Minggu, 28 Februari 2016

Mengurai Isi Kotak Bekal

Semburat oranye membingkai langit dengan begitu cantiknya. Aroma petang menjemput siapapun untuk kembali ke peraduan malam. Meninggalkan siang beserta segala isi kotak bekalnya dan meninggalkan mereka di laci nakas. Siap atau tidak, mau ataupun tidak. Ketika dulu masih berumur jagung, aku sangat menyukai benderang siang. Malam dalam segi pikirku adalah sebuah kotak hitam yang akan menelas siapapun dalam ruang pekatnya. Aku takut tenggelam, aku takut terlelap dan pagi terlambat menjemputku untuk menikmati poros roda mentarinya. Aku terlalu takut Tuhan akan lupa membangunkan aku, dan justru membiarkan aku damai dalam lelap ketimbang harus bergumul dalam mainan maha besar bernama siang. Saat itu yang ada di dalam kepalaku bahwa masa emas sang matahari terbit adalah sebuah kesenangan, permainan dan hanya tentang bermain.
Sedikit beranjaknya umur, aku mulai bisa menerima kehadiran malam. Gulita ternyata tidak semenakutkan yang terkira sekalipun tetap saja tak akan sudi kubiarkan diri ditelan pekat tanpa seujung sinarpun menemani. Alhasil, bohlam di dalam kamar menjadi serenyah kripik kentang, cepat habis. Mati.
.
Dan seperti juga malam yang dengan pasti akan melengser keberadaan siang, aku dewasapun harus mengakui sebuah keanehan. Siang yang dulu teramat menyenangkan sekarang berubah ujud menjadi format yang mengerikan. Jika dulu sanggup ku sulap apapun menjadi mainan selama mereka masih berada dalam dekapan sinar mentari, maka sekarang semuanya menjadi berkebalikan. Dalam satu masa aku justru merasakan sebuah ketakutan yang ganjil, aku takut disapa pagi, aku takut mendengar kokok ayam mengudara, aku takut ketika siang mulai menjelang. Karena dalam kotak yang kesemuanya tak bisa di hadapi dengan kepolosan, aku menemukan format dunia menjadi mengerikan. Siang tak lagi memberikan kesempatan untukku bermain, dan justru dalam siraman siang akulah yang mereka jadikan permainan. Mereka ? Siapa mereka ? Uang. Waktu. Substansi. Aku dewasa lebih memilih di sekap pekat ketimbang harus dilumat ketiganya. Uang, apa yang bisa di lakukan manusia tanpa uang ? Itu pertanyaan yang sangat aku benci. Bumi masih tetap bulat, rerumputan tetap saja hijau menyegarkan, capung tetap menari mengitari bebungaan dan sungai. Lalu kenapa uang menjadikan dirinya sepenting udara ? Seakan jika mereka absen ada maka para manusia akan berhenti bernafas, lalu mati. Ironisnya manusia-manusia di bumi ini rela saja di jadikan tunggangan oleh mereka yang menumpuk lebih banyak uang. Dengan dalil kebutuhan dan jawaban lainnya yang akan membuat mereka terlihat semakin terlihat manusiawi (re;serakah). Aku dewasa menemukan banyak kejanggalan, terutama tentang kenyataan bahwa manusia sekarang ternyata telah menjelma sebagai kuda balapan. Jika manusia yang di ibaratkan sebagai penontonnya masih mending, tapi uang..dialah yang justru nyatanya duduk manis di kursi penonton menikmati si kuda atau manusia dalam artian aslinya, saling lari, berlomba, mencekal satu sama lain, memburu dan tak pernah terpuaskan. Dan sialnya aku masihlah salah satu dari mereka yang berkebutuhan, menjadi kuda dan tengah berjuang lari dari arena lalu keluar menjadi kuda liar.
.
.
.
Waktu. Manusia selalu merasa jika waktu hidup mereka berkuota. Entah setahun, sepuluh atau esok sekalipun mereka sadar akan menjadi sebuah nama. Tiada.
Manusia hanya sadar bahwa waktu mereka berkuota, lalu dengan kecanggihan otaknya mereka akan berlomba berfikir, titel apa yang harus mereka raih sebelum menyandang gelar almarhum, bangku apa yang harus mereka duduki sebelum kuota mereka sekarat, lalu dengan kecanggihan otaknya pula akan tercipta sebuah stigma. Gelar adalah segalanya. Mereka sekali lagi lupa, bahwa jejak adalah yang terpenting ketika kita menjadi tiada, semakin kita sadar bahwa waktu tidak setergesa-gesa itu kendatipun esok tetaplah misteri, maka semakin nikmatlah dunia ini. Mereka yang sadar akan mati 50 tahun lagi tidak akan bisa merasakan megahnya perhelatan menyambut mekarnya kuncup daun bambu di pagi hari. Yang mengaliri embun abadi, mencicipi kesadaran tanpa batas waktu.
.
.
.
Substansi. Adalah salah satu kotak yang tidak kusukai. Ujudnya adalah dua penggabungan dari uang dan waktu yang menjalin ikatan sesakral pernikahan. Terlalu ngeri membayangkan manusia-manusia di bumi bak peselancar yang menginjaki papannya dan berusaha menembusi dinding air. Mereka merasa hebah tanpa sadar tengah di jadikan mainan oleh dua oknum berwajah elok bernama ombak dan papan selancar. Mereka adalah korban dari waktu dan uang telah membelitkan diri seerat mungkin dalam pemikiran dan pemahaman.
.
.
.
Hasratku malam ini tercapai. Karena kembali pada masa seumur jagung yang mengenal pancaran sinar mentari adalah mainan itu sesuatu yang tidak mungkin. Maka aku dewasalah yang menyesuaikan diri, menjadikan gelap yang dulu menakutkan, dan menangkatnya sebagai teman. Hanya dalam gulita aku sanggup bercengkerama dengan alam, menghabiskan waktu bersama semburat oranye, bermain dengan indahnya misteri gulita.

