Senin, 20 Januari 2020

Tulisan Yang Lain

Aki ingin kita kembali berbicara, meski tulisanku yang sebelumnya pun tidak engkau baca.

Kekurangan cinta akan membuat manusia kering, layu dan merana, tapi kelebihan cinta pun terkadang bisa membuat si penerimanya gila, lupa tentang menjadi diri sendiri dan efek paling mengerikan dari semuanya adalah ketika mereka yang awalnya memberi mulai kehabisan cinta untuk di bagikan. 
Aku tahu tidak mudah untuk mengakhiri apa yang sudah engkau mulai, perjuangkan dan bahkan perjuangan itu menyatu bersama darah dan dagingmu. Mereka yang dulu memujamu akan menjadi bayangan hitam di belakangmu sampai kapanpun. Tak terpisahkan bahkan sampai akhir perjalananmu di dunia. 
Tapi tidakkah engkau sadar bahwa kau tidak sendirian? Semua manusia yang bernapas memiliki masa lalu di belakang yang terus membuntuti, tak peduli ketika masa lalu itu buruk, baik, mengesankan atau justru tanpa makna. 
Satu hal yang ingin kutegaskan disini adalah mencoba menyuntikkan lagi padamu kenyataan bahwa dunia ini berputar, semua makhuk di dalamnya akan menua bersama putaran itu, tidakkah hatimu merasa bahwa sekarang waktu yang tepat untuk memikirkan diri sendiri dan menemukan kabahagiaan yang sejati? 
Aku tentu saja bukan siapa-siapa, hanya mantan pengagummu yang pernah berjejer rapi di antara ribuan lainnya. Atas dasar apa aku berani mendorong kehidupanmu pada tahap selanjutnya? Hanya berbekal kata temanlah maka aku berani mengutarakannya. Entahlah, tapi rasanya sangat tidak mungkin untuk mengahapus begitu saja semua tentangmu dari ingatanku. Kapanpun aku melihat dunia dimana engkau pernah menjadi raja di dalamnya, maka sesering itulah aku mulai mengeluh pada diri sendiri bahwa engkau tak mungkin mendengar kerisauanku tentang usiamu. Berhenti akan menjadi finalitas yang terlalu besar untuk di capai. Tapi tidak bisakah engkau menggunakan trik ninja untuk menghadapi mereka yang masih bertahan menjadi deretan pengagummu? Pergilah secara diam-diam, dengan begitu halus hingga tak seorangpun memyadari kepergianmu dan merasa telah kehilanganmu. 

Ironis memang, tapi aku merasa kasihan padamu. Engkau dengan segala kejayaan dalam dekapan, dengan segala cinta yang melebihi muatan. Dan justru karena hal itulah aku merasa kasihan terhadapmu. Terlebih namamu adalah panutan bagi dua belas lainnya. Pasti ada beban tak terkira yang tengah terpanggul di atas pundakmu. 
Jangan tertawa, aku memang masih senaif itu mempertahankan angka tigabelas untuk bertengger selamanya. Aku membutakan diri untuk melihat kenyataan yang ada.

Dalam tulisan sebelumnya aku sudah memberitahumu bahwa aku telah terikat dengan seseorang dan menjalani hidup bahagia. Sadarkah engkau siapa aku? Seorang pengagum gila yang menghabiskan banyak waktu hanya untuk menyapamu, mengucapkan kata cinta, menebar janji dan permohonan. Akan sulit membayangkan bahwa kata selamanya yang dulu selalu di gembor-gemborkan ternyata hanya bertahan sekian tahun saja. Aku bahkan mendedikasikan satu buku penuh untukmu dan anggota lainnya. Aku sejatuh itu waktu itu. Tapi lihatlah sekarang aku telah berkhianat padamu dengan jalan melepasmu dan kembali pada kehidupan nyata sepenuhnya. Seberapa banyak penggemarmu yang segila dan seterobsesi diriku? Apa kau bahkan pernah dengan repot-repot menghitungnya? Mereka akan pergi seperti juga diriku. Meski keterlaluan tapi pengkhianatan akan menjadi tren yang menjamur dan menyerang berbagai lapis jajaran pengagummu. Dengan berbagai alasan berbeda tentu saja. 
Kepada siapa lagi engkau mendedikasikan seluruh daya menuamu nanti? Pasti akan ada lapisan baru yang muncul. Tapi apakah lelah tidak pernah menjadi bagian dari siklus kehidupanmu?

Lepaskan tahta itu teman, ada babak kehidupan lain yang perlu kau isi dan tengah menunggumu untuk di rangkul bergandengan. Lepaskan panggung itu, lampu sorot selamanya akan di sana dan tetap seperti itu. Akan ada nama lain yang menaiki dan memanaskannya nanti, sekarang waktumu tiba untuk mengistirahatkan diri. Lepaskan kecemasan itu, menghilanglah dengan halus dan perlahan. Hingga tak seorangpun akan menyadari kepergianmu atau pun merasa kehilangan. Karena babak kehidupan selanjutnya pun akan dan tengah dinanti oleh para pengagummu dengan atau tanpa persetujuanmu. Engkau hanya satu, yang menginginkanmu lebih dari seribu. Seseorang mungkin telah berkata akan mencintaimu selamanya, tapi bertarung dengan berbagai probabilitas dan kalkulasi yang serumit itu, tidak akan ada yang benar-benar mau mempertaruhkan akal sehatnya dengan serius kukira.
Apa kau masih menggenggam perkataanmu bahwa kau akan tetap menjadi idola sampai tak ada siapapun yang menginginkannya? Tolong jangan,  karena masa hidupmu mungkin akan habis sebelum engkau sendiri menyadarinya.

Lihat sekali lagi kedalam hatimu, lihat mereka yang menyayangimu namun bukan mengagumimu, lihat mereka yang tak pernah menuntut apapun darimu, lihat mereka yang bisa menerima segala sisi dirimu. Hiduplah untuk mereka, habiskan sisa hidupmu bersama mereka. Karena nyatanya kata selamanya bukan lah sesuatu yang benar-benar berlaku di dunia nyata. Ia hanya ada di dalam dongeng dan lagu saja. Pengagummu akan mengerti dan memahami. Rasa kehilangan mungkin ada, tapi sungguh tak ada yang lebih membuat bahagia ketimbang melihat seseorang yang kita anggap berharga bisa menemukan sendiri kebahagiaannya. 

Tulisan ini tak akan pernah tersampaikan seperti tulisan-tulisanku untukmu yang lain. Tapi entah bagaimana aku selalu merasa bahwa kita telah terikat dalam cara-cara ajaib dan mengejutkan. Berbicara denganmu selalu menyenangkan dan membuatku bersemangat. Hiduplah untuk waktu yang lama, sampai aku melupakanmu, sampai cerita tentang kita terlupakan. 

