Selasa, 27 Oktober 2015

B . I

Besok, tepat 2 minggu saya resmi menyandang gelar pengangguran.
Sebelum ini, saya bekerja disebuah tempat dengan penghasilan yang bisa dikatakan tinggi jika dibandingkan dengan penghasilan rata-rata untuk jenis pekerjaan yang sama dikota saya.
4 tahun 1 bulan tepatnya saya mendedikasikan bukan hanya waktu, tenaga tapi juga hati saya. Ya, saya jatuh cinta dengan pekerjaan saya. Karena mungkin ini kali pertama bagi saya benar-benar tabah melewati tahap per tahap dunia keras manusia tua. Saya mulai bekerja di tempat itu ketika berumur 19 tahun. Saya mulai masuk, dikucilkan sebagai anak baru yang tidak memiliki teman. Berkenalan dengan rutinitas bangun pagi pulang petang. Berjabat tangan dengan aroma gedung beserta bau pekerjaan. Beradaptasi dengan dunia yang kelak menempatkanku pada kelas baru babak pendewasaan.
Ditempat itu, saya memiliki teman. Tidak banyak, hanya dalam hitungan jari saja. Saya memiliki satu atau mungkin dua nama yang kelak kuangkat mereka menjadi saudara. Tempat saya bekerja itu sangat keras. Harus diakui...ketidakadilan adalah hal yang wajar. Normal. Kesenioran juga diterapkan disana. Dan harus diakui..saya sempat depresi karenanya. Tapi saya bertahan. Tahap demi tahap, hari demi hari. Semua yang awalnya terasa sangat berat dan melelahkan perlahan mulai bisa kunikmati. Menikmati dengan jalan mengabaikan. Ah...akhirnya, tempat yang selalu kusebut sebagai neraka bisa juga menghadirkan suasana surga. Keadaan sama, tapi otak saya yang mendesain semuanya berbeda. Teriakan saya pandang sebagai sebuah lelucon. Disaat mereka para rekan kerja saya berlomba menunjukkan kecantikan, saya tetap bertahan dengan memandang mereka sebagai dagelan. Lelucon saja. Dan, disana saya juga memiliki beberapa sosok yang tidak saya sukai. Jika mayoritas penghuni gedung membenci pemimpin mereka yang terkadang menjengkelkan dengan berbagai macam aturan tak masuk akalnya. Saya, justru membenci orang yang terkadang lewat. Saya membenci mereka yang saya butuhkan. Saya membenci untuk alasan yang tak masuk akal juga. Sampai pernah, dalam hati saya berjanji..saya akan bisa bekerja mandiri tanpa bantuannya. Dan itu terbukti berhasil. Surga oh surga.
Dan tentang jatuh cinta. Ya, pekerjaan apalagi yang bisa membuat saya begitu takjub dalam menikmatinya selain ditempat itu. Terlebih, disana terdapat juga satu atau dua tempat untuk mencuci mata, saya tergoda, pada rekan kerja. Oh tidak. Ini bahaya!


Ketika semua sudut neraka berhasil saya taklukkan. Tibalah saya pada hari dimana saya memutuskan untuk keluar dan berhenti dari tempat itu. Hari itu sungguh pagi yang cerah. Tanpa pemberitahuan kepada siapapun, saya mengundurkan diri. Dengan alasan tak masuk akal dan jelas kebohongan belaka. Surat pengunduran diri ditangan. Saya sempat menangis. Rekan kerja saya juga menangis. Kenapa ! Surga ini..saudara saya..kenapa harus saya tinggalkan ?! Bisakah surat pengunduran diri ini saya robek dan buang saja lalu saya kembali bekerja ?
Tapi entah bisikan apa, satu demi satu tanda tangan saya dapatkan. Saya resmi dengan semangat.
Tempat parkir yang sehari-harinya bising, hari itu senyap. Saya tertawa linglung memikirkan keputusan yang hanya dirapatkan tidak kurang dari lima detik.
Saya mengundurkan diri dengan tenang.

