Sabtu, 06 Desember 2014

Kerak Jawa Dan Sudut Sumatra

Titik.

.

Apapun kata pembuka dari cerita ini, aku hanya merindukan adanya titik.
Satu, dua, empat, waktu berjalan selalu seperti sekejap mata. Aksara-aksara yang menjadi getaran penghantar dikala nada tak lagi berkuasa menyalurkan suara. Dan sesekali aku berharap sanggup menyapa tanpa harus perlu otak mencerna.
.
.
Surabaya..ia masih sekawanan dengan daratan yang kusinggahi. Guncangan lokal dikotanya bisa jadi tak akan sampai merambat dikediaman nyamanku. Tapi aku mendengar, aku membaca dan kulayangkan sejumput doa melalui udara. Guncangan lokal adalah sejenis efek kejut bagi jiwa-jiwa yang senantiasa terlelap damai. Sementara aku, melalui mantra kuterbangkan jiwa melalang buana kesetiap penjuru sendi, kuterbangkan jiwa melalang buana kesetiap sudut keping nyawa. Aku terkenyangkan dengan adanya ketakutan yang tak wajar. Dan dari kesemuanya menyuntikkan padaku satu serum keabnormalan yang tak akan sanggup dicerna oleh kata. Termasuk oleh si dataran Surabaya.
Surabaya..ia masih dalam jangkauan langkah kaki. Menyambanginya dengan berjalan hanya membuat lemah hingga berangsur mati. Sementara berlari tak akan membantu apapun, aku tak memiliki energi cukup untuk menempuh jarak. Sekalipun pasokannya membanjiri, tubuhku seringnya merengek ketika tujuan terlalu lama juga terlalu jauh dari pelupuk mata.
Surabaya yang malang, kujadikan ia persinggahan dikala jiwaku mulai menunjukkan kemuakkannya pada apapun yang disebut normal, sementara ia membenci adanya perbedaan. Surabaya yang bersuka cita, karena pernah aku bersedia mengiringi langkahnya dalam jalanan menuju tempat gemerlap bernama impian.
Surabaya..dataran sama yang senantiasa alpa disapa hujan. Melalui kerak Jawa, air yang mengaliri kota kami bisa jadi beraroma sama. Melalui kerak Jawa, bahasa menjadi semacam ayam petelur yang menyampaikan semuanya tanpa harus berfikir esok ia akan menjadi apa, karena yg dibutuhkan peternak hanya telur-telurnya.
Surabaya..tempat persinggahan yang nyaman sebelum akhirnya datang sadar cuacanya membuatku kegerahan.
.
.
Pati..ia berada lebih dekat dari apapun dan siapapun. Hallo dataran sunyi nan mengagumkan, apa kabarmu tadi malam? Tak ada yang sanggup kucecap lagi indahnya dataranmu. Kita sama, dan kemisteriusanmu menempati ruang pas dalam kotak karakterku. Ya, seharusnya siapapun sadar, persamaan dan perbedaan bukanlah hanya dua-duanya perekat yang ada dimuka bumi ini. Tapi anomali, sudut yang tersembunyi dari ucapan juga lekuk senyuman juga adalah lem untuk keterikatan yang datang tanpa keterpaksaan. Pati..dataranmu hanya dalam jangkauan jengkal, tapi menekuri langkahmu sesulit menyusuri labirin diujung paru. Sekalipun aku sanggup membaca, engkau selalu lupa bahwa aku menyajikan apa yg kiranya tengah engkau laparkan. Dan aku bersyukur kita tetap sejalan.
.
.
Sumatra..
Aku ingin bernafas sebentar, menyusuri gorong-gorong sekresi ingatan memang sangat melelahkan. Dan untuk perjalanan menyebarang satu ini, selayaknyalah aku membutuhkan peristirahatan. Bernafas, menikmati udara yang membiusku dalam lelap. Bernafas, mengamati laju angin yang tanpa lelah hilir mudik melalui jalanan rumit bernama organ dalam badan.
Sumatra..aku harap titik yang tengah kucari berhenti disatu dataran luas ini. Ia tau betapa lelahnya aku berkelana selama ini. Menyibak semak, membabati belukar yg dengan kuat memagari hati juga jiwa-jiwa para kurcaci. Selayaknyalah ia tau rekor terjauh lembaran jiwaku mengelilingi bumi adalah dataran berkelok miliknya. Harus ku seberangi perairan, jalanan yang lebih terjal ketimbang hanya merangkak dan berjalan. Sementara untuk terbang..ah, aku terlampau lelah juga untuk menjelajah angkasa. Sekian tahunku mengoreki sudut langit membuatku merasakan kerinduan yg teramat pada adanya fungsi kaki. Aku ingin berjalan, aku ingin meresapi sapaan tanah, aku ingin memperjuangkan langkah, menjejak tiap inchi bumi sebagai makhluk layak edar bernama manusia dan sekali lagi kutegaskan, aku bosan melayang. Terbang hanya membuat kaki-kakiku ngilu karena terlalu jarang digunakan. Sementara nanti, ketika aku mati..kaki-kaki jasadku haruslah membubur dalam gundukan tanah suci, bukanlah terbakar dan menjadi abu untuk kemudian melayang hilang ditelan cerobong asap kapal.
Sumatra..ia masih dalam pelukan langit sama seperti tanah singgahku. Bahasa dan kata adalah justru sesuatu yg mendekatkan tanpa adanya pengampunan. Dan hey..masihkah engkau ingat bahwa garis merah dari adanya segala keterikatan ini adalah hanya sebatas sadar?

