peliharaanmu.
.
Oktober berjalan dengan sangat lambat. Seakan ditiap langkahnya diselingi pula tari bahagia karena melihatku tersiksa.
Bukan. Bukan karena aku membenci bulan istimewa ini. Bukan pula karena panas yang dibawanya berkepanjangan ini. Aku membenci ketika ragaku harus menguap seiring meningginya matahari. Aku membenci karena ia terus menampakkan diri, sesuatu yang dalam penghujan menjelma bak kelinci lemah tak berdaya.
Oh alam...kenapa engkau terus diam.
Siapa dia yang tengah bersarang di dalamku. Siapakah dia yang terus membakar hingga persendianku. Sesuatu yang lainkah ? Atau diriku yang menghangus karena lama tak terjamah oleh alam ?
Minggu, 08 Maret 2015
Island
Aku menamainya Island, lautan luas yang pernah kuarungi kemarin lalu. Menyantapi setiap debur ombak dalam riak tak terhingga. Menyumpal juga mulut-mulut lapar manusia daratan dengan banyaknya eksotisme bawah laut. Hari ini aku kembali singgah, bukan untuk berlayar, bukan pula untuk menyendoki gulungan air yang tak pernah lelah berlari mengejar lepas. Hari ini aku singgah, dengan niatan memandang. Meresapi debur pantai dari bangku yang dulu sempat kesebut sebagai tempat singgah para pecundang. Bertahun menjadi penikmat lautan jujur lantas membuatku lupa bagaimana menjadi manusia daratan. Aku mungkin telah terdaftar dalam sejenis makhluk amfibi.
.
.
Dear engkau yang pernah menikmati surga bersamaku. Baik-baiklah untuk hari ini dan juga nanti. Detik setelah aku resmi memutuskan untuk berjalan didaratan adalah saat terberat. Aku linglung, aku lupa bagaimana cara berdiri tegak. Mataku asing menatap rimbunan pohon yang menancap kuat kedalam bumi. Tanganku kaku ketika harus mengais udara yang notabene tak dapat kugenggam. Aku ingin berenang, aku ingin kembali merasuk dalam celupan dunia melayang. Lautan.
Dear engkau yang harus ku ucapkan selamat tinggal. Bernafaslah lebih lama didunia ini. Kembali aku meminta juga, hiduplah baik dan lebih baik untuk hari ini dan nanti. Aku tau dalam keluasanmu itu, hadirku adalah hanya seperti ikan kecil saja. Ikan yang tak akan pernah bisa hidup tanpa airmu, itu yang selalu kukatakan dulu. Tapi hari itu lain..aku bukan ikan yang pastilah mati ketika harus 'mentas' kedaratan. Dengan langkah pasti ku yakinkan diri bahwa aku manusia.
Dear engkau yang harus kutitipi selarik kata perpisahan. Langit diatas sana teramat cerah membentuk banyak awan membubung indah. Mengagumkan bukan? Taukah engkau awan disana adalah buku harian tersembunyi milikku? Semenjak keberadaanmu perlahan menguap beserta dentingan nada dan suaramu. Kepadanyalah selalu keluapkan segala rasa. Ketika aku bahagia, aku menengadahkan muka menatap awan beriring sembari berucap terimakasih. Tersenyum. Ketika aku menangis, kudongakkan mata hanya agar air dipelupuk berhenti menetes turun. Ketika kecewa, aku akan berlama-lama menatapi air didanau tenang. Disana kutemukan awan yang terpantul dari bening airnya. Ketika putus asa, kembali kunyalakan sadar dan ingatan bahwa sinar mataharipun tak sepanjang hari ada berpijar. Adakalanya ia akan tergantikan oleh malam tapi gelap tak selamanya gulita, dihadirkanNYA bintang sebagai celah kecil agar aku tak hilang arah.
.
