Selasa, 23 Februari 2016

Rumah Tanpa Ventilasi

Rumah. Penjelasan tentang kata satu itu seringnya membuatku linglung. Bukankah normalnya definisi rumah adalah sebuah bangunan, berpintu, berventilasi dan bermeja kursi ? Lain jika kaum pembahasa yang menjabarkan. Rumah bagi mereka adalah sesosok atau mungkin sebuah perkumpulan yang membuat nyaman. Dengan adanya kasih, cinta dan juga pembagian masa-masa sengsara. Sebuah kotak jika digaris besarkan.
.
.
Hari ini aku memasuki sebuah komunitas, salah satu dari si empunya menyodoriku formulir formil tentang identitas nyata. Dan yang sanggup aku berikan adalah data senyatanya. Memangnya di mana aku tinggal ? Menjadikan bumi sebagai jawaban sama anomalinya dengan bernafas ketika ada yang bertanya apa yang tengah aku lakukan. Dan aku tidak ingin meninggalkan kesan buruk pada hari pertamaku bergabung.
.
Dulu sekali, aku tidak tahu jika tempat ini kelak akan kunamai rumah. Karena jika aku tahu..mungkin peletakan batu pertama pembuatannya akan ku isi halaman perkenalan dengan kata-kata mempesona nan menghanyutkan. Sialnya yang justru terabadikan sebagai kalimat pembuka adalah kalimat-kalimat khas manusia setengah matang, yang kalau dibaca dalam keadaan setengah sadar pun akan langsung menimbulkan mual. Jika dulu aku tahu kalau kelak tempat ini akan kunaikkan jabat sebagai rumah, mungkin tepat di hari pembuatannya, akan kuadakan syukuran, pemotongan tumpeng dan mungkin tahlilan.
.
Rumah ini lahir dengan seada-adanya. Memang di landasi dengan adukan cinta, tapi pondasi cinta saja tidak akan cukup untuk memantapkan bangunan. Tahun pertama berdirinya, hanya di isi dengan tulisan masih khas isi kepala manusia setengah matang. Saat itu aku belum yakin benar untuk apa membuat sebuah bangunan, selain hanya untuk bergaya saja. Seiring berpindahnya hari, aku mulai merasa menemukan kehangatan, disaat aku terluka, masa-masa menggilai idola, saat dimana aku mulai jatuh cinta, lalu terluka dan tumbuh lagi. Tempat ini menampung segalanya. Tidak hanya merekam jejak antara dua umat saja. Tapi di setiap halaman menyimpan keresahan-keresahan yang sejujurnya tak lazim di pertontonkan di jalanan maya. Aku masih ingat, pernah menuliskan cerita tentang indahnya bercinta, mengagumi suami orang lain. Melukiskan tentang cicak telanjang di dalam kamar, atau tentang dedaunan yang mulai bersimphony ketika turun hujan. Aku menulis tentang apapun yang singgah di perjamuan retina. Dan selayaknya rumah, tempat inipun memiliki dapur, letaknya ada pada persimpangan jemari, hati dan juga gumpalan acak di dalam kepala. Dan alam adalah pasar yang menyediakan semuanya. Ketika bola mata ini berhasil membelanjakan fungsinya dan menemukan bahan, maka hati akan bergerak gesit memilah yang mana kiranya sajian alam yang patut di masak dan di hidangkan di meja makan. Alam begitu kaya, melalui udara aku sanggup menjadi pencerita, melalui celah diantara tanah mengering sanggup mengubahku menjadi pendongeng, melalui kabut yang hadir pada jam ayam berkokok saja sanggup memintalku menjadi pujangga beraroma dewa. Terlalu banyak bahan di sekitar, dan kematangan sajian tergantung pada si pengemban tugas selanjutnya. Gumpalan acak di dalam kepala, atau manusia normal biasa menyebutnya otak. Melalui gumpalan itulah nasib bahan-bahan tadi di olah sajikan. Tidak segampang itu tentu saja, karena ada si pengemban tugas lain yang belum terjabarkan. Yakni jari jemari. Aku selama ini percaya, menjadi penulis adalah tentang perpaduan kemampuan menyihir dan menyulap mantra. Ketika keduanya di gabung maka akan tercipta sebuah karya yang tidak hanya indah tapi juga mengenyangkan. Atau lebih sederhananya adalah, aku mengibaratkan ide menulis adalah sejenis makanan. Para jemari mungkin selalu siap menyomot makanan itu lalu menjejalkan ke dalam mulut. Tapi nyatanya, aku makan hanya jika, otak berhasil bernegoisasi dengan hati maka akan memerintahkan demikian. Karena aku lapar, berada dalam waktu yang memungkinkan maka aku makan. Sebuah karya yang mengenyangkan adalah hasil perpaduan banyak pengemban. Dan sialnya, dapur rumah ini hanya mengepul jika sang Maha koki datang menyapa. Tidak peduli waktu dan cuaca, tidak peduli jika tidak ada siapapun yang harus di suguhi makanan terbaiknya, karena nyatanya rumah ini terdedikasikan hanya untuk jiwaku. Aku dan judul-judul didalamnya adalah rekan karib yang saling memberi kenyamanan. Aku dan aksara-aksara di rumah ini adalah patner yang selalu siap menghabiskan dentang jam demi memburu sebuah kenikmatan. Tengok saja tahun-tahun awal halaman rumah ini, aku sendiri terkadang heran kenapa bisa menciptakan sebuah paragraf yang mengerikan. Benar-benar khas isi otak manusia setengah matang. Lalu siapa yang akan peduli ? Ini adalah rumahku. Yang memberikan kenyamanan juga menyajikan banyak kehangatan. Aku bukan penulis tenang saja, aku tidak memiliki kemampuan menyihir itu. Aku hanya sebuah nama yang empat tahun lalu tanpa sengaja membuat bangunan tanpa ventilasi dan pintu, lalu kemudian merasa nyaman dan mengangkat pangkat bangunan itu sebagai rumah.

