Jumat, 15 April 2016

Ini Tentang Kita

Aku tidak pernah menjadi apa-apa dan siapa-siapa.
.
.

Mereka menempati setiap keping waktu dengan begitu pasnya. Aku, denganku putaran jam hanya berlalu lantas menjadi abu. Tanpa menyisakan sedikitpun bara. Sementara mereka mengekal, telah mengekal. Mendiami begitu banyak tempat yang akan terus membayang. Cakrawalaku tak seindah ketika belum kupunguti onggok-onggok mayat di rumahmu itu. Harusnya kau bakar saja mereka, harusnya kau tidak terburu-buru amnesia, harusnya kau mengingat dimana saja celah ruang yang pernah kau jadikan arena untuk bercinta. Agar kekekalan itu tidak ada. Agar ketika aku berkunjung ke rumahmu tak lagi kutemui remah-remah pecahan kaca. Andai kau tau, amnesiamu membuatku terluka. Engkau sungguh tak sepintar itu untuk membangun sebuah samsara. Sementara aku, aku tidak pernah seberuntung itu untuk mendapatkan sekedar sebuah pengakuan, karena sesungguhnya aku tidak pernah menjadi apa-apa dan siapa-siapa.
.
Aku adalah sebatang pohon di pekarangan. Tumbuh rimbun, kenyang terpaan sinar. Namun bunga mawarmu membuatku tak bisa bernafas bebas, yang bisa terus kulakukan adalah menjulang dan terus menjulang. Menghilang dari pandangan hingga engkau tak sadar bahwa aku ada menaungimu dari terik dan hujan. Aku tak seberuntung itu untuk bisa terlahir tumbuh secantik mawar yang pernah engkau banggakan. Aku tidak seberuntung itu untuk sekedar mendapat pengakuan.
.
.
.
Aku terlahir sebagai awan. Menggantung manis di tengah jalan menuju tangga kekekalan. Aku menikmati damai dan empuknya hunian. Tapi lagi-lagi, sesuatu menghambat pernafasan. Peri kecilmu yang bersembunyi malu di ujung pintu langit meledekku. Menyadarkan bahwa aku bukan apa-apa dan siapa-siapa. Lagi-lagi aku tak seberuntung itu untuk bisa tercipta sebagai peri kecil nan menggemaskan. Aku tidak seberuntung itu untuk sekedar mendapat pengakuan.

.
.
Aku menerima jika mawar tercintamu telah layu setelah dengan sengaja menikammu dengan duri-duri tajamnya. Aku pun menerima ketika peri kecilmu telah menemukan tempat yang lebih pas ketimbang cekungan ruang dari hatimu. Aku menerima ketika mereka berdua telah mati. Yang tidak bisa aku terima adalah ketika nyatanya. Cakrawala aksara ini, ruang teragung bagiku ketika tak ada lagi nyawa yang mau menerima, justru harus pula kutemui mayat-mayat berserakan. Ditempat dimana selalu kutemukan kesempurnaan dan kedamaian ini, nyatanya harus pula kutemui pecahan kaca menyambuti di pintu masuknya. Aku terluka sekali lagi untuk pengakuan yang tak kunjung ku sandang.
Harus menjadi apakah aku, agar bisa menyaingi cantiknya mawar dan juga melampaui indahnya peri kecil milikmu ? Sementara denganku, waktu hanya berlalu lantas menjadi abu. Disaat mayat mereka mengekal dalam kolong-kolong rumah aksaramu, nyatanya tak seinchipun ruang tersisa untuk sekedar mengakui kehadiran. Aku tidak pernah menjadi apa-apa dan siapa-siapa. Kenapa aku tak kunjung mendapati pengakuan seperti mereka ? Engkau selalu benar, tak seharusnya aku menjadikan bayangan sebagai lawan. Tak seharusnya ku angkat sampah dari permukaan. Tapi ketika kutemui lagi sisa-sisa pergumulanmu yang sekalipun telah lalu itu, masih kurasakan luka dan lara. Sadar bahwa aku tetaplah bukan apa-apa dan siapa-siapa.

