Minggu, 31 Agustus 2014

Tiga Sahabat

Dentang jarum jam menunjukkan waktu yang kian sebenarnya. Malam.
Udara menghunus tulang melalui dinginnya yang tak terkira. Dan yang tengah ku inginkan sekarang hanyalah menanti pagi menjemputku dari dekapan kebekuan. Aku membenci dingin, dengan atau tanpa adanya alasan pasti disana. Aku membenci dingin karena aku tau tubuhku tak pernah sudi berjabat tangan dengan keberadaannya.

.
Puisi bertebaran disepanjang jalan halaman. Merobek pasti kesucian nan putih dari selembar kertas. Dan dari kerelaannya untuk dinodai tintalah cerita mengagumkannya dimulai.

.

Malam ini tak ingin aku bercanda ria bersama alam, melempar celoteh dalam bentuk tulisan dan melayangkan cubitan kecil dalam ujud sejudul cerita. Yang tengah aku inginkan hanyalah meresapi satu nama. Nama yang kusisipkan pasti dalam tiap tengadah tanganku menghadap Ilahi. Ari dan Alam.

.
.
Ari dan Alam adalah dua spesies langka. Mereka sama-sama menghadirkan padaku dingin yang mencekik juga misteri yang menguliti. Ari dan alam sama-sama menyuguhkan padaku pemandangan surga juga aroma neraka. Dan bahagiaku berada dalam kecakapanku menghitung jumlah senyum yang diberikan keduanya tanpa harus menambahkan berapa liter tetes air yang pernah diperlihatkan mata.

.
Dear malam, sunyi yang kau tawarkan lewat sepertigamu adalah masih teman terbaikku hingga hari ini. Senyap yang menyertai masih adalah camilan favoritku menghabiskan waktu. Darinya aku mendapatkan keluasan demi mengorek apa yang tersembunyi dilekukan otak selagi siang tak mampu memberi jawaban. Tapi dingin itu, aroma yang membungkusku dalam kutukan beku itu. Aku tak menyukainya. Aku membenci ketika ia mulai mengikutimu yang hendak menyapa gulitaku. Dear malam, dingin milikmu seperti hendak membunuhku. Seperti ketika Ari yang datang dalam pengaktifan acuhnya. Seperti ketika Alam yang menyapa dalam gugus lintang menyalanya.

.
Dear malam, biarkan aku menumpahkan semuanya disini. Malam ini. Jangan berfikir karena engkau adalah gulita maka layak untuk kuhadiahi sekelumit cerita berisi derita. Tapi karena engkau adalah yang terbaik dari semuanya. Se mu a nya.
.
Ini tentang mereka, Ari dan Alam yang istimewa. Ini tentang mereka yang selalu mengajakku bercinta dan memperlihatkan surga. Sepertimu, mereka adalah jajaran terbaik yang kupunya. Sepertimu, mereka masuk juga dalam kotak pandora yang ingin ku jaga selamanya. Tapi malam, mereka terkadang menunjukkan seringai. Wajah halus bertabur sinar mentari itu terkadang menunjukkan padaku senyum beku. Sedang aku adalah manusia statis. Kepekaan berlebih menuntunku menjadi sosok yang lebih perasa. Satu saja senyum janggal sanggup menggoresku bahkan hingga menganga. Dan mereka, mereka terkadang datang membawa senyum janggal itu, malam. Aku sakit. Dan jujur akan membuatku terlihat semakin anomali. Jujur akan membuka jaring yang selama ini membedongku erat menuju satu ego yang mengerucut.
.

