"Duka tentangmu tak pernah dengan mudah tertuang dalam paragraf. Sekalipun aku pernah mencoba, lara itu tak pernah tersampaikan dengan begitu tepatnya.."
.
.
Adik berumur hampir sepuluh tahun, terlahir tepat ketika aku masih sepenuhnya buta tentang apa itu makna dari kata kakak dan tanggung jawab. Nyeri itu tumbuh dengan begitu pesatnya. Dan tak pernah meninggalkan mata ibu semenjak hari pertama kedatangannya didunia. Terkadang, aku bisa menemukan ibu dalam keadaan termenung, entah apa yang tengah di pikirkannya. Yang jelas, gambaran tentang adik tak pernah pergi dari bulatan retinanya. Ibu memikirkan tentang banyak hal, dan adik merajai separo lebih dari isi hati dan otaknya. Aku tak pernah iri dengan hal itu, karena bagiku, setelah ibu adalah adik yang patut masuk dalam daftar prioritasku. Kasih sayang ayah menaungi adik hingga kematiannya menjelang. Dan lagi-lagi aku tak merisaukan tentang hal itu. Adik lebih dari pantas untuk mendapatkan segalanya. Ia lebih dari sekedar pantas untuk mendapat kasih sayang semuanya, dan jika memungkinkan aku ingin menuangkan segala dayaku untuknya. Dunia tak pernah begitu baik untuk bisa menerima kehadiran adik. Terpojok, terkucil dan terkasihani adalah jaring yang selalu membuat mampat perasaanku. Tak ada tempat yang lebih aman dan nyaman ketimbang rumah, dan aku tak berani untuk sekedar membayangkan apa yang akan menjelang adik ketika nanti aku dan ibu telah berpulang. Menikah adalah angan tertinggi yang nyaris tak pernah ada dalam bayangan. Aku takut untuk sekedar memikirkan, akankah suatu hari nanti ada seseorang yang mau menerima adik selayaknya manusia normal. Perutku selalu melilit ketika mulai membayangkan masa depan adik. Sungguh memang, duka tentangnya tak pernah dengan begitu tepatnya tersampaikan. Sekalipun aku pernah mencoba, duka yang kugambarkan selalu hanya seperti bola yang memantul-mantul di tembok kamar. Tak pernah berhasil keluar dari ruang. Jaring yang selalu memampatkan perasaan. Ingin sekali aku mengurainya dalam sekali jadi. Menangisi apa yang tak pernah sanggup kugapai, mendekap apa yang tak pernah kupeluk sebelumnya. Adik adalah alasan kenapa mataku sanggup memanas tanpa meleleh setelahnya. Duka itu telah berubah ujud menjadi bola yang memantul-mantul tembok kamar. Dan aku terlalu bosan mendengar ngeri dan nyeri yang terus melolong meminta pertolongan untuk keluar.
Tentang adik tak pernah sesukses itu mendarat sebagai paragraf yang layak edar. Aku selalu merasa duka yang kutuliskan belum sepenuhnya bisa menggambarkan apa yang kulihat dan kudengar. Jemariku seakan kehilangan daya untuk bisa menyalurkan duka. Mantra yang dulu selalu kubanggakan, belum sekalipun berhasil menembus pertahanan adik. Dukanya tak pernah menemui celah keluar, kapanpun aku mencoba untuk bisa masuk dan merasainya barang sedikit saja, selalu berakhir pada keheningan. Hatiku selalu koyak memikirkan kegagalan. Untuk adikku aku gagal menjadi mata yang berguna. Untuk adikku aku gagal menjadi tangan yang memegang. Duka itu sungguh tak pernah dengan sukses untuk bisa dituangkan.
.
.
.
Tak terhitung berapa kali aku mencoba, tameng yang di lingkarkan oleh ayah belum sekalipun tertandingi pertahanannya. Mungkin karena memang ayah dan adik adalah sejenis. Hingga tak ada yang bisa menyaingi batas kasih keduanya. Andai saja ayah masih ada. Mungkin aku tak harus selinglung ini menghadapi kekosongan mata ibu ketika memandangi adik. Andai saja ayah masih ada. Mungkin aku tak harus sebingung ini menyikapi keberadaan adik. Karena memang adik dan ayah adalah sejenis. Tak ada yang bisa mengasihi adik sebesar ayah melakukannya. Dan mungkin, takkan ada yang bisa menyayangi ayah setuluh yang bisa adik berikan. Perimeter keduanya jauh dari jangkauan. Itulah kenapa setiap aku mencoba untuk menuliskan duka tentang keduanya selalu lepas dari pandangan, selalu ada yang kurang, selalu ada duka yang lolos dari rengkuhan. Karena ayah dan adik sama, andaikan keduanya masih bisa membagi kasih langkanya. Mungkin aku tak akan selinglung ini untuk bisa memperlakukan.
.
.
.
Tuhan tak pernah salah menakar kekurangan seseorang. Semuanya mendapat porsi pas sesuai jatah dan ukurannya. Dan kekuranganku adalah untuk lebih bisa meraba. Tentang ayah yang telah tiada. Tentang adik yang masih sering kulamunkan masa depannya. Aku tak pernah bisa menghadirkan apa-apa, bahkan untuk ibu yang telah mengandung dan memperjuangkanku. Aku tak pernah bisa menghadirkan apa-apa, terlebih untuk ayah yang sekarang tak bisa menikmati apapun selain hanya sebagai penonton pasif saja, sementara untuk adik, hal terjauh yang bisa kupikirkan untuknya adalah mencoba untuk terus ada. Sekalipun dukanya tak pernah berhasil keluar dari dalam ruang, sekalipun dukanya tak pernah berhasil tersampaikan dengan tepatnya. Setidaknya dengan aku ada, mungkin akan bisa dijadikannya alasan untuk tetap kuat dalam menghadapi dunia. Semoga.
Jumat, 03 Maret 2017
Minggu, 19 Februari 2017
Buku Tentang Berlayar
Andai hidup kita adalah sebuah buku. Aku akan mengawali lembar pertama dengan cerita tentang bagaimana kita bertemu. Lalu lembar selanjutnya akan menjadi saksi bagaimana kehidupan menakjubkan berlalu. Berdua kita berlayar ke sebuah pulau bernama pernikahan. Dan seperti di setiap buku lainnya, maka cerita perjalanan kita pun tak semulus yang terangankan. Selalu ada badai yang menyapa, selalu ada gerombolan perompak yang datang menyerang. Tapi lembar demi lembar telah terlalui dan kita tetap bersama. Ketika kisah kita adalah sebuah buku, maka sekian tahun yang kita lalui bersama adalah secuil jika dibandingkan ribuan lembar kosong di depan sana yang belum terisi dan akan terisi tentang cerita bagaimana perjalanan kita menua. Aku berharap buku ini hanya akan terisi oleh namamu hingga kata 'TAMAT' menyapa. Lembar cerita ketika kita memiliki bayi, semua tepat dengan anganku. Kebahagiaan tak terkira seperti menyerbu tanpa mengenal koma, spasi terlebih titik. Bayi kita memiliki mata indah seperti milikmu. Dan ketika aku memandanginya, maka aku akan menemukan tetesan cintamu di dalamnya.
.
Kau membuatku meresapi seperti apa itu indahnya sebuah dongeng. Sekalipun terdengar sedikit berlebihan, tapi sungguh kedatanganmu seperti kepingan-kepingan mimpi yang menjadi nyata. Mimpi tentang menemukan seorang pangeran, mimpi tentang diperlakukan sebagai puteri, dan entah fantasi mana lagi yang patut kusyukuri karena satu demi satu telah menjadi nyata.
