Selasa, 17 Mei 2016

Duka Tanah

Tanah berduka untuk ketidakberdayaan mengangkat mendung yang menaungi seekor cacing dipelukannya.
.
.
.
.
Kata siapa menjadi tempat bernaung adalah sebuah beban ? Tanah menjawab keraguan itu dengan tanpa berpikir lagi, karena memang ia telah membuktikannya. Bagi seluruh penghuni rimba disepucuk daratan nan terasing ini, tanah adalah ibu merangkap ayah yang tak hanya mengemban seberapapun menjulangnya dahan, sekaligus juga menjadi bank bagi pasokan makanan dan minuman mereka. Pohon-pohon dengan lingkar badan mencapai hingga lima pelukan manusia dewasa, sampai jamur dan lumut yang kadang tak tersadari keberadaannya, mereka menjadikan tanah sebagai pembimbing bagi setiap permasalahan rimba yang ada. Untukku tak terkecuali, aku adalah seekor kupu-kupu, saat itu usiaku tergolong muda jika dibandingkan makhluk rimba yang lain. Terlahir dari kepompong yang menggelantung didahan pohon besar ditengah lebatnya rimba, tak lantas menjadikanku kupu-kupu istimewa. Aku tahu, sebagian besar teman-temanku melewati masa kepompongnya dengan bergulung manis dipucuk daun pisang, tumbuh dewasa dengan sayap-sayap cantik berwarna cerah menantang matahari, sedangkan aku..sayapku tak lebih indah dari kulit pohon tua yang mengelupas, belum lagi corak abstrak yang dipilih pencipta menjadikanku kian merasa buruk rupa. Berhari-hari setelah masa lahirku sempurna, yang terus ku lakukan hanyalah diam menempel di atas rerumputan, aku tak sepede teman-temanku berkeliling hutan, warna dan corak sayapku terlalu mencolok untuk tidak ditertawakan. Berdiam adalah cara terbaik untuk mengutuki diri, membiarkan pepohonan riuh bergosip tentang gagak yang pongah, mengacuhkan pula sekumpulan jamur yang tak henti-henti berbisik sembari sesekali melempar tawa ngeri, entah apa yang mereka bicarakan. Aku hanya ingin diam dan menghilang. Terlahirkan hanya memberiku beban, mungkin selamanya menggelantung dalam kepompong lalu mengering dan mati akan lebih baik ketimbang harus melihat alam raya beserta isinya. Saat itu sungguh aku masih terlalu muda agar bisa memiliki rasa percaya untuk sekedar menegakkan kepala. Dan dalam hening yang tak ku sangka-sangka, ternyata tanah mendengarkan tangisanku. Selama ini aku selalu berpikir bahwa semua penghuni alam raya terlalu sibuk dengan kehidupan masing-masing. Terlebih untuk menggubris kupu-kupu muda yang tengah bermasalah dengan kepercayaan dirinya. Tapi tanah mengerti, melalui tetes air mata yang jatuh membasahi badannyalah ia mulai meraba dan membaca. Ia memanggilku adik kecil. Tak disangka, daratan yang hampir selalu menjadi pijakan bagi siapapun kaki, daratan yang hampir selalu bersembunyi dibalik terangnya hijau lumut itu adalah dewa. Bagaimana tidak, setiap ucapannya seperti dibubuhi mantra, setiap wejangannya selalu menggenapi apa yang selama ini kucari. Jawaban itu ada dibawah sana, terkubur dibawah licinnya gerombolan lumut dan sekawanan jamur. Ternyata benar desas-desus yang beredar selama ini, jika hanya ibu lah yang sanggup menjadi pendengar dan juga sumber kekuatan. Ibu itu engkau, tanah. Ibu yang merangkap sebagai ayah dan juga kawan. Ia tetap memanggilku adik kecil, bahkan hingga hari ini, saat dimana aku telah bermutasi dari kupu-kupu lemah menjadi si mental baja yang berhasil mengitari lebih dari separo badan rimba. Dan yang menyenangkan dari semuanya adalah, ketika pada akhirnya aku sadar bahwa aku tak pernah sendirian. Badan tanah membujur seluas rimba. Kemanapun dan setinggi apapun aku mengepakkan sayap, maka tanah selalu ada, siap sedia dibawah sana, seakan membayangi langkahku. Alam raya ini tak semengerikan yang dulu kubayangkan. Ketika pagi hari aku membuka mata, maka aroma tanahlah yang kuciumi hingga sesak paru-paru. Ia yang dengan keluasan hatinya sanggup rela menjadikan dirinya pijakan, tempat bersarang, bahkan tempat buang kotoran para binatang. Aku tidak kaget jika hampir seluruh penghuni alam raya mengagungkan keberadaannya. Namanya menggemakan kedamaian dan kesadaran.
.
.
.
Aku terlalu memuja tanah, begitu yang selalu para burung cicitkan setiap kali mendengarku berdongeng untuk kupu-kupu kecil. Mereka tidak sepenuhnya salah, karena memang, bagiku keberadaan tanah sangat berharga. Terkadang aku bahkan sudi menangis jika banjir mulai datang dan meluruh permukaannya. Ia selalu bersedih ketika air sekitar mulai meluap. Ia takut menghilang dan penghuni alam akan kehilangan pijakannya. Sedihnya adalah duka bagiku, termasuk rasa kepada seekor cacing istimewa. Sudah menjadi rahasia umum jika tanah memiliki adik kesayangan, seekor cacing tanah buta. Kepadaku duka itu pernah terbagi, bagaimana ia akan sudi mempertaruhkan apapun demi secercah cahaya bagi si cacing adiknya, bagaimana ia bercita-cita tinggi demi sanggup ada hingga adiknya itu tiada, dan yang terus bisa dilakukannya hanyalah mempersembahkan pelukan teraman dan juga doa. Tanah kebanggaanku menyimpan lara. Duka berkepanjangan yang kuduga mendasari adanya jawaban dari pertanyaan, kenapa ia bisa menjadi pribadi yang sebegitu rela.

