Minggu, 18 Desember 2016

Membakar Hujan

Waktu sanggup merubah segalanya. Dan kini aku percaya.
.
.
.
Hujan tak pernah datang semesra sore ini, dikala semburat oranye diufuk barat mulai bersiap menunjukkan diri, tetes-tetes hujan yang menimpa atap rumah menjadi melodi pembuka yang teramat pas. Aku sekarang menyukai hujan. Ari memanusiakan rintik besar-besar itu lebih dari sewajarnya. Ketika dulu hujan menawarkanku bangku bersalju, maka sekarang hujan menghadiahiku sepotong kerinduan dengan nama Ari didalamnya.
.
Lagi-lagi aku merasa hujan tak pernah semesra yang turun pada sore menjelang petang ini. Dalam balutan rinainya yang saling berbaris rapi, aku merasakan kehangatan bak sepasang kaus kaki. Dalam rintik besar-besar yang datang keroyokan, aku melihat tangan besar kasat mata menggapit tubuh kecil ini sebelum akhirnya menceburkannya pada segentong besar perasaan iri. Rasa iri pada banyaknya pohon bambu yang saling meneteskan peluh ketika petir melewati sela-sela pucuk daunnya. Rasa iri pada sehelai daun bayam yang rela menundukkan diri demi bisa memeluk batang pohon yang terciprat tetesan air hujan. Rasa iri pada dua kilat yang menyempatkan diri untuk bergumul dibalik awan hitam sebelum turun menyambar. Rasa iri bahkan pada rintik yang saling berkejaran sebelum akhirnya melumer dalam lautan kebahagiaan. Aku rindu Ari dengan kekuatannya memanusiakan hujan.
.
.
Jika saja petang ini Ari berada dalam jangkauan, niscaya sepasang kaus kaki bermanik kepala beruang itu tak lagi dibutuhkan. Dalam rengkuhannya, kami berdua akan membakar hujan dan menyulapnya menjadi entakan ranjang. Selain memiliki kekuatan memanusiakan hujan, Ari juga menyimpan kekuatan mendatangkan tsunami. Badai yang diracik perlahan melalui sentuhan dan tiupan ringan sungguh sanggup menimbulkan lengsernya lempengan iman. Ari tahu betul kapan saat yang tepat untuk surut, menerjang dan menyemburkan hingga tertinggi air dalam luapan. Seringnya aku hanya bisa pasrah. Merelakan diri ditelan air tsunaminya, merelakan diri dihempaskan oleh tinggi dan kuat inginnya. Membiarkan hujan mengiringi dan menyirami lagi dataran yang tengah terengah dilanda hasrat yang rindu untuk mampir ke daratan.
.
Andai petang ini Ari berada dalam dekapan, niscaya segentong iri tak akan eksis di paragraf ini. Yang ada hanyalah alam yang tunduk khidmat menyalami aku dan Ari karena perasaan takjubnya akan kekuatan kami berdua dalam membakar hujan. Andai petang ini Ari berada dalam jangkauan, niscaya daun bayam akan tersipu malu mendengar kecipak air hujan yang turun sebelum tanah sempat membasahi diri. Niscaya pucuk-pucuk daun bambu akan rela memayungi petir dan menyabotase tujuan kehadirannya, memelintirkan fungsinya menjadi nyanyian indah yang hanya akan didengar oleh telinga-telinga yang tengah berbahagia. Niscaya kilat-kilat akan saling menyambarkan diri diatas sana, menjadikannya semacam kembang api dengan awan hitamnya sebagai latar belakang.
.
.
Ari membuatku mendekap rindu pada hujan petang ini, membuat rintik-rintiknya terdengar semesra bisikan-bisikan khas ketika tengah bercinta. Ari memanusiakan hujan dengan sangat tepatnya, hingga lupa didalam diri manusia terdapat sisi hewani yang suatu saat butuh untuk ditaklukkan. Milikku tak terkecuali. Sentuhan itu, bisikan itu, dan dekapan itu seakan semuanya adalah ornamen-ornamen yang sangat pas jika dipasangkan pada sepotong hujan. Badai tsunami tak pernah dipuja dan diinginkan sebelum Ari datang dan menghendakinya demikian. Badai tsunami petang ini tidak akan datang, hanya kerapnya rintik hujan yang memboyong kerinduan. Dan Ari tak pernah tahu dirinya semenakjubkan awan hitam, bagi manusia lain mendung berati saatnya bersiap membentengi diri dari hujan yang membanjur, bagiku awan hitam pertanda kebahagiaan yang tengah dalam perjalanan, kilat dan petir adalah bak tanda peringatan bahwa pesawat tengah lepas landas dan hanya tinggal menunggu hitungan sebelum akhirnya bersentuhan dengan pesawat itu, si hujan.
.
.
.
Dan kini aku percaya, waktu dapat merubah segalanya. Tubuhku yang dulu selalu menggigil ketika tertimpa butiran air hujan, kini justru menunjukkan kesediaan dan kerelaannya untuk diterjang. Sendi yang dulu selalu meradang kedinginan disaat awan hitam usai menuntaskan bebannya, kini selalu siaga dengan adanya lonjakan-lonjakan dari beban yang diangkut aliran darah. Jantungku tak pernah sesigap ini menerima tamu agung bernama kerinduan. Sepotong rasa yang selalu hadir dibawa oleh rintik hujan. Dan lagi-lagi Ari tak pernah tahu bahwa dirinya semenarik awan hitam. Membuatku bersiap, berpraduga dan jika memungkinkan menyiapkan payung agar tak kehujanan.
.
.
Hujan tak pernah semesra sore ini, rangkaian melodi yang mengalun dari pengeras suara tak sanggup menandingi nikmatnya perasaan ini. Kerinduan akan adanya rengkuhan, bisikan-bisikan ringan, dan akan datangnya badai tsunami yang Ari ciptakan. Ah..andai alam tahu, kekasihku berpotensi menjadi alat yang sanggup mendeteksi akan datangnya bencana menyenangkan.