Satu hari setelah pengunduran diri itu. Saya mulai kesana-kemari menyodorkan surat lamaran kerja. What the !
Dua hari, sepuluh hari. Pada akhirnya saya menyerah mencari jawaban kenapa saya mengundurkan diri saat itu. Bosan ? Iya pasti. Saya melewati masa emas pengangguran saya dengan kegiatan monoton. Bangun tidur, mandi (kadang), membersihkan rumah (kadang), makan (kadang), nonton tivi (pasti). Tuhan. Saya tidak akan menyesali keputusan saya. Lalu apa ?
Saya merindukan surga itu, pekerjaan saya, saudara2 saya, rekan berkelahi selama jam kerja saya. Ahh..saya tidak akan menyesalinya.

Saya memang termasuk orang yang keras. Orang lain memandang saya unik dan sebagainya. Entahlah.
Dan hari ini. Sepulang dari rutinitas mengitari pasar. Saya mulai merenung. Saya bukan lagi manusia yang sama. Ya...keputusan dua minggu lalu membebaskan saya. Setiap orang yang saya temui seakan menyayangkan keputusan saya untuk keluar dari tempat kerja. Tapi saya..secara pribadi..menginginkan ini. Memiliki waktu untuk memanjakan diri meski hanya dengan tidur sepanjang hari setelah sekian tahun waktu milik saya tergadaikan. Saya bebas. Saya bisa tersenyum. Saya bisa menyuapi batin saya dengan waktu yg bergizi. Sesuatu yang tak pernah saya lakukan sebelumnya. Dan saya masih yakin tidak memiliki penyesalan untuk keputusan dua minggu lalu. Batin saya, jiwa saya, saya yang berdiam didalam saya, mereka membutuhkan kehadiran saya. Dunia tidak akan pernah habis keinginan jika kita terus menurutinya. Dan saya rasa, tidak ada siapapun dan apapun yg dapat memperlakukan "saya" sebaik saya sendiri.

Dan hari ini. Saya memutuskan, tumpukan buah tomat dipasar lebih enak dipandang juga "mengenyangkan" ketimbang slip gaji. Kelegaan yg tak akan tergantikan. Sekian.

Rabu, 21 Oktober 2015

a.. B.. c.. d...

Hatiku yang malang, kembali tercabik oleh sebuah sapaan. Hatiku yang malang, kembali tergores oleh mata yang beririsan. Dan mata itu sekali lagi memberitahuku sebuah kejujuran. Dengan apa aku harus membencimu ?

Aku tau semua sudah harus berakhir. Bahkan awal dari cerita ini tak seharusnya ada. Tapi tawamu yang menyandera akal sehat, senyum sinismu yang perlahan menggariskan luka. Aku hanya bisa berdiri sendiri disini, memeluk hatiku yang malang.



Siang itu, adalah akhir bulan kelima saat engkau datang dengan raut kusutmu. Matamu bersahabat, tapi tidak dengan tutur ucapmu. Beruntung aku ada dengan segala keanomalianku. Sanggup membaca apa yang disuguhkan retina.
Hari bergulir dengan membawa pula cinta yang tertambat pada hati. Tidak! Senyum itu tak akan kubiarkan melelehkanku. Hidung yang menjulang itu tak akan kubiarkan menyaingi tinggi nalarku. Bahkan jemari kokohmu tak pernah lepas dari incaran mata musangku. Hatiku yang malang, jatuh pada tebing yang curam. Hatiku yang malang, melihat surga dari gelap jerujinya.



A.. B.. C.. D...
Sekali lagi anomali memberitahuku, bahwa hatimu sesungguhnya mulai memanggil. Mata yang memberitahuku kejujuran. Tak pernah aku seyakin ini sebelumnya. Engkau makhluk hebat...sanggup menahan rasa yang sedemikian besar hanya karena si keparat keadaan yang tak mengizinkan. Aku tau, keanomalianku menempati ruang kosongmu dengan teramat pas. Aku tau, keanomalianku menyandera akal juga hatimu dengan sigapnya. Tidak bisakah sekali saja bibirmu menggantikan matamu untuk menyampaikan kejujuran itu ?
Hatiku yang malang, melayang tak tertangkap diawan. Hatiku yang malang, terpikat oleh misteri yang tak pernah terpecahkan. Dan mata itu sekali lagi memberitahuku sebuah kejujuran. Dengan apa aku harus membencimu ?


