Rabu, 16 Agustus 2017

Wajah Yang Lain

Aku kembali lagi kesana. Setelah berhari-hari pergi meninggalkannya. Sebuah tempat yang tak pernah kutahu itu di mana. Bersama orang-orang yang tak asing dan lagipun mereka memang tengah beririsan denganku secara nyata selama beberapa hari terakhir. Dengan kekuatan yang teramat mustahal untuk kumiliki namun tak bisa menyangkal bahwa aku memang menyimpannya. Kami berenam, atau mungkin berempat, tak lagi jelas menyoal hitungan yang tepat. Yang pasti kami adalah sekumpulan orang-orang yang terlempar. Sekumpulan orang-orang yang keluar dari perimeter dengan bukan tanpa alasan. Rasanya menyenangkan mengetahui bahwa aku tidak sendirian. Berada dalam dunia yang tak kukenal dan kami mulai berjalan menuju..mungkin pulang.
.
Disana, beberapa wajah tak dapat kukenali dengan pasti. Tapi bisa sangat kupastikan bahwa hati mereka tak asing dan pernah kukenal. Yang satu seorang laki-laki berwajah asing dengan hati yang ku kenal. Sementara yang lain adalah sebuah wajah yang tak hanya kukenal tapi juga merupakan bagian nyata dalam dunia nyataku. Sisa-sisa wajah di sana, adalah sosok yang tak pernah kutahu dan tak pernah kulihat sebelumnya. Berparas cantik, gagah dan tampan, tapi sayang mereka hanya manusia biasa dengan jiwa mengenaskan, yang kutahu itu setelah beberapa kali berpapasan dan kemudian mereka mulai menunjukkan jati dirinya tak lama setelah kami yang berempat atau berenam ini pergi. Dan yang terakhir. Wajah tak asing yang melatari kenapa tulisan ini tercipta. Bahkan setelah separo sesi tidur malam terlewati. Dan wajah itu telah datang kepadaku dua kali dalam kurun waktu mungkin satu minggu terakhir ini. Wajah yang tak mungkin kulupa bagaimana ekspresinya ketika mencoba menjegal pergerakan kakiku untuk menjejak tanah sebelum akhirnya terbang. Aku menemukan diriku yang tak kukenali di tempat asing itu. Dan. Ya! Aku terbang! Bukankah pernah kukatakan sebelumnya bahwa aku memiliki kekuatan yang diriku sendiri tak tahu bahwa telah menyimpannya. Terbang. Aku bukan satu-satunya. Orang-orang yang terlempar dari perimeter pun memiliki kekuatan yang sama. Hanya kami saja. Berempat atau berenam, karena memang disana hitungan terlihat seperti kasat mata.
.
.
Mungkin sebagian dari kalian akan mengerutkan kening demi memahami ketikan dalam separo lebih malam ini. Ya, akupun demikian halnya. Nafasku begitu terengah-engah ketika baru saja terlempar dari tempat itu. Setelah beberapa waktu lalu berhasil membuat diriku yang lain- namun dengan jiwa yang tak kukenali meringkuk kalah dengan wajah memar dan hidung teraliri darah. Siapa dia ? Aku yang lain itu, kenapa begitu inginnya menjegal langkahku untuk terbang bersama orang-orang yang terlempar dari perimeter dan hendak pulang. Aku menyimpan dengan erat ekspresi itu. Wajah terengah penuh luka dengan ringis kesakitan yang begitu mendalam. Di tempat yang tak kutahu, dengan bangunan-bangunan tinggi menjulang, aku menemukan diriku yang lain tengah berusaha menjegal pergerakan langkahku. Namun dalam satu kesempatan setelah perjalanan yang begitu melelahkan, aku berhasil memadu padankan kekuatan melayangku dan hantaman kepalan tangan. Aku berhasil membuat diriku yang lain bersimbah darah dan meringkuk penuh sakit di tanah di bawah sana. Ya, karena setelah pertarungan yang aneh itu, aku berhasil menjejak tanah dengan segera. Aku terhuyung-huyung dalam menjejaki udara tentu saja. Pertarungan itu, entah bagaimana telah menguras tenagaku. Bahkan bisa kurasakan kedua tanganku menggenggam erat atap bangunan tua, agar aku bisa menjejak dengan kuat pergi ke atas sana dan meninggalkan aku yang lain tengah terkapar. Tidak. Sedetik sebelum aku benar-benar menjejak udara untuk mengangkasa lebih tinggi, kusempatkan diri untuk menengok aku yang lain di bawah sana. Memastikan ataukah benaran sosok itu adalah diriku atau bukan. Dan ternyata memang benar. Namun dengan keanehan yang lain, di raut wajahnya, tak kudapati sosok yang beberapa waktu lalu mengerang kesakitan. Luka yang terkopyok jelas dalam bulatan matanya mendadak hilang tergantikan dengan mata yang lebih teduh dan menyenangkan. Lebam itu masih ada, berhias lelehan merah dari kedua lubang hidungnya. Dan wajahnya tersenyum. Demi apapun! Diriku yang lain itu tersenyum kepadaku, setelah meringkuk kesakitan dengan ekspresi wajah yang tak akan pernah kulupakan. Siapa dia ? Benarkah sosok itu adalah aku ?
.
.
Waktuku di tempat asing itu masih dalam separo jalan. Kenapa aku bisa tahu ? Karena aku pernah berada di sana sebelumnya. Bukankah pernah kukatakan di awal ? Dan tentang lelaki asing yang kukenali hatinya, juga wanita tak asing yang memang adalah bagian nyata dalam kehidupanku di dunia. Keduanya seperti cermin yang membuatku linglung setengah mati demi memahami yang mana keaslian dunia ini. Keduanya yang tanpa kuminta telah menjejalkan bekal beserta ketulusan di dalam saku yang lagi-lagi membuatku hampir kehilangan separo kewarasan tersisa untuk memahami yang mana sebenarnya keaslian dunia ini. Kasur yang tengah kutiduri, atau tempat asing itu.