Kamis, 15 Desember 2016

Aku, Manusia Dan Malam

Hujan membuat sore datang lebih cepat hari ini. Aroma tanah yang masih membumbung semakin tergilas tergantikan oleh bau petang. Setelah seharian membungkus tubuh kecil ini dengan sehelai daun, membuatku semakin terasa nyaman. Jangan kira kaum nyamuk sepertiku tidak pernah merasakan sakit, demam yang menjelangku semenjak malam kemarin adalah salah satu contohnya. Semua kaki dan tanganku masih lincah bergerak tapi perut juga kepalaku memberikan sinyal tanda tak sehat. Ibuku bilang mungkin karena jiwa manusia yang kucucus darahnya kemarin itu sedang dalam keadaan tidak stabil. Entah penjelasan medis apa yang bisa menjelaskan relasi antara antara demam dan jiwa labil. Tapi aku percaya, karena sungguh sekian lama hidup tak ada yang bisa mengukuhkan tentang adanya kebenaran perkataan selain yang keluar dari mulut Ibu. Bagiku Ibu adalah semacam dewa. Setiap perkataannya adalah titah sekaligus hal yang tak patut untuk diragukan kebenarannya. Sekalipun penjelasan tentang alasan demamku sedikit terasa konyol tapi aku hanya bisa percaya. Lagipula..untuk apa mempertanyakan hal yang sudah lewat ? Dan juga, aku sudah sembuh hari ini. Kalau saja bukan karena kebutuhan, aku tidak ingin bangun hingga pagi menyapa. Perutku menunjukkan tanda protesnya, seharian menahan beratnya kelopak mata membuatku lupa untuk mencucus tubuh manusia. Dan petang ini, aku ingin berburu.
.
.
Hujan masih menyisakan riaknya, sementara petang kian meluaskan taburan jaring gelapnya. Hewan malam mulai membunyikan alarm masing-masing. Semoga masih ada manusia yang mau keluar dari hunian dalam cuaca yang seperti ini. Ketika sore datang, kaum manusia akan dengan sigap mengunci diri mereka dalam benteng pertahanan. Semua jendela dan pintu tertutup rapat-rapat. Mengantisipasi kedatangan kaumku yang selalunya kian merebak ketika malam menjelang. Manusia ternyata tidak setangguh dan sebesar badannya. Demi menghindari kaumku yang besarnya saja hanya sekitaran besar upil manusia, mereka mempertaruhkan segalanya. Memblokir semua akses agar tak bersentuhan dengan udara luar, tanpa tahu jika malam kian menebarkan pesona jika dinikmati dalam keadaan remang. Manusia menempatkanku dan kaumku menjadi semacam bahaya terburuk sepanjang masa.
.
.
.
Mataku berhenti mencari ketika indra penciumku mendapati adanya aroma manusia. Ada yang lain dari manusia satu ini, darahnya tercium begitu manis. Bebauan wangi yang menyelimuti hampir seluruh tubuhnya tak menutupi aroma manis yang kian terkuar. Aku harus mendapatkan mangsa. Perutku tak lagi mau mendengar kata menunggu.
.
Benar saja, ketika selesai mengisi penuh perut kecilku, aku merasakan dahaga yang melumer oleh siraman air gula. Darah manusia satu ini begitu manis. Ataukah karena demam lusa yang menyebabkan minum darah kali ini begitu istimewa ? Tak jadi soal apapun itu, yang jelas perutku telah terkenyangkan.
.
Ibuku selalu berkata aroma angin malam akan membangkitkan rasa lapar berlipat dari waktu siang, itulah kenapa kaum nyamuk disarankan untuk mengistirahatkan badan ketika pagi datang.
Aku harap manusia tidak mengetahui titik lemah kaumku, ataupun membaca ceritaku ini. Karena bagaimanapun, otak manusia tercipta dengan segala kerumitannya. Memahami sedangkal pemikiran kami akan menjadi hal yang sangat sulit. Tidak diragukan lagi, meski pernah terbesit sebuah ingin tapi nyamuk dan manusia memang tertakdir sebagai musuh alami. Dan bagiku pribadi, ini adalah jenis permusuhan paling elegan yang pernah ada. Kendati api yang membara dipikiran manusia kuyakini sanggup membakar sebuah bangunan sekalipun. Entah kenapa manusia gemar sekali menumpuk dendam, menjadikannya bak bejana kristal yang harus disimpan baik-baik dan penuh perhitungan. Menjadikan dendam sebagai bom waktu yang suatu saat nanti bisa saja justru menghabisi pemiliknya sendiri.
.
.
.
Tidak perlu mencela, tidak perlu meributkan apapun kebiasaan buruk makhluk hampir sempurna itu. Toh hubungan kami berdua tak mungkin akan beranjak kemana-mana. Selamanya manusia dan nyamuk akan menjadi patner yang hanya menguntungkan dari satu sisi saja. Seberapa kuatpun keinginanku untuk menjabat tangan manusia tak akan berhasil tanpa lebih dulu sesuatu merelakan nyawa. Nyawa kaumku. Seberapa tak menyenangkanpun perlakuan manusia terhadapku dan keluarga, aku hanya bisa melihat, memaklumi dan mengacuhkannya. Bangsa nyamuk tak memiliki hasrat untuk mendendam, aku sendiri lebih memikirkan keberlangsungan hidup anak cucuku kelak ketimbang menjunjung tinggi ego permusuhan.
.
.
.
Tak ada yang mengganjal, tak ada batu rintangan. Hidup dan pola pikir kaum nyamuk semulus dan sepolos dua mangsa tanpa busana yang sering kutemukan tengah bergulat vertikal ditengah rerimbunan diwaktu malam. Entah apapun yang tengah mereka lakukan, yang terlihat dimataku hanyalah makanan dan makanan. Manusiakah mereka ? Bukankah kaumnya selalu takut dengan kegelapan dan selalu menghindar ? Apapun itu, yang jelas aku selalu berbahagia untuk manusia yang rela memoloskan tubuh ditengah remang untuk kami makan.