Dear malam, terkadang memang benar ketika kita harus manut pada adanya rumus. Menjumlah kebahagian tanpa harus mengikutsertakan sedih dalam hitungannya. Dengan begitu mungkin kita akan tetap bisa menjaga sesuatu yang bernama cinta tetap pada tempatnya.
Ari terkadang membuatku harus menekan kuat pelipis dan mengencangkan otot retina. Tapi Ari tak pernah absen datang disaat semuanya memilih untuk tetap terdiam. Tapi Ari selalu ingat apa yang mereka semua alpakan dalam pikiran. Tapi Ari selalu bertahan sekalipun pertahanannya terkadang membawa serta dingin yang menggoresi. Itu pasti bukan kekurangannya. Tapi aku, anomalilah sebenarnya satu-satunya kekuranganku.
Alam terkadang membuatku gila. Alam terkadang membuatku merasa kurang manusia. Tapi Alam dan aku sama, kita adalah dua yang tak akan sanggup saling digantikan keberadaannya oleh apapun. Tapi Alam selalu memberiku kebebasan, melamuni air didanau dangkal, menyerapi udara tanpa harus membayar, menghitungi tanah tanpa harus ada pendefinisian. Tapi Alam selalu hadir tanpa aku harus berusaha menemui. Tapi Alam menyelimuti dimanapun langkahku berjalan. Dan Alam tetap dalam keindahan mengagumkannya yang tak pernah berhenti membuatku tercengang. Sekalipun memang, lagi-lagi dingin yang dibawa Alam selalu bisa mencekik dan membuatku menganak air mata.
.
Dear malam, sekiranya engkau sudi menuntunku untuk terus tersadar bahwasanya tak akan ada cerita sedih jika aku mau menurunkan sedikit saja ego juga darah anomaliku. Sekiranya engkau sudi untuk terus bersabar karena aku sering mengotori kesucianmu dalam tangis untuk mereka.
Dear malam, aku bisa tersenyum kini. Aku bisa kembali tumbuh setelah kemarin hampir mati terinjak erosi harian. Terbukti engkau masihlah yang terbaik hingga hari ini. Keluasan aksaramu adalah obat, sekaligus candu yang menenangkan gejolak amarahku. Keluasan aksaramu adalah vitamin. Bagi otak yang senantiasa butuh pengairan juga pengaliran. :-)

Sabtu, 30 Agustus 2014

Sepotong Nyawa Dalam Caravansary

Kembali aku terlempar diudara...tersuruk dalam kelembutan kapas putih bernama awan. Mataku memburam, tersaput banyaknya tanya yang begitu saja tergeletak dihamparan karpet langit.
Aroma senyap kubaui sekali lagi, tersendu sesaat ketika kudapati sadar bahwa kembali aku disudutkan disini.
Tempat abadi, satu-satunya tempat yang menjadi persinggahanku sebagai manusia tanpa nama. Satu-satunya tempat yang mau menerimaku tanpa lagi menyuguhkan tanya tentang siapa aku, bagaimana dan kenapa. Satu-satunya tempat yang berhasil meyakinkanku bahwa ia sanggup mengurai tetesan air diretina menjadi butiran-butiran harta.

Kemarin lusa, nyawaku terjepit, ketika harus diceburkan ke dalam ruang penuh sosok berjubah malaikat. Sementara itu dengan segala kelihaian mereka disulaplah tanduk diatas kepala menjadi tahta penuh gemerlap berbagai warna. Aku diceburkan dalam sekolam penuh sesak makluk yang tengah beradu pedang.
Dengan mantra-mantra kutukan memenuhi segala sudut ruang tanpa lagi mengenali sosok sasaran.
Ujung paruku menyempit, pesendianku mulai ngilu, bahkan nafasku melambat dalam hitungan satu-dua-satu. Aku sekarat..terlalu berat ketika harus kujalani hari bersama sosok berkarat. Separuh darah suci yang mengaliriku mulai meraung, menembus segala diam ditiap sudut jiwa bahwa ia menginginkan pelepasan. Ia mulai merengek bahwa tak seharusnya aku berada disana, dalam ruang pengap penuh kemunafikan. Perang dua aliran darah tumpah tak lagi terelakkan. Menjadikan tubuhku ini sabagai daratan bebas tak bertuan. Jadilah aku, setengah manusia yang tengah dalam persimpangan. Peperangan.

.

.
Detik ini..dalam nikmatnya sengatan matahari, lembutnya bantal awan dan hembusan angin surgawi kembali aku dihadapkan pada satu dilema. Sepi yang lambat laun melumatku dalam goresan samurainya. Sepi yang perlahan melenyapkan nyawaku. Membunuhku.

Dalam keheningan total semuanya beraliensi menjadi penguji, nada-nada merajuk merayuku untuk terlelap, kicauan merpati menyapaku mengajak untuk bersua mimpi, hembusan angin menyusup hingga sumsumku menarikan banyak gerakan tanpa angka hitungan. Aku hanya manut..berharap kepatuhanku kepada pemilik awan sanggup menghadirkan untukku satu saja kawan. Berharap ketidak adaan geliat dalam nafasku memberinya sentuhan berarti hingga ia terketuk memberiku satu saja teman bernyawa.