Sabtu, 14 Mei 2016

Isi Lambung Basi

Namaku Tanah. Bukan nama samaran. Umurku setara dengan perjalanan hidup pohon jati berdahan lima. Bukan pula dahan yang akan patah ketika dipanjati kaki tupai, tapi lima dahan yang tetap kokoh menampung berat pijakan kaki-kaki orang dewasa. Makanan kesukaanku bukanlah mereka yang tersaji cantik berkat ramuan dan racikan. Dapur adalah salah satu ruang ajaib yang kubenci di dunia ini. Aku menolak apapun bentuk kepura-puraan, dan menurutku manusia zaman batu lebih memiliki nilai seni ketimbang manusia zaman robot dalam hal makanan. Tomat yang tergantung didahan, apel yang ditumpangi ular, sawi yang sebagian tubuhnya terkubur pupuk kotoran hewan, terung yang meliuk manja diantara kerubutan lompatan ayam, mereka semua tampak jauh lebih menawan dan menggiurkan ketimbang ketika sudah tersaji dalam piring-piring dengan bentuk beraneka ragam. Aku membenci kepura-puraan sama halnya ketika aku terkadang menolak untuk menyukai saat ini. Tidak, aku tidak membenci adanya kehidupan, aku hanya tidak bisa menyukai garis dan batasan yang manusia terapkan. Upacara kematian, upacara memperingati hari sakral, upacara menjelang kelahiran, dan yang terkonyol dari semuanya adalah ketika manusia dengan berbagai upaya mengadakan apa yang sebenarnya tiada. Tidakkah itu terasa memberatkan ? Aku tidak sedang mengoreksi apa yang leluhurku mulaikan. Mereka pasti memiliki nilai mulia ketika pertama kali menggagas semua hal yang tengah kukuliti ini. Perputaran waktu dan kemajuan pola manusia lah yang membuat tujuan mulia itu tertumpangi keserakahan dan berubah menjadi sebuah pemberatan. Aku meragukan masih adanya keikhlasan didunia yang sekarang ini. Aku meragukan masih adanya kemurnian didunia yang kian mengabu-abu ini. Dan disaat ular tak lagi sudi hinggap di licinnya kulit apel, disaat humus kotoran hewan tak lagi mampu menembusi tulang-tulang tanaman, disaat alam pun mulai ditaburi berbagai kepura-puraan. Hijaunya ladang sekarang bukan lah karena rapatnya dedaunan bergandengan tangan. Tapi hijaunya ladang sekarang adalah berkat atau justru akibat lihainya tangan-tangan memulas tanah gersang dengan crayon mainan. Lalu kemanakah makhluk sepertiku harus merapat sekarang ? Bumi ini sudah tak lagi aman. Bumi ini sudah tak lagi menyenangkan. Pisau-pisau dari dapur yang tak pernah berhenti mengepulkan asap berkeliaran menebangi alam. Panci-pancinya bertugas diruangan dan mematangkan semua bahan. Menyulapnya menjadi ramuan dengan beraneka rupa nama.
.
.
.
Terlepas dari segala kepura-puraan yang menyebari seluruh lantai bumi, aku masih bisa berbangga untuk keprimitifan yang terus kupegang. Mereka menyebutku manusia tak tahu aturan, manusia aneh, manusia butuh hiburan. Aku tidak merasa bahwa aku setragis itu. Hanya karena aku memilih untuk tetap nyaman berkubang dalam prinsip-prinsip lawas sedangkan mereka mengikuti perkembangan zaman.
Dan jika memungkinkan. Aku ingin melebur total menjadi anomali yang berserakan diantara batu kali. Tidak lagi terikat oleh adat ataupun dijerat oleh aturan. Norma bagiku adalah lelucon, batasan yang diciptakan oleh manusia demi bisa mengungguli manusia lain. Mereka ditantang untuk berlomba, barang siapa berhasil mengumpulkan poin terbanyak dalam menaati aturan, maka ia lah yang pantas untuk diagungkan. Aku membenci batasan. Aku membenci garis kasat mata yang tak hanya melingkupi tapi juga menjerat pernafasan. Manusia bukankah tidak serta merta diboyong ke dunia ini dengan segala ketololan ?
.
.
Apa yang sebenarnya tengah aku tulis ini ? Sampahkah ? Keresahan yang mana yang sebenarnya ingin kubeberkan kepada kalian. Bersusah payah aku berjalan mendaki waktu hingga zaman batu, sementara aku adalah hasil ciptaan hari ini, atau sebelumnya pernah terlahir sesuatu yang menyerupai aku ? Siapakah dia ? Pernahkah ia mempertanyakan jawaban akan keresahan yang tengah ku korek hari ini ? Pernahkah makhluk lain bertanya ? Minimal, pertanyaan kenapa mereka ada ? Tak perlu jauh-jauh merisaukan adat dan norma yang bagi pendahuluku telah melebur hingga isi sumsum, tak perlu pula jauh-jauh membongkari gundukan sampah yang dimata mereka telah menjelma bak hunian bintang lima. Andai kalian tahu, aku hanya sedang muak. Ingin muntah menghabiskan tak hanya isi lambung tapi juga memerahnya hingga titik terkering. Semua ini..PUEH! Pahit. Siapa sebenarnya yang tengah membajak jiwa normalku pagi ini ? SIAPA ! Dunia ini neraka. Surga hanyalah kentut yang hadir selewat saja lalu pergi tanpa permisi. Andai aku bisa dengan total mendedikasikan diri dan diterima saja menjadi si anomali. Melompati adat, mematahkan norma, memberaki aturan..anggap saja itu normal. Oh samsara.