Minggu, 19 Januari 2020

Labirin

Jatuh cinta seperti memasuki sebuah labirin. Mudah untuk memulainya, bersemangat mencari jalan selanjutnya, tersesat berkali-kali, hingga kemudian frustasi mencari jalan untuk melepaskan diri darinya. 

"Dear Ari, lima tahun perjalanan bersama kita sudah sampai tahap mana jika di labirinkan?"

Mudah untuk memulainya, meskipun jujur saja tidak semudah itu untuk jatuh cinta kepada Ari. Awal perjalanan kami, Ari yang kulihat adalah sosok dengan banyak musim mengelilinginya,  aku pernah melihat ia tersesat di kerumunan musim panas, terdampar di pelukan musim dingin dan sesuatu yang kutangkap di setiap perputaran musim itu adalah bagaimana Ari tak pernah kehilangan cara untuk menjadi si musim semi, yang terus tumbuh, berbunga, hingga kemudian layu menghampirinya. Aku mengetahui segelintir nama dan dari kesemuanya berhasil mengantar Ari pada musim gugurnya, saat dimana semua hal yang berbau tumbuh akan meluruhkan dirinya. Termasuk juga bunga-bunga, termasuk juga dedaunan langka. Hingga akhirnya waktu mengantarkan Ari kepadaku dan saat itulah musim tak bernama tiba, menghampiri tanpa permisi dan membuatku kelimpungan untuk mengantisipasinya. Kami terikat dalam sebuah hubungan selayaknya manusia yang tengah jatuh cinta, tapi nyatanya saat itu aku masih buta dan meraba siapa kiranya pemilik bibir manis itu, siapa pemilik lengan kokoh itu. Aku tidak serta-merta jatuh pada pesona Ari, perlu di butuhkan waktu tidak sedikit untuk mengidentifikasi perasaan apa yang menyelubungi ikatan panas kami. Kenapa tak kudapati Ari dengan musim seminya, yang selalu berbunga, bertumbuh manis dan tak kuharapkan layu. Tapi kemudian Ari mengajarkanku sesuatu, butuh ketelatenan dan kesabaran seorang guru tk juga pengasuh panti werda di satukan untuk bisa menembus kebebalanku. Bahwa terikat dengan seseorang tidak selalu harus di bumbui dengan bunga dan juga kata-kata. Adakalanya aksi lebih menjanjikan ketimbang hanya ungkapan. Dan Ari melakukannya. Banyak cara untuk menebus musim seminya yang gagal di hadirkan dalam pelukanku, sebagai gantinya dia memperlihatkan padaku bahwa di dunia ini ada pergantian waktu yang selalu luput untuk di nikmati manusia hanya karena kadar efeknya tidak sedramatis yang di hadirkan para pemilik musim yang selalu berganti setiap berapa bulan sekali. Yakni tentang adanya siang dan malam. Dan ajaibnya seketika itu pula aku mengerti betapa indah dan nyatanya dunia hanya dengan perhatian lebih kita pada hal-hal detail. Itulah kali pertama Ari menunjukkan pesonanya. Ketelatenan dan kesabarannya sangat membantu.
Setelah siang dan malam berputar dengan membawa begitu banyak makna Ari menuntunku lagi pada tahap selanjutnya. Pengenalan pada pelajaran penting yang kelak membawaku pada titik klimaks proses jatuhnya aku pada cinta Ari. Yakni tentang betapa indahnya sebuah alunan napas, tentang mengagumkannya setiap hal berdenyut yang hadir di muka bumi ini, bukan hanya tentang manusia tapi juga tentang bukit, ombak, dedaunan, kelopak, bintang, pekat. Aku menjadi pengagum Ari dengan sedemikian rupa, pengagum alam semesta meski apresiasi terbaikku hanya sebatas mengagumi dan menggumamkannya. Ya, aku sampai pada titik itu, tahap ketika tak ada kata dan bunga yang bisa mewakili sebuah rasa. Ketika bunga dan kata menjadi tak lagi memiliki arti, selain menikmati, terus berjalan, dan berucap syukur karena perjalanan itu. Ari benaran mengajariku bukan hanya tentang ilmu semesta tapi juga bahasa yang di gunakan oleh semesta untuk menyampaikan maksudnya. 
Kata orang, jatuh cinta adalah tentang berapa banyaknya perbedaan yang tak pernah menjadi penghalang untuk melangkah bersama. Tapi dalam kasusku sepertinya kalimat sebaliknyalah yang berlaku. Aku perlahan menyerupai Ari, perbedaan yang dulu menggunung perlahan terkikis karena ketelatenan Ari. Aku yang semula berkalungkan bunga dan berselimutkan kata-kata, mulai menikmati tentang arti telanjang. Kepolosan yang menghadirkan banyak rasa selain hanya nyaman. Dan aku jatuh cinta pada momen ketika kami melangkah bersama tanpa untaian benang yang menghalangi satu sama lain untuk saling lebih melihat dan mengenal.

Butuh waktu selama itu untuk akhirnya mengetahui, mengakui bahwa aku jatuh cinta pada Ari, pesonanya benar-benar menyala terang, seperti ufuk sore yang di selimuti cahaya jingga sebelum gelap menelannya perlahan. Lalu ketika siang dan malam membawa pelajarannya sendiri untuk di nikmati, maka begitupun pesona Ari, yang menguarkan serta titik lemah dan ceruk yang selama ini tersembunyi dari mata. Kekurangan Ari yang membuatku berkali-kali tersandung dan sersesat. Jika harus di akui, kelemahanku ada pada kekurangan Ari, jika selama ini aku berhasil berdiri tegak karena topangan, dorongan dan juga semangat dari Ari, maka kekurangannyalah yang membuatku terperosok dan terseok kembali. Aku tidak siap melihat celah dari seseorang yang selalu terlihat sempurna. Dan sialnya aku memang selemah itu. Tidak hanya sekali, bahkan berkali-kali pemikiran untuk melepaskan Ari singgah di kepala. Maafkan kelemahanku. Dan puncaknya adalah ketika akhirnya kesadaran tiba tentang adanya sinyal-sinyal datangnya musim dingin di tengah-tengah kehangatan kami. Sesuatu yang salah sedang terjadi. Aku tak bisa terus menerus membohongi diri dengan berkata bahwa bara itu masih menyala, sudah sekian lama sejak terakhir kali Ari berhasil menyalakan api lalu membakar apa yang menjadi penyelubung kami. Kini bara itu hanya berupa kedipan semata, tak berpengaruh apa-apa. Aku yang selalu membenci musim dingin dan tersiksa karenanya, mulai menghakimi Ari. Semua hawa beku yang menyergap hidung dan menyelimuti paru-paru adalah karena kegagalan Ari dalam menyalakan api. Pemikiran tentang berhenti memperjuangkan itu akhirnya kembali lagi, aku tidak pernah menyangka jika hubungan kami akan berliku dan menjadi seperti ini, labirin yang semula kami kira akan dengan mudah di taklukkan ternyata menyesatkan banyak pikiran dan jalan buntu itu benar-benar membuatku mual. Musim tak bernama yang pernah Ari bawa di awal pengikatan kami mulai menunjukkan kelunturannya. Aku yang dari semula tak mampu berdiri dengan bertopang kaki sendiri mulai memahami betapa selama ini hanya Ari sendirilah yang berjuang. Menyentuh pergelangan kakiku, membisikkan mantra, menuntunku dengan ketelatenannya hingga pada akhirnya aku bisa mengatasi keterpurukan dan mulai berjalan. Kesadaran satu itu menghangatkan seperti nyala lilin dalan kegelapan, tapi bahkan lilinpun memiliki waktunya tersendiri untuk terbakar dan tak menyisakan sisa. Hawa dingin kembali menyelubungi, mendekap semua indera hingga aku hampir mati rasa karenanya. 