Sabtu, 27 Februari 2016

Peretas Malang

Matanya kosong menatapi kumpulan anak-anak yang tengah bermain di pelataran rumah. Entah gumpalan apa yang tengah bersarang di dalam kepalanya. Yang pasti, hari ini aku melihat Sid dalam format yang berbeda. Rapuh dan sendiri. Nama lengkapnya Sidharta. Kakak yang juga merangkap peran sebagai Ayah bahkan semenjak sosok itu masih ada diantara kami semua. Ketidak beruntunganku mendapat kasih sayang yang tepat dari sosok ayah menjadikan Sid semacam karet penambal ban motor. Melegakan sekaligus melengkapi disaat yang vital. Umur kami terpaut 10 tahun lebih mungkin, aku hanya selalu ingat bulan lahirnya saja, yang secara kebetulan bebarengan dengan bulan kelahiranku. Bedanya aku perdana melihat dunia di ujung penutup bulan, sedangkan Sid terlahir di ujung pembuka bulan. Kami sama-sama berzodiak gemini, sekalipun aku tidak terlalu mempercayai tentang horoskop tetap saja kesamaan itu membantuku meyakinkan diri bahwa hanya Sid lah sosok yang tepat untuk memahamiku. Setidaknya, itulah yang kupercayai hingga hari ini.
.
.
.
Perawakannya kurus, rambut ikal menumpuk halus diatas kepalanya. Sedangkan wajahnya dibingkai dua bola kristal yang indah. Hidungnya mencuat tinggi berbeda dengan milikku yang timbul hanya seadanya. Dulu aku sering mempertanyakan perihal perbedaan mencolok itu kepada Ibu, tapi seringnya beliau hanya tersenyum sembari mengacak halus rambutku. Harus diakui Sid tampan, ketampanan yang terpancar dari sorot tajam matanya. Jika ada hal yang patut disyukuri hadir didunia ini, aku yakin Sid adalah dalam urutan pertama. Ia tampan, ketampanan yang tersembunyi dalam raut kusut dan badan tak terurusnya. Lebih dari itu, ia tampan karena selalu berhasil menjinakkan alarm bom yang melengking-lengking di dalamku.
.
.
.
.
Hari ini Sid berbeda, jarak dudukku darinya tak lebih dari radius tiga meter. Aku bisa memastikan bahwa matanya tengah menyimpan duka. Duka yang tak pernah ia bagi dengan siapapun juga termasuk aku dan Ibu. Setelah kepergian Ayah, Sid semakin hebat dan lihai dalam menyembunyikan diri. Dunianya seakan hanya miliknya saja. Semua lara dan duka termasuk aksesoris yang tak akan ia bagi bahkan denganku, adiknya. Dulu kami selalu berbagi semangkuk mie, sekalipun ia lelaki tapi harus diakui masakan buatannya sangat enak. Dulu kami berbagi kotak tempat dvd, waktu itu keping dvd masihlah yang paling canggih. Dan Sid memiliki banyak koleksi keping dvd dari film laga sampai film kartun-pesananku-.
.
Pernah waktu kecil aku berbagi duka dengan Sid, bercerita tentang cinta monyetku yang ternyata disambar teman yang juga tetanggaku. Aku sedih bukan main saat itu, tapi Sid dengan sabarnya memberitahuku untuk merelakan. Kita lihat saja suatu saat nanti karma pasti berlaku, itu yang selalu diucapkan Sid diakhir penghiburannya padaku. Sekalipun diumurku yang saat itu baru menginjak angka belasan, belum benar-benar paham apa makna dari kata karma, tapi pesan itu selalu terngiang dan terus ku ingat seperti juga pesan-pesannya yang lain.
.
.
Ini aneh, aku tumbuh besar dengan tingkat ego yang meledak-ledak juga mengerikan. Tapi Sid dan kata-katanya selalu bisa menjadi mantra penenang dan pemenang. Setiap bulir kalimat yang terucap dari mulutnya selalu bisa menjinakkan duri-duri didalam diri. Hanya Sid. Dan bahkan hubunganku dengan Ayah tidak semulus itu. Kami terlalu banyak diam. Menjadikanku anak yang tak pernah bisa keluar dari kepala jika tengah bersamanya.
.
Sid berbeda, ia memegang kunci penjinakku. Ia mengerti betul mantra yang pas untuk melunakkanku. Dulu aku selalu berkata, siapapun kelak yang mendapatkan gelar sebagai istri dari kakak tertampanku, pastilah ia perempuan yang sangat beruntung.
.
.
.
Dan seiring waktu berjalan, terkuak jugalah segala misteri yang terus bersembunyi di kantong saku ajaibnya. Perempuan itu memang beruntung, tapi Sid tidak. Itu menurut pandangan pasku yang selama bertahun-tahun tak pernah lepas mengagumi dan mengenali Sid. Entah kepergian Ayah atau momen yang lain, Sid berubah menjadi lebih penyendiri dan pemurung. Kata-kata yang dulu terdengar sangat menenangkan sekarang hanya keluar seperlunya saja. Senyum itu sama manisnya seperti Sid yang selama ini ku kenal, tapi mata itu memancarkan lain. Mengindikasikan bahwa perempuan beruntung itu tak cukup berhasil memboyong semesta Sid untuk mereka berdua. Sid masih tetap terkurung dalam dunianya, yang begitu misterius dan dewasa.
.
.
Hari ini aku ingin menghampirinya, menemaninya memandangi pelataran penuh anak yang tengah sibuk dengan mainannya. Gugus kami sama dan aku selalu percaya bahwa Sid adalah pawang untuk semua benang kusutku. Dan hari ini aku ingin meyakinkannya, jika tak lagi ada sosok lain di dunia ini yang paham dengan segala kemelut dan nalarnya, maka ia patut mencobaku sebagai obat pereda. Karena memang kita sama. Bedanya Sid dilahirkan dengan takdir menjadi si penjaga di pintu pembuka. Sedangkan aku dilahirkan dengan takdir menjadi si penjaga di pintu penutup. Entah apapun itu artinya nanti.

