Minggu, 08 Maret 2015

Island

Aku menamainya Island, lautan luas yang pernah kuarungi kemarin lalu. Menyantapi setiap debur ombak dalam riak tak terhingga. Menyumpal juga mulut-mulut lapar manusia daratan dengan banyaknya eksotisme bawah laut. Hari ini aku kembali singgah, bukan untuk berlayar, bukan pula untuk menyendoki gulungan air yang tak pernah lelah berlari mengejar lepas. Hari ini aku singgah, dengan niatan memandang. Meresapi debur pantai dari bangku yang dulu sempat kesebut sebagai tempat singgah para pecundang. Bertahun menjadi penikmat lautan jujur lantas membuatku lupa bagaimana menjadi manusia daratan. Aku mungkin telah terdaftar dalam sejenis makhluk amfibi.
.
.

Dear engkau yang pernah menikmati surga bersamaku. Baik-baiklah untuk hari ini dan juga nanti. Detik setelah aku resmi memutuskan untuk berjalan didaratan adalah saat terberat. Aku linglung, aku lupa bagaimana cara berdiri tegak. Mataku asing menatap rimbunan pohon yang menancap kuat kedalam bumi. Tanganku kaku ketika harus mengais udara yang notabene tak dapat kugenggam. Aku ingin berenang, aku ingin kembali merasuk dalam celupan dunia melayang. Lautan.
Dear engkau yang harus ku ucapkan selamat tinggal. Bernafaslah lebih lama didunia ini. Kembali aku meminta juga, hiduplah baik dan lebih baik untuk hari ini dan nanti. Aku tau dalam keluasanmu itu, hadirku adalah hanya seperti ikan kecil saja. Ikan yang tak akan pernah bisa hidup tanpa airmu, itu yang selalu kukatakan dulu. Tapi hari itu lain..aku bukan ikan yang pastilah mati ketika harus 'mentas' kedaratan. Dengan langkah pasti ku yakinkan diri bahwa aku manusia.
Dear engkau yang harus kutitipi selarik kata perpisahan. Langit diatas sana teramat cerah membentuk banyak awan membubung indah. Mengagumkan bukan? Taukah engkau awan disana adalah buku harian tersembunyi milikku? Semenjak keberadaanmu perlahan menguap beserta dentingan nada dan suaramu. Kepadanyalah selalu keluapkan segala rasa. Ketika aku bahagia, aku menengadahkan muka menatap awan beriring sembari berucap terimakasih. Tersenyum. Ketika aku menangis, kudongakkan mata hanya agar air dipelupuk berhenti menetes turun. Ketika kecewa, aku akan berlama-lama menatapi air didanau tenang. Disana kutemukan awan yang terpantul dari bening airnya. Ketika putus asa, kembali kunyalakan sadar dan ingatan bahwa sinar mataharipun tak sepanjang hari ada berpijar. Adakalanya ia akan tergantikan oleh malam tapi gelap tak selamanya gulita, dihadirkanNYA bintang sebagai celah kecil agar aku tak hilang arah.
.

Dear engkau..paragrafku hari ini mungkin tak akan lagi berarti setelah kata selamat tinggal terucap, menjadikannya selaput tipis pemisah hubungan kita. Tapi aku tak ingin semua berakhir dalam bencana. Sekalipun tetap saja hadirmu tak akan sesempurna dulu pijarnya. Biarkan kealamian membimbing kita. Engkau yang tetap dalam luas tak tercakupmu. Sedang aku tetap dalam balutan mungil kerangka milikku.
.

Dear engkau..jujur saja aku merindukanmu. Teramat. Sungguh. Aku ingat bagaimana dulu ombak milikmu selalu sukses mendatangkan tawa bahagia. Aku ingat bagaimana dulu keluasanmu selalu sukses menaikkan hasrat untukku menjelajahi bahkan mendekap dan memilikimu. Aku rindu perjuangan itu. Memaki para pemaki. Menyumpal mulut-mulut menganga para pembenci. Menampar juga burung camar yang tak berhenti berkicau meledekku. Aku rindu deru halus suaramu.
.
Dear engkau, jika nanti aku harus kembali pulang dalam peraduanku. Jangan bersedih, akan ada esok dimana kesempatan mungkin datang bahwa aku akan kembali menengokmu. Termangu sendiri dibawah terik diatas bangku pecundang. Aku akan singgah kembali sekalipun mimpiku detik ini bukan lagi menaklukkan keluasanmu. Sekalipun hasratku kali ini sudah bukan lagi memilikimu. Sekalipun keberadaanmu bukan lagi prioritas dalam daftarku. Aku akan tetap singgah demi mengorek rindu yang mungkin terselip ditiap barisan-barisan judul nada yang engkau ciptakan. Tak ada yang bisa memahami ini. Tidak akan ada.
.