Senin, 14 Agustus 2017

Keajaiban Selanjutnya

Juli telah berlalu setelah berhasil memutar banyak angka penuh makna. Agustus datang dan telah beranjak hingga separo perjalanan. Dan aku bahkan belum menandakan dalam satu judulpun di bulan ini. Entahlah, setiap kali aku ingin mulai untuk menulis, sesuatu seakan membisiki telinga hatiku, "Tidak saat ini." aku bisa apa memangnya ? Sementara memaksa tidak apa pernah menghasilkan apa-apa. Otakku sepertinya tengah dalam upaya istirahat untuk mendeskripsi. Ia bahkan tak membiarkanku untuk berpujangga seperti sebelum-sebelumnya. Keresahan bukannya tidak ada, dia selalu nampak tapi dalam kondisi yang tersamar acak. Dan seperti biasanya, aku selalu sulit untuk bisa menangkap garis merah dari sinyal yang samar dan lemah. Jadilah dalam separo bulan ini, kuhabiskan apapun dengan cara menikmati. Seperti pula negeri ini, aku pun memiliki cerita spesial di bulan ini. Semua orang tahu, sebuah klimaks akan sesuatu yang kusebut penyiksaan diri paling elegan telah terjadi di angka dalam separo bulan ini. Agustus dengan banyaknya rentetan cerita, dan aku terlalu bingung untuk memulainya dari mana. Ari akan menabokku keras-keras jika tahu aku menjadikannya lagi sebagai intisari dari tema kali ini. Aku telah lama mencium aroma keengganan darinya jika menyangkut hal-hal yang berbau puitis dan dramatis. Tapi memang selama ini tulisanku berbumbu seperti itu ? Rasanya tidak, kan ? Entahlah. Tapi keengganan itu tak pernah mau beranjak dari perkiraanku. Mungkin karena aku berekspetasi terlalu tinggi, berharap Ari pun akan bersedia membalas kekagumannya pada diriku dengan cara yang sama, yakni menuangkan dalam ujud cerita. Aku telah salah paham kepadanya untuk angan yang satu itu. Karena Ari adalah Ari. Sebuah nama yang tak akan bisa bersanding dengan kata-kata romantis dan juga bunga. Sebuah nama yang terlalu sulit untuk bersanding dengan cinta. Tapi Ari selalu ada, dan menjaga.
.
Berbicara mengenai Ari akan sulit jika tidak menyinggung keturunannya. Cetak biru dari Ari yang selalu bisa membuatku menggelengkan kepala. Sebuah nama yang dalam satu tahun terakhir telah mematenkan diri untuk menjadi sebuah tema yang konsisten hilir mudir di tempat ini. Hara. Ketika manusia-manusia lain menyambut semburat keemasan di ufuk timur sana dengan berbagai usaha dan perjuangan. Maka aku akan di sibukkan dengan cara yang lain. Yakni mencintai. Aku sibuk mengagumi bayi mungil yang tengah beranjak menjadi gadis kecil milikku. Cetak biru Ari yang begitu cantik dan menggemaskan. Hari-hari terlalui bersamanya dengan sangat menggembirakan. Setiap keajaiban akan jatuh bersamaan dengan gerak-gerik dan tutur kata yang keluar dari mulutnya. Aku tidak sedang berandai dan melebihkan. Karena memang itu nyata adanya. Jiwaku telah terbelah menjadi dua semenjak ia ada. Tapi aku baru benar-benar menyadarinya beberapa waktu belakangan ini. Rasa sakit seperti tercabik saat dulu harus melahirkannya telah terhapus secara perlahan dari ingatan. Waktu bergulir dengan sangat cepat dan Hara adalah sebuah keajaiban. Hadiah terbesar yang pernah kuterima selama keberadaanku di dunia. Ia membuatku berhenti menginginkan. Namun alih-alih membuatku mandek, ia justru membuatku berangan tentang masa depan. Sebuah masa dimana nanti disana yang ada hanyalah cinta. Aku akan memaksa Ari untuk kembali berpujangga, agar dunia tahu betapa menakjubkan perkembangan dari cetak birunya. Aku bahkan kembali berpikir untuk bisa menghadirkan lagi yang seperti Hara. Tentu saja aku akan rela, rela melewati masa tercabik itu lagi, rela membagi lagi jiwa yang hanya tinggal separo ini, rela menghabiskan waktu-waktu menuju tuaku untuk mengurus mereka. Apapun untuk keajaiban yang ke dua. Ari mungkin akan tertawa jika aku mengutarakan niat ini. Tapi tak apa, aku rela di tertawakan olehnya. Karena aku yakin Ari pun memendam niat yang sama, menciptakan keajaiban yang ke dua. Hanya dua. Karena mungkin aku tak akan sanggup lagi untuk membopong bahagia yang terlampau besar jika saja ada keajaiban yang ke tiga, ke empat dan seterusnya. Ari benaran akan menertawakanku setelah ini.
.
Dan untuk rumah ini, kepada pengikut yang hampir selalu ada untuk sekedar mampir atau mengagumi setiap keping sajian. Jangan bertanya kenapa aku tahu bahwa kalian ada. Cukup pahami ini, bahwa aku telah menghabiskan banyak cerita bahkan hampir separo dari satu keutuhan bulat yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku berbahagia ? Tentu saja. Rumah ini berperan penting dalam menjagaku agar tidak serta-merta menjadi gila. Endapan sampah yang kutuang tema demi tema adalah proses untuk menjagaku tetap bersih dan sehat. Ya, ketika manusia lain menjaga keduanya dengan cara mandi dan berolah raga, aku cukup dengan menulis. Penghematan besar-besaran bukan ? Kehadiranku di tempat ini mungkin akan semakin menjarang setiap waktunya. Karena seperti yang selalu kukatakan, aku tak bisa menghasilkan tulisan apa-apa ketika tengah berbahagia. Dan aku tengah mengantisipasi hal itu seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan Hara. Sekian.