Minggu, 21 Februari 2016

Kado di Penghujung Ramadhan

Jika suatu hari nanti seseorang bertanya dimana tempat yang memiliki kesan paling mendalam selama hidup, maka jawabanku adalah jembatan di ujung kota.
.
.
.
Sore ini adalah tepat empat hari terakhir di bulan ramadhan 2013. Aku dengan berwajahkan peluh khas orang baru pulang kerja. Mendarat di tempat yang engkau janjikan lebih awal, dan ketika aromamu mulai tertangkap indra penciuman aku tahu hari ini akan menjadi bersejarah dan tercatat dalam kenangan. Senyummu mengembang bak kue dengan takaran gula berlebihan, manis seperti biasanya. Desir kencang angin sungai menjelang petang tak bisa menyamarkan detakan keras salah satu organ tubuhku. Ini adalah untuk ketiga kalinya aku "berkencan buta" denganmu di tempat yang sama. Dan keseratus kalinya untukku menepi di sisi jembatan, melamunkan namamu dan tersenyum sendiri memahami adanya kebodohan. Mataku tidak bisa menyembunyikan apapun, termasuk ketika harus mengagumimu dan bersorak-sorai karena ajakanmu berbicara ringan di tepi jempatan. Dua "kencan buta" yang lalu adalah sebuah ketidaksengajaan, dan hari ini adalah istimewa. Senyum yang biasa kunikmati setelah mencuri dalam diam, pagi tadi menghampiriku, mengatakan bahwa ia perlu berbicara empat mata denganku. Tuhan, terimakasih cintaku telah tersampaikan hanya dengan tatapan.
.
Aku menjejakkan kaki kembali di badan jembatan ketika tanganmu menyodorkan untukku sebotol minuman dingin, saatnya mengakhiri rasa dahaga. Engkau diam, tidak seperti hari kemarin dan biasanya. Hening meresapi perpaduan sapuan sejuk angin sungai dan dinginnya air di tangan, hari ini bukan harimu berpuasa, sekalipun kau seharian tetap menahan diri untuk tidak makan di depan yang lain, tapi aku paham..matamu memberi tahuku bahwa engkau tengah menyembunyikan kebenaran.
"Apa yang terjadi.?" Itu adalah pertanyaan pertamaku sebelum puluhan tanya yang lain memberondong bak senapan yang meluapkan isi perutnya. Aku tahu, sesuatu tengah bergulat di otakmu. Sekali lagi matamu memberitahuku bahwa di dalam sana tengah terjadi bencana. Tuhan, "kencan buta"ku kali ini tidak akan baik-baik saja. Dan dari satu pertanyaan pertama yang terlontar dari mulutku, engkau berhasil memuntahkan segalanya. Menjelaskan kenapa petang ini aku harus sampai dirumah lebih malam, menjelaskan kenapa matamu harus meneteskan amunisinya, menjelaskan alasanmu selalu linglung menimbang takaran gula di dalam kukuman senyummu itu selama ini, mempertanyakan pula langkah yang harus kau ambil demi tetap bahagia. Dan aku dalam langkah kewalahan berusaha keras memegang erang tiang yang membujur di sepanjang badan jembatan, memastikan untuk tetap memijak daratan dan bukan membabi buta lari lalu menceburkan diri di sungai yang alirannya mulai tenang tersirep petang.
-
--
---
----
Getaran yang diakibatkan lalu-lalang kendaraan terasa semakin kencang..
-
--
---
----
Suaramu mengabur tergantikan oleh sealunan lembut musik pengiris hati yang datang entah dari penjuru mana, aku mengutuk kenapa tidak mengajakmu duduk santai dibawah jembatan agar jika sesuatu seperti ini terjadi suara alam akan sanggup menulikan hingga bisikan terdalam..
-
--
---
----
-----
Sekuat tanganku mencengkeram besi jembatan, sekuat itu pula aku menahan diri untuk tidak mengamuk dihadapanmu, lalu berkata bahwa tidak hanya mata, tapi hati dan sebagian darahku telah terracuni cinta dan siap untuk memahamimu..
.
.
.
Kencan pertamaku benaran membuat hatiku buta. Entah siapa disini yang tengah dalam posisi menghibur dan dihibur. Mataku dan matamu sama-sama sembab terlelehi air mata. Beruntung tak kuijinkan retina itu menangkap kesedihanku. Bibir bersenyum palsu ini berhasil menyembunyikan segalanya, hingga engkau tetap merasa nyaman memuntahkan semua isi hati. Ini adalah kali pertamaku melihat seorang keturunan Adam menangis, Lelaki cengeng!
.
.
.
"Aku mencintainya, lama sebelum kita berkenalan..",
"Haruskah aku memberanikan diri menemuinya.?",
"Kamu tahu apa warna kesukaannya.?",
.
.
.
"Ibuku menderita karena ayah..",
"Aku memikirkan adik-adik kecilku..",
"Bagaimana jika dia menerimaku dan kami menikah muda.?",
.
.
.
Semua pertanyaanmu bak lolongan serigala di pagi buta. Menembusi tak hanya kulit ari namun juga hingga sendi. Melebur bersama aliran darah bak setetes bahan peledak di sungai yang dangkal. Aku belum mempersiapkan diri untuk tenggelam, aku belum sesiap itu untuk berhenti menikmati sajian kue-kue kemanisan yang engkau hidangkan. Aku bahkan belum mempersiapkan diri untuk jatuh cinta. Kekaguman yang selama ini kubahasakan atas nama cinta pasti hanyalah sebatas obsesi saja. Karena nyatanya ketika kumasuki duniamu lebih dalam, belum siap bagiku dan kakiku terseok memahami misteri dari isi hati dan kepalamu. Matamu yang sebelumnya selalu kusangkakan menyampaikan rasa, ternyata tak lain adalah mata buta yang tak sanggup sekedar membaca.
.
.
Hari ini berakhir dengan begitu membekasnya. Dan jika suatu hari nanti seseorang bertanya dimana tempat paling berkesan selama hidup, jembatan di ujung kota adalah jawabannya.