Rabu, 24 Februari 2016

Pesta Menjelang Fajar

Kuncup bunga membatu di telan dinginnya pagi. Serbuk salju berlomba-lomba menembusi jaringan kulit ari. Segala daya dikerahkan demi menjaga, agar butiran kristal tak jatuh tanpa makna.
.
.
.
Seonggok daging bergetar dibalik selimut tebal, merayakan hari jatuhnya butiran-butiran kristal. Tak peduli jika kokok ayam belum ramai menyapa, perayaan tetap perlu dilakukan demi menjaga kewarasan.
.
.
.
Aku adalah seorang perempuan. Dengan hati yang diciptakan lebih rapuh ketimbang sesamanya. Aku mengira diriku telah tumbuh sekuat baja, tak perlu kuceritakan sebesar apa ombak yang pernah kutaklukkan, karena itu tidak akan membantu menjelaskan seberapa kuatnya diriku. Namun ternyata, sejentik saja cipratan berhasil merobohkan dan mengoyak pernapasan. Aku sekarat, ditengah euforia tentang adanya kehadiran makhluk surga. Aku sekarat ditelan keserakahan yang menjelma bak bulu domba. Aku sekarat mengetahui bahwa hati telah ternodai oleh satu lagi janji.
.
.
.
.
.
Seseorang pernah berkata, "semahal apa harga kecewa jika di jual oleh hati yang terlanjur percaya..?"
.
.
Perempuan berbaju baja menangis dikala fajar, kristal-kristal yang mendiami pelupuk mata terlalu berat untuk dibopong terlalu lama. Segumpal daging dibalik selimut tebalnya pun sama, teronggok kaku dan membeku. Ditelan butiran-butiran salju kedukaan. Senja yang lalu telah menorehkan lara, tidak hanya sekedar melukai satu nama, tapi dua nyawa yang teremukkan seketika. Tanpa aba-aba, tanpa salam permisi sebelumnya.
.
.
Kuncup bunga berbahan daging mulai kehilangan sadarnya. Meronta dan memaki diri yang selalu hanya sanggup mengurung sepi. Tak lagi ada tempat menolehkan kepala, terlebih untuk dipinjami bahunya. Perempuan berbaju baja yang malang, kepercayaannya telah terjual dengan sukarela. Terbeli oleh kecewa yang menganga-nganga. Tak ada kata yang sanggup menggambarkan kengerian, ketika hancur telah berada tepat diujung mata.
.
.
Hawa dingin menusuki pergelangan tangan, menyuntikkan rasa cemas berlebihan. Tak peduli seberapa kuat perempuan berbaju baja, dingin tetaplah senjata mematikan yang hanya sanggup dihadirkan alam. Nafas tercekat satu-satu. Menanti ajal yang dibawa si pembawa berita kematian. Aku adalah jenis perempuan kuat di bawah standar. Yang tak memiliki makna, hanya kata. Untuk itulah selalu dipersilahkan bagi siapa-siapapun yang hendak menjajal kemampuan untuk mematahkan dan melenyapkan.
.
.
.