Ketika kilas balik tak bisa menyelamatkan seseorang, maka terkadang dengan hanya melakukan hal sepele sesingkat mengedipkan mata akan menjadi bala bantuan yang tak terduga. Penyelamatku datang dari benih-benih yang tumbuh karena adanya tetes-tetes embun yang di bawa oleh pagi. Musim dingin yang semula kubenci ternyata membawa manfaat yang tak terduga. Tetes embun penyelamat yang akhirnya menumbuhkan kuncup, daun dan akar. Terima kasih Tuhan. Karena meskipun Ari gagal menyalakan api untuk mendapatkan kehangatan, bukan itu titik dasar alasan kenapa aku ingin ikatan ini mendapat pengakhiran. Faktanya aku kehabisan amunisi untuk mencintai. Mudah sekali untuk jatuh cinta, lalu mulai buta dan menghambur-hamburkannya, hingga memudian cinta habis dan terseoklah kaki-kaki yang dulunya melangkah gagah.
Realisasinya adalah sekian hari setelah pergantian tahun kemarin. Entah hal apa yang memulai hingga memunculkan pemahaman itu. Bagaimana bisa aku melepas tangan kokoh dan bibir manis yang dulu begitu kukagumi? Bagaimana bisa aku menggantikan pegangan Ari dengan tongkat kemandirianku yang ternyata palsu? Akan menjadi apa diriku jika tanpa Ari? Bagaimana bisa aku seegois itu membiarkan Ari terpuruk sendiri menghadapi kekurangannya? Sementara selama ini jika bisa di ingat aku tak menyumbang andil apapun untuk tiang kokok yang menjadi pegangan ikatan kami. Bagaimana bisa aku akan mengakhiri semuanya justru tepat ketika angka lima mengulurkan tangannya untuk melangkahi batu cobaan terbesar sebuah ikatan? Ya, setiap orang selalu berkata bahwa sebuah ikatan akan menjadi begitu rentan dan rapuh dalam lima tahun pertamanya. Dan aku mengakui benar kebenaran kalimat itu. 

Kelip bintang di atas sana menjadi peneguh keputusanku untuk melanjutkan perjalanan. Lilin bisa saja habis nyalanya, musim panas bisa saja membatalkan kedatangannya, musim dingin bisa saja begitu keras kepala menerobos masuk melalui celah-celah, tapi labirin memang di ciptakan seperti itu, buntu di semua sisi tapi selalu ada jalan untuk untuk melihat ke atas, ruang dimana segalanya tak bersekat, tak ada yang mampu membuat sekat dengan yang di atas sana. Langit selalu menjadi raja, entah bagi penikmat siang maupun malam, dan bintang adalah penerang yang tak pernah padam, meskipun nyalanya tak menyalurkan kehangatan, tapi bahkan kehangatan tak melulu harus hadir dari sesuatu yang panas dan membara. Sugesti untuk menjadi hangat setelah menemukan cahaya dalam kepekatan adalah obat tanpa tandingan.

Dan di sinilah aku dan Ari sekarang, dalam salah satu sisi bercabang sebuah labirin yang dulu kita masuki bersama, meski tak berbekal bunga dan kata, meski dinding labirin memblokir segala musim untuk bisa ikut menghanyut dalam pelukannya. Kami frustasi, tentu saja, tapi saat-saat itu telah tertinggal di belakang sana. Meski tak ada bangku untuk meletakkan beban, bahu masing-masing bisa menjadi penopang untuk sekedar menikmati keadaan. Memandang kemilau bintang yang silih berganti menjadi deburan awan. Biarkan musim-musim di luar sana sibuk mencari jalan untuk bisa memasuki labirin dan menemukan kami, karena seindah apapun pertemuan yang di hadirkan oleh pergantian musim gugur dan musim semi, musim panas dan musin dingin, musim tak bernama masihlah pemenang dari semuanya. Dia yang tak pernah berganti, permulaannya adalah pengakhirannya, yang terindah dan yang tak bercela. Meski harus hadir tanpa bunga dan kata, tapi jujur saja aku benar-benar menyukainya. Bukan hanya perasaan suka, tapi aku jatuh cinta pada musim langka yang di perkenalkan oleh Ari. 

Jika normalnya setiap orang akan mengerahkan segala cara dan akal untuk bisa terbebas dari rumitnya sebuah labirin, maka tidak begitu dengan pemikiranku dan Ari. Biarkan kami tersesat di sini lebih lama, menikmati kemilau bintang dan deburan awan yang mungkin tak akan bisa di lakukan ketika berada di tempat terbuka. Biarkan kami menikmati setiap sudut buntu dan uraian bercabang yang selalu membingungkan. Bahkan jika pada akhirnya kami hanya berjalan mundur dan tak pernah kemana-mana pun tak apa. Karena pencarian itu lebih penting dari segalanya. Perjalananlah yang harus dinikmati dari sebuah kehidupan, bukan hasil akhirnya.

Sabtu, 23 November 2019

Tanah dan Hujan

Apa kau mendengarku? Aku bersuara melalui banyak cara, melihat melalui banyak mata, tapi percakapan itu selalu hanya ada di dalam kepalaku. 
Apa kau mendengarku? Ketika derasnya hujan mengalahkan segala suara yang ada, bahkan keheningan pun terasa kian membungkam. 