Telepati Aksara

Surat yang tidak bisa dikatakan kecil ini adalah dedikasi penuhku untukmu yang tengah terlelap dalam damai. Bukan karena ini hari istimewa atau tanggal keramat, tapi karena beberapa waktu yang lalu sesuatu terus mengetuk tutup saji hatiku. Sesuatu berniat meloncat dan meledakkan diri disaat yang kuduga telah menyengat persendian. Aku ingin menyapamu lewat aksara dan bukan lewat doa, bukan karena aku tak lagi percaya pada kekuatannya, tapi karena aku paham..engkau akan terpuaskan dengan ketika aku mulai berbicara empat mata denganmu.
.
.
.
Dear engkau yang tengah menutup mata untuk jangka waktu selamanya. Apa kabar ? Indahkah rumah yang sekarang engkau tempati ? Ataukah tempat tinggal yang kau tinggalkan ini masih lebih bagus ketimbang milikmu yang sekarang ? Aku tahu, tak akan ada yang bisa mengalahkan kedamaian dari rumah barumu itu, sekalipun sesekali aku masih bisa merasakan kedatanganmu dimanapun sudut ruang, tapi ketentraman yang di sajikan di sana memang tak akan bisa tertandingi dimanapun sudut favoritmu.
Dear engkau yang sekarang tengah menikmati masa sebagai penonton abadi, selalu terkenyangkankah engkau di hunian barumu itu ? Dulu aku selalu bertanya-tanya sendiri, semenakjubkan apakah dunia yang tak akan pernah tersentuh dalam sadar itu ? Seindah apakah lingkungan yang kelak menjadi bangku terakhir segala umat ketika menjalani masa sebagai penonton bioskop akbar ? Dan pertanyaan yang tak pernah luput kuajukan padamu dulu adalah tak lain tentang makanan. Entah kenapa masa kecilku dipenuhi teror ingin tahu tentang isi dari tutup saji lain-lain rumah. Apakah setiap rumah akan menyajikan menu monoton di setiap harinya ? Atau justru berbeda judul setiap pagi, siang dan malamnya ? Aku selalu penasaran apa yang mereka sajikan untukmu dan yang disajikan oleh mereka-mereka lainnya.
.
.
.
Untuk kesekian ratus hari setelah kepergianmu, aku ingin benar-benar menyapamu secara pribadi. Tidak ada air yang akan jatuh dari retina hari ini, karena yang aku inginkan sungguh hanya menyapamu dengan kondisi dunia kita ini masih sama, dan lewat aksaralah keinginanku akan menjadi nyata. Melalui surat ini, engkau wajib tahu tentang keadaanku juga mereka yang menangis di hari kepergianmu. Maaf karena semenjak hari itu, hanya sekali aku datang ke rumah megahmu. Bukan karena tak sudi untuk menginjakkan kaki disana, tapi memang bola mataku tak pernah sesiap itu untuk membiasakan diri mengetahui bahwa engkau telah melebur bersama gundukan tanah. Ari menjagaku seperti yang pernah kau pesankan kepadanya. Sejauh ini aku masih belum menemukan tanda-tanda ia akan menyerah menghadapi sifat kekanakan yang terpenjara di dalam raga tuaku. Sejauh ini aku masih percaya diri bahwa Ari adalah nama yang tepat untuk dititipi putri kesayanganmu.
Engkau pun wajib tahu tentang satu ini, bahwa hingga hari dimana aku menata aksara ini, aku masih melihat duka yang memayungi redupnya, yang kau kasihi. Namamu selalu disebut oleh si kecil yang entah kapan akan terpahamkan bahwa engkau telah pergi menuju alam tak terjamah. Namamu selalu diharapkan pulang oleh si kecil yang seringnya mengundang lara pada goresan didalam hati yang hampir tertutupi. Engkau tak pernah terrindukan hingga kemudian kata ikhlas harus merajai semua tanya. Engkau tak pernah memenuhi bayang hingga kemudian bayang hitam dibalik ragamu pergi dan tak pernah kembali.
.
.
.
Aku tidak ingin menyertakan air mata di pertemuan kita kali ini, aku tahu engkau akan membaca surat ini. Membalasnya dengan menebarkan aroma damai disetiap sudut ruang. Tentangmu tak akan pernah semudah itu hilang. Tentangmu tak akan segampang itu terhapuskan. Tapi pemberitahuanku kali ini bahwa engkau harus menikmati jatah menontonmu dalam damai, dengan secara perlahan menghapus segala kekhawatiran untuk semua yang kau tinggalkan. Aku telah tumbuh dengan segala harap dan doa yang pernah kau panjatkan. Sebutir dua butir noda yang pernah kulakukan, anggap saja itu pantas untuk ditukar dengan kekecewaan yang sempat melandai hampir seluruh aku. Engkau paham benar seberapa marahnya aku ketika harus mendengar kata perpisahan darimu justru lewat deru tangis yang menyayat. Engkau paham benar seberapa sayangnya aku kepadamu sekalipun hal itu tak pernah tersampaikan secara gamblang. Aku telah tumbuh sekarang, Ari menjagaku dengan sangat tepat, bukan hanya aku tapi juga menjaga mereka yang engkau sayang. Keluarga kecil kita tak pernah bertambah jumlah karena kepergianmu terisi oleh yang datang. Tapi keberadaanmu tak akan pernah tergantikan. Hanya sekali saja aku memiliki dan itu adalah engkau. Aku tahu senyummu akan mengembang bahkan sebelum kumpulan aksara ini di terbitkan. Senyummu akan mengembang bersamaan kelegaanku yang tersampaikan. Duduklah dengan manis di bangku abadimu, jika engkau sempat bertemu dengan nama yang mendahuluimu lama, dengan nama yang dulu sangat memanjakanku sebagai cucu kesayangannya. Tolong sampaikan peluk ciumku untuknya. Selamat petang.