Sabtu, 05 Maret 2016

Suku Cadang Tersembunyi

Aku tidak mengerti apa itu arti kata dari samsara. Atau ketidakseimbangan yang biasa disebut chaos. Aku tidak benar-benar memahami arti kata mereka, yang aku paham, mereka indah ketika harus bergandengan dengan aksara-aksara lainnya.
.
Hari ini seorang teman datang membukakan mata, ia adalah termasuk jenis manusia yang disirikkan banyak lainnya. Ia memiliki kelengkapan nilai materialistik yang sempurna, kakinya jarang menyentuh tanah dikarenakan banyaknya lapisan semen yang mendasari kesehariannya. Aku adalah salah satu yang dulu pernah mengangankan betapa indahnya jika aku bisa menggantikan posisi mewahnya. Sebelum akhirnya suatu hari aku sadar, kekayaan ada karena datangnya rasa cukup. Aku yang dulu selalu mengeluh sakit kaki karena perjalanan panjang yang harus di tempuh hanya untuk sekedar urusan mandi, justru mulai menikmati bahkan mencintai urusan satu itu. Aku bisa lebih lama bercengkerama dengan alam, karenanya bisa pula lebih lama berakrab-akrab ria dengan tanah. Yang notabene adalah leluhurku.
.
Aku kaya karena merasa cukup dengan apa yang aku miliki. Misi dan visi hidupku yang tidak pernah muluk-muluklah yang menciptakan kekayaan itu. Aku selalu merasa bahwa aku hanya akan hidup hari ini. Esok adalah teka-teki, misteri yang terlalu indah untuk dirusak dengan adanya rencana. Kata orang Jawa bilang aku ini manusia kelewat 'ndableg'.
.
Untuk semua segi aku menerapkan pandangan itu, maka maklum saja jika yang kukenakan konstan kaos bersablon yang lama-lama memolos dengan sendirinya plus ventilasi di ujung sana-sini. Bukan karena ketidak mampuanku membeli, tapi kenyamananlah yang berat untuk ditinggalkan. Maka maklum saja jika suatu hari salah satu dari kalian menemukanku melenggang santai di jalan raya dengan sendal beda warna bahkan beda ukuran. Hidupku tidak mengusung konsep gengsi atau kesempurnaan. Kenyamanan adalah yang utama, sekalipun nyaman tetaplah memiliki elastisitas lalu apa salahnya berjalan dengan jepit beda warna ?
.
Sekali lagi aku merasa kaya. Bukan karena tidak ada kerikil-kerikil nakal yang menghalangi jalananku. Tapi karena mungkin aku sudah lolos dari lubang satu itu, dengan entah cara apa yang aku sendiri sudah lupa, dengan metode apa pula aku bisa melangkah hingga sejauh hari ini.
.
Aku merasa cukup dengan memasrahkan masalah perut pada apapun yang di racik dan di masak Ibu, sesekali request pastilah wajar. Aku merasa cukup dengan memasrahkan segala angan tercantel manis di awan. Bukannya tidak memiliki keinginan lebih untuk meraih apa yang diingini. Tapi aku merasa sudah cukup memiliki masa untuk bermimpi, aku hari ini ingin hidup sehidup-hidupnya. Menikmati kegiatan bernapas yang bagi sebagian lain adalah remah semata, menikmati kegiatan melihat juga merasa lebih intens ketimbang sebelumnya. Aku merasa cukup dengan memasrahkan urusan hari esok pada satu nama. Ari. Nama yang seringnya memboyong realita pada pondok abu-abu saja. Sama seperti halnya aku pasrah pada apa yang akan di jejalkan Ibu untuk masalah perutku, seperti itu jugalah aku selalu manut pada apa yang akan disajikan Ari untuk masa mendatang. Aku yang terlalu goblog atau terlalu tidak punyai semangat hidup ? Sampai-sampai masa depanpun dititipkan pada seseorang. Pasti karena seseorang itu bukanlah nama dengan sembarang pangkat. Ari adalah sebagianku. Ia berhak atas sepenuhnya aku, lalu jika aku ingin memasrahkan tidak hanya diri tapi juga harapan apa itu salah ? Ayahku sudah lama pulang ke rumah abadinya. Dan satu keresahan yang terus menghantui hingga hari ini adalah karena pernah merindukannya selagi Ayah masih ada di depan mata. Tak terkira betapa lebar lubang yang menganga akibat kehilangannya. Aku harusnya masih menuntut hakku untuk sekedar sesuap makan. Tapi Ayah justru pergi membisu tanpa seucap kata. Kepergiannya otomatis memindah penuhkan pikulan yang dulu masih setengah-setengah kubawa. Tanggung jawab itu ada di pundakku bahkan sejujurnya sudah jauh lama ada disana. Kematian Ayah adalah peresmian perpindahan dari pundak ke pundak itu.
.
Menemukan Ari seperti oase tersendiri bagiku. Mungkin ia bisa kuajak berbagi beban yang ku pikul selama ini. Dan masa kehamilan adalah kompensasi yang pas untuk ditukar dengan masa rehat totalku dari dunia uang. Sekali lagi aku memasrahkan masa mendatangku padanya. Ari adalah sebagianku. Sekalipun tetap saja terkadang ia bertanggung jawab akan rasa nyeri yang melanda hati. Bagaimana tidak, kedekatan dengan keluarga besarnya terkadang menyisakan cemburu tak beralasan bagiku. Dalam alam raya seluas ini aku hanya memiliki satu yaitu Ari dan masih pula harus bisa berbesar hati untuk berbagi Ari dengan mereka yang memiliki dua, tiga bahkan lengkap ? Untuk alasan satu yang kurasa cukup itukah aku dilarang marah ? Ari memang tak selalunya memahami. Ia tak pernah paham telah sepenuh apa kuserahinya pikulan tak hanya perkara sandang dan pangan tapi juga masa depan. Sepenuh aku menyerahkan diri dan harapan. Karena bagiku Ari adalah mutlak milikku. Meski ia tak paham dan tak sadar.

