Minggu, 29 Juni 2014

Kura Dan Si Pemancing Sayu

Paragraf untuk satu sel rumit yang tapaknya tengah dalam luaran radar.

Bait mengalir tanpa adanya sendatan, titik dan koma adalah batu kali yang menjadi pijakan. Ia melaju tanpa adanya titah, mengaliri apapun yang digariskan Penciptanya.
Dear engkau yang tak bernama...luasmu adalah seni juga kesedihanku. Dalammu menenggelamkanku melalui riaknya tanya, menelan dalam diam segalanya. Akankah memang engkau didesain tercipta untuk menyiksa?

Puluhan rubik tenggelam didasar kali. Indah, jika kau memandangnya dari dataran atas. Tapi tidak ketika kakimu menjelajah dalam buta diatasnya, mereka menggelincir, mereka menyandung, mereka membuatmu luka.

Dan ini adalah hanya cerita tentang si pemancing amatir, mencelupkan ujung pancing dalam dinginnya air hidup, menyapu segala yang melewatinya..menunggu sebuah nyawa.
Hanya menunggu tangan abstraknya menemukan nyawa. Luasnya kemungkinan dari segala sisi mematikan asa si pemancing untuk menjelajah. Ia hanya menginginkan satu nyawa dalam genggaman..ia hanya membutuhkan satu nyawa ikan yang mau bertahan.

Derap rintik hujan menimpa hijaunya si daun pisang penadah. Menjadi saksi akan satu kegigihan ditepi kali. Tak ada yang memahami, tak ada yang mengerti. Samar yang semakin memburam tersiram rintik menunjukkan satu aliran. Bukan pada si kali, tapi ada pada ujung mata si pemancing sayu itu. Dalam samar juga terdengar ia menggumam, melafalkan pinta, mengigaukan harap.

Dear engkau yang luasnya tak tercakup jari, tak sanggupkah engkau menundukkan satu menara ego milikmu? Bukan karena aku bersimpati pada si pemancing sayu dibawah guyuran hujan, tapi karena langkahmu juga tak tercakup olehku. Aku tak menginginkan untuk menggenggam satu nyawa milikmu. Atau mungkin mengharapkan bisa menyentuh dasaran tanpa menggoyahkan letak rubik dialas luasmu. Tidak, kulitku tak sehalus aliran airmu. Nadiku tak sehangat buaian jerammu. Dan aku hanya ingin sampai pada tujuanku..diseberang sana yang entah berujud apa.

Nyawa tercipta tak lain untuk menyelesaikan sebuah tanya, tanda agung yang dititipi Sang Pencipta justru sebagai bekal. Agar umatnya selalu sadar akan tugas. Sesingkat itu tujuan manusia tercipta sebenarnya.

Dear pemancing sayu, aku tak mengenalmu..kita bukan teman. Tapi satu hal tentang menaklukkan adalah jaring yang membelit kita untuk saling berjabatan. Ya..kita sama-sama tengah menunggu kali berbaik hati, menyerahkan keluasan juga kekuasaannya pada kecilnya ingin kita. Dunia mungkin akan berpikir aku dan engkau adalah manusia terlalu keras kepala yang tak sanggup menaklukkan aliran bernama kali. Tidakkah mereka tau bahwa sebenarnya ialah yang terlalu kuat membentengi diri dari dekapan kita?
Dear pemancing sayu, kita bukan teman..tapi untuk satu ini kita sepakat harus menjadi kawan. Luasnya ia meruntuhkan kesabaranmu, dalamnya ia menghancurkan nyaliku. Mungkin jika kita bersatu si kali akan menyurutkan tinggi juga derasnya aliran.
Hanya saja sayang, kita bukan teman..kita tak akan sanggup berteman. Engkau adalah sejenis hampir sempurna bernama manusia, sedang aku adalah seekor kura.

Dear aliran kali, biarkan detik ini aku menangis, menyelami lagi rasa nikmat akan sulitnya menaklukkan luasmu. Biarkan detik ini guyuran hujan menyamarkan aliran air dibutiran kecil mataku. Engkau yang selalu bersekongkol dengan dunia dan menganggap aku makhluk tak berdaya, engkau dengan kebesaran tembokmu yang sanggup mengikis bahkan kerasnya cangkangku, menelanjangiku dalam ribuan tanya, membiarkanku menggigil dalam kutukan diammu juga.