Selasa, 16 Februari 2016

Wasiat Kepagian

Jalanan di kebun tak pernah bertanya, layakkah ia menjadi setapak yang di lewati oleh kebanyakan manula tua dengan beban di pundak, entah itu memikul hasil kebun atau menggendong hasil jarahan alam. Yang setapak kecil itu tahu, ia akan melicin ketika musim penghujan tiba. Ia akan menjadi sangat mengancam dan memberi bahaya bagi siapapun empunya kaki yang tak berhati-hati menapaki, terburu pun terkadang bisa menjebloskan.
.
Pasir di pinggiran laut tak pernah bertanya, indahkah ia menjadi backgroud bagi siapapun pelancong yang datang dan tertawa bahagia terciprat debur air asinnya. Pantai tak pernah bertanya, bersihkah ia untuk di jadikan alas duduk bagi berapapun bongkah manusia yang tengah mencoba mengguyur isi otak dengan segarnya angin laut. Yang ia tahu, kombinasi antara sinar matahari dan semilirnya udara menjadikan alasan tepat untuk menahan banyak nyawa dan menggelapkan kulit raga mereka.
.
.
Alam tak pernah sekritis itu untuk mempertanyakan kelayakannya ketika di manfatkan manusia.
Seperti alam, aku juga selalu manut pada apa yang telah di gariskan. Aku hanya berfikir aku memiliki tugas untuk menjadi sadar akankah langkahku membahayakan bagi sekitar, atau justru tatapanku menyehatkan bagi siapapun yang sempat bertabrakan pandang.
.