Dear engkau..paragrafku hari ini mungkin tak akan lagi berarti setelah kata selamat tinggal terucap, menjadikannya selaput tipis pemisah hubungan kita. Tapi aku tak ingin semua berakhir dalam bencana. Sekalipun tetap saja hadirmu tak akan sesempurna dulu pijarnya. Biarkan kealamian membimbing kita. Engkau yang tetap dalam luas tak tercakupmu. Sedang aku tetap dalam balutan mungil kerangka milikku.
.
Dear engkau..jujur saja aku merindukanmu. Teramat. Sungguh. Aku ingat bagaimana dulu ombak milikmu selalu sukses mendatangkan tawa bahagia. Aku ingat bagaimana dulu keluasanmu selalu sukses menaikkan hasrat untukku menjelajahi bahkan mendekap dan memilikimu. Aku rindu perjuangan itu. Memaki para pemaki. Menyumpal mulut-mulut menganga para pembenci. Menampar juga burung camar yang tak berhenti berkicau meledekku. Aku rindu deru halus suaramu.
.
Dear engkau, jika nanti aku harus kembali pulang dalam peraduanku. Jangan bersedih, akan ada esok dimana kesempatan mungkin datang bahwa aku akan kembali menengokmu. Termangu sendiri dibawah terik diatas bangku pecundang. Aku akan singgah kembali sekalipun mimpiku detik ini bukan lagi menaklukkan keluasanmu. Sekalipun hasratku kali ini sudah bukan lagi memilikimu. Sekalipun keberadaanmu bukan lagi prioritas dalam daftarku. Aku akan tetap singgah demi mengorek rindu yang mungkin terselip ditiap barisan-barisan judul nada yang engkau ciptakan. Tak ada yang bisa memahami ini. Tidak akan ada.
.
Dear engkau..hadirmu telah kuabadikan dalam seujud anak. Bukan lagi embro naskah ataupun sekedar angan. Hadir dan cinta yang pernah datang itu telah kusulap menjadi paragraf beku. Kelak jika aku merindukanmu lagi sedang kakiku tak sanggup melangkah menuju tepimu, akan kudekap ia erat. Akan kudekap cerita kita. Akan kudekap kenangan kita.
Dear engkau..hiduplah dengan baik dan lebih baik lagi. Perjuanganku sekarang tak sanggup lagi tertolong nada juga debur ombakmu. Perjuanganku sekarang membutuhkan lebih dari sekedar ingin dan rasa andai engkau tau.
.
Dear engkau, tak pernah kusangka kata akhir itu ada dan sanggup menghampiri. Tapi hari ini aku bahagia. Aku teramat bahagia. Karena itu, tetap hiduplah baik-baik dan bahagia bersama. Terimakasih masih menerimaku hari ini untuk singgah. :-)
.
.
PresentForSJ.Sunday.Mar.8.15
.
.
Dear engkau yang pernah menikmati surga bersamaku. Baik-baiklah untuk hari ini dan juga nanti. Detik setelah aku resmi memutuskan untuk berjalan didaratan adalah saat terberat. Aku linglung, aku lupa bagaimana cara berdiri tegak. Mataku asing menatap rimbunan pohon yang menancap kuat kedalam bumi. Tanganku kaku ketika harus mengais udara yang notabene tak dapat kugenggam. Aku ingin berenang, aku ingin kembali merasuk dalam celupan dunia melayang. Lautan.
Dear engkau yang harus ku ucapkan selamat tinggal. Bernafaslah lebih lama didunia ini. Kembali aku meminta juga, hiduplah baik dan lebih baik untuk hari ini dan nanti. Aku tau dalam keluasanmu itu, hadirku adalah hanya seperti ikan kecil saja. Ikan yang tak akan pernah bisa hidup tanpa airmu, itu yang selalu kukatakan dulu. Tapi hari itu lain..aku bukan ikan yang pastilah mati ketika harus 'mentas' kedaratan. Dengan langkah pasti ku yakinkan diri bahwa aku manusia.