Kamis, 05 Mei 2016

Sekuali Racikan Hujan

Ari. Satu suku kata. Hidup. Dan berdenyut.
.
.
.
Petang itu langit membayangi dengan payung kelabunya. Menyirami tanah kelahiran dengan aroma tanah menusuk khas bebauan yang menguar di hujan pertama. Aku tidak pernah menyukai hujan sebelumnya, hingga kemudian mereka datang. Kumpulan rintik yang perlahan membanjur genteng mengerontang hingga meluapkan semua cita dalam ujud rintik besar-besaran. Petang itu tanah beserta para penghuni perutnya berpesta. Hujan yang sekian lama didamba akhirnya menyapa. Dahaga yang sekian waktu harus tercukupkan dengan panjatan mantra mendadak terluapi. Dan Ari datang selaksa hujan. Menggenapi keping yang terserak dalam misteri bernama kelahiran. Ari datang sesejuk hujan. Melunturkan semua jenis mantra, menyirami dan menggantinya dengan cinta. Seperti juga para penghuni perut bumi yang bersuka cita menyambut kedatangan hujan pertamanya, seperti itulah juga euforia yang selaras hadir membekapku dalam menjelang kehadirannya.
.
Tidak ada yang akan bisa terpahamkan hanya dengan kata-kata mungkin. Karena memang, sejuk hanya bisa terungkap jika bersinggungan sendiri dengan pori. Dan hatiku tengah dalam masa mekarnya. Retak yang diakibatkan oleh musim kemarau sebelumnya, kerontang yang menguasai hampir seluruh jati diri. Dan tetes perdana Ari seketika menggenapi hingga tanpa sadar memuaikan apa yang sempat kuanggap itu sebagai hal yang mustahal. Kebahagiaan tak pernah dengan mudahnya tertuang dalam paragraf. Ari tidak hanya sekedar ini. Karena ia hidup. Dan berdenyut. Memompakan kekuatan dan juga mencairkan kebekuan. Pernahkah melihat api meleleh ? Aku adalah sejenis bara, dengan segala dayaku yang sanggup tak hanya membakar namun meluluh lantahkan dalam kekal. Dan tetesan itu adalah Ari. Ariku.
.
Hujan pertama datang dengan begitu mengejutkannya. Menjadikan dirinya salam pembuka yang pas bagi hujan kedua dan hujan selanjutnya. Sebagian kudengar mereka mulai mengeluhkan datangnya hujan, yang mulai mampir tanpa aba-aba, yang mulai menyalami map-map, baju dan tas mereka. Dan hujan ternyata tak hanya menyiramiku dengan kesejukkan air yang dibawanya, tapi ia juga mengajariku pelajaran berharga. Bahagia bisa pula menjelma bak rintik gerimis dikala matahari tengah berada dalam puncaknya. Turun seketika lalu menghilang begitu saja. Aku harus memerah otak monsterku. Mengolah sekuali cinta yang disuguhkan Ari dan memasaknya dalam tungku penuh bara. Agar kebahagiaan ini tidak hanya tersaji dalam hitungan jari, agar puncak dari kesejukan ini bisa dinikmati tak hanya dalam sekejap mata. Aku ingin mengukuhkannya selama mungkin, sepanjang mungkin.
.
Ari mungkin tak mengerti, bahwa aku tidak pernah terkesima pada keindahan warna-warni pelangi. Aku tak pernah benar-benar terpukau pada keajaiban yang disajikan oleh hujan sekejap mata. Aku lebih menyukai rintik hujan yang telaten membasahi, menggenapinya dengan membubuhkan beberapa imaji pada sesi-sesi melamun sembari menikmatinya. Aku ingin mengolah seberapa kecilpun bahan yang disuguhkan Ari. Dalam dapur agung milikku, dimana keajaiban yang lebih menyilaukan ketimbang pelangi diharapkan sanggup terhidang dimeja saji sebelum akhirnya diantara kami mati. Aku ingin meresapi, membumbui kepolosan cinta Ari dan sekali lagi meramunya dalam kuali diatas bara api. Aku tidak sanggup lagi mendustai apa yang terus menerus menjadi layangan di kepalaku. Aku mencium aroma kekekalan disetiap nafas yang di hembuskan Ari, aku mengendus adanya keabadian dari binar-binar matanya. Entah apa nanti yang terjadi jika hujan berhenti menyirami, entah apa nanti yang akan terjadi jika Ari mati. Aku tengah berkubang didataran penuh bahagia, bukan puncak karena memang tak pernah kuinginkan adanya jurang. Aku tengah berkubang didataran yang keluasannya terus kuperbesar. Satu rintik, dua rintik, jika hujan nanti mulai lelah mengairi, jika nanti Ari mulai menginginkan berhenti. Maka sekuali besar racikan kuharap sanggup menjadi pelepas dahaga. Sekuali besar racikan kuharap sanggup menjadi tongkat yang mengucurkan mantra pelekat. Agar hujan senantiasa rindu untuk kembali, agar Ari tak pernah memiliki secuilpun niat untuk berhenti.
.
.
.
Petang tidak pernah datang sendirian, bisa dipastikan ia selalu hadir membawa secuil remang. Menguliti setiap debur pekat dan menjadikannya pelajaran bagi yang sanggup dan menginginkan. Termasuk langit berpayung kelabu petang itu, yang mengajarkan dan menawariku sesuatu yang baru. Sekuali besar racikan. Lebih dari sekedar secangkir kopi panas yang menyenangkan, tapi ia justru mengenyangkan. Dalam pelajaran-pelajaran yang sebelumnya tak pernah terpikir akan menjadi sesuatu, terlebih menjadi sajian. Otak monsterku berputar secepat derasnya tetes hujan. Mengolah resah dan menjadikannya segulung adonan. Agar hujan senantiasa rindu untuk datang. Agar Ari selalu tahu kemana dirinya harus pulang.