Aku berjalan menembus hujan. Berharap bisa menemukan lagi kesejukan yang dulu selalu berhasil mengguyur kepolosanku. Mengabaikan dimana jalan setapak, karena dalam keremangan semua daratan terlihat datar dan seperti bisa di jadikan pijakan. Tapi cacatnya jalanan selalu bisa memerangkap kaki-kaki yang lengah. Tapi air menyamarkan jalanan berlubang dan seakan membisikkan kata aman. 

Waktu berlalu sudah sangat lama ketika hujan berkekuatan mendatangkan senyuman. Waktu berlalu sudah sangat lama sejak terakhir kali bisa tertawa riang di bawah pelukan hujan sebelum akhirnya dingin datang. 
Sekarang banyak drama yang terjadi dan terjalani. Dari yang hanya meruapkan rasa bahagia hingga yang mengucurkan air mata.

Kini, tak ada lagi yang peduli bahkan jika aku harus menjadi layu dalam dekapan hujan. Kini semua mata menyiratkan satu ekspresi sama, berupa kebekuan. Tidak terlalu tajam tapi berhasil menusuk sasaran. 

Tanah bukankah tidak seharusnya mengikatkan diri terlalu akrab dengan air? Atau semuanya akan lenyap dalam sekali sapaan panjang. Tanah bukankah harus membatasi pengetahuan tentang jati diri? Karena terkadang memang ketidaktahuan adalah hal terbaik yang pernah ada dan palig baik dari segalanya. 
Angan, harapan, tergusur air yang di tumpahkan oleh tangan besar di atas langit sana. Angin, air, hanya bisa memandang, mengamati bagaimana tanah tersapu hujan sebelum akhirnya terkikis lalu menghilang. 

Perasaan itu seperti tak terbahasakan. Yang hadir melalui celah rapat deretan air hujan. Menetes bergantian dengan si bintang utama. Menyelipkan banyak kenangan dan pesan. Tapi mata selalu lelah memandang sesuatu yang monoton membosankan. Tapi telinga selalu menghindar untuk menerima adanya sinyal-sinyal. 

Sudah seberapa lama tanah satu ini menjauh dari peradaban? Menontoni semuanya dan semakin merasa nyaman di bangku berlengan. Tidakkah ia merindukan sapaan-sapaan? Sudah berapa lama sejak terkahir kali si tanah mencoba mengerti percakapan antara angin yang bertiup ke utara dan hujan yang menyapu daratan di bagian selatan. Hitungan waktu mendadak menghilang, semu, samar, semuanya beraduk dalam keterlenaan. 

Tanah tidak seharusnya mencoba terbang. Sekalipun ketika kemarau melanda beberapa terpaksa harus merasakan udara secara singkat, tapi membayangkan gumpalan-gumpalan tanah beterbangan melintasi langit biru adalah sesuatu yang sedikit mengerikan. Jangan kesana lagi, udara, walaupun kadang terlihat menggiurkan memang tak senyata yang di bayangkan. Udara, tempat segala yang berpindah, tempat segala yang bergerak. Tak ada ketetapan, tak ada keteguhan. Tolong, jangan kembali lagi kesana. Tempatmu bukan di tengah-tengah antara langit dan daratan. Tempatmu jelas, menapak, berujud dan tak berpindah-pindah. Sangat maklum ketika melihat sesuatu yang baru dan lain lalu kita akan merasa takjub hingga kemudian mencobanya. Tapi terbang bukanlah sesuatu yang semudah itu, di butuhkan lebih dari sekedar mengayun lalu mengkhayalkan agar bisa benar-benar mengangkat kaki lalu melangkah nyaman tanpa pijakan. Butuh lebih dari sekedar niat dan keinginan untuk benar-benar bisa berlari melintasi banyak partikel-partikel kasat mata, tanpa warna, ujud dan aroma. 

Adakah yang menunggumu di atas langit sana? Siapa? Engkau tidak bertanggung jawab atas apa yang menimpa langit dan mencemari udara, sekalipun mendung gemar sekali menggantung di ujung sana, meski udara tak lagi seringan bulu-bulu angsa yang di terbangkan. Engkau tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi di lintas kuasamu. Sekalipun aku yakin kegatalan untuk mengatasi semuanya sudah begitu kentara. Sekalipun aku yakin engkau memang tidak sepadat ujudmu, rasamu hadir sehalus udara yang tak teraba, rasamu hadir senyaman air yang mengalir melalui arusnya. Hanya mereka yang tidak paham tentang dirimu yang beranggapan tanah adalah sesuatu yang hanya patut untuk di injak dan di bentuk sedemikian rupa. 

Lalu hujan, dimana mereka akan memuara jika bukan dalam dekapan dan pelukanmu. Lalu hujan, dimana mereka akan menemukan tempat peristirahatannya kalau bukan dalam genggaman dan rengkuhanmu? Mereka mengira tanahlah yang membutuhkan air untuk bisa melahirkan kehidupan. Mereka mengira tanahlah yang berpangku tangan menerima segalanya demi lahirnya sebuah nadi baru. Mereka mengira tanahlah yang menjadi perantara terciptanya cinta antara angin yang berlarian menuju utara dan air yang merembesi wilayah di sebelahnya. 
Karena nyatanya tidak seperti itu, nyatanya tidak semudah itu. Tanah bekerja dengan ribuan kalkulasi. Bertengkar dengan tak terhingganya kemungkinan. Bergandengan dengan ketidak nyamanan. Semua yang terlihat begitu diam tidak selalu tak bersuara, semua yang terlihat begitu rentan tidak selalu membutuhkan uluran, semua yang begitu terlihat beku tidak selalu membahayakan. Hanya karena mereka tidak memahami bagaimana aku bercanda dan berbicara tidak lantas aku bisa begitu saja di jadikan objek pengasingan.

Hanya satu yang selalu ingin kusemat dan sampaikan. Air hujan tidak selalu membawa arus emosi yang sama meskipun volume air yang di tumpahkan tertakar sama. Air hujan tidak selalu membawa keheningan seperti yang khasnya akan selalu dihadirkan. 

Senin, 18 November 2019

Catatan Singkat

Untuk sekali ini saja, bisakah kita berbicara seperti layaknya dua teman? Mari sejenak lupakan ikatan pengandung dan yang dikandung antara kita. 

Ketika kamu mulai memahami ketikan ini dan juga tulisan-tulisan yang lainnya, aku mungkin sudah mencapai surga atau sebaliknya sedang terseok di ujung neraka.

Namamu berarti unsur penting dalam sebuah kehidupan. Dan memang begitulah adanya dirimu. 
Memahamiku tidak semudah membaca halaman demi halaman buku, memahamiku tidak segampang menghapal rute perjalanan. 