Dear engkau..hadirmu telah kuabadikan dalam seujud anak. Bukan lagi embro naskah ataupun sekedar angan. Hadir dan cinta yang pernah datang itu telah kusulap menjadi paragraf beku. Kelak jika aku merindukanmu lagi sedang kakiku tak sanggup melangkah menuju tepimu, akan kudekap ia erat. Akan kudekap cerita kita. Akan kudekap kenangan kita.
Dear engkau..hiduplah dengan baik dan lebih baik lagi. Perjuanganku sekarang tak sanggup lagi tertolong nada juga debur ombakmu. Perjuanganku sekarang membutuhkan lebih dari sekedar ingin dan rasa andai engkau tau.
.

Dear engkau, tak pernah kusangka kata akhir itu ada dan sanggup menghampiri. Tapi hari ini aku bahagia. Aku teramat bahagia. Karena itu, tetap hiduplah baik-baik dan bahagia bersama. Terimakasih masih menerimaku hari ini untuk singgah. :-)
.
.

PresentForSJ.Sunday.Mar.8.15

Sabtu, 31 Januari 2015

Note Sunday

"Everyday I wake up next to a angel
More beautiful than words could say
They said it wouldn't work but what did they know?
Cause years passed and we're still here today
Never in my dreams did I think that this would happen to me
As I stand here before my woman
I cant fight back the tears in my eyes
Oh how could I be so lucky
I must've done something right
And I promise to love her for the rest of my life
Seems like yesterday when she first said hello
Funny how time fly's by when you're in love
It took us a lifetime to find each other
It was worth the wait cause I finally found the one
Never in my dreams did I think that this would happen to me...."

.
.
.

Jan,31,2015

Sabtu ini tepat 171 hari sebelum moment tersakral dalam hidupku akhirnya terlalui. Aku ingin menuangkan segalanya dalam lembaran blog seperti kebiasaanku ditahun yang lalu. Menyuguhkan rasa dalam kata pada dunia tentang detik-detik rasa juga perjuangan sebelum melepas masa lajang. Ya, daftar tulisan blog milikku tetap kosong ditahun 2015 ini. Dalam rumus singkatku, menulis selalu bisa menyembuhkan segalanya, dari sakit berbahaya seperti tekanan batin hingga sakit paling ringan sekalipun, migrain. Tapi kali ini, aku ingin meresapi..menikmati jeritan sakit yang kadang melolong dari tiap ujung kuku karena terlalu keras bekerja. Aku ingin esok nanti mengingat dengan bangga bahwasanya pernikahanku dikucuri dana dari keringat bahkan darahku sendiri. Ayah, Ibu cukup berjuang dalam doa saja, tak akan kubiarkan satu butir keringatpun dari mereka menjadi modal bagi hajat sakral milikku. Kecuali kepepet.

.

Ah, sebelumnya perkenalkan namaku May, nama yang hanya dia saja yang boleh untuk memanggil. Sosok unik yang tengah bersamaku menghitung mundur pertanggalan dikalender.
"Kenapa harus May? Kenapa bukan Sasa? Atau yang lain?" Tanya dia dalam chat kami suatu petang sehabis pulang kerja. Kenapa harus May? Apa harus ada alasan untuk sebuah rasa dan permohonan? Dimatanya selalu kutangkap magnet kuat yang seakan memintaku, mengundangku untuk terus menjaganya. Aku tau sosoknya tak setegar kegarangan yang selalu disajikan oleh penampilan juga wajahnya. Matanya, mengeluarkan aroma kapas. Menghangatkan juga meminta perlindungan.
"Karena May artinya mungkin, aku ingin menjadi sebuah kemungkinan disaat yang lain menyerah menghadirkan harapan." Penjelasanku terkesan alay, harusnya bisa saja kujawab singkat, "Karena aku lahir dibulan may." atau "Karena nama May itu keren." Tapi malam itu entah kenapa aku menginginkan kejujuran yang keluar. Aku ingin ia tau bahwa aku bersungguh-sungguh ketika dulu pernah berkata sayang.

.

Minggu pagi diguyur hujan deras. Uap dingin menempel dikaca-kaca jendela kamar.
"Ini surga !" Pekikku riang, memandangi syahdunya tetes demi tetes air jatuh dari langit. Kaus kaki masih terpasang manis ditempatnya, baju hangat pun masih terpakai dan belum sama sekali ada niat untuk melepasnya. Aku ingin menikmati pagi, menikmati hari libur yang kutunggu.