Aku tak memiliki ingin agung untuk menggenggammu, luasmu terlalu sulit untuk kulalui. Yang aku inginkan hanyalah berjingkat rapi tanpa menyentuh rubik agungmu, lolos dalam jerat palungmu, dan..dan..berhasil mendarat pada dataran lain.
Dear aliran kali, dunia berpikir aku terlalu keras pada inginku..dunia berpikir aku terlalu keras pada diriku. Yang sebenarnya adalah engkau yang terlalu luas untuk kujangkau..engkau yang terlalu rapat untuk ku sentuh. Dan mataku tak sekuat cangkangku, bisakah aku meneteskan lagi airmata ini? Diammu bertubi menyakitiku. Membunuhku.

Sabtu, 28 Juni 2014

Dalam Pelukan Alam

Aku memiliki nama, satu tragedi bernama kelahiran menyerahkan padaku satu tanda. Dan dedaunan tak akan pernah sekalipun mempertanyakan kenapa ia harus tumbuh menggapai matahari sementara akar justru alam biarkan meranggas ke dalam.
Dan ini bukan tentang kelahiran, tapi tentang sebuah kehadiran. Ya, kehadiran.

Suatu hari aku bertanya kepada cermin, dalam ucapan yang hanya tersalurkan tanpa suara. Kenapa aku berbeda? Kenapa aku tak bersuara? Kenapa mereka sanggup berucap kata beraneka rupa?

Getaran-getaran halus pembangun traumatik akan adanya guncangan alam kembali menyapa. Alam diam, namun artefak bernyawaku mengirimkan sinyal dan berkata alam memintaku bercanda. Jadilah aku seonggok tubuh tanpa rasa. Bayangan membentengi keraguan akan adanya pembohongan massal. Dan adakah yang meragukan kejujuran dari sebuah cermin?

Ribuan tanya melayang diudara tentang kenapa, bagaimana, juga dimana. Menangkap mereka satu demi satu hanya menimbulkan kengerian semata. Aku tak sanggup menjabarkan untaian tanya itu. Yang aku bisa hanyalah memandangi, menikmati sisi lucu dari sebuah keabstrakan lugu.

Aku mulai mengenali diriku, melalui cermin, sesuatu yang sanggup ku percaya didunia ini. Sesekali disana, aku meringis, tertawa, menangis juga bertanya. Kadang juga hanya diam memandangi partitur berirama yang tercipta diantara lipatan mata dan rambut diatasnya. Cermin sekali lagi membuatku tercengang kemudian tertawa, tubuhku ternyata benaran artefak bernyawa. Lekuk juga bagiannya saling menyapa juga bertautan menciptakan gerakan. Terkadang samar kudengar kakiku berteriak marah, hanya karena setiap saat harus menginjak ibu kandung alamiahnya. Tanah.
Engkau memang tergariskan untuk menapakinya sayang, dan tanah tak akan bersedih selama ia berada dalam pijakanmu, bukan diatas raga dan mengurukmu.

Aku kembali mengenali siapa diriku, aku terbelah dalam banyak jiwa yang menyembunyikan diri dalam setiap bagian berbeda namun terikat dalam satu artefak sama. Tak pernah lagi ada tanya tentang siapa diriku, hanya jawab yang memastikan keberadaan penjelasan diluar nalar. Dan kemudian tanya beranak tanya, jika hanya aku yang sanggup mengetahui siapa sebenarnya diriku..lalu akankah ada manusia diluaran sana yang akan bertahan dengan ketidakhadiranku? Sel paralel menyelubung didasar batok kepala kembali bekerja, mengais lagi jawaban dari tak terhingganya ruang diudara.

Dan daun mulai merasakan sentuhan tanah, ketika ia berhenti untuk tumbuh, ketika ia berhenti untuk berobsesi.

Udara. Alam kembali menunjukkan kuasanya yang seketika membuatku terdiam gagu. Haruslah sesosok dewa yang sanggup menjadi temanku. Bukankah hanya dewa yang dibawah kekuasaan alam sanggup mendeteksi pergerakan alam itu sendiri? Atau mungkin juga hanya udara kosong yang sanggup ada bersama ketidakhadiranku. Dan alam..bisakah aku mencintaimu sayang? Keluasanmu adalah kekuatan tersendiri untuk bisa menandingi cakaran akarku di hampir seluruh kerak bumi.