Dan ketika sebuah dongeng mengutip kalimat bahwa kedatangan pangerannya adalah seperti malaikat yang di turunkan Tuhan untuk menjaga sang pemeran utama, maka dalam buku kita akan menjadi lain cerita. Aku selalu merasa engkau di ciptakan untuk menjadi penyeimbangku. Dalam beberapa titik kita mungkin tak akan pernah menyatu, saling mengejar dan melunakkan. Seperti itulah sebuah keseimbangan bekerja. Tak peduli seberapa menggelikannya kalimat berikut ini, tapi sungguh kau mungkin tak akan pernah tau betapa istimewanya dirimu. Aku berharap datang suatu hari nanti kesempatan dimana aku bisa membalas semua cinta dan kasihmu. Sementara yang kulakukan setiap hari adalah mencoba dan mencoba. Engkau patut mendapatkannya, kehidupan menakjubkan seperti milikku yang dihadiahkan olehmu. Sementara yang kurasa setiap hari adalah perasaan bahwa aku belum sesempurna yang mungkin engkau minta. Aku tak pernah menjadi sesempurna itu jika dihadapkan denganmu. Seperti itik buruk rupa yang tengah berkaca pada kejernihan sungai, maka seperti itulah aku selalu merasa adanya diriku, dengan engkau sebagai sungainya.
.
Secuil lembar buku terisi yang menggambarkan tentang cerita kita masih akan terlihat terlalu sedikit jika dibanding halaman-halaman kosong di belakangnya. Aku ingin menikmati, setiap lembaran dengan cermat tanpa harus terburu waktu, peran sebagai putri tak semua perempuan bisa berkesempatan mendapatkannya, sementara berani bersumpah, setiap perempuan pernah memimpikannya atau minimal memasukkannya dalam angan. Dan aku beruntung menjadi salah satu yang langka.
.
.
Jika hidup kita adalah sebuah buku, maka lembar pertama akan terisi cerita tentang bagaimana kita bertemu.
Dan bab terakhir akan berisi kutipan tentang bagaimana aku bersyukur untuk hidup yang kita miliki.
.
Sekalipun kalimat ini terasa sedikit menggelikan, tapi aku akan berkata dan terus berkata bahwa kau mungkin tak akan pernah tahu betapa istimewanya dirimu.
.
Dan harapan terakhir yang kupunya adalah semoga tiba satu hari nanti kesempatan untukku bisa membalas semua cinta, kasih dan kebaikanmu. Seseorang yang telah datang dari sekian banyak mimpi-mimpi. Bukan sejenis malaikat yang menyelamatkan, tapi lebih kepada penyeimbang untuk semua kekurangnormalanku.
Sementara yang kulakukan setiap hari adalah mencoba dan terus mencoba.
Tak ada yang terlalu berlebihan untuk sebuah cinta, sekalipun di hitung dari tahun kebersamaan kita masih akan terlalu awal untuk menyebut bahwa hidup milik kita ini menakjubkan, tapi mungkin tak apa jika aku menamainya dengan bahagia. Kebahagiaan tak terkira yang menyerbu seperti gelombang besar di tengah lautan. Terkadang aku harus menangis sendiri. Menyadari betapa berharganya pernikahan ini. Terkadang aku harus menangis sendiri. Menyadari betapa lemahnya pegangan tanganku pada kemudi. Hingga ketika badai menyapa, ketika gerombolan perompak menghadang, yang selalu merajai pikiran adalah tentang melepaskan. Aku akan mencoba dan terus mencoba, bersabar menanti hari di mana aku siap untuk bisa membalas semua kasihmu. Bersabar dan terus bersabar mengendalikan peganganku pada kemudi hingga akhirnya kata melepaskan tak pernah ada dalam judul buku kita.
.
Jika saja hidup kita adalah sebuah dongeng, maka kau adalah pangeran yang di takdirkan memahat perahu, sementara aku adalah puteri yang diskenariokan menjadi pahlawan di tengah perjalanan. Jadi teruntuk kalian yang berkesempatan menemui buku ini suatu hari nanti, jangan pertanyakan apa kegunaanku dan kenapa diawal cerita aku selalu menyusahkan. Sekian.
.
Kau membuatku meresapi seperti apa itu indahnya sebuah dongeng. Sekalipun terdengar sedikit berlebihan, tapi sungguh kedatanganmu seperti kepingan-kepingan mimpi yang menjadi nyata. Mimpi tentang menemukan seorang pangeran, mimpi tentang diperlakukan sebagai puteri, dan entah fantasi mana lagi yang patut kusyukuri karena satu demi satu telah menjadi nyata.
Dan ketika sebuah dongeng mengutip kalimat bahwa kedatangan pangerannya adalah seperti malaikat yang di turunkan Tuhan untuk menjaga sang pemeran utama, maka dalam buku kita akan menjadi lain cerita. Aku selalu merasa engkau di ciptakan untuk menjadi penyeimbangku. Dalam beberapa titik kita mungkin tak akan pernah menyatu, saling mengejar dan melunakkan. Seperti itulah sebuah keseimbangan bekerja. Tak peduli seberapa menggelikannya kalimat berikut ini, tapi sungguh kau mungkin tak akan pernah tau betapa istimewanya dirimu. Aku berharap datang suatu hari nanti kesempatan dimana aku bisa membalas semua cinta dan kasihmu. Sementara yang kulakukan setiap hari adalah mencoba dan mencoba. Engkau patut mendapatkannya, kehidupan menakjubkan seperti milikku yang dihadiahkan olehmu. Sementara yang kurasa setiap hari adalah perasaan bahwa aku belum sesempurna yang mungkin engkau minta. Aku tak pernah menjadi sesempurna itu jika dihadapkan denganmu. Seperti itik buruk rupa yang tengah berkaca pada kejernihan sungai, maka seperti itulah aku selalu merasa adanya diriku, dengan engkau sebagai sungainya.
.
Secuil lembar buku terisi yang menggambarkan tentang cerita kita masih akan terlihat terlalu sedikit jika dibanding halaman-halaman kosong di belakangnya. Aku ingin menikmati, setiap lembaran dengan cermat tanpa harus terburu waktu, peran sebagai putri tak semua perempuan bisa berkesempatan mendapatkannya, sementara berani bersumpah, setiap perempuan pernah memimpikannya atau minimal memasukkannya dalam angan. Dan aku beruntung menjadi salah satu yang langka.
.
.
Jika hidup kita adalah sebuah buku, maka lembar pertama akan terisi cerita tentang bagaimana kita bertemu.
Dan bab terakhir akan berisi kutipan tentang bagaimana aku bersyukur untuk hidup yang kita miliki.
.
Sekalipun kalimat ini terasa sedikit menggelikan, tapi aku akan berkata dan terus berkata bahwa kau mungkin tak akan pernah tahu betapa istimewanya dirimu.
.
Dan harapan terakhir yang kupunya adalah semoga tiba satu hari nanti kesempatan untukku bisa membalas semua cinta, kasih dan kebaikanmu. Seseorang yang telah datang dari sekian banyak mimpi-mimpi. Bukan sejenis malaikat yang menyelamatkan, tapi lebih kepada penyeimbang untuk semua kekurangnormalanku.
Sementara yang kulakukan setiap hari adalah mencoba dan terus mencoba.
Tak ada yang terlalu berlebihan untuk sebuah cinta, sekalipun di hitung dari tahun kebersamaan kita masih akan terlalu awal untuk menyebut bahwa hidup milik kita ini menakjubkan, tapi mungkin tak apa jika aku menamainya dengan bahagia. Kebahagiaan tak terkira yang menyerbu seperti gelombang besar di tengah lautan. Terkadang aku harus menangis sendiri. Menyadari betapa berharganya pernikahan ini. Terkadang aku harus menangis sendiri. Menyadari betapa lemahnya pegangan tanganku pada kemudi. Hingga ketika badai menyapa, ketika gerombolan perompak menghadang, yang selalu merajai pikiran adalah tentang melepaskan. Aku akan mencoba dan terus mencoba, bersabar menanti hari di mana aku siap untuk bisa membalas semua kasihmu. Bersabar dan terus bersabar mengendalikan peganganku pada kemudi hingga akhirnya kata melepaskan tak pernah ada dalam judul buku kita.