.

POWER RANGER : Aku bermimpi aneh semalam..
MINE : Apa?
POWER RANGER : Aku menjelajah kesuatu daerah berbukit, menyeberangi sungai dan menaiki gunung.
MINE : Wah, hercules kita beraksi malam ini. :-D
POWER RANGER : Aku serius! U.u
MINE : Aku juga serius sayang, akhirnya impianmu naik gunung tercapai walaupun lewat mimpi, karena didunia nyata itu mustahil! :-D
POWER RANGER : Apanya yang mustahil? Aku sehat dan kuat dingin sekarang, :-P
MINE : Ah masa? :-P

.

Aku menghentikan sesi chat pagiku, membuang handphone keatas kasur yang masih bertabur peralatan tidur, memanyunkan bibir pertanda kesal. Dia lagi-lagi merusak imaji romanku! Kenapa sih tidak bisa sekali saja bersikap romantis? Bertanya mungkin, dengan siapa aku didalam mimpiku semalam, atau indahkah pemandangan disana? Dan, apa dia bilang tadi? Aku mempunyai mimpi mendaki gunung? Hell ya. Aku memang menyukai gunung sebagai objek mengagumkan untuk dipandangi tapi tidak untuk ditelusuri dengan kaki. Mantan dia adalah pecinta petualangan gunung. Dan ada rasa sebal ketika aku mulai mengingat kata pegunungan. Entah kenapa.
.
Pagi indahku dibawah siraman hujan perlahan menguap seiring dengan moodku yang terganggu. Ditambah sayup-sayup terdengar suara dangdut koplo menembus derasnya hujan dari rumah sebelah. Perang antara musik kacangan dan musik Tuhan. Moodku bertambah buruk, tanpa memandang jam segera saja kukubur diriku dalam selimut rapat-rapat.
"170 hari lagi." Gumamku sambil tersenyum lebar. Moodku belum sepenuhnya membaik tapi mengingat hari mampu menarik lagi ujung bibirku untuk tersenyum. 170 adalah singkat bukan? Waktu selalunya terbang disaat kita tengah jatuh cinta. Berbeda dengan saat ketika tengah berada dimeja kerja, disana selalu kurasakan putaran jarum jam yang bergerak sangat lambat bahkan sesekali bisa kulihat jarum jam diatas sana berjalan mundur! Teman kerjaku bilang itu mustahil, tapi aku berani bertaruh demi sekeranjang tomat bahwa nyata jarum jam itu berputar berbalik arah dan mereka tetap tak percaya.

Sabtu, 06 Desember 2014

Kerak Jawa Dan Sudut Sumatra

Titik.

.