Bisakah aku mencintaimu sayang? Saling ketidakhadiran kita yang justru nanti akan menjadi rel bagi perbedaan mutlak kita. Serahkan padaku magnet terbesarmu yang sekiranya sanggup menjaga isi bumi tetap pada letaknya. Karena pada hari penyatuan kelak kita. Tak akan kuizinkan sepotong kayupun terdiam dalam geram. Semua melebur. Akan.
Bisakah aku menginginkanmu alam? Ketidaksanggupanku mengimbangi permainan manusiawi, keluguanku menyikapi sebuah alibi, dan ketidakberayaanku memerangi diri yang hanya sanggup memasrah pada cermin. Bisakah memahami kenapa aku diasingkan didasar mars? Menyebutku penghuni asal hanya karena bercabangnya tangan-tangan otakku sementara milik penghuni bumi lurus tanpa adanya kelokan.

Dan aku menunggu, alam menjatuhkan karma sakral nan agungnya pada sosok abnormal sepertiku.Menunggu titahnya yang terbawa hembusan angin menusuk kepekaanku. Dan tidakkah engkau merasa bahwa hanya aku yang sanggup merekam hingga jejak terhalusmu, alam?

Dadu berputar anggun dimeja judinya. Enam sisi kepunyaannya yang menunjukkan pada dunia tentang sisi tak sebenarnya. Menghadirkan tanya yang oleh mereka justru disebut sebagai pertanda.

Aku..aku dan cermin adalah sama, tapi aku yang berdiri didalam sana lebih hebat ketimbang aku yang terbungkus artefak bernyawa ini. Semua mengalir dengan tanpa paksaan juga tanpa tatapan mencurigakan. Dan seketika sebuah tanya kembali menyeruak dari balik kayu berpernis pembingkai kaca. Siapkah engkau?

Tetes air menerjang hangat atap, alunan piringan hitam dialam komedi, tanah yang menyerpihkan diri. Semua mendadak terasa nyata. Semua terasa hadir. Menjadikanku seseorang terbodoh abad ini. Untuk apa aku hadir pada mereka yang tak pernah menginginkan aku ada? Untuk apa aku hadir pada mereka yang tak pernah menganggapku nyata? Getar halus menyapa lagi..bukan guncangan alam, lagi dan lagi artefak bernyawaku yang mengirimkan sinyal. Tanda unik bahwa aku hanya harus percaya. Pada kehidupan. Akan kehadiran alam.

Jumat, 13 Juni 2014

Koma Di Langit Tua

Apa saja..apapun itu yang sekiranya bisa kalian telan tanpa harus berusaha mengunyah terlebih dahulu, aku ingin menulisnya. Menghabiskan sepertiga malam dalam lumatan hangat deretan abjad yang tertata. Tentang aku, tentang malaikat tak bersayap, tentang cuaca, tentang lebah dengan putik sari favoritnya.

Udara menyekap dalam aroma yang tak jauh beda seperti malam kemarin karena aku berada diruang yang sama, antara percampuran asin yang menguap, residu penyedap rasa juga wangi cendana. Ini kamarku, sekat dimana kuhabiskan lebih dari setengah waktuku ketika tengah lepas dari ruangan kerja. Ini kamarku, aliensi kotak raksasa yang menjadi saksi semua kegiatanku. Aku tidak sedang ingin memperkenalkan ruang tercintaku kepada mata dunia tentu saja, aku hanya ingin berbicara tentang persamaan lainnya, sekat antar makhluk non-melata, aku-kamu dan mereka.

Sebelum ini, sebelum malam ini menyahut segala rasa rindu akan kegilaanku bersama paragraf tampan, aku memiliki teman..cukupan kubatasi ia hanya sekedar teman karena alasan yang mana hanya waktu yang sanggup menjelaskan tanpa menghasilkan efek drama. Aku tak mempercayai kata sahabat, ruang sakral dimana didalamnya tak ada batasan, sedangkan dalam gelombang nyata antara tak ada batas juga penghianatan hanya dipisahkan kulit tipis ari.
Ia adalah sesuatu yang ingin terus kupertahankan ada. Ia adalah sesuatu yang ingin kujaga kebersamaannya. Ia adalah sosok yang ingin kujadikan saudara. Dan aku bersumpah lidahku gatal ingin sekali memanggilnya "sahabat".