Kepada separuhku, kuharap engkau mendengar aku memanggilmu. Kepada separuhku, kuharap matamu terbuka, lihatlah seberapa mahal kecewa yang berhasil ditorehkan oleh mereka yang selama ini terus engkau jaga.
Aku hanya membutuhkan satu dan itu namamu. Karena ketidakserakahanku, maka mungkin tak apa jika aku meminta hadirmu datang dengan segala keutuhan, bukan yang terbagi apalagi terjalin separuhnya. Aku tahu tragedi senja yang lalu bukanlah murni kesalahanmu. Tapi darah yang mengaliri ragamu, aku membencinya. Tapi darah yang mengaliri diseparuh nyawamu, aku kecewa padanya. Entah akan datang sebagai apa nanti ketika kepulanganmu menjadi nyata. Entah akan kuperlakukan sebagai apa nanti ketika engkau telah datang di depan mata.
.
.
.
Seonggok daging bergetar dibalik selimut tebalnya. Merayakan hari jatuhnya para kristal berharga. Tak ada yang bertanya tentang seberapa mahal harga kecewa. Tak ada yang sempat melongok goresan lara di dalam dada, menanyakan apakah aku baik-baik saja.
.
.
.
Aku adalah seorang perempuan. Yang mempunyai hati lebih ringkih ketimbang sesamanya. Aku selalu mengira telah tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan mempesona. Tapi lubang-lubang yang menyekapku, lubang-lubang yang digali oleh mereka yang kubekali rasa percaya. Aku tak sanggup mengira-ngira selemah apa keberadaanku dimata mereka sehingga dengan rela dan nyatanya dipatahkanlah percaya itu untuk kemudian diriku dijebloskan dalam perangkap busuk bernama janji dan kepura-puraan.
.
.
.
Aku terlahir di dunia dengan bekal seadanya. Tak mengira jika...jika bekal yang hanya seadanya itu di curi rampas oleh makhluk-makhluk yang kupercaya. Aku tak sanggup menyebut mereka manusia. Aku selalu mengira sesosok monster tengah mendiami ragaku, nyatanya ia justru adalah sejenis penjaga. Yang menampakkan diri ketika tahu aku tengah dalam bahaya. Namun nyatanya, monster sebenarnya telah berganti kostum menjadi malaikat penjaga. Menyodori senyuman dan kehangatan, menyembunyikan tanduk dan ekor dibalik bajunya.
.
.
Aku selalu mengira telah tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Mengira hati ini telah terlindungi kostum baja. Tapi nyatanya..tak ada yang harus aku percayai lagi di dunia ini.
.
.
Kecewa itu begitu mahal, terlebih ketika dijual oleh perempuan yang hanya berilusi telah mengenakan kostum baja.
.
Tak ada lagi kata. Senja lalu telah mengubur segala makna dalam lubang kengerian yang selama ini terus kuhindari. Tak ada siapapun yang perlu kuserahi rasa percaya untuk menjaga hati, karena memang tak ada yang sanggup menjaganya selain aku dan monster kesayangan didalamku. Selamat fajar.