Apapun kata pembuka dari cerita ini, aku hanya merindukan adanya titik.
Satu, dua, empat, waktu berjalan selalu seperti sekejap mata. Aksara-aksara yang menjadi getaran penghantar dikala nada tak lagi berkuasa menyalurkan suara. Dan sesekali aku berharap sanggup menyapa tanpa harus perlu otak mencerna.
.
.
Surabaya..ia masih sekawanan dengan daratan yang kusinggahi. Guncangan lokal dikotanya bisa jadi tak akan sampai merambat dikediaman nyamanku. Tapi aku mendengar, aku membaca dan kulayangkan sejumput doa melalui udara. Guncangan lokal adalah sejenis efek kejut bagi jiwa-jiwa yang senantiasa terlelap damai. Sementara aku, melalui mantra kuterbangkan jiwa melalang buana kesetiap penjuru sendi, kuterbangkan jiwa melalang buana kesetiap sudut keping nyawa. Aku terkenyangkan dengan adanya ketakutan yang tak wajar. Dan dari kesemuanya menyuntikkan padaku satu serum keabnormalan yang tak akan sanggup dicerna oleh kata. Termasuk oleh si dataran Surabaya.
Surabaya..ia masih dalam jangkauan langkah kaki. Menyambanginya dengan berjalan hanya membuat lemah hingga berangsur mati. Sementara berlari tak akan membantu apapun, aku tak memiliki energi cukup untuk menempuh jarak. Sekalipun pasokannya membanjiri, tubuhku seringnya merengek ketika tujuan terlalu lama juga terlalu jauh dari pelupuk mata.
Surabaya yang malang, kujadikan ia persinggahan dikala jiwaku mulai menunjukkan kemuakkannya pada apapun yang disebut normal, sementara ia membenci adanya perbedaan. Surabaya yang bersuka cita, karena pernah aku bersedia mengiringi langkahnya dalam jalanan menuju tempat gemerlap bernama impian.
Surabaya..dataran sama yang senantiasa alpa disapa hujan. Melalui kerak Jawa, air yang mengaliri kota kami bisa jadi beraroma sama. Melalui kerak Jawa, bahasa menjadi semacam ayam petelur yang menyampaikan semuanya tanpa harus berfikir esok ia akan menjadi apa, karena yg dibutuhkan peternak hanya telur-telurnya.
Surabaya..tempat persinggahan yang nyaman sebelum akhirnya datang sadar cuacanya membuatku kegerahan.
.
.
Pati..ia berada lebih dekat dari apapun dan siapapun. Hallo dataran sunyi nan mengagumkan, apa kabarmu tadi malam? Tak ada yang sanggup kucecap lagi indahnya dataranmu. Kita sama, dan kemisteriusanmu menempati ruang pas dalam kotak karakterku. Ya, seharusnya siapapun sadar, persamaan dan perbedaan bukanlah hanya dua-duanya perekat yang ada dimuka bumi ini. Tapi anomali, sudut yang tersembunyi dari ucapan juga lekuk senyuman juga adalah lem untuk keterikatan yang datang tanpa keterpaksaan. Pati..dataranmu hanya dalam jangkauan jengkal, tapi menekuri langkahmu sesulit menyusuri labirin diujung paru. Sekalipun aku sanggup membaca, engkau selalu lupa bahwa aku menyajikan apa yg kiranya tengah engkau laparkan. Dan aku bersyukur kita tetap sejalan.
.
.
Sumatra..
Aku ingin bernafas sebentar, menyusuri gorong-gorong sekresi ingatan memang sangat melelahkan. Dan untuk perjalanan menyebarang satu ini, selayaknyalah aku membutuhkan peristirahatan. Bernafas, menikmati udara yang membiusku dalam lelap. Bernafas, mengamati laju angin yang tanpa lelah hilir mudik melalui jalanan rumit bernama organ dalam badan.
Sumatra..aku harap titik yang tengah kucari berhenti disatu dataran luas ini. Ia tau betapa lelahnya aku berkelana selama ini. Menyibak semak, membabati belukar yg dengan kuat memagari hati juga jiwa-jiwa para kurcaci. Selayaknyalah ia tau rekor terjauh lembaran jiwaku mengelilingi bumi adalah dataran berkelok miliknya. Harus ku seberangi perairan, jalanan yang lebih terjal ketimbang hanya merangkak dan berjalan. Sementara untuk terbang..ah, aku terlampau lelah juga untuk menjelajah angkasa. Sekian tahunku mengoreki sudut langit membuatku merasakan kerinduan yg teramat pada adanya fungsi kaki. Aku ingin berjalan, aku ingin meresapi sapaan tanah, aku ingin memperjuangkan langkah, menjejak tiap inchi bumi sebagai makhluk layak edar bernama manusia dan sekali lagi kutegaskan, aku bosan melayang. Terbang hanya membuat kaki-kakiku ngilu karena terlalu jarang digunakan. Sementara nanti, ketika aku mati..kaki-kaki jasadku haruslah membubur dalam gundukan tanah suci, bukanlah terbakar dan menjadi abu untuk kemudian melayang hilang ditelan cerobong asap kapal.
Sumatra..ia masih dalam pelukan langit sama seperti tanah singgahku. Bahasa dan kata adalah justru sesuatu yg mendekatkan tanpa adanya pengampunan. Dan hey..masihkah engkau ingat bahwa garis merah dari adanya segala keterikatan ini adalah hanya sebatas sadar?

.
.
Aku gagal mencari titik didataran penghujung Indonesia. Titik dari segala kata pembuka cerita ini tak ada dimanapun langkahku menyapa dataran. Bukan di Surabaya, Pati atau mungkin Sumatra. Bukan dimana-mana. Tapi titik itu ada disini, ditiap ujung pori yang menyebar disepanjang tubuhku. Titik itu ada dalam niat dan inginku. Tak ada yang perlu diakhiri. Perjalanku sejauh ini mengajari, titik terkadang diperlukan bagi paragraf lain yg memerlukan adanya bait berjalan. Mungkin beda sapaan, tapi tetap satu tema bacaan.

