Kamis, 26 Januari 2017

Penyu Kecil

Pagi menyambut dengan sangat cerahnya. Aroma harum pasir mengundang siapapun untuk menggerakkan kaki, mulai berlari. Hari ini adalah detik pertamaku melihat dunia. Menurut cerita yang pernah ku curi dengar ketika beberapa burung lewat di atas cangkang telurku, bahwa dunia yang kelak kutapaki adalah sesuatu yang menakjubkan. Aku tak tahu akan semenakjubkan apa, sementara selama ini berada dalam dekapan cangkang telur adalah hal terindah yang pernah kutemui. Dan hari ini aku melihatnya, untuk kali pertama betapa mewahnya dunia baruku. Siraman mentari pagi adalah sarapan yang sangat pas, terlebih bersanding dengan debur air asin yang luas menghampar di depan sana. Aku bahagia. Untuk dunia yang belum ku tahu seperti apa isinya. Aku bahagia, karena hari istimewa ini akhirnya mendatangiku. Bersama semangat yang di salurkan lewat debur ombak di depan sana, aku bersiap. Tak akan ada yang bisa menghentikan langkahku. Si penyu kecil di pinggiran pantai, yang menanti masa depannya juga akan seindah mimpi-mimpinya.

Sabtu, 21 Januari 2017

Penyihir Malang

Seorang penyihir tengah dalam masa dukanya. Burung hantu yang selalu ada disampingnya kini telah tiada. Terlahap api yang membakar tidak hanya kandang tapi juga rumah majikannya. Sungguh bukan hari yang baik. Penyihir malang kehilangan segalanya, dari mulai hunian yang nyaman, buku-buku mantra, jubah favorit hingga tongkat sakti yang selama ini menjadi perpanjangan tangannya. Tak ada yang tersisa, bahkan kekuatannya. Duka telah mengisap segala termasuk kebahagiaan yang menjadi sumber dari semua kekuatan sihirnya. Dan burung hantu itu, teramat berharga. Mungkin tak apa jika si api hanya melalap hunian dan barang-barang miliknya. Tapi burung hantu itu, makhluk menggemaskan yang telah ia angkat layaknya seorang anak. Duka itu bersumber darinya. Bukankah tidak ada kata yang bisa menggambarkan sepahit apa duka seorang Ibu ketika harus ditinggalkan anaknya ? Sungguh penyihir malang.