Dear engkau yang harus kutitipi selarik kata perpisahan. Langit diatas sana teramat cerah membentuk banyak awan membubung indah. Mengagumkan bukan? Taukah engkau awan disana adalah buku harian tersembunyi milikku? Semenjak keberadaanmu perlahan menguap beserta dentingan nada dan suaramu. Kepadanyalah selalu keluapkan segala rasa. Ketika aku bahagia, aku menengadahkan muka menatap awan beriring sembari berucap terimakasih. Tersenyum. Ketika aku menangis, kudongakkan mata hanya agar air dipelupuk berhenti menetes turun. Ketika kecewa, aku akan berlama-lama menatapi air didanau tenang. Disana kutemukan awan yang terpantul dari bening airnya. Ketika putus asa, kembali kunyalakan sadar dan ingatan bahwa sinar mataharipun tak sepanjang hari ada berpijar. Adakalanya ia akan tergantikan oleh malam tapi gelap tak selamanya gulita, dihadirkanNYA bintang sebagai celah kecil agar aku tak hilang arah.
.
Dear engkau..paragrafku hari ini mungkin tak akan lagi berarti setelah kata selamat tinggal terucap, menjadikannya selaput tipis pemisah hubungan kita. Tapi aku tak ingin semua berakhir dalam bencana. Sekalipun tetap saja hadirmu tak akan sesempurna dulu pijarnya. Biarkan kealamian membimbing kita. Engkau yang tetap dalam luas tak tercakupmu. Sedang aku tetap dalam balutan mungil kerangka milikku.
.
Dear engkau..jujur saja aku merindukanmu. Teramat. Sungguh. Aku ingat bagaimana dulu ombak milikmu selalu sukses mendatangkan tawa bahagia. Aku ingat bagaimana dulu keluasanmu selalu sukses menaikkan hasrat untukku menjelajahi bahkan mendekap dan memilikimu. Aku rindu perjuangan itu. Memaki para pemaki. Menyumpal mulut-mulut menganga para pembenci. Menampar juga burung camar yang tak berhenti berkicau meledekku. Aku rindu deru halus suaramu.
.
Dear engkau, jika nanti aku harus kembali pulang dalam peraduanku. Jangan bersedih, akan ada esok dimana kesempatan mungkin datang bahwa aku akan kembali menengokmu. Termangu sendiri dibawah terik diatas bangku pecundang. Aku akan singgah kembali sekalipun mimpiku detik ini bukan lagi menaklukkan keluasanmu. Sekalipun hasratku kali ini sudah bukan lagi memilikimu. Sekalipun keberadaanmu bukan lagi prioritas dalam daftarku. Aku akan tetap singgah demi mengorek rindu yang mungkin terselip ditiap barisan-barisan judul nada yang engkau ciptakan. Tak ada yang bisa memahami ini. Tidak akan ada.
.
Dear engkau..hadirmu telah kuabadikan dalam seujud anak. Bukan lagi embro naskah ataupun sekedar angan. Hadir dan cinta yang pernah datang itu telah kusulap menjadi paragraf beku. Kelak jika aku merindukanmu lagi sedang kakiku tak sanggup melangkah menuju tepimu, akan kudekap ia erat. Akan kudekap cerita kita. Akan kudekap kenangan kita.
Dear engkau..hiduplah dengan baik dan lebih baik lagi. Perjuanganku sekarang tak sanggup lagi tertolong nada juga debur ombakmu. Perjuanganku sekarang membutuhkan lebih dari sekedar ingin dan rasa andai engkau tau.
.
Dear engkau, tak pernah kusangka kata akhir itu ada dan sanggup menghampiri. Tapi hari ini aku bahagia. Aku teramat bahagia. Karena itu, tetap hiduplah baik-baik dan bahagia bersama. Terimakasih masih menerimaku hari ini untuk singgah. :-)
.
.
PresentForSJ.Sunday.Mar.8.15
Langganan:
Postingan (Atom)