Kamis, 04 Desember 2014

Cerita Pagi

Ini adalah satu cerita singkat tentang dua anak mikroba, terlahir dalam agungnya tetesan embun di pucuk daun bambu.
.
.
Ini surga, tanpa harus menjelaskan kenapa.
Ini surga, tanpa harus ada pertanyaan bagaimana.
Ini surga, karena kami memilih untuk berkata bahwa ini surga, meski ruang memaparkan didepan mata bahwa ini sesungguhnya adalah neraka.
Siapa yang peduli, tak ada yang perlu peduli dengan dua anak mikroba seperti kami.. terlahir di banyaknya kealamian pucuk halus mengerikan daun bambu, aku harus membahasakan itu sebagai apa agar dunia paham..sebuah kealamian yang di gariskan ada untuk kami tapaki.
.
Tak ada yang harus mempedulikan dua anak mikroba seperti kami, hanya perlu menikmati sejuk yang sesekali turun dari hasil endapan embun yang tak sanggup lagi ditahan. Dan jatuh.
.
Ini tentang dua cerita..kenapa kita ada, meski kurang bermakna namun mungkin sanggup untuk saling menguatkan.

Sabtu, 29 November 2014

Dalam Balutan Abu-Abu

Pagi menyapa dalam balutan rinai yang turun teratur dari langit. Awan sendu terlihat semakin mengikis dari balik kaca jendela kamar. Lama. Lama kubiarkan jarum jam berjalan tanpa disandingi aktivitas berarti, selain hanya bernafas. Ya, bernafas.

.

Sesosok kawan lama datang menyentak lamunanku dalam cicit merdunya. Merayap dalam jarak yang tak terlalu dekat untuk dilayangkan kibasan, juga tak terlalu jauh untuk sekedar menatap sorot kecil matanya. Ekor lencirnya terpaku seiring dengan waktu yang juga membekukan hujan diluar sana. Sekali lagi mata kami saling beririsan. Menyapa.

.
.
Ku kirim sapaan berupa sinyal getaran yang hanya bisa dimengerti oleh kaum spiral seperti kami. Mataku mengerjap sekali ketika samar kutangkap seulas hangat tersapu dilingkar mata berairnya. Dia membuka pintu hadir untukku. Hai, teman...sudah sangat lama ketika terakhir kali aku menyapamu dalam bait panjang yang telah lalu. Masih ingatkah?
Aku tersenyum ketika sosok itu tak lantas pergi menjauh ketika tanganku sedikit terjulur mendekat. Ia menerima permintaan pertemananku lusa kemarin. Aku tau itu, kehadiranku yang tak lagi mengusik menjadi pertanda bahwa aku diperbolehkan menjadi temannya. Hujan terus membungkus kami dalam hangat yang tak lagi membakar dalam beberapa waktu kedepan. Membungkus hening yang terus melingkari percakapan kami bak pelangi diatas garis awan. Mengagumkan.

.

Adalah seekor cicak yang menyita perhatian selama berjam-jam waktuku tersekap dalam rintik hujan. Dalam ruang kotak bernama kamar dan getaran menjadi bahasa yang menyambungkan selain tatapan. Pernah kusapa ia dalam lain kesempatan, detik pertama ketika akhirnya kuputuskan untuk menamai ketertarikanku pada makhluk mungil melata itu menjadi keinginan sebuah ikatan bernama teman. Sebelum hari itu, aku telah melayangkan banyak sapaan. Tapi tak pernah kulewati detik ketika mata kami pada akhirnya harus beririsan. Aku selalu mengira ia tak akan sudi berteman dengan monster sepertiku. Kami beda alam, beda tanah jajahan, bahkan berbeda tanah jalanan. Aku selalu mengira diamnya adalah penolakan tak langsung pada niat baikku untuk menjadikannya teman. Dan hujan pagi ini menjadi saksi bahwa semua yang menjadi dugaanku hanyalah prasangka tanpa alasan.

.
Dear makhluk manis, aku senang ketika kita akhirnya bisa menjalin ikatan bernama teman. Telah sangat lama kudamba hubungan tak lazim ini. Dan bukankah akhirnya engkau sadar bahwa keberadaanku bukanlah sebuah ancaman? Kita berada dalam lingkup udara sama, dan hanya getaran yang mampu mencerna ucapan yang tak sanggup diterima oleh masing-masing kita. Diamku bukan berarti tengah dalam siaga untuk melahapmu. Diammu pada akhirnya ku tau bukanlah kesombongan yang meruak dari pribadimu. Dan aku senang engkau akhirnya bisa mencerna bahasa tatapan.
Dear makhluk tipis, hujan diluar tengah dalam skala besarnya. Alam sepertinya tengah ikut merayakan hubungan kita. Diturunkannya air dalam jumlah tak terhingga hanya agar engkau dan aku bisa saling menyapa dan bersalaman. Hari ini istimewa, aku tau. Sekalipun jika nanti sosokmu harus lenyap dalam gulita yang menelan. Tak apa, karena akupun tak akan selamanya ada dalam sekat berdinding ini. Duniaku tak seluas ruangan kita, tapi aku tau..jalanmu tak akan pernah melangka jauh dari jangkauan pandang ruangan kita. Dan disini ku temukan nyawa. Dalam seulas senyum diwajah cicak manis sepertimu. Dan disini ku temukan teman dalam ujud makhluk berekor dan bercakar tajam. Sekali lagi ku ucapkan terimakasih karena kita pada akhirnya menjadi teman.