.
.
Harapan adalah jilatan pedang, kata adalah mantra yang melumuri tiap ujung sayatannya. Dalam kepatuhan tanpa batasan, kembali aku terlempar dalam satu kesadaran. Siapa aku? Bagaimana dan kenapa semuanya menjadi pertanyaan? Dalam dunia yang seharusnya ada untuk artefakku yang disebut manusia, kenapa tetap juga kutemui prasangka? Iritasi yang terus tergores hingga luka tak lagi bisa disebut luka. Ia telah berganti nama menjadi bencana. Dan dalam lingkup dimana semua ruang adalah lengang, di penghujung langit, kenapa masih juga kudapati sepi yang menusuk tanpa permisi? Aku..dimanakah harusnya sebenarnya aku?

.
.
Gegap gempita nafas menyambutku pada detik pertama kepulanganku dari persinggahan diatas awan. Satu nyawa menyapa, dua raga mengajakku berbicara, tiga nama mulai menyodorkanku banyak tanya.
Ahhh...tanya, bedebah satu itu kenapa datang lagi? Bahkan tak diberinya aku satu saja waktu untuk sekedar bernafas lega tanpa menghirup tanya dan tanya. Telah kumasuki dunia yang kengeriannya tak akan pernah sanggup untuk siapapun berani sekedar mempertanyakan. Telah kusinggahi juga tempat dimana semua aroma yang kucecap adalah semerbaknya surga, tempat dimana seberapapun jauh mataku memandang yang ada hanyalah kedamaian, hening yang meluap dari empuknya dataran awan. Dan kini, yang tersisa adalah kata-kata. Kakiku melangkah sejauh ia sanggup, mataku memandang seluas retina sanggup berkelana. Tapi semua tak menyisakan makna. Karena kembali, hanya kutemukan kawan, kutemukan sejumput harapan, kutemukan sederet teman dan ku temukan juga secuil nyawa dari para penghuni cakrawala aksara.
Tetes peluh kusulap menjadi koma. Tawa bahagia kumantrai menjadi spasi. Dan dari itu semua, dari kehadiran sesuatu yang tak pernah ada, berhasil ku kelabui diri dengan berbagai macam janji. Janji bahwa aku tidak akan pernah sendiri, janji bahwa semua akan menguap dari persembunyian, janji bahwa tak akan pernah kubiarkan diriku kesepian. Secercah harapan yang muncul dari pembohongan massal dari diri sendiri untuk diri sendiri.

.
.
Telah kulalui banyak jalanan lebih panjang dari siapapun yang berkaki, telah kulalui banyak perang dimana darah bukanlah sesuatu yang berarti ketika harus ditumpahkan. Telah juga kulalui banyak hari dimana keabnormalan menjadi judul untuk tiap ekspedisiku.
Jalanan ini, tak akan mungkin hadir dengan lebih mengerikan lagi. Dinginnya aspal tak akan lagi sanggup membunuhku untuk kesekian kali. Karena telah kubentengi diri dari mantra pembunuh terhebat sepanjang masa yang pernah ada di dunia ini. Sepi.

Minggu, 17 Agustus 2014

Empat Cerita Singkat

"Gelap malam tak menyurutkan ia untuk berkumandang. Dalam ujudnya yang terbatas dan membataskan diri. Dalam ujudnya yang terhimpit ruang tahanan. Dan kemudian kealamian melebarkan segalanya menjadi secangkir kekaguman." -140 KARAKTER-

----

"Ia yang menginginkan untuk didekap, ia yang mengharapkan adanya sapaan, ia yang terbodohkan oleh karena meluapnya kehausan. Ia yang menumpulkan segala tajam hanya demi sebuah senyuman. Ia yang kering bersama waktu disaat hadirnya justru memberi nutrisi bagi sesama. Dan ketidakadilan dalam diam adalah belenggu dari sudut ruang yang tak tertangkap kamera. Tak ada yang tau seberapa dinginnya disana." -MEJA SATU-ENAM-ENAM-