.
.
.
Hari berlalu dan penyihir malang tengah beradaptasi dengan kehidupan barunya. Ia harus berlarian di dalam rumah hampir separo malam untuk mengusir tikus-tikus yang berlarian di lantai dan atap rumahnya. Ia harus menyalakan tungku perapian untuk menghangatkan lagi masakannya sebelum menjadi basi. Ia bahkan harus bersusah payah merakit tangga untuk ia gunakan menutup celah di antara dinding kayunya yang bergeser. Hal-hal kecil yang dulu menurutnya remeh dan jentikan tongkat saktinya selalu bisa membantunya dalam sekejap mata. Dan kini, semuanya tak akan memperbaiki dirinya sendiri tanpa penyihir itu bertindak dan melakukannya. Waktu berlalu dengan sangat hampa, ia tak mau mengingat apa saja hal hilang yang menyangkut burung hantu kesayangannya. Itu hanya akan membuat lukanya kembali terbuka, sekalipun duka lama tak sekalipun beranjak dari tempatnya. Dentang mulut kapak yang beradu dengan kayu adalah salah satu musik tersisa yang kini bisa ia nikmati, keringat tak pernah sederas ketika sebelum ia kehilangan kemampuannya. Dan secara perlahan penyihir malang menikmati jalannya. Benar adanya jika ada pepatah yang berkata bahwa garis hidup manusia sejalan dengan berputarnya bumi ini. Sesuatu yang awalnya terlihat sebagai musibah tak lain dan tak bukan adalah jenis bahagia yang tengah melemparkan sebuah canda. Tuhan memiliki selera humor, dalam ketentuannya, duka adalah jenis masakan baru yang patut dicoba. Setidaknya, itulah yang tengah penyihir malang terapkan dalam pemikirannya. Ketika hidup mulai menyodorkan sepiring luka maka sendoki mereka tanpa menghiraukan rasanya.
.
.
.
Hidup penyihir malang pernah dalam masa emasnya. Apa yang disebut dongeng oleh manusia biasa adalah kehidupan normal yang dijalaninya. Apa yang di sebut keajaiban oleh manusia lainnya adalah hal biasa yang sehari-hari ditelannya. Dan kalimat 'Pada zaman dahulu ' itu bukanlah keterangan waktu yang valid; lalu 'Dikerajaan yang sangat jauh' itu bukan nama tempat yang benar-benar eksis di peta dunia. Kehidupan dongengnya yang overdosis telah berakhir dalam sekejap mata. Menelan semua dalam bara yang berkobar dalam waktu sekian jam saja. Menyisakan sepotong sesal dan beberapa remahan nikmat.
.
Sesal karena penyihir malang lupa menyisakan bahagia barang sejumput saja agar setidaknya ia masih punya kekuatan untuk mengembalikan tongkat sihirnya. Sesal karena ketika kehidupan dongengnya masih berjalan ia terlalu malas untuk menikmatinya. Sesal untuk beberapa kenangan berharga yang lupa ia mantrai agar tak membasi di dalam kepala. Sesal untuk kehidupan dongeng yang lupa ia rekam sebelum api menyambar.
Bunyi mulut kapak yang beradu dengan kulit kayu bukanlah lagi satu-satunya musik yang tersisa. Karena kini penyihir malang menyadari hal baru, sesuatu yang melebihi kecanggihan bola kristalnya, sesuatu yang melebihi kekuatan tongkat sihir kesayangannya. Yakni intuisinya sebagai seorang manusia. Ia seperti menemukan tombol untuk menarikan semua termasuk udara. Tubuhnya mengerti apa yang ia perintahkan. Niatnya menggerakan segalanya. Dan alam sekitar perlahan bersinkron dengan raga dan juga jiwanya.
.
Api memiliki cara tersendiri untuk menumpahkan hasratnya, bara memiliki gerak favorit untuk menemukan puncak menyalanya. Dan penyihir malang membutuhkan sebuah tamparan untuk memahami suatu hal. Kehidupan dongeng yang dulu ia sampahkan mendadak memiliki fungsi. Remahan nikmat itu adalah jenis syukur yang dulu lup ia panjatkan. Remahan nikmat itu adalah jenis keajaiban yang meletuskan diri menjadi sekecil dan sebanyak percikan kembang api. Remahan nikmat itu adalah paragraf ini. Tulisanku tidak akan tercipta tanpa lebih dulu ada ledakan api. Dan nasibku semalang penyihir satu itu. Yang tengah memunguti pelajaran dari setiap ada ledakan. Penyihir itu lebih beruntung hanya melewati satu kebakaran kendati karena itu ia harus merelakan segalanya. Aku berkali-kali mengalami. Api itu sering menyapaku. Namun aku tak pernah sadar, jikalau api datang membawa sebuah pengajaran agar aku bisa lebih mengerti dan bersabar. Dua makhluk malang. Si penyihir malang dan satunya manusia gagal.

