Awal pertemuan kita tak berarti apa-apa, tak meninggalkan bekas apapun juga. Aku mengerti kata suka tapi itu bukan untukmu, bukan tertuju padamu. Kamu seperti bahan percobaan untuk makna kata pacaran yang sama sekali belum pernah kucicipi sebelumnya. Dan aku tak menduga jika kata suka yang kuutarakan padamu akan mendapati jawaban ya. Aku juga tak menduga ketika kita akhirnya saling menyematkan cincin di jari manis. Jariku saja dan bukan jarimu. Saat itu aku masih tidak mengerti apa-apa. Sekalipun sering kuutarakan rasa dalam nama cinta, bukan berati aku tengah membahasakan apa yang tengah kurasa. Lebih kepada tengah kumantrai diri agar terlepas dari bayang-bayang pria lain yang terus saja bertengger di ujung hati. Aku tengah memantrai diri agar benaran bisa suka padamu. Dan sepertinya mantra itu bekerja sesuai dengan harapan. Sekalipun harus di akui, tetap saja keberadaanmu harus bersaing ketat dengan nama pria lain yang dengan muka badaknya terus bercokol di dalam sana sekalipun tidak hanya sekali aku mencabut dan menerabasnya dengan pisau dapur agar mati hingga ke akar-akar. Saat itu aku tengah dalam persimpangan. Sementara kamu selalu berkata agar tidak menjadikanmu bahan untuk dijadikan hak milik, sementara aku adalah seorang perempuan yang senantiasa selalu mendamba adanya pengakuan dan kepemilikan. Aku meragu dengan sikap dinginmu. Momen pacaran pertamaku ternyata tidak semanis cerita yang sering kubaca. Aku harus bersaing dengan rasa ragu, apakah benar aku diinginkan ? Apa arti cincin di jari manisku untukmu ? Ataukah sebagai pelicin agar kamu bisa dengan sah menyentuhku ? Karena jujur saja, aku membebaskan diriku dari sentuhan siapapun sampai ada yang berani mengikatku di hadapan orangtuaku. Dan kamu melakukannya.
.
Aku berhadapan denganmu yang lain. Kusadari itu ketika hari setelah pernikahan. Karena dalam rentang waktu setelah pertunangan hingga hari H adalah masa-masa tergilaku. Aku menikmati ciuman sebagai candu yang menyesatkan. Si bodoh ini mulai menikmati indahnya masa pacaran. Menganggap semuanya normal, melihat semuanya sempurna, dan merasa semuanya baik-baik saja. Hingga keganjilan itupun teraba. Aku mulai menyadari seperti apa dirimu yang sesungguhnya. Pria manis yang sayang keluarga. Pria manis yang teramat sayang pada orangtua dan juga adik-adiknya. Aku beruntung sekali menyadari hal satu itu, terlebih pernah kudengar sebuah kalimat bahwa pria yang sayang pada ibunya akan bisa memperlakukan istrinya dengan baik. Saat itu aku girang bukan main mendapati sisi lain tentang kamu. Sebelum rasa iri dari perempuan tak tahu diri ini kemudian muncul. Aku iri dengan kehangatan yang ditunjukkan olehmu kepada adik-adikmu. Aku iri dengan berbagai perhatian yang diberikan olehmu kepada orangtua terlebih ibumu. Sementara aku selama kita bersama harus dihadapkan denganmu yang mesum dan dingin. Alasan pertamaku untuk meragu setelah hari pernikahan kita pun datang. Aku mulai bertanya-tanya didalam hati, benarkah keputusanku menerima dirimu ? Siapakah aku didalam hatimu ? Perasaan tumbuh dari awalnya tak memiliki rasa apa-apa menjadi suka lalu naik lagi menjadi cinta. Aku jatuh cinta pada suamiku setelah kami menikah. Dan cobaan tidak berhenti di titik tentang perasaan iri saja. Aku yang mengenalmu jauh ketika aku masih tergila-gila pada gadget mulai merasakan keganjilan yang lainnya. Memang benar ketika ada pepatah mengatakan, tak ada perang yang lebih melelahkan selain melawan sebuah bayangan. Rasa cintaku membawa efek samping, karena sejak saat itu aku mulai menginginkan dan mulai diinginkan. Puncaknya ketika aku menemukan kata-kata romantis dan gombalmu untuk mantan-mantanmu yang terdahulu. Oh, betapa beruntungnya aku. Harus menghadapi sikap dinginmu, masih pula ditambah dengan sikap kakumu. Aku kembali merasa iri. Kepada mereka yang belum jelas akan menjadi pendamping hidupmu saja berani kamu embel-embeli dengan nama panggilan yang kelewat manis, seperti peri kecilku, mawarku, lalu kenapa kepadaku yang sudah jelas status dan keberadaannya tak pernah kamu embel-embeli dengan nama panggilan yang melambungkan ? Apa aku tidak secantik mereka hingga kamu merasa tidak pantas untuk menyebutku dengan panggilan manis ? Dan lagi, apa aku tidak sebaik itu untuk mendapatkan pengakuanmu didepan teman-temanmu ? Aku selalu merasa iri karena para pendahuluku mendapatkan puisi cinta, mendapatkan sapaan manis di jejaring sosial. Sementara aku, aku merasa miskin pengakuan. Aku bahkan masih ingat sering menangis diam-diam memikirkan soal remeh itu. Aku mulai meragu lagi saat itu. Benarkah keputusanku untuk jatuh cinta kepadamu dan menikahimu ? Mentalku sakit parah. Aku menjadi sangat sensitif dan pemarah. Hanya karena keberadaan orang-orangmu yang telah menjadi masa lalu. Andai saat itu kamu tau dan bisa memperlakukanku semanis, sehangat dan selentur kamu dalam memperlakukan adik-adik, ibu dan para mantanmu. Mungkin mentalku tidak terlanjur cacat. Cerita ini bersambung, karena kejutan manis yang lain belum diceritakan.
Sabtu, 11 Maret 2017
Rabu, 08 Maret 2017
Pesan Tersimpan
Ini adalah keresahan yang tak bisa begitu saja kuabaikan. Aku mencoba dan bukan hanya sekali untuk mengakrabkan diri denganmu lagi. Sebagaimana dulu kita pernah dekat sebelum.. embrio itu datang dan memecah kehangatan milikku. Adikku, andai engkau tau, lebih dari sekali aku ingin membunuh antipati yang kian menyubur di dalamku. Aku ingin menyingkirkan segala duka yang entah bagaimana muncul melalui kabar bahagiamu. Aku tahu, dan tak pernah kuingkari betapa kedatangan seorang bayi selalu menumbuhkan rasa bahagia terlebih kepada pengandungnya. Aku ingin bahagia juga bersama kabar yang hari itu engkau bawa. Tapi aku tidak bisa. Aku mencoba dan terus melakukannya tapi tetap saja hatiku tidak mau terbuka. Maaf, tapi kabar yang datang terlalu tiba-tiba memang kadang tidak hanya memberi efek kejut tapi juga kecewa yang tak terbantahkan. Dan Ari tak pernah paham.
.
.
.