.
Jika saja hidup kita adalah sebuah dongeng, maka kau adalah pangeran yang di takdirkan memahat perahu, sementara aku adalah puteri yang diskenariokan menjadi pahlawan di tengah perjalanan. Jadi teruntuk kalian yang berkesempatan menemui buku ini suatu hari nanti, jangan pertanyakan apa kegunaanku dan kenapa diawal cerita aku selalu menyusahkan. Sekian.
Sabtu, 18 Februari 2017
Si Koi Merah Dan Jelaga Hitam
Ari pulang setelah sekian lama berada jauh dari jangkauan. Sebelumnya, tak terhitung berapa kali aku berdoa agar hari cepat berlalu supaya ujud Ari benar-benar terjangkau mata. Ari masih tetap sama, hangat dan menyala. Kepulangannya membawa sebuah bara baru, seperti yang selalu ia bawa ketika kepulangannya yang lalu dan dulu. Kepulangan Ari selalu di nanti, tak hanya olehku, tapi juga oleh semua anggota keluarga. Dan Hara adalah penanti termuda yang bahkan mungkin ia sendiri tak mengerti apa yang ia nanti. Dari semua buah tangan yang ia bawa, ada satu yang merisaukanku bahkan sebelum Ari benar-benar sampai rumah. Peliharaan barunya. Seekor ikan Koi berwarna merah bergaris putih yang besarnya mungkin sekitaran telapak tangan orang dewasa. Ari pernah berkata sebelumnya, bahwa peliharaan barunya tidak akan mempengaruhi apapun termasuk menyita waktu-waktu berharganya bersama Hara. Aku memang sudah memutuskan untuk rela. Kepada Ari yang mungkin akan sulit untuk berbagi adil kepadaku dan penghuni terkecil kami. Tak apa jika aku mulai tak lagi mendapatkan apa yang sudah menjadi jatah wajibku, kecupan ringan itu, tawa renyah itu, aku rela berbagi milikku hanya dengan Hara.
Dan si Koi kecil itu perlahan merenggut kepercayaanku. Waktu berkualitas yang dijanjikan Ari terlalui bersama ikan merah itu, Ari melupakan perjanjian bahwa ranjang adalah tempat sakral dan netral. Aku yang semula terpesona dengan Koi kecil itu perlahan muak. Ari melanggar janji, dan aku memutuskan ikut melanggarnya juga. Kepulangan Ari kali ini tak semenyala ketika kepulangannya yang lalu dan dulu. Karena ternyata, selain si Koi pengganggu, ada hal lain yang membuat sinarnya semakin meredup hampir padam. Sebuah kesalahpahaman yang tak mengenakkan. Terjadi pada hari-hari terakhir keberadaan Ari di rumah. Aku tak ingat persis kejadiannya, yang aku tahu saat itu kadar jenuhku tengah dalam skala menguat. Aku jenuh terhadap segalanya. Bahkan untuk sekedar menyunggingkan senyum atau memberi salam. Aku jenuh terhadap pernikahan kami yang tak pernah menghadapi guncangan berarti. Aku jenuh mengunyah isi dari kata-kata bijak tentang pernikahan yang ku ciptakan sendiri. Bahwa menyatukan banyak kepala ternyata sesulit meleburkan air dan minyak. Bahwa ternyata pernikahan sanggup mematikan salah satu sisi dari seseorang, memutasinya menjadi pribadi baru yang layak edar. Sementara aku, kerasnya hati dan kepalaku bersaing ketat dengan kerasnya kerikil di pekarangan rumah. Aku tak mau peduli jika kemasanku tak masuk standar menantu-menantu dan kakak ipar idaman. Aku tak mau peduli jika diriku ternyata tak layak edar. Aku akan bereaksi sesuatu mulai menggangguku. Aku akan diam ketika pengganggu itu mengendap terus di dasar lambung, tak bisa termuntahkan. Dan Ari tak menyukai itu. Ia memaksaku untuk membenahi diri, ia memaksaku untuk memasuki pasaran tanpa peduli jika kemasanku telah rusak terpapar keadaan. Satu lagi alasan untuk meredupkan nyala Ari. Dan kesalahpahaman itu menyisakan abu. Yang mungkin akan menempel sebagai jelaga dan tak akan pernah hilang. Ya, aku tak sepenuhnya setuju dengan adanya pemaksaan. Ide Ari untuk memasarkan produknya sebelum memantau kelayakan edar adalah sebuah kesalahan besar. Karena sekarang aku mulai mempertanyakan kejujuran dan cinta Ari. Mungkinkah pesaingku tidak hanya Hara ? Tapi ada nama-nama di luar sana yang meski aku tahu tapi tak mau kusebutkan siapa ? Mungkinkah di belakang, Ari hanya memegang tali kendaliku tanpa mau memilikinya ? Aku merasa hancur di kepulangan Ari kali ini. Kesalahpahaman tak mengenakkan itu meluluhkan sebagian dinding rasaku. Aku mulai meragu, takut yang dari dulu menghinggapi mulai menunjukkan dayanya. Aku bukanlah yang utama. Kesalahpahaman itu telah menunjukkan padaku bahwa aku memang bukanlah yang utama. Tak apa jika Hara yang mengambil alih separo jatahku, aku hanya tak pernah mau rela jika nama lain yang mengambilnya. Itu saja. Dan Ari tetap memaksakan kehendaknya. Jenuh yang semula berada diujung kepala mendadak luber dan menyalakan tombol tersembunyiku. Aku mengutuk kepulangan Ari kali ini, setelah rasa iri yang ditimbulkan Koi merah, lalu kesalahpahaman tak mengenakkan itu melengkapinya. Bak potongan bawang merah yang di tabur di atas semangkuk acar. Begitu pas dan sempurna.
.
Bara yang biasa dibawa pulang Ari, yang selalu kujelang dan kunanti, membakarku dalam seketika. Menyisakan abu dan jelaga yang keberadaannya mengekal di jurang sana. Aku tak lagi sama, perasaanku kepada Ari tak lagi sama. Jelaga itu menutupi separo kemurnian dan menelannya dalam hitam. Tak apa jika Hara adalah seseorang yang harus membuatku rela. Tapi tidak dengan nama yang lain. Ari dan pernikahan ini tak akan lagi sama. Aku hancur dalam pemaksaannya. Jenuh yang meluber telah mengenai sasaran dengan tepatnya. Aku bahkan ragu ataukah akan kembali berdoa untuk kepulangan Ari esok supaya hari berlalu dengan cepat seperti selalu ketika ia tengah jauh, Ari tak lagi hangat dan semenyala seperti sebelumnya. Dan aku kecewa.