.
.
Aku gagal mencari titik didataran penghujung Indonesia. Titik dari segala kata pembuka cerita ini tak ada dimanapun langkahku menyapa dataran. Bukan di Surabaya, Pati atau mungkin Sumatra. Bukan dimana-mana. Tapi titik itu ada disini, ditiap ujung pori yang menyebar disepanjang tubuhku. Titik itu ada dalam niat dan inginku. Tak ada yang perlu diakhiri. Perjalanku sejauh ini mengajari, titik terkadang diperlukan bagi paragraf lain yg memerlukan adanya bait berjalan. Mungkin beda sapaan, tapi tetap satu tema bacaan.

Kamis, 04 Desember 2014

Cerita Pagi

Ini adalah satu cerita singkat tentang dua anak mikroba, terlahir dalam agungnya tetesan embun di pucuk daun bambu.
.
.
Ini surga, tanpa harus menjelaskan kenapa.
Ini surga, tanpa harus ada pertanyaan bagaimana.
Ini surga, karena kami memilih untuk berkata bahwa ini surga, meski ruang memaparkan didepan mata bahwa ini sesungguhnya adalah neraka.
Siapa yang peduli, tak ada yang perlu peduli dengan dua anak mikroba seperti kami.. terlahir di banyaknya kealamian pucuk halus mengerikan daun bambu, aku harus membahasakan itu sebagai apa agar dunia paham..sebuah kealamian yang di gariskan ada untuk kami tapaki.
.
Tak ada yang harus mempedulikan dua anak mikroba seperti kami, hanya perlu menikmati sejuk yang sesekali turun dari hasil endapan embun yang tak sanggup lagi ditahan. Dan jatuh.
.
Ini tentang dua cerita..kenapa kita ada, meski kurang bermakna namun mungkin sanggup untuk saling menguatkan.

Sabtu, 29 November 2014

Dalam Balutan Abu-Abu

Pagi menyapa dalam balutan rinai yang turun teratur dari langit. Awan sendu terlihat semakin mengikis dari balik kaca jendela kamar. Lama. Lama kubiarkan jarum jam berjalan tanpa disandingi aktivitas berarti, selain hanya bernafas. Ya, bernafas.

.

Sesosok kawan lama datang menyentak lamunanku dalam cicit merdunya. Merayap dalam jarak yang tak terlalu dekat untuk dilayangkan kibasan, juga tak terlalu jauh untuk sekedar menatap sorot kecil matanya. Ekor lencirnya terpaku seiring dengan waktu yang juga membekukan hujan diluar sana. Sekali lagi mata kami saling beririsan. Menyapa.

.
.
Ku kirim sapaan berupa sinyal getaran yang hanya bisa dimengerti oleh kaum spiral seperti kami. Mataku mengerjap sekali ketika samar kutangkap seulas hangat tersapu dilingkar mata berairnya. Dia membuka pintu hadir untukku. Hai, teman...sudah sangat lama ketika terakhir kali aku menyapamu dalam bait panjang yang telah lalu. Masih ingatkah?
Aku tersenyum ketika sosok itu tak lantas pergi menjauh ketika tanganku sedikit terjulur mendekat. Ia menerima permintaan pertemananku lusa kemarin. Aku tau itu, kehadiranku yang tak lagi mengusik menjadi pertanda bahwa aku diperbolehkan menjadi temannya. Hujan terus membungkus kami dalam hangat yang tak lagi membakar dalam beberapa waktu kedepan. Membungkus hening yang terus melingkari percakapan kami bak pelangi diatas garis awan. Mengagumkan.

.