Minggu, 01 Januari 2017

Si Ratu Tak Tahu Diri

Hari ini aku melakukan kesalahan, yakni dengan membiarkan Ari mendengar keluhan tentang betapa lelahnya menjadi seorang Ibu. Gelar yang baru kusandang sekitaran tiga bulan yang lalu. Aku masih ingat bagaimana riangnya dulu ketika dipagi hari melihat tanda strip di alat pengecek kehamilan. Sesuatu telah datang, sesuatu yang sangat dinantikan oleh Ari dan bukan olehku. Pagi itu aku berbahagia karena berhasil memberikan satu alasan untuk Ari merasa bahagia. Ia telah lama mendamba, sementara aku..responku sewarna abu yang teronggok didepan tungku. Siapkah aku ?
Hari-hari terlalui dengan semangat baru. Dan mau tidak mau aku ikut mengantisipasi jenis kebahagiaan apa yang tengah menanti. Ari melunakkan diri, menjadi abdi yang siap melayani kapanpun aku memanggilnya. Awalnya terasa aneh, tapi kemudian aku menikmati..kapan lagi bisa mendapat kesempatan diperlakukan sebagai ratu ? Dan Ari begitu teliti terhadap segalanya. Ia memberi porsi lebih dalam setiap aspek yang jujur saja, hal itu justru menjadikanku si ratu kurang ajar dan tak tahu diri. Di kesempatan yang lain ingin rasanya aku memeluk Ari untuk menuntaskan rasa bersyukurku karena memiliki kesempatan begitu dimanja olehnya. Ari menularkan bahagianya.
.
Hari kelahiran merupakan malam terkompleks yang pernah aku dan Ari lalui. Aku tidak pernah melihat Ari sesigap itu, aku tidak pernah melihat Ari sepanik itu. Dan perasaan melahirkan tentu saja sesuatu yang sangat emosional untuk diceritakan. Tak ada sakit dan bahagia yang pernah terlalui dengan sebegitu dramatisnya selain malam itu. Bukan lagi tangis yang mengiringi melainkan pasrah yang menemani. Aku menyerahkan semua kepada pembuatku. Sekalipun berpisah dari Ari adalah sesuatu yang tak akan pernah tersiapkan sampai kapanpun, tapi malam itu aku telah merelakan. Lagi-lagi Ari dengan begitu telaten menemani detik-detik menegangkan itu. Kueratkan genggaman tanganku, dan ia membalasnya dengan berlipat lagi mengeratkan genggamannya. Malam itu kami sama-sama menguatkan.
Dalam kepasrahan total, tak sedikitpun kutangkap ragu dari bola mata Ari. Keyakinannya telah ikut mengeluarkan kepala si kecil untuk segera melihat dunia. Di penghujung perjuangan lagi-lagi perasaanku terkopyok ketika melihat Ari begitu bahagia. Ia tak pernah terlihat sebahagia itu sebelumnya. Pertanyaan yang dulu pernah ada terjawab sudah. Aku belum siap. Aku belum siap. Bahagia datang bak air bah di tengah kerontang. Aku