Rabu, 14 Desember 2016

Salahkan Saja Alam

Pertengahan tahun lalu, tepatnya bulan keempat di tanggal yang masih terhitung muda, aku terlahir. Seluruh anggota keluarga bersorak suka cita merayakan kedatanganku. Sekalipun aku bukanlah anggota pertama yang lahir di musim penghujan saat itu, tapi kehadiranku benaran sangat dinantikan..oleh teman-temanku tak terkecuali. Sore itu tengah hujan rintik-rintik, hal pertama yang kulihat ketika perdana aku membuka mata. Butiran kecil-kecil hujan menjatuhi genangan air keruh yang juga merupakan hunianku selama menjadi embrio. Sungguh. Tak ada alunan yang lebih mesra ketimbang suara kecipak butiran kristal air hujan yang jatuh perlahan, dan penuh hitungan.
.
.
.
.
.
Aku adalah sejenis nyamuk. Yang hidup embrionya tergantung pada adanya genangan air. Dan musim penghujan kali ini adalah masaku untuk melihat dunia dan tumbuh menjadi nyamuk dewasa. Tolong jangan deskriminasikan aku beserta kawananku. Kami juga adalah salah satu makhluk Tuhan. Sama seperti halnya keberadaan ayam, kucing, dan tikus got sekalipun. Ini mungkin perlu diperjelas, karena setelah sekian bulan melihat dunia aku dipertontonkan banyak sekali pertunjukan. Aku melihat sekumpulan cicak yang saling berebut serangga lewat, aku mendengar keluhan para ayam yang dianak tirikan oleh pemiliknya, lalu anjing-anjing didalam kandang itu, mereka sangatlah sombong..merasa dirinya raja hanya karena segala kebutuhan hingga kotorannya selalu diurus oleh manusia. Kupu-kupu adalah sahabat favoritku. Mereka cantik dan sangat menyenangkan, sekalipun memiliki sayap indah dan sanggup berkeliling kemanapun mereka suka, tidak lantas menjadikan kupu-kupu sombong. Seringnya mereka menunjukkan padaku dimana tempat yang nyaman untuk melepaskan penat, sementara aku..dengan kemampuanku mengendus lebih intens untuk setiap hal membantu para kupu-kupu menemukan dimana kiranya lokasi yang pas untuk mencari makanan sehat nan lezat. Dalam waktu hidupku yang baru sekian bulan, diantara berbagai macam makhluk Tuhan..hanya manusialah yang begitu menarik perhatian dan juga bahaya terbesarku. Sudah merupakan hukum alam jika pasokan makananku adalah berasal dari darah manusia. Seperti tikus sawah yang sekalipun menghindar pada akhirnya akan rela dirinya dijadikan santapan ular, seperti para ayam yang sesekali menangkapi cacing tanah dan menjadikannya kudapan. Bukankah hal yang wajar jika aku gemar mengikuti kemanapun perginya manusia dan mencucus darah mereka segelembung perutku saja. Aku bukanlah makhluk rakus, kawananku terbiasa mengenyangkan perut hanya dua kali dalam sehari. Tapi manusia sepertinya menaruh dendam membara terhadap kaum nyamuk. Wahai manusia, ketahuilah jika dalam satu kali saja masa bertelur satu nyamuk betina, maka akan menghasilkan ratusan ekor embrio yang siap terlahir menjadi nyamuk dewasa. Wajar jika dalam hitungan menit kalian sanggup mendapati sekian bentol di kaki, tangan, dan wajah. Itu bukan perbuatan satu nyamuk saja. Ada milyaran kami yang hidup didunia ini. Perbandingannya akan begitu timpang jika dibandingkan dengan keberadaan kalian para manusia. Seperti membandingkan besarnya telur ayam raksasa dan telur cicak. Lalu kenapa kalian menaruh dendam ? Aku tidak bisa menghentikan kaumku untuk menyesap darah kalian, karena memang alam telah menggariskan darah kalian sebagai makanan pokok kami. Salahkan saja alam, yang membuat kaumku berlipat lebih banyak dari kalian. Salahkan saja alam, yang membuat instingku mendeteksi darah manusia sebagai jenis makanan. Salahkan saja alam.
.
Aku tidak tahu jika mungkin leluhurku pun terlahir dengan harapan seperti aku, sanggup berdamai dengan manusia. Makhluk yang konon memiliki ujud paling mendekati sempurna dibandingkan aku, ayam, anjing atau apapun makhluk ciptaan Yang Kuasa. Tidak bisakah mereka menerima keberadaanku seperti halnya cacing dan ayam yang terkadang saling bersenda gurau sebelum akhirnya si cacing dijadikan santapan ? Tidak bisakah manusia merelakan secucus saja darahnya untuk keberlangsungan hidupku dan juga kaumku ? Tanpa memendam dendam berkepanjangan ? Sungguh aku rela meregang nyawa dalam sekali saja tepukan gemas tangan manusia, jika ia juga merelakan perutku terkenyangkan namun bukan dengan paksaan, bukan dengan caraku yang harus mengendap lalu mencuri tanpa permisi, bukan dengan caraku yang harus menunggu mereka lengah lalu terlelap tak sadarkan diri. Sungguh aku ingin menjadi nyamuk yang memiliki harga diri. Jika saja manusia memang memiliki martabat seperti yang seharusnya. Jika saja manusia sadar bahwa dirinya berkasta lebih tinggi daripada kaumku, ayam atau makhluk melata lainnya. Tapi sayang seribu sayang, itu hanyalah angan. Perihal nyamuk yang dapat berteman dengan manusia hanyalah mitos semata. Manusia dalam ujudnya yang konon hampir sempurna justru menempatkan diri menjadi malaikat pencabut nyawa yang tak memiliki adanya rasa kemanusiaan, empati atau sekedar kasihan. Kaum malang. Sungguh kaum yang sangat malang.