Jumat, 04 Maret 2016

Elemen Penyirep

Hal yang paling aku ingat tentang pantai adalah ketenangannya. Aku selalu menyukai air, bukan sekedar air yang tertampung dalam ember-ember di belakang rumah, tapi air yang bernyawa, hidup dan mengalir. Tak terhitung seberapa sering aku menyatroni jembatan hanya untuk menikmati air yang berlarian di bawag sana, tak terhitung pula berapa kali aku mengikrarkan cita-cita bahwa suatu saat aku akan memiliki hunian di pingir pantai, tak lain jelas agar aku bisa dengan puas memandangi air laut tanpa batasan waktu. Aku sebegitu tergila-gilanya terhadap objek air, hingga pernah suatu ketika salah satu teman iseng berkata bahwa aku telah terkena sirep si penjaga sungai. Kurang ajar.
.
Bagiku elemen air adalah yang paling menawan diantara beberapa lainnya. Ia dengan segala tenang dan keganasannya mempesona hingga batas kalap. Aku selalu mengira elemen satu itu adalah sosok dewa tampan yang menjelma dalam ujud persembahan alam.
.
Tak terhitung sudah berapa banyak waktu yang ku habiskan untuk berlama-lama menatapi mesranya air laut yang bergelung dengan pasir pantai. Tanpa lelah, tanpa mengenal rasa terpuaskan.
Melalui laju gulungan ombaknya, aku merasa seperti diriku bukanlah si raga yang tengah berdiri menikmati hening yang di semburkan angin pantai. Aku lebih luas dari sekedar bongkahan daging bertangan dan berkaki belang. Ombak yang menghantam persendian seperti membangunkan sadar, apapun yang tengah mengganggu pikiran, apapun yang tengah menghinggapi kepala tak lain hanyalah remah-remah tak terbaca. Aku lebih luas dari apa yang bisa kurasa. Aku adalah semesta ini.
.
Mungkin benar kata salah satu temanku, penjaga sungai telah meniupkan mantra padaku. Terbukti tak hanya kepada aliran tenang sungai, kepada ganasnya ombak di laut pun telah membuatku linglung dan kasmaran. Aku jatuh cinta pada elemen yang hakikatnya akan melebur hilangkan diriku. Tanah.
Aku dengan sadar merelakan di dekap dalam aliran sihirnya.
.
.
.
Bagi sebagian orang, berdiam diri di atas jembatan atau justru tergolek pasrah di bangku pinggir pantai adalah hal yang menyia-nyiakan. Tapi untukku memiliki makna berbeda. Memandangi debur ombaknya selalu bisa memancing penghuni terdalamku untuk memuntahkan segala penyebab tersumbatnya aliran nutrisi otak. Tanpa tedeng aling-aling, tanpa basa-basi juga. Kepadanya dan hanya kepadanyalah aku sanggup keluar dari kepalaku yang pengap. Membagi apapun yang mungkin menurutnya pasti hanya sekedar remah-remah tak berguna. Hanya kepadanya pula aku sanggup mengoceh dari cerita manis hingga mendongeng yang sanggup membuat pipi beranak pinak.
.
Tak ada yang bisa memahami bagaimana air telah dengan sangat sempurnanya memahami apa yang tak sanggup terpahamkan oleh sesama. Sedalam itulah hubunganku dengan elemen bercorak biru muda.
.
.
.
Dan hari ini adalah tepat menjadi hari terlamaku tak menginjakkan kaki di tepian pantai, aku telah dengan sangat lama tak mengunjungi obat penenangku. Bukan karena terdesak waktu, tapi memang belum ada keresahan yang menguliti hingga habis sabar. Seseorang telah datang menggantikan keberhargaan air pantai. Meskipun sosoknya tidak sesempurna itu menempati ruang pasnya, tapi setidaknya ia hadir dan menuntaskan keresarahan dalam ujud pelepasan yang berbeda. Ari menggantikan perjalanan melelahkanku mengunjungi pantai dengan satu saja dekapan. Ari menggantikan penat yang menggantung di ufuk barat dengan banyak senyuman. Ia tidak setepat itu tentu saja dalam melengserkan kecintaanku pada air. Sihir yang ditiupkan Ari masih kalah adu dari mantra yang di rapal penjaga sungai. Alam tetaplah sang juara. Tak peduli jika kucuran dana berhenti mengairi kantong-kantong lapar, tak peduli jika hangat dekapan harus perlahan luntur tergantikan dingin yang mencekam. Alam tetaplah sang juara yang tak terkalahkan.
.
Mungkin karena aku adalah tanah. Elemen pangkal yang selalu manut pada ketukan. Sehingga ketika kepolosan air menyirami hingga lubang pori, terjatuhlah aku pada suatu pengakuan. Seakan didunia ini, hanya airlah satu-satunya elemen yang pas denganku. Seakan didunia ini, akulah satu-satunya elemen yang akan berhasil menuntunnya pada tahap keabadian. Karena pada dasarnya tanah adalah sebuah unsur, yang sanggup menyimpan namun juga meluluh lantahkan. Dan air adalah kepingan pas yang selalu berhasil membuaku luluh dan luruh tanpa harus terhanyut.
.
Oh alam, kandunganmu terasa begitu mengagumkan. Dan baris tema kali ini seperti membangunkan lagi keinginan terpendam yang kian dalam masa tanamnya, yakni sebuah cita-cita muda untuk memiliki hunian di pingir pantai. Jelas agar kelak jika aku memerlukan pengaduan, hanya dengan membuka daun jendela maka ia ada. Berlarian sepanjang nafas menari tanpa mengenal kata lelah. Karena memang aku menyukai air, bukan pada air yang tertampung di ember-ember belakang rumah. Tapi pada air yang mengalir, bernyawa dan hidup. Semoga ungkapan cintaku tersampaikan meski ini adalah rentang terlama aku tak berkunjung di jembatan ataupun di pinggiran pantai nan jauh disana.