Rabu, 26 Juli 2017

Dewa Kucing Dan Cacatnya

Aku adalah salah satu makhluk dengan cacat terbanyak di muka bumi ini. Jika manusia lain hidup dengan bertopang pada udara dan kinerja jantung juga paru-parunya, maka aku lain. Insting adalah penunjuk arah, langkah dan juga cara bernapasku. Orang lain akan melihat bahwa aku adalah manusia dengan senyum terpelit di dunia. Padahal tidak. Aku tidak pelit, hanya tidak bisa. Memiliki kemauan tapi tak bisa melakukannya.
.
Raut wajah adalah area yang sangat nyata untuk melihat suasana hati. Dan wajahku tak pernah lebih bisa menyembunyikan apapun yang insting bisikkan padaku. Ini adalah pernyataan lamaku, tapi kebenarannya tidak pernah kuragukan. Detik pertama aku melihat mata seseorang, aku akan bisa membaca akankah selanjutnya seseorang itu akan membawa dampak buruk atau baik. Aku membaca gelagat hanya dari tarian tangannya. Aku menangkap sinyal hanya dari lengkungan bibirnya. Dan mata, adalah sudut terfavoritku. Tak ada yang bisa menyembunyikan apapun disana, dariku.
.
Aku mungkin saja normal, seperti kalian, seperti manusia kebanyakan. Tapi cacatku membuat pengecualian. Aku memang berbeda. Bola mata, insting dan raut wajahku seketika akan bekerja sama dengan tingkat ketelitian yang super detail ketika mulai berhadapan dengan seseorang. Dan ketika sinyal mulai mengirim tanda negatif, maka disinilah pertaruhan di mulai. Cacatku mulai menunjukkan diri. Aku tidak ingin bereaksi, sama sekali tidak ingin menggubris apa yang insting mulai bisikkan padaku. Bukankah kita tidak bisa dengan begitu cepat mengambil keputusan untuk menilai seseorang hanya dari tatapan pertamanya ? Jatuh cinta pada pandangan pertama sering kudengar, tapi membenci pada pandangan pertama adalah sesuatu yang tak kusukai yang sialnya justru sering kualami. Cacat terbesarku selalu muncul secara tiba-tiba. Aku tak pernah bisa berpura-pura. Ketika insting mulai membisikkan tanda kurang baik, seketika wajahku akan bereaksi. Menarik keras otot-otot senyum di bibir. Bahkan otakpun akan terkena imbasnya dengan mulai melancarkan perkataan-perkataan dingin nan sarkastik. Aku membenci sisi cacat diriku. Aku kewalahan untuk menerapkan pada diri sendiri pernyataan bahwa manusia tak boleh menilai sebuah buku hanya dari sampulnya.
.
.
Seringnya, aku hanya bisa memaki diri sendiri. Memaki kenapa tak bisa berpura-pura. Menyembunyikan sedikit saja rasa tak suka dan menukarnya dengan seulas senyum. Aku menderita, karena bisikan-bisikan dari dalamku yang tak pernah mau menyumpal mulutnya.
.
Satu kenyataan yang tak bisa untuk kupungkiri hingga saat ini adalah, kenyataan bahwa instingku selalu membisikkan petunjuk-petunjuk yang hampir selalu benar. Ragaku seakan tidak di desain untuk kecewa. Karena ketika pandangan pertamanya saja berhasil mengirim tanda, petunjuk agar aku mempersiapkan diri selanjutnya.
.
.
Terkadang aku mulai berpikir, apa asyiknya hidup ini tanpa misteri ? Tidak semua manusia memiliki niat baik di dalam hatinya. Lalu kenapa ? Kenapa aku harus terburu-buru untuk tidak menyukai seseorang ? Dan kenapa pula aku harus terlahir dengan cacat besar di gendongan ?
.
Orang akan berpikir aku masuk dalam jajaran manusia-manusia normal. Padahal tidak. Selalu ada percakapan dan pertikaian di dalam kepalaku. Jika memungkinkan, bahkan bisa kupastikan ada sesuatu yang tengah berperang pula di dalamnya. Dan jika ternyata keinginan menjadi normal adalah hal sia-sia, maka keinginanku selanjutnya hanyalah satu. Aku ingin bisa berpura-pura. Dengan senyum dan mata berbinar yang tak pernah meninggalkan wajah. Aku ingin bisa berpura-pura. Dengan jalan terus mengabaikan apa yang insting selalu bisikkan padaku. Tak peduli kenyataan bahwa apa yang selalu ia tunjukkan adalah sebuah kebenaran. Karena aku bosan di cap sebagai pemurung, dan pemarah. Meski telah kusiasati dengan melaksanakan sebuah jurus jitu yakni menjadi pendiam, tetap saja tak ada yang bisa menutupi perasaan apapun pada reaksi raut wajah. Akankah ini keinginan normal ? Kenapa kata normal mendadak menjadi ambigu setelah catatan ini hampir menyentuh akhir ? Wajarkah jika aku mulai berkata bahwa aku adalah manusia separo dewa ? Bukankah dewa tak memiliki kepintaran untuk menyembunyikan kenyataan ? Lalu bagaimana jika ternyata aku ini manusia separo kucing, karena setelah kuingat-ingat, kucingpun hampir memiliki kemiripan yang sama dengan cacat besarku. Ia akan menatap bengis pada apapun yang kiranya ingin mengacau harinya. Ia akan berlari dalam pelukan begitu sang majikan menebar aura positif dan menyenangkan. Insting kah yang menuntun hidupnya ? Atau sesuatu yang lain ? Aku harap kali ini aku memiliki cukup kewarasan untuk mengakhiri paragraf ini. Termasuk ketika harus mengakui bahwa ada kemungkinan aku adalah manusia dengan darah separo dewa kucing yang pada masanya dulu memiliki kemampuan untuk meraba dan melihat aura. Ouh..pernyataan yang terlalu mengerikan sepertinya. Tapi aku menyukai pemikiran tentang kemungkinan itu. Sekian.