Karena aku adalah seorang ibu. Hanya karena aku pernah berada di dalam ruang dimana nyawaku dipertaruhkan. Aku kecewa bukan untuk seorang kakak kepada adiknya, tapi dari seorang ibu untuk sesama calon ibu juga. Untuk alasan itulah kenapa aku tak bisa memperlakukanmu sehalus Ari. Untuk alasan itulah kecewaku awet tahan lama ketimbang kecewa Ari yang di tunjukkan padamu. Embrio kecil disana, yang hadir terlalu awal memang tak mengerti apa-apa. Tapi engkau memahami segalanya, dan semoga juga kecewaku yang kian membatu terpahamkan juga olehmu, jika tidak sekarang mungkin nanti ketika bayi itu terlahirkan. Adikku, memandangimu sekarang telah menjadi sesulit melihat ujung pintu labirin. Bahkan ketika aku adalah dan pernah menjadi iblis pendosa, yang selalu kuharap dan angankan adalah kebaikan bagimu dan juga adikku yang lainnya. Dan engkau melampauiku dan semuanya. Terlepas dari segalanya. Aku hanya terlalu bingung untuk memperlakukanmu sebagai apa. Kepolosanmu telah ternodai. Adik kecilku telah bermutasi menjadi sesosok ibu secepat ini. Adik yang selalu kuanggap masih layak dianggap sebagai anak kecil ternyata dipaksa untuk menua. Kepolosan yang selalu engkau tunjukkan telah berdiri di ujung sana, melambai padaku dengan lidah terjulur seakan meledekku karena berhasil tertipu. Ya. Aku terkecoh pada kepolosanmu. Dan lebih dari itu perasaan itu semua, aku teramat kecewa. Jiwa ibu yang baru kubangun beberapa hari lalu mendadak menguat pada skala tertingginya. Dan jujur saja aku pernah ingin mengutarakan keresahan ini pada Ari, bahkan pada suatu malam yang telah lewat pernah kutulis sebuah pesan yang sayangnya urung kukirimkan. Isinya tak lain benang merah dari paragraf ini. Aku mengatakan pada Ari bahwa aku kecewa untuk kabar yang engkau bawa pada hari itu. Aku kecewa untukmu yang telah melukai dengan sangat dalam hati seorang ibu. Kecewa untukmu yang telah memberikan kabar mengerikan mengenai embrio kecil di perutmu yang datang terlalu awal. Aku tidak melahirkanmu ke dunia ini, tapi aku patah hati sekali jadi untuk kabar yang kau berikan hari itu. Dua orang ibu telah patah hati. Ibumu dan kakakmu ini. Aku tak tahu mantra apa yang telah ditelan Ari hingga dengan mudah berhasil memaafkanmu sedini ini. Lidahku selalu gatal ingin bertanya, tapi aku takut Ari terluka. Karena Ari terlalu menyayangimu, hingga hatinya baik-baik saja ketika engkau memberinya kabar duka, mungkin itu adalah jawaban paling tepat untuk menjawab kegatalan lidahku. Atau mungkin juga..kecelakaan sebelum pernikahan adalah hal umum dan hampir wajar bagi masyarakat dewasa ini. Tidak adik kecil. Aku tidak bisa mengadopsi konsep itu. Sekalipun aku adalah mantan iblis pendosa, tapi aku bersyukur masih tetap dalam batasan. Aku tidak tahu harus memandangmu seperti apa. Luka ini begitu mengganggu pikiranku, tidak hanya semalam, tapi berbulan-bulan. Dan Ari tak pernah paham. Ari tak sanggup melihat kecewa di mataku yang belum tersembuhkan. Jiwa ibu yang baru kubangun dalam hitungan hari mengalami patah hati. Sekalipun aku ingin dengan gamblang menyatakan kepada Ari bahwa aku kecewa, aku patah hati untuk berita tentang embrio yang datang terlalu dini, aku khawatir ia tak akan paham tentang perasaan ini. Dan kekhawatiran itu terbuktikan. Ari tak bisa membaca gelagat yang kutunjukkan. Bahwa hatiku masih remuk untuk kecewa yang engkau suguhkan. Hati seorang ibu baru yang patah dalam sekali jadi. Ari tak bisa membaca kebingunganku dalam memperlakukanmu. Ari bahkan tak bisa membaca sekedar hangat yang meluntur diantara kita. Kasih sayang Ari padamu membutakan segalanya. Dan aku tak tahu harus berbuat apa. Sekali lagi kutegaskan. Aku kecewa untukmu bukan sebagai kakak tapi sebagai seorang ibu. Siapa yang tahu, antipatiku akan meluntur seiring kelahiran bayimu. Karena dimataku, engkau terlanjur memantapkan diri sebagai adik penipu. Menipuku dengan kepolosanmu. Dan kecewaku tak pernah begitu mudah tersembuhkan. Aku bosan menghindar. Tapi aku tak pernah begitu pintar untuk menyembunyikan duka dan kekecewaan. Untuk alasan itulah aku ingin terus menghindar. Sebisaku menempatkanmu sejauh mungkin dari jangkauan.
.
.
.
Karena aku adalah seorang ibu. Hanya karena aku pernah berada di dalam ruang dimana nyawaku dipertaruhkan. Aku kecewa bukan untuk seorang kakak kepada adiknya, tapi dari seorang ibu untuk sesama calon ibu juga. Untuk alasan itulah kenapa aku tak bisa memperlakukanmu sehalus Ari. Untuk alasan itulah kecewaku awet tahan lama ketimbang kecewa Ari yang di tunjukkan padamu. Embrio kecil disana, yang hadir terlalu awal memang tak mengerti apa-apa. Tapi engkau memahami segalanya, dan semoga juga kecewaku yang kian membatu terpahamkan juga olehmu, jika tidak sekarang mungkin nanti ketika bayi itu terlahirkan. Adikku, memandangimu sekarang telah menjadi sesulit melihat ujung pintu labirin. Bahkan ketika aku adalah dan pernah menjadi iblis pendosa, yang selalu kuharap dan angankan adalah kebaikan bagimu dan juga adikku yang lainnya. Dan engkau melampauiku dan semuanya. Terlepas dari segalanya. Aku hanya terlalu bingung untuk memperlakukanmu sebagai apa. Kepolosanmu telah ternodai. Adik kecilku telah bermutasi menjadi sesosok ibu secepat ini. Adik yang selalu kuanggap masih layak dianggap sebagai anak kecil ternyata dipaksa untuk menua. Kepolosan yang selalu engkau tunjukkan telah berdiri di ujung sana, melambai padaku dengan lidah terjulur seakan meledekku karena berhasil tertipu. Ya. Aku terkecoh pada kepolosanmu. Dan lebih dari itu perasaan itu semua, aku teramat kecewa. Jiwa ibu yang baru kubangun beberapa hari lalu mendadak menguat pada skala tertingginya. Dan jujur saja aku pernah ingin mengutarakan keresahan ini pada Ari, bahkan pada suatu malam yang telah lewat pernah kutulis sebuah pesan yang sayangnya urung kukirimkan. Isinya tak lain benang merah dari paragraf ini. Aku mengatakan pada Ari bahwa aku kecewa untuk kabar yang engkau bawa pada hari itu. Aku kecewa untukmu yang telah melukai dengan sangat dalam hati seorang ibu. Kecewa untukmu yang telah memberikan kabar mengerikan mengenai embrio kecil di perutmu yang datang terlalu awal. Aku tidak melahirkanmu ke dunia ini, tapi aku patah hati sekali jadi untuk kabar yang kau berikan hari itu. Dua orang ibu telah patah hati. Ibumu dan kakakmu ini. Aku tak tahu mantra apa yang telah ditelan Ari hingga dengan mudah berhasil memaafkanmu sedini ini. Lidahku selalu gatal ingin bertanya, tapi aku takut Ari terluka. Karena Ari terlalu menyayangimu, hingga hatinya baik-baik saja ketika engkau memberinya kabar duka, mungkin itu adalah jawaban paling tepat untuk menjawab kegatalan lidahku. Atau mungkin juga..kecelakaan sebelum pernikahan adalah hal umum dan hampir wajar bagi masyarakat dewasa ini. Tidak adik kecil. Aku tidak bisa mengadopsi konsep itu. Sekalipun aku adalah mantan iblis pendosa, tapi aku bersyukur masih tetap dalam batasan. Aku tidak tahu harus memandangmu seperti apa. Luka ini begitu mengganggu pikiranku, tidak hanya semalam, tapi berbulan-bulan. Dan Ari tak pernah paham. Ari tak sanggup melihat kecewa di mataku yang belum tersembuhkan. Jiwa ibu yang baru kubangun dalam hitungan hari mengalami patah hati. Sekalipun aku ingin dengan gamblang menyatakan kepada Ari bahwa aku kecewa, aku patah hati untuk berita tentang embrio yang datang terlalu dini, aku khawatir ia tak akan paham tentang perasaan ini. Dan kekhawatiran itu terbuktikan. Ari tak bisa membaca gelagat yang kutunjukkan. Bahwa hatiku masih remuk untuk kecewa yang engkau suguhkan. Hati seorang ibu baru yang patah dalam sekali jadi. Ari tak bisa membaca kebingunganku dalam memperlakukanmu. Ari bahkan tak bisa membaca sekedar hangat yang meluntur diantara kita. Kasih sayang Ari padamu membutakan segalanya. Dan aku tak tahu harus berbuat apa. Sekali lagi kutegaskan. Aku kecewa untukmu bukan sebagai kakak tapi sebagai seorang ibu. Siapa yang tahu, antipatiku akan meluntur seiring kelahiran bayimu. Karena dimataku, engkau terlanjur memantapkan diri sebagai adik penipu. Menipuku dengan kepolosanmu. Dan kecewaku tak pernah begitu mudah tersembuhkan. Aku bosan menghindar. Tapi aku tak pernah begitu pintar untuk menyembunyikan duka dan kekecewaan. Untuk alasan itulah aku ingin terus menghindar. Sebisaku menempatkanmu sejauh mungkin dari jangkauan.
Sabtu, 04 Maret 2017
Catatan Kedua Di Bulan Ketiga
Sembilan belas dan aku dua puluh lima. Enam tahun bukan jarak yang terlalu jauh untuk bisa memakai "kamu" dan bukan "anda" sebagai kata ganti nama dari masing-masing kita. Disaat kamu baru saja melihat dunia. Aku sudah mengenal banyak kosakata, berbagai jenis huruf, angka dan hitungan rumit diantara keduanya. Enam tahun, disaat yang kamu tahu baru rasa lapar dan tuntutan untuk menghabiskan isi payudara ibumu, aku sudah di paksa untuk bisa bernegosiasi dengan kebiasaan manusia. Pelajaran pertama untuk menjadi gila. Yakni bersosialisasi. Enam tahun dan saat itu aku tengah menikmati bangku sekolah pada ajaran pertama di masanya.
.