Lepaskan Saja Kawan

Bertahun-tahun menjadi orang yang kau sandangi pangkat kawan membuatku paham, bola birumu tak pernah sesukses itu memendarkan kesedihan. Lingkaran bening disana selalu bisa membuatku berkaca, melihat lagi jalan sesat yang mungkin hendak ku tapaki. Lewat matamu engkau berbicara, menjagaku dengan pergerakan lincah bola biru di tengahnya. Dan hari itu merubah segalanya. Aku melihat duka, kejernihan yang selayaknya kaca tengah terkopyok lara. Aku sanggup melihat duka dimatamu. Tergambar jernih, sejelas aku membaca not patah yang jatuh menumpangi air asin dari pelupukmu. Sahabatku tengah terseok memunguti kekuatan, untuk menerima lalu tertatih belajar mengikhlaskan.
.
Bertahun-tahun menjadi nama terdekat yang tidak hanya paham wangi tapi juga aroma borokmu, membuatku sedikit mengerti tentang duka yang tengah mengeroyokmu. Engkau adalah pemilik rasa termurni yang pernah aku tahu, namanya tak pernah alpa hadir dalam doamu sebelum mimpi menyapa, bahkan nama itu telah menyatu padu bersama detak jantung dan setiap perjalanan darahmu. Aku seperti tidak pernah melihat orang sejatuh dirimu, ledakan perdanamu tak segemerlap apa yang di angankan, kembang apimu tak memental jauh ke langit melainkan tersulut dengan kecepatan diatas ambang batas hingga tanpa sadar api itu justru membakarmu, melukaimu.
.
Aku memahami kedalaman yang sempat menelanmu sekonyong-konyong. Senyuman mata itu memang terlalu mematikan untuk sekedar dianggap angin lewat, engkau terpeleset tepat di lingkaran hitam retinanya, senyumnya mendorongmu untuk tersuruk jatuh dalam dan lebih dalam lagi. Si astronot amatir dalam penerbangannya yang gagal sebelum sempat lepas landas. Bulan itu tak tercapai, langkahmu tertahan di bumi namun kini pijakannya ratusan kali lebih membebani ketimbang sebelumnya. Sahabatku adalah astronot malang yang kini merangkul pijakan besar
.
.
.
Sudah lepaskan saja kawan, relakan ia untuk menjadi milik dari nama yang masuk dalam jajaran kesayanganmu. Relakan saja ia bertualang, hingga suatu saat sadar bahwa engkaulah daratan yang tercipta paling pas untuk pendaratannya. Tak perlu mengulum sesal, karena memang tak ada cinta yang hadir tanpa meninggalkan buah tangan. Tak perlu menggenggam dendam, ia yang sekarang mendapatkan buruanmu adalah murni sebuah keberuntungan, jangan membenci faktor beruntung dari siapapun, karena bola itu suatu saat tiba tepat di pangkuanmu. Pada saatmu.
.
Lepaskan saja kawan, lepaskan dan lepaskan. Jika engkau tahu aku bahkan masih bisa ikut merasakan nyerimu itu. Tak ada yang akan sebanding dari sebuah keikhlasan. Karena konon itulah level pembelajaran tertinggi umat manusia. Lepaskan saja kawan, lepaskan. Ia yang engkau relakan adalah tebing tertinggimu, tebing yang belum tentu sanggup di daki oleh dirinya yang beruntung itu. Engkau telah berada dalam puncak berbeda dari siapapun mereka, dan karena ketangguhanmu itu patut kuhadiahi sujud takjub padamu. Lepaskan saja kawan, biarkan langkahmu melenggang ringan menapaki ketinggian.
.
Karena aku tak sanggup lagi melihat duka itu bersarang di matamu. Mengetahuinya seperti akan sanggup meremuk redamkan hingga persendian. Sungguh tak pernah kutemui satupun makhluk yang sejatuh dirimu. Aku tahu engkau mulai bosan bernafas di bawah bayang-bayang. Cinta itu masih bersarang dan bersemayam dengan nyamannya disana, aku masih bisa melihat rindu menetes di setiap ujung bibirmu ketika ia mulai melemparkan sapa. Bahkan kekaguman itu masih menempati ruang pas dengan sangat manisnya. Lepaskan saja kawan, nama itu telah termiliki oleh seseorang. Lepaskan saja kawan, ia hadir di hidupmu tertakdir bukan untuk menjadi penghuni hatimu, tapi ia adalah tamu sayang, dan sungguh tak sopan menahan seorang tamu yang masuk hanya sekedar menandaskan dahaga lalu di paksa untuk tetap tinggal. Biarkan tsunami yang engkau sembunyikan itu berlalu, karena nama itu telah damai menjalani hidup dengan seseorang yang lain. Relakan, relakan dan relakan. Biarkan hantu yang mendiami sudut hatimu pergi, bersamaan membawa cinta yang belum tersampaikan itu. Biarkan hantu yang bercokol di tiang penyanggamu itu terbang, terbawa angin lalu tertelan awan. Sungguh kawan, tak ada jalan yang lebih mulia ketimbang belajar merelakan. Tak ada jalan yang lebih menggembirakan timbang rasa yang terikhlaskan. Jangan malu, jangan menangis, jangan bersedih kawan. Cinta pertamamu mengajarkan tentang pelajaran paling mahal. Bagaimana mungkin engkau harus berduka menerimanya ? Cinta pertama menghadiahimu ciuman terdalam. Melumat segala nafas hingga tanpa sadar engkau tercekik dan menangis terbuai nikmat yang disajikannya. Tak apa kawan, relakan dan relakan. Biarkan ia bahagia bersama layang-layang miliknya. Bukankah engkau pernah berkata jika bahagianya adalah bagian dan milikmu juga ? Lepaskan duka itu dari bola birumu. Tak tahan lagi aku melihatmu tersiksa. Tercekik cinta yang enggan lepas dari dekapan. Terlumat lara yang enggan turun dari gendongan.
.
.
.
Lepaskan saja ia kawan, lepaskan.