Adalah seekor cicak yang menyita perhatian selama berjam-jam waktuku tersekap dalam rintik hujan. Dalam ruang kotak bernama kamar dan getaran menjadi bahasa yang menyambungkan selain tatapan. Pernah kusapa ia dalam lain kesempatan, detik pertama ketika akhirnya kuputuskan untuk menamai ketertarikanku pada makhluk mungil melata itu menjadi keinginan sebuah ikatan bernama teman. Sebelum hari itu, aku telah melayangkan banyak sapaan. Tapi tak pernah kulewati detik ketika mata kami pada akhirnya harus beririsan. Aku selalu mengira ia tak akan sudi berteman dengan monster sepertiku. Kami beda alam, beda tanah jajahan, bahkan berbeda tanah jalanan. Aku selalu mengira diamnya adalah penolakan tak langsung pada niat baikku untuk menjadikannya teman. Dan hujan pagi ini menjadi saksi bahwa semua yang menjadi dugaanku hanyalah prasangka tanpa alasan.

.
Dear makhluk manis, aku senang ketika kita akhirnya bisa menjalin ikatan bernama teman. Telah sangat lama kudamba hubungan tak lazim ini. Dan bukankah akhirnya engkau sadar bahwa keberadaanku bukanlah sebuah ancaman? Kita berada dalam lingkup udara sama, dan hanya getaran yang mampu mencerna ucapan yang tak sanggup diterima oleh masing-masing kita. Diamku bukan berarti tengah dalam siaga untuk melahapmu. Diammu pada akhirnya ku tau bukanlah kesombongan yang meruak dari pribadimu. Dan aku senang engkau akhirnya bisa mencerna bahasa tatapan.
Dear makhluk tipis, hujan diluar tengah dalam skala besarnya. Alam sepertinya tengah ikut merayakan hubungan kita. Diturunkannya air dalam jumlah tak terhingga hanya agar engkau dan aku bisa saling menyapa dan bersalaman. Hari ini istimewa, aku tau. Sekalipun jika nanti sosokmu harus lenyap dalam gulita yang menelan. Tak apa, karena akupun tak akan selamanya ada dalam sekat berdinding ini. Duniaku tak seluas ruangan kita, tapi aku tau..jalanmu tak akan pernah melangka jauh dari jangkauan pandang ruangan kita. Dan disini ku temukan nyawa. Dalam seulas senyum diwajah cicak manis sepertimu. Dan disini ku temukan teman dalam ujud makhluk berekor dan bercakar tajam. Sekali lagi ku ucapkan terimakasih karena kita pada akhirnya menjadi teman.

.
.
Hujan berhenti dan menghadirkan semburat merah diufuk atas. Mentari menyapa dalam balutan agung nan anggunnya. Hai alam, sejauh apapun aku memaksa..tak ada yang lebih bermakna selain ketika adanya sebuah penantian akan waktu yang seharusnya datang. Aku memiliki arti hari ini, duri yang dulu pernah menjadi aspal jalan tak akan lagi menakutkan setelah ini. Karena aku sekarang berteman, bersama ia makhluk manis yang ekornya selalu menyapu awang. Tak apa jika esok ia lupa pernah tersenyum dan menyambut sapaku. Tak apa jika esok ia tak datang dalam penantian seorang diri didalam kamar. Karena kami terikat hanya dalam frekuensi getaran. Tanpa mengenal jarak juga pagar penghalang. Dimanapun ia tengah merangkak, sinyalku tak akan berhenti mengetahui apa yang tengah ia tatap. Dan jika esok aku harus berganti ruang sekapan. Setidaknya hari ini ia telah membalas sapaku dalam senyuman. Tatap manis yang mengantarku pada lamunan tak berarah. Tatap manis yang menyalurkan pada semangat tak bernama. Dan aku hanya perlu meraba untuk mengetahui adanya kehadiran.