Beruntung Hara tidur cepat sore ini, dan moodku sedang dalam keadaan baik, karena jujur saja aku sama sekali tidak memiliki niat mengucapkan selamat ulang tahun untukmu atau siapapun yang pernah dekat denganku. Buatku pribadi, mengucapkan selamat ulang tahun adalah hal tersia-sia yang pernah di lakukan oleh manusia. Orang berpikir bertambahnya angka dalam usia mereka adalah sesuatu hal bagus yang perlu di rayakan dan di beri selamat. Sementara dalam sudut hematku, bertambah usia tidak berarti apa-apa kecuali kenyataan mengerikan bahwa kapasitas berimajinasi otak kita yang kian melemah karena beban ingatan yang harus di bopong bertambah setiap harinya. Dulu aku tak sepahit ini, mengingat dan memberi selamat di hari ulang tahun adalah agenda yang selalu kusiapkan setiap bulannya. Aku ingat siapa saja yang mengisi daftar pada bulan pertama, kedua, dan seterusnya. Aku akan mengingat meski itu hanyalah hari kelahiran dari seorang teman yang hanya eksis di dunia maya. Aku tak peduli jika aku secara pribadi tak mengenal mereka. Memberi selamat hari kelahiran adalah kewajiban seperti halnya memberi salam ketika hendak masuk rumah. Tapi kebiasaan itu mulai luntur seiring waktu. Aku menjadi sepahit hari ini. Dan bulan maret memang istimewa dan akan selalu kupertahankan seperti itu. Secara konstan dan teratur, aku mengirim ucapan hari kelahiran pada seorang teman. Bukan teman, tapi jabatnya telah naik menjadi sahabat. Setiap hari ke empat di bulan maret, akan ada doa yang kubingkis sedemikian indah dengan harapan doaku akan cepat tersampaikan dan terkabul. Aku tidak tahu jika kamupun terlahir di hari ke empat di bulan maret, andai saja hubungan kita pernah lebih dekat dari sekedar angin lewat, mungkin doa-doa yang kupanjatkan setiap tahunnya di hari ini, akan ada beberapa yang mampir ke dalam harimu. Semoga saja Tuhan tak lupa memberimu hari-hari yang bahagia meski aku tak pernah tahu jika sekarang adalah hari ulang tahunmu. :-)
Memang siapa aku ? Yang menganggap doaku akan di harapkan olehmu ? Kita teman ? Mungkin saja, karena jujur aku melupakan banyak hal di umurku yang hampir seperempat abad ini. Lupakan temanku yang juga berulang tahun hari ini, karena dia tidak tertarik pada kalimat-kalimat panjang, sekalipun di tahun yang telah lewat aku pernah mencoba mengetuknya lewat catatan seperti ini, tak masalah, aku akan mencoba lebih fokus memberi ucapan istimewa untukmu. Istimewa ? Jangan berharap lebih ini hanya catatan biasa. Dan seperti yang sudah kubilang, aku telah bermutasi menjadi sepahit ini. Aku berhenti mengucap kata-kata manis, aku lupa cara membuat kadar gula dalam diri seseorang naik, dan aku lupa cara melambungkan seseorang.
Kamu pada saatmu nanti mungkin akan mengalami ini nak, saat di mana yang ada dalam otakmu hanyalah keluarga kecilmu dan berbagai cara untuk membahagiakan mereka. Ada saatnya nanti datang masamu ketika teman, ambisi, dunia, mimpi, tak lagi memiliki arti apapun..tawa ringan untuk mereka dan bersama mereka yang kamu cintai adalah segalanya. Mendadak dunia akan berjalan slow motion ketika kamu tengah bahagia bersama mereka, anakmu-suamimu, surga ciptaanmu. Tapi itu nanti, umurmu baru menginjak angka sembilan belas dan jujur saja aku lupa apa yang kira-kira tengah ku impikan ketika umurku berada di angka itu, mungkin dulu aku tengah bermimpi untuk bisa terbang ke Korea. Karena seperti yang kamu tahu, aku pernah tergila-gila pada para "Oppa". Sedikit saja catatanku untukmu nak; aku boleh panggil kamu 'nak' ? Kamu enggak perlu menjadi cantik atau tenar atau pintar untuk bisa menghadapi dunia ini. Bumi ini kekurangan anak baik, jujur dan 'hidup'. Jadilah seperti tiga kriteria itu, maka kamu akan bahagia yang bukan di karenakan harta. Jangan terburu-buru jatuh cinta nak, kamu masih terlalu muda. Silakan menaruh rasa pada lawan jenismu, tapi sekali lagi jangan terburu-buru melabeli perasaanmu dengan nama cinta. Karena ia akan datang pada masanya. Di umurmu yang baru akan menginjak angka dua puluh, penuhilah dengan banyak mimpi, dan berimajinasilah segila-gilanya. Jangan takut jatuh dan kecewa. Karena kamu masih ibarat pohon muda. Yang akan bertunas baru meski akarmu tercerabut dan pohonmu patah. Teruslah menjadi anak baik, karena itu adalah bekal senyata-nyatanya bekal yang patut ada disetiap kantong manusia. Dan dunia ini keras nak. Semoga saja kamu paham.
.
Beruntung Hara tidur cepat sore ini, dan moodku sedang dalam keadaan baik, karena jujur saja aku sama sekali tidak memiliki niat mengucapkan selamat ulang tahun untukmu atau siapapun yang pernah dekat denganku. Buatku pribadi, mengucapkan selamat ulang tahun adalah hal tersia-sia yang pernah di lakukan oleh manusia. Orang berpikir bertambahnya angka dalam usia mereka adalah sesuatu hal bagus yang perlu di rayakan dan di beri selamat. Sementara dalam sudut hematku, bertambah usia tidak berarti apa-apa kecuali kenyataan mengerikan bahwa kapasitas berimajinasi otak kita yang kian melemah karena beban ingatan yang harus di bopong bertambah setiap harinya. Dulu aku tak sepahit ini, mengingat dan memberi selamat di hari ulang tahun adalah agenda yang selalu kusiapkan setiap bulannya. Aku ingat siapa saja yang mengisi daftar pada bulan pertama, kedua, dan seterusnya. Aku akan mengingat meski itu hanyalah hari kelahiran dari seorang teman yang hanya eksis di dunia maya. Aku tak peduli jika aku secara pribadi tak mengenal mereka. Memberi selamat hari kelahiran adalah kewajiban seperti halnya memberi salam ketika hendak masuk rumah. Tapi kebiasaan itu mulai luntur seiring waktu. Aku menjadi sepahit hari ini. Dan bulan maret memang istimewa dan akan selalu kupertahankan seperti itu. Secara konstan dan teratur, aku mengirim ucapan hari kelahiran pada seorang teman. Bukan teman, tapi jabatnya telah naik menjadi sahabat. Setiap hari ke empat di bulan maret, akan ada doa yang kubingkis sedemikian indah dengan harapan doaku akan cepat tersampaikan dan terkabul. Aku tidak tahu jika kamupun terlahir di hari ke empat di bulan maret, andai saja hubungan kita pernah lebih dekat dari sekedar angin lewat, mungkin doa-doa yang kupanjatkan setiap tahunnya di hari ini, akan ada beberapa yang mampir ke dalam harimu. Semoga saja Tuhan tak lupa memberimu hari-hari yang bahagia meski aku tak pernah tahu jika sekarang adalah hari ulang tahunmu. :-)
Memang siapa aku ? Yang menganggap doaku akan di harapkan olehmu ? Kita teman ? Mungkin saja, karena jujur aku melupakan banyak hal di umurku yang hampir seperempat abad ini. Lupakan temanku yang juga berulang tahun hari ini, karena dia tidak tertarik pada kalimat-kalimat panjang, sekalipun di tahun yang telah lewat aku pernah mencoba mengetuknya lewat catatan seperti ini, tak masalah, aku akan mencoba lebih fokus memberi ucapan istimewa untukmu. Istimewa ? Jangan berharap lebih ini hanya catatan biasa. Dan seperti yang sudah kubilang, aku telah bermutasi menjadi sepahit ini. Aku berhenti mengucap kata-kata manis, aku lupa cara membuat kadar gula dalam diri seseorang naik, dan aku lupa cara melambungkan seseorang.