Awal kedatanganmu adalah sebuah keajaiban. Kita di pertemukan untuk mempererat dua ikatan yang hampir melonggar. Dan tahukah kamu bahwa aku telah lebih dari sekali untuk menyerah dari Ari? Dan tahukah kamu bahwa hingga saat ini aku masih berpendapat bahwa kalian berdua layak mendapatkan teman yang lebih dan jauh lebih baik dari pada si brengsek satu ini? 

Ada kalanya aku seperti mengenali diriku sendiri, dan waktu lainnya benar-benar membuatku bertanya siapa aku sebenarnya. Beberapa waktu terasa lebih menakutkan ketimbang halaman terburuk dari episode yang paling mengerikan. 
Berapa kali dalam pertemuan singkat kita aku telah mengeluarkan auman dan juga cakaran? Berapa kali aku melukaimu sebelum akhirnya benar-benar merobek lembar kehidupanmu? 

Dulu aku selalu berangan-angan akan menjadi teman terbaik sedunia. Dulu aku selalu berharap agar kehadiranmu bisa menenangkan pertarungan di dalam kepala. Tidak harus selalu menjadi pemenang, karena aku hanya ingin sebuah ketenangan.
Setahun, lima tahun, entah sudah berapa waktu aku menyadari bahwa kepalaku bertanggung jawab untul sekian banyal drama, yang selalu membuatku tersudut, terasing dan sampai akhirnya terbuang. Ya, aku bukan orang baik jika kau ingin tahu. Aku adalah sesuatu yang buruk dengan jenis perasaan yang lebih peka ketimbang paus sekalipun ataupun makhluk lain di alam semesta. Awalnya aku mengira itu sebuah kewajaran yang selalu dimiliki kaum perempuan, tapi nyatanya bukan. Aku mengandung  hal yang tidak bisa kupahami atau kumengerti di dalam tubuh ini.
Ari beruntung jika masih bisa hidup sampai kau benar-benar bisa memahami tulisan ini nantinya. 

Ingatkah kau pada malam-malam sepi bersama kita? Ketika orang lain menyanyikan lagu-lagu manis untuk mengantarkan tidur anaknya, aku justru melakukannya dengan membisikimu banyak maaf. 
Ingatkah kau pada air mata yang selalu merebak hanya di depanmu? Ya, aku takut terlihat tidak sempurna, namun semakin aku takut justru semakin terus kulakukan hal yang sebaliknya. Dunia mendadak berbalik muka semuanya. Aku yang awalnya tidak berteman dan berkubang dalam kesendirian harus mengakui bahwa yang terburuk masih ada dan menyergapku pada akhirnya. 

Jika ada hal lain yang harus kukatakan, maka itu adalah maaf (lagi). Aku melukai yang lain juga selain dirimu, Ari tak terkecuali. Ada sesak yang tak pernah ku bagi dengan siapa-siapa yang akhirnya hanya bisa kulepaskan dalam ujud air mata. 
Normalnya orang akan berubah menjadi lebih baik bukankah? Tapi padaku, hal yang sebaliknya justru yang terjadi. Bekal yang dulu pernah kuucapkan akan di selipkan pada saku milikmu, mendadak lupa daftar. Bekal yang dulu sudah kusiapkan meski hanya seadanya, mendadak kehilangan arah dan tujuan. Aku pernah mengarahkanmu bukan menjadi sesuatu yang kuinginkan, tapi menjadi sesuatu yang baik menurut pengalaman dan juga yang pernah dunia standarkan. Tapi apakah itu akan terpatri di ingatanmu?
Hal yang kutahu adalah aku ingin benar-benar menyerah pada semua hal. Berhenti menjadi manusiawi dan hanya terus bernapas tanpa pernah benar-benar memikirkan apa yang kumau dan apa yang dunia butuhkan. 

Rabu, 13 November 2019

Abu Yang Lain

Harusnya semua hal tentangmu telah lama hilang dari ingatanku. Harusnya semua ingatan tentangmu telah lama menjadi debu seiring dengan padamnya bara yang dulu menyala dengan begitu hebatnya. Tapi nyatanya disinilah aku, terseok dalam langkah sendiri, memunguti remah-remah ingatan tentangmu yang berjatuhan dengan begitu derasnya seperti tetesan hujan di luar. Aku bahagia karena ketika akhir menyentuh hubungan kita, hanya hal baik yang menyelimuti kenangannya. Sepuluh,  sebelas, berapa angka yang kau suka sekarang? Apakah masih tigabelas seperti dulu itu? Apakah tidak terlalu naif untuk mempertahankan keutuhan ketika kepingan dan keretakan telah nyata hadir di depan mata? Atau justru itu cara terakhirmu untuk mempertahankan kehidupan? 

Harusnya aku hidup berbahagia dengan pilihan yang sekian waktu lalu kubuat. Dan memang seperti itu adanya. Tapi kebahagiaan mendadak hadir sebagai kepingan puzzle ketika aku mengenalmu lalu pergi dan kemudian menemukannya. Bukankah kebahagiaan harusnya adalah sebuah perasaan tunggal dan utuh? Bukannya sesuatu yang terbagi dan bisa di bongkar lalu di pasang ulang? Aku mendadak linglung dalam memahami mode emosi yang satu itu. Karena tidak bisa di pungkiri, aku masih bisa merasakan sentuhan hangat dalam kehadiran samarmu. Bukankah semua ingatan tentang sentuhanmu harusnya juga ikut menghilang seiring dengan kuatnya tekadku meninggalkanmu? Tapi nyatanya kenangan hadir dalam caranya sendiri, yang harus di akui begitu unik dan mengagumkan. 

Lihatlah, aku terlihat seperti anak umur belasan, yang ragu dengan perasaannya sendiri, gamang untuk menjabarkan apa yang ada di dalam hati atau dengan sesuatu yang samar mengganggu pandangan. 