Rabu, 07 Desember 2016

Perjalanan Si Patner Cacing Tanah

Perjalanan baru telah lama dimulai, detak yang terekam oleh alat medis adalah peluit tanda kami harus mulai melangkah. Ya, ini adalah sepenggal cerita tentang aku dan Ari. Duo patner ranjang yang baru saja sukses merampungkan misi menciptakan manusia baru. Kami menamainya Hara. Entah apapun arti kata satu itu, yang jelas bukan untaian mutiara seperti yang selama ini selalu Ari coba jelaskan ketika ada saudara-saudara yang bertanya tentang makna dari nama Hara. Aku lebih suka menjelaskannya sebagai teman cacing, karena keduanya memang sama-sama berhubungan erat dengan tanah. Hara sebagai unsur pembentuk sementara cacing bertugas sebagai si penggembur.
.
Hara adalah duplikat, karena 70 porsen sketsa rautnya adalah milik Ari. Entah celah sebelah mana dari wajahnya yang menunjukkan bahwa aku juga berpartisipasi sebagai pembuatnya. Dan mata Hara, begitu indah. Aku yakin cekungan berisi bulatan retina itu menuruni sepenuhnya gen milikku. Dengan dua pipi yang bersaing ketat dengan kenyalnya bakpau lengkap dengan kepulan asap pertanda baru keluar dari tempat kukusnya. Benar-benar duplikat yang tidak mengecewakan. Terkadang jika Ari tengah berada jauh dariku, bahkan masih bisa kulihat dirinya ada pada wajah mungil Hara. Napas pemilik dua bakpau hangat itu begitu wangi, dengan bibir yang hadir seada-adanya, aku sempat curiga kenapa Hara memiliki bibir yang begitu tipis, karena jelas itu bukan jenis milikku atau milik Ari, sementara aku dengan sangat yakin berani bersumpah bahwa Arilah satu-satunya penyumbang sperma pembentuk Hara.
.
.
.
Perjalanan baru ini mulai menebarkan pesonanya. Ari sempat tertangkap mata tengah berkaca-kaca ketika kemarin harus berpamitan untuk berangkat kerja. Sementara aku, jauh dari Hara jelas-jelas menimbulkan kegelisahan tak terduga. Satu jam, dua jam adalah waktu terlama aku jauh dari duplikat Ari itu. Dan ya, aku hampir menangis karenanya. Kecemasan yang mampir sungguh mencapai titik hampir maksimal saat itu, dua jam yang membuatku linglung tentang apa yang harus dan apa yang tengah aku lakukan. Sesuatu jelas sekali telah mencongkel kelengkapan diriku. Dan ketika kudapati lagi Hara dalam pelukan, aku tau apa yang telah hilang. Aku tengah memeluk sebuah dunia.
.
.
Di awal perjalanan komitmenku dengan Ari, banyak kujelaskan padanya bahwa aku kemungkinan tidak berbakat menjadi seorang ibu. Aku bahkan sempat curiga jika Tuhan mungkin lupa telah menempatkan jiwa kebapakan padaku ketika dulu tengah menciptakan aku. Jika status perempuan saja masih kuragukan bagaimana bisa aku mengalami proses melahirkan ? Menyusui dan menggendong bayi ? Mungkinkah ? Lalu keajaiban itu ada. Kedatangan Hara menjungkir balikkan perkiraan gender yang sempat kuragukan itu. Aku benaran perempuan ! Ari tidak salah ketika menyetujuiku menjadi istrinya, kendati memang pernikahan kami awalnya bak lintingan lotre semata. Kedatangan Hara membukakan mata kami, bahwa setelan jas dan kemeja juga gaun putih bermanik banyak yang dikenakan satu setengah tahun lalu bukan ajang potret-potret saja. Pernikahan itu nyata. Senyata aroma pesing yang selalu merembesi celana Hara setiap harinya.
.
.
.
Sekarang aku memiliki dua alasan untuk bisa berbangga kepada dunia. Pertama..aku memiliki Ari, si manusia dengan kesabaran berkekuatan Giga. Kedua..aku memiliki Hara, si bocah kecil yang berhasil meruntuhkan keraguan seluruh umat manusia yang mungkin pernah ikut mempertanyakan gender keperempuanku.