Kamu pada saatmu nanti mungkin akan mengalami ini nak, saat di mana yang ada dalam otakmu hanyalah keluarga kecilmu dan berbagai cara untuk membahagiakan mereka. Ada saatnya nanti datang masamu ketika teman, ambisi, dunia, mimpi, tak lagi memiliki arti apapun..tawa ringan untuk mereka dan bersama mereka yang kamu cintai adalah segalanya. Mendadak dunia akan berjalan slow motion ketika kamu tengah bahagia bersama mereka, anakmu-suamimu, surga ciptaanmu. Tapi itu nanti, umurmu baru menginjak angka sembilan belas dan jujur saja aku lupa apa yang kira-kira tengah ku impikan ketika umurku berada di angka itu, mungkin dulu aku tengah bermimpi untuk bisa terbang ke Korea. Karena seperti yang kamu tahu, aku pernah tergila-gila pada para "Oppa". Sedikit saja catatanku untukmu nak; aku boleh panggil kamu 'nak' ? Kamu enggak perlu menjadi cantik atau tenar atau pintar untuk bisa menghadapi dunia ini. Bumi ini kekurangan anak baik, jujur dan 'hidup'. Jadilah seperti tiga kriteria itu, maka kamu akan bahagia yang bukan di karenakan harta. Jangan terburu-buru jatuh cinta nak, kamu masih terlalu muda. Silakan menaruh rasa pada lawan jenismu, tapi sekali lagi jangan terburu-buru melabeli perasaanmu dengan nama cinta. Karena ia akan datang pada masanya. Di umurmu yang baru akan menginjak angka dua puluh, penuhilah dengan banyak mimpi, dan berimajinasilah segila-gilanya. Jangan takut jatuh dan kecewa. Karena kamu masih ibarat pohon muda. Yang akan bertunas baru meski akarmu tercerabut dan pohonmu patah. Teruslah menjadi anak baik, karena itu adalah bekal senyata-nyatanya bekal yang patut ada disetiap kantong manusia. Dan dunia ini keras nak. Semoga saja kamu paham.
Jumat, 03 Maret 2017
Catatan Tentang Si Januari
"Duka tentangmu tak pernah dengan mudah tertuang dalam paragraf. Sekalipun aku pernah mencoba, lara itu tak pernah tersampaikan dengan begitu tepatnya.."
.
.
Adik berumur hampir sepuluh tahun, terlahir tepat ketika aku masih sepenuhnya buta tentang apa itu makna dari kata kakak dan tanggung jawab. Nyeri itu tumbuh dengan begitu pesatnya. Dan tak pernah meninggalkan mata ibu semenjak hari pertama kedatangannya didunia. Terkadang, aku bisa menemukan ibu dalam keadaan termenung, entah apa yang tengah di pikirkannya. Yang jelas, gambaran tentang adik tak pernah pergi dari bulatan retinanya. Ibu memikirkan tentang banyak hal, dan adik merajai separo lebih dari isi hati dan otaknya. Aku tak pernah iri dengan hal itu, karena bagiku, setelah ibu adalah adik yang patut masuk dalam daftar prioritasku. Kasih sayang ayah menaungi adik hingga kematiannya menjelang. Dan lagi-lagi aku tak merisaukan tentang hal itu. Adik lebih dari pantas untuk mendapatkan segalanya. Ia lebih dari sekedar pantas untuk mendapat kasih sayang semuanya, dan jika memungkinkan aku ingin menuangkan segala dayaku untuknya. Dunia tak pernah begitu baik untuk bisa menerima kehadiran adik. Terpojok, terkucil dan terkasihani adalah jaring yang selalu membuat mampat perasaanku. Tak ada tempat yang lebih aman dan nyaman ketimbang rumah, dan aku tak berani untuk sekedar membayangkan apa yang akan menjelang adik ketika nanti aku dan ibu telah berpulang. Menikah adalah angan tertinggi yang nyaris tak pernah ada dalam bayangan. Aku takut untuk sekedar memikirkan, akankah suatu hari nanti ada seseorang yang mau menerima adik selayaknya manusia normal. Perutku selalu melilit ketika mulai membayangkan masa depan adik. Sungguh memang, duka tentangnya tak pernah dengan begitu tepatnya tersampaikan. Sekalipun aku pernah mencoba, duka yang kugambarkan selalu hanya seperti bola yang memantul-mantul di tembok kamar. Tak pernah berhasil keluar dari ruang. Jaring yang selalu memampatkan perasaan. Ingin sekali aku mengurainya dalam sekali jadi. Menangisi apa yang tak pernah sanggup kugapai, mendekap apa yang tak pernah kupeluk sebelumnya. Adik adalah alasan kenapa mataku sanggup memanas tanpa meleleh setelahnya. Duka itu telah berubah ujud menjadi bola yang memantul-mantul tembok kamar. Dan aku terlalu bosan mendengar ngeri dan nyeri yang terus melolong meminta pertolongan untuk keluar.
Tentang adik tak pernah sesukses itu mendarat sebagai paragraf yang layak edar. Aku selalu merasa duka yang kutuliskan belum sepenuhnya bisa menggambarkan apa yang kulihat dan kudengar. Jemariku seakan kehilangan daya untuk bisa menyalurkan duka. Mantra yang dulu selalu kubanggakan, belum sekalipun berhasil menembus pertahanan adik. Dukanya tak pernah menemui celah keluar, kapanpun aku mencoba untuk bisa masuk dan merasainya barang sedikit saja, selalu berakhir pada keheningan. Hatiku selalu koyak memikirkan kegagalan. Untuk adikku aku gagal menjadi mata yang berguna. Untuk adikku aku gagal menjadi tangan yang memegang. Duka itu sungguh tak pernah dengan sukses untuk bisa dituangkan.
.
.
.
Tak terhitung berapa kali aku mencoba, tameng yang di lingkarkan oleh ayah belum sekalipun tertandingi pertahanannya. Mungkin karena memang ayah dan adik adalah sejenis. Hingga tak ada yang bisa menyaingi batas kasih keduanya. Andai saja ayah masih ada. Mungkin aku tak harus selinglung ini menghadapi kekosongan mata ibu ketika memandangi adik. Andai saja ayah masih ada. Mungkin aku tak harus sebingung ini menyikapi keberadaan adik. Karena memang adik dan ayah adalah sejenis. Tak ada yang bisa mengasihi adik sebesar ayah melakukannya. Dan mungkin, takkan ada yang bisa menyayangi ayah setuluh yang bisa adik berikan. Perimeter keduanya jauh dari jangkauan. Itulah kenapa setiap aku mencoba untuk menuliskan duka tentang keduanya selalu lepas dari pandangan, selalu ada yang kurang, selalu ada duka yang lolos dari rengkuhan. Karena ayah dan adik sama, andaikan keduanya masih bisa membagi kasih langkanya. Mungkin aku tak akan selinglung ini untuk bisa memperlakukan.
.
.
.
Tuhan tak pernah salah menakar kekurangan seseorang. Semuanya mendapat porsi pas sesuai jatah dan ukurannya. Dan kekuranganku adalah untuk lebih bisa meraba. Tentang ayah yang telah tiada. Tentang adik yang masih sering kulamunkan masa depannya. Aku tak pernah bisa menghadirkan apa-apa, bahkan untuk ibu yang telah mengandung dan memperjuangkanku. Aku tak pernah bisa menghadirkan apa-apa, terlebih untuk ayah yang sekarang tak bisa menikmati apapun selain hanya sebagai penonton pasif saja, sementara untuk adik, hal terjauh yang bisa kupikirkan untuknya adalah mencoba untuk terus ada. Sekalipun dukanya tak pernah berhasil keluar dari dalam ruang, sekalipun dukanya tak pernah berhasil tersampaikan dengan tepatnya. Setidaknya dengan aku ada, mungkin akan bisa dijadikannya alasan untuk tetap kuat dalam menghadapi dunia. Semoga.
.
.
Adik berumur hampir sepuluh tahun, terlahir tepat ketika aku masih sepenuhnya buta tentang apa itu makna dari kata kakak dan tanggung jawab. Nyeri itu tumbuh dengan begitu pesatnya. Dan tak pernah meninggalkan mata ibu semenjak hari pertama kedatangannya didunia. Terkadang, aku bisa menemukan ibu dalam keadaan termenung, entah apa yang tengah di pikirkannya. Yang jelas, gambaran tentang adik tak pernah pergi dari bulatan retinanya. Ibu memikirkan tentang banyak hal, dan adik merajai separo lebih dari isi hati dan otaknya. Aku tak pernah iri dengan hal itu, karena bagiku, setelah ibu adalah adik yang patut masuk dalam daftar prioritasku. Kasih sayang ayah menaungi adik hingga kematiannya menjelang. Dan lagi-lagi aku tak merisaukan tentang hal itu. Adik lebih dari pantas untuk mendapatkan segalanya. Ia lebih dari sekedar pantas untuk mendapat kasih sayang semuanya, dan jika memungkinkan aku ingin menuangkan segala dayaku untuknya. Dunia tak pernah begitu baik untuk bisa menerima kehadiran adik. Terpojok, terkucil dan terkasihani adalah jaring yang selalu membuat mampat perasaanku. Tak ada tempat yang lebih aman dan nyaman ketimbang rumah, dan aku tak berani untuk sekedar membayangkan apa yang akan menjelang adik ketika nanti aku dan ibu telah berpulang. Menikah adalah angan tertinggi yang nyaris tak pernah ada dalam bayangan. Aku takut untuk sekedar memikirkan, akankah suatu hari nanti ada seseorang yang mau menerima adik selayaknya manusia normal. Perutku selalu melilit ketika mulai membayangkan masa depan adik. Sungguh memang, duka tentangnya tak pernah dengan begitu tepatnya tersampaikan. Sekalipun aku pernah mencoba, duka yang kugambarkan selalu hanya seperti bola yang memantul-mantul di tembok kamar. Tak pernah berhasil keluar dari ruang. Jaring yang selalu memampatkan perasaan. Ingin sekali aku mengurainya dalam sekali jadi. Menangisi apa yang tak pernah sanggup kugapai, mendekap apa yang tak pernah kupeluk sebelumnya. Adik adalah alasan kenapa mataku sanggup memanas tanpa meleleh setelahnya. Duka itu telah berubah ujud menjadi bola yang memantul-mantul tembok kamar. Dan aku terlalu bosan mendengar ngeri dan nyeri yang terus melolong meminta pertolongan untuk keluar.