----

"Ia bersayap, ia tertawa bak malaikat, matanya menceritakan banyak deretan jalanan surga, tangannya meletupkan banyak balon udara, nafasnya menghadirkan alunan sastra. Hanya saja Tuhan tak mengizinkan dunia mendengar ia bersuara. Dan hanya saja, aku digariskan untuk bertahan dengan kebisuannya. Dan hanya saja, aku digariskan untuk menjadi satu-satunya penggores apa yang dilukiskan pergeseran matanya. Damailah kawan, seperti yang engkau tau.. dunia tak seramah yang ditangkap retina. Dunia tak semanis yang mampir dalam ujung pencecapmu. Terkadang juga aku menginginkan agar kita terlahir sama, hanya karena tau. Menjadi si bisu masih lebih baik bagi tatanan aspal panjang ini, semua terasa lebih baik karena engkau ada disana. Siap berdua menata banyak kata." -TIGA AKSARA-

----

"Mereka terangkum dalam satu mangkuk sop panas, racikan banyak sayur hijau, oranye, kuning, dan putih tulang. Bersatu, melaju, berpesta menikmati laju adukan sendok bergagang. Mengepul dari dapur agung dan meluncur menuju meja pengadilan. Aku terlahir diantara semangkuk itu, tersenyum anggun dan menatap gagah setiap makhluk yang dilewati pembawanya. Akulah pemenang, akulah yang bertengger sebagai putri tanpa secuilpun olahan. Akulah yang keluar dengan hanya bermodal korban goresan. Dan tak ada yang melewati masa menyentuh tanah lebih lama dari kejapan mata. Si putri beserta semangkuk sopnya mendarat diatas meja bertaplak lebar. Dan tamtama euforia seketika berada dalam puncaknya. Mata menyapu semua sajian, aku tak terkecuali. Aku tau, ditengah pembedaan dari sang koki mahal sosokku pastilah memiliki keistimewaan. Dan ah, ternyata benar. Sekalipun aku harus disisihkan paling awal tapi jalan dari pasar hingga menuju meja cantik ini menempaku juga mengajariku kekuatan. Aku menjadi saksi bagi mereka yang lenyap dalam kunyahan mulut monster-monster berpenampilan elok. Aku, si malang yang melenggang manis menuju akhir dalam kealamian." - TENTANG HURUF KE-TUJUH-

Kamis, 14 Agustus 2014

Aku Dan Ari Di Hari Jadi Yang Terlampaui Tiga Hari

Aku ingin menunjukkan, kepada alam yang selama ini mau bersahabat karib dengan sepiku. Aku ingin menunjukkan, kepada semesta yang sejauh ini berhasil menjaring balon udara agar tetap dalam jangkauan tanganku.

Jilatan ombak menyapa persendian dasar kaki, alam berharap buih kotor yang terus menggulung pasir sanggup menyurutkan asa juga bara cintaku pada air laut, ya..hanya air laut.
Kakiku terus menapak, kakiku terus menjejak, tawa memeluk setiap lipatan air yang meninggi. Dunia harus tau, bahwa aku tengah bahagia dalam dekapan buih kotor semesta raya.

Masih bisa ku ingat gemericik desir air dibawah jembatan besar di penghujung kota, mendamaikan, menghadirkan, namun derasnya tak sanggup mengundang kebahagiaan. Aku butuh terjangan ombak lebih keras untuk bisa tertawa gila dan lepas dari landasan normalku. Laut, aku mengaguminya hingga persendian tulang dalamku.
Dan seperti juga cuaca seperti itulah rasa yang terkandung dalam tubuh anomali batu kali. Ada, tak tertuang kata dan tersembunyi dalam kelam.




Sebaris kata untuk hari jadi yang terlampaui tiga hari.
Harapan terajut manis bersama benang sangkakala. Keabadian diharapkan mau mengecup hingga celah tersempitnya, dan belum juga kudapati kata yang pas demi menggambarkan rasa betapa aku telah menemukan. Sesuatu yang terpisah bersama ari, sesuatu yang terputus dari jaringan plasenta, menghadirkan sosoknya dalam ujud manusia, setelah 20tahun lebih berkelana.