Minggu, 23 November 2014

Mencerna Spasi, Titik dan Koma

Petang ini, kembali aku terdiam menatapi atap bambu bergaris dikamar. Membuka dan memahami kembali isi tiap halaman rumah atau yang biasa kalian sebut blog, tempat ini. Lama..aku mencermati tiap keping judul hingga remah per baitnya. Aku ternyata serumit tulisanku, mungkin. Karena jujur saja aku harus menyingkirkan berbagai suara hingga dengung sekitar hanya agar pendengaranku sanggup intensif meraba apa yang sekiranya tengah dilahap sang retina.
Aku penulis. Bukankah? Aku tidak yakin. Aku adalah salah satu yang percaya bahwa menjadi penulis adalah kewajiban untuk juga memiliki serbuk ajaib pemanis kata, mantra yang digadang sanggup menjadi sirep bagi pembacanya agar demi apa yang tengah disampaikan tidak hanya sampai kepada mereka, tapi juga menjadi hidup dan bernyawa bagi otak mereka. Dan aku tak memiliki kemampuan untuk menyihir. Jangankan menjadi penyihir, percaya mereka itu nyata dan ada saja masih diragukan. Aku pasti bukanlah penulis. Sekalipun aku pernah membahasakan tentang Kura dan Pemancing Sayu-nya pada suatu hari yang telah lalu, sekalipun pernah kuracik juga dengan apik dan telaten rasa rindu menjadi Semangkuk Cinta Dalam Semur Tahu, sekalipun pernah kucengkeram nyawa seseorang melalui paragrafku yang panjang dan melelahkan. Aku tetaplah bukanlah penulis dengan segala label itu. Yang selama ini kulakukan adalah hanya sekedar membahasakan. Menciptakan tali bagi hati juga hariku yang senantiasa butuh mulut untuk menyalurkan apa yang tengah terasa.
.
Cinta, apa yang menjadi definisi bagi kalian tentang kata satu itu? Akankah ia adalah bumbu? Ataukah dzat maha agung? Atau sekedar kerikil ditengah sungai? Kenapa setiap orang berlomba-lomba menciptakan plang tanda kepemilikan pada ia yang disebut cinta? Akankah cinta memang hadir hanya antar sesama? Sesama manusia yang mengerti, sesama manusia yang sejenis, sesama manusia yang sepihak. Akankah arti cinta memang memiliki makna sesempit itu? Kali ini, maukah mendengar sekelumit singkat tentang penjelasanku? Aku memaksa kalian untuk menjawab, ya.
.
Cinta, sejujurnya terlalu naif untuk bercerita tentang kata satu itu. Aku mendapatkan cinta dari pencipta agungku. Aku menerima cinta dari mereka yang melahirkanku. Aku mendapat cinta dari bocah-bocah kecil yang ku senyumi saat sebelum masuk gang rumah. Dan yang pasti, aku menerima cinta dari kekasih juga mereka yang menyayangi dan menerima kehadiranku. Termasuk juga dari jajaran binatang yang kupelihara dipekarangan rumah, aku tau mereka mencintaiku. Makanan yang kusediakan setiap pagi selalu tandas tak bersisa dan itu adalah bukti nyata adanya cinta.
Cinta itu luas, keluasan yang tak akan sanggup dicernakan manusia kedalam bahasa sekalipun oleh pujangga. Ya, didunia ini memang ada rasa yang tak sanggup dicerna oleh logika. Termasuk ketika aku sepertinya memiliki ikatan dengan para aksara. Aku mencintai paragraf, dari tiap keping kata hingga titik, spasi juga koma. Tak ada yang paham seberapa gilanya aku pada mereka-aksara itu. Untuk itulah rumah ini tercipta. Tempat yang kalian sebut blog, adalah tak lain sebagai kanvas bagi berlimpah ruahnya imaji juga inginku merunut kata per kata. Aku mencintai bagaimana sejumput nada dalam bait tulisan sanggup menghadirkan nyawa, sanggup juga menyuntikkan nutrisi bagi jiwa yg selalunya haus akan asupan. Aku menulis ketika tengah menunggu penanak nasi selesai dengan tugasnya. Aku menulis ketika dingin mulai mengetuk tulang menyampaikan kabar gembira bahwa ia telah berhasil menembus daging dan kulit ari. Aku menulis ketika atmosfir mulai menggigit melalui tatapan mereka yang penuh amarah dan keangkuhan. Aku bahkan menulis ketika semua baik-baik saja.
Ketika gelap malam selalunya melapor padaku tentang kejamnya kalian meracuni pendengarannya dengan keluh dan desahan. Maka gelap malam juga melayangkan protes padaku yang memaksanya menjadi saksi bagi sesi bercintaku dengan tulisan. Menangkapi banyak tanya tentang apa dan kenapa diudara. Merogoh saku demi memunguti remah spasi juga kepingan koma. Melumat banyak aksara hingga sanggup dicerna oleh banyak mata dan nama. Ya, aku cinta aksara. Mereka membuatku merasakan berharga dengan terus menghadirkan diri. Mereka membuatku sehat dengan jalan menyalurkan apa yang kiranya menjadi penyumbat. Mereka membuatku nyaman pada adanya kesepian yang mencekam. Pada akhirnya, memang ada rasa didunia ini yg tak sanggup dicerna logika.
.
Kembali pada pernyataan awal kenapa ketikan ini tercipta. Jadi sebenarnya apa yg menjadikan sebuah tulisan bernyawa dan menjadikan si empunya berlabel kata si penulis? Benarkah memang diperlukan adanya serbuk sihir demi memantrai si pembaca agar bisa tersambung dan merasakan? Bagaimana jika yang aku punya adalah rasa? Cinta pada jajaran aksara yg kerasionalannya masih kucari. Apapun itu, aku adalah yang seperti ini. Hadir dalam kerumitan dimana memang dibutuhkan lebih dari sekedar ada, dibutuhkan lebih dari sekedar mata untuk meraba dan mencerna. Aku tak memaksa dunia paham. Tentang siapa aku dan tulisanku.