.
Apalagi yang perlu dijelaskan, kelengkapan ini bukan sebuah basa-basi. Kebahagiaan inipun bukan kepura-puraan. Status pernikahan yang masih setengah sadar untuk kuakui sekarang membuahkan hasil. Tidak ada lagi luka menyayat dimasa yang telah datang. Karena sakitnya masa lalu tidak sesakit ketika tengah berbaring diruang melahirkan. Dan Hara adalah sebuah keajaiban. Aku dan Ari telah menciptakan sebuah keajaiban, betapa menakjubkannya perpaduan dua unsur manusia ini B-) dan aku bersyukur Tuhan melancarkan semua perjalanan baru kami.
.
.
Sekarang aku memiliki alasan bahkan sekedar untuk makan. Aku memiliki alasan kenapa harus bangun dipagi hari. Aku memiliki alasan kenapa harus menyiapkan kaleng kosong dan mulai mengisinya dengan koin-koin receh, sesuatu yang dulu kuanggap sampah. Sekarang aku memiliki alasan untuk terus memperbaiki diri. Dan yang terpenting dari semuanya, aku sekarang memiliki alasan untuk terus menulis, terlebih untuk perjalanan ini. Agar kelak Hara melihat bahwa ia adalah ciptaan tanah, agar kelak ia paham bahwa dirinya tak lebih tinggi dari hewan dan tumbuhan, agar kelak dimasa-masa tersulitnya, disaat mata dunia mulai mengerdilkannya maka ia akan melihat bahwa dirinya adalah sebuah keajaiban. Aku ingin membekali anakku dengan kekuatan. Kami ingin membekali Hara dengan sistim imun sekuat seperti yang telah tertanam pada kedua orangtuanya. Semoga.

Rabu, 30 November 2016

Filosofi (maaf) Pakaian Dalam

Makan darah.
Awalnya aku berpikir jika kata itu terlalu keren untuk dijadikan sebuah judul paragraf panjang yang penulisnya sendiri masih bingung apa yang hendak disampaikan. Lalu kemudian hujan yang begitu setia memayungi malam ini tak membiarkan aku berputus asa. Ya. Terkadang, judul itu tidaklah penting. Terlebih tema. Jika kita tidak memiliki ambisi apapun untuk dicapai entah dalam sebuah hubungan, dalam mimpi, atau kehidupan ini sendiri, kenapa kita harus repot-repot memikirkan adanya judul ?
Sebuah hubungan adalah tentang timbal-balik. Ini menurut apa kata pikirku. Jika kita begitu pintar mengapresiasi apa itu arti helaan napas lalu mati rasa untuk bisa sekedar menghargai pasangan, apakah itu berarti mata kita yang buta atau belum terbangun dari tidur panjang ?
Aku tidak sedang mengeluhkan tentang pasanganku atau memilikinya sekalipun. Aku hanya sedang mencoba meraba dimana letak welas asih dan juga kelembutanku yang konon kedua hal itu dianugerahkan dengan porsi lebih kepada seorang wanita. Aku tidak memiliki keluhan apapun tentang pasanganku, dan mungkin dialah yang harusnya memiliki seribu lebih alasan untuk mengoreksi keburukanku. Ada berbagai macam cara untuk menunjukkan permintaan maaf kepada seseorang, termasuk menuliskannya diblog seperti yang tengah kulakukan malam ini. Yang sedihnya, si objek tidak akan membaca ini dan memahami bahwa pasangannya tengah mengulurkan tangan tanda perdamaian. Hanya ada sekian porsen dari begitu banyaknya manusia yang mau iseng-iseng membaca sebuah tulisan panjang dengan judul aneh bukan ? Yang sedihnya lagi, pasanganku tidak seteliti itu untuk mau memahami bahwa istrinya adalah yang seperti ini. Menganggap tulisan lebih bisa mendengarkan ketimbang telinga benaran.
Itulah kenapa aku pernah berpikir ingin menikahi seorang penulis saja. Karena penulis adalah telinga yang baik.