Jalan tertutup salju didepanku kini. Dingin, putih sepanjang mata memandang. Dan hadirmu tetaplah misteri bagiku. Tak akan kuulangi perjudian yang dulu pernah membobol retina. Tak akan kuakui suasana hati bahwa aku juga mulai menginginkan. Sungguh rasa ini anomali seperti halnya aku. Mungkinkah hatimu tengah dalam masa menyembuhkan diri kini ? Setelah jarak yang terlihat sekarang ? Akankah hatimu juga merasa malang karena tetap kubiarkan semuanya sebagai misteri tunggal ? Yang aku tau..jalanku sekarang sungguh terasa membekukan dan aku tak tau bagaimana cara untuk mengungkapkan kerinduan.


Jemari kokoh itu, hidung yang menjulang itu, raut wajah yang menyimpan sesuatu. Hati yang masih menyimpan segudang tanya. Biarkan aku hidup dengan kepercayaan diri bahwa hatimu selalu memanggilku. Biarkan aku bernafas dengan keyakinan sendiri bahwa namamu selalu merindukan kehadiranku. Biarkan aku mendekap sendiri hatiku yang malang.


Rindu selalu lolos muncul ke permukaan. Lalu dengan apa harus kubahasakan ? Koma mati di ujung jalan, titik berhenti di persimpangan, bahkan spasi tak sudi menampakkan dirinya digaris start.
Hatiku yang malang. Mengais sendiri aksara yang berserakan. Demi sesuap rindu yang bisa tercerna oleh mata. Anomali kembali menyapa dalam rinai hujan sebelum petang. Aku menyiakan banyak musim hanya karena misterimu ? Mungkinkah ? Ini pasti bukanlah kesia-siaan karena disetiap keping namamu, terselip senyum bahagia milikku. Dan sekali lagi bayang matamu yang tengah menyampaikan kejujuran memanggil nalar dan mulai menyidangku. Harus dengan apa aku membencimu ?




Hatiku yang malang, tak akan kubiarkan engkau merasakan dingin menggigit ini. Hatiku yang malang, kudekap engkau degan semua kehangatan. Mari kembali menapaki jalanan kering ini. Mungkin diujung persimpangan sana akan kita temukan aksara untuk membahasakan kerinduan. Mungkin diujung persimpangan sana akan kita temukan belati demi membunuh rasa yang tak wajar. Tak akan kubiarkan dingin membunuhmu wahai hatiku yang malang. Melangkah sekali lagi dalam dekapanku. Karena aku tau, waktu tak pernah gagal memberikan sebuah jawaban tepatnya.


Misteri memanggil..misteri kembali menyapa. Hidung yang menjulang, jemari kokoh, bibir yang menyimpan pedang, mata yang menyajikan kejujuran. Anomaliku menamai mereka semua dengan cinta. Anomali merangkul semua itu dalam kasih tak sewajarnya. Dan yang aku percayai hanyalah hati yang terus melihat kejujuran diujung tombak matanya. Merobekku dan meninggalkannya dalam jalan penuh misteri miliknya.

Sabtu, 17 Oktober 2015

Oktober

Angin panas dipenghujung bulan oktober kian menambah bara yang tengah menyala disetiap ujung sel milikku. Bergejolak, menyemburkan ribuan tanya dan membungkam semua nafas terhela.

.
.
Bagiku, ini seperti rutinitas. Perasaan mencabik yang terus terulang dalam jangkauan waktu berdimensi. Saat dimana setiap jengkal raga terasa mengalir rakus bongkahan api menyala. Panas. Namun yang dibutuhkan bukan air. Pernahkah engkau merasakan detik-detik menegangkan itu ?

.