Sabtu, 22 November 2014

Satu - Tiga - Tujuh

Musim panas hanya tinggal menunggu hari untuk berakhir. Kita seharusnya adalah sepasang kekasih yang manis, kita seharusnya adalah sepasang kekasih yang menyebar rasa iri pada sekitar karena berlimpahnya cinta kita, tidak..tapi cinta dariku yang melumuri tiap inchi hingga helai rambutmu. Musim panas hanya menunggu hari untuk berakhir. Dan ditempat ini, jalanan ramai di sudut persimpangan adalah tempat pertama rasa itu menetes dan semakin deras setiap detik setelah akhirnya aku mengetahui namamu dan bisa menyentuh tanganmu. Rasa cinta yang tak diizinkan dunia untuk bertumbuh dengan subur.

.

Hari itu adalah pertengahan musim dingin yang mengesankan. Aku yang tak seharusnya menghampirimu malah tanpa bisa kutahan kaki-kakiku berjalan menuju tempatmu berdiri, matamu terasa anggun memandangi salju turun..seakan tiap butir yang menyapa wajahmu adalah benih hidup yang harus terus kau nikmati kedatangannya. Aku yang sebelumnya tak pernah memiliki keberanian untuk memulai harus berjalan diluar jalur aman. Senyum itu, menyapaku dengan sangat hangatnya. Senyum sama yang mengantarku pada malam-malam penuh adanya harap dan cinta. Ya aku jatuh..pada tawa yang selalu tergores diwajah manis itu. Ya aku jatuh..pada mata yang sesekali menggulirkan butiran emas dalam kedukaannya. Tidak. Tolong, jangan biarkan butiran berharga itu jatuh. Tidak. Tolong, jangan biarkan mata yang memancarkan luka itu menghabisi pernafasanku. Karena ternyata ikut kurasakan denyut sakit disetiap tetes air ditelaga matamu. Wajah manis, tawa yg mengagumkan harus tetap terlukis disana. Harus tetap berada disana, tak peduli jika senyum itu harus datang dari ia, gadis berkuncir yang sangat kukenali. Tak apa jika senyum itu harus berkembang karena ia yang akhirnya mau melihat peluh dan perjuanganmu demi mendapatkannya. Tak apa, abaikan saja aku yang tetesan cintanya mendadak beku dan menghujani tiap inchi permukaan hati. Aku tak apa, setidaknya mau menjadikanku tempatmu berbagi airmatapun adalah suatu yg sangat berharga. Aku tak apa, musim semi akan datang dan membawa pergi juga pasti rasaku yg semakin terasa melelahkan langkah. Dan kau akan bahagia. Bersamanya.

.

Waktu telah berlalu dengan sangat lama ketika terakhir kali kita kembali terlempar dijalanan yang sama. Tapi hari itu bukan senyumku yg mengembang dan menghapuskan airmata diwajah manismu. Hari itu berbeda, ketika engkau dengan sepenuh dayamu bercerita tentang kebahagiaan yg akhirnya bisa kau peluk, dan aku dengan lelehan airmata pengakuan..pengakuan tentang rasa irasional yang membuatmu beku. Hanya beku dan berkata semua hanya candaan semata. Aku tak mungkin menyukaimu, itu penyangkalan terakhirmu sebelum semua semakin memburam dan langkahmu perlahan menjauh dari tatapan. Jauh dan semakin jauh, bahkan jika aku memaksa berlari dan menggapaimu, tangan itu tak akan bisa ku sentuh, senyum itu tak akan bisa kumiliki. Waktu telah berlalu dengan sangat lama ketika akhirnya semua harus menjadi seperti ini. Kita seharusnya menjadi sepasang kekasih yg manis, bukan malah menjadi sepasang orang asing yang tak saling mengenal.