Aku memahami dengan baik apa isi dari kehidupan ini sebaik aku mengenali pakaian dalamku. Aku mendengar yang embun coba sampaikan kepada sinar mentari yang menyirami pagi. Aku melihat warna kumparan apa yang tengah menghubungkan jejaring antar dua manusia. Aku sanggup meraba apa yang orang lain sebut itu kasat mata. Tapi aku tidak bisa menambah lebih kesabaran untuk teman berbagi ranjangku sendiri. Aku marah untuk setiap hal kecil, bahkan untuk setiap satu kata yang luput dari ucapannya. Cara pandangku bagaikan pemikiran dewa dimata orang-orang yang memuja. Tapi dalam sekejap aku menjadi api jika itu dengan pasanganku sendiri. Aku begitu khidmat menikmati setiap udara yang mampir kedalam paru melalui lobang hidung. Tapi aku gagal menyalakan tombol sadar jika itu menyangkut teman berbagi piring makanku sendiri. Aku tak memiliki ambisi apapun untuk dikejar, tapi kepadanya..selalu kulimpahkan banyak angan dan harapan yang mungkin lebih memusingkan ketimbang mengurus hutang piutang. Aku selalu gagal menjadi dewa didepan pasanganku sendiri. Aku adalah itik yang terus memburuk rupakan diri sendiri sejalan dengan bertambahnya usia menua hubungan ini. Jika memungkinkan, aku ingin pasanganku mengetahui ini, dan memaafkan untuk setiap perkataan yang menyobek dinding hatinya. Aku tidak tau akan sampai kapan bisa menemaninya menapaki bahtera ini. Aku tidak tau sampai umur berapa bisa mengenyangkan perut dan juga hasratnya. Makan darah tidaklah sekeren ketika pertama aku menuliskannya untuk membuka paragraf ini. Makan darah, apapun arti dari kiasan itu tidak lebih bisa menggambarkan tentang drama dua anak manusia berumur jagung ini. Aku ingin bisa memanjangkan lagi letak sabar, sadar dan kendali atas diriku ini. Aku ingin lebih bisa menghargai pasanganku lebih dari kegilaanku untuk mengapresiasi adanya pelajaran disetiap sendi kehidupan ini.
Tak masalah jika hidupku tak berjudul, atau hubungan ini tidak memiliki tema. Kedamaian dan keabadian adalah cita-cita tertinggiku bersamanya selama ini. Jika jalanan yang selama ini selalu berkerikil, atau langkahku terus saja memijak bayang-bayangnya..mohon pemakluman, karena kapal yang tengah kutumpangi baru saja kemarin melepaskan tali tambatnya. Kami butuh lebih dari sekedar makan darah. Kami butuh lebih dari sekedar hantaman karang. Kapal baru dengan kemudi setir yang juga baru, arah yang baru, dan pengajaran yang selalu baru. Karena akhir masih panjang, dan aku bukan lagi berharap pasanganku adalah seorang penulis, aku ingin dia adalah seorang tukang kayu. Yang sanggup membuat kapal dengan tangannya sendiri. Yang mampu memegang kendali dan mengerti dimana letak setiap baut dan kunci. Yang mampu memahami dan memaklumi, bahwasannya dipelayarannya yang diharapkan hanya sekali dalam perjalan hidupnya, ia tengah mengangkut penumpang tidak tahu diri. Rekan berlayarnya adalah perempuan yang tidak sadar bahwa pemikirannya adalah kurcaci ditengah samudra troll gunung, yang selalu beranggapan dirinya adalah pujangga. Perempuan yang tidak kunjung sadar batasan antara arti kata pujangga dan gila hanya setipis pakaian dalam bekas. Sekian.