Aku adalah sejenis binatang hutan. Dan bulan oktober tidak pernah mau berramah tamah dengan keberadaanku seperti juga bulan lain di setiap musim panas. Ia akan membakarku dalam dahaga yang tak pernah keluar dari kabut gelapnya. Sisi misterius miliknya terus memutar roda dan memaksaku merasakan lagi saat-saat menyakitkan ketika darah hidup didalamku harus meletup karena suhu panasnya.
Aku membenci ini. Aku tak pernah menyukai panas terkhusus dibulan oktober ini. Semua yang semula tergenggam, tersadari dan terkontrol mendadak membegal diri dari roda putarnya. Tak ada yang sanggup terpahami karena memang semua terjadi apik didalam raga yang tak tercela.

Oh alam...sekiranya engkau sudi untuk mengetahui apa yang tengah terjadi.
Oh alam...sekiranya engkau mau mendengar apa yang tengah menikam ulu hati salah satu monster peliharaanmu.

.

Oktober berjalan dengan sangat lambat. Seakan ditiap langkahnya diselingi pula tari bahagia karena melihatku tersiksa.
Bukan. Bukan karena aku membenci bulan istimewa ini. Bukan pula karena panas yang dibawanya berkepanjangan ini. Aku membenci ketika ragaku harus menguap seiring meningginya matahari. Aku membenci karena ia terus menampakkan diri, sesuatu yang dalam penghujan menjelma bak kelinci lemah tak berdaya.
Oh alam...kenapa engkau terus diam.
Siapa dia yang tengah bersarang di dalamku. Siapakah dia yang terus membakar hingga persendianku. Sesuatu yang lainkah ? Atau diriku yang menghangus karena lama tak terjamah oleh alam ?

Minggu, 08 Maret 2015

Island

Aku menamainya Island, lautan luas yang pernah kuarungi kemarin lalu. Menyantapi setiap debur ombak dalam riak tak terhingga. Menyumpal juga mulut-mulut lapar manusia daratan dengan banyaknya eksotisme bawah laut. Hari ini aku kembali singgah, bukan untuk berlayar, bukan pula untuk menyendoki gulungan air yang tak pernah lelah berlari mengejar lepas. Hari ini aku singgah, dengan niatan memandang. Meresapi debur pantai dari bangku yang dulu sempat kesebut sebagai tempat singgah para pecundang. Bertahun menjadi penikmat lautan jujur lantas membuatku lupa bagaimana menjadi manusia daratan. Aku mungkin telah terdaftar dalam sejenis makhluk amfibi.
.
.

Dear engkau yang pernah menikmati surga bersamaku. Baik-baiklah untuk hari ini dan juga nanti. Detik setelah aku resmi memutuskan untuk berjalan didaratan adalah saat terberat. Aku linglung, aku lupa bagaimana cara berdiri tegak. Mataku asing menatap rimbunan pohon yang menancap kuat kedalam bumi. Tanganku kaku ketika harus mengais udara yang notabene tak dapat kugenggam. Aku ingin berenang, aku ingin kembali merasuk dalam celupan dunia melayang. Lautan.
Dear engkau yang harus ku ucapkan selamat tinggal. Bernafaslah lebih lama didunia ini. Kembali aku meminta juga, hiduplah baik dan lebih baik untuk hari ini dan nanti. Aku tau dalam keluasanmu itu, hadirku adalah hanya seperti ikan kecil saja. Ikan yang tak akan pernah bisa hidup tanpa airmu, itu yang selalu kukatakan dulu. Tapi hari itu lain..aku bukan ikan yang pastilah mati ketika harus 'mentas' kedaratan. Dengan langkah pasti ku yakinkan diri bahwa aku manusia.
Dear engkau yang harus kutitipi selarik kata perpisahan. Langit diatas sana teramat cerah membentuk banyak awan membubung indah. Mengagumkan bukan? Taukah engkau awan disana adalah buku harian tersembunyi milikku? Semenjak keberadaanmu perlahan menguap beserta dentingan nada dan suaramu. Kepadanyalah selalu keluapkan segala rasa. Ketika aku bahagia, aku menengadahkan muka menatap awan beriring sembari berucap terimakasih. Tersenyum. Ketika aku menangis, kudongakkan mata hanya agar air dipelupuk berhenti menetes turun. Ketika kecewa, aku akan berlama-lama menatapi air didanau tenang. Disana kutemukan awan yang terpantul dari bening airnya. Ketika putus asa, kembali kunyalakan sadar dan ingatan bahwa sinar mataharipun tak sepanjang hari ada berpijar. Adakalanya ia akan tergantikan oleh malam tapi gelap tak selamanya gulita, dihadirkanNYA bintang sebagai celah kecil agar aku tak hilang arah.
.