.
.
Hujan berhenti dan menghadirkan semburat merah diufuk atas. Mentari menyapa dalam balutan agung nan anggunnya. Hai alam, sejauh apapun aku memaksa..tak ada yang lebih bermakna selain ketika adanya sebuah penantian akan waktu yang seharusnya datang. Aku memiliki arti hari ini, duri yang dulu pernah menjadi aspal jalan tak akan lagi menakutkan setelah ini. Karena aku sekarang berteman, bersama ia makhluk manis yang ekornya selalu menyapu awang. Tak apa jika esok ia lupa pernah tersenyum dan menyambut sapaku. Tak apa jika esok ia tak datang dalam penantian seorang diri didalam kamar. Karena kami terikat hanya dalam frekuensi getaran. Tanpa mengenal jarak juga pagar penghalang. Dimanapun ia tengah merangkak, sinyalku tak akan berhenti mengetahui apa yang tengah ia tatap. Dan jika esok aku harus berganti ruang sekapan. Setidaknya hari ini ia telah membalas sapaku dalam senyuman. Tatap manis yang mengantarku pada lamunan tak berarah. Tatap manis yang menyalurkan pada semangat tak bernama. Dan aku hanya perlu meraba untuk mengetahui adanya kehadiran.

Minggu, 23 November 2014

Mencerna Spasi, Titik dan Koma

Petang ini, kembali aku terdiam menatapi atap bambu bergaris dikamar. Membuka dan memahami kembali isi tiap halaman rumah atau yang biasa kalian sebut blog, tempat ini. Lama..aku mencermati tiap keping judul hingga remah per baitnya. Aku ternyata serumit tulisanku, mungkin. Karena jujur saja aku harus menyingkirkan berbagai suara hingga dengung sekitar hanya agar pendengaranku sanggup intensif meraba apa yang sekiranya tengah dilahap sang retina.
Aku penulis. Bukankah? Aku tidak yakin. Aku adalah salah satu yang percaya bahwa menjadi penulis adalah kewajiban untuk juga memiliki serbuk ajaib pemanis kata, mantra yang digadang sanggup menjadi sirep bagi pembacanya agar demi apa yang tengah disampaikan tidak hanya sampai kepada mereka, tapi juga menjadi hidup dan bernyawa bagi otak mereka. Dan aku tak memiliki kemampuan untuk menyihir. Jangankan menjadi penyihir, percaya mereka itu nyata dan ada saja masih diragukan. Aku pasti bukanlah penulis. Sekalipun aku pernah membahasakan tentang Kura dan Pemancing Sayu-nya pada suatu hari yang telah lalu, sekalipun pernah kuracik juga dengan apik dan telaten rasa rindu menjadi Semangkuk Cinta Dalam Semur Tahu, sekalipun pernah kucengkeram nyawa seseorang melalui paragrafku yang panjang dan melelahkan. Aku tetaplah bukanlah penulis dengan segala label itu. Yang selama ini kulakukan adalah hanya sekedar membahasakan. Menciptakan tali bagi hati juga hariku yang senantiasa butuh mulut untuk menyalurkan apa yang tengah terasa.
.
Cinta, apa yang menjadi definisi bagi kalian tentang kata satu itu? Akankah ia adalah bumbu? Ataukah dzat maha agung? Atau sekedar kerikil ditengah sungai? Kenapa setiap orang berlomba-lomba menciptakan plang tanda kepemilikan pada ia yang disebut cinta? Akankah cinta memang hadir hanya antar sesama? Sesama manusia yang mengerti, sesama manusia yang sejenis, sesama manusia yang sepihak. Akankah arti cinta memang memiliki makna sesempit itu? Kali ini, maukah mendengar sekelumit singkat tentang penjelasanku? Aku memaksa kalian untuk menjawab, ya.
.