.
Hari ini aku kembali berdiri di jalanan ramai di sudut persimpangan. Musim panas hanya tinggal menunggu hari untuk berakhir. Mataku sesekali terpejam erat, lama. Dan ketika kembali membuka mata, kuharap sosokmu ada disana, disudut yg sangat kuhafal letak persisnya. Aku berharap sosokmu akan datang meski hanya sekali dan menghadirkan lagi padaku senyum manis yg pernah menawanku dengan sangat kuatnya. Dan akhirnya harap tinggal harap saja. Aku melangkah meninggalkan sudut persimpangan dengan dagu menantang langit. Aku adalah manusia kuat. Tak akan kubiarkan diriku lemah hanya untuk rasa yg bahkan tak layak disebut cinta. Tak akan kubiarkan diriku lemah untuk rasa yang telah menghujaniku dengan kerasnya selama banyak musim. Setidaknya aku pernah memiliki keberanian untuk melangkah menujumu. Setidaknya aku pernah merasakan sentuhan tanganmu. Setidaknya aku pernah mengusap butiran langka yang menetes dari pelupuk matamu. Berjalanlah dengan baik. Dan kelak ketika kita harus dengan tanpa sengaja bertemu, tatap aku dengan senyum manis itu. Berjalanlah dengan baik dan aku akan mendoakan untuk tetap bertahannya senyum diwajah manismu itu.

.

Tak ada yang harus ditangisi lagi hari ini. Musim semi telah datang, dan sekalipun rasa itu telah dipaksa terhapus dari memoriku. Ketika aku berjalan dipersimpangan itu, denyut sakit yang telah membasi seperti bangkit dan membangunkanku. Hiduplah dengan baik dan ketika kelak kita harus dengan tanpa sengaja bertemu, tatap aku dan tetaplah tersenyum manis seperti pertama kali musim dingin menjadi saksi untuk pertemuan kita. Cinta itu ada dan sepertinya kita memang tidak digariskan menjadi sepasang kekasih yang harus terlihat manis. Sekalipun cintaku lebih deras membanjirimu ketimbang aliran cinta miliknya. Tak apa, karena hatimu tak sanggup melihatku. Hiduplah dengan baik dan tetap tersenyum dengan manis. Musim semiku telah datang dan selamat tinggal.

Anonim Berdarah Klorofil

Hari itu istimewa..ketika ku buka mata dan berhasil ku kepakkan sayap bercorak milikku. Hari pertama dimana aku akhirnya mengetahui bahwa diriku bukan lagi sesosok kepompong yg melingkar manis dalam perjalanan hibernasinya dilekukan daun hijau ditengah pematang. Aku bahagia, sungguh tak pernah kucicipi kebebasan melegakan seperti yg tengah kurasakan itu sebelumnya. Kaki-kaki yg sebelumnya terjerat dalam lumatan sarang, mata yg sebelumnya juga tersudut hanya bisa memandang sebatas ruang inapan semata. Keberhasilan metamorfosa yg hanya sepertiga dari harapan. Semua keterbatasan itu terbayar oleh waktu yg menghadirkan padaku dua sayap indah dipunggung. Aku adalah sejenis kupu-kupu. Ya,
hari itu takdir telah mengutukku menjadi makhluk yg sanggup mengangkasa dengan sayap beracun nan indah mempesona. Kalian pernah mendengar fakta bahwa serbuk yang menaburi halus permukaan sayap kupu-kupu adalah ternyata sejenis racun? Ia bukan racun sebenarnya. Serbuk halus itu adalah salah satu tameng untuk melindungi diri dari dekapan tangan-tangan liar. Alam memang penuh sihir. Diciptakanlah aku dalam warna mencolok juga beragam ditiap lekuk sayap, dan wush!! Celup keindahan itu tak lain adalah tameng baja. Sejenis perisai dikalangan pembuat pagar halaman, atau mungkin sejenis mantra kontradiktif dalam pelajaran sihir diseberang sana.

.