Dear ari-ariku, akhirnya kita saling menemukan. Hidup ini luas bukan? Dan butuh hampir seperempat abad untuk kita bisa saling menggengam. Sebelum ku rentangkan banyak kalimat bersyukur karena akhirnya memilikimu, ijinkan aku menyuguhkan padamu senampan kue pembuka. Sebaris cerita tentang aku dan alam yang selama ini menjalin persahabatan, tenang aku dan alam yang mutlak saling memiliki namun tak sekalipun berniat saling menyematkan ikat. Hanya sadar keduanya saling hadir, keduanya memiliki telepon batin itu saja. Tak ada yang tau betapa aku sangat mengagumi cara kerja semesta ini demi menghibur kesepianku. Dihadirkan olehnya riak kecil daratan pantai ketika raga ini mulai merengek mengharapkan
pelepasan dari pengap udara berjalan. Dihadirkan olehnya juga lambaian daun padi diterik siang yang selalunya membuat siapapun berlari menyerbu atap teduh terdekatnya. Dalam balutan nada tak berspasi katak sawah, ia hadir disana..meledek hariku yang tengah dalam ujung sempurna. Bahkan ari, alam menyapu serak tangis yang jatuh karena ulahmu dalam sapaan singkat ujung mahoni ditepi jalan. Ia sangat dekat, ia bahkan melekat, ia yang ku sebut sahabat, ia yang tak berkontur sepertiku, sepertimu dan ribuan manusia lainnya. Untuk itukah aku disebut gila?

Dear ari, penduduk dunia selalu menyebutku gila, mereka tak pernah paham kenapa aku selalu bisa mengapresiasikan alam dalam kesempurnaan layaknya alam adalah sesosok kawan. Bahkan ari, tanyamu ikut hadir menyertai ketika aku tengah bercengkerama bersama debur ombak dengan buih kotornya.
Kenapa bertanya sayang, bukankah sudah kujelaskan diawal keterikatan kita bahwa aku sesuatu yang lain? Laut bagiku adalah kawan siangku, celoteh binatang senja adalah kawan yang mengantarku pada kegelapan, sementara hening tak bertepi adalah sejenis TTM menjeput pagiku. Ia adalah rentetan temanku ari, satu-satunya paket teman yang kugenggam erat dalam saku menuju akhir tanya kehidupan.


Tak bisa dielakkan, aku dan uluran selmu juga terbungkus rapi dalam balutan alam. Aku dan jiwa terbangmu berkeliaran rapi dalam pelukan luas semesta raya. Dan aku berterimakasih tak terhingga untuk penyatuan kita yang terhidang dalam mangkuk ketidaksengajaan.
Luasnya aku yang terpawangi adanya garis diujung nyata dengan perairan samudera, tingginya jangkauanmu yang terpalang rapi awan-awan menggantung diudara. Tak bisa dihindari, ada saat nanti kita memang harus memiliki, mencumbui setiap helai dikepala dan menghadirkan dewata.

Sekiranya engkau paham ari, tentang adanya nyawa yang tak terikat raga. Tentang adanya hidup yang tak terbalut plasenta. Dan masih kuharapkan engkau paham tentang hadirnya aku dalam ujud membingungkan, dalam format ketidak sempurnaan.

Dear ari, terimakasih untuk penjelajahan dunia baru ini. Lingkupan bereuforia yang sama sekali baru pernah kujejakkan tapak nyatanya disana. Terimakasih untuk waktu, untuk keheningan, untuk pemahaman, untuk pelukan, untuk kecupan, untuk sentuhan, untuk kesediaanmu memahami kegilaan juga kemesraanku kepada satu-satunya kawan. Alam.
Terimakasih untuk satu tahun petualangan ini, tanpamu aku tetaplah si penikmat batu kali. Yang berusaha untuk ada, sekalipun tetap saja hadirku lenyap dalam lumatan kelam.
Dear ari, pahamkah juga engkau untuk ritme nyanyian caraku? Yang tak sanggup berbicara dalam format nyata. Dan yang tak sanggup bersuara dalam jangkauan telinga. Hanya kata, hanya deburan gelombang airlaut saja. Dan aku harap engkau terbiasa.




Nyanyian katak bersahutan mengiringi jalanku pulang, meledek aku yang tengah dalam kesempurnaan hidupku.

Senin, 28 Juli 2014

Tentang Huruf "I"

Malam bertabur banyak suara. Melodi menjadi tanah bagi mereka yang terus menjejakkan pendengarannya, dan siangku berdiri terpisah di dalam kantong saku baju polkadot merah, kuning, hijau juga biru.

Ini adalah satu spasi yang terlahir untuk ia yang tengah dalam balutan hijau daunnya. Keberadaannya yang berada dalam lingkup garis tebal mulai menunjukkan kekuatan sekaligus menghadirkan ketakutan tersendiri bagiku.