Minggu, 28 Februari 2016

Mengurai Isi Kotak Bekal

Semburat oranye membingkai langit dengan begitu cantiknya. Aroma petang menjemput siapapun untuk kembali ke peraduan malam. Meninggalkan siang beserta segala isi kotak bekalnya dan meninggalkan mereka di laci nakas. Siap atau tidak, mau ataupun tidak. Ketika dulu masih berumur jagung, aku sangat menyukai benderang siang. Malam dalam segi pikirku adalah sebuah kotak hitam yang akan menelas siapapun dalam ruang pekatnya. Aku takut tenggelam, aku takut terlelap dan pagi terlambat menjemputku untuk menikmati poros roda mentarinya. Aku terlalu takut Tuhan akan lupa membangunkan aku, dan justru membiarkan aku damai dalam lelap ketimbang harus bergumul dalam mainan maha besar bernama siang. Saat itu yang ada di dalam kepalaku bahwa masa emas sang matahari terbit adalah sebuah kesenangan, permainan dan hanya tentang bermain.
Sedikit beranjaknya umur, aku mulai bisa menerima kehadiran malam. Gulita ternyata tidak semenakutkan yang terkira sekalipun tetap saja tak akan sudi kubiarkan diri ditelan pekat tanpa seujung sinarpun menemani. Alhasil, bohlam di dalam kamar menjadi serenyah kripik kentang, cepat habis. Mati.
.
Dan seperti juga malam yang dengan pasti akan melengser keberadaan siang, aku dewasapun harus mengakui sebuah keanehan. Siang yang dulu teramat menyenangkan sekarang berubah ujud menjadi format yang mengerikan. Jika dulu sanggup ku sulap apapun menjadi mainan selama mereka masih berada dalam dekapan sinar mentari, maka sekarang semuanya menjadi berkebalikan. Dalam satu masa aku justru merasakan sebuah ketakutan yang ganjil, aku takut disapa pagi, aku takut mendengar kokok ayam mengudara, aku takut ketika siang mulai menjelang. Karena dalam kotak yang kesemuanya tak bisa di hadapi dengan kepolosan, aku menemukan format dunia menjadi mengerikan. Siang tak lagi memberikan kesempatan untukku bermain, dan justru dalam siraman siang akulah yang mereka jadikan permainan. Mereka ? Siapa mereka ? Uang. Waktu. Substansi. Aku dewasa lebih memilih di sekap pekat ketimbang harus dilumat ketiganya. Uang, apa yang bisa di lakukan manusia tanpa uang ? Itu pertanyaan yang sangat aku benci. Bumi masih tetap bulat, rerumputan tetap saja hijau menyegarkan, capung tetap menari mengitari bebungaan dan sungai. Lalu kenapa uang menjadikan dirinya sepenting udara ? Seakan jika mereka absen ada maka para manusia akan berhenti bernafas, lalu mati. Ironisnya manusia-manusia di bumi ini rela saja di jadikan tunggangan oleh mereka yang menumpuk lebih banyak uang. Dengan dalil kebutuhan dan jawaban lainnya yang akan membuat mereka terlihat semakin terlihat manusiawi (re;serakah). Aku dewasa menemukan banyak kejanggalan, terutama tentang kenyataan bahwa manusia sekarang ternyata telah menjelma sebagai kuda balapan. Jika manusia yang di ibaratkan sebagai penontonnya masih mending, tapi uang..dialah yang justru nyatanya duduk manis di kursi penonton menikmati si kuda atau manusia dalam artian aslinya, saling lari, berlomba, mencekal satu sama lain, memburu dan tak pernah terpuaskan. Dan sialnya aku masihlah salah satu dari mereka yang berkebutuhan, menjadi kuda dan tengah berjuang lari dari arena lalu keluar menjadi kuda liar.
.
.
.
Waktu. Manusia selalu merasa jika waktu hidup mereka berkuota. Entah setahun, sepuluh atau esok sekalipun mereka sadar akan menjadi sebuah nama. Tiada.
Manusia hanya sadar bahwa waktu mereka berkuota, lalu dengan kecanggihan otaknya mereka akan berlomba berfikir, titel apa yang harus mereka raih sebelum menyandang gelar almarhum, bangku apa yang harus mereka duduki sebelum kuota mereka sekarat, lalu dengan kecanggihan otaknya pula akan tercipta sebuah stigma. Gelar adalah segalanya. Mereka sekali lagi lupa, bahwa jejak adalah yang terpenting ketika kita menjadi tiada, semakin kita sadar bahwa waktu tidak setergesa-gesa itu kendatipun esok tetaplah misteri, maka semakin nikmatlah dunia ini. Mereka yang sadar akan mati 50 tahun lagi tidak akan bisa merasakan megahnya perhelatan menyambut mekarnya kuncup daun bambu di pagi hari. Yang mengaliri embun abadi, mencicipi kesadaran tanpa batas waktu.
.
.
.
Substansi. Adalah salah satu kotak yang tidak kusukai. Ujudnya adalah dua penggabungan dari uang dan waktu yang menjalin ikatan sesakral pernikahan. Terlalu ngeri membayangkan manusia-manusia di bumi bak peselancar yang menginjaki papannya dan berusaha menembusi dinding air. Mereka merasa hebah tanpa sadar tengah di jadikan mainan oleh dua oknum berwajah elok bernama ombak dan papan selancar. Mereka adalah korban dari waktu dan uang telah membelitkan diri seerat mungkin dalam pemikiran dan pemahaman.
.
.
.
Hasratku malam ini tercapai. Karena kembali pada masa seumur jagung yang mengenal pancaran sinar mentari adalah mainan itu sesuatu yang tidak mungkin. Maka aku dewasalah yang menyesuaikan diri, menjadikan gelap yang dulu menakutkan, dan menangkatnya sebagai teman. Hanya dalam gulita aku sanggup bercengkerama dengan alam, menghabiskan waktu bersama semburat oranye, bermain dengan indahnya misteri gulita.