Apakah kau ingat ketika aku mengenalmu dalam umur belasan? Awal dari pertemuan kita. Obsesi sekaligus api pertamaku. Aku lupa apa panggilan pertamaku untukmu, atau bagaimana ejaan pertamaku dalam memanggil namamu. Semua begitu abu, tapi kepingan masa ketika aku akhirnya mengakui jatuh cinta dan tergila-gila denganmu adalah sesuatu yang saat ini terasa jelas terlihat seperti tegasnya warna biru di atas langit tanpa awan, atau sejernih hijaunya rumput tanpa selimut embun yang dinginnya selalu membekukan. Aku pernah jatuh cinta dengan begitu hebatnya, seperti melihat putaran video tentang dua kaki dengan tarian yang sangat indah, sementara sekarang memandang dua kaki itu terdiam membuat pertanyaan tentang benarkah aku pernah melakukannya? merasakannya? Semuanya terlalu nyata untuk hanya di anggap angan. 
Apa kau ingat sekian tahun yang terlewati untuk mengobservasi dan juga menemukanmu? Bahkan sekarang masih bisa kurasakan mekarnya kuntum cantik itu di dalam dada. Perasaan berbunga-bunga yang selalu membuat iri siapapun yang mendengarnya. 
Apa kau ingat tentang buku bersampul biru bergambar lautan yang pernah kubuat dulu? Aku punya dua dan belum selesai juga membacanya, entahlah, mungkin titik puncakku dalam mengobservasi dan menemukanmu ada pada saat proses pembuatan buku-buku itu, menuliskan pengalaman cinta adalah sesuatu yang sangat menakjubkan, hingga kesalahan-kesalahan pun akan terlihat seperti ornamen lain penghias halaman, bukannya sesuatu yang mengganggu pandangan. Baru beberapa waktu terakhir ini aku menyadari bahwa buku itu mengandung banyak kesalahan, bukan lagi terlihat seperti buku menggemaskan dengan banyak hiasan yang sedap dipandang. Aku terlalu telanjang, meskipun malu tetap harus di akui bagaimanapun juga. Tentang vulgarnya penulisanku saat itu mengenai perasaanku kepadamu. Ketika orang lain mengakui cinta monyetnya yang begitu membekas dengan dijadikan ajang untuk saling ledek dan banyolan. Aku memperlakukan kenangan cinta monyetku dengan cara mengemasnya dalam buku absurd penuh pengakuan-pengakuan memalukan. Apa kataku saat itu? Percaya pada kata selamanya? Tidak ada kata akhir yang ada hanyalah kata selanjutnya? Dan disinilah aku sekarang, meringis ngeri sendiri sambil memunguti remah-remah kenangan. Karena kita telah berakhir tentu saja, karena hubungan kita menemui kata selanjutnya tapi dengan nama tokoh dan latar belakang yang berbeda. Namamu masih hidup tapi hanya sebagai catatan kaki semata. Maaf untuk mengakuinya seperti itu, tapi seperti yang selalu kukatakan pada mereka yang haus pada peneranganku, bahwa tersesat pada dalamnya lubang cintamu adalah sesuatu yang patut untuk dikemas dan dikenang. Bukan hal yang aneh untuk menempatkan cinta monyet sebagai hal tergila dalam perjalanan hidup seseorang, karena bagaimanapun setiap orang akan melewati fase satu itu, dan aku berterimakasih kepada siapapun pembuat skenario hidup karena menempatkanmu sebagai bahan untuk dikenang.
Lalu apa kau ingat tentang waktu-waktu intim ketika kita bersama? Entah dalam sesi melamunku di dalam sebuah perjalanan ataupun malam-malam panas di sepertiga malam yang selalu kita lewatkan. Karena aku mengingat semuanya. Aku bukan hanya si pemantik tapi juga nyala api itu sendiri, akulah bara yang kemudian beralih menjadi abu itu sendiri. Aku melalui semuanya dan mengingatnya. 


Awalnya aku mengira hanya luka yang bisa disembuhkan oleh waktu, tapi ternyata rasa rindu pun bisa diobati olehnya. Sekian tahun memunggungi, beberapa kali memungkiri, tapi sekarang kakiku berdiri tegak dan mengakui lantang, bahwasanya semua putaran video yang datang sejelas warna kabut di kejauhan ternyata memiliki warna tunggal dan nama terang. Yakni kerinduan. Semua terjelaskan akhirnya petang ini, kenapa abu yang harusnya telah lama hilang terbawa waktu mendadak menempelkan diri di setiap ujung helai rambut yang ada di sekujur tubuh. Karena abu itu tidak pergi kemana-mana, benar si pemantik telah menyalakan dirinya sendiri untuk membuat api, benar bara telah tersulut dengan begitu mudah tanpa adanya bantuan, tapi abu adalah sesuatu yang lain, dia mati namun selalu memiliki cara untuk menampakkan diri, dia mati namun keluasan udara justru membuatnya bisa pergi kemanapun sesuka hati, termasuk juga memasuki sudut antartika lalu kembali kesini, relung hati yang pernah membuatnya terdiam nyaman. Kembali padaku. 


Apa kau lihat itu? Seberapa mudah aku mengingat semuanya jika itu tentangmu. Betapa akhir masihlah menjadi misteri karena kisah selanjutnya pastilah selalu ada, betapa selalu ada spasi panjang di belakang titik yang jelas-jelas membawa tanda untuk mengakhiri kalimat atau sebuah cerita. Semuanya jelas karena selalu ada kesempatan untuk membuat cerita yang lain, kisah yang lain, dan meskipun ceritaku berlanjut sekarang, dan meskipun si buku biru bersampul gambar lautan pada akhirnya nanti memiliki 'adik kecilnya', tapi tentangmu, kisah unik denganmu memilki judul tersendiri yang tak mungkin bisa untuk digabung dengan judul yang lain. Itulah kenapa kabahagiaan seperti sebuah puzzle sekarang, karena ada banyak tema cinta, ada banyak alasan untuk berbahagia, entah yang datang dari masa lampau dalam ujud kenangan, atau yang datang dari masa kini dalam ujud kenyataan, atau justru yang hadir dari masa mendatang dan berujud harapan atau impian. Semua tergantung pada pilihan kita untuk berbahagia pada kisah yang mana, untuk alasan kenapa dan pada siapa. 

Untukku, namamu adalah yang paling tepat mengisi celah kepingan di dalam sana. Tempat yang tak mungkin kau datangi tapi akan selalu kujaga. 

Selasa, 12 November 2019

Membuat Setapak Baru

Jalanan tidak pernah begini lengang sebelumnya. Bahkan suara jangkrik pun tak terdengar. Desau angin yang biasa menjadi penanda kesunyian hanya menghembuskan napasnya pelan. Kemana perginya semua orang? Kemarin masih kujumpai mulut-mulut berjalan dengan ludah tercecer di belakangnya. Kemarin masih kulihat topeng-topeng yang menyemburkan sapa dalam beraneka rupa. 

Aku masih tergolong baru dalam menapaki jalanan asing satu ini, biasanya aku akan melangkah ke jalan dimana disana ada banyak bekas tapak mengering, pertanda di depanku sudah banyak yang melangkah lebih dulu. Tapi terlalu sering mencari belas tapak membuatku akhirnya di landa kebosanan, mengikuti jalan yang di buat oleh orang lain tidak lagi senikmat yang dulu pernah kurasakan. Aku ingin membuat bekas tapakku tercetak sebelum yang lainnya, aku ingin berhenti mengikuti tapi menjadi yang pertama. Bahkan ketika pintu di belakang tertutup rapat untuk bisa membiarkan siapapun mengikuti langkahku, mencari bekas tapakku. Bahkan ketika jalanan di depan sana masih penuh alang-alang sebatas dada bahkan mungkin melampaui batas penglihatan. Aku ingin terus berjalan. 