Selasa, 23 Februari 2016

Rumah Tanpa Ventilasi

Rumah. Penjelasan tentang kata satu itu seringnya membuatku linglung. Bukankah normalnya definisi rumah adalah sebuah bangunan, berpintu, berventilasi dan bermeja kursi ? Lain jika kaum pembahasa yang menjabarkan. Rumah bagi mereka adalah sesosok atau mungkin sebuah perkumpulan yang membuat nyaman. Dengan adanya kasih, cinta dan juga pembagian masa-masa sengsara. Sebuah kotak jika digaris besarkan.
.
.
Hari ini aku memasuki sebuah komunitas, salah satu dari si empunya menyodoriku formulir formil tentang identitas nyata. Dan yang sanggup aku berikan adalah data senyatanya. Memangnya di mana aku tinggal ? Menjadikan bumi sebagai jawaban sama anomalinya dengan bernafas ketika ada yang bertanya apa yang tengah aku lakukan. Dan aku tidak ingin meninggalkan kesan buruk pada hari pertamaku bergabung.
.
Dulu sekali, aku tidak tahu jika tempat ini kelak akan kunamai rumah. Karena jika aku tahu..mungkin peletakan batu pertama pembuatannya akan ku isi halaman perkenalan dengan kata-kata mempesona nan menghanyutkan. Sialnya yang justru terabadikan sebagai kalimat pembuka adalah kalimat-kalimat khas manusia setengah matang, yang kalau dibaca dalam keadaan setengah sadar pun akan langsung menimbulkan mual. Jika dulu aku tahu kalau kelak tempat ini akan kunaikkan jabat sebagai rumah, mungkin tepat di hari pembuatannya, akan kuadakan syukuran, pemotongan tumpeng dan mungkin tahlilan.
.
Rumah ini lahir dengan seada-adanya. Memang di landasi dengan adukan cinta, tapi pondasi cinta saja tidak akan cukup untuk memantapkan bangunan. Tahun pertama berdirinya, hanya di isi dengan tulisan masih khas isi kepala manusia setengah matang. Saat itu aku belum yakin benar untuk apa membuat sebuah bangunan, selain hanya untuk bergaya saja. Seiring berpindahnya hari, aku mulai merasa menemukan kehangatan, disaat aku terluka, masa-masa menggilai idola, saat dimana aku mulai jatuh cinta, lalu terluka dan tumbuh lagi. Tempat ini menampung segalanya. Tidak hanya merekam jejak antara dua umat saja. Tapi di setiap halaman menyimpan keresahan-keresahan yang sejujurnya tak lazim di pertontonkan di jalanan maya. Aku masih ingat, pernah menuliskan cerita tentang indahnya bercinta, mengagumi suami orang lain. Melukiskan tentang cicak telanjang di dalam kamar, atau tentang dedaunan yang mulai bersimphony ketika turun hujan. Aku menulis tentang apapun yang singgah di perjamuan retina. Dan selayaknya rumah, tempat inipun memiliki dapur, letaknya ada pada persimpangan jemari, hati dan juga gumpalan acak di dalam kepala. Dan alam adalah pasar yang menyediakan semuanya. Ketika bola mata ini berhasil membelanjakan fungsinya dan menemukan bahan, maka hati akan bergerak gesit memilah yang mana kiranya sajian alam yang patut di masak dan di hidangkan di meja makan. Alam begitu kaya, melalui udara aku sanggup menjadi pencerita, melalui celah diantara tanah mengering sanggup mengubahku menjadi pendongeng, melalui kabut yang hadir pada jam ayam berkokok saja sanggup memintalku menjadi pujangga beraroma dewa. Terlalu banyak bahan di sekitar, dan kematangan sajian tergantung pada si pengemban tugas selanjutnya. Gumpalan acak di dalam kepala, atau manusia normal biasa menyebutnya otak. Melalui gumpalan itulah nasib bahan-bahan tadi di olah sajikan. Tidak segampang itu tentu saja, karena ada si pengemban tugas lain yang belum terjabarkan. Yakni jari jemari. Aku selama ini percaya, menjadi penulis adalah tentang perpaduan kemampuan menyihir dan menyulap mantra. Ketika keduanya di gabung maka akan tercipta sebuah karya yang tidak hanya indah tapi juga mengenyangkan. Atau lebih sederhananya adalah, aku mengibaratkan ide menulis adalah sejenis makanan. Para jemari mungkin selalu siap menyomot makanan itu lalu menjejalkan ke dalam mulut. Tapi nyatanya, aku makan hanya jika, otak berhasil bernegoisasi dengan hati maka akan memerintahkan demikian. Karena aku lapar, berada dalam waktu yang memungkinkan maka aku makan. Sebuah karya yang mengenyangkan adalah hasil perpaduan banyak pengemban. Dan sialnya, dapur rumah ini hanya mengepul jika sang Maha koki datang menyapa. Tidak peduli waktu dan cuaca, tidak peduli jika tidak ada siapapun yang harus di suguhi makanan terbaiknya, karena nyatanya rumah ini terdedikasikan hanya untuk jiwaku. Aku dan judul-judul didalamnya adalah rekan karib yang saling memberi kenyamanan. Aku dan aksara-aksara di rumah ini adalah patner yang selalu siap menghabiskan dentang jam demi memburu sebuah kenikmatan. Tengok saja tahun-tahun awal halaman rumah ini, aku sendiri terkadang heran kenapa bisa menciptakan sebuah paragraf yang mengerikan. Benar-benar khas isi otak manusia setengah matang. Lalu siapa yang akan peduli ? Ini adalah rumahku. Yang memberikan kenyamanan juga menyajikan banyak kehangatan. Aku bukan penulis tenang saja, aku tidak memiliki kemampuan menyihir itu. Aku hanya sebuah nama yang empat tahun lalu tanpa sengaja membuat bangunan tanpa ventilasi dan pintu, lalu kemudian merasa nyaman dan mengangkat pangkat bangunan itu sebagai rumah.