Dear engkau..paragrafku hari ini mungkin tak akan lagi berarti setelah kata selamat tinggal terucap, menjadikannya selaput tipis pemisah hubungan kita. Tapi aku tak ingin semua berakhir dalam bencana. Sekalipun tetap saja hadirmu tak akan sesempurna dulu pijarnya. Biarkan kealamian membimbing kita. Engkau yang tetap dalam luas tak tercakupmu. Sedang aku tetap dalam balutan mungil kerangka milikku.
.

Dear engkau..jujur saja aku merindukanmu. Teramat. Sungguh. Aku ingat bagaimana dulu ombak milikmu selalu sukses mendatangkan tawa bahagia. Aku ingat bagaimana dulu keluasanmu selalu sukses menaikkan hasrat untukku menjelajahi bahkan mendekap dan memilikimu. Aku rindu perjuangan itu. Memaki para pemaki. Menyumpal mulut-mulut menganga para pembenci. Menampar juga burung camar yang tak berhenti berkicau meledekku. Aku rindu deru halus suaramu.
.
Dear engkau, jika nanti aku harus kembali pulang dalam peraduanku. Jangan bersedih, akan ada esok dimana kesempatan mungkin datang bahwa aku akan kembali menengokmu. Termangu sendiri dibawah terik diatas bangku pecundang. Aku akan singgah kembali sekalipun mimpiku detik ini bukan lagi menaklukkan keluasanmu. Sekalipun hasratku kali ini sudah bukan lagi memilikimu. Sekalipun keberadaanmu bukan lagi prioritas dalam daftarku. Aku akan tetap singgah demi mengorek rindu yang mungkin terselip ditiap barisan-barisan judul nada yang engkau ciptakan. Tak ada yang bisa memahami ini. Tidak akan ada.
.

Dear engkau..hadirmu telah kuabadikan dalam seujud anak. Bukan lagi embro naskah ataupun sekedar angan. Hadir dan cinta yang pernah datang itu telah kusulap menjadi paragraf beku. Kelak jika aku merindukanmu lagi sedang kakiku tak sanggup melangkah menuju tepimu, akan kudekap ia erat. Akan kudekap cerita kita. Akan kudekap kenangan kita.
Dear engkau..hiduplah dengan baik dan lebih baik lagi. Perjuanganku sekarang tak sanggup lagi tertolong nada juga debur ombakmu. Perjuanganku sekarang membutuhkan lebih dari sekedar ingin dan rasa andai engkau tau.
.

Dear engkau, tak pernah kusangka kata akhir itu ada dan sanggup menghampiri. Tapi hari ini aku bahagia. Aku teramat bahagia. Karena itu, tetap hiduplah baik-baik dan bahagia bersama. Terimakasih masih menerimaku hari ini untuk singgah. :-)
.
.

PresentForSJ.Sunday.Mar.8.15

Sabtu, 31 Januari 2015

Note Sunday

"Everyday I wake up next to a angel
More beautiful than words could say
They said it wouldn't work but what did they know?
Cause years passed and we're still here today
Never in my dreams did I think that this would happen to me
As I stand here before my woman
I cant fight back the tears in my eyes
Oh how could I be so lucky
I must've done something right
And I promise to love her for the rest of my life
Seems like yesterday when she first said hello
Funny how time fly's by when you're in love
It took us a lifetime to find each other
It was worth the wait cause I finally found the one
Never in my dreams did I think that this would happen to me...."

.
.
.