Sabtu, 27 Februari 2016

Peretas Malang

Matanya kosong menatapi kumpulan anak-anak yang tengah bermain di pelataran rumah. Entah gumpalan apa yang tengah bersarang di dalam kepalanya. Yang pasti, hari ini aku melihat Sid dalam format yang berbeda. Rapuh dan sendiri. Nama lengkapnya Sidharta. Kakak yang juga merangkap peran sebagai Ayah bahkan semenjak sosok itu masih ada diantara kami semua. Ketidak beruntunganku mendapat kasih sayang yang tepat dari sosok ayah menjadikan Sid semacam karet penambal ban motor. Melegakan sekaligus melengkapi disaat yang vital. Umur kami terpaut 10 tahun lebih mungkin, aku hanya selalu ingat bulan lahirnya saja, yang secara kebetulan bebarengan dengan bulan kelahiranku. Bedanya aku perdana melihat dunia di ujung penutup bulan, sedangkan Sid terlahir di ujung pembuka bulan. Kami sama-sama berzodiak gemini, sekalipun aku tidak terlalu mempercayai tentang horoskop tetap saja kesamaan itu membantuku meyakinkan diri bahwa hanya Sid lah sosok yang tepat untuk memahamiku. Setidaknya, itulah yang kupercayai hingga hari ini.
.
.
.
Perawakannya kurus, rambut ikal menumpuk halus diatas kepalanya. Sedangkan wajahnya dibingkai dua bola kristal yang indah. Hidungnya mencuat tinggi berbeda dengan milikku yang timbul hanya seadanya. Dulu aku sering mempertanyakan perihal perbedaan mencolok itu kepada Ibu, tapi seringnya beliau hanya tersenyum sembari mengacak halus rambutku. Harus diakui Sid tampan, ketampanan yang terpancar dari sorot tajam matanya. Jika ada hal yang patut disyukuri hadir didunia ini, aku yakin Sid adalah dalam urutan pertama. Ia tampan, ketampanan yang tersembunyi dalam raut kusut dan badan tak terurusnya. Lebih dari itu, ia tampan karena selalu berhasil menjinakkan alarm bom yang melengking-lengking di dalamku.
.
.
.
.
Hari ini Sid berbeda, jarak dudukku darinya tak lebih dari radius tiga meter. Aku bisa memastikan bahwa matanya tengah menyimpan duka. Duka yang tak pernah ia bagi dengan siapapun juga termasuk aku dan Ibu. Setelah kepergian Ayah, Sid semakin hebat dan lihai dalam menyembunyikan diri. Dunianya seakan hanya miliknya saja. Semua lara dan duka termasuk aksesoris yang tak akan ia bagi bahkan denganku, adiknya. Dulu kami selalu berbagi semangkuk mie, sekalipun ia lelaki tapi harus diakui masakan buatannya sangat enak. Dulu kami berbagi kotak tempat dvd, waktu itu keping dvd masihlah yang paling canggih. Dan Sid memiliki banyak koleksi keping dvd dari film laga sampai film kartun-pesananku-.
.
Pernah waktu kecil aku berbagi duka dengan Sid, bercerita tentang cinta monyetku yang ternyata disambar teman yang juga tetanggaku. Aku sedih bukan main saat itu, tapi Sid dengan sabarnya memberitahuku untuk merelakan. Kita lihat saja suatu saat nanti karma pasti berlaku, itu yang selalu diucapkan Sid diakhir penghiburannya padaku. Sekalipun diumurku yang saat itu baru menginjak angka belasan, belum benar-benar paham apa makna dari kata karma, tapi pesan itu selalu terngiang dan terus ku ingat seperti juga pesan-pesannya yang lain.
.
.
Ini aneh, aku tumbuh besar dengan tingkat ego yang meledak-ledak juga mengerikan. Tapi Sid dan kata-katanya selalu bisa menjadi mantra penenang dan pemenang. Setiap bulir kalimat yang terucap dari mulutnya selalu bisa menjinakkan duri-duri didalam diri. Hanya Sid. Dan bahkan hubunganku dengan Ayah tidak semulus itu. Kami terlalu banyak diam. Menjadikanku anak yang tak pernah bisa keluar dari kepala jika tengah bersamanya.
.
Sid berbeda, ia memegang kunci penjinakku. Ia mengerti betul mantra yang pas untuk melunakkanku. Dulu aku selalu berkata, siapapun kelak yang mendapatkan gelar sebagai istri dari kakak tertampanku, pastilah ia perempuan yang sangat beruntung.
.
.
.
Dan seiring waktu berjalan, terkuak jugalah segala misteri yang terus bersembunyi di kantong saku ajaibnya. Perempuan itu memang beruntung, tapi Sid tidak. Itu menurut pandangan pasku yang selama bertahun-tahun tak pernah lepas mengagumi dan mengenali Sid. Entah kepergian Ayah atau momen yang lain, Sid berubah menjadi lebih penyendiri dan pemurung. Kata-kata yang dulu terdengar sangat menenangkan sekarang hanya keluar seperlunya saja. Senyum itu sama manisnya seperti Sid yang selama ini ku kenal, tapi mata itu memancarkan lain. Mengindikasikan bahwa perempuan beruntung itu tak cukup berhasil memboyong semesta Sid untuk mereka berdua. Sid masih tetap terkurung dalam dunianya, yang begitu misterius dan dewasa.
.
.
Hari ini aku ingin menghampirinya, menemaninya memandangi pelataran penuh anak yang tengah sibuk dengan mainannya. Gugus kami sama dan aku selalu percaya bahwa Sid adalah pawang untuk semua benang kusutku. Dan hari ini aku ingin meyakinkannya, jika tak lagi ada sosok lain di dunia ini yang paham dengan segala kemelut dan nalarnya, maka ia patut mencobaku sebagai obat pereda. Karena memang kita sama. Bedanya Sid dilahirkan dengan takdir menjadi si penjaga di pintu pembuka. Sedangkan aku dilahirkan dengan takdir menjadi si penjaga di pintu penutup. Entah apapun itu artinya nanti.