Cinta, sejujurnya terlalu naif untuk bercerita tentang kata satu itu. Aku mendapatkan cinta dari pencipta agungku. Aku menerima cinta dari mereka yang melahirkanku. Aku mendapat cinta dari bocah-bocah kecil yang ku senyumi saat sebelum masuk gang rumah. Dan yang pasti, aku menerima cinta dari kekasih juga mereka yang menyayangi dan menerima kehadiranku. Termasuk juga dari jajaran binatang yang kupelihara dipekarangan rumah, aku tau mereka mencintaiku. Makanan yang kusediakan setiap pagi selalu tandas tak bersisa dan itu adalah bukti nyata adanya cinta.
Cinta itu luas, keluasan yang tak akan sanggup dicernakan manusia kedalam bahasa sekalipun oleh pujangga. Ya, didunia ini memang ada rasa yang tak sanggup dicerna oleh logika. Termasuk ketika aku sepertinya memiliki ikatan dengan para aksara. Aku mencintai paragraf, dari tiap keping kata hingga titik, spasi juga koma. Tak ada yang paham seberapa gilanya aku pada mereka-aksara itu. Untuk itulah rumah ini tercipta. Tempat yang kalian sebut blog, adalah tak lain sebagai kanvas bagi berlimpah ruahnya imaji juga inginku merunut kata per kata. Aku mencintai bagaimana sejumput nada dalam bait tulisan sanggup menghadirkan nyawa, sanggup juga menyuntikkan nutrisi bagi jiwa yg selalunya haus akan asupan. Aku menulis ketika tengah menunggu penanak nasi selesai dengan tugasnya. Aku menulis ketika dingin mulai mengetuk tulang menyampaikan kabar gembira bahwa ia telah berhasil menembus daging dan kulit ari. Aku menulis ketika atmosfir mulai menggigit melalui tatapan mereka yang penuh amarah dan keangkuhan. Aku bahkan menulis ketika semua baik-baik saja.
Ketika gelap malam selalunya melapor padaku tentang kejamnya kalian meracuni pendengarannya dengan keluh dan desahan. Maka gelap malam juga melayangkan protes padaku yang memaksanya menjadi saksi bagi sesi bercintaku dengan tulisan. Menangkapi banyak tanya tentang apa dan kenapa diudara. Merogoh saku demi memunguti remah spasi juga kepingan koma. Melumat banyak aksara hingga sanggup dicerna oleh banyak mata dan nama. Ya, aku cinta aksara. Mereka membuatku merasakan berharga dengan terus menghadirkan diri. Mereka membuatku sehat dengan jalan menyalurkan apa yang kiranya menjadi penyumbat. Mereka membuatku nyaman pada adanya kesepian yang mencekam. Pada akhirnya, memang ada rasa didunia ini yg tak sanggup dicerna logika.
.
Kembali pada pernyataan awal kenapa ketikan ini tercipta. Jadi sebenarnya apa yg menjadikan sebuah tulisan bernyawa dan menjadikan si empunya berlabel kata si penulis? Benarkah memang diperlukan adanya serbuk sihir demi memantrai si pembaca agar bisa tersambung dan merasakan? Bagaimana jika yang aku punya adalah rasa? Cinta pada jajaran aksara yg kerasionalannya masih kucari. Apapun itu, aku adalah yang seperti ini. Hadir dalam kerumitan dimana memang dibutuhkan lebih dari sekedar ada, dibutuhkan lebih dari sekedar mata untuk meraba dan mencerna. Aku tak memaksa dunia paham. Tentang siapa aku dan tulisanku.

Sabtu, 22 November 2014

Satu - Tiga - Tujuh

Musim panas hanya tinggal menunggu hari untuk berakhir. Kita seharusnya adalah sepasang kekasih yang manis, kita seharusnya adalah sepasang kekasih yang menyebar rasa iri pada sekitar karena berlimpahnya cinta kita, tidak..tapi cinta dariku yang melumuri tiap inchi hingga helai rambutmu. Musim panas hanya menunggu hari untuk berakhir. Dan ditempat ini, jalanan ramai di sudut persimpangan adalah tempat pertama rasa itu menetes dan semakin deras setiap detik setelah akhirnya aku mengetahui namamu dan bisa menyentuh tanganmu. Rasa cinta yang tak diizinkan dunia untuk bertumbuh dengan subur.

.