Dan si Koi kecil itu perlahan merenggut kepercayaanku. Waktu berkualitas yang dijanjikan Ari terlalui bersama ikan merah itu, Ari melupakan perjanjian bahwa ranjang adalah tempat sakral dan netral. Aku yang semula terpesona dengan Koi kecil itu perlahan muak. Ari melanggar janji, dan aku memutuskan ikut melanggarnya juga. Kepulangan Ari kali ini tak semenyala ketika kepulangannya yang lalu dan dulu. Karena ternyata, selain si Koi pengganggu, ada hal lain yang membuat sinarnya semakin meredup hampir padam. Sebuah kesalahpahaman yang tak mengenakkan. Terjadi pada hari-hari terakhir keberadaan Ari di rumah. Aku tak ingat persis kejadiannya, yang aku tahu saat itu kadar jenuhku tengah dalam skala menguat. Aku jenuh terhadap segalanya. Bahkan untuk sekedar menyunggingkan senyum atau memberi salam. Aku jenuh terhadap pernikahan kami yang tak pernah menghadapi guncangan berarti. Aku jenuh mengunyah isi dari kata-kata bijak tentang pernikahan yang ku ciptakan sendiri. Bahwa menyatukan banyak kepala ternyata sesulit meleburkan air dan minyak. Bahwa ternyata pernikahan sanggup mematikan salah satu sisi dari seseorang, memutasinya menjadi pribadi baru yang layak edar. Sementara aku, kerasnya hati dan kepalaku bersaing ketat dengan kerasnya kerikil di pekarangan rumah. Aku tak mau peduli jika kemasanku tak masuk standar menantu-menantu dan kakak ipar idaman. Aku tak mau peduli jika diriku ternyata tak layak edar. Aku akan bereaksi sesuatu mulai menggangguku. Aku akan diam ketika pengganggu itu mengendap terus di dasar lambung, tak bisa termuntahkan. Dan Ari tak menyukai itu. Ia memaksaku untuk membenahi diri, ia memaksaku untuk memasuki pasaran tanpa peduli jika kemasanku telah rusak terpapar keadaan. Satu lagi alasan untuk meredupkan nyala Ari. Dan kesalahpahaman itu menyisakan abu. Yang mungkin akan menempel sebagai jelaga dan tak akan pernah hilang. Ya, aku tak sepenuhnya setuju dengan adanya pemaksaan. Ide Ari untuk memasarkan produknya sebelum memantau kelayakan edar adalah sebuah kesalahan besar. Karena sekarang aku mulai mempertanyakan kejujuran dan cinta Ari. Mungkinkah pesaingku tidak hanya Hara ? Tapi ada nama-nama di luar sana yang meski aku tahu tapi tak mau kusebutkan siapa ? Mungkinkah di belakang, Ari hanya memegang tali kendaliku tanpa mau memilikinya ? Aku merasa hancur di kepulangan Ari kali ini. Kesalahpahaman tak mengenakkan itu meluluhkan sebagian dinding rasaku. Aku mulai meragu, takut yang dari dulu menghinggapi mulai menunjukkan dayanya. Aku bukanlah yang utama. Kesalahpahaman itu telah menunjukkan padaku bahwa aku memang bukanlah yang utama. Tak apa jika Hara yang mengambil alih separo jatahku, aku hanya tak pernah mau rela jika nama lain yang mengambilnya. Itu saja. Dan Ari tetap memaksakan kehendaknya. Jenuh yang semula berada diujung kepala mendadak luber dan menyalakan tombol tersembunyiku. Aku mengutuk kepulangan Ari kali ini, setelah rasa iri yang ditimbulkan Koi merah, lalu kesalahpahaman tak mengenakkan itu melengkapinya. Bak potongan bawang merah yang di tabur di atas semangkuk acar. Begitu pas dan sempurna.
.
Bara yang biasa dibawa pulang Ari, yang selalu kujelang dan kunanti, membakarku dalam seketika. Menyisakan abu dan jelaga yang keberadaannya mengekal di jurang sana. Aku tak lagi sama, perasaanku kepada Ari tak lagi sama. Jelaga itu menutupi separo kemurnian dan menelannya dalam hitam. Tak apa jika Hara adalah seseorang yang harus membuatku rela. Tapi tidak dengan nama yang lain. Ari dan pernikahan ini tak akan lagi sama. Aku hancur dalam pemaksaannya. Jenuh yang meluber telah mengenai sasaran dengan tepatnya. Aku bahkan ragu ataukah akan kembali berdoa untuk kepulangan Ari esok supaya hari berlalu dengan cepat seperti selalu ketika ia tengah jauh, Ari tak lagi hangat dan semenyala seperti sebelumnya. Dan aku kecewa.
Jumat, 17 Februari 2017
Catatan Si Penyu Cacat
Seekor penyu tengah dalam masa bimbangnya. Termangu sendiri di atas pasir tak jauh dari pohon kelapa roboh yang akarnya terkopyok isi lautan. Tak pernah sekalipun hadir bahkan dalam bayangan ia akan dihantam gelombang seganas kemarin petang. Semuanya datang tanpa dulu mengucap salam, melahap semua yang ada. Dan menelannya dalam sekali jadi.
.
.
.
Suara gemuruh yang menguat seiring dengan semilir angin yang kian tak wajar mendatangiku sore itu, aku dan beberapa kawananku tengah menikmati pasir hangat sisa panggangan siang. Beberapa kepiting melewati kerumunan kawananku dan menawarkan untuk berbagi makanan mereka. Dan tepat ketika para kepiting tengah membuka kotak bekal adalah saat terakhir aku mendengar suara. Karena seperti yang telah kukatakan sebelumnya, gelombang besar datang tanpa salam permisi, tak sempat bagi kami untuk meneriakkan kekagetan, mulut-mulut tersumpal air yang mengguyur lalu menenggelamkan. Suara kami terendam didalamnya. Lima belas menit yang terasa seperti selamanya. Aku dan kawananku memang tidak seberuntung itu untuk bisa bertahan dari amukan gelombang. Belum saatnya bagi tubuhku dan kawananku untuk bisa bertahan di dalam air. Belum saatnya. Tapi garis tak mengerti kata belum, ia tetap memaksaku dan kawananku untuk tenggelam dan sekian kali terhantam pepohonan. Gelombang mengerikan.
.
Dan pagi ini, matahari membangunkanku layaknya kecupan seorang Ibu. Pantai yang terlihat seperti bak sampah adalah hal pertama yang kusadari, dan kemudian, aku masih hidup. Sendiri. Tawa meledak diantara tangisku yang menderai. Aku terlalu bingung untuk berkata-kata, akankah aku harus berbahagia atau sebaliknya. Sejauh mata memandang belum kudapati tanda-tanda bahwa semua kawananku seberuntung aku, hidup setelah gelombang besar memaksa bertamu. Aku benaran tidak tahu apa yang tengah merasukiku, sekian waktu setelah tawa usai meledak, yang kulakukan adalah terpaku memandang nanar sekitar. Entah kepada siapa aku harus bertanya. Sementara ketika mataku menabrak sinar mentari saat itulah aku merasakan sesuatu terasa sangat kuat di dalam cangkangku. Sebuah nyeri tak terkira. Mungkin kakiku patah ketika terhantam di tengah gelombang atau apa, aku belum bisa merasai sepenuhnya. Hanya nyeri di titik itu yang merajai seluruh tubuhku. Kulihat cangkangku rusak, seperempat bagian atasnya robek dan memperlihatkan isinya. Kembali mataku memanas karenanya. Aku benar-benar bingung antara harus bersyukur atau mengeluh atas keadaanku.
.
.
Wahai Tuhan yang selalu melihat. Dimanakah Kau ketika air itu tengah menelanku dan juga kawananku ? Lalu apakah ini sebuah lelucon ? Aku terselamatkan hanya seorang diri, dimana kawananku ? Bukankah mereka juga sebaik diriku ? Lalu kenapa hanya aku yang mendapati kesempatan untuk melihat lagi dunia ? Rumahku rusak, separo badanku terlihat dari luar, dan entah engsel sebelah mana yang tak dapat lagi berfungsi seperti sebelumnya. Aku terlalu takut untuk memeriksa, aku tak siap menghadapi diriku yang tak lagi utuh sebelumnya.
.
.