Jan,31,2015

Sabtu ini tepat 171 hari sebelum moment tersakral dalam hidupku akhirnya terlalui. Aku ingin menuangkan segalanya dalam lembaran blog seperti kebiasaanku ditahun yang lalu. Menyuguhkan rasa dalam kata pada dunia tentang detik-detik rasa juga perjuangan sebelum melepas masa lajang. Ya, daftar tulisan blog milikku tetap kosong ditahun 2015 ini. Dalam rumus singkatku, menulis selalu bisa menyembuhkan segalanya, dari sakit berbahaya seperti tekanan batin hingga sakit paling ringan sekalipun, migrain. Tapi kali ini, aku ingin meresapi..menikmati jeritan sakit yang kadang melolong dari tiap ujung kuku karena terlalu keras bekerja. Aku ingin esok nanti mengingat dengan bangga bahwasanya pernikahanku dikucuri dana dari keringat bahkan darahku sendiri. Ayah, Ibu cukup berjuang dalam doa saja, tak akan kubiarkan satu butir keringatpun dari mereka menjadi modal bagi hajat sakral milikku. Kecuali kepepet.

.

Ah, sebelumnya perkenalkan namaku May, nama yang hanya dia saja yang boleh untuk memanggil. Sosok unik yang tengah bersamaku menghitung mundur pertanggalan dikalender.
"Kenapa harus May? Kenapa bukan Sasa? Atau yang lain?" Tanya dia dalam chat kami suatu petang sehabis pulang kerja. Kenapa harus May? Apa harus ada alasan untuk sebuah rasa dan permohonan? Dimatanya selalu kutangkap magnet kuat yang seakan memintaku, mengundangku untuk terus menjaganya. Aku tau sosoknya tak setegar kegarangan yang selalu disajikan oleh penampilan juga wajahnya. Matanya, mengeluarkan aroma kapas. Menghangatkan juga meminta perlindungan.
"Karena May artinya mungkin, aku ingin menjadi sebuah kemungkinan disaat yang lain menyerah menghadirkan harapan." Penjelasanku terkesan alay, harusnya bisa saja kujawab singkat, "Karena aku lahir dibulan may." atau "Karena nama May itu keren." Tapi malam itu entah kenapa aku menginginkan kejujuran yang keluar. Aku ingin ia tau bahwa aku bersungguh-sungguh ketika dulu pernah berkata sayang.

.

Minggu pagi diguyur hujan deras. Uap dingin menempel dikaca-kaca jendela kamar.
"Ini surga !" Pekikku riang, memandangi syahdunya tetes demi tetes air jatuh dari langit. Kaus kaki masih terpasang manis ditempatnya, baju hangat pun masih terpakai dan belum sama sekali ada niat untuk melepasnya. Aku ingin menikmati pagi, menikmati hari libur yang kutunggu.

.

POWER RANGER : Aku bermimpi aneh semalam..
MINE : Apa?
POWER RANGER : Aku menjelajah kesuatu daerah berbukit, menyeberangi sungai dan menaiki gunung.
MINE : Wah, hercules kita beraksi malam ini. :-D
POWER RANGER : Aku serius! U.u
MINE : Aku juga serius sayang, akhirnya impianmu naik gunung tercapai walaupun lewat mimpi, karena didunia nyata itu mustahil! :-D
POWER RANGER : Apanya yang mustahil? Aku sehat dan kuat dingin sekarang, :-P
MINE : Ah masa? :-P

.

Aku menghentikan sesi chat pagiku, membuang handphone keatas kasur yang masih bertabur peralatan tidur, memanyunkan bibir pertanda kesal. Dia lagi-lagi merusak imaji romanku! Kenapa sih tidak bisa sekali saja bersikap romantis? Bertanya mungkin, dengan siapa aku didalam mimpiku semalam, atau indahkah pemandangan disana? Dan, apa dia bilang tadi? Aku mempunyai mimpi mendaki gunung? Hell ya. Aku memang menyukai gunung sebagai objek mengagumkan untuk dipandangi tapi tidak untuk ditelusuri dengan kaki. Mantan dia adalah pecinta petualangan gunung. Dan ada rasa sebal ketika aku mulai mengingat kata pegunungan. Entah kenapa.
.
Pagi indahku dibawah siraman hujan perlahan menguap seiring dengan moodku yang terganggu. Ditambah sayup-sayup terdengar suara dangdut koplo menembus derasnya hujan dari rumah sebelah. Perang antara musik kacangan dan musik Tuhan. Moodku bertambah buruk, tanpa memandang jam segera saja kukubur diriku dalam selimut rapat-rapat.
"170 hari lagi." Gumamku sambil tersenyum lebar. Moodku belum sepenuhnya membaik tapi mengingat hari mampu menarik lagi ujung bibirku untuk tersenyum. 170 adalah singkat bukan? Waktu selalunya terbang disaat kita tengah jatuh cinta. Berbeda dengan saat ketika tengah berada dimeja kerja, disana selalu kurasakan putaran jarum jam yang bergerak sangat lambat bahkan sesekali bisa kulihat jarum jam diatas sana berjalan mundur! Teman kerjaku bilang itu mustahil, tapi aku berani bertaruh demi sekeranjang tomat bahwa nyata jarum jam itu berputar berbalik arah dan mereka tetap tak percaya.