Aroma panas terik bercampur segarnya pucuk daun padi yang terbakar matahari disuatu siang yang telah lalu adalah saksi, saksi ketika segala perbedaan juga kehadiran belum menjadi spasi yang menganga. Memisahkan.
Aku merindukan saat itu, ketika tangan-tangan kami saling melayangkan tinju, meruapkan segala kenakalan yang terkadang melewati batas wajar. Dibawah terik, ditengah gempuran dunia padi, didalam gubuk.
Aku merindukan saat ketika mereka adalah penduduk mars yang tengah bertamu ke hamparan bumi, sedangkan tanah luas ini adalah milikku, miliknya, milik kita.

Semuanya terasa indah, semua terasa mencengangkan ketika detik ini kusadari ia hanyalah tinggal sebatas kenangan. Dalam hati aku bersorak riang, karena telah kuprediksikan gelombang ini akan menyerbu ruang kelabu antara aku dan ia yang tak kuketahui nama belakangnya. Dan aku bersiap lebih daripada yang siapapun pernah mengira. Bukankah memang tak ada kata selamanya didunia ini? Dan semuanya terjawab sekarang. Langkah kami tetap berderap menuju arah yang kemungkinan sama namun memiliki ruap suara yang berbeda. Keinginanku untuk terus menjaganya ditelan paksa oleh unsur bernama kenyataan. Ia tak lagi membutuhkan kehangatanku, tak lagi memerlukan kehadiranku, lalu haruskah aku memaksa untuk tetap menjaganya? Kurasa ada yang salah disini. Sesuatu, terkadang harus terhenti bukan karena ia tidak lagi peduli, namun karena sadar kepeduliannya tak lagi diartikan. Dan aku memilih jalan berjingkat kebelakang, menyusuri lagi tapak yang sejatinya jika dibahasakan dalam kata tak bersamar akan terucap menjadi kesendirian. Merenungi pelajaran apa yang sanggup ku cerna dari semua tadi tanpa harus melukai dinding usus, karena memang tak ada perpisahan yang tak menyakitkan. Membaui lagi aroma hangat yang pernah tercipta, dikandang kambing, ditengah kerumunan sepeda bermotor diparkiran, didalam gubuk, ditengah gempuran sunyi kamarnya, hanya aku dan dia.
Ah...semuanya kenapa terasa masih didepan retina? Tidak bisakah ini berefek juga seperti cara kerja mie-instan rasa kaldu ayam diruang indra pencecap? Yang mana engkau tak akan lagi mengingat aroma dari kepulan asap dirongga bergigi ketika menyiramnya dengan segelas air. Kuat dan lenyap seketika.

Ia yang kini kulepas bersama senyum miliknya yang kuadoni dari percampuran rasa sayang juga sesendok airmata. Ia yang hanya bisa kupandang jauh dengan mulut tak berhenti mengucap mantra. Mengingatkannya. Menunjukkan padanya bahwa sepertinya ia salah memilih jalan setapak, bahwa seharusnya cinta miliknya tak seharusnya membutakan dan melanggar norma sekalipun aku harus berkata tak apa jika tsunami kebahagiaan itu menyapu lenyapkan kebersamaan kita. Dan norma adalah batu ditengah kali yang berserak acak tanpa bisa siapapun melenyapkan karena ia akan terus terlihat ada sepanjang aliran itu berjalan. Dan norma adalah sepertinya tak lain seperti hantu yang bercokol dibelakang pintu, benci ketika menyadari mereka ternyata ada tapi tak punyai kuasa untuk mengusirnya. Hanya butuh diam dan tidak mengusiknya.

Kawan, betapa ingin aku meneriakkan ini..betapa ingin aku meluruskan apa yang sekiranya dunia pandang benar..tapi bahkan menyentuh waktu juga tanganmu adalah hal mustahil sekarang. Aku tak di ijinkan, untuk lebih peduli, untuk lebih memperhatikan..karena kita adalah teman.

Dan penutup dari sepertiga malam ini adalah koma, tergantung manis dan melambai diangkasa. Memutar piringan hitam bergambar kita. Namun aku memiliki jalan. Yang lain.