Minggu, 21 Februari 2016

Kado di Penghujung Ramadhan

Jika suatu hari nanti seseorang bertanya dimana tempat yang memiliki kesan paling mendalam selama hidup, maka jawabanku adalah jembatan di ujung kota.
.
.
.
Sore ini adalah tepat empat hari terakhir di bulan ramadhan 2013. Aku dengan berwajahkan peluh khas orang baru pulang kerja. Mendarat di tempat yang engkau janjikan lebih awal, dan ketika aromamu mulai tertangkap indra penciuman aku tahu hari ini akan menjadi bersejarah dan tercatat dalam kenangan. Senyummu mengembang bak kue dengan takaran gula berlebihan, manis seperti biasanya. Desir kencang angin sungai menjelang petang tak bisa menyamarkan detakan keras salah satu organ tubuhku. Ini adalah untuk ketiga kalinya aku "berkencan buta" denganmu di tempat yang sama. Dan keseratus kalinya untukku menepi di sisi jembatan, melamunkan namamu dan tersenyum sendiri memahami adanya kebodohan. Mataku tidak bisa menyembunyikan apapun, termasuk ketika harus mengagumimu dan bersorak-sorai karena ajakanmu berbicara ringan di tepi jempatan. Dua "kencan buta" yang lalu adalah sebuah ketidaksengajaan, dan hari ini adalah istimewa. Senyum yang biasa kunikmati setelah mencuri dalam diam, pagi tadi menghampiriku, mengatakan bahwa ia perlu berbicara empat mata denganku. Tuhan, terimakasih cintaku telah tersampaikan hanya dengan tatapan.
.
Aku menjejakkan kaki kembali di badan jembatan ketika tanganmu menyodorkan untukku sebotol minuman dingin, saatnya mengakhiri rasa dahaga. Engkau diam, tidak seperti hari kemarin dan biasanya. Hening meresapi perpaduan sapuan sejuk angin sungai dan dinginnya air di tangan, hari ini bukan harimu berpuasa, sekalipun kau seharian tetap menahan diri untuk tidak makan di depan yang lain, tapi aku paham..matamu memberi tahuku bahwa engkau tengah menyembunyikan kebenaran.
"Apa yang terjadi.?" Itu adalah pertanyaan pertamaku sebelum puluhan tanya yang lain memberondong bak senapan yang meluapkan isi perutnya. Aku tahu, sesuatu tengah bergulat di otakmu. Sekali lagi matamu memberitahuku bahwa di dalam sana tengah terjadi bencana. Tuhan, "kencan buta"ku kali ini tidak akan baik-baik saja. Dan dari satu pertanyaan pertama yang terlontar dari mulutku, engkau berhasil memuntahkan segalanya. Menjelaskan kenapa petang ini aku harus sampai dirumah lebih malam, menjelaskan kenapa matamu harus meneteskan amunisinya, menjelaskan alasanmu selalu linglung menimbang takaran gula di dalam kukuman senyummu itu selama ini, mempertanyakan pula langkah yang harus kau ambil demi tetap bahagia. Dan aku dalam langkah kewalahan berusaha keras memegang erang tiang yang membujur di sepanjang badan jembatan, memastikan untuk tetap memijak daratan dan bukan membabi buta lari lalu menceburkan diri di sungai yang alirannya mulai tenang tersirep petang.
-
--
---
----
Getaran yang diakibatkan lalu-lalang kendaraan terasa semakin kencang..
-
--
---
----
Suaramu mengabur tergantikan oleh sealunan lembut musik pengiris hati yang datang entah dari penjuru mana, aku mengutuk kenapa tidak mengajakmu duduk santai dibawah jembatan agar jika sesuatu seperti ini terjadi suara alam akan sanggup menulikan hingga bisikan terdalam..
-
--
---
----
-----
Sekuat tanganku mencengkeram besi jembatan, sekuat itu pula aku menahan diri untuk tidak mengamuk dihadapanmu, lalu berkata bahwa tidak hanya mata, tapi hati dan sebagian darahku telah terracuni cinta dan siap untuk memahamimu..
.
.
.
Kencan pertamaku benaran membuat hatiku buta. Entah siapa disini yang tengah dalam posisi menghibur dan dihibur. Mataku dan matamu sama-sama sembab terlelehi air mata. Beruntung tak kuijinkan retina itu menangkap kesedihanku. Bibir bersenyum palsu ini berhasil menyembunyikan segalanya, hingga engkau tetap merasa nyaman memuntahkan semua isi hati. Ini adalah kali pertamaku melihat seorang keturunan Adam menangis, Lelaki cengeng!
.
.
.
"Aku mencintainya, lama sebelum kita berkenalan..",
"Haruskah aku memberanikan diri menemuinya.?",
"Kamu tahu apa warna kesukaannya.?",
.
.
.
"Ibuku menderita karena ayah..",
"Aku memikirkan adik-adik kecilku..",
"Bagaimana jika dia menerimaku dan kami menikah muda.?",
.
.
.
Semua pertanyaanmu bak lolongan serigala di pagi buta. Menembusi tak hanya kulit ari namun juga hingga sendi. Melebur bersama aliran darah bak setetes bahan peledak di sungai yang dangkal. Aku belum mempersiapkan diri untuk tenggelam, aku belum sesiap itu untuk berhenti menikmati sajian kue-kue kemanisan yang engkau hidangkan. Aku bahkan belum mempersiapkan diri untuk jatuh cinta. Kekaguman yang selama ini kubahasakan atas nama cinta pasti hanyalah sebatas obsesi saja. Karena nyatanya ketika kumasuki duniamu lebih dalam, belum siap bagiku dan kakiku terseok memahami misteri dari isi hati dan kepalamu. Matamu yang sebelumnya selalu kusangkakan menyampaikan rasa, ternyata tak lain adalah mata buta yang tak sanggup sekedar membaca.
.
.
Hari ini berakhir dengan begitu membekasnya. Dan jika suatu hari nanti seseorang bertanya dimana tempat paling berkesan selama hidup, jembatan di ujung kota adalah jawabannya.