Jumat, 15 April 2016

Ini Tentang Kita

Aku tidak pernah menjadi apa-apa dan siapa-siapa.
.
.

Mereka menempati setiap keping waktu dengan begitu pasnya. Aku, denganku putaran jam hanya berlalu lantas menjadi abu. Tanpa menyisakan sedikitpun bara. Sementara mereka mengekal, telah mengekal. Mendiami begitu banyak tempat yang akan terus membayang. Cakrawalaku tak seindah ketika belum kupunguti onggok-onggok mayat di rumahmu itu. Harusnya kau bakar saja mereka, harusnya kau tidak terburu-buru amnesia, harusnya kau mengingat dimana saja celah ruang yang pernah kau jadikan arena untuk bercinta. Agar kekekalan itu tidak ada. Agar ketika aku berkunjung ke rumahmu tak lagi kutemui remah-remah pecahan kaca. Andai kau tau, amnesiamu membuatku terluka. Engkau sungguh tak sepintar itu untuk membangun sebuah samsara. Sementara aku, aku tidak pernah seberuntung itu untuk mendapatkan sekedar sebuah pengakuan, karena sesungguhnya aku tidak pernah menjadi apa-apa dan siapa-siapa.
.
Aku adalah sebatang pohon di pekarangan. Tumbuh rimbun, kenyang terpaan sinar. Namun bunga mawarmu membuatku tak bisa bernafas bebas, yang bisa terus kulakukan adalah menjulang dan terus menjulang. Menghilang dari pandangan hingga engkau tak sadar bahwa aku ada menaungimu dari terik dan hujan. Aku tak seberuntung itu untuk bisa terlahir tumbuh secantik mawar yang pernah engkau banggakan. Aku tidak seberuntung itu untuk sekedar mendapat pengakuan.
.
.
.
Aku terlahir sebagai awan. Menggantung manis di tengah jalan menuju tangga kekekalan. Aku menikmati damai dan empuknya hunian. Tapi lagi-lagi, sesuatu menghambat pernafasan. Peri kecilmu yang bersembunyi malu di ujung pintu langit meledekku. Menyadarkan bahwa aku bukan apa-apa dan siapa-siapa. Lagi-lagi aku tak seberuntung itu untuk bisa tercipta sebagai peri kecil nan menggemaskan. Aku tidak seberuntung itu untuk sekedar mendapat pengakuan.