Sabtu, 06 Desember 2014

Kerak Jawa Dan Sudut Sumatra

Titik.

.

Apapun kata pembuka dari cerita ini, aku hanya merindukan adanya titik.
Satu, dua, empat, waktu berjalan selalu seperti sekejap mata. Aksara-aksara yang menjadi getaran penghantar dikala nada tak lagi berkuasa menyalurkan suara. Dan sesekali aku berharap sanggup menyapa tanpa harus perlu otak mencerna.
.
.
Surabaya..ia masih sekawanan dengan daratan yang kusinggahi. Guncangan lokal dikotanya bisa jadi tak akan sampai merambat dikediaman nyamanku. Tapi aku mendengar, aku membaca dan kulayangkan sejumput doa melalui udara. Guncangan lokal adalah sejenis efek kejut bagi jiwa-jiwa yang senantiasa terlelap damai. Sementara aku, melalui mantra kuterbangkan jiwa melalang buana kesetiap penjuru sendi, kuterbangkan jiwa melalang buana kesetiap sudut keping nyawa. Aku terkenyangkan dengan adanya ketakutan yang tak wajar. Dan dari kesemuanya menyuntikkan padaku satu serum keabnormalan yang tak akan sanggup dicerna oleh kata. Termasuk oleh si dataran Surabaya.
Surabaya..ia masih dalam jangkauan langkah kaki. Menyambanginya dengan berjalan hanya membuat lemah hingga berangsur mati. Sementara berlari tak akan membantu apapun, aku tak memiliki energi cukup untuk menempuh jarak. Sekalipun pasokannya membanjiri, tubuhku seringnya merengek ketika tujuan terlalu lama juga terlalu jauh dari pelupuk mata.
Surabaya yang malang, kujadikan ia persinggahan dikala jiwaku mulai menunjukkan kemuakkannya pada apapun yang disebut normal, sementara ia membenci adanya perbedaan. Surabaya yang bersuka cita, karena pernah aku bersedia mengiringi langkahnya dalam jalanan menuju tempat gemerlap bernama impian.
Surabaya..dataran sama yang senantiasa alpa disapa hujan. Melalui kerak Jawa, air yang mengaliri kota kami bisa jadi beraroma sama. Melalui kerak Jawa, bahasa menjadi semacam ayam petelur yang menyampaikan semuanya tanpa harus berfikir esok ia akan menjadi apa, karena yg dibutuhkan peternak hanya telur-telurnya.
Surabaya..tempat persinggahan yang nyaman sebelum akhirnya datang sadar cuacanya membuatku kegerahan.
.
.
Pati..ia berada lebih dekat dari apapun dan siapapun. Hallo dataran sunyi nan mengagumkan, apa kabarmu tadi malam? Tak ada yang sanggup kucecap lagi indahnya dataranmu. Kita sama, dan kemisteriusanmu menempati ruang pas dalam kotak karakterku. Ya, seharusnya siapapun sadar, persamaan dan perbedaan bukanlah hanya dua-duanya perekat yang ada dimuka bumi ini. Tapi anomali, sudut yang tersembunyi dari ucapan juga lekuk senyuman juga adalah lem untuk keterikatan yang datang tanpa keterpaksaan. Pati..dataranmu hanya dalam jangkauan jengkal, tapi menekuri langkahmu sesulit menyusuri labirin diujung paru. Sekalipun aku sanggup membaca, engkau selalu lupa bahwa aku menyajikan apa yg kiranya tengah engkau laparkan. Dan aku bersyukur kita tetap sejalan.
.
.
Sumatra..
Aku ingin bernafas sebentar, menyusuri gorong-gorong sekresi ingatan memang sangat melelahkan. Dan untuk perjalanan menyebarang satu ini, selayaknyalah aku membutuhkan peristirahatan. Bernafas, menikmati udara yang membiusku dalam lelap. Bernafas, mengamati laju angin yang tanpa lelah hilir mudik melalui jalanan rumit bernama organ dalam badan.
Sumatra..aku harap titik yang tengah kucari berhenti disatu dataran luas ini. Ia tau betapa lelahnya aku berkelana selama ini. Menyibak semak, membabati belukar yg dengan kuat memagari hati juga jiwa-jiwa para kurcaci. Selayaknyalah ia tau rekor terjauh lembaran jiwaku mengelilingi bumi adalah dataran berkelok miliknya. Harus ku seberangi perairan, jalanan yang lebih terjal ketimbang hanya merangkak dan berjalan. Sementara untuk terbang..ah, aku terlampau lelah juga untuk menjelajah angkasa. Sekian tahunku mengoreki sudut langit membuatku merasakan kerinduan yg teramat pada adanya fungsi kaki. Aku ingin berjalan, aku ingin meresapi sapaan tanah, aku ingin memperjuangkan langkah, menjejak tiap inchi bumi sebagai makhluk layak edar bernama manusia dan sekali lagi kutegaskan, aku bosan melayang. Terbang hanya membuat kaki-kakiku ngilu karena terlalu jarang digunakan. Sementara nanti, ketika aku mati..kaki-kaki jasadku haruslah membubur dalam gundukan tanah suci, bukanlah terbakar dan menjadi abu untuk kemudian melayang hilang ditelan cerobong asap kapal.
Sumatra..ia masih dalam pelukan langit sama seperti tanah singgahku. Bahasa dan kata adalah justru sesuatu yg mendekatkan tanpa adanya pengampunan. Dan hey..masihkah engkau ingat bahwa garis merah dari adanya segala keterikatan ini adalah hanya sebatas sadar?