Minggu, 18 Mei 2014

Alien Dan Cicak Di Dalam Kotak Pandora

Tuhan memiliki banyak cara untuk membuat umatnya tersenyum..untuk membuatku menikmati mendungnya hari. Dengan satu hal kecil bernama musik misalnya, dan ketika manusia lain beranggapan diam dan statis adalah sesuatu yang membosankan. Maka bagiku keduanya justru adalah jalan menuju surga. Sanggup ku ciptakan dunia yang bagi mereka adalah sesuatu yang langka, sanggup ku blokir segala akses untuk hal bernama cinta tak peduli betapa mempesonanya penghuni dunia. Diam adalah tema, untuk membuat satu cerita penuh makna..menyatukan helai demi helai lembaran darah yang terwarna acak..memayungi segala jawaban justru melalui sebuah pertanyaan. Lalu, siapakah aku?

Dingin udara bercampur hawa hujan tak pelak selalu sukses menyentuh sumsumku..aku kedinginan, sekalipun tengah bertahan dalam gempuran pemanas yang menguapkan kehangatannya. Aku terus kedinginan sekalipun tengah bergumul manis dengan untaian ribuan benang bernama selimut. Bagaimana bisa cuaca dunia satu itu sama sekali tidak bersahabat denganku? Ataukah justru aku yang terlalu kurang dalam memiliki segala tameng bernama imun untuk kekebalan diriku? Ataukah tempatku berada bukan seharusnya disini, dihalaman yang kupijak rumputnya setiap hari? Lalu siapakah aku?

Kotak pandora beserta isi konsepnya tergeletak diatas trotoar jalanan. Siapa yang peduli ia? Aku berjalan dengan tanpa genggaman tangan yang lain, sesekali menoleh ketika pohon-pohon mulai menyapa dalam desau yang berirama, sesekali aku menoleh ketika robot raksasa berisikan manusia melengkingkan deru juga sapaan teriaknya..dan, di seberang sana, diseberang yang lainnya, juga diseberang yang tak terlihat mata, aku melihat sesamaku tengah berjalan dengan kotak pandora didalam dekapan. Bagaimana tau mereka sesamaku? Karena hati berbicara lebih nyata ketimbang sekedar jabat tangan. Karena hati menyapa lebih dekat ketimbang tatapan yang kian lekat. Dan katakanlah juga masing-masing kita sanggup membaui aroma untuk darah yang sama. Dengan tanpa tanya, dengan hanya melihat kita sama-sama memeluk kotak pandora, anggap saja kita telah memulai pertemanan. Aku temanmu hari ini, aku saudaramu esok hari, dan nanti kita akan saling melindungi juga memberi. Jalanan yang berbeda, bahkan untuk sekedar bertatap nyata adalah sesuatu yang langka. Jalanan yang berbeda arah yang tak sama, namun ketika insting berbicara maka seberapapun jarak adalah kesulitan yang sia-sia..karena bukan aku yang memilih yang mana temanku, tapi hati yang menunjuk bahwa merekalah yang akan berjuang bersamaku. Dan ini jalan milikku, meski sebuah tanya masih membumbung tinggi diangkasa. Siapa sebenarnya aku?

Aku mengunjungi sebuah taman. Hening melingkupi sekitar beserta pendar lampu temaram yang dilahap gelapnya malam. Kulihat banyak sekali bayangan, siluet-siluet hitam yang jatuh tanpa pernah melayangkan protes kepada cahaya. Kutangkap melalui jaring retina, bayangan kaki bangku taman yang tegak lurus menabrak gerombolan acak siluet rerumputan. Kucerna dalam otak, bayangan diriku yang jatuh tepat empatpuluh satu derajat didepanku. Gambar ciptaanku, yang hanya sanggup tertangkap mata sisi dan volumenya, karena ia tak memperlihatkan ataukah aku tengah tertawa lebar atau menangis hebat. Bukankah bayangan hanya adalah sekedar pantulan? Sosok hampir sama yang dengan leluasa kau cipta akan mengarah kemana dan membentuk apa. Dan bayanganku jatuh tepat hampir persis menyamai sisi berdiriku, hanya saja disana tak terlacak antara gelak tawa atau tetes airmata kecuali jika sebuah guncangan badan menghancurkan bayangan diam. Lalu, siapakah aku?