Jumat, 11 November 2016

Efek Samping Obat Bius

Dulu aku selalu bertanya-tanya, bagaimana cara menjadi seorang kakak yang baik ? Harus menjadi apa aku jika suatu hari nanti aku harus menggantikan keberadaan emak bagi adikku itu ?
Adikku terlahir dengan sedikit celah pada batas normal. Aku selalu berfikir bahwa perlu menambah bubuk ekstra pada setiap segi demi mendampinginya yang entah akan sampai kapan. Aku terus mencari dimana harus menemukan bubuk itu, aku terus bertanya tentang bagaimana cara menjadi kakak yang baik.
.
.
.
.
.
.
Di dunia yang semakin menua ini, aku menemukan banyak kejanggalan. Tentang alam yang mulai memancarkan tatapan sebal, tentang binatang yang mulai mendengus kesal, tentang angin yang mulai berani meninggalkan zona nyaman. Terlalu banyak keganjilan, terlalu banyak pertanyaan dan ketika akhirnya sebuah sadar tersingkap, malang nian, keadaan manusia dunia sudah terlambat untuk diselamatkan.
.
Aku adalah seorang Ibu, gelar yang baru saja kusandang kurang lebih sebulan lalu melalui prosesi yang tak hanya sulit tapi juga tak terbayangkan. Semenjak hari kelahiran, diantara begitu banyak doa manis dan harapan baik yang hilir mudik membanjiri nafas si buah hati, aku justru melenggang sendiri dengan keyakinan dan juga mantra rapalanku. Aku terlalu linglung untuk memahami apa yang mereka doa dan harapkan untuk jiwa yang baru sekian jam menghirup udara bumi. Mereka membebani anakku dengan banyak harapan, sampai aku sendiri bingung doa apa yang harus aku tiupkan ditelinganya. Aku seperti masih dalam masa bius setelah proses melahirkan. Anakku datang dengan begitu tiba-tiba kendati aku mengandung dan merasainya selama 41minggu. Anakku datang dengan segala keterkejutan yang tak terduga. Butuh rasa sakit setara setruman bervolume mega diputing susu untuk menyadarkan bahwa aku telah menjadi seorang Ibu. Butuh tamparan sekeras yang kuterima hari ini untuk menyadarkan bahwa aku telah berekor, dan bukan manusia yang sama seperti yang kalian lihat sebelumnya.
.
Seseorang dengan segala tingkahnya telah menunjukkan sesuatu padaku hari ini, bahwa mungkin tak akan ada kata yang bisa mewakili isi doa dan harapan seorang Ibu. Andai semua kertas dan tinta diseluruh dunia dikumpulkanpun mungkin belum akan cukup untuk menggambarkannya. Karena pada dasarnya, setiap hela dan tarikan napas seorang Ibu tak lain dan tak bukan berisi untaian-untaian mantra. Jampi yang dilafalkan tanpa lagi memandang seperti apa ujud dan cara pengucapannya.
Seseorang itu telah menunjukkan padaku, dimana posisi nyataku hari ini. Obat bius pasca mengejan telah berakhir, dan kini yang tersisa hanya perasaan lega tanpa batas dan juga perasaan khawatir tiada jeda. Bagaimana jika rambut anakku tidak tumbuh setelah diplontos dihari ke 40nya ? Bagaimana jika bentol bekas gigitan nyamuk ditengkuknya mengoreng dan menimbulkan luka ? Bagaimana jika anakku besar dan tumbuh senakal masa kecilku ? Bagaimana jika ia tumbuh dan menjadi sebejat masa remajaku ? Harus kepada siapa aku menyalahkan semua cacat dan mungkin luka yang didapat oleh anakku ? Kepada siapa aku harus mengatakan bahwa sekecil apapun sakit yang dideritanya akan bergiga lipatnya terhadap yang kurasa. Kepada siapa aku harus menunjukkan bahwa kelak aku mungkin akan merasa sakit setara patah hati hanya untuk penolakan dari masakanku dibekal makan siangnya.
.
Aku masih dengan jelas mengingat seberapa keras perjuangan mengeluarkan kepala. Doa manis saja tidak akan cukup untuk menjadi bekalnya, untuk itulah aku membungkus anakku sedari detik ketika air ketuban meleleh dengan segenap nyawa.
.
Aku telah sebulan yang lalu memparaf tanda sah untuk disebut Ibu. Tapi baru hari ini jiwa itu menggeliat dan terbangun dari masa biusnya. Sekalipun aku masih tetap bingung untuk membentuk anakku dengan harapan yang seperti apa, aku berharap kelak ia akan melihat bahwa aku lebih menyayanginya ketimbang aku mengasihi denyut nadiku sendiri. Aku berharap ia akan paham, bahwa segala tindak dan tanduknya dimasa mendatang akan menjadi taruhan bagi kelangsungan hidupku. Tindak baiknya sekecil apapun akan melambungkanku pada titik diatas tinggi dan tingkah buruknya sekecil apapun akan mematah bahkan meremukkan tak hanya hati tapi juga jantungku.
.
.
Pertanyaan itu terjawab sudah. Tentang harus menjadi apa aku kelak untuk menggantikan keberadaan emak bagi adikku. Tidak ada yang bisa memberikan kasih sebesar dan setulus seorang Ibu. Sebesar apapun aku mencobanya.
Dan tentang pertanyaan seperti apa rasanya melahirkan, jika saja ada yang mempertanyakan itu..kuberitahu kalian kawan, pada detik aku tengah menyabung nyawa yang terus berputar didalam kepala adalah tentang sebuah kenapa. Kenapa aku pernah menjadi anak nakal ? Sebesar apa rasa kecewa yang harus kubayar untuk 24 tahun keberadaanku ?