Aku bahagia, akhirnya secara bertahap kutemukan duniaku. Menikmati celah ruang ditiap sudut bumi dan langit. Menyusuri tiap tangkai bait aksara dan mencucupnya dalam mantra. Menikmati juga warna celupan alam selain hijau daun dan putih sarang rumahku.
Dari setiap inchi kebahagiaan yang menyelimutiku..ada satu yg masih mengikat kakiku sebenarnya. Ya, daun masih belum siap menerima transformasiku menjadi kupu-kupu. Daun hijau ditengah pematang belum sepenuhnya bisa menerima adanya perubahan alam. Entah apa yg mengikatkan kakiku dengan partikel klorofilnya, entah apa pula yg telah ku doktrinkan dalam darah hijaunya hingga kini ia sulit untuk melepaskan.
Malam-malam terakhir sebelum masaku datang menjadi makhluk penjaja angkasa, daun hijau ditengah pematang itu mengirimiku surat dalam ujud getaran. Ia memintaku agar tetap tinggal. Ia memintaku untuk tetap bertahan. Tidak taukah ia, keberadaanku yg dipaksakan hanya akan mendatangkan kematian? Aku digariskan untuk menjadi kupu-kupu. Sebelum kemudian mati benaran karena usia atau jamahan alam. Tak taukah ia keberadaanku yang dipaksakan hanya akan menghadirkan kecacatan? Aku dalam balutan putih rumahku, yg abadi tanpa ada metamorfosa lanjut menjadi makhluk penjajah angkasa. Aku tanpa nyawa dalam balutan putih rumahku yg akan menempeli ruang tulus juga murni lembaran daun hijau ditengah pematang. Dan sesungguhnya hadirku yg dalam kecacatan sebenarnya adalah hanya noda untuk kebersihan ruang memori juga harimu. Bahkan jika format diri kupu-kupu harus dilalui dengan terus menjadi inang dalam helai tubuh si daun hijau hanya akan menyakitinya perlahan karena kontaminasi serbuk racunku? Tidak sadarkah engkau, wahai daun hijau? Tak ada yg mudah untuk setiap perubahan. Dan pernah kujanjikan disatu masa bahwasanya kita akan tetaplah menjadi kita sekalipun kita beda dunia. Lupa dengan perkataanku satu itu? Setidaknya izinkan aku berbagi bahagia dengan jalan telaten membukakanmu mata.

.
.

Daun hijau ditengah pematang yg masih dalam kegigihannya untuk bisa paham. Daun hijau yg pernah menjadi pesinggahan nyamanku dalam melewati waktu berhibernasi. Daun hijau yg pernah kuminta pada pencipta agar namanya tercatat rapi dalam tulisan ilahi menjadi teman abadi dalam dunia yang tak pasti ini. Daun hijau yg pada akhirnya menggores permukaan kulit tipisku dalam pengabaian adanya kehadiranku. Ya, ia tau aku masih rentan, ia paham aku tengah dalam labilku dan ia sangat paham aku tak memiliki teman. Tapi penolakannya untuk menjadi teman beda darah, udara dan aksara dimalam dengan suhu mencekik itu menjadi tamparan tersendiri. Ia tidak paham jalanku. Aku tak diizinkannya kembali singgah.

.

Dear daun hijau ditengah pematang..siapapun engkau nanti, malam lusa dan kemarin. Aku tidak tau apa yg dituliskan, bicarakan..dan apa yg engkau inginkan. Sosokmu ini siapa? Aku kenapa? Sungguh aku sendiri tidak tau kenapa harus memilih menjadi monster kali ini. Tolong maafkan dia, maafkan kekanakannya. Dan maafkan juga keputusannya. Tunggu sebentar lagi, dia labil..monster itu masihlah kupu-kupu yg tidak pernah tega melihat mangsanya terluka. Tunggu sebentar lagi, sampai hujan mengikis hati batu juga otak gilanya. Tunggu sebentar lagi..sampai waktu menyembuhkan semuanya juga berkata, Ya! maafkan aku juga.


.

Aku tau daun hijau ditengah pematang memahami baitku kali ini. Aku harap ia paham. Kehidupanku haruslah ditapaki dengan berjalan. Mencuri sesuap sinar cahaya, dan mencari ranum putik sari untuk dijadikan cadangan kekuatan esok dan selanjutnya. Sementara ia, darah hijau telah membanjinya dengan cinta tanpa perlu ia meraba.


-teruntuk, anonim berdarah klorofil didaratan seberang-

Sabtu, 15 November 2014

Aku Ingin Pulang

Sajak mencuat dari jajaran kata. Menyanyikan rintih yang tak bernada. Dan sungguh tak ada yang lebih menyakitkan ketimbang kesedihan yang tak bisa ditangiskan.

.
.

Aku pernah memasuki dimensi waktu, saat dimana tak pernah kuangankan sajak bertepi ini akan tercipta. Aku pernah tertawa, aku pernah menikmati dunia, aku pernah merasa terlengkapi sekalipun keberadaanku hanya sekedar sebagai pelengkap. Mencoreti langit dengan banyak warna, menggulung ombak pantai sebelum akhirnya melepas dan menikmati deburannya. Menaiki pijakan tangga, mengintip celah surga. Bermain diantara celah warna pelangi dan berayun diawang yang sanggup menahan gravitasi manusia. Aku pernah bahkan sekali menaiki tangga awan, melongok kerak bumi. Menikmati sejenak dunia tanpa nama dan batasan diluaran bola bumi yang tengah ku singgahi. Aku pernah bahagia, sebelum akhirnya menginginkan untuk pulang.