Sore menjelang dengan begitu cepat, aku masih terpaku di tempat pertamaku membuka mata. Dan memang tak ada siapapun yang ku lihat hidup sepanjang hari ini, kecuali beberapa gagak yang mengitari pantai dan meneriakkan dendang pilu. Lewat mulutnya akan tersiar kabar kepada seluruh penghuni alam bahwa sebuah gelombang telah meluluh lantahkan sebuah kawasan, bahwa aroma kematian tercium dari segala sudut, bahwa mungkin para penghuni alam perlu berkabung sejenak untuk memanjatkan doa bagi para penghuni yang telah berpindah alam. Yang lupa gagak sampaikan kepada seluruh penghuni alam adalah bahwa ternyata gelombang mengerikan itu masih menyisakan aku. Seekor penyu berumur hitungan jari, dengan cangkang yang pecah disana sini, dan juga cacat.
.
.
Aku tak berani menatap bayanganku yang terpantul dari sinar matahari, petang beberapa jam lagi akan datang. Dan aku masih tak memiliki niat untuk beranjak. Jika garis memintaku untuk menikmati hidup sekali lagi, maka akan kuhabiskan masa itu hingga remah-remahnya. Sayup-sayup kudengar di kejauhan suara debur ombak yang entah kenapa terasa sangat empuk dan merdu. Sampah teronggok di setiap jengkal pasir, tak hanya sampah manusia tapi juga sampah sisa-sisa alam. Dedaunan kering, patahan ranting, pohon tercerabut, semuanya memperlihatkan duka dan duka. Aku tak tahu, mungkin kawananku ada diantara tumpukan sampah-sampah itu, mungkin juga tertimbun pasir, atau mungkin terbawa arus. Membayangkan tentang hidup adalah hal mengerikan yang kurasakan saat ini. Keindahan, harapan, mimpi, semua mengepakkan sayapnya seketika. Pergi menjemput cakrawala yang konon lebih menjanjikan ketimbang seluruh isi dunia.
Menyisakan aku sendiri, bahkan para gagakpun tak berhasil melacak denyut hidupku. Seekor penyu berumur hitungan jari dengan cangkang retak dan cacat.
.
.
.
Suara gemuruh yang menguat seiring dengan semilir angin yang kian tak wajar mendatangiku sore itu, aku dan beberapa kawananku tengah menikmati pasir hangat sisa panggangan siang. Beberapa kepiting melewati kerumunan kawananku dan menawarkan untuk berbagi makanan mereka. Dan tepat ketika para kepiting tengah membuka kotak bekal adalah saat terakhir aku mendengar suara. Karena seperti yang telah kukatakan sebelumnya, gelombang besar datang tanpa salam permisi, tak sempat bagi kami untuk meneriakkan kekagetan, mulut-mulut tersumpal air yang mengguyur lalu menenggelamkan. Suara kami terendam didalamnya. Lima belas menit yang terasa seperti selamanya. Aku dan kawananku memang tidak seberuntung itu untuk bisa bertahan dari amukan gelombang. Belum saatnya bagi tubuhku dan kawananku untuk bisa bertahan di dalam air. Belum saatnya. Tapi garis tak mengerti kata belum, ia tetap memaksaku dan kawananku untuk tenggelam dan sekian kali terhantam pepohonan. Gelombang mengerikan.
.
Dan pagi ini, matahari membangunkanku layaknya kecupan seorang Ibu. Pantai yang terlihat seperti bak sampah adalah hal pertama yang kusadari, dan kemudian, aku masih hidup. Sendiri. Tawa meledak diantara tangisku yang menderai. Aku terlalu bingung untuk berkata-kata, akankah aku harus berbahagia atau sebaliknya. Sejauh mata memandang belum kudapati tanda-tanda bahwa semua kawananku seberuntung aku, hidup setelah gelombang besar memaksa bertamu. Aku benaran tidak tahu apa yang tengah merasukiku, sekian waktu setelah tawa usai meledak, yang kulakukan adalah terpaku memandang nanar sekitar. Entah kepada siapa aku harus bertanya. Sementara ketika mataku menabrak sinar mentari saat itulah aku merasakan sesuatu terasa sangat kuat di dalam cangkangku. Sebuah nyeri tak terkira. Mungkin kakiku patah ketika terhantam di tengah gelombang atau apa, aku belum bisa merasai sepenuhnya. Hanya nyeri di titik itu yang merajai seluruh tubuhku. Kulihat cangkangku rusak, seperempat bagian atasnya robek dan memperlihatkan isinya. Kembali mataku memanas karenanya. Aku benar-benar bingung antara harus bersyukur atau mengeluh atas keadaanku.
.
.
Wahai Tuhan yang selalu melihat. Dimanakah Kau ketika air itu tengah menelanku dan juga kawananku ? Lalu apakah ini sebuah lelucon ? Aku terselamatkan hanya seorang diri, dimana kawananku ? Bukankah mereka juga sebaik diriku ? Lalu kenapa hanya aku yang mendapati kesempatan untuk melihat lagi dunia ? Rumahku rusak, separo badanku terlihat dari luar, dan entah engsel sebelah mana yang tak dapat lagi berfungsi seperti sebelumnya. Aku terlalu takut untuk memeriksa, aku tak siap menghadapi diriku yang tak lagi utuh sebelumnya.
.
.
Sore menjelang dengan begitu cepat, aku masih terpaku di tempat pertamaku membuka mata. Dan memang tak ada siapapun yang ku lihat hidup sepanjang hari ini, kecuali beberapa gagak yang mengitari pantai dan meneriakkan dendang pilu. Lewat mulutnya akan tersiar kabar kepada seluruh penghuni alam bahwa sebuah gelombang telah meluluh lantahkan sebuah kawasan, bahwa aroma kematian tercium dari segala sudut, bahwa mungkin para penghuni alam perlu berkabung sejenak untuk memanjatkan doa bagi para penghuni yang telah berpindah alam. Yang lupa gagak sampaikan kepada seluruh penghuni alam adalah bahwa ternyata gelombang mengerikan itu masih menyisakan aku. Seekor penyu berumur hitungan jari, dengan cangkang yang pecah disana sini, dan juga cacat.
.
.
Aku tak berani menatap bayanganku yang terpantul dari sinar matahari, petang beberapa jam lagi akan datang. Dan aku masih tak memiliki niat untuk beranjak. Jika garis memintaku untuk menikmati hidup sekali lagi, maka akan kuhabiskan masa itu hingga remah-remahnya. Sayup-sayup kudengar di kejauhan suara debur ombak yang entah kenapa terasa sangat empuk dan merdu. Sampah teronggok di setiap jengkal pasir, tak hanya sampah manusia tapi juga sampah sisa-sisa alam. Dedaunan kering, patahan ranting, pohon tercerabut, semuanya memperlihatkan duka dan duka. Aku tak tahu, mungkin kawananku ada diantara tumpukan sampah-sampah itu, mungkin juga tertimbun pasir, atau mungkin terbawa arus. Membayangkan tentang hidup adalah hal mengerikan yang kurasakan saat ini. Keindahan, harapan, mimpi, semua mengepakkan sayapnya seketika. Pergi menjemput cakrawala yang konon lebih menjanjikan ketimbang seluruh isi dunia.
Menyisakan aku sendiri, bahkan para gagakpun tak berhasil melacak denyut hidupku. Seekor penyu berumur hitungan jari dengan cangkang retak dan cacat.