Dan hari ini, aku ingin menjadi sesuatu yang lain. Aku ingin mencoba mengkhawatirkan dan bukannya sekedar menjadi sadar. Jika nama Einsten terkenang menjadi si ahli rupa-rupa angka, akan dikenang sebagai apakah aku ketika nanti ternyata harus tiada ? Jika selama ini Ari selalu berkata bahwa dirinya bahagia, akan terus baik-baik sajakah ia ketika ternyata nanti aku harus membumi mendahului nalar dan sadarnya ? Di hariku yang ingin mencoba menjadi sesuatu yang lain, aku memikirkan banyak tentang perpisahan. Marahkah Alfa karena keindahan dunia yang sempat kuceritakan padanya batal untuk kuperlihatkan ? Marahkah pengandungku sebelumnya, jika ternyata aku tak sempat menimbunkan tanah di atas kerangka kosongnya dikarenakan aku telah dulu dan telah lama menjadi penghuni alam tiada ? Selayak itukah aku menerima banyak cinta selama ini ketika pada akhirny kata jika itu menjadi nyata ? Aku memikirkan tentang banyak perpisahan, dan semakin aku di serap putaran pikirnya, semakin besar pula keinginanku untuk memeluk kata selamanya. Mendekapnya erat dengan harap ia akan merasuk dan menyatu dalam raga yang terus melapuk seiring perpindahan jarum jam.
Jika saat itu datang, di mana aku benar-benar melambaikan kata perpisahan, aku hanya berharap Ari akan menemukan jalan menuju rumah yang selama ini terus ku sembunyikan. Rumah yang menjadi saksi aku tumbuh sebesar dan sekuat hari ini. Aku berharap Ari berhasil menemukan setapak ini, yang disetiap judul dan paragrafnya tersimpan banyak luka, duka, dan senyuman yang tak pernah kuperlihatkan padanya sebelumnya. Aku harap Ari sanggup menyeberangi betapapun berlikunya jalan menuju kejujuran yang ku sembunyikan. Rumah ini menumbuhkan nalarku dengan tepat, tak pernah aku menemukan kenyamanan seperti yang pernah dihadirkannya sekian tahun terakhir ini. Di rumah ini segala nada sumbang dan ketidaksempurnaan dari sebuah melodi hidup tersimpan. Kebanyakan dari mereka menjelma menjadi rangkaian kata-kata yang selamanya hanya akan menjadi tanda tanya. Kebanyakan dari mereka terlumuri irisan hati yang tak pernah terhidangkan bagi siapapun tamu. Tidak pula tersajikan kepada Ari yang notabene adalah penghuni nyawa ini. Dan Ari dengan mahfumnya memahami kenapa selalu lapar dengan berbagai pertanyaan. Ia selalu berkata jika aku tak pernah mau berbagi duka dengannya, tanpa tahu jika duka itu akan menjadi luka penyayat hatinya jika sampai tersampaikan padanya. Apapun bahasa yang menjadi jembatan, tetap saja pedang adalah pedang yang memiliki tajam di sepanjang jilatannya. Aku selalu mengira Ari akan terpahamkan hanya dengan menelan air mata, tapi air tak memiliki suku kata dan juga koma. Ari terlalu bodoh untuk pelajaran menangkap dan meraba. Tapi aku mengagumi ketahanannya mencerna segala tanya dalam keadaan lapar. Aku mengagumi ketahanannya menahan lapar.
.
Hari ini, saat dimana aku merasa telah berubah menjadi sesuatu yang lain, menjadi sesuatu yang lebih kritis dan bukan hanya sekedar sadar, dan ternyata aku salah. Aku masihlah si nama yang manut pada garis dan alam. Aku masihlah si nama yang tak pernah bisa mengkhawatirkan. Tentang sebuah judul bernama perpisahan yang sempat ku pertanyakan diawal paragraf, ia telah kehilangan daya dan kekuatannya untuk mencekam. Seperti alam yang tersadar bahwa dirinya akan melicin dimusim penghujan, seperti itulah aku menerima bahwa tak perlu ada yang dicemaskan tentang sebuah perpisahan. Melalui rumah ini, semoga Ari dan pengandungku sebelumnya tersadar. Bahwa jika nanti aku harus membumi, aku pergi dengan segala kerelaan. Dengan segala kesadaran dan bukan ketakutan. Sekalipun tetap, aku menyimpan satu bekal yang tak pernah kulahap hingga kemudian membasi dan lenyap dengan sendirinya, yakni sebuah kata selamanya.

Senin, 15 Februari 2016

Penyihir Beramunisi Bumbu Dapur

2013
.
.
Hari itu, aku berjalan lambat menyusuri deretan toko disalah satu sudut kota, mataku nyalang memandang warna-warna celupan manusia. Gaun dengan renda menjuntai bersanding dengan terusan panjang yang halus kainnya bisa terlihat dari jarak jauh sekalipun. Merah jingga, kuning matang, krem menyala. Semua terpasang apik ditubuh-tubuh manekin yang meliuk genit dibalik etalase.

"Esok ketika hari istimewa itu datang, aku akan membawa pulang salah satu dari mereka. Aku akan terlihat cantik dalam balutannya. Dan aku akan tersenyum bahagia.."

Dengan bersiul santai kembali kakiku terhenti didepan kaca penjualan. Kali ini warna-warni celupan alam yang menyambutku dalam ujud dedauanan dan bunga. Krisan, lily, anggrek dan yang paling mendominasi adalah si cantik mawar. Aku tersenyum lama disana, hanya memandangi mereka satu demi satu untuk kemudian melanjutkan perjalanan pulang. Sesampainya dikamar, segera ku buka pintu lemari. Dari dalamnya kuambil satu pot sedang bunga mawar palsu berwarna campuran hitam dan putih. Satu-satunya bunga yang pernah kumiliki, sekalipun hanya rangkain bunga dari kain flanel, siapa yang peduli ?
Hitam dan putih. Aku secara khusus menyukai kedua warna itu.