Telepati Aksara

Surat yang tidak bisa dikatakan kecil ini adalah dedikasi penuhku untukmu yang tengah terlelap dalam damai. Bukan karena ini hari istimewa atau tanggal keramat, tapi karena beberapa waktu yang lalu sesuatu terus mengetuk tutup saji hatiku. Sesuatu berniat meloncat dan meledakkan diri disaat yang kuduga telah menyengat persendian. Aku ingin menyapamu lewat aksara dan bukan lewat doa, bukan karena aku tak lagi percaya pada kekuatannya, tapi karena aku paham..engkau akan terpuaskan dengan ketika aku mulai berbicara empat mata denganmu.
.
.
.
Dear engkau yang tengah menutup mata untuk jangka waktu selamanya. Apa kabar ? Indahkah rumah yang sekarang engkau tempati ? Ataukah tempat tinggal yang kau tinggalkan ini masih lebih bagus ketimbang milikmu yang sekarang ? Aku tahu, tak akan ada yang bisa mengalahkan kedamaian dari rumah barumu itu, sekalipun sesekali aku masih bisa merasakan kedatanganmu dimanapun sudut ruang, tapi ketentraman yang di sajikan di sana memang tak akan bisa tertandingi dimanapun sudut favoritmu.
Dear engkau yang sekarang tengah menikmati masa sebagai penonton abadi, selalu terkenyangkankah engkau di hunian barumu itu ? Dulu aku selalu bertanya-tanya sendiri, semenakjubkan apakah dunia yang tak akan pernah tersentuh dalam sadar itu ? Seindah apakah lingkungan yang kelak menjadi bangku terakhir segala umat ketika menjalani masa sebagai penonton bioskop akbar ? Dan pertanyaan yang tak pernah luput kuajukan padamu dulu adalah tak lain tentang makanan. Entah kenapa masa kecilku dipenuhi teror ingin tahu tentang isi dari tutup saji lain-lain rumah. Apakah setiap rumah akan menyajikan menu monoton di setiap harinya ? Atau justru berbeda judul setiap pagi, siang dan malamnya ? Aku selalu penasaran apa yang mereka sajikan untukmu dan yang disajikan oleh mereka-mereka lainnya.
.
.
.
Untuk kesekian ratus hari setelah kepergianmu, aku ingin benar-benar menyapamu secara pribadi. Tidak ada air yang akan jatuh dari retina hari ini, karena yang aku inginkan sungguh hanya menyapamu dengan kondisi dunia kita ini masih sama, dan lewat aksaralah keinginanku akan menjadi nyata. Melalui surat ini, engkau wajib tahu tentang keadaanku juga mereka yang menangis di hari kepergianmu. Maaf karena semenjak hari itu, hanya sekali aku datang ke rumah megahmu. Bukan karena tak sudi untuk menginjakkan kaki disana, tapi memang bola mataku tak pernah sesiap itu untuk membiasakan diri mengetahui bahwa engkau telah melebur bersama gundukan tanah. Ari menjagaku seperti yang pernah kau pesankan kepadanya. Sejauh ini aku masih belum menemukan tanda-tanda ia akan menyerah menghadapi sifat kekanakan yang terpenjara di dalam raga tuaku. Sejauh ini aku masih percaya diri bahwa Ari adalah nama yang tepat untuk dititipi putri kesayanganmu.
Engkau pun wajib tahu tentang satu ini, bahwa hingga hari dimana aku menata aksara ini, aku masih melihat duka yang memayungi redupnya, yang kau kasihi. Namamu selalu disebut oleh si kecil yang entah kapan akan terpahamkan bahwa engkau telah pergi menuju alam tak terjamah. Namamu selalu diharapkan pulang oleh si kecil yang seringnya mengundang lara pada goresan didalam hati yang hampir tertutupi. Engkau tak pernah terrindukan hingga kemudian kata ikhlas harus merajai semua tanya. Engkau tak pernah memenuhi bayang hingga kemudian bayang hitam dibalik ragamu pergi dan tak pernah kembali.
.
.
.
Aku tidak ingin menyertakan air mata di pertemuan kita kali ini, aku tahu engkau akan membaca surat ini. Membalasnya dengan menebarkan aroma damai disetiap sudut ruang. Tentangmu tak akan pernah semudah itu hilang. Tentangmu tak akan segampang itu terhapuskan. Tapi pemberitahuanku kali ini bahwa engkau harus menikmati jatah menontonmu dalam damai, dengan secara perlahan menghapus segala kekhawatiran untuk semua yang kau tinggalkan. Aku telah tumbuh dengan segala harap dan doa yang pernah kau panjatkan. Sebutir dua butir noda yang pernah kulakukan, anggap saja itu pantas untuk ditukar dengan kekecewaan yang sempat melandai hampir seluruh aku. Engkau paham benar seberapa marahnya aku ketika harus mendengar kata perpisahan darimu justru lewat deru tangis yang menyayat. Engkau paham benar seberapa sayangnya aku kepadamu sekalipun hal itu tak pernah tersampaikan secara gamblang. Aku telah tumbuh sekarang, Ari menjagaku dengan sangat tepat, bukan hanya aku tapi juga menjaga mereka yang engkau sayang. Keluarga kecil kita tak pernah bertambah jumlah karena kepergianmu terisi oleh yang datang. Tapi keberadaanmu tak akan pernah tergantikan. Hanya sekali saja aku memiliki dan itu adalah engkau. Aku tahu senyummu akan mengembang bahkan sebelum kumpulan aksara ini di terbitkan. Senyummu akan mengembang bersamaan kelegaanku yang tersampaikan. Duduklah dengan manis di bangku abadimu, jika engkau sempat bertemu dengan nama yang mendahuluimu lama, dengan nama yang dulu sangat memanjakanku sebagai cucu kesayangannya. Tolong sampaikan peluk ciumku untuknya. Selamat petang.