Kembali pulang dalam sekapan bangunan, melalui cara yg hanya dipahami aku dan imajinasi..ku wawancarai seekor cicak yg tengah menempel diatas kayu, dan bukan tembok karena sang pemilik membenci segala unit yang kian menjauhkannya dari alam. Aku mulai mempertanyakan, tidakkah ia ingin mencicipi rasanya melata dijalanan Amerika? Atau menempel manis di gedung-gedung raksasa, menjadi saksi mati namun bernyawa akan banyaknya episode kehidupan, salah satunya desahan-desahan liar yang keluar dari beradunya mulut-mulut pecandu tofu. Dan ia hanya menggeleng tanpa kata. Kutanya lagi tidakkah ia merasa bosan juga pengap tersekap dalam ruang datar juga kotak yang sekilas samasekali tak ada sisi menariknya? Dan jawaban takjub kudapati setelahnya. "Aku ingin melangkah, menyeberangh lautan dan mencicipi ladang gandum diseberang sana. Namun dunia terlalu luas untuk kujelajahi dengan kaki..dan aku sadar aku adalah cicak, bukan dinosaurus atau pesawat zeppelin, dan aku menyukupkan diriku dengan apa yg hasrat tempatkan diriku untuk berlabuh. Bagimu ini adalah bangunan kayu, untukku ini adalah halaman luas pesawahan yg indah dan pemandangan mengagumkan. Dan kamu hanya perlu menjadi aku untuk bisa melihat semua itu. Melihat dengan mata juga sudut pandangku"

aku terdiam..lama..lama sekali, selama ini aku berputar..selama ini aku mencari sesuatu yg telah kumiliki. Senyumku, duniaku. Lalu siapakah aku? Itu tak penting lagi sekarang.

Sabtu, 10 Mei 2014

Kenapa Aku Dilarang "pulang"?

Ini adalah ceritaku, tentang gejolak waras yang tersendat di masa muda.

Dulu, aku selalu ingin tau seperti apa rasanya memiliki teman. Merayakan hari ulang tahun dengan sangat tradisional atau mungkin tradisi bocah-bocah yang mengakar tanpa jeda. Dan aku, bahkan sekedar ucapan pun tak pernah hadir dimasa-masa penasaranku.

Dulu aku selalu bertanya-tanya, apakah ada diantara mereka yang menangis ketika aku mati? Dulu juga aku selalu ingin tau tentang rasanya kematian itu sendiri. Sakitkah? Indahkah? Atau justru sama sekali hambar tanpa rasa? Dan pertanyaan-pertanyaan itu juga hadir ketika aku mulai menginjak dewasa. Akankah cukup aku mengukir sejarah selama hidup? Akan dikenang sebagai siapakah aku? Akankah mereka yang pernah dekat kehilangan diriku? Ataukah sosokku selama ini hanya hadir sebatas tiupan angin saja?

Bak angin beliung yang bertambah volume sejalan dengan putarannya. Begitu juga dengan rasa ingin tau dimasa kecilku.
Bukankah ketika waktu itu datang saat dimana aku tak lagi bernafas, maka tidak akan kuketahui jawabannya? Aku tetap tidak tau siapa yang akan kehilanganku, akan dikenang sebagai siapa nantinya aku, dan siapa diantara mereka yang sudi meneteskan airmata karena kehilanganku. Semua terlambat. Jawaban yang selama ini kunanti akan hadir dan kuketahui dari alam yang tak lagi sama. Pertanyaan itu tak lagi penting ketika aku telah mengalami.

Jadi, seperti apa itu rasanya kematian? Aku menantinya datang seperti aku menunggu jemputan untuk pulang dari sekolah dimasa dulu. Akankah sangat menyakitkan? Kenapa yang terukir kuat dalam ingatanku justru aroma damai tak tertandingi akan sebuah perasaan ingin pulang? Menggebu dan memecut letupan hasratku untuk cepat-cepat mengakhiri, untuk cepat-cepat menginjakkan kaki "dirumah" yang selama ini selalu mereka larang untuk ku cicipi.

Hanya berharap namaku akan tetap hidup, berharap seseorang akan kehilangan, dan pada akhirnya mereka menyadari tentang berharganya sapuanku, menyadari bahwa aku pernah ada. Sekalipun itu sesuatu yang sia-sia. Karena memang aku sudah tak lagi memahami aksara.