Langkah pertama yang ingin kulakukan sebelum benaran memasuki jalanan adalah mempersiapkan bekal. Mengemas semua pelajaran yang bisa di ambil dari masa lampau, mengikat erat tangan pada satu tongkat yang akan menjadi pegangan, bahkan aku mulai ahli dalam membebat ikatan yang dulu selalu longgar di batas betis dan lututku. Jalan di depan tak mungkin lebih buruk dari yang pernah tertapaki,  bahkan jika yang terburuk pun masih berani menghampiri, setidaknya aku bisa dengan gagah mengakui bahwa keputusan itu adalah mutlak milikku, aku yang menanggung penuh segala beban yang mungkin terhampar, tanpa perlu menyalahkan bekas tapak milik orang lain yang berani menuntunku ke dalam jurang. 

Banyak orang mungkin akan bertanya kenapa aku yang sekarang berubah menjadi begitu pahit, meski jika harus kujelaskan semua itu tidak semudah menggelembungkan balon udara. Ada proses berat yang akhirnya memutus semua sisi sosial dalam diriku yang enggan kubagi dengan siapa-siapa. Aku ingin menjadi manusia seutuhnya. Itu adalah alasan yang pertama. Memang selama ini menjadi apa? Siapa pemilik si lidah manis itu? Siapa pemilik si mata nanar itu? Aku pernah bermutasi menjadi sesuatu yang ingin orang lain lihat, dan orang lain harapkan. Menggantung syarat-syarat untuk menjadi  manusia seutuhnya seperti terlihat bahagia, buruk, kejam,  beringas dan sebagainya. Ada batas tertentu tentang perilaku manusia di dunia ini dan cara mengekspresikannya yang diciptakan dan di populerkan entah oleh siapa dan jujur saja beberapa sangat tidak bisa di terapkan olehku. Kekangan dalam ujud pemikiran adalah awal matinya seseorang. Dan sejak kapan atau berapa kali aku mati sejak terlahir ke dunia ini? Hitungannya adalah tak terhingga. Aku benci mengakui, tapi harus melakukannya atau aku akan terjebak dalam kekangan selama berapa kalipun aku terjun dalam siklus hidup mati ala manusia. 

Jalanan lengang yang menyapa langkah pertamaku tidak lantas menyuarakan apa-apa. Sebelum ini aku telah membiasakan diri di makan senyap, kesendirian dan pengap. Tanpa suara bukanlah sesuatu yang menakutkan, malah lebih seperti menghadirkan rasa nyaman. Lihat, bahkan atmosfir jalanan pun mengapresiasi pilihanku untuk membuat setapak baru. Tentu itu adalah awal yang bagus. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain mendatangi tempat baru yang langsung memperkenalkan diri sebagai teman. Aku berteman dengan seluruh isi bumi kecuali mungkin manusia. Kenapa begitu? Perasaan lelah mungkin adalah jawabannya. Aku tidak perlu merasa takut di khianati oleh akar pohon yang menjalar, tidak perlu merasa takut untuk di kecewakan oleh sinar matahari yang mengelantang. Seluruh isi bumi menyambut uluran tanganku dengan tanpa memberi secuilpun harapan, dan itu adalah yang terbaik dari yang terbaik. 


Lalu apa kiranya hal yang membuatku mungkin takut untuk melangkah? Jawabannya adalah kehabisan bekal. Meskipun sanggup mendedikasikan diri untuk memahami kayu, atau melihat seluruh manusia sebagai batu, tapi habis bekal adalah sesuatu yang lain. Jika asupanku berupa makanan akan lebih mudah persoalannya. Asupanku adalah pemikiran yang awalnya mentah lalu kemudian di panaskan, terus di panaskan hingga bahannya habis lalu hanya menyisakan pelajaran. Butuh waktu tidak sebentar untuk menggodok bekalku agar siap makan. Lalu apa kiranya yang sanggup mengikis bekal tanpa bentuk itu? Aku tidak berani membayangkan apalagi memberi jawaban. Sekalipun aku benci batasan dan lingkup mengekang, tapi ada satu hal yang garisnya benar-benar tidak berani kusentuh terlebih kulangkahi, yakni jalan kesadaran. Jalanan yang hanya bisa di tapaki dengan satu syarat mutlak yakni sabar. 

Satu-satunya hal yang tersisa dan berani kuharapkan adalah ujung akan segera terlihat selagi bekalku masih bisa cukup menghilangkan lapar dan dahaga.

Satu-satunya hal yang tersisa dan berani kuharapkan adalah ketetapan hati ini untuk melangkah dalam sunyi, nyaman dan menenangkan namun sendirian. Sekali lagi kuingatkan, sendiri bukanlah hal yang baru kutemui, tapi mencari langkah yang tepat untuk dijadikan pijakan adalah sesuatu yang baru dan sepertinya sulit tapi jelas menantang.

Dear akhir, akankah kita semakin dekat, atau justru langkahku makin tersesat? 

Senin, 28 Oktober 2019

Hampir

Sekarat bukanlah kata yang tepat untuk menggambarkan manusia yang masih bisa tertawa dan bernapas, terlebih lagi bagi manusia yang mengaku cinta pada alam semesta.

Tapi nyatanya disinilah aku, tersudut di tempat nan gelap dan juga pengap. Jauh di dalam sana, masih bisa kudengar degub jantung memompa napas,  jauh di dalam sana, masih bisa kudengar tawa dan perdebatan yang enggan meninggalkan kepala. Tapi rasanya semua itu begitu jauh dari jangkauan kesadaran. Aku sekarat oleh ketiadaan sinar alih-alih terkepung di tengah-tengah debu di penghujung musim panas. 

Dimana matahari, dimana kehangatan, dimana denyut nadi. Semua lenyap begitu saja sekarang dari pandangan, dari jangkauan. Kakiku melangkah terseok mengejar nalar, mengejar zaman, tapi tak bisa kurasakan solidnya tanah pijakan. Kemana gerangan perginya kerikil yang biasa menghadang? Kemana perginya jurang yang tak pernah luput dari pandangan? 