tak bisa berenang, aku takut tenggelam. Bersyukur Ari ada untuk berbagi nafas ketika air bah itu benar-benar mengguyur. Tak ada kata yang ingin ku ucap saat itu selain memberikan sebuah pelukan dan satu sisipan kata maaf, untuk Ari karena telah berani menyalah gunakan kekuasaan sebagai ratu dimasa-masa setelah pernikahan dan masa kehamilan dulu. Bahagia merubah Ari menjadi manusia tanpa tulang. Dari abdi yang siap melayani, menjadi abdi yang bersiap pula untuk mati. Ia rela menanggalkan segalanya, keegoisannya, rasa malas dan juga jijiknya. Sesuatu yang hingga hari ini terpatri kuat diingatan sebagai lonceng agar aku tetap ingat bahwa Ari adalah anugerah yang patut disyukuri keberadaannya.
.
.
Melihat kesigapan Ari dan juga ketulusannya mengabdi, membuat ratu tak tahu diri ini mulai memikirkan untuk bersiap diri. Jika Ari saja rela melepas segalanya demi merangkul sebuah bahagia, kenapa aku harus menahan diri untuk tidak terjun ke dalamnya ? Aku harus bersiap. Dan bahagia yang mendera mengepak koper dengan kecepatan ekstra, membuatku bersiap seketika. Dan jawaban tempo lalu berubah hari itu. Aku siap. Untuk Ari yang telah rela terjaga sampai pagi dimalam kelahiran, untuk Ari yang telah rela menundukkan segala rasa juga aroma demi kenyamananku, untuk Ari yang telah bersiap lebih dulu, dan untuk si kecil yang tengah menanti uluran tanganku.
.
.
.
Hari ini, dengan membiarkan Ari mendengar keluhan membuatku merasa sangat buruk. Dimana kesiapan yang dulu pernah kubisikkan melalui ujung malam ? Dimana kesiapan itu ? Jika memang ia ada kenapa hari ini aku masih mengeluh ? Siapkah sebenarnya aku ?
.
Mungkin Ari benaran harus pulang kali ini. Perasaan ini membuncah setiap kali aku mengingatnya. Aku menangis ketika memiliki lagi kesempatan untuk mengaduh. Aku harus menuntaskan hutang yang menumpuk semenjak hari kelahiran. Sebuah janji akan pelukan. Dekapan yang kiranya sanggup menyampaikan seluruh rasa hingga remah-remahnya, bahwa aku benar-benar minta maaf untuk kelancanganku memanfaatkan kelunakan hatinya dalam melayaniku, meminta maaf untuk kesiapan yang kupertanyakan kali ini, meminta maaf untuk segala yang pernah melukai dan mengurangi porsi bahagianya. Meminta maaf karena telah mengeluh padanya hari ini. Bahagia telah menamparku, mengingatkan tentang siapa dulu yang telah menularkan perasaan ajaib itu. Ia adalah Ari. Yang malam ini kurongrong kesabarannya lagi, yang malam ini menempatkanku sekali lagi menjadi si ratu tak tahu diri.