.
.

Kemanapun aku pergi, bayang-bayang gumpal kenangan selalu mengejar. Terus mengejar bahkan hingga celah tersempit persembunyian. Ia menemukan. Mengenaliku dalam berbagai topeng yang ku kenakan. Aku merasa letih dan ingin sendiri. Sesuatu yang hadir dari celah otakku pun sanggup memaksaku untuk menjerit takut. Kebahagian yang hadir dari celah jepitan tak pernah ku sangka akan meninggalkan rekam jejak sekuat ini. Aku merasa lelah dan ingin sendiri.
Dalam perjalananku menuju pulang, kusapa satu-dua-enam orang. Kutanya pada siapapun yang kiranya memiliki nafas. Aku siapa, aku kemana, mereka kenapa. Namun tak ada yang menjawab. Tak ada yang sudi menghentikan langkahku mencari tempat yang ku sebut sebagai tujuan pulang. Namun tak ada yang menjawab, karena memang semua peristiwa hanya terjadi dirongga dada. Karena memang aku tak bertanya, hanya sekedar memandang dengan tatapan sarat makna. Dan mereka tak memahami percakapan antar mata. Pergulatan yang panjang dalam kesunyian. Dan aku tak pernah berani mengungkapkan.

.
.
Aku mencari jawaban dipantai. Bertanya pada pasir, pada sayup angin, pada ombak yang menyapa. Aku siapa. Aku kemana. Mereka kenapa.
Dan sayup perlahan seperti kudengar satu suara. Oh mungkin itulah jawaban. Dimana? Dimana? Suara itu.
.
Kemanapun aku melangkah, selalu mengikutiku ia tanpa lelah juga jera. Perasaan yang bersalah. Menghantui setiap sendi, menghantui setiap penglihatan. Perasaan yang bersalah hanya karena aku pernah memutuskan untuk pulang. Masih mungkinkah kini, aku membuka pintu itu..tidak untuk kembali, hanya ingin sekedar bertamu dan mengucapkan salam perpisahan dengan lebih alami dan kerelaan.
Masih mungkinkah kini, aku membuka pintu itu..dengan kunci sama yang pernah ku patahkan. Dan mungkin memang, tak ada obat yang lebih tepat selain waktu untuk menyembuhkan kekecewaan. Lihatlah, aku terkapar dan luka. Gorong-gorong bahagia dalam jepitan yang kini terbungkus kenangan mencabikku. Meloloskan banyak butir tangis penyesalan. Harusnya dulu, kulepas engkau lebih dengan kealamian juga kerelaan.
Pergulatan yang panjang dalam kesunyian. Mimpi hadir justru laksana samurai tipis dengan gagang berbisa. Dalam mimpipun sering kudapati diri tengah menyeraki, tengah membersihi, tengah menepati. Masih mungkinkah, pintu itu terbuka. Dengan kunci yang pernah ku patahkan. Bukan untuk kembali, tapi hanya sekedar bertamu dan mengucapkan salam perpisahan dengan lebih alami dan kerelaan.
Dengarkanlah jeritan tangis dalam jiwa, dengarkan raungan batin yang menginginkan pulang. Kembali pada kedamaian. Tanpa lagi mimpi-mimpi tentang adanya menyeraki, membersihi atau sekedar balas budi. Aku merasa letih dan ingin sendiri. Sendiri dan hanya sendiri, bahkan tanpa adanya genangan memori membanjiri. Karena kebahagian yang hadir dari celah jepitan bukanlah yang aku impikan. Ia bukanlah si immortal. Mungkin saja hanya kompensasi demi tetap ada sedikit alasan untuk tetap bernyawa. Aku pernah bahagia sebelum akhirnya menginginkan untuk pulang. Biarkan aku pulang. Biarkan aku pulang.


.

Aku ingin pulang, kembali kepada tempat dimana tak kudapati adanya kalian. Menguliti sendiri kenangan dalam kebahagiaan yang hadir dari celah jepitan. Bukan. Bukan seperti ini kepergian yang ku inginkan. Memaksa kerelaan hadir dari pihakmu dan juga dari angkuhku. Tapi bukankah semuanya sudah hanyalah tinggal sebuah kenangan? Karena aku telah memutuskan. Karena aku telah dalam jalan menuju pulang. Dan kebahagiaan yang hadir dari celah jepitan bukanlah yang aku impikan. Meleburlah bersama jajaran kenangan, sudilah untuk iba padaku yang kini tengah tersiksa. Menahan perih gorong yang hilir mudik menyapaku dalam mimpi mengerikan. Aku ingin pulang. Biarkan aku untuk pulang.