.
.
Aku menerima jika mawar tercintamu telah layu setelah dengan sengaja menikammu dengan duri-duri tajamnya. Aku pun menerima ketika peri kecilmu telah menemukan tempat yang lebih pas ketimbang cekungan ruang dari hatimu. Aku menerima ketika mereka berdua telah mati. Yang tidak bisa aku terima adalah ketika nyatanya. Cakrawala aksara ini, ruang teragung bagiku ketika tak ada lagi nyawa yang mau menerima, justru harus pula kutemui mayat-mayat berserakan. Ditempat dimana selalu kutemukan kesempurnaan dan kedamaian ini, nyatanya harus pula kutemui pecahan kaca menyambuti di pintu masuknya. Aku terluka sekali lagi untuk pengakuan yang tak kunjung ku sandang.
Harus menjadi apakah aku, agar bisa menyaingi cantiknya mawar dan juga melampaui indahnya peri kecil milikmu ? Sementara denganku, waktu hanya berlalu lantas menjadi abu. Disaat mayat mereka mengekal dalam kolong-kolong rumah aksaramu, nyatanya tak seinchipun ruang tersisa untuk sekedar mengakui kehadiran. Aku tidak pernah menjadi apa-apa dan siapa-siapa. Kenapa aku tak kunjung mendapati pengakuan seperti mereka ? Engkau selalu benar, tak seharusnya aku menjadikan bayangan sebagai lawan. Tak seharusnya ku angkat sampah dari permukaan. Tapi ketika kutemui lagi sisa-sisa pergumulanmu yang sekalipun telah lalu itu, masih kurasakan luka dan lara. Sadar bahwa aku tetaplah bukan apa-apa dan siapa-siapa.

Sabtu, 05 Maret 2016

Suku Cadang Tersembunyi

Aku tidak mengerti apa itu arti kata dari samsara. Atau ketidakseimbangan yang biasa disebut chaos. Aku tidak benar-benar memahami arti kata mereka, yang aku paham, mereka indah ketika harus bergandengan dengan aksara-aksara lainnya.
.
Hari ini seorang teman datang membukakan mata, ia adalah termasuk jenis manusia yang disirikkan banyak lainnya. Ia memiliki kelengkapan nilai materialistik yang sempurna, kakinya jarang menyentuh tanah dikarenakan banyaknya lapisan semen yang mendasari kesehariannya. Aku adalah salah satu yang dulu pernah mengangankan betapa indahnya jika aku bisa menggantikan posisi mewahnya. Sebelum akhirnya suatu hari aku sadar, kekayaan ada karena datangnya rasa cukup. Aku yang dulu selalu mengeluh sakit kaki karena perjalanan panjang yang harus di tempuh hanya untuk sekedar urusan mandi, justru mulai menikmati bahkan mencintai urusan satu itu. Aku bisa lebih lama bercengkerama dengan alam, karenanya bisa pula lebih lama berakrab-akrab ria dengan tanah. Yang notabene adalah leluhurku.
.
Aku kaya karena merasa cukup dengan apa yang aku miliki. Misi dan visi hidupku yang tidak pernah muluk-muluklah yang menciptakan kekayaan itu. Aku selalu merasa bahwa aku hanya akan hidup hari ini. Esok adalah teka-teki, misteri yang terlalu indah untuk dirusak dengan adanya rencana. Kata orang Jawa bilang aku ini manusia kelewat 'ndableg'.
.
Untuk semua segi aku menerapkan pandangan itu, maka maklum saja jika yang kukenakan konstan kaos bersablon yang lama-lama memolos dengan sendirinya plus ventilasi di ujung sana-sini. Bukan karena ketidak mampuanku membeli, tapi kenyamananlah yang berat untuk ditinggalkan. Maka maklum saja jika suatu hari salah satu dari kalian menemukanku melenggang santai di jalan raya dengan sendal beda warna bahkan beda ukuran. Hidupku tidak mengusung konsep gengsi atau kesempurnaan. Kenyamanan adalah yang utama, sekalipun nyaman tetaplah memiliki elastisitas lalu apa salahnya berjalan dengan jepit beda warna ?