Tentang adik tak pernah sesukses itu mendarat sebagai paragraf yang layak edar. Aku selalu merasa duka yang kutuliskan belum sepenuhnya bisa menggambarkan apa yang kulihat dan kudengar. Jemariku seakan kehilangan daya untuk bisa menyalurkan duka. Mantra yang dulu selalu kubanggakan, belum sekalipun berhasil menembus pertahanan adik. Dukanya tak pernah menemui celah keluar, kapanpun aku mencoba untuk bisa masuk dan merasainya barang sedikit saja, selalu berakhir pada keheningan. Hatiku selalu koyak memikirkan kegagalan. Untuk adikku aku gagal menjadi mata yang berguna. Untuk adikku aku gagal menjadi tangan yang memegang. Duka itu sungguh tak pernah dengan sukses untuk bisa dituangkan.
.
.
.
Tak terhitung berapa kali aku mencoba, tameng yang di lingkarkan oleh ayah belum sekalipun tertandingi pertahanannya. Mungkin karena memang ayah dan adik adalah sejenis. Hingga tak ada yang bisa menyaingi batas kasih keduanya. Andai saja ayah masih ada. Mungkin aku tak harus selinglung ini menghadapi kekosongan mata ibu ketika memandangi adik. Andai saja ayah masih ada. Mungkin aku tak harus sebingung ini menyikapi keberadaan adik. Karena memang adik dan ayah adalah sejenis. Tak ada yang bisa mengasihi adik sebesar ayah melakukannya. Dan mungkin, takkan ada yang bisa menyayangi ayah setuluh yang bisa adik berikan. Perimeter keduanya jauh dari jangkauan. Itulah kenapa setiap aku mencoba untuk menuliskan duka tentang keduanya selalu lepas dari pandangan, selalu ada yang kurang, selalu ada duka yang lolos dari rengkuhan. Karena ayah dan adik sama, andaikan keduanya masih bisa membagi kasih langkanya. Mungkin aku tak akan selinglung ini untuk bisa memperlakukan.
.
.
.
Tuhan tak pernah salah menakar kekurangan seseorang. Semuanya mendapat porsi pas sesuai jatah dan ukurannya. Dan kekuranganku adalah untuk lebih bisa meraba. Tentang ayah yang telah tiada. Tentang adik yang masih sering kulamunkan masa depannya. Aku tak pernah bisa menghadirkan apa-apa, bahkan untuk ibu yang telah mengandung dan memperjuangkanku. Aku tak pernah bisa menghadirkan apa-apa, terlebih untuk ayah yang sekarang tak bisa menikmati apapun selain hanya sebagai penonton pasif saja, sementara untuk adik, hal terjauh yang bisa kupikirkan untuknya adalah mencoba untuk terus ada. Sekalipun dukanya tak pernah berhasil keluar dari dalam ruang, sekalipun dukanya tak pernah berhasil tersampaikan dengan tepatnya. Setidaknya dengan aku ada, mungkin akan bisa dijadikannya alasan untuk tetap kuat dalam menghadapi dunia. Semoga.
Minggu, 19 Februari 2017
Buku Tentang Berlayar
Andai hidup kita adalah sebuah buku. Aku akan mengawali lembar pertama dengan cerita tentang bagaimana kita bertemu. Lalu lembar selanjutnya akan menjadi saksi bagaimana kehidupan menakjubkan berlalu. Berdua kita berlayar ke sebuah pulau bernama pernikahan. Dan seperti di setiap buku lainnya, maka cerita perjalanan kita pun tak semulus yang terangankan. Selalu ada badai yang menyapa, selalu ada gerombolan perompak yang datang menyerang. Tapi lembar demi lembar telah terlalui dan kita tetap bersama. Ketika kisah kita adalah sebuah buku, maka sekian tahun yang kita lalui bersama adalah secuil jika dibandingkan ribuan lembar kosong di depan sana yang belum terisi dan akan terisi tentang cerita bagaimana perjalanan kita menua. Aku berharap buku ini hanya akan terisi oleh namamu hingga kata 'TAMAT' menyapa. Lembar cerita ketika kita memiliki bayi, semua tepat dengan anganku. Kebahagiaan tak terkira seperti menyerbu tanpa mengenal koma, spasi terlebih titik. Bayi kita memiliki mata indah seperti milikmu. Dan ketika aku memandanginya, maka aku akan menemukan tetesan cintamu di dalamnya.
.
Kau membuatku meresapi seperti apa itu indahnya sebuah dongeng. Sekalipun terdengar sedikit berlebihan, tapi sungguh kedatanganmu seperti kepingan-kepingan mimpi yang menjadi nyata. Mimpi tentang menemukan seorang pangeran, mimpi tentang diperlakukan sebagai puteri, dan entah fantasi mana lagi yang patut kusyukuri karena satu demi satu telah menjadi nyata.
Dan ketika sebuah dongeng mengutip kalimat bahwa kedatangan pangerannya adalah seperti malaikat yang di turunkan Tuhan untuk menjaga sang pemeran utama, maka dalam buku kita akan menjadi lain cerita. Aku selalu merasa engkau di ciptakan untuk menjadi penyeimbangku. Dalam beberapa titik kita mungkin tak akan pernah menyatu, saling mengejar dan melunakkan. Seperti itulah sebuah keseimbangan bekerja. Tak peduli seberapa menggelikannya kalimat berikut ini, tapi sungguh kau mungkin tak akan pernah tau betapa istimewanya dirimu. Aku berharap datang suatu hari nanti kesempatan dimana aku bisa membalas semua cinta dan kasihmu. Sementara yang kulakukan setiap hari adalah mencoba dan mencoba. Engkau patut mendapatkannya, kehidupan menakjubkan seperti milikku yang dihadiahkan olehmu. Sementara yang kurasa setiap hari adalah perasaan bahwa aku belum sesempurna yang mungkin engkau minta. Aku tak pernah menjadi sesempurna itu jika dihadapkan denganmu. Seperti itik buruk rupa yang tengah berkaca pada kejernihan sungai, maka seperti itulah aku selalu merasa adanya diriku, dengan engkau sebagai sungainya.
.
Secuil lembar buku terisi yang menggambarkan tentang cerita kita masih akan terlihat terlalu sedikit jika dibanding halaman-halaman kosong di belakangnya. Aku ingin menikmati, setiap lembaran dengan cermat tanpa harus terburu waktu, peran sebagai putri tak semua perempuan bisa berkesempatan mendapatkannya, sementara berani bersumpah, setiap perempuan pernah memimpikannya atau minimal memasukkannya dalam angan. Dan aku beruntung menjadi salah satu yang langka.
.
.
Jika hidup kita adalah sebuah buku, maka lembar pertama akan terisi cerita tentang bagaimana kita bertemu.
Dan bab terakhir akan berisi kutipan tentang bagaimana aku bersyukur untuk hidup yang kita miliki.
.
Sekalipun kalimat ini terasa sedikit menggelikan, tapi aku akan berkata dan terus berkata bahwa kau mungkin tak akan pernah tahu betapa istimewanya dirimu.
.
Dan harapan terakhir yang kupunya adalah semoga tiba satu hari nanti kesempatan untukku bisa membalas semua cinta, kasih dan kebaikanmu. Seseorang yang telah datang dari sekian banyak mimpi-mimpi. Bukan sejenis malaikat yang menyelamatkan, tapi lebih kepada penyeimbang untuk semua kekurangnormalanku.
Sementara yang kulakukan setiap hari adalah mencoba dan terus mencoba.
Tak ada yang terlalu berlebihan untuk sebuah cinta, sekalipun di hitung dari tahun kebersamaan kita masih akan terlalu awal untuk menyebut bahwa hidup milik kita ini menakjubkan, tapi mungkin tak apa jika aku menamainya dengan bahagia. Kebahagiaan tak terkira yang menyerbu seperti gelombang besar di tengah lautan. Terkadang aku harus menangis sendiri. Menyadari betapa berharganya pernikahan ini. Terkadang aku harus menangis sendiri. Menyadari betapa lemahnya pegangan tanganku pada kemudi. Hingga ketika badai menyapa, ketika gerombolan perompak menghadang, yang selalu merajai pikiran adalah tentang melepaskan. Aku akan mencoba dan terus mencoba, bersabar menanti hari di mana aku siap untuk bisa membalas semua kasihmu. Bersabar dan terus bersabar mengendalikan peganganku pada kemudi hingga akhirnya kata melepaskan tak pernah ada dalam judul buku kita.