Sabtu, 31 Desember 2016

Catatan Pembuka

Keresahan kali ini, berangkat ketika langit mulai teracuni aroma kembang api. Disaat gegap gempita lautan manusia mulai teraktifkan dibeberapa sudut kota. Dan satu-satunya hal yang menarik minatku hanyalah memandangi Hara. Seonggok nyawa yang dalam tiga bulan kedatangannya berangsur namun pasti mulai menancapkan karisma dan juga pesona magic nya. Matanya terkatup rapat, memeluk gelap yang hadir bersama semangkuk kantuk tak tertahankan. Milikku yang menenangkan. Dulu aku berniat menamainya Zarah Amala. Si partikel cinta. Tapi ternyata Ari tak begitu setuju dengan nama itu, ia berpikir nama Zarah akan sulit bergulir dilidah-lidah manusia yang telah kenyang memakan zaman. Sementara si terpilih Hara, diharapkan bisa meluncur indah tak hanya dilidah para sesepuh tapi juga anak sebaya. Dan si Hawa, si Hala, adalah pemenang yang bertengger dilidah anak-anak kecil disekitaran. Kedatangan Hara sebegitu mengejutkannya, kendati telah kukandung ia selama sekian puluh minggu. Dalam paragraf yang telah lalu telah kurangkum sejumput paragraf untuk menyambut Hara. Dalam paragraf yang lain pula pernah kusajikan doa dalam sepiring kata. Aku tak pernah seserius itu dalam menyambut sebuah datang. Hingga harapan dan khayalpun tak berani berkunjung bahkan hingga hari kesekian. Hara adalah yang terpilih, dan bukan sebuah akhir dari adanya begitu banyak pilihan. Dulu aku begitu takut membekalinya dengan doa, aku takut harapanku membebani langkahnya. Aku takut doaku menjadi sebuah mantra yang kelak menjadi tipe-x bagi takdir murninya. Aku tak mau menjadi si pengacau.
.
.
.
Sekarang semua ketakutan itu berubah menjadi cemas, aku mulai mencemaskan bagaimana jika binar retinanya akan meredup ketika harus menyadari luasnya ruang. Aku mulai mencemaskan bagaimana jika sinar keemasan yang membungkus tubuhnya terganti dengan cahaya karmik dan melunturkan pesonanya. Aku mencemaskan bagaimana jika tapak mungilnya tak sanggup melangkah menuju pintu kesadaran, aku mencemaskan bagaimana jika jemari cantiknya tak sanggup mengetuki banyak jiwa dan nama. Ya! Aku masih menyimpan secuil ambisi agar kelak Hara menjadi sepertiku, bahkan lebih. Kubebaskan ia dari segala jalanan menuju puji dan puja. Kubebaskan ia dari tugasnya merangkul kedamaian keluarga maupun dunia. Kubebaskan ia dari segala ciri yang disematkan dalam namanya oleh Ari. Aku hanya ingin Hara bisa mewarisi setidaknya jiwa pujanggaku. Menulis memang bukan ladang yang darinya bisa diraup emas dan uang. Menulis adalah pekerjaan yang darinya diperlukan kejujuran dasar, dan sebuah sadar. Dan jika memang jemarinya tidak terlalu telaten untuk mempreteli hujannya imaji menjadi paragraf-paragraf bernama, maka tak apa. Melihatnya hadir dan tumbuh pun telah menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagiku. Aku dan Ari benaran telah sukses menciptakan sebuah kolaborasi. Seorang gadis mungil bermata bulat dengan lingkar pupil coklat menggemaskan, dengan pipi seharum bakpau hangat, dengan senyum semanis bongkahan gula batu yang mencair didasar poci, dan..entah keajaiban apalagi yang menyertai kedatangannya didunia ini. Hara begitu menyempurnakan sepiring hidup milikku yang begitu polos tanpa siraman kuah saus atau lelehan mentega. Milikku yang menenangkan.
.
.
.
Dulu aku pernah memiliki stigma bahwa peri, dimanapun mereka eksis yang terpancang diingatan adalah tentang makhluk menyala dengan rambut terguyur sinar bohlam, raut dengan kecantikan dan ketampanan yang tak terbantahkan dan telinga runcing. Peri adalah yang seperti itu. Hingga kemudian Ari menuntunku memahami bahwa peri tak selalu bertelinga runcing, tak selalu harus memancarkan cahaya dari tubuhnya. Ari mengajariku bahwa peri dapat hidup dengan format apa saja, termasuk berujud seperti Hara salah satunya. Jika kalian belum mengalami proses pengibuan, kata-kata diatas akan terdengar seperti banyolan semata. Tapi bagiku itu memang nyata dan benar adanya. Aku yang awalnya terpesona dengan keberadaan peri, begitu terkagum dengan kedatangan Hara. Mereka persis sama. Menyihirku dalam setiap gerak-geriknya. Dari sudut manapun mataku menemukan mereka, yang terpotret dibenak adalah sebongkah kagum tentang betapa artistik keduanya. Mereka persis sama, menyimpan bongkahan emas ditubuhnya, hingga apapun yang terucap dari mulutnya, apapun yang memancar dari helai rambutnya, semua terlihat mempesona. Benar-benar milikku yang menakjubkan.
.
Kecemasan-kecemasan yang pernah kuutarakan tak akan sebanding dengan syukur yang hendak aku ucapkan. Dimalam pergantian tahun ini, dimana hampir semua manusia menumpahkan diri dalam euforia bertema menyala, dan satu-satunya hal yang menarik perhatianku hanyalah memandangi Hara. Keresahan ini tersampaikan dalam ujud syukur yang tak terukur. Dan bahkan dalam momen sebesar pergantian tahun pun aku masih belum bisa memutuskan apapun, harapan dan doa apa kiranya yang akan kubebankan kepada Hara. Karena satu-satunya kata yang pernah kubisikkan ditelinganya adalah pengakuan bahwa aku dan Ari sangat menyayanginya. Itu saja.