Selasa, 25 Juli 2017

Kado Yang Terlambat Datang

Dua tahun. Bukan lagi satu tahun sekian bulan, atau dua tahun kurang beberapa minggu. Tapi ini benaran dua yang utuh. Dan sepertinya aku telah sedikit menemukan kendali atas diriku kali ini. Tidak bermaksud sengaja memperpanjang kesabaran Ari hingga angka dua itu benar-benar utuh, tapi kemungkinan aku yang lelah untuk terus menentang.
.
Sinar temaram yang terus menerangi hari pernikahan kami, mendadak mendapat pasokan energinya secara tiba-tiba. Seperti separo gelas sirup yang terdesak oleh bongkahan es batu besar-besar. Dahagaku terpuaskan dalam umur kedua yang masih dikategorikan muda. Entah siapa yang memulai, tapi aroma rumah ini tak lagi seberingas ketika keberadaan Ari baru memasuki hitungan minggu dan bulan. Panas yang dulu terbakar pada malam pertama kedatangannya kian membara setiap harinya. Terus memuncak hingga kemudian angka dua menemukan keutuhannya. Tak ada lagi panas yang menyengat, yang ada tinggal bara yang menghangat. Dan aku menyukai itu.
.
Entah apa alasan di balik semua ini, tapi Ari terlihat lunak dan semakin manis akhir-akhir ini. Dan si kepala batu ini pun sepertinya tengah dalam separo jalan mengikis keras dirinya. Apalagi yang lebih membahagiakan ketimbang dua manusia yang tengah berusaha melunakkan diri agar lebih bisa saling terikat ? Dan Ari adalah pemenang. Bersamanya membuatku kembali ingin bermimpi, bersamanya membuatku tak lagi ngeri untuk berangan. Ari tak hanya membuatku terbang, tapi juga menumbuhkan sayap-sayap di punggung agar kelak aku bisa terbang tanpa bantuan.
.
.
Bukankah akan selalu ada cuaca cerah setelah badai menerjang ? Dan masa kritis momen romantisku berada pada dua ambang bulan. Yakni pada urutan ke tujuh dan ke delapan. Agustus adalah akhir. Berhentinya cerita cinta yang bahkan tak sampai di ujung lidah. Garis semu yang hampir saja kutapaki dengan membabi buta dan menghalalkan segala cara. Tapi bebarengan dengan momen sesakral tujuhbelasan, telah kutelan semua rasa cinta, kagum, sedih, kecewa dan berharap semuanya akan menjadi sampah dan berakhir di tempat dimana kotoran seharusnya berada. Mungkin ini telat untuk di ungkapkan. Tapi aku menyukai momen di mana aku merasa teriris hanya karena melihat sebuah nama bersanding dengan kekasihnya. Aku menyukai momen di mana Ari ada dan datang di saat yang tepat dan tak terduga. Bukan datang, tapi aku yang meminta lebih tepatnya. Tuhan membuatku menyadari tujuan-Nya setelah dua tahun berlalu. Ari bukanlah sebuah kebetulan yang menjadi