.
Sekali lagi aku merasa kaya. Bukan karena tidak ada kerikil-kerikil nakal yang menghalangi jalananku. Tapi karena mungkin aku sudah lolos dari lubang satu itu, dengan entah cara apa yang aku sendiri sudah lupa, dengan metode apa pula aku bisa melangkah hingga sejauh hari ini.
.
Aku merasa cukup dengan memasrahkan masalah perut pada apapun yang di racik dan di masak Ibu, sesekali request pastilah wajar. Aku merasa cukup dengan memasrahkan segala angan tercantel manis di awan. Bukannya tidak memiliki keinginan lebih untuk meraih apa yang diingini. Tapi aku merasa sudah cukup memiliki masa untuk bermimpi, aku hari ini ingin hidup sehidup-hidupnya. Menikmati kegiatan bernapas yang bagi sebagian lain adalah remah semata, menikmati kegiatan melihat juga merasa lebih intens ketimbang sebelumnya. Aku merasa cukup dengan memasrahkan urusan hari esok pada satu nama. Ari. Nama yang seringnya memboyong realita pada pondok abu-abu saja. Sama seperti halnya aku pasrah pada apa yang akan di jejalkan Ibu untuk masalah perutku, seperti itu jugalah aku selalu manut pada apa yang akan disajikan Ari untuk masa mendatang. Aku yang terlalu goblog atau terlalu tidak punyai semangat hidup ? Sampai-sampai masa depanpun dititipkan pada seseorang. Pasti karena seseorang itu bukanlah nama dengan sembarang pangkat. Ari adalah sebagianku. Ia berhak atas sepenuhnya aku, lalu jika aku ingin memasrahkan tidak hanya diri tapi juga harapan apa itu salah ? Ayahku sudah lama pulang ke rumah abadinya. Dan satu keresahan yang terus menghantui hingga hari ini adalah karena pernah merindukannya selagi Ayah masih ada di depan mata. Tak terkira betapa lebar lubang yang menganga akibat kehilangannya. Aku harusnya masih menuntut hakku untuk sekedar sesuap makan. Tapi Ayah justru pergi membisu tanpa seucap kata. Kepergiannya otomatis memindah penuhkan pikulan yang dulu masih setengah-setengah kubawa. Tanggung jawab itu ada di pundakku bahkan sejujurnya sudah jauh lama ada disana. Kematian Ayah adalah peresmian perpindahan dari pundak ke pundak itu.
.
Menemukan Ari seperti oase tersendiri bagiku. Mungkin ia bisa kuajak berbagi beban yang ku pikul selama ini. Dan masa kehamilan adalah kompensasi yang pas untuk ditukar dengan masa rehat totalku dari dunia uang. Sekali lagi aku memasrahkan masa mendatangku padanya. Ari adalah sebagianku. Sekalipun tetap saja terkadang ia bertanggung jawab akan rasa nyeri yang melanda hati. Bagaimana tidak, kedekatan dengan keluarga besarnya terkadang menyisakan cemburu tak beralasan bagiku. Dalam alam raya seluas ini aku hanya memiliki satu yaitu Ari dan masih pula harus bisa berbesar hati untuk berbagi Ari dengan mereka yang memiliki dua, tiga bahkan lengkap ? Untuk alasan satu yang kurasa cukup itukah aku dilarang marah ? Ari memang tak selalunya memahami. Ia tak pernah paham telah sepenuh apa kuserahinya pikulan tak hanya perkara sandang dan pangan tapi juga masa depan. Sepenuh aku menyerahkan diri dan harapan. Karena bagiku Ari adalah mutlak milikku. Meski ia tak paham dan tak sadar.