Selasa, 20 Desember 2016

Menyala Dan Bahagia

Sebelas, tiga belas, tujuh belas. Dan aku tidak tahu jika Tuhan merancangku untuk bisa menyala diumurku yang ke duapuluh sekian. Semua perjalanan, semua kegagalan terpahami ketika aku mulai menginjak kepala dua. Sekalipun saat itu aku masihlah manusia awam mengenai pemahaman tentang kata cinta, sekalipun saat itu untuk pertama kalinya aku mengenal adanya kekasih dari sosok setengah nyata bernama idola.
.
Setiap sesi kehidupan ini menghadirkan sendiri pelajaran yang sangat berarti. Aku pernah tersesat, mendewakan begitu tinggi pada beberapa sosok bernama manusia, tanpa sadar jika perbedaanku dan mereka hanyalah ada pada segumpal otak dan hati yang tersemat didalam masing-masing raga. Aku terlalu malu untuk mengakui diri bahwa aku tersesat saat itu, aku terlalu nyaman menduduki bangku tahtaku dan mengakui bahwa itu bukanlah jabatan yang benar. Dengan berbagai trik dan tipudaya aku berhasil menyingkir dari jalanan yang saat itu terlihat mulus dan tanpa hambatan. Mulai mengakui diri bahwa aku kalah dan inilah saat yang tepat untuk mengalah. Detik pertama ketika akhirnya cahaya itu menunjukkan kekuatan terpendamnya. Aku menyala ditengah keterpurukan. Cahayaku menyiramkan sinarnya tepat ketika aku membutuhkan bimbingan, jalan terang dan tiang untuk berpegang.
Aku pernah hancur. Beberapa nama mengagungkanku dan menempatkannya pada baki termahal yang pernah ada. Menghadiahiku dengan berbagai macam senyum yang kesemuanya berpotensi mengakibatkan diabetes. Lalu kemudian dengan senyum yang sama nama-nama itu mulai meremukkanku sekali jadi. Tak ada kata permisi, ataupun salam basa-basi. Semua lara tercipta begitu saja tanpa ada resep istimewa sekalipun sakitnya harus mendera dan mengendap sekian tahun lamanya. Hari itu aku percaya, tidak segala keindahan dirancang untuk menimbulkan kebahagiaan. Pada beberapa nama, keindahan bisa dijadikan alat untuk menelanjangi lalu meremukkan tanpa salam permisi sebelumnya. Senyum dan tutur dari nama-nama itu tak terkecuali, kesuksesan mereka membuatku menjadi kepingan adalah awal dari sebuah sadar. Sadar yang lalu menekan sendiri tombol aktif untuk kebangkitan sebuah masa pembelajaran. Aku kembali menyala sekalipun sinarnya harus berserak menjadi remah dan kepingan. Sinarku merebak seluas bintang yang menyeraki langit hitam dimusim kemarau. Perjalanan untuk langkahku yang paling awal ternyata memaksaku berpikir ulang. Gelap yang menyapa diujung pintu adalah pertanda, bahwa didepan sana tidak ada keabadian bagi petir dan hujan yang hendak menjegal dan menyapa. Aku terkenyangkan oleh tangis dan pembelajaran.
Selain tersesat dan hancur, akupun pernah merasai yang namanya jatuh kepada cinta. Dan sesi kehidupan satu itu tak luput dari kata pembelajaran juga. Hal yang kusangkakan berisi gumpalan putih, bersih semacam kapas ternyata menyimpan juga sisi kelam. Sayangnya kali itu aku tak bisa menyalahkan. Sang Kuasa adalah pemegang kontrak untuk sesi jatuhku saat itu. Sekalipun aku menduka, lara, bahkan hancur sekalipun. Aku tidak berhak menyalahkan. Aku jatuh pada cinta yang seharusnya. Tapi ketika objek dari cinta itu mendadak harus pulang aku kelimpungan untuk mencari pegangan, cintaku tergantung diplafon kamar, cintaku terpantul tembok dan tak bisa tersampaikan. Sekalipun berat, harus diakui saat itu tak ada pilihan lain bagiku selain kembali bangkit dan menyala.
.
.
.
Dari semua kegagalan yang berhasil membuatku menyala.. tersesat, hancur dan jatuh cinta adalah tiga hal paling dominan ketimbang remah lainnya. Hati dan pikiran manusia dirancang untuk hancur dan kecewa. Karena diantara keduanya tercipta tangga bernama harapan yang konon juga adalah tiket menuju keajaiban. Harapan, sesuatu yang membuat manusia begitu mendamba sebelum akhirnya jatuh gila.
.
Aku lebih menyukai bagaimana Tuhan menyetelku untuk bisa merasakan bahagia dan menyala sekaligus diumur duapuluh sekian. Jika aku terlebih dulu disodori kebahagiaan ketimbang kemampuan untuk menyala, mungkin yang terjadi sekarang adalah aku tengah menggumami kata sesal. Sebaliknya jika aku menyala terlampau awal disaat bahagia adalah hanya sejenis mitos semata. Maka yang terjadi selanjutnya adalah kegilaan dan krisis rasa percaya pada makna keajaiban.
.
Tidak ada yang lebih kusyukuri keberadaannya didunia ini ketimbang kenyataan bahwa kemampuanku untuk menyala datang bersamaan dengan kemampuanku untuk mendeteksi sinyal tentang lahirnya sebuah kebahagiaan. Dominasi antar keduanya mungkin berbeda. Tapi keduanya pun memiliki ruang dengan sekat diantara masing-masing. Tak ada cahaya yang telat untuk menyala. Tak ada bahagia yang datang terlambat kepada pemiliknya. Dan duapuluh adalah awal untukku memeluk keduanya. Terimakasih Tuhan. Terimakasih alam. Terimakasih waktu karena telah mempertemukan. Bagiku, kemampuan untuk menyala dan datangnya bahagia tak ubahnya seperti kisah kasih Rama dan Sinta. Ketepatan yang sempurna. Memancarkan energi nyata ketika keduanya berjabat dan berangkulan bersama.