.
.
Aku gagal mencari titik didataran penghujung Indonesia. Titik dari segala kata pembuka cerita ini tak ada dimanapun langkahku menyapa dataran. Bukan di Surabaya, Pati atau mungkin Sumatra. Bukan dimana-mana. Tapi titik itu ada disini, ditiap ujung pori yang menyebar disepanjang tubuhku. Titik itu ada dalam niat dan inginku. Tak ada yang perlu diakhiri. Perjalanku sejauh ini mengajari, titik terkadang diperlukan bagi paragraf lain yg memerlukan adanya bait berjalan. Mungkin beda sapaan, tapi tetap satu tema bacaan.

Kamis, 04 Desember 2014

Cerita Pagi

Ini adalah satu cerita singkat tentang dua anak mikroba, terlahir dalam agungnya tetesan embun di pucuk daun bambu.
.
.
Ini surga, tanpa harus menjelaskan kenapa.
Ini surga, tanpa harus ada pertanyaan bagaimana.
Ini surga, karena kami memilih untuk berkata bahwa ini surga, meski ruang memaparkan didepan mata bahwa ini sesungguhnya adalah neraka.
Siapa yang peduli, tak ada yang perlu peduli dengan dua anak mikroba seperti kami.. terlahir di banyaknya kealamian pucuk halus mengerikan daun bambu, aku harus membahasakan itu sebagai apa agar dunia paham..sebuah kealamian yang di gariskan ada untuk kami tapaki.
.
Tak ada yang harus mempedulikan dua anak mikroba seperti kami, hanya perlu menikmati sejuk yang sesekali turun dari hasil endapan embun yang tak sanggup lagi ditahan. Dan jatuh.
.
Ini tentang dua cerita..kenapa kita ada, meski kurang bermakna namun mungkin sanggup untuk saling menguatkan.