Jumat, 09 Mei 2014

Mata, Ular dan Hitungan

Ia adalah satu. Bukan dua seperti yang kalian kira. Bukan pula tiga seperti yang terus salah satu darimu harapkan.
Ia adalah spasi. Bukan kata pembuka yang meluber akan sapaan manis. Bukan juga koma, yang menyapa setiap nyawa dengan teramat anggunnya.
Ia hanyalah spasi. Yang tanpanya..kalian tak akan mampu terbaca, yang tanpanya..kalian hanyalah deretan abjad tanpa judul juga tema. Dia hanyalah spasi.

Ia adalah tanya. Bukan jawaban yang nantinya akan terus kalian kejar. Bukan pula tanda petik yang selamanya akan mengendap di dasar otak. Dia hanyalah sebuah tanya, yang dengan hitungan juga derap langkahnya sanggup membuat siapapun terlelap dalam cacian aksara. Dan dia tak lain adalah hanya sekedar tanya. Yang hidup bercokol disetiap celah hati, menghantui tiap kembar darah yang mengalir nadi. Menyekap sang jawab dalam kotak senyap berujud abstrak.

Ia adalah nadi. Ia adalah misteri. Ia adalah setan tanpa seutas benang di badan. Ia adalah si telanjang. Ia adalah apapun yang hadir dalam persepsi kalian.
Ia adalah mata. Bukan telinga yang terus mencecar dalam tanya. Bukan juga lidah yang akan terus menapaki setiap liku berita dalam jelmaan belitan ular. Dia hanyalah mata yang sanggup membaca, yang enggan bersuara, yang enggan untuk merangkak juga. Hanya memantap. Hanya mata.

Ia adalah lingkaran. Melingkupi setiap nadi dan mengikatnya dalam jaring kuat bernama persaudaraan kekal. Melingkupi setiap angka dan memecahnya menjadi sembilan yang kesemuanya merasa sempurna tanpa mau membuka mata bahwa mereka hanyalah bagian, hanyalah potongan, hanyalah ciptaan dari lingkaran.

Dan ia yang tak akan sanggup hadir dalam waktu selain keheningan. Ia yang tak pernah sudi menginjak bumi berkaratkan janji selain kutukan-kutukan yang saling memantrai. Ia yang tak akan mampu menjadi kalian wahai para pelacur fana.

Ia yang mengurung diri dalam sempitnya lorong aksara. Ia yang mengumpat ketika sepi mulai mengepak ingin berlari. Ia yang tak sanggup menjauh dari matahari. Mata itu.

Dadu Terakhir

Jika kisah cinta kita adalah sebuah buku. Maka halaman pertama adalah rangkaian kata pembuka yang tak memiliki makna. Dan halaman terakhir akan menjadi baris paling manis yang pernah ada. Lembar demi lembar akan terisi dengan banyaknya cacian yang terlontar dari mulut, karena memang hati tak sanggup untuk memaki. Spasi adalah rasa rindu yang menggenapi, sedangkan titik juga komanya tak lain adalah volume kebersamaan tak sering kita.

Jika kisah cinta kita adalah sebuah buku. Maka halaman pertama adalah penjelasan tentang bagaimana kita bertemu. Dan halaman terakhir adalah ucapan tentang rasa terimakasih karena waktu juga hidup yang telah terlewati dan tercipta bersama.

Dan kamu tak lain adalah sebuah mimpi yang pada akhirnya menjadi nyata. Dan kamu tak lain adalah sesuatu yang memang tercipta ada untuk menggenapi. Kita hadir untuk saling memberi.
Kita terikat untuk saling mengingat.

Bagaimana bisa aku merasakan kelengkapan hanya karena mengingat bahwa aku memilikimu? Seperti sebuah kotak yang tak lagi mengingat sisi juga luasnya. Dan hanya berpikir tentang keutuhan isinya.


Dan kamu tetap tidak pernah tau betapa istimewanya dirimu. Dan dunia tetap tidak pernah akan mengerti tentang berharganya hadirmu. Dan aku masih juga belum memahami tentang teka-teki mengejutkan dari Ilahi yang melingkupi.

Dan kamu tetap tidak pernah tau betapa istimewanya dirimu. Rasa hangat merasuk hingga sumsum terkecil. Dan aku tau itu namamu. Dadu terakhir dalam perjudian hidup tentang rasa percaya, tentang rasa cinta. Dadu terakhir yang kupertaruhkan beserta sekeping akal sehat demi ingin yang tak lagi mau menunggu.

Dan kamu..tetap tidak pernah tau tentang betapa istimewanya dirimu.