Jumat, 12 Agustus 2016

Si Pengacau Jalan

Ia begitu tampan. Dengan rambutnya yang melebihi rata-rata patokan kaum adam. Bersamaan juga dengannya kulit yang membungkus seputih susu, dan mata itu..sejernih pualam. Entah dengan mantra apa, ia bisa menetaskan benih-benih rasa ketertarikan dan juga..keterikatan. Sekalipun aku sadar. Dan iapun tak menutupi bahwa dirinya bukanlah sejenis manusia yang bernafas dan berjalan.
.
.
.
.
.
Aku tengah dalam perjalanan menuju pulang sore itu. Kegilaanku pada sesuatu yang dulu kunamai cinta memboyong begitu banyak akal dan nalar. Bagaimana tidak, wajahnya begitu menyegarkan, dengan mata yang senantiasa tersenyum menawarkan bangku peristirahatan. Dan lengkung bibir yang tak pernah berhenti untuk terus mengundang, bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta ? Ia memiliki sejuta pesona. Memendam kagum hanya menelurkan kegilaan yang suatu masanya nanti merubah semua menjadi petaka.
.
Aku menamainya si makhluk dua huruf. Pada lalu yang telah lewat pernah kuceritakan pada kalian betapa ia adalah sosok yang sangat mempesona. Aku terjebak pada sorot senyum yang entah kenapa selalu bertengger di kedua pupil matanya. Aku, yang sebelumnya tak pernah merasakan jatuh pada jurang asmara, begitu kelimpungan mencari padanan kata untuk menyelaraskan euforia bahagia yang tengah kurasa hanya karena menatapi rautnya. Aku, yang sebelumnya hanya berjudi dengan dadu mainan, kali ini bertekad mengadunya dengan dadu berornamen unik dan bertahta berlian. Aku siap terjun. Aku siap bertandang. Yang lupa kusiapkan adalah hati untuk melihat kenyataan bahwa medan yang hendak dan siap ku terjuni adalah medan perang. Aku dengan mata butaku tak sempat memikirkan tentang jalan pulang. Kuayunkan segala teknik pemegangan samurai ditangan. Bekalku berhambur manis dilapangan tanpa sempat kusentuh dan kumakan. Pertarungan sengit yang meloloskan sebuah ketulusan. Ya, saat itu aku hanya bisa menarik satu simpul bernama ketulusan. Nama yang kurasa tepat untuk mengobati luka sisa-sisa perang dengan kekalahan ditangan. Aku bertekad akan mengikhlaskan.
.
.
.
Kegilaan menyembunyikan akal dan nalar. Tak pernah kutahu jika sore itu aku akan bisa melukai banyak mata dengan kedahagaan yang tengah kupuaskan. Kegilaan membuat kata ikhlas dan tulus terdengar seperti sampah saja. Aku rela mengantar si makhluk dua nama menapaki jalan terang, meski tak jauh didepan kami ada seseorang dengan tatap terluka yang lebih berhak mengantarnya, kunikmati setiap gelak tawa yang disuguhkannya, aku begitu rakus melahapi senyum yang tersaji bola matanya, menikmati semuanya seakan hanya itulah yang akan berhasil melepas dahaga dan kerontangku, seakan hanya itulah waktu yang kumiliki untuk bisa menikmatinya mengabaikan seseorang terus teriris didepan mataku, seakan hanya namanya yang akan mengenyangkanku. Dan, ujung jalan itupun terlihat, persimpangan terang yang memisahkan juga menyadarkan aku pada kenyataan. Jalan kami berbeda. Ia telah dimiliki. Kami tak digariskan untuk sejalan, bergandengan. Dan satu-satunya hal yang harus kulakukan adalah melambaikan tangan dan mengucap selamat tinggal.
.
.
.
.
.
Aku kembali pada realitaku, menapaki jalan pulang yang sebelumnya tak pernah kutahu dan kusadari akan begitu gelap dan menakutkan. Kenapa ujung persimpangan disana begitu terang ? Kenapa aku harus membalikkan badan sendiri jika tak yakin aku memiliki keberanian ? Tapi lagi-lagi kegilaan menuntunku, meyakinkan bahwa senyumnya sanggup menjadi bekal dan juga teman diperjalanan.
Gelap. Yang kulihat hanya gelap yang membelah disepanjang garis pemakaman. Kenapa berjalan dengannya bisa mengaburkan pandangan ? Bukankah tadi pemakaman itu tidak ada ? Atau, aku yang tak sanggup melihatnya ?
Dengan tekad menipis aku meyakinkan diri akan pulang. Aku bisa pulang. Aku berani pulang.
.
Kabut-kabut membumbung menyimpan mantra, kabut bergumul, menghadang dan
sebelum sempat kusadari, aku telah sengah jalan dalam sebuah tali ketertarikan. Ia begitu tampan, dengan rambutnya yang melebihi patokan rata-rata kaum adam. Bersamaan juga dengannya, kulit yang membungkus seputih susu, dan mata itu..sejernih pualam. Aku marah ketika tangan dinginnya mulai berani menjegal langkahku menuju pulang. Ada kejengkelan yang terasa kental, ketika lagi-lagi ia dalam bahasanya yang tak terucap berani menahanku agar tidak pulang. Ia pikir dirinya itu siapa ? Aku berhak pulang ! Aku tidak sepengecut itu untuk gentar menapaki kegelapan ! Bahkan sekalipun ia mengakui bahwa dirinya bukan dalam jenis manusia dan begitu tampan, aku tidak lantas tertarik dan ingin membelot dari tujuan awal. Aku ingin pulang. Aku ingin pulang. Aku ingin pulang.
.
.
Dalam kejengkelan yang kian meninggi, lamat-lamat aku mulai menyadari sesuatu. Rasa akrab yang sering menghampiri. Sebuah ketertarikan. Pada sosok dingin dan bisu itu ? Yang tak pernah berjalan dengan menyentuhkan kakinya ditanah itu ?
Oh tidak..siapapun tolong aku. Aku harus pulang. Siapapun namamu makhluk tampan, lepaskan aku untuk pulang.