.
Jika saja hidup kita adalah sebuah dongeng, maka kau adalah pangeran yang di takdirkan memahat perahu, sementara aku adalah puteri yang diskenariokan menjadi pahlawan di tengah perjalanan. Jadi teruntuk kalian yang berkesempatan menemui buku ini suatu hari nanti, jangan pertanyakan apa kegunaanku dan kenapa diawal cerita aku selalu menyusahkan. Sekian.
.
Kau membuatku meresapi seperti apa itu indahnya sebuah dongeng. Sekalipun terdengar sedikit berlebihan, tapi sungguh kedatanganmu seperti kepingan-kepingan mimpi yang menjadi nyata. Mimpi tentang menemukan seorang pangeran, mimpi tentang diperlakukan sebagai puteri, dan entah fantasi mana lagi yang patut kusyukuri karena satu demi satu telah menjadi nyata.
Dan ketika sebuah dongeng mengutip kalimat bahwa kedatangan pangerannya adalah seperti malaikat yang di turunkan Tuhan untuk menjaga sang pemeran utama, maka dalam buku kita akan menjadi lain cerita. Aku selalu merasa engkau di ciptakan untuk menjadi penyeimbangku. Dalam beberapa titik kita mungkin tak akan pernah menyatu, saling mengejar dan melunakkan. Seperti itulah sebuah keseimbangan bekerja. Tak peduli seberapa menggelikannya kalimat berikut ini, tapi sungguh kau mungkin tak akan pernah tau betapa istimewanya dirimu. Aku berharap datang suatu hari nanti kesempatan dimana aku bisa membalas semua cinta dan kasihmu. Sementara yang kulakukan setiap hari adalah mencoba dan mencoba. Engkau patut mendapatkannya, kehidupan menakjubkan seperti milikku yang dihadiahkan olehmu. Sementara yang kurasa setiap hari adalah perasaan bahwa aku belum sesempurna yang mungkin engkau minta. Aku tak pernah menjadi sesempurna itu jika dihadapkan denganmu. Seperti itik buruk rupa yang tengah berkaca pada kejernihan sungai, maka seperti itulah aku selalu merasa adanya diriku, dengan engkau sebagai sungainya.
.
Secuil lembar buku terisi yang menggambarkan tentang cerita kita masih akan terlihat terlalu sedikit jika dibanding halaman-halaman kosong di belakangnya. Aku ingin menikmati, setiap lembaran dengan cermat tanpa harus terburu waktu, peran sebagai putri tak semua perempuan bisa berkesempatan mendapatkannya, sementara berani bersumpah, setiap perempuan pernah memimpikannya atau minimal memasukkannya dalam angan. Dan aku beruntung menjadi salah satu yang langka.
.
.
Jika hidup kita adalah sebuah buku, maka lembar pertama akan terisi cerita tentang bagaimana kita bertemu.
Dan bab terakhir akan berisi kutipan tentang bagaimana aku bersyukur untuk hidup yang kita miliki.
.
Sekalipun kalimat ini terasa sedikit menggelikan, tapi aku akan berkata dan terus berkata bahwa kau mungkin tak akan pernah tahu betapa istimewanya dirimu.
.
Dan harapan terakhir yang kupunya adalah semoga tiba satu hari nanti kesempatan untukku bisa membalas semua cinta, kasih dan kebaikanmu. Seseorang yang telah datang dari sekian banyak mimpi-mimpi. Bukan sejenis malaikat yang menyelamatkan, tapi lebih kepada penyeimbang untuk semua kekurangnormalanku.
Sementara yang kulakukan setiap hari adalah mencoba dan terus mencoba.
Tak ada yang terlalu berlebihan untuk sebuah cinta, sekalipun di hitung dari tahun kebersamaan kita masih akan terlalu awal untuk menyebut bahwa hidup milik kita ini menakjubkan, tapi mungkin tak apa jika aku menamainya dengan bahagia. Kebahagiaan tak terkira yang menyerbu seperti gelombang besar di tengah lautan. Terkadang aku harus menangis sendiri. Menyadari betapa berharganya pernikahan ini. Terkadang aku harus menangis sendiri. Menyadari betapa lemahnya pegangan tanganku pada kemudi. Hingga ketika badai menyapa, ketika gerombolan perompak menghadang, yang selalu merajai pikiran adalah tentang melepaskan. Aku akan mencoba dan terus mencoba, bersabar menanti hari di mana aku siap untuk bisa membalas semua kasihmu. Bersabar dan terus bersabar mengendalikan peganganku pada kemudi hingga akhirnya kata melepaskan tak pernah ada dalam judul buku kita.
.
Jika saja hidup kita adalah sebuah dongeng, maka kau adalah pangeran yang di takdirkan memahat perahu, sementara aku adalah puteri yang diskenariokan menjadi pahlawan di tengah perjalanan. Jadi teruntuk kalian yang berkesempatan menemui buku ini suatu hari nanti, jangan pertanyakan apa kegunaanku dan kenapa diawal cerita aku selalu menyusahkan. Sekian.
Sabtu, 18 Februari 2017
Si Koi Merah Dan Jelaga Hitam
Ari pulang setelah sekian lama berada jauh dari jangkauan. Sebelumnya, tak terhitung berapa kali aku berdoa agar hari cepat berlalu supaya ujud Ari benar-benar terjangkau mata. Ari masih tetap sama, hangat dan menyala. Kepulangannya membawa sebuah bara baru, seperti yang selalu ia bawa ketika kepulangannya yang lalu dan dulu. Kepulangan Ari selalu di nanti, tak hanya olehku, tapi juga oleh semua anggota keluarga. Dan Hara adalah penanti termuda yang bahkan mungkin ia sendiri tak mengerti apa yang ia nanti. Dari semua buah tangan yang ia bawa, ada satu yang merisaukanku bahkan sebelum Ari benar-benar sampai rumah. Peliharaan barunya. Seekor ikan Koi berwarna merah bergaris putih yang besarnya mungkin sekitaran telapak tangan orang dewasa. Ari pernah berkata sebelumnya, bahwa peliharaan barunya tidak akan mempengaruhi apapun termasuk menyita waktu-waktu berharganya bersama Hara. Aku memang sudah memutuskan untuk rela. Kepada Ari yang mungkin akan sulit untuk berbagi adil kepadaku dan penghuni terkecil kami. Tak apa jika aku mulai tak lagi mendapatkan apa yang sudah menjadi jatah wajibku, kecupan ringan itu, tawa renyah itu, aku rela berbagi milikku hanya dengan Hara.
Dan si Koi kecil itu perlahan merenggut kepercayaanku. Waktu berkualitas yang dijanjikan Ari terlalui bersama ikan merah itu, Ari melupakan perjanjian bahwa ranjang adalah tempat sakral dan netral. Aku yang semula terpesona dengan Koi kecil itu perlahan muak. Ari melanggar janji, dan aku memutuskan ikut melanggarnya juga. Kepulangan Ari kali ini tak semenyala ketika kepulangannya yang lalu dan dulu. Karena ternyata, selain si Koi pengganggu, ada hal lain yang membuat sinarnya semakin meredup hampir padam. Sebuah kesalahpahaman yang tak mengenakkan. Terjadi pada hari-hari terakhir keberadaan Ari di rumah. Aku tak ingat persis kejadiannya, yang aku tahu saat itu kadar jenuhku tengah dalam skala menguat. Aku jenuh terhadap segalanya. Bahkan untuk sekedar menyunggingkan senyum atau memberi salam. Aku jenuh terhadap pernikahan kami yang tak pernah menghadapi guncangan berarti. Aku jenuh mengunyah isi dari kata-kata bijak tentang pernikahan yang ku ciptakan sendiri. Bahwa menyatukan banyak kepala ternyata sesulit meleburkan air dan minyak. Bahwa ternyata pernikahan sanggup mematikan salah satu sisi dari seseorang, memutasinya menjadi pribadi baru yang layak edar. Sementara aku, kerasnya hati dan kepalaku bersaing ketat dengan kerasnya kerikil di pekarangan rumah. Aku tak mau peduli jika kemasanku tak masuk standar menantu-menantu dan kakak ipar idaman. Aku tak mau peduli jika diriku ternyata tak layak edar. Aku akan bereaksi sesuatu mulai menggangguku. Aku akan diam ketika pengganggu itu mengendap terus di dasar lambung, tak bisa termuntahkan. Dan Ari tak menyukai itu. Ia memaksaku untuk membenahi diri, ia memaksaku untuk memasuki pasaran tanpa peduli jika kemasanku telah rusak terpapar keadaan. Satu lagi alasan untuk meredupkan nyala Ari. Dan kesalahpahaman itu menyisakan abu. Yang mungkin akan menempel sebagai jelaga dan tak akan pernah hilang. Ya, aku tak sepenuhnya setuju dengan adanya pemaksaan. Ide Ari untuk memasarkan produknya sebelum memantau kelayakan edar adalah sebuah kesalahan besar. Karena sekarang aku mulai mempertanyakan kejujuran dan cinta Ari. Mungkinkah pesaingku tidak hanya Hara ? Tapi ada nama-nama di luar sana yang meski aku tahu tapi tak mau kusebutkan siapa ? Mungkinkah di belakang, Ari hanya memegang tali kendaliku tanpa mau memilikinya ? Aku merasa hancur di kepulangan Ari kali ini. Kesalahpahaman tak mengenakkan itu meluluhkan sebagian dinding rasaku. Aku mulai meragu, takut yang dari dulu menghinggapi mulai menunjukkan dayanya. Aku bukanlah yang utama. Kesalahpahaman itu telah menunjukkan padaku bahwa aku memang bukanlah yang utama. Tak apa jika Hara yang mengambil alih separo jatahku, aku hanya tak pernah mau rela jika nama lain yang mengambilnya. Itu saja. Dan Ari tetap memaksakan kehendaknya. Jenuh yang semula berada diujung kepala mendadak luber dan menyalakan tombol tersembunyiku. Aku mengutuk kepulangan Ari kali ini, setelah rasa iri yang ditimbulkan Koi merah, lalu kesalahpahaman tak mengenakkan itu melengkapinya. Bak potongan bawang merah yang di tabur di atas semangkuk acar. Begitu pas dan sempurna.