Gelembung balon perlahan membentuk kesejatian dirinya dalam kekuatan pompa yang bernafas melalui pergerakan tapak kaki, putih lemah bercorak putih kuat, hijau, biru bercorak hitam dan yang tengah genggamanku adalah hijau bercorak putih. Ketika yang lain mulai membentuk kurva tersendiri, disaat yang lain berhasil terbang karena kekuatan dari keras jejakan kakinya, ia hanya mampu tergeletak di sudut berisikan udara seada-adanya. Tanpa bisa berteriak menggugat yang ada, dan yang ia bisa hanyalah terdiam menikmati perbedaan.

Dear gelembung hijau, langkahmu melaju mungkin tersendat nafas juga tali harapan. Kakimu terjegal banyak mulut yang enggan turun tangan memenuhi luasmu. Aku tau..aku tau karena mata kurcacimu mengatakan bahkan memintaku untuk mendekap juga melindungi dari sekedar pengapnya ruang.
Engkau tidak berjuang sendiri sayang, ketidakberdayaanmu mengudara mungkin berhasil mematikan inginku untuk memungutmu dari kemungkinan terbuangnya engkau karena tersisihkan. Dan aku adalah mungkin sesuatu yang harus tercipta lain. Ya, terkadang didunia ini, memang harus ada yang menjadi tanah agar udara terlihat lebih ada sekalipun hadirnya tak tertangkap retina.

Dan itu aku. Telah hadir rumus waktu dalam mimpiku, bahwa disana nanti hanya ada aku dan kau dalam balutan mengagumkanmu. Disana nanti hanya ada aku dan rimbunnya pohon berdaun lebar. Disana hanya menyisakan aku beserta engkau dalam genggamanku, berdua melebur dalam dunia tak tersentuh tangan beragenda.
Dan suara tak lagi penting karena yang mereka butuhkan selalunya hanyalah kebaikan dimata orang.

Dear gelembung hijau, ketersisihanmu dari garis normal adalah awal kesadaran bahwa aku harus mendekapmu, karena kita satu lingkaran. Terlahir dari darah juga sperma yang sama, terkandung dari luasnya perut bumi yang tak akan terjangkau kaki. Dan kemudian engkau ditakdirkan berbeda. Tak apa, hanya sebatas nada. Hanya sebatas suara. Dan dunia akhirnya akan menyadari keberadaan kita. Dua nyawa disudutan yang tersapu erosi takdir.

Minggu, 27 Juli 2014

A.B.S.E.P

Ia adalah awal, dasar dari adanya kehidupan. Setidaknya beberapa nyawa memang hadir dari keberadaannya.
Ia adalah yang terus mencicipi segala umbi, memeluknya dalam gundukan berarti setelah ia relakan pucuk baru menjulang menggapai ibundanya.

Tentang satu petak kanvas yang tercoreng banyak sapuan kehidupan. Tentang satu bentang alas yang menyemai jutaan mikroba dalam lumatan energinya. Akankah engkau sadar kawan, ia terbiasa dalam pijakan, ia terbiasa dalam kungkungan imortal molekul dasar alam.

Dan ia yang memahami tentang adanya pengasingan juga kesepian lebih dari siapapun di semesta raya ini.

Jumat, 25 Juli 2014

Alam Yang Mengikatkan

Hujan menyambut senja dipenghujung bulan ketujuh. Satu tahun lalu, dibangku yang sama, dipetak yang sama juga pernah terukir kisah. Satu cerita yang hanya menyisakan dalam ingatan berupa kepingan lumatan bernada santai. Ia pernah ada disini, hadir beserta dinginnya malam yang tak sanggup menjebol kehangatan tembok bambu. Ia pernah ada dibangku ini. Tempat dimana seonggok tubuh tengah memeluk diri berbalutkan dingin dikala senja mulai melambaikan tangannya.

Ini adalah satu catatan tentang si bisu dan si kepala batu. Keduanya sama keluar dari perut ibunda dan bukan terlahir paksa dari pecahan batu raksasa. Dan hujan mempertemukan mereka disela perjalanan masing-masing menuju mati.


Hidup tak ubahnya adalah lingkaran tunggal yang mana sudut pusatnya adalah cara pandang setiap manusianya. Si bisu mengisyaratkan Si kepala batu agar memberi ruang bagi hujan menunjukkan aksinya dalam dingin yang meremukkan tulang, ia membentuk berbagai pola dari kedua tangannya, menyapu udara
melalui pergerakan jemarinya. Dan yang ditangkap oleh lawan bicaranya hanyalah isyarat baku tanpa makna. Keduanya bergumul dalam peperangan bahasa, saling melumat berbagai tanya meleburkan mereka dalam berbagai persepsi juga sudut tangkapan.