Rabu, 24 Februari 2016

Pesta Menjelang Fajar

Kuncup bunga membatu di telan dinginnya pagi. Serbuk salju berlomba-lomba menembusi jaringan kulit ari. Segala daya dikerahkan demi menjaga, agar butiran kristal tak jatuh tanpa makna.
.
.
.
Seonggok daging bergetar dibalik selimut tebal, merayakan hari jatuhnya butiran-butiran kristal. Tak peduli jika kokok ayam belum ramai menyapa, perayaan tetap perlu dilakukan demi menjaga kewarasan.
.
.
.
Aku adalah seorang perempuan. Dengan hati yang diciptakan lebih rapuh ketimbang sesamanya. Aku mengira diriku telah tumbuh sekuat baja, tak perlu kuceritakan sebesar apa ombak yang pernah kutaklukkan, karena itu tidak akan membantu menjelaskan seberapa kuatnya diriku. Namun ternyata, sejentik saja cipratan berhasil merobohkan dan mengoyak pernapasan. Aku sekarat, ditengah euforia tentang adanya kehadiran makhluk surga. Aku sekarat ditelan keserakahan yang menjelma bak bulu domba. Aku sekarat mengetahui bahwa hati telah ternodai oleh satu lagi janji.
.
.
.
.
.
Seseorang pernah berkata, "semahal apa harga kecewa jika di jual oleh hati yang terlanjur percaya..?"
.
.
Perempuan berbaju baja menangis dikala fajar, kristal-kristal yang mendiami pelupuk mata terlalu berat untuk dibopong terlalu lama. Segumpal daging dibalik selimut tebalnya pun sama, teronggok kaku dan membeku. Ditelan butiran-butiran salju kedukaan. Senja yang lalu telah menorehkan lara, tidak hanya sekedar melukai satu nama, tapi dua nyawa yang teremukkan seketika. Tanpa aba-aba, tanpa salam permisi sebelumnya.
.
.
Kuncup bunga berbahan daging mulai kehilangan sadarnya. Meronta dan memaki diri yang selalu hanya sanggup mengurung sepi. Tak lagi ada tempat menolehkan kepala, terlebih untuk dipinjami bahunya. Perempuan berbaju baja yang malang, kepercayaannya telah terjual dengan sukarela. Terbeli oleh kecewa yang menganga-nganga. Tak ada kata yang sanggup menggambarkan kengerian, ketika hancur telah berada tepat diujung mata.
.
.
Hawa dingin menusuki pergelangan tangan, menyuntikkan rasa cemas berlebihan. Tak peduli seberapa kuat perempuan berbaju baja, dingin tetaplah senjata mematikan yang hanya sanggup dihadirkan alam. Nafas tercekat satu-satu. Menanti ajal yang dibawa si pembawa berita kematian. Aku adalah jenis perempuan kuat di bawah standar. Yang tak memiliki makna, hanya kata. Untuk itulah selalu dipersilahkan bagi siapa-siapapun yang hendak menjajal kemampuan untuk mematahkan dan melenyapkan.
.
.
.