Hari itu adalah pertengahan musim dingin yang mengesankan. Aku yang tak seharusnya menghampirimu malah tanpa bisa kutahan kaki-kakiku berjalan menuju tempatmu berdiri, matamu terasa anggun memandangi salju turun..seakan tiap butir yang menyapa wajahmu adalah benih hidup yang harus terus kau nikmati kedatangannya. Aku yang sebelumnya tak pernah memiliki keberanian untuk memulai harus berjalan diluar jalur aman. Senyum itu, menyapaku dengan sangat hangatnya. Senyum sama yang mengantarku pada malam-malam penuh adanya harap dan cinta. Ya aku jatuh..pada tawa yang selalu tergores diwajah manis itu. Ya aku jatuh..pada mata yang sesekali menggulirkan butiran emas dalam kedukaannya. Tidak. Tolong, jangan biarkan butiran berharga itu jatuh. Tidak. Tolong, jangan biarkan mata yang memancarkan luka itu menghabisi pernafasanku. Karena ternyata ikut kurasakan denyut sakit disetiap tetes air ditelaga matamu. Wajah manis, tawa yg mengagumkan harus tetap terlukis disana. Harus tetap berada disana, tak peduli jika senyum itu harus datang dari ia, gadis berkuncir yang sangat kukenali. Tak apa jika senyum itu harus berkembang karena ia yang akhirnya mau melihat peluh dan perjuanganmu demi mendapatkannya. Tak apa, abaikan saja aku yang tetesan cintanya mendadak beku dan menghujani tiap inchi permukaan hati. Aku tak apa, setidaknya mau menjadikanku tempatmu berbagi airmatapun adalah suatu yg sangat berharga. Aku tak apa, musim semi akan datang dan membawa pergi juga pasti rasaku yg semakin terasa melelahkan langkah. Dan kau akan bahagia. Bersamanya.

.

Waktu telah berlalu dengan sangat lama ketika terakhir kali kita kembali terlempar dijalanan yang sama. Tapi hari itu bukan senyumku yg mengembang dan menghapuskan airmata diwajah manismu. Hari itu berbeda, ketika engkau dengan sepenuh dayamu bercerita tentang kebahagiaan yg akhirnya bisa kau peluk, dan aku dengan lelehan airmata pengakuan..pengakuan tentang rasa irasional yang membuatmu beku. Hanya beku dan berkata semua hanya candaan semata. Aku tak mungkin menyukaimu, itu penyangkalan terakhirmu sebelum semua semakin memburam dan langkahmu perlahan menjauh dari tatapan. Jauh dan semakin jauh, bahkan jika aku memaksa berlari dan menggapaimu, tangan itu tak akan bisa ku sentuh, senyum itu tak akan bisa kumiliki. Waktu telah berlalu dengan sangat lama ketika akhirnya semua harus menjadi seperti ini. Kita seharusnya menjadi sepasang kekasih yg manis, bukan malah menjadi sepasang orang asing yang tak saling mengenal.

.
Hari ini aku kembali berdiri di jalanan ramai di sudut persimpangan. Musim panas hanya tinggal menunggu hari untuk berakhir. Mataku sesekali terpejam erat, lama. Dan ketika kembali membuka mata, kuharap sosokmu ada disana, disudut yg sangat kuhafal letak persisnya. Aku berharap sosokmu akan datang meski hanya sekali dan menghadirkan lagi padaku senyum manis yg pernah menawanku dengan sangat kuatnya. Dan akhirnya harap tinggal harap saja. Aku melangkah meninggalkan sudut persimpangan dengan dagu menantang langit. Aku adalah manusia kuat. Tak akan kubiarkan diriku lemah hanya untuk rasa yg bahkan tak layak disebut cinta. Tak akan kubiarkan diriku lemah untuk rasa yang telah menghujaniku dengan kerasnya selama banyak musim. Setidaknya aku pernah memiliki keberanian untuk melangkah menujumu. Setidaknya aku pernah merasakan sentuhan tanganmu. Setidaknya aku pernah mengusap butiran langka yang menetes dari pelupuk matamu. Berjalanlah dengan baik. Dan kelak ketika kita harus dengan tanpa sengaja bertemu, tatap aku dengan senyum manis itu. Berjalanlah dengan baik dan aku akan mendoakan untuk tetap bertahannya senyum diwajah manismu itu.

.

Tak ada yang harus ditangisi lagi hari ini. Musim semi telah datang, dan sekalipun rasa itu telah dipaksa terhapus dari memoriku. Ketika aku berjalan dipersimpangan itu, denyut sakit yang telah membasi seperti bangkit dan membangunkanku. Hiduplah dengan baik dan ketika kelak kita harus dengan tanpa sengaja bertemu, tatap aku dan tetaplah tersenyum manis seperti pertama kali musim dingin menjadi saksi untuk pertemuan kita. Cinta itu ada dan sepertinya kita memang tidak digariskan menjadi sepasang kekasih yang harus terlihat manis. Sekalipun cintaku lebih deras membanjirimu ketimbang aliran cinta miliknya. Tak apa, karena hatimu tak sanggup melihatku. Hiduplah dengan baik dan tetap tersenyum dengan manis. Musim semiku telah datang dan selamat tinggal.