.
.
.
2015,
.
.
.
.
Dua wanita paruh baya dalam terusan mencolok merah darah dan hijau daun menyekapku di dalam kamar. Di atas ranjang semua amunisi yang tertata rapi dalam dua besar ransel warna perak mulai dikeluarkan. Hanya sedikit barang yang bisa kukenali, maklum saja..rekor terbaikku dalam memoles wajah hanya sebatas pemakaian bedak bayi saja. Kadang dengan aroma mawar, kadang pula bunga chamomile tergantung diskon toko saat pembelian. Detik selanjutnya, dalam keadaan mata terpejam yang berhasil kubaui bukanlah si mawar ataupun si chamomile. Hari paling bahagiaku diawali dengan polesan dipipi beraroma serbuk kayu campur dedak. Dengan pasrah aku membiarkan tangan dua wanita paruh baya memoleskan segala amunisi yang disimpannya ke atas wajahku. Setelah serbuk kayu bercampur dedak, aku mencium lagi aroma buku tua yang ditepuk-tepukkan di sepanjang garis indra penciumku. Entah seperti apa hasilnya nanti, aku benar-benar pasrah. Entah aroma apalagi yang berhasil kutangkap, yang pasti eksekusi terakhir dari semua penyiksaan yang mereka sebut riasan adalah tergantungnya benda berat di pelupuk mata atas. Aku benaran harus berusaha ekstra hanya untuk membuka mata. Dan ketika seseorang dari mereka menyodorkan sebuah cermin, saat itulah aku benar-benar terpana. Bagaimana bisa serbuk kayu bercampur dedak bisa membuatku terlihat begitu berbeda ? Ya berbeda, bukan cantik. Hidung tomat kebanggaanku beralih wujud menjadi sesuatu yang teronggok diwajah dengan arsiran hitam di sepanjang garisnya. Aroma buku tua yang berhasil kutangkap tadi ku prediksikan adalah arang wajan yang sengaja di torehkan demi memberikan efek hidung tegas dan bukannya melebar. Sekilas aku melihat sekeliling, dimana mereka menyembunyikan wajan penuh arang itu ?
Dengan bibir berpulas warna darah pucat yang justru tidak tergaris tepat sesuai bentuk, alhasil, bibirku yang pada dasarnya sudah dower terlihat lebih bervolume lagi. Dari balik jendela, saudara sepupuku mengulum senyum melihat riasan menorku. Kurang ajar! Dihari paling bahagiaku, aku justru disiksa dengan dijadikan badut oleh dua wanita paruh baya yang dibayar calon suamiku! Dan mereka-mereka dengan tawa jenaka terkulum yang mengintip dari balik jendela justru harus sekongkol dengan si penata rias dengan berkata aku cantik ? Badut mana yang sempat dipuji cantik sebelum tampil didepan khalayak dan ditertawakan bersama-sama ? Aku hanya bisa mencengkeram lengan kebayaku yang kepanjangan sembari merutuki kesialan untuk kemudian dituntun keluar ke tengah medan perang.
.
.
.
.
Dalam hari paling bahagiaku, aku mengenakan terusan batik dengan atasan putih berkerlip. Bukan si merah jingga, kuning matang atau justru si krem menyala yang kemarin dulu terpajang di etalase pinggir jalan. Tidak ada bunga krisan, lily apalagi mawar ditangan. Yang tergenggam justru adalah butiran bumbu masak bernama merica yang terbungkus plastik bening. Salah satu dari dua wanita paruh baya yang mengubahku menjadi badut dadakan tadi yang menyelipkan bungkusan merica di tangan. Setelah sebelumnya mulut bergincu merah darah itu berkomat-kamit mendoakan aku dan calon suamiku. Aku tidak pernah tahu sebelumnya jika ternyata menikah adalah sebuah ritual sakral, yang membutuhkan perkombinasian antara bumbu dapur, serbuk kayu, dedak dan tak lupa si arang wajan.
.
Baru setelah Ibuku menjelaskan, aku tahu bahwa di hari paling bahagiaku, aku tak membutuhkan buket bunga cantik di tangan, melainkan bumbu dapur dalam genggaman yang akan membuatku kuat selama di medan perang. Dan ketika ijab kobul di ucapkan. Saat itulah aku mengerti, dua wanita paruh baya tadi mengerti benar seberapa ganas medan perang yang tengah ku masuki. Sekeras aku meremukkan bungkusan bumbu dapur ditangan, sekeras itu pula aku menekan kantong mata agar tak menjatuhkan airnya.