nyata. Hari dimana aku memintanya untuk menemani duniaku adalah insting pertama yang berhasil kuraba untuk mengobati patah hati yang akan datang beberapa hari ke depan. Bahkan aku sudah bisa lebih peka dengan tidak secara sengaja menyentuh pintu instingku. Tapi ternyata tidaklah segampang itu, dibutuhkan angka dua yang utuh untuk menyadari bahwa keberadaan Ari bukanlah penambal dinding hatiku yang koyak. Ari tidak berfungsi dan tidak di desain untuk seperti itu. Ari adalah setebal namanya. Menjadikanku memilih di antara dua. Membiarkanku menjadi godam yang kelak menghancurkan kerasku sendiri. Ari dengan cara uniknya menunjukkan bahwa ia berharga. Dan aku menyukai itu.
.
.
.
Tiga, dan akan ada empat, lima, tujuh, dan seterusnya. Bersama Ari membuatku kembali berani menarikan lidah dan mengucap kata-kata berpemanis lebih. Sekalipun ia dan bahkan aku adalah makhluk fana, tapi dalam kesemuan yang membingungkan ini, aku ingin menjadi sebuah pasti bagi langkah-langkah Ari. Sebuah pasti yang di harapkan bisa menghentikan langkah ragu dan gundahnya. Aku ingin menjadi jawaban untuk Ari. Bagi semua pertanyaan yang terus membelit di sepanjang perjalanan hidupnya. Namun jika semua itu terlalu muluk dan berat untuk terlaksanakan, maka sebuah harapan tersingkat adalah keinginanku untuk membuatnya bahagia sekalipun aku tak memberikannya apa-apa. Aku telah menyerah untuk menjadi diriku yang sekeras batu. Aku ingin terus kembali melunakkan diri agar bisa setidaknya menyamai kelenturan Ari. Agar ketika raga kami berpelukan, tak ada sesuatu apapun lagi yang menghalangi dan mengganjal.
.
.
Hari jadi kami yang kedua bergulir begitu saja tanpa terucap banyak keinginan muluk. Merayakan tidak ada dalam daftar pernikahan kami sepertinya. Dua makhluk kaku yang tak pernah tahu bagaimana cara menghormati sebuah tanggal. Dan kado dariku selamanya tak akan berubah menjadi sesuatu yang layak di makan. Karena memang aku tak pernah memberi apa-apa. Dan hanya kata. Pengakuan bahwa aku telah bahagia. Pengakuan bahwa aku telah berhenti menganggap kedatangan Ari adalah sebuah kebetulan yang tidak di sengaja. Pengakuan bahwa aku merasa telah dalam separo jalan mengikis diri. Pengakuan bahwa aku tak lagi menginginkan apapun hal di dunia kecuali bersama dan melihat keluarga kami bahagia. Pengakuan bahwa mungkin, keluarga kami telah dalam separo tangga jalan menuju keluarga terharmonis sedunia.
.
Apalagi yang perlu kucari lagi setelah ini ? Ari memuat segala syarat untuk menuju bahagia. Dan dia adalah milikku. Hanya milikku.