Jumat, 04 Maret 2016

Elemen Penyirep

Hal yang paling aku ingat tentang pantai adalah ketenangannya. Aku selalu menyukai air, bukan sekedar air yang tertampung dalam ember-ember di belakang rumah, tapi air yang bernyawa, hidup dan mengalir. Tak terhitung seberapa sering aku menyatroni jembatan hanya untuk menikmati air yang berlarian di bawag sana, tak terhitung pula berapa kali aku mengikrarkan cita-cita bahwa suatu saat aku akan memiliki hunian di pingir pantai, tak lain jelas agar aku bisa dengan puas memandangi air laut tanpa batasan waktu. Aku sebegitu tergila-gilanya terhadap objek air, hingga pernah suatu ketika salah satu teman iseng berkata bahwa aku telah terkena sirep si penjaga sungai. Kurang ajar.
.
Bagiku elemen air adalah yang paling menawan diantara beberapa lainnya. Ia dengan segala tenang dan keganasannya mempesona hingga batas kalap. Aku selalu mengira elemen satu itu adalah sosok dewa tampan yang menjelma dalam ujud persembahan alam.
.
Tak terhitung sudah berapa banyak waktu yang ku habiskan untuk berlama-lama menatapi mesranya air laut yang bergelung dengan pasir pantai. Tanpa lelah, tanpa mengenal rasa terpuaskan.
Melalui laju gulungan ombaknya, aku merasa seperti diriku bukanlah si raga yang tengah berdiri menikmati hening yang di semburkan angin pantai. Aku lebih luas dari sekedar bongkahan daging bertangan dan berkaki belang. Ombak yang menghantam persendian seperti membangunkan sadar, apapun yang tengah mengganggu pikiran, apapun yang tengah menghinggapi kepala tak lain hanyalah remah-remah tak terbaca. Aku lebih luas dari apa yang bisa kurasa. Aku adalah semesta ini.
.
Mungkin benar kata salah satu temanku, penjaga sungai telah meniupkan mantra padaku. Terbukti tak hanya kepada aliran tenang sungai, kepada ganasnya ombak di laut pun telah membuatku linglung dan kasmaran. Aku jatuh cinta pada elemen yang hakikatnya akan melebur hilangkan diriku. Tanah.
Aku dengan sadar merelakan di dekap dalam aliran sihirnya.
.
.
.
Bagi sebagian orang, berdiam diri di atas jembatan atau justru tergolek pasrah di bangku pinggir pantai adalah hal yang menyia-nyiakan. Tapi untukku memiliki makna berbeda. Memandangi debur ombaknya selalu bisa memancing penghuni terdalamku untuk memuntahkan segala penyebab tersumbatnya aliran nutrisi otak. Tanpa tedeng aling-aling, tanpa basa-basi juga. Kepadanya dan hanya kepadanyalah aku sanggup keluar dari kepalaku yang pengap. Membagi apapun yang mungkin menurutnya pasti hanya sekedar remah-remah tak berguna. Hanya kepadanya pula aku sanggup mengoceh dari cerita manis hingga mendongeng yang sanggup membuat pipi beranak pinak.
.
Tak ada yang bisa memahami bagaimana air telah dengan sangat sempurnanya memahami apa yang tak sanggup terpahamkan oleh sesama. Sedalam itulah hubunganku dengan elemen bercorak biru muda.
.
.
.
Dan hari ini adalah tepat menjadi hari terlamaku tak menginjakkan kaki di tepian pantai, aku telah dengan sangat lama tak mengunjungi obat penenangku. Bukan karena terdesak waktu, tapi memang belum ada keresahan yang menguliti hingga habis sabar. Seseorang telah datang menggantikan keberhargaan air pantai. Meskipun sosoknya tidak sesempurna itu menempati ruang pasnya, tapi setidaknya ia hadir dan menuntaskan keresarahan dalam ujud pelepasan yang berbeda. Ari menggantikan perjalanan melelahkanku mengunjungi pantai dengan satu saja dekapan. Ari menggantikan penat yang menggantung di ufuk barat dengan banyak senyuman. Ia tidak setepat itu tentu saja dalam melengserkan kecintaanku pada air. Sihir yang ditiupkan Ari masih kalah adu dari mantra yang di rapal penjaga sungai. Alam tetaplah sang juara. Tak peduli jika kucuran dana berhenti mengairi kantong-kantong lapar, tak peduli jika hangat dekapan harus perlahan luntur tergantikan dingin yang mencekam. Alam tetaplah sang juara yang tak terkalahkan.
.
Mungkin karena aku adalah tanah. Elemen pangkal yang selalu manut pada ketukan. Sehingga ketika kepolosan air menyirami hingga lubang pori, terjatuhlah aku pada suatu pengakuan. Seakan didunia ini, hanya airlah satu-satunya elemen yang pas denganku. Seakan didunia ini, akulah satu-satunya elemen yang akan berhasil menuntunnya pada tahap keabadian. Karena pada dasarnya tanah adalah sebuah unsur, yang sanggup menyimpan namun juga meluluh lantahkan. Dan air adalah kepingan pas yang selalu berhasil membuaku luluh dan luruh tanpa harus terhanyut.
.
Oh alam, kandunganmu terasa begitu mengagumkan. Dan baris tema kali ini seperti membangunkan lagi keinginan terpendam yang kian dalam masa tanamnya, yakni sebuah cita-cita muda untuk memiliki hunian di pingir pantai. Jelas agar kelak jika aku memerlukan pengaduan, hanya dengan membuka daun jendela maka ia ada. Berlarian sepanjang nafas menari tanpa mengenal kata lelah. Karena memang aku menyukai air, bukan pada air yang tertampung di ember-ember belakang rumah. Tapi pada air yang mengalir, bernyawa dan hidup. Semoga ungkapan cintaku tersampaikan meski ini adalah rentang terlama aku tak berkunjung di jembatan ataupun di pinggiran pantai nan jauh disana.