Kamis, 26 Januari 2017
Penyu Kecil
Pagi menyambut dengan sangat cerahnya. Aroma harum pasir mengundang siapapun untuk menggerakkan kaki, mulai berlari. Hari ini adalah detik pertamaku melihat dunia. Menurut cerita yang pernah ku curi dengar ketika beberapa burung lewat di atas cangkang telurku, bahwa dunia yang kelak kutapaki adalah sesuatu yang menakjubkan. Aku tak tahu akan semenakjubkan apa, sementara selama ini berada dalam dekapan cangkang telur adalah hal terindah yang pernah kutemui. Dan hari ini aku melihatnya, untuk kali pertama betapa mewahnya dunia baruku. Siraman mentari pagi adalah sarapan yang sangat pas, terlebih bersanding dengan debur air asin yang luas menghampar di depan sana. Aku bahagia. Untuk dunia yang belum ku tahu seperti apa isinya. Aku bahagia, karena hari istimewa ini akhirnya mendatangiku. Bersama semangat yang di salurkan lewat debur ombak di depan sana, aku bersiap. Tak akan ada yang bisa menghentikan langkahku. Si penyu kecil di pinggiran pantai, yang menanti masa depannya juga akan seindah mimpi-mimpinya.
Sabtu, 21 Januari 2017
Penyihir Malang
Seorang penyihir tengah dalam masa dukanya. Burung hantu yang selalu ada disampingnya kini telah tiada. Terlahap api yang membakar tidak hanya kandang tapi juga rumah majikannya. Sungguh bukan hari yang baik. Penyihir malang kehilangan segalanya, dari mulai hunian yang nyaman, buku-buku mantra, jubah favorit hingga tongkat sakti yang selama ini menjadi perpanjangan tangannya. Tak ada yang tersisa, bahkan kekuatannya. Duka telah mengisap segala termasuk kebahagiaan yang menjadi sumber dari semua kekuatan sihirnya. Dan burung hantu itu, teramat berharga. Mungkin tak apa jika si api hanya melalap hunian dan barang-barang miliknya. Tapi burung hantu itu, makhluk menggemaskan yang telah ia angkat layaknya seorang anak. Duka itu bersumber darinya. Bukankah tidak ada kata yang bisa menggambarkan sepahit apa duka seorang Ibu ketika harus ditinggalkan anaknya ? Sungguh penyihir malang.
.
.
.
Hari berlalu dan penyihir malang tengah beradaptasi dengan kehidupan barunya. Ia harus berlarian di dalam rumah hampir separo malam untuk mengusir tikus-tikus yang berlarian di lantai dan atap rumahnya. Ia harus menyalakan tungku perapian untuk menghangatkan lagi masakannya sebelum menjadi basi. Ia bahkan harus bersusah payah merakit tangga untuk ia gunakan menutup celah di antara dinding kayunya yang bergeser. Hal-hal kecil yang dulu menurutnya remeh dan jentikan tongkat saktinya selalu bisa membantunya dalam sekejap mata. Dan kini, semuanya tak akan memperbaiki dirinya sendiri tanpa penyihir itu bertindak dan melakukannya. Waktu berlalu dengan sangat hampa, ia tak mau mengingat apa saja hal hilang yang menyangkut burung hantu kesayangannya. Itu hanya akan membuat lukanya kembali terbuka, sekalipun duka lama tak sekalipun beranjak dari tempatnya. Dentang mulut kapak yang beradu dengan kayu adalah salah satu musik tersisa yang kini bisa ia nikmati, keringat tak pernah sederas ketika sebelum ia kehilangan kemampuannya. Dan secara perlahan penyihir malang menikmati jalannya. Benar adanya jika ada pepatah yang berkata bahwa garis hidup manusia sejalan dengan berputarnya bumi ini. Sesuatu yang awalnya terlihat sebagai musibah tak lain dan tak bukan adalah jenis bahagia yang tengah melemparkan sebuah canda. Tuhan memiliki selera humor, dalam ketentuannya, duka adalah jenis masakan baru yang patut dicoba. Setidaknya, itulah yang tengah penyihir malang terapkan dalam pemikirannya. Ketika hidup mulai menyodorkan sepiring luka maka sendoki mereka tanpa menghiraukan rasanya.
.
.
.
Hidup penyihir malang pernah dalam masa emasnya. Apa yang disebut dongeng oleh manusia biasa adalah kehidupan normal yang dijalaninya. Apa yang di sebut keajaiban oleh manusia lainnya adalah hal biasa yang sehari-hari ditelannya. Dan kalimat 'Pada zaman dahulu ' itu bukanlah keterangan waktu yang valid; lalu 'Dikerajaan yang sangat jauh' itu bukan nama tempat yang benar-benar eksis di peta dunia. Kehidupan dongengnya yang overdosis telah berakhir dalam sekejap mata. Menelan semua dalam bara yang berkobar dalam waktu sekian jam saja. Menyisakan sepotong sesal dan beberapa remahan nikmat.
.
Sesal karena penyihir malang lupa menyisakan bahagia barang sejumput saja agar setidaknya ia masih punya kekuatan untuk mengembalikan tongkat sihirnya. Sesal karena ketika kehidupan dongengnya masih berjalan ia terlalu malas untuk menikmatinya. Sesal untuk beberapa kenangan berharga yang lupa ia mantrai agar tak membasi di dalam kepala. Sesal untuk kehidupan dongeng yang lupa ia rekam sebelum api menyambar.
Bunyi mulut kapak yang beradu dengan kulit kayu bukanlah lagi satu-satunya musik yang tersisa. Karena kini penyihir malang menyadari hal baru, sesuatu yang melebihi kecanggihan bola kristalnya, sesuatu yang melebihi kekuatan tongkat sihir kesayangannya. Yakni intuisinya sebagai seorang manusia. Ia seperti menemukan tombol untuk menarikan semua termasuk udara. Tubuhnya mengerti apa yang ia perintahkan. Niatnya menggerakan segalanya. Dan alam sekitar perlahan bersinkron dengan raga dan juga jiwanya.
.
Api memiliki cara tersendiri untuk menumpahkan hasratnya, bara memiliki gerak favorit untuk menemukan puncak menyalanya. Dan penyihir malang membutuhkan sebuah tamparan untuk memahami suatu hal. Kehidupan dongeng yang dulu ia sampahkan mendadak memiliki fungsi. Remahan nikmat itu adalah jenis syukur yang dulu lup ia panjatkan. Remahan nikmat itu adalah jenis keajaiban yang meletuskan diri menjadi sekecil dan sebanyak percikan kembang api. Remahan nikmat itu adalah paragraf ini. Tulisanku tidak akan tercipta tanpa lebih dulu ada ledakan api. Dan nasibku semalang penyihir satu itu. Yang tengah memunguti pelajaran dari setiap ada ledakan. Penyihir itu lebih beruntung hanya melewati satu kebakaran kendati karena itu ia harus merelakan segalanya. Aku berkali-kali mengalami. Api itu sering menyapaku. Namun aku tak pernah sadar, jikalau api datang membawa sebuah pengajaran agar aku bisa lebih mengerti dan bersabar. Dua makhluk malang. Si penyihir malang dan satunya manusia gagal.
.
.
.