Minggu, 18 Desember 2016

Membakar Hujan

Waktu sanggup merubah segalanya. Dan kini aku percaya.
.
.
.
Hujan tak pernah datang semesra sore ini, dikala semburat oranye diufuk barat mulai bersiap menunjukkan diri, tetes-tetes hujan yang menimpa atap rumah menjadi melodi pembuka yang teramat pas. Aku sekarang menyukai hujan. Ari memanusiakan rintik besar-besar itu lebih dari sewajarnya. Ketika dulu hujan menawarkanku bangku bersalju, maka sekarang hujan menghadiahiku sepotong kerinduan dengan nama Ari didalamnya.
.
Lagi-lagi aku merasa hujan tak pernah semesra yang turun pada sore menjelang petang ini. Dalam balutan rinainya yang saling berbaris rapi, aku merasakan kehangatan bak sepasang kaus kaki. Dalam rintik besar-besar yang datang keroyokan, aku melihat tangan besar kasat mata menggapit tubuh kecil ini sebelum akhirnya menceburkannya pada segentong besar perasaan iri. Rasa iri pada banyaknya pohon bambu yang saling meneteskan peluh ketika petir melewati sela-sela pucuk daunnya. Rasa iri pada sehelai daun bayam yang rela menundukkan diri demi bisa memeluk batang pohon yang terciprat tetesan air hujan. Rasa iri pada dua kilat yang menyempatkan diri untuk bergumul dibalik awan hitam sebelum turun menyambar. Rasa iri bahkan pada rintik yang saling berkejaran sebelum akhirnya melumer dalam lautan kebahagiaan. Aku rindu Ari dengan kekuatannya memanusiakan hujan.
.
.
Jika saja petang ini Ari berada dalam jangkauan, niscaya sepasang kaus kaki bermanik kepala beruang itu tak lagi dibutuhkan. Dalam rengkuhannya, kami berdua akan membakar hujan dan menyulapnya menjadi entakan ranjang. Selain memiliki kekuatan memanusiakan hujan, Ari juga menyimpan kekuatan mendatangkan tsunami. Badai yang diracik perlahan melalui sentuhan dan tiupan ringan sungguh sanggup menimbulkan lengsernya lempengan iman. Ari tahu betul kapan saat yang tepat untuk surut, menerjang dan menyemburkan hingga tertinggi air dalam luapan. Seringnya aku hanya bisa pasrah. Merelakan diri ditelan air tsunaminya, merelakan diri dihempaskan oleh tinggi dan kuat inginnya. Membiarkan hujan mengiringi dan menyirami lagi dataran yang tengah terengah dilanda hasrat yang rindu untuk mampir ke daratan.
.
Andai petang ini Ari berada dalam dekapan, niscaya segentong iri tak akan eksis di paragraf ini. Yang ada hanyalah alam yang tunduk khidmat menyalami aku dan Ari karena perasaan takjubnya akan kekuatan kami berdua dalam membakar hujan. Andai petang ini Ari berada dalam jangkauan, niscaya daun bayam akan tersipu malu mendengar kecipak air hujan yang turun sebelum tanah sempat membasahi diri. Niscaya pucuk-pucuk daun bambu akan rela memayungi petir dan menyabotase tujuan kehadirannya, memelintirkan fungsinya menjadi nyanyian indah yang hanya akan didengar oleh telinga-telinga yang tengah berbahagia. Niscaya kilat-kilat akan saling menyambarkan diri diatas sana, menjadikannya semacam kembang api dengan awan hitamnya sebagai latar belakang.
.
.
Ari membuatku mendekap rindu pada hujan petang ini, membuat rintik-rintiknya terdengar semesra bisikan-bisikan khas ketika tengah bercinta. Ari memanusiakan hujan dengan sangat tepatnya, hingga lupa didalam diri manusia terdapat sisi hewani yang suatu saat butuh untuk ditaklukkan. Milikku tak terkecuali. Sentuhan itu, bisikan itu, dan dekapan itu seakan semuanya adalah ornamen-ornamen yang sangat pas jika dipasangkan pada sepotong hujan. Badai tsunami tak pernah dipuja dan diinginkan sebelum Ari datang dan menghendakinya demikian. Badai tsunami petang ini tidak akan datang, hanya kerapnya rintik hujan yang memboyong kerinduan. Dan Ari tak pernah tahu dirinya semenakjubkan awan hitam, bagi manusia lain mendung berati saatnya bersiap membentengi diri dari hujan yang membanjur, bagiku awan hitam pertanda kebahagiaan yang tengah dalam perjalanan, kilat dan petir adalah bak tanda peringatan bahwa pesawat tengah lepas landas dan hanya tinggal menunggu hitungan sebelum akhirnya bersentuhan dengan pesawat itu, si hujan.
.
.
.
Dan kini aku percaya, waktu dapat merubah segalanya. Tubuhku yang dulu selalu menggigil ketika tertimpa butiran air hujan, kini justru menunjukkan kesediaan dan kerelaannya untuk diterjang. Sendi yang dulu selalu meradang kedinginan disaat awan hitam usai menuntaskan bebannya, kini selalu siaga dengan adanya lonjakan-lonjakan dari beban yang diangkut aliran darah. Jantungku tak pernah sesigap ini menerima tamu agung bernama kerinduan. Sepotong rasa yang selalu hadir dibawa oleh rintik hujan. Dan lagi-lagi Ari tak pernah tahu bahwa dirinya semenarik awan hitam. Membuatku bersiap, berpraduga dan jika memungkinkan menyiapkan payung agar tak kehujanan.
.
.
Hujan tak pernah semesra sore ini, rangkaian melodi yang mengalun dari pengeras suara tak sanggup menandingi nikmatnya perasaan ini. Kerinduan akan adanya rengkuhan, bisikan-bisikan ringan, dan akan datangnya badai tsunami yang Ari ciptakan. Ah..andai alam tahu, kekasihku berpotensi menjadi alat yang sanggup mendeteksi akan datangnya bencana menyenangkan.