Minggu, 23 Juli 2017

Kipas Angin Tanpa Baling

Kita bukan lagi sebuah kawanan. Yang berkerumun dan berkelana mencari makan. Kita bukan lagi dua orang teman. Yang saling mengganggu dan bertukar pikiran. Dulu kita pernah saling memimpikan untuk mendiami rumah yang sama, melahapi putaran jarum jam dengan aktivitas yang sama pula. Tak apa, karena memang sejalan bukan berati harus terus bergandengan.
.
Mata adalah penyebab dari semuanya. Jika milikku melihat jalanan kita adalah semak belukar, maka matanya justru menangkap bahwa itu adalah aspal mulus tanpa sedikitpun hambatan. Bola kecil putih dengan lingkaran hitam di dalamnya tak sanggup untuk saling bergandengan. Untuk itulah kenapa jarak ini harus ada.
Tapi tak apa, bukankah bersama tidak harus selalu selamanya ?
.
Mesra adalah salah satu kata yang sangat tepat untuk menggambarkan betapa lekatnya kedekatan kita. Tak ada satupun borok milikmu yang tak kuketahui dan kutertawakan tanpa adanya ampunan. Begitupun sebaliknya. Tapi kini, engkau lebih memilih untuk selangkah lebih erat pada pelukan sunyi. Sementara aku telah mendapatkan pengganti. Siapa yang salah ? Tak ada. Dan memang sekali lagi, tak apa. Jalan hidup seseorang tak ada yang akan tahu, seberapa kuatpun kita pernah saling terikat, akan ada saat dimana semuanya terasa lengang dan menghambar. Tak terkecuali untuk hubungan kita ini.
.
Kalimat-kalimat yang kutulis malam ini, tak pernah berarti apa-apa, hingga rasa itu kemudian datang. Tak apa kawan, tak apa jika kita tak lagi harus sejalan. Tak apa jika kita tak lagi bisa bergandengan tangan. Teruslah berjalan seperti jarum jam yang tak rusak. Teruslah berputar seperti kipas angin yang tak rusak. Ada satu kalimat yang perlu ku ralat pada paragraf di atas. Aku tidak tengah dalam keadaan telah menemukan pengganti. Ariku tidak berfungsi seperti itu, karena memang..seperti kaus kaki, Ari adalah kaus kaki untuk kaki kiri, yang memang di tempatkan di sana dan bertugas menghangatkan daerah kiri. Dan engkau tak lain adalah kaus kaki untuk sebelah kanan. Tak ada yang salah bukan ? Kerenggangan kita jelas meninggalkan lubang. Aku bisa saja memindah kaus kaki sebelah kiri untuk menghangatkan kaki kananku, tak ada yang tak akan tahu, tapi bukankah kenyamanan tak bisa di manipulasi dan di paksakan ? Tak apa jika aku harus melanjutkan hidup dengan hanya satu kaus kaki. Tak apa, selama kepergianmu adalah demi menemukan kaki yang tengah kedinginan. Tak apa, selama kepergianmu bukan dalam rangka menuju kesunyian yang lebih pekat. Karena seperti yang dulu pernah kukatakan selagi kita masih mesra. Bahwa bahagiamu adalah milikku juga.
.
Rumah itu tak pernah ada, bahkan ketika kini aku telah memiliki segudang uang untuk membangunnya. Rumah impian, dimana kita akan selalu bersama, menempatkan meja dan sofa pun bersama, bahkan membersihkan remah pecahan piring pun akan sama-sama juga. Rumah itu tak pernah ada bahkan ketika engkau memiliki sepetak luas tanah yang lebih dari cukup untuk menjadi alas bagi rumah impian kita. Karena memang tak ada satupun mata manusia yang tercipta sama dengan manusia yang lain. Tak peduli semirip apapun mereka, akan ada celah yang membedakan, yang memisahkan.
.
.
.
Tak apa kawan, jika kita bukan lagi sebuah kawanan. Bukankah makanan kita tetap sama ? Dan lihatlah, ada ribuan petak ladang di sepanjang mata kita memandang. Mungkin, suatu hari nanti. Mungkin, entah di petak ladang yang mana, kita akan kembali di pertemukan. Kita akan kembali bisa berjalan bersisian. Dan saat hari itu datang, mungkin tak akan ada lagi kemesraan sehangat yang dulu pernah kita ciptakan. Tak ada lagi rumah impian. Tapi mungkin akan ada bara lain yang akan saling kembali menghangatkan. Membakar bongkahan es yang terlanjur memalung semenjak hari kerenggangan kita.
.
Teruslah berjalan kawan. Seperti jarum jam yang tak rusak. Sekalipun tak pernah ada kata selamat tinggal yang kita ucapkan, jangan bersedih untuk alasan di balik itu. Karena memang, sejalan tak berati harus selalu bergandengan. Berhenti terus mempererat dekapanmu kepada sunyi. Karena itu hanya akan memperlambat waktu kembalinya kita untuk saling bertemu di ladang entah mana. Kenapa aku begitu percaya diri dengan mengatakan bahwa kita akan saling bertemu ? Karena kita pernah terikat. Karena keberadaanmu pernah menghangatkan salah satu bagian tubuhku. Karena rasa nyaman itu pernah ada. Untuk itu janganlah terlalu erat dalam memeluk sunyi yang kian memekat. Lihat aku, sangat jelas mataku memendam lubang. Jejak hilang yang kau tinggalkan karena kerenggangan. Tapi aku tak pernah beralih dan bermuram lalu membabi buta mengarahkan pedang. Ari bukanlah alasan kawan. Ari bukanlah satu-satunya yang bersalah. Waktu telah mengatur dirinya sedemikian rupa. Lihatlah aku, tentu saja aku merasakan kehilangan. Tanpamu, aku seperti kipas angin yang kehilangan baling-baling. Tapi ketahuilah, bahagia tak datang hanya dari satu arah saja. Dan aku tak pernah pergi kemana-mana. Pesanku kali ini kawan. Berhenti mencari maka kau akan menemukan.