Hari berlalu dan penyihir malang tengah beradaptasi dengan kehidupan barunya. Ia harus berlarian di dalam rumah hampir separo malam untuk mengusir tikus-tikus yang berlarian di lantai dan atap rumahnya. Ia harus menyalakan tungku perapian untuk menghangatkan lagi masakannya sebelum menjadi basi. Ia bahkan harus bersusah payah merakit tangga untuk ia gunakan menutup celah di antara dinding kayunya yang bergeser. Hal-hal kecil yang dulu menurutnya remeh dan jentikan tongkat saktinya selalu bisa membantunya dalam sekejap mata. Dan kini, semuanya tak akan memperbaiki dirinya sendiri tanpa penyihir itu bertindak dan melakukannya. Waktu berlalu dengan sangat hampa, ia tak mau mengingat apa saja hal hilang yang menyangkut burung hantu kesayangannya. Itu hanya akan membuat lukanya kembali terbuka, sekalipun duka lama tak sekalipun beranjak dari tempatnya. Dentang mulut kapak yang beradu dengan kayu adalah salah satu musik tersisa yang kini bisa ia nikmati, keringat tak pernah sederas ketika sebelum ia kehilangan kemampuannya. Dan secara perlahan penyihir malang menikmati jalannya. Benar adanya jika ada pepatah yang berkata bahwa garis hidup manusia sejalan dengan berputarnya bumi ini. Sesuatu yang awalnya terlihat sebagai musibah tak lain dan tak bukan adalah jenis bahagia yang tengah melemparkan sebuah canda. Tuhan memiliki selera humor, dalam ketentuannya, duka adalah jenis masakan baru yang patut dicoba. Setidaknya, itulah yang tengah penyihir malang terapkan dalam pemikirannya. Ketika hidup mulai menyodorkan sepiring luka maka sendoki mereka tanpa menghiraukan rasanya.
.
.
.
Hidup penyihir malang pernah dalam masa emasnya. Apa yang disebut dongeng oleh manusia biasa adalah kehidupan normal yang dijalaninya. Apa yang di sebut keajaiban oleh manusia lainnya adalah hal biasa yang sehari-hari ditelannya. Dan kalimat 'Pada zaman dahulu ' itu bukanlah keterangan waktu yang valid; lalu 'Dikerajaan yang sangat jauh' itu bukan nama tempat yang benar-benar eksis di peta dunia. Kehidupan dongengnya yang overdosis telah berakhir dalam sekejap mata. Menelan semua dalam bara yang berkobar dalam waktu sekian jam saja. Menyisakan sepotong sesal dan beberapa remahan nikmat.
.
Sesal karena penyihir malang lupa menyisakan bahagia barang sejumput saja agar setidaknya ia masih punya kekuatan untuk mengembalikan tongkat sihirnya. Sesal karena ketika kehidupan dongengnya masih berjalan ia terlalu malas untuk menikmatinya. Sesal untuk beberapa kenangan berharga yang lupa ia mantrai agar tak membasi di dalam kepala. Sesal untuk kehidupan dongeng yang lupa ia rekam sebelum api menyambar.
Bunyi mulut kapak yang beradu dengan kulit kayu bukanlah lagi satu-satunya musik yang tersisa. Karena kini penyihir malang menyadari hal baru, sesuatu yang melebihi kecanggihan bola kristalnya, sesuatu yang melebihi kekuatan tongkat sihir kesayangannya. Yakni intuisinya sebagai seorang manusia. Ia seperti menemukan tombol untuk menarikan semua termasuk udara. Tubuhnya mengerti apa yang ia perintahkan. Niatnya menggerakan segalanya. Dan alam sekitar perlahan bersinkron dengan raga dan juga jiwanya.
.
Api memiliki cara tersendiri untuk menumpahkan hasratnya, bara memiliki gerak favorit untuk menemukan puncak menyalanya. Dan penyihir malang membutuhkan sebuah tamparan untuk memahami suatu hal. Kehidupan dongeng yang dulu ia sampahkan mendadak memiliki fungsi. Remahan nikmat itu adalah jenis syukur yang dulu lup ia panjatkan. Remahan nikmat itu adalah jenis keajaiban yang meletuskan diri menjadi sekecil dan sebanyak percikan kembang api. Remahan nikmat itu adalah paragraf ini. Tulisanku tidak akan tercipta tanpa lebih dulu ada ledakan api. Dan nasibku semalang penyihir satu itu. Yang tengah memunguti pelajaran dari setiap ada ledakan. Penyihir itu lebih beruntung hanya melewati satu kebakaran kendati karena itu ia harus merelakan segalanya. Aku berkali-kali mengalami. Api itu sering menyapaku. Namun aku tak pernah sadar, jikalau api datang membawa sebuah pengajaran agar aku bisa lebih mengerti dan bersabar. Dua makhluk malang. Si penyihir malang dan satunya manusia gagal.
Minggu, 01 Januari 2017
Si Ratu Tak Tahu Diri
Hari ini aku melakukan kesalahan, yakni dengan membiarkan Ari mendengar keluhan tentang betapa lelahnya menjadi seorang Ibu. Gelar yang baru kusandang sekitaran tiga bulan yang lalu. Aku masih ingat bagaimana riangnya dulu ketika dipagi hari melihat tanda strip di alat pengecek kehamilan. Sesuatu telah datang, sesuatu yang sangat dinantikan oleh Ari dan bukan olehku. Pagi itu aku berbahagia karena berhasil memberikan satu alasan untuk Ari merasa bahagia. Ia telah lama mendamba, sementara aku..responku sewarna abu yang teronggok didepan tungku. Siapkah aku ?
Hari-hari terlalui dengan semangat baru. Dan mau tidak mau aku ikut mengantisipasi jenis kebahagiaan apa yang tengah menanti. Ari melunakkan diri, menjadi abdi yang siap melayani kapanpun aku memanggilnya. Awalnya terasa aneh, tapi kemudian aku menikmati..kapan lagi bisa mendapat kesempatan diperlakukan sebagai ratu ? Dan Ari begitu teliti terhadap segalanya. Ia memberi porsi lebih dalam setiap aspek yang jujur saja, hal itu justru menjadikanku si ratu kurang ajar dan tak tahu diri. Di kesempatan yang lain ingin rasanya aku memeluk Ari untuk menuntaskan rasa bersyukurku karena memiliki kesempatan begitu dimanja olehnya. Ari menularkan bahagianya.
.
Hari kelahiran merupakan malam terkompleks yang pernah aku dan Ari lalui. Aku tidak pernah melihat Ari sesigap itu, aku tidak pernah melihat Ari sepanik itu. Dan perasaan melahirkan tentu saja sesuatu yang sangat emosional untuk diceritakan. Tak ada sakit dan bahagia yang pernah terlalui dengan sebegitu dramatisnya selain malam itu. Bukan lagi tangis yang mengiringi melainkan pasrah yang menemani. Aku menyerahkan semua kepada pembuatku. Sekalipun berpisah dari Ari adalah sesuatu yang tak akan pernah tersiapkan sampai kapanpun, tapi malam itu aku telah merelakan. Lagi-lagi Ari dengan begitu telaten menemani detik-detik menegangkan itu. Kueratkan genggaman tanganku, dan ia membalasnya dengan berlipat lagi mengeratkan genggamannya. Malam itu kami sama-sama menguatkan.
Dalam kepasrahan total, tak sedikitpun kutangkap ragu dari bola mata Ari. Keyakinannya telah ikut mengeluarkan kepala si kecil untuk segera melihat dunia. Di penghujung perjuangan lagi-lagi perasaanku terkopyok ketika melihat Ari begitu bahagia. Ia tak pernah terlihat sebahagia itu sebelumnya. Pertanyaan yang dulu pernah ada terjawab sudah. Aku belum siap. Aku belum siap. Bahagia datang bak air bah di tengah kerontang. Aku tak bisa berenang, aku takut tenggelam. Bersyukur Ari ada untuk berbagi nafas ketika air bah itu benar-benar mengguyur. Tak ada kata yang ingin ku ucap saat itu selain memberikan sebuah pelukan dan satu sisipan kata maaf, untuk Ari karena telah berani menyalah gunakan kekuasaan sebagai ratu dimasa-masa setelah pernikahan dan masa kehamilan dulu. Bahagia merubah Ari menjadi manusia tanpa tulang. Dari abdi yang siap melayani, menjadi abdi yang bersiap pula untuk mati. Ia rela menanggalkan segalanya, keegoisannya, rasa malas dan juga jijiknya. Sesuatu yang hingga hari ini terpatri kuat diingatan sebagai lonceng agar aku tetap ingat bahwa Ari adalah anugerah yang patut disyukuri keberadaannya.