Hujan mereda ketika gelap datang membawa angin menyejukkan. Tak ada lagi dingin menusuk yang melingkupi, kecuali ketika udara berhembus kuat menyusup paksa tiap tameng-tameng tembok bambu. Hangat telah tercipta atau mungkin dingin yang telah membias dan memaksa jaring kulit terbiasa dengan kutukan mantranya. Tetap tak ada kata terucap dari salah satu mereka. Cuaca yang menyalami diri dalam hangat tak mengubah Si bisu dan Si kepala batu untuk bisa saling mendekat bukan dalam urusan jarak. Dan alam mengerti jalan tengah untuk mengikat keduanya. Bukan dengan pemahaman, bukan dengan kesadaran. Namun melalui rintik hujan yang meneteskan ribuan aksara dan panjangnya untaian kata. Alam berpuisi dalam hujan untuk ia yang tak sanggup sekedar mengucap "a" dari mulutnya. Alam berirama dalam senandung mesra untuknya yang tak mengenal partikel halus bernama suara. Suara dari banyak mulut, banyak hati, banyak alinea. Alam menyerahkan pada keduanya teka-teki melalui rintik hujan. Dan dingin kembali datang.

Satu kotak penuh kilas balik telah terkemas rapi, teronggok manis disamping sesosok tubuh dengan rambut berkuncir. Satu tahun berlalu semenjak cerita abstraknya disaksikan alam. Si bisu telah berhasil mengucap beberapa suku kata, si kepala batu mulai sadar dengan adanya air dan partikel halus yang menyerbuki bumi, tempat tinggalnya. Dan hujan masih saja meneteskan puisi, hujan masih saja menyajikan irama. Dulu rintik-rintik merdu itu masih sanggup merayu, dulu rintik-rintik bernada itu masih sanggup membekukan waktu. Dulu dingin yang datang bersamaan rintik besar itu masih sanggup meremukkan sendi bahkan mematikan.
Dan sekarang yang tersisa adalah pembiasan rasa. Alam sanggup menghidangkan hujan sebagai tali untuk membahasakan apa yang harus terucap, tapi alam sepertinya tak sanggup mencermati setiap arti dari ayunan jemari juga berbagai pola tangan yang diciptakan Si bisu, tapi alam sepertinya tak sanggup memasuki area dasar bahwasanya didataran kehidupan ini ada partikel keras juga yang menjadi alas bagi bumi dalam garis keseimbangannya.

Waktu dan hujan berlomba meracuni kesadaran untuk menyerah menyatukan Si bisu dan Si kepala batu, tapi harapan tersemai dari masing keduanya. Alam menang dalam upaya pengikatan. Hujan berperan bak Joker dalam sinemanya yang menyimpan banyak elegi misteri. Dan yang tersisa sekarang hanyalah pembiasan rasa. Pembunuhan sadis terhadap jaring kulit beserta lapisan dibawahnya. Ia yang tengah teronggok mengalirkan air dari retina, memeluk sekotak penuh kilas balik kisahnya. Dan ia yang tengah mengudara mencoba bernegoisasi dengan alam agar berhenti merayakan euforia kemenangan dan berharap ada formula nyata lain yang sanggup menghadirkan suara dari teman berteduhnya.

Dingin kembali menyapa, remah-remah tajam mencuat menusuk tiap inchi tulang. Dingin kembali mencoba menghunuskan tajam kuasanya. Tanpa peduli jika Si bisu tengah sendiri didalam bilik sama seperti satu tahun lalu ia melewati amukannya bersama ia yang tengah mengangkasa. Membiarkan dingin melumuri keduanya dalam diam yang targambarkan oleh satu goresan saja.

Dan sepertinya alam belum terketuk lagi untuk mau membantu menghadirkan resep ampuhnya. Ia hanya memandang, membiarkan rintik hujan kembali menyapa, membiarkan Si bisu terdiam ketika lelah menghampiri pergerakan tangan isyaratnya, membiarkan Si kepala batu mengais sendiri jawaban yang sebenarnya ada dalam genggaman namun tak disadarinya. Alam hanya memandangi keduanya. Membiarkan asa mempermainkan waktu yang juga tengah mempermainkan retina salah satu dari mereka hingga kemudian meneteslah air yang dikandungnya.