Kepada separuhku, kuharap engkau mendengar aku memanggilmu. Kepada separuhku, kuharap matamu terbuka, lihatlah seberapa mahal kecewa yang berhasil ditorehkan oleh mereka yang selama ini terus engkau jaga.
Aku hanya membutuhkan satu dan itu namamu. Karena ketidakserakahanku, maka mungkin tak apa jika aku meminta hadirmu datang dengan segala keutuhan, bukan yang terbagi apalagi terjalin separuhnya. Aku tahu tragedi senja yang lalu bukanlah murni kesalahanmu. Tapi darah yang mengaliri ragamu, aku membencinya. Tapi darah yang mengaliri diseparuh nyawamu, aku kecewa padanya. Entah akan datang sebagai apa nanti ketika kepulanganmu menjadi nyata. Entah akan kuperlakukan sebagai apa nanti ketika engkau telah datang di depan mata.
.
.
.
Seonggok daging bergetar dibalik selimut tebalnya. Merayakan hari jatuhnya para kristal berharga. Tak ada yang bertanya tentang seberapa mahal harga kecewa. Tak ada yang sempat melongok goresan lara di dalam dada, menanyakan apakah aku baik-baik saja.
.
.
.
Aku adalah seorang perempuan. Yang mempunyai hati lebih ringkih ketimbang sesamanya. Aku selalu mengira telah tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan mempesona. Tapi lubang-lubang yang menyekapku, lubang-lubang yang digali oleh mereka yang kubekali rasa percaya. Aku tak sanggup mengira-ngira selemah apa keberadaanku dimata mereka sehingga dengan rela dan nyatanya dipatahkanlah percaya itu untuk kemudian diriku dijebloskan dalam perangkap busuk bernama janji dan kepura-puraan.
.
.
.
Aku terlahir di dunia dengan bekal seadanya. Tak mengira jika...jika bekal yang hanya seadanya itu di curi rampas oleh makhluk-makhluk yang kupercaya. Aku tak sanggup menyebut mereka manusia. Aku selalu mengira sesosok monster tengah mendiami ragaku, nyatanya ia justru adalah sejenis penjaga. Yang menampakkan diri ketika tahu aku tengah dalam bahaya. Namun nyatanya, monster sebenarnya telah berganti kostum menjadi malaikat penjaga. Menyodori senyuman dan kehangatan, menyembunyikan tanduk dan ekor dibalik bajunya.
.
.
Aku selalu mengira telah tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Mengira hati ini telah terlindungi kostum baja. Tapi nyatanya..tak ada yang harus aku percayai lagi di dunia ini.
.
.
Kecewa itu begitu mahal, terlebih ketika dijual oleh perempuan yang hanya berilusi telah mengenakan kostum baja.
.
Tak ada lagi kata. Senja lalu telah mengubur segala makna dalam lubang kengerian yang selama ini terus kuhindari. Tak ada siapapun yang perlu kuserahi rasa percaya untuk menjaga hati, karena memang tak ada yang sanggup menjaganya selain aku dan monster kesayangan didalamku. Selamat fajar.