.
Bara yang biasa dibawa pulang Ari, yang selalu kujelang dan kunanti, membakarku dalam seketika. Menyisakan abu dan jelaga yang keberadaannya mengekal di jurang sana. Aku tak lagi sama, perasaanku kepada Ari tak lagi sama. Jelaga itu menutupi separo kemurnian dan menelannya dalam hitam. Tak apa jika Hara adalah seseorang yang harus membuatku rela. Tapi tidak dengan nama yang lain. Ari dan pernikahan ini tak akan lagi sama. Aku hancur dalam pemaksaannya. Jenuh yang meluber telah mengenai sasaran dengan tepatnya. Aku bahkan ragu ataukah akan kembali berdoa untuk kepulangan Ari esok supaya hari berlalu dengan cepat seperti selalu ketika ia tengah jauh, Ari tak lagi hangat dan semenyala seperti sebelumnya. Dan aku kecewa.
Dan si Koi kecil itu perlahan merenggut kepercayaanku. Waktu berkualitas yang dijanjikan Ari terlalui bersama ikan merah itu, Ari melupakan perjanjian bahwa ranjang adalah tempat sakral dan netral. Aku yang semula terpesona dengan Koi kecil itu perlahan muak. Ari melanggar janji, dan aku memutuskan ikut melanggarnya juga. Kepulangan Ari kali ini tak semenyala ketika kepulangannya yang lalu dan dulu. Karena ternyata, selain si Koi pengganggu, ada hal lain yang membuat sinarnya semakin meredup hampir padam. Sebuah kesalahpahaman yang tak mengenakkan. Terjadi pada hari-hari terakhir keberadaan Ari di rumah. Aku tak ingat persis kejadiannya, yang aku tahu saat itu kadar jenuhku tengah dalam skala menguat. Aku jenuh terhadap segalanya. Bahkan untuk sekedar menyunggingkan senyum atau memberi salam. Aku jenuh terhadap pernikahan kami yang tak pernah menghadapi guncangan berarti. Aku jenuh mengunyah isi dari kata-kata bijak tentang pernikahan yang ku ciptakan sendiri. Bahwa menyatukan banyak kepala ternyata sesulit meleburkan air dan minyak. Bahwa ternyata pernikahan sanggup mematikan salah satu sisi dari seseorang, memutasinya menjadi pribadi baru yang layak edar. Sementara aku, kerasnya hati dan kepalaku bersaing ketat dengan kerasnya kerikil di pekarangan rumah. Aku tak mau peduli jika kemasanku tak masuk standar menantu-menantu dan kakak ipar idaman. Aku tak mau peduli jika diriku ternyata tak layak edar. Aku akan bereaksi sesuatu mulai menggangguku. Aku akan diam ketika pengganggu itu mengendap terus di dasar lambung, tak bisa termuntahkan. Dan Ari tak menyukai itu. Ia memaksaku untuk membenahi diri, ia memaksaku untuk memasuki pasaran tanpa peduli jika kemasanku telah rusak terpapar keadaan. Satu lagi alasan untuk meredupkan nyala Ari. Dan kesalahpahaman itu menyisakan abu. Yang mungkin akan menempel sebagai jelaga dan tak akan pernah hilang. Ya, aku tak sepenuhnya setuju dengan adanya pemaksaan. Ide Ari untuk memasarkan produknya sebelum memantau kelayakan edar adalah sebuah kesalahan besar. Karena sekarang aku mulai mempertanyakan kejujuran dan cinta Ari. Mungkinkah pesaingku tidak hanya Hara ? Tapi ada nama-nama di luar sana yang meski aku tahu tapi tak mau kusebutkan siapa ? Mungkinkah di belakang, Ari hanya memegang tali kendaliku tanpa mau memilikinya ? Aku merasa hancur di kepulangan Ari kali ini. Kesalahpahaman tak mengenakkan itu meluluhkan sebagian dinding rasaku. Aku mulai meragu, takut yang dari dulu menghinggapi mulai menunjukkan dayanya. Aku bukanlah yang utama. Kesalahpahaman itu telah menunjukkan padaku bahwa aku memang bukanlah yang utama. Tak apa jika Hara yang mengambil alih separo jatahku, aku hanya tak pernah mau rela jika nama lain yang mengambilnya. Itu saja. Dan Ari tetap memaksakan kehendaknya. Jenuh yang semula berada diujung kepala mendadak luber dan menyalakan tombol tersembunyiku. Aku mengutuk kepulangan Ari kali ini, setelah rasa iri yang ditimbulkan Koi merah, lalu kesalahpahaman tak mengenakkan itu melengkapinya. Bak potongan bawang merah yang di tabur di atas semangkuk acar. Begitu pas dan sempurna.
.
Bara yang biasa dibawa pulang Ari, yang selalu kujelang dan kunanti, membakarku dalam seketika. Menyisakan abu dan jelaga yang keberadaannya mengekal di jurang sana. Aku tak lagi sama, perasaanku kepada Ari tak lagi sama. Jelaga itu menutupi separo kemurnian dan menelannya dalam hitam. Tak apa jika Hara adalah seseorang yang harus membuatku rela. Tapi tidak dengan nama yang lain. Ari dan pernikahan ini tak akan lagi sama. Aku hancur dalam pemaksaannya. Jenuh yang meluber telah mengenai sasaran dengan tepatnya. Aku bahkan ragu ataukah akan kembali berdoa untuk kepulangan Ari esok supaya hari berlalu dengan cepat seperti selalu ketika ia tengah jauh, Ari tak lagi hangat dan semenyala seperti sebelumnya. Dan aku kecewa.
Jumat, 17 Februari 2017
Catatan Si Penyu Cacat
Seekor penyu tengah dalam masa bimbangnya. Termangu sendiri di atas pasir tak jauh dari pohon kelapa roboh yang akarnya terkopyok isi lautan. Tak pernah sekalipun hadir bahkan dalam bayangan ia akan dihantam gelombang seganas kemarin petang. Semuanya datang tanpa dulu mengucap salam, melahap semua yang ada. Dan menelannya dalam sekali jadi.
.
.
.
Suara gemuruh yang menguat seiring dengan semilir angin yang kian tak wajar mendatangiku sore itu, aku dan beberapa kawananku tengah menikmati pasir hangat sisa panggangan siang. Beberapa kepiting melewati kerumunan kawananku dan menawarkan untuk berbagi makanan mereka. Dan tepat ketika para kepiting tengah membuka kotak bekal adalah saat terakhir aku mendengar suara. Karena seperti yang telah kukatakan sebelumnya, gelombang besar datang tanpa salam permisi, tak sempat bagi kami untuk meneriakkan kekagetan, mulut-mulut tersumpal air yang mengguyur lalu menenggelamkan. Suara kami terendam didalamnya. Lima belas menit yang terasa seperti selamanya. Aku dan kawananku memang tidak seberuntung itu untuk bisa bertahan dari amukan gelombang. Belum saatnya bagi tubuhku dan kawananku untuk bisa bertahan di dalam air. Belum saatnya. Tapi garis tak mengerti kata belum, ia tetap memaksaku dan kawananku untuk tenggelam dan sekian kali terhantam pepohonan. Gelombang mengerikan.
.