Jumat, 14 Juli 2017

Melepas Jabatan

Mungkin ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk bertemu dan berbicara. Setelah sekian lama, setelah sekian banyak luka menganga, masihkah engkau bernafsu untuk menjabat tanganku lagi ? Masihkah aku semenggiurkan itu untuk kau rangkul ?
.
Aku bahkan tak tahu harus memanggilmu sebagai apa, dan memperlakukanmu sebagai siapa. Keberadaanmu tak pernah lebih jauh dari selebaran jengkalan tangan. Mengikuti seperti bayangan hitam. Dan seperti juga ia, maka kita pun terkadang menyatu ketika terik tepat berada di atas kepala. Engkau sama sekali tak terlihat, atau justru aku yang menghilang, tak lagi jelas semua hanyalah samar.
.
Kali pertama aku mengenalimu, kukira engkau adalah sesosok kawan. Karena memang semua yang membuatku merasa nyaman, telah berhasil engkau menangkan. Lalu kemudian aku menyadari bahwa sosokmu tak lebih dari sebongkah bara yang terkadang berubah ujud menjadi monster mengerikan. Aku memelihara satu monster di dalam raga, dan hingga kini aku masih sering linglung untuk membedakan yang mana ucapanku dan yang mana aumannya.
.
Tidak hanya sekali aku melukai, bahkan tidak hanya Ari, semua yang pernah beririsan denganku bisa dipastikan akan merasakan seperti apa bara panas yang ku luapkan. Dua puluhlima tahun, atau mungkin lebih. Dan ini adalah kali pertama aku merasa kewalahan. Aku kalah untuk bisa menjadi pemegang tali kekang monster yang kupelihara sendiri. Aku tak hanya melukai, tapi juga mulai menyakiti. Mangsaku tak mengenal batas. Dan seringnya aku hanya bisa meringis ketika cakaranku tepat mengenai raga orang yang ku sayang.
.
Orang akan dan selalu mengira bahwa aku sempurna. Aku memegang jiwa yang di puja juga di puji oleh kebanyakan manusia. Setiap tuturku menjadi lilin bagi mereka yang merasa tengah berada dalam jalan penuh kegelapan. Mereka tidak tahu, bahwa aku sebenarnya bukanlah keturunan dewa. Aku tidak memiliki kecakapan apapun untuk bisa di sebut sebagai keturunannya. Sekalipun memang, aku selalu menjunjung Ayahku setara dengannya. Tapi, memang siapa yang tidak mengerti tentang garis miring pada nama Ayahku ?
.
Sekian lama, dan aku semakin merasa ragaku akan menjadi dua bagian yang terpisah dan berbeda. Aku menangis di saat tandukku mulai menggoresi siapapun yang berada di sekitaranku. Aku mulai berputus asa ketika cakarku mulai mengenai tak hanya raga tapi juga hati para nama-nama yang ku puja dan ku cinta.
.
.
Hari ini, kesabaranku telah menyentuh garis akhir. Hari ini, kesadaranku mulai menguap dan mengerjapkan mata. Tak seharusnya kupasrahkan tali kekang pada makhluk peliharaanku sendiri. Engkau tak seharusnya menapaki garis batas dan mengetes lebih kesabaranku. Aku telah berputus asa, karena terlalu lama membiarkan diri ini menelan kecewa, karena terlalu lama membiarkan diri ini berprasangka. Aku telah berputus asa, karena hampir saja atau mungkin telah dalam separo jalan membuat Ari terluka dan memaksanya harus memilih di antara dua. Andai bisa kubicarakan ini dengan gamblang. Bahwa selalu ada satu masa dimana aku akan merasa malu akan semua yang pernah kulakukan dan kuucapkan. Andai bisa ku jelaskan bahwa aku tak ingin membusuk bersama makhluk peliharaanku yang sialnya terlalu enggan untuk menjauhi raga ini. Dan kepada sebuah nama yang mendasari pernyataan ini tercipta. Ia menjadi perantara dan menjadi pintu bagi kedatanganku. Kata maaf mungkin tak akan berarti apa-apa, aku hanya ingin ia mengerti dengan siapa ia tengah berdiri, dan siapa pula yang telah ia ciptakan dari separo darah dan nyawanya.
.
.
.
Engkau telah melihat semuanya bukan ? Aku telah menjadi apa yang selama ini kau ingini, aku mengeraskan tak hanya kepala tapi juga hatiku, aku berprasangka, aku mulai menimbang demi bisa menemukan adanya ketimpangan, aku menekan kuat-kuat hulu retina agar tak menjatuhkan air beningnya, aku kecewa, dan aku selalu mengakui diri sebagai keturunan dewa. Apalagi yang perlu kujelaskan sekarang ? Namaku telah hancur dalam 5000 karakter kali ini. Tak ada si bijak yang akan menyalakan lilin ajaibnya. Tak ada si ceria yang tak pernah merasakan ketidak bahagiaan. Engkau puas sekarang ? Jadi kali ini, di kesempatan yang sesejuk ini, mari kita berjabat tangan. Jangan seperti pengecut yang akan selalu berdiri di belakang dan membuntutiku, memanfaatkan terik matahari untuk menyembunyikan diri atau justru membuatku menghilang. Jangan menjadi pengecut sayang, pandanglah diriku dan lihat betapa keputus asaan telah melenyapkan semuanya dari wajahku. Senyumku terasa menghambar, hanya karena air mata yang terlalu lama menggenang permukaan. Jadi sayang, bisakah kita saling melepaskan ? Aku lelah mengasuh sekaligus menjadi pengikutmu. Aku lelah mencari pemenangan yang seharusnya memang tak ada.
.
Ketika Hara besar nanti, aku ingin ia mengerti dan memahami bahwa Ibuny bukan sosok yang tepat untuk di idolai, aku merasa cacat untuk separo ragaku yang di tali kekang oleh musuhku. Musuh yang dulu ku anggap sebagai kawan, dan pernah pula kuangkat ia sebagai makhluk peliharaan yang ku elu dan ku sayang.