Selasa, 16 Februari 2016

Wasiat Kepagian

Jalanan di kebun tak pernah bertanya, layakkah ia menjadi setapak yang di lewati oleh kebanyakan manula tua dengan beban di pundak, entah itu memikul hasil kebun atau menggendong hasil jarahan alam. Yang setapak kecil itu tahu, ia akan melicin ketika musim penghujan tiba. Ia akan menjadi sangat mengancam dan memberi bahaya bagi siapapun empunya kaki yang tak berhati-hati menapaki, terburu pun terkadang bisa menjebloskan.
.
Pasir di pinggiran laut tak pernah bertanya, indahkah ia menjadi backgroud bagi siapapun pelancong yang datang dan tertawa bahagia terciprat debur air asinnya. Pantai tak pernah bertanya, bersihkah ia untuk di jadikan alas duduk bagi berapapun bongkah manusia yang tengah mencoba mengguyur isi otak dengan segarnya angin laut. Yang ia tahu, kombinasi antara sinar matahari dan semilirnya udara menjadikan alasan tepat untuk menahan banyak nyawa dan menggelapkan kulit raga mereka.
.
.
Alam tak pernah sekritis itu untuk mempertanyakan kelayakannya ketika di manfatkan manusia.
Seperti alam, aku juga selalu manut pada apa yang telah di gariskan. Aku hanya berfikir aku memiliki tugas untuk menjadi sadar akankah langkahku membahayakan bagi sekitar, atau justru tatapanku menyehatkan bagi siapapun yang sempat bertabrakan pandang.
.

Dan hari ini, aku ingin menjadi sesuatu yang lain. Aku ingin mencoba mengkhawatirkan dan bukannya sekedar menjadi sadar. Jika nama Einsten terkenang menjadi si ahli rupa-rupa angka, akan dikenang sebagai apakah aku ketika nanti ternyata harus tiada ? Jika selama ini Ari selalu berkata bahwa dirinya bahagia, akan terus baik-baik sajakah ia ketika ternyata nanti aku harus membumi mendahului nalar dan sadarnya ? Di hariku yang ingin mencoba menjadi sesuatu yang lain, aku memikirkan banyak tentang perpisahan. Marahkah Alfa karena keindahan dunia yang sempat kuceritakan padanya batal untuk kuperlihatkan ? Marahkah pengandungku sebelumnya, jika ternyata aku tak sempat menimbunkan tanah di atas kerangka kosongnya dikarenakan aku telah dulu dan telah lama menjadi penghuni alam tiada ? Selayak itukah aku menerima banyak cinta selama ini ketika pada akhirny kata jika itu menjadi nyata ? Aku memikirkan tentang banyak perpisahan, dan semakin aku di serap putaran pikirnya, semakin besar pula keinginanku untuk memeluk kata selamanya. Mendekapnya erat dengan harap ia akan merasuk dan menyatu dalam raga yang terus melapuk seiring perpindahan jarum jam.
Jika saat itu datang, di mana aku benar-benar melambaikan kata perpisahan, aku hanya berharap Ari akan menemukan jalan menuju rumah yang selama ini terus ku sembunyikan. Rumah yang menjadi saksi aku tumbuh sebesar dan sekuat hari ini. Aku berharap Ari berhasil menemukan setapak ini, yang disetiap judul dan paragrafnya tersimpan banyak luka, duka, dan senyuman yang tak pernah kuperlihatkan padanya sebelumnya. Aku harap Ari sanggup menyeberangi betapapun berlikunya jalan menuju kejujuran yang ku sembunyikan. Rumah ini menumbuhkan nalarku dengan tepat, tak pernah aku menemukan kenyamanan seperti yang pernah dihadirkannya sekian tahun terakhir ini. Di rumah ini segala nada sumbang dan ketidaksempurnaan dari sebuah melodi hidup tersimpan. Kebanyakan dari mereka menjelma menjadi rangkaian kata-kata yang selamanya hanya akan menjadi tanda tanya. Kebanyakan dari mereka terlumuri irisan hati yang tak pernah terhidangkan bagi siapapun tamu. Tidak pula tersajikan kepada Ari yang notabene adalah penghuni nyawa ini. Dan Ari dengan mahfumnya memahami kenapa selalu lapar dengan berbagai pertanyaan. Ia selalu berkata jika aku tak pernah mau berbagi duka dengannya, tanpa tahu jika duka itu akan menjadi luka penyayat hatinya jika sampai tersampaikan padanya. Apapun bahasa yang menjadi jembatan, tetap saja pedang adalah pedang yang memiliki tajam di sepanjang jilatannya. Aku selalu mengira Ari akan terpahamkan hanya dengan menelan air mata, tapi air tak memiliki suku kata dan juga koma. Ari terlalu bodoh untuk pelajaran menangkap dan meraba. Tapi aku mengagumi ketahanannya mencerna segala tanya dalam keadaan lapar. Aku mengagumi ketahanannya menahan lapar.
.
Hari ini, saat dimana aku merasa telah berubah menjadi sesuatu yang lain, menjadi sesuatu yang lebih kritis dan bukan hanya sekedar sadar, dan ternyata aku salah. Aku masihlah si nama yang manut pada garis dan alam. Aku masihlah si nama yang tak pernah bisa mengkhawatirkan. Tentang sebuah judul bernama perpisahan yang sempat ku pertanyakan diawal paragraf, ia telah kehilangan daya dan kekuatannya untuk mencekam. Seperti alam yang tersadar bahwa dirinya akan melicin dimusim penghujan, seperti itulah aku menerima bahwa tak perlu ada yang dicemaskan tentang sebuah perpisahan. Melalui rumah ini, semoga Ari dan pengandungku sebelumnya tersadar. Bahwa jika nanti aku harus membumi, aku pergi dengan segala kerelaan. Dengan segala kesadaran dan bukan ketakutan. Sekalipun tetap, aku menyimpan satu bekal yang tak pernah kulahap hingga kemudian membasi dan lenyap dengan sendirinya, yakni sebuah kata selamanya.