.
.
Melihat kesigapan Ari dan juga ketulusannya mengabdi, membuat ratu tak tahu diri ini mulai memikirkan untuk bersiap diri. Jika Ari saja rela melepas segalanya demi merangkul sebuah bahagia, kenapa aku harus menahan diri untuk tidak terjun ke dalamnya ? Aku harus bersiap. Dan bahagia yang mendera mengepak koper dengan kecepatan ekstra, membuatku bersiap seketika. Dan jawaban tempo lalu berubah hari itu. Aku siap. Untuk Ari yang telah rela terjaga sampai pagi dimalam kelahiran, untuk Ari yang telah rela menundukkan segala rasa juga aroma demi kenyamananku, untuk Ari yang telah bersiap lebih dulu, dan untuk si kecil yang tengah menanti uluran tanganku.
.
.
.
Hari ini, dengan membiarkan Ari mendengar keluhan membuatku merasa sangat buruk. Dimana kesiapan yang dulu pernah kubisikkan melalui ujung malam ? Dimana kesiapan itu ? Jika memang ia ada kenapa hari ini aku masih mengeluh ? Siapkah sebenarnya aku ?
.
Mungkin Ari benaran harus pulang kali ini. Perasaan ini membuncah setiap kali aku mengingatnya. Aku menangis ketika memiliki lagi kesempatan untuk mengaduh. Aku harus menuntaskan hutang yang menumpuk semenjak hari kelahiran. Sebuah janji akan pelukan. Dekapan yang kiranya sanggup menyampaikan seluruh rasa hingga remah-remahnya, bahwa aku benar-benar minta maaf untuk kelancanganku memanfaatkan kelunakan hatinya dalam melayaniku, meminta maaf untuk kesiapan yang kupertanyakan kali ini, meminta maaf untuk segala yang pernah melukai dan mengurangi porsi bahagianya. Meminta maaf karena telah mengeluh padanya hari ini. Bahagia telah menamparku, mengingatkan tentang siapa dulu yang telah menularkan perasaan ajaib itu. Ia adalah Ari. Yang malam ini kurongrong kesabarannya lagi, yang malam ini menempatkanku sekali lagi menjadi si ratu tak tahu diri.
Hari-hari terlalui dengan semangat baru. Dan mau tidak mau aku ikut mengantisipasi jenis kebahagiaan apa yang tengah menanti. Ari melunakkan diri, menjadi abdi yang siap melayani kapanpun aku memanggilnya. Awalnya terasa aneh, tapi kemudian aku menikmati..kapan lagi bisa mendapat kesempatan diperlakukan sebagai ratu ? Dan Ari begitu teliti terhadap segalanya. Ia memberi porsi lebih dalam setiap aspek yang jujur saja, hal itu justru menjadikanku si ratu kurang ajar dan tak tahu diri. Di kesempatan yang lain ingin rasanya aku memeluk Ari untuk menuntaskan rasa bersyukurku karena memiliki kesempatan begitu dimanja olehnya. Ari menularkan bahagianya.
.
Hari kelahiran merupakan malam terkompleks yang pernah aku dan Ari lalui. Aku tidak pernah melihat Ari sesigap itu, aku tidak pernah melihat Ari sepanik itu. Dan perasaan melahirkan tentu saja sesuatu yang sangat emosional untuk diceritakan. Tak ada sakit dan bahagia yang pernah terlalui dengan sebegitu dramatisnya selain malam itu. Bukan lagi tangis yang mengiringi melainkan pasrah yang menemani. Aku menyerahkan semua kepada pembuatku. Sekalipun berpisah dari Ari adalah sesuatu yang tak akan pernah tersiapkan sampai kapanpun, tapi malam itu aku telah merelakan. Lagi-lagi Ari dengan begitu telaten menemani detik-detik menegangkan itu. Kueratkan genggaman tanganku, dan ia membalasnya dengan berlipat lagi mengeratkan genggamannya. Malam itu kami sama-sama menguatkan.
Dalam kepasrahan total, tak sedikitpun kutangkap ragu dari bola mata Ari. Keyakinannya telah ikut mengeluarkan kepala si kecil untuk segera melihat dunia. Di penghujung perjuangan lagi-lagi perasaanku terkopyok ketika melihat Ari begitu bahagia. Ia tak pernah terlihat sebahagia itu sebelumnya. Pertanyaan yang dulu pernah ada terjawab sudah. Aku belum siap. Aku belum siap. Bahagia datang bak air bah di tengah kerontang. Aku tak bisa berenang, aku takut tenggelam. Bersyukur Ari ada untuk berbagi nafas ketika air bah itu benar-benar mengguyur. Tak ada kata yang ingin ku ucap saat itu selain memberikan sebuah pelukan dan satu sisipan kata maaf, untuk Ari karena telah berani menyalah gunakan kekuasaan sebagai ratu dimasa-masa setelah pernikahan dan masa kehamilan dulu. Bahagia merubah Ari menjadi manusia tanpa tulang. Dari abdi yang siap melayani, menjadi abdi yang bersiap pula untuk mati. Ia rela menanggalkan segalanya, keegoisannya, rasa malas dan juga jijiknya. Sesuatu yang hingga hari ini terpatri kuat diingatan sebagai lonceng agar aku tetap ingat bahwa Ari adalah anugerah yang patut disyukuri keberadaannya.
.
.
Melihat kesigapan Ari dan juga ketulusannya mengabdi, membuat ratu tak tahu diri ini mulai memikirkan untuk bersiap diri. Jika Ari saja rela melepas segalanya demi merangkul sebuah bahagia, kenapa aku harus menahan diri untuk tidak terjun ke dalamnya ? Aku harus bersiap. Dan bahagia yang mendera mengepak koper dengan kecepatan ekstra, membuatku bersiap seketika. Dan jawaban tempo lalu berubah hari itu. Aku siap. Untuk Ari yang telah rela terjaga sampai pagi dimalam kelahiran, untuk Ari yang telah rela menundukkan segala rasa juga aroma demi kenyamananku, untuk Ari yang telah bersiap lebih dulu, dan untuk si kecil yang tengah menanti uluran tanganku.
.
.
.
Hari ini, dengan membiarkan Ari mendengar keluhan membuatku merasa sangat buruk. Dimana kesiapan yang dulu pernah kubisikkan melalui ujung malam ? Dimana kesiapan itu ? Jika memang ia ada kenapa hari ini aku masih mengeluh ? Siapkah sebenarnya aku ?
.
Mungkin Ari benaran harus pulang kali ini. Perasaan ini membuncah setiap kali aku mengingatnya. Aku menangis ketika memiliki lagi kesempatan untuk mengaduh. Aku harus menuntaskan hutang yang menumpuk semenjak hari kelahiran. Sebuah janji akan pelukan. Dekapan yang kiranya sanggup menyampaikan seluruh rasa hingga remah-remahnya, bahwa aku benar-benar minta maaf untuk kelancanganku memanfaatkan kelunakan hatinya dalam melayaniku, meminta maaf untuk kesiapan yang kupertanyakan kali ini, meminta maaf untuk segala yang pernah melukai dan mengurangi porsi bahagianya. Meminta maaf karena telah mengeluh padanya hari ini. Bahagia telah menamparku, mengingatkan tentang siapa dulu yang telah menularkan perasaan ajaib itu. Ia adalah Ari. Yang malam ini kurongrong kesabarannya lagi, yang malam ini menempatkanku sekali lagi menjadi si ratu tak tahu diri.
Langganan:
Postingan (Atom)