Minggu, 14 Februari 2016

Musim yang Lain

Hari pertama salju turun musim lalu adalah saat dimana kisah menakjubkan ini di mulai. Udara sekitar begitu dingin. Membekukan. Dan senyummu datang membawa kehangatan. Mata kecoklatan dengan binar mengundang. Rahang besar membingkai wajahmu dengan sedemikian lembutnya, aku tidak tahu apa ramuan yang di campurkan dalam menciptakan keajaiban itu. Begitu menawan, dan aku tersihir oleh mata coklatmu seketika.
Dunia senyap. Yang tertangkap indra pendengar hanyalah deguban di dalam dada yang berlari dengan tak sewajarnya. Jantungku. Dingin ternyata membawa pengaruh buruk juga bagi kesehatan terlebih bagi mereka yang tengah jatuh cinta.
.
Tidak ada cinta yang datang terlalu awal. Karena bahkan salju pertama yang turun di musim lalupun merestui dua medan untuk berdekatan. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutmu dan juga aku. Hari itu matalah yang lebih banyak berbicara. Misteri yang terkumpul disana dengan sendirinya mencair dan terganti dengan pancaran hangat. Bola kecoklatan itu menyihirku terlalu banyak. Dalam sekejap kumantrai diri dengan keyakinan bahwa aku telah menemukan rumah untuk hatiku.
.
Derap begitu ketara dari jantung yang tengah bersiaga menanti letupan-letupan cinta meledak di depan mata. Terlalu cepat untuk ukuran cuaca yang setiap detiknya membawa naik tingkat kebekuannya. Sesuatu telah terjadi. Aku mendapati butiran salju yang terjatuh tak lain bak permen dalam berbagai rasa. Langit ternyata juga menyimpan salju berbagai warna untuk kemudian disiramkan kepada para insan yang tengah jatuh tergelincir pekatnya cinta. Nyatakah ini atau memang aku yang tengah membuta ?
.
Sebuah janji bergulir manis dari bibir yang tetap hangat meski di kepung cuaca beku. Aku yang sebelum ini selalu meningkatkan pengamanan ekstra agar alpa dari jatuh di lubang yang mereka sebut surga. Aku yang sebelum ini selalu memasang tanda bahaya pada mata yang mulai menggoda, pada bibir yang mulai menyapa. Tanpa aba-aba membiarkan kaki ini telanjang menikmati licinnya lantai dan justru bahagia ketika akhirnya terjatuh dalam kepekatan yang engkau taburkan. Melihatmu begitu anggun termakan kumpulan salju benar-benar membuatku berubah nalar. Aku merelakan hatiku di gerus mata kecoklatan itu. Aku merelakan kisah indah tentang kesendirianku mendapati masa tamatnya. Aku merelakan diri di lumat mantra yang terus mengalir melalui belah bibirmu.
.
Aku tahu telah menemukan rumah bagi hatiku. Akan kutingkatkan lagi pengamanan yang dulu sempat kulepas, bukan untuk menjadi benteng bagi mata yang mulai menyapa dan menggoda. Tapi pengamanan kali ini akan menjadi tameng bagi dua medan yang tengah merekatkan diri dan terjatuh pada genangan pekat bernama cinta. Aku akan menjadi perisai. Untuk setiap nafas, setiap perpaduan derap jantung. Untuk setiap jam yang mendatangi lalu pergi. Engkau tidak pernah tahu berapa lama waktu yang kulahap hanya demi menanti diri terjebak pada saat-saat seperti ini. Lalu aku akan mencintaimu untuk seribu tahun lagi.
.
Sekarang aku tahu bagaimana cara menjadi jatuh tanpa harus tercederai. Sekarang aku tahu betapa nyamannya menemukan rumah di tengah dinginnya serbuan salju. Sekarang aku tahu betapa pentingnya menyimpan bara di tengah hati yang membeku. Dan matamu tak pernah lupa menyuguhkan kehangatan yang terus kucari. Dan aroma dari hitam kemerahan rambutmu tak pernah lupa mengantarku pada lelap yang terus ingin kujejak. Aku tahu aku telah menemukan rumah bagi hatiku. Lalu aku akan mencintaimu untuk seribu tahun lagi.
.
Langkah kaki mendekat. Musim lain datang bergantian. Melihatmu selalu pasrah di makan penutup saji yang di kirimkan setiap musim membuatku kian tergelincir dalam kedalaman yang menganga. Ini adalah sebuah kisah tentang rasa yang begitu mengagumkan. Inti adalah sebuah kisah tentang genangan yang begitu membahagiakan. Mantra-mantra berterbangan merobeki udara. Sihir terkuat adalah ia yang akhirnya berhasil mempertemukan dua jemari dalam satu genggaman. Sihir terkuat adalah ia yang akhirnya berhasil mempertemukan dua bibir dalam satu rasa lebur yang mendebarkan.
.
Aku tidak sehalus itu untuk bisa menggambarkan kecakapanmu, untuk melukiskan ketampananmu. Aku tidak selihai itu untuk bisa menuliskan betapa hebat sihir yang menetes dari bola kecoklatan milikmu, aku tidak selihai itu untuk bisa menunjukkan betapa hebat mantra yang melukisi tiap ujung kata dari bibirmu hingga berhasil menyemai banyak cinta.
.
Salju pertama yang turun musim lalu menjadi awal bagi kisah yang begitu menakjubkan. Saat dimana aku menyadari bahwa hatiku telah menemukan rumahnya. Pada mata kecoklatan yang begitu mengundang. Pada bibir halus yang menyimpan mantra. Lalu aku akan mencintaimu pada seribu tahun yang akan datang.