Lepaskan Saja Kawan

Bertahun-tahun menjadi orang yang kau sandangi pangkat kawan membuatku paham, bola birumu tak pernah sesukses itu memendarkan kesedihan. Lingkaran bening disana selalu bisa membuatku berkaca, melihat lagi jalan sesat yang mungkin hendak ku tapaki. Lewat matamu engkau berbicara, menjagaku dengan pergerakan lincah bola biru di tengahnya. Dan hari itu merubah segalanya. Aku melihat duka, kejernihan yang selayaknya kaca tengah terkopyok lara. Aku sanggup melihat duka dimatamu. Tergambar jernih, sejelas aku membaca not patah yang jatuh menumpangi air asin dari pelupukmu. Sahabatku tengah terseok memunguti kekuatan, untuk menerima lalu tertatih belajar mengikhlaskan.
.
Bertahun-tahun menjadi nama terdekat yang tidak hanya paham wangi tapi juga aroma borokmu, membuatku sedikit mengerti tentang duka yang tengah mengeroyokmu. Engkau adalah pemilik rasa termurni yang pernah aku tahu, namanya tak pernah alpa hadir dalam doamu sebelum mimpi menyapa, bahkan nama itu telah menyatu padu bersama detak jantung dan setiap perjalanan darahmu. Aku seperti tidak pernah melihat orang sejatuh dirimu, ledakan perdanamu tak segemerlap apa yang di angankan, kembang apimu tak memental jauh ke langit melainkan tersulut dengan kecepatan diatas ambang batas hingga tanpa sadar api itu justru membakarmu, melukaimu.
.
Aku memahami kedalaman yang sempat menelanmu sekonyong-konyong. Senyuman mata itu memang terlalu mematikan untuk sekedar dianggap angin lewat, engkau terpeleset tepat di lingkaran hitam retinanya, senyumnya mendorongmu untuk tersuruk jatuh dalam dan lebih dalam lagi. Si astronot amatir dalam penerbangannya yang gagal sebelum sempat lepas landas. Bulan itu tak tercapai, langkahmu tertahan di bumi namun kini pijakannya ratusan kali lebih membebani ketimbang sebelumnya. Sahabatku adalah astronot malang yang kini merangkul pijakan besar
.
.
.
Sudah lepaskan saja kawan, relakan ia untuk menjadi milik dari nama yang masuk dalam jajaran kesayanganmu. Relakan saja ia bertualang, hingga suatu saat sadar bahwa engkaulah daratan yang tercipta paling pas untuk pendaratannya. Tak perlu mengulum sesal, karena memang tak ada cinta yang hadir tanpa meninggalkan buah tangan. Tak perlu menggenggam dendam, ia yang sekarang mendapatkan buruanmu adalah murni sebuah keberuntungan, jangan membenci faktor beruntung dari siapapun, karena bola itu suatu saat tiba tepat di pangkuanmu. Pada saatmu.
.
Lepaskan saja kawan, lepaskan dan lepaskan. Jika engkau tahu aku bahkan masih bisa ikut merasakan nyerimu itu. Tak ada yang akan sebanding dari sebuah keikhlasan. Karena konon itulah level pembelajaran tertinggi umat manusia. Lepaskan saja kawan, lepaskan. Ia yang engkau relakan adalah tebing tertinggimu, tebing yang belum tentu sanggup di daki oleh dirinya yang beruntung itu. Engkau telah berada dalam puncak berbeda dari siapapun mereka, dan karena ketangguhanmu itu patut kuhadiahi sujud takjub padamu. Lepaskan saja kawan, biarkan langkahmu melenggang ringan menapaki ketinggian.
.
Karena aku tak sanggup lagi melihat duka itu bersarang di matamu. Mengetahuinya seperti akan sanggup meremuk redamkan hingga persendian. Sungguh tak pernah kutemui satupun makhluk yang sejatuh dirimu. Aku tahu engkau mulai bosan bernafas di bawah bayang-bayang. Cinta itu masih bersarang dan bersemayam dengan nyamannya disana, aku masih bisa melihat rindu menetes di setiap ujung bibirmu ketika ia mulai melemparkan sapa. Bahkan kekaguman itu masih menempati ruang pas dengan sangat manisnya. Lepaskan saja kawan, nama itu telah termiliki oleh seseorang. Lepaskan saja kawan, ia hadir di hidupmu tertakdir bukan untuk menjadi penghuni hatimu, tapi ia adalah tamu sayang, dan sungguh tak sopan menahan seorang tamu yang masuk hanya sekedar menandaskan dahaga lalu di paksa untuk tetap tinggal. Biarkan tsunami yang engkau sembunyikan itu berlalu, karena nama itu telah damai menjalani hidup dengan seseorang yang lain. Relakan, relakan dan relakan. Biarkan hantu yang mendiami sudut hatimu pergi, bersamaan membawa cinta yang belum tersampaikan itu. Biarkan hantu yang bercokol di tiang penyanggamu itu terbang, terbawa angin lalu tertelan awan. Sungguh kawan, tak ada jalan yang lebih mulia ketimbang belajar merelakan. Tak ada jalan yang lebih menggembirakan timbang rasa yang terikhlaskan. Jangan malu, jangan menangis, jangan bersedih kawan. Cinta pertamamu mengajarkan tentang pelajaran paling mahal. Bagaimana mungkin engkau harus berduka menerimanya ? Cinta pertama menghadiahimu ciuman terdalam. Melumat segala nafas hingga tanpa sadar engkau tercekik dan menangis terbuai nikmat yang disajikannya. Tak apa kawan, relakan dan relakan. Biarkan ia bahagia bersama layang-layang miliknya. Bukankah engkau pernah berkata jika bahagianya adalah bagian dan milikmu juga ? Lepaskan duka itu dari bola birumu. Tak tahan lagi aku melihatmu tersiksa. Tercekik cinta yang enggan lepas dari dekapan. Terlumat lara yang enggan turun dari gendongan.
.
.
.
Lepaskan saja ia kawan, lepaskan.