Dan pagi ini, matahari membangunkanku layaknya kecupan seorang Ibu. Pantai yang terlihat seperti bak sampah adalah hal pertama yang kusadari, dan kemudian, aku masih hidup. Sendiri. Tawa meledak diantara tangisku yang menderai. Aku terlalu bingung untuk berkata-kata, akankah aku harus berbahagia atau sebaliknya. Sejauh mata memandang belum kudapati tanda-tanda bahwa semua kawananku seberuntung aku, hidup setelah gelombang besar memaksa bertamu. Aku benaran tidak tahu apa yang tengah merasukiku, sekian waktu setelah tawa usai meledak, yang kulakukan adalah terpaku memandang nanar sekitar. Entah kepada siapa aku harus bertanya. Sementara ketika mataku menabrak sinar mentari saat itulah aku merasakan sesuatu terasa sangat kuat di dalam cangkangku. Sebuah nyeri tak terkira. Mungkin kakiku patah ketika terhantam di tengah gelombang atau apa, aku belum bisa merasai sepenuhnya. Hanya nyeri di titik itu yang merajai seluruh tubuhku. Kulihat cangkangku rusak, seperempat bagian atasnya robek dan memperlihatkan isinya. Kembali mataku memanas karenanya. Aku benar-benar bingung antara harus bersyukur atau mengeluh atas keadaanku.
.
.
Wahai Tuhan yang selalu melihat. Dimanakah Kau ketika air itu tengah menelanku dan juga kawananku ? Lalu apakah ini sebuah lelucon ? Aku terselamatkan hanya seorang diri, dimana kawananku ? Bukankah mereka juga sebaik diriku ? Lalu kenapa hanya aku yang mendapati kesempatan untuk melihat lagi dunia ? Rumahku rusak, separo badanku terlihat dari luar, dan entah engsel sebelah mana yang tak dapat lagi berfungsi seperti sebelumnya. Aku terlalu takut untuk memeriksa, aku tak siap menghadapi diriku yang tak lagi utuh sebelumnya.
.
.
Sore menjelang dengan begitu cepat, aku masih terpaku di tempat pertamaku membuka mata. Dan memang tak ada siapapun yang ku lihat hidup sepanjang hari ini, kecuali beberapa gagak yang mengitari pantai dan meneriakkan dendang pilu. Lewat mulutnya akan tersiar kabar kepada seluruh penghuni alam bahwa sebuah gelombang telah meluluh lantahkan sebuah kawasan, bahwa aroma kematian tercium dari segala sudut, bahwa mungkin para penghuni alam perlu berkabung sejenak untuk memanjatkan doa bagi para penghuni yang telah berpindah alam. Yang lupa gagak sampaikan kepada seluruh penghuni alam adalah bahwa ternyata gelombang mengerikan itu masih menyisakan aku. Seekor penyu berumur hitungan jari, dengan cangkang yang pecah disana sini, dan juga cacat.
.
.
Aku tak berani menatap bayanganku yang terpantul dari sinar matahari, petang beberapa jam lagi akan datang. Dan aku masih tak memiliki niat untuk beranjak. Jika garis memintaku untuk menikmati hidup sekali lagi, maka akan kuhabiskan masa itu hingga remah-remahnya. Sayup-sayup kudengar di kejauhan suara debur ombak yang entah kenapa terasa sangat empuk dan merdu. Sampah teronggok di setiap jengkal pasir, tak hanya sampah manusia tapi juga sampah sisa-sisa alam. Dedaunan kering, patahan ranting, pohon tercerabut, semuanya memperlihatkan duka dan duka. Aku tak tahu, mungkin kawananku ada diantara tumpukan sampah-sampah itu, mungkin juga tertimbun pasir, atau mungkin terbawa arus. Membayangkan tentang hidup adalah hal mengerikan yang kurasakan saat ini. Keindahan, harapan, mimpi, semua mengepakkan sayapnya seketika. Pergi menjemput cakrawala yang konon lebih menjanjikan ketimbang seluruh isi dunia.
Menyisakan aku sendiri, bahkan para gagakpun tak berhasil melacak denyut hidupku. Seekor penyu berumur hitungan jari dengan cangkang retak dan cacat.
.
.
.
Suara gemuruh yang menguat seiring dengan semilir angin yang kian tak wajar mendatangiku sore itu, aku dan beberapa kawananku tengah menikmati pasir hangat sisa panggangan siang. Beberapa kepiting melewati kerumunan kawananku dan menawarkan untuk berbagi makanan mereka. Dan tepat ketika para kepiting tengah membuka kotak bekal adalah saat terakhir aku mendengar suara. Karena seperti yang telah kukatakan sebelumnya, gelombang besar datang tanpa salam permisi, tak sempat bagi kami untuk meneriakkan kekagetan, mulut-mulut tersumpal air yang mengguyur lalu menenggelamkan. Suara kami terendam didalamnya. Lima belas menit yang terasa seperti selamanya. Aku dan kawananku memang tidak seberuntung itu untuk bisa bertahan dari amukan gelombang. Belum saatnya bagi tubuhku dan kawananku untuk bisa bertahan di dalam air. Belum saatnya. Tapi garis tak mengerti kata belum, ia tetap memaksaku dan kawananku untuk tenggelam dan sekian kali terhantam pepohonan. Gelombang mengerikan.
.
Dan pagi ini, matahari membangunkanku layaknya kecupan seorang Ibu. Pantai yang terlihat seperti bak sampah adalah hal pertama yang kusadari, dan kemudian, aku masih hidup. Sendiri. Tawa meledak diantara tangisku yang menderai. Aku terlalu bingung untuk berkata-kata, akankah aku harus berbahagia atau sebaliknya. Sejauh mata memandang belum kudapati tanda-tanda bahwa semua kawananku seberuntung aku, hidup setelah gelombang besar memaksa bertamu. Aku benaran tidak tahu apa yang tengah merasukiku, sekian waktu setelah tawa usai meledak, yang kulakukan adalah terpaku memandang nanar sekitar. Entah kepada siapa aku harus bertanya. Sementara ketika mataku menabrak sinar mentari saat itulah aku merasakan sesuatu terasa sangat kuat di dalam cangkangku. Sebuah nyeri tak terkira. Mungkin kakiku patah ketika terhantam di tengah gelombang atau apa, aku belum bisa merasai sepenuhnya. Hanya nyeri di titik itu yang merajai seluruh tubuhku. Kulihat cangkangku rusak, seperempat bagian atasnya robek dan memperlihatkan isinya. Kembali mataku memanas karenanya. Aku benar-benar bingung antara harus bersyukur atau mengeluh atas keadaanku.
.
.
Wahai Tuhan yang selalu melihat. Dimanakah Kau ketika air itu tengah menelanku dan juga kawananku ? Lalu apakah ini sebuah lelucon ? Aku terselamatkan hanya seorang diri, dimana kawananku ? Bukankah mereka juga sebaik diriku ? Lalu kenapa hanya aku yang mendapati kesempatan untuk melihat lagi dunia ? Rumahku rusak, separo badanku terlihat dari luar, dan entah engsel sebelah mana yang tak dapat lagi berfungsi seperti sebelumnya. Aku terlalu takut untuk memeriksa, aku tak siap menghadapi diriku yang tak lagi utuh sebelumnya.
.
.
Sore menjelang dengan begitu cepat, aku masih terpaku di tempat pertamaku membuka mata. Dan memang tak ada siapapun yang ku lihat hidup sepanjang hari ini, kecuali beberapa gagak yang mengitari pantai dan meneriakkan dendang pilu. Lewat mulutnya akan tersiar kabar kepada seluruh penghuni alam bahwa sebuah gelombang telah meluluh lantahkan sebuah kawasan, bahwa aroma kematian tercium dari segala sudut, bahwa mungkin para penghuni alam perlu berkabung sejenak untuk memanjatkan doa bagi para penghuni yang telah berpindah alam. Yang lupa gagak sampaikan kepada seluruh penghuni alam adalah bahwa ternyata gelombang mengerikan itu masih menyisakan aku. Seekor penyu berumur hitungan jari, dengan cangkang yang pecah disana sini, dan juga cacat.
.
.
Aku tak berani menatap bayanganku yang terpantul dari sinar matahari, petang beberapa jam lagi akan datang. Dan aku masih tak memiliki niat untuk beranjak. Jika garis memintaku untuk menikmati hidup sekali lagi, maka akan kuhabiskan masa itu hingga remah-remahnya. Sayup-sayup kudengar di kejauhan suara debur ombak yang entah kenapa terasa sangat empuk dan merdu. Sampah teronggok di setiap jengkal pasir, tak hanya sampah manusia tapi juga sampah sisa-sisa alam. Dedaunan kering, patahan ranting, pohon tercerabut, semuanya memperlihatkan duka dan duka. Aku tak tahu, mungkin kawananku ada diantara tumpukan sampah-sampah itu, mungkin juga tertimbun pasir, atau mungkin terbawa arus. Membayangkan tentang hidup adalah hal mengerikan yang kurasakan saat ini. Keindahan, harapan, mimpi, semua mengepakkan sayapnya seketika. Pergi menjemput cakrawala yang konon lebih menjanjikan ketimbang seluruh isi dunia.
Menyisakan aku sendiri, bahkan para gagakpun tak berhasil melacak denyut hidupku. Seekor penyu berumur hitungan jari dengan cangkang retak dan cacat.
Langganan:
Postingan (Atom)