Terlalu lama aku berjalan dengan memejamkan mata, menyusuri jalan menuju rumah bukan dengan melihat tapi dengan menghapal, satu belokan ke kanan, dua langkah kecil, dua napas sedang, belok selatan, begitulah biasanya aku akan pulang. Rumahku bukan berupa bangunan, tidak selalu berujud seperti itu, kadang berada di sudut jalur melintang di atas sungai panjang, kadang berupa gundukan tanah yang mencuat begitu saja di sisi ladang, kadang pula berada di jalanan panjang tanpa nama yang terus di susuri tanpa tujuan pasti. Rumahku tersebar di banyak tempat, atau sesekali pula tidak di mana-mana. Seanomali itu hidupku jika kalian ingin tahu. Tapi sekian tahun terakhir rumahku menetap dalam ujud nyawa dan badan. Bernama Ari yang kemudian mendatangkan nama lain, yakni Hara. Dua rumah yang selalu menahan langkahku agar berdiam dan beristirahat. Bersama keduanya aku menjadi seseorang yang utuh dan terkendalikan. Berada dalam naungan keduanya menghadirkan padaku sinar bulan dan matahari secara bersamaan. Aku jauh dari kata kedinginan, jauh dari kata pengap yang selalu mendekap. Ari dan Hara adalah manusia lengkap, manusia berbahagia yang bisa dengan mudah menularkan tawa dan kehangatan. Berada di dekat mereka membuat si manusia sekarat pun perlahan kembali terisi nyawa. Tapi apakah sang gelap benar-benar meninggalkannya? Atau dia hanya menyingkir sebentar tak tahan dengan silau gabungan matahari dan bulan? Jawaban kedua adalah yang paling benar. Karena begitu Ari menjauh pergi, meski bayangannya tak pernah lepas menaungi, tapi nyatanya dingin kembali merayap dengan begitu cepat. Aku ketakutan, merasa terkikis sekaligus terbakar. Ari tak pernah begitu mengenali gejala sekaratku. Dia mungkin hanya akan berujar semua kata rinduku adalah jalan untuk menyambung hubungan, mempererat ikatan yang terrenggangkan oleh jarak. Ingin sekali rasanya menjelaskan konsep sekarat pada makhluk yang tak pernah benar-benar hidup kepada Ari. Suatu saat nanti mungkin akhirnya Ari akan terpahamkan, tentang betapa nasib buruk telah mengikatnya dengan diriku dalam sebuah tema pernikahan. Ya, aku selalu merasa terlalu buruk rupa untuk bisa bersanding nyata dengan Ari yang baik dan terlalu manusia. Dia pantas untuk terikat dengan seseorang yang tidak hanya bertahan hidup dari sinarnya, tapi juga siap menyalakan sendiri cahayanya untuk menerangi Ari. Bersamaku hanya akan ada hubungan simbiosis parasitisme dan bukannya mutualisme. Tapi Ari bertahan, tabah, dan meski terkadang menjengkelkan namun dia terpesona, pada kemampuanku tidak bisa menghasilkan cahaya. Semoga ketabahannya bisa bertahan hingga kemampuannya untuk membaui bisa merasai sekaratku. Makhluk-makhluk yang hanya bisa mengagumi alam semesta tanpa bisa menyerupai apalagi mewarisi sedikit saja keajaibannya. 
Sedangkan Hara, ia adalah pemilik nyala abadi, di awal pertemuan kami, kurasakan perkenalan yang teramat canggung, hingga kemudian dia dengan telaten mengarahkanku, mengajariku untuk berjalan menuju sinar terang di tengah-tengah kegelapan. Pelajaran baru yang memantik antusias berlebih, hingga nyaris saja aku tergoda untuk meluluskan diri sebelum pelajaran itu sendiri usai. Dia pengajar yang hebat, terlalu hebat untuk murid yang terlalu haus akan pelepasan dahaga. Cahaya dan gulita dengan perlahan mulai berjalan bersisian, tak ada lagi ungkapan habis napas, ketika sekejap saja pelukannya sanggup menghadirkan hangat sekekal bara. Aku benar-benar terpesona akan kelihaiannya menyentuh palung terjal. Terpesona pada kekuatan ajaibnya dalam menghadirkan cahaya. Lalu, apakah kali ini gelap itu telah benar-benar lenyap? Kenapa aku masih bisa merasakan gaung suaranya di balik gejolak jantung yang kian membara? Kenapa aku masih bisa menggigil sesekali ketika alam mimpi mulai menjemput dan memisahkanku dari Hara? Halo gelap...tidak cukupkah dengan membuatku hanya sekarat? Aku ngeri memikirkan ini, tapi nampaknya engkau terobsesi untuk melenyapkanku dari dunia ini. Kenapa? Apa karena aku menyukai alam semesta? Atau karena aku tak pernah bisa menghasilkan cahaya, sementara dia adalah satu-satunya yang selalu engkau takuti? Engkau telah berhasil menyekap diriku di dalam kepalaku sendiri, hingga aku tak pernah bisa keluar darinya, bahkan untuk sekedar membela diriku sendiri. Aku muak dengan segala percakapan dan perdebatan itu, aku muak dengan segala sedu sedan yang selalu menjadi kambing hitam bagi perilaku diluar nalarku. Aku ingin bertemankan manusia dan bukan hanya tumbuhan, angin atau hewan. Aku ingin bertemankan siapapun yang tak pernah mengingatkan bahwa aku ini makhluk cacat yang tak bisa menghasilkan cahayanya sendiri. Aku ingin mereka, rumah-rumahku yang berderet normal di setiap ujung dan persimpangan. Aku ingin terlepas dari suara-suara yang tak pernah berhenti berdengung di kepalaku, merapalkan mantra agar aku terbiasa untuk menelan semua percakapan ketimbang meludahkanya keluar.

Ari tolong kembali, berikan lagi padaku sinar nyalamu yang begitu hangat dan menghidupkan. Dia mendekapku lagi, getir, pengap nan menyesakkan yang tak pernah berhasil untuk kuutarakan dalam bahasa yang bisa kau pahami. Ari tolong kembali, bantu Hara dalam menunaikan habis pelajarannya. Sekarat ini seperti akan merenggutku paksa, aku telah berhenti berbicara, berhenti bercanda dan juga tertawa, apa itu cukup untuk di jadikan alasan bagimu untuk kembali? Ari tolong kembali, karena aku mulai melukai Hara, dengan segala kegusaran dan ketidaksabaranku. Aku melukainya dengan itu. 

Jalanan tidak akan pernah menemui titik akhir selama denyut nadi masih bergelayut menemani, jalanan tidak akan berhenti untuk menjalari selama degub jantung masih terdengar riang di setiap desahan, seberapa jauhpun suara itu terdengar, seberapa jauhpun suara itu bergaung. Menyisakan penderitaan tak terkatakan bernama sekarat yang berkepanjangan.