Jumat, 12 Februari 2016

Kuncup Bunga Abadi

Petang melumatku dalam ketakutan tak sewajarnya. Gelap membawa khayal mengembara jauh menembusi segala ruang.
.
.
.
.
.
.
Kuncup bunga meregangkan sel uratnya demi membiarkan sepucuk embun suci menyentuh lembut hatinya. Aku bukan lagi manusia sama semenjak kuncup bunga yang tertanam didalam raga mulai menunjukkan hasrat memekarkan helai indahnya. Senandung-senandung halus menyentuhi setiap lubang pori. Ragaku menerima dengan baik kedatangan si tamu agung yang sejatinya telah lama mendiami sepertiga ruang. Tamu agung yang kehadirannya tak pernah ditetapkan kapan waktu dan masanya. Tamu agung yang sanggup menundukkan segala rasa demi kenyamanannya menyinggahi singgasana.
.
.
Senandung lembut membelai ujung helai rambut, menyiraminya dengan kilauan khas nan membara. Senandung lembut mengecupi setiap inchi nadi, menggemburkan lagi asa-asa yang pernah terlahap hangus api-api ciptaan bumi. Kuhirup dalam dan semakin dalam aroma kuncup bunga yang baru saja meregangkan sel hidupnya. Menyerap segala energi yang dikandugnya, menjadikannya sumur abadi yang tak akan pernah mengering hingga nafasku terhimpit waktu. Helai demi helai kelopak bungaku menyemai banyak bara. Bukan lagi sebatas harapan atau rasa. Tingkatan yang disuguhkan bunga mekar baruku melebihi segala daya yang selama ini terus melumat jiwa manusiaku. Helai demi helai lambaian bungaku akan mengantarku pada sebuah kedigdayaan rasa. Aku bernafas, tetap bernafas meski ternyata nanti genangan air didepan sana sanggup kupijak tanpaku harus menjadi basah. Aku hidup, tetap hidup meski ternyata nanti tanganku sanggup menggenggam udara yang selama ini hanya hadir bak hantu yang hadir tanpa mengenal waktu. Kabut tak akan lagi menyeramkan. Gelap tak akan lagi datang dalam ujud yang mencekik dan menakutkan. Petang bukanlah lagi satu-satunya yang harus kuhindari dan kukuatirkan. Karena di dalam sana, di dalam raga yang selamanya tak bisa tersentuh tangan, telah tumbuh sesuatu yang harus terus kujaga kesegaran kulit arinya. Karena di dalam sana, sebuah hati telah menampakkan diri dengan gagahnya, menyemburkan ribuan cahaya, meletupkan ratusan asa. Ada sesuatu di dalam diriku yang harus terus kujaga keberadaannya. Ia hidup, ia bernafas, ia menyirami nyawaku dengan partikel-partikel cadangan kehidupan. Sesuatu yang kutakutkan sekarang bukan lagi tentang gelap, pekat, atau kabut yang tak tergenggam. Sesuatu yang kutakutkan sekarang adalah tentang keutuhan bunga abadi milikku. Tentang kemurnian kelopak-kelopak cantiknya. Tentang kesucian gumpalan hatinya. Tentang runcingnya cakar dunia yang sanggup menembusi kulit ari. Tentang kerelaanku untuk lebur demi menjaga siraman sinarnya terjaga dan tak tercemari udara bumi.
.
.
.
.
Aku yang selama hidupku bernafas dengan bertamengkan kepongahan. Berbaju lapis kesombongan dan bersarung tangankan keegoisan. Aku yang selama hidup tak pernah percaya pada adanya kata selamanya, tak pernah percaya pada adanya kata percaya. Malam ini runtuh dalam pengharapan dan permohonan. Kuncup bunga yang sekian tahun membatu dan tak menunjukkan adanya kehidupan mulai membukakanku mata. Kuncup bunga yang sekian tahun kupercayai mati malam ini menjungkirbalikkan segala fakta. Bunga itu sanggup mekar. Bunga itu sanggup menunjukkan keindahan dari kesuciannya. Hati yang kurasa telah membusuk ternyata masih tersimpan aman di dalam rumahnya. Menunggu waktu yang tepat, menunggu malam ini untuk akhirnya terbuka dan menunjukkan kekuatannya. Siraman emas hangat yang terus melumuri daging. Siraman murni hasrat yang menceburkan diri bersama gulungan-gulungan sel darah. Aku tau malam ini aku bukanlah manusia yang lagi sama. Aku mulai percaya pada kata percaya. Dan yang terpahit dari semuanya adalah, aku mulai percaya pada kata selamanya.
.
.
.
.
Kuncup bunga yang licik. Membodohiku dengan terus membuatku merasa yakin bahwa akulah satu-satuny makhluk menjijikan dibumi ini. Kuncup bunga yang manis. Dalam kecermatannya memilih saat yang tepat untuk membuka diri disaat aku telah berhasil mengenali siapa yang tengah singgah di ragaku ini. Monster itu tewas. Monster itu terlahap sinar hangat yang muncul perlahan seiring meregangnya kelopak bunga didalam raga. Dan jika ternyata dagingku telah terinfeksi cakarnya, maka aku akan berlatih memaafkan diri.
.
.
.
.
.
.
.
.
Gelap mulai menunjukkan kuasanya. Bukan lagi dalam format takut nan mencekam, tapi gelap datang membawa kabar menggembirakan. Ia ingin mengistirahatkan mesin ragaku yang mulai berdebu dimakan pengharapan.
.
Dan melalui mekarnya kuncup bunga di dalam raga, aku mulai menginginkan kata selamanya. Lalu melewati cahayanya kelopak bunga pembungkus hati, aku mulai menginginkan rasa nikmatnya terlelap dalam mimpi. Dan jika ternyata ada bagian dari daging di dalam raga yang terinfeksi cakaran monster peliharaanku, maka saat itu aku akan mulai berlatih keras untuk memaafkan diri.