Kamis, 15 Desember 2016

Aku, Manusia Dan Malam

Hujan membuat sore datang lebih cepat hari ini. Aroma tanah yang masih membumbung semakin tergilas tergantikan oleh bau petang. Setelah seharian membungkus tubuh kecil ini dengan sehelai daun, membuatku semakin terasa nyaman. Jangan kira kaum nyamuk sepertiku tidak pernah merasakan sakit, demam yang menjelangku semenjak malam kemarin adalah salah satu contohnya. Semua kaki dan tanganku masih lincah bergerak tapi perut juga kepalaku memberikan sinyal tanda tak sehat. Ibuku bilang mungkin karena jiwa manusia yang kucucus darahnya kemarin itu sedang dalam keadaan tidak stabil. Entah penjelasan medis apa yang bisa menjelaskan relasi antara antara demam dan jiwa labil. Tapi aku percaya, karena sungguh sekian lama hidup tak ada yang bisa mengukuhkan tentang adanya kebenaran perkataan selain yang keluar dari mulut Ibu. Bagiku Ibu adalah semacam dewa. Setiap perkataannya adalah titah sekaligus hal yang tak patut untuk diragukan kebenarannya. Sekalipun penjelasan tentang alasan demamku sedikit terasa konyol tapi aku hanya bisa percaya. Lagipula..untuk apa mempertanyakan hal yang sudah lewat ? Dan juga, aku sudah sembuh hari ini. Kalau saja bukan karena kebutuhan, aku tidak ingin bangun hingga pagi menyapa. Perutku menunjukkan tanda protesnya, seharian menahan beratnya kelopak mata membuatku lupa untuk mencucus tubuh manusia. Dan petang ini, aku ingin berburu.
.
.
Hujan masih menyisakan riaknya, sementara petang kian meluaskan taburan jaring gelapnya. Hewan malam mulai membunyikan alarm masing-masing. Semoga masih ada manusia yang mau keluar dari hunian dalam cuaca yang seperti ini. Ketika sore datang, kaum manusia akan dengan sigap mengunci diri mereka dalam benteng pertahanan. Semua jendela dan pintu tertutup rapat-rapat. Mengantisipasi kedatangan kaumku yang selalunya kian merebak ketika malam menjelang. Manusia ternyata tidak setangguh dan sebesar badannya. Demi menghindari kaumku yang besarnya saja hanya sekitaran besar upil manusia, mereka mempertaruhkan segalanya. Memblokir semua akses agar tak bersentuhan dengan udara luar, tanpa tahu jika malam kian menebarkan pesona jika dinikmati dalam keadaan remang. Manusia menempatkanku dan kaumku menjadi semacam bahaya terburuk sepanjang masa.
.
.
.
Mataku berhenti mencari ketika indra penciumku mendapati adanya aroma manusia. Ada yang lain dari manusia satu ini, darahnya tercium begitu manis. Bebauan wangi yang menyelimuti hampir seluruh tubuhnya tak menutupi aroma manis yang kian terkuar. Aku harus mendapatkan mangsa. Perutku tak lagi mau mendengar kata menunggu.
.
Benar saja, ketika selesai mengisi penuh perut kecilku, aku merasakan dahaga yang melumer oleh siraman air gula. Darah manusia satu ini begitu manis. Ataukah karena demam lusa yang menyebabkan minum darah kali ini begitu istimewa ? Tak jadi soal apapun itu, yang jelas perutku telah terkenyangkan.
.
Ibuku selalu berkata aroma angin malam akan membangkitkan rasa lapar berlipat dari waktu siang, itulah kenapa kaum nyamuk disarankan untuk mengistirahatkan badan ketika pagi datang.
Aku harap manusia tidak mengetahui titik lemah kaumku, ataupun membaca ceritaku ini. Karena bagaimanapun, otak manusia tercipta dengan segala kerumitannya. Memahami sedangkal pemikiran kami akan menjadi hal yang sangat sulit. Tidak diragukan lagi, meski pernah terbesit sebuah ingin tapi nyamuk dan manusia memang tertakdir sebagai musuh alami. Dan bagiku pribadi, ini adalah jenis permusuhan paling elegan yang pernah ada. Kendati api yang membara dipikiran manusia kuyakini sanggup membakar sebuah bangunan sekalipun. Entah kenapa manusia gemar sekali menumpuk dendam, menjadikannya bak bejana kristal yang harus disimpan baik-baik dan penuh perhitungan. Menjadikan dendam sebagai bom waktu yang suatu saat nanti bisa saja justru menghabisi pemiliknya sendiri.
.
.
.
Tidak perlu mencela, tidak perlu meributkan apapun kebiasaan buruk makhluk hampir sempurna itu. Toh hubungan kami berdua tak mungkin akan beranjak kemana-mana. Selamanya manusia dan nyamuk akan menjadi patner yang hanya menguntungkan dari satu sisi saja. Seberapa kuatpun keinginanku untuk menjabat tangan manusia tak akan berhasil tanpa lebih dulu sesuatu merelakan nyawa. Nyawa kaumku. Seberapa tak menyenangkanpun perlakuan manusia terhadapku dan keluarga, aku hanya bisa melihat, memaklumi dan mengacuhkannya. Bangsa nyamuk tak memiliki hasrat untuk mendendam, aku sendiri lebih memikirkan keberlangsungan hidup anak cucuku kelak ketimbang menjunjung tinggi ego permusuhan.
.
.
.
Tak ada yang mengganjal, tak ada batu rintangan. Hidup dan pola pikir kaum nyamuk semulus dan sepolos dua mangsa tanpa busana yang sering kutemukan tengah bergulat vertikal ditengah rerimbunan diwaktu malam. Entah apapun yang tengah mereka lakukan, yang terlihat dimataku hanyalah makanan dan makanan. Manusiakah mereka ? Bukankah kaumnya selalu takut dengan kegelapan dan selalu menghindar ? Apapun itu, yang jelas aku selalu berbahagia untuk manusia yang rela memoloskan tubuh ditengah remang untuk kami makan.