Rabu, 12 Juli 2017

Baret Dan Lebam

Tiga, mungkin empat, atau malah kita memang tidak pernah saling bertegur sapa ? Tapi baret dan luka itu terlihat nyata. Atau memang lagi-lagi aku mengalami sindrom yang bernama jatuh cinta sendiri ?
Yang aku tahu hari-hari bersamamu terlewati dengan begitu indahnya. Namamu tidak terlalu sulit untuk di sandingkan dengan cinta, karena memang kenyamanan yang kau tawarkan sebanding dengan seceruk sumber air di gurun sahara. Aku tidak tahu pastinya, gurun sahara itu memang eksis dalam peta dunia atau hanya ada dalam dongeng saja. Tapi tetap saja, namamu akan terlalu tinggi jika di paksa di pajang diujung hati. Namamu selalu di rindukan, begitu juga dengan kenakalan-kenakalanmu yang kadang berada di luar nalar. Kenapa aku bisa terjebak dalam permainan menyakitkanmu ? Ini bukan kiasan, aku memang merasakan sakit yang nyata ketika harus berada di dekatmu. Baret, memar adalah hal lumrah yang entah kenapa justru terasa lucu dan menggemaskan. Lagi-lagi aku curiga tengah menderita sindrom jatuh cinta sendiri. Bahayakah ? Tidak, karena hatiku sudah terlatih patah hati. Dan bukan hanya sekali aku pernah melewati masa-masa ini. Karena si cicak, si zebra, si tinta pernah berada di dalamnya.
.
.
Dear si pemilik nama pada abjad kedua, bersamamu membangkitkan lagi jiwa patriot yang selalu tumbuh dalam jiwa manusia-manusia terlalu muda. Aku tertawa. Aku melupakan dunia. Aku sakit. Aku terluka. Dan aku bahagia. Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, namamu tak akan terlalu sulit untuk bersanding dengan cinta, terlebih rindu, karena jujur saja kepalaku masih memutar ingatan tentang bagaimana baret dan semua lebam itu tercipta. Aku merindukan masa dimana aku bisa melupakan dunia, lalu menangis dan kemudian tertawa. Paket komplit yang jarang di suguhkan oleh siapapun nama di dunia. Hanya rindu saja, karena aku tidak bisa membayangkan lebih tentang apa yang akan terjadi jika memang benar-benar ada cinta di antara kita. Dua manusia dengan kenakalan di ambang batas, yang memiliki hobi sama yakni menggoreskan baret dan lebam di tubuh manusia. Dan cinta ? Siapa dia ?
.
.
Aku tidak pernah tahu jika namamu akan sesulit ini untuk ku bahasakan. Lihat ? Aku tak menghasilkan apa-apa selain paragraf konyol ini. Tujuh, hampir tujuh mungkin, namamu hilir mudik dalam padatnya lalu lintas kepalaku dalam jangkauan tahun tersebut. Tidak layakkah jika kerinduanku di golongkan pada nama cinta ? Tapi untuk apa ? Di jadikan pajangan, bahwa aku si konyol ini ternyata memiliki nama idaman untuk yang kesekian ? Hubungan ini telah lama berakhir sebenarnya. Sama sekali murni berakhir tanpa terselip nama cinta yang terbawa ke masa mendatang. Tapi aku tak bisa berhenti untuk ingin mengetahui, siapa sebenarnya si pemenang itu, sudah adakah ? Atau mungkin kau homo ? Jenis seperti apakah yang berhasil menaklukkan makhluk sepertimu ? Berapa beruntungnya ia, atau mungkin kesialan baginya ? Karena mendapatkan makhluk sepertimu ?
.
Tenang kawan. Sekalipun kita tak pernah lagi saling bicara. Sekalipun bahasa terakrab yang pernah mengikat kita hanyalah baret dan lebam menggemaskan itu, aku mengerti siapa dirimu. Aku pernah terpesona dan hampir ingin membuntuti kehidupan pribadimu. Apa aku terdeteksi tengah jatuh cinta ? Hampir dan itu semua sudah berlalu bukan ?
.
Namamu tak pernah cocok untuk di sandingkan dengan kata suami idaman. Tapi percayalah, namamu akan sangat tepat jika disandingkan dengan kata sahabat. Aku bahkan akan rela jika harus menukar semua temanku demi seorang kau untuk menemani di sepanjang masa tuaku. Tak apa jika harus kudapati lagi baret dan lebam menggemaskan itu, keduanya tak akan sebanding jika harus kutukar dengan kenikmatan akan kenyataan bahwa aku bisa melupakan dunia di masa-masa senja yang erat dengan kepasrahan. Denganmu kutemukan semangat hidup yang terus menggebu dan meminta peluapan. Enam, atau mungkin tujuh. Berapa lama sebenarnya kita telah terpisah ? Kenapa baret itu masih begitu nyata ? Aku mungkin gila, atau mungkin salah satu kenakalanmu di masa lalu telah melengserkan sedikit kewarasanku. Kenyamanan bukankah sesuatu yang tak bisa di buat dan di paksa ? Dan kenyataan bahwa namamu dan namaku pernah menjadi selengket bekas permen karet yang menempel di antara semak rambut, sedikit membuatku tercengang. Kenapa kita hanya harus bertemu dalam waktu yang berkurun sedikit itu ? Kenapa kita harus menemui kata perpisahan ? Bukankah kata satu itu tak layak bersanding dengan manusia yang sanggup melupakan apa itu dunia ? Tak apa, sama sekali tak apa jika hitungan itu hanya sampai pada angka tujuh atau enam. Karena pada kenyataannya. Kita hidup dalam memori masing-masing bak memori usang selama bertahun-tahun setelahnya. Apa aku terlalu percaya diri dengan mengatakan bayanganku pun masih hidup dalam kepalamu sampai sekarang ? Bukankah sudah kukatakan bahwa aku mengenalmu ? Aku melihatmu, dan membaca matamu. Jika baret dan lebam saja tak sungkan untuk kau toreh di atas tubuhku, kenapa tidak dengan cerita tentang siapa dirimu. Sekian.