Manusia separo ranger. Apa kiranya hal yang muncul ketika kalian menemeui kalimat satu itu ? Apakah aku ? Sedikit mengejutkan, tapi aku pun berpikir bahwa itu adalah aku. Atau mungkin lebih tepatnya pernah berpikir bahwa itu adalah diriku.
.
Waktu telah berlalu dengan begitu cepatnya, waktu mengguyur kehausanku akan ketenaran yang sepantasnya dimiliki oleh kaum-kaum yang unik dan berbakat. Sementara aku, namaku hanya cocok di sandingkan dengan kata unik semata, tidak dengan berbakatnya. Sekian tahun lalu, ketika darahku masih mengangkut serta bara api di dalamnya, ketika aku melihat angkasa berada dalam jangkauan lima buah tangga yang disatukan, ketika semua masih ternilai dalam nominal, ketika sosok yang mengencerkan kental darah manusiaku dengan darah rangernya masih berdiri ada. Saat itu aku adalah seonggok daging yang begitu kokoh, hampir menyentuh sombong. Aku berteriak, aku memaki, dan aku mengeluh. Tiga hal yang dewasa ini secara mati-matian tengah kutekan agar tak sampai lolos keluar dari kerongkongan. Ayahku, si ranger langka itu, menempaku tidak seperti kebanyakan orangtua dalam mengasuh anaknya. Ia dengan caranya sendiri membuatku begitu kokoh, kuat dan dewasa, dewasa dalam artian yang kutahu pada umurku saat itu tentu saja. Aku masih ingat bagaimana masa itu benar-benar sebuah perjuangan yang teramat keras. Aku hampir saja keluar rumah jika saja sesuatu di dalamku tidak dengan sabar menyirami kepala mendidihku dengan banyak nasehat. Tiada hari yang terlewati tanpa adanya makian dm umpatan yang terus merangsek mencoba keluar dari tenggorokan. Jika saja di dalam kepalaku terdapat dua tangan, aku yakin mereka akan saling baku hantam dan merobek kepalaku dengan segera. Masalah remaja tak akan pernah ada habisnya. Dan si ranger yang kelak menjadi paracetamolku, mendinginkan segalanya hingga titik teraman, menyumbangkan pula sekian persen dari seluruh 'permasalahan remaja' yang tengah menimpaku saat itu. Ranger itu membisikkan kutukan sekaligus menyanyikan lulaby secara bersamaan dalam tempo singkat hidupnya. Membuatku akhirnya menyadari bahwa mungkin aku tidak akan tercipta untuk menjadi manusia biasa-biasa saja. Hari itu mataku terbuka dan segera mengetahui bahwa ternyata sosok pembuat sekaligus yang selama ini menuntunku adalah seorang ranger. Bersamaan dengan itu pula ayah mengakhiri perjalanannya didunia. Aku sempat menyimpan curiga kalau ini memang skenario yang telah di sepakati oleh alam, bahwasanya kontrak hidupnya akan berakhir tepat ketika kesadaranku terbangun dari masa lupanya. Dan perpisahan memang selalu berbaik hati menyisipkan pelajaran pada mereka yang ditinggalkan. Aku manusia separo ranger yang berbahagia saat itu, bagaimana tidak, kokohnya diriku, pemikiran (sok) bijak yang kupetik dari setiap langkah ayahku berhasil kuadopsi dengan begitu sempurna. Perlahan namun pasti, aku menemukan banyak mata yang menatap memuja untuk setiap butir kata yang kumuntahkan. Sedikit menjijikan memang, tapi kala itu aku begitu menikmati setiap puja-puji yang terlontar. Aku yang semula mengira hanya remaja kebanyakan, dalam sekejap mata mengetahui ternyata dirinya teraliri darah ranger. Aku pun seketika lupa, bahwa namaku mengandung arti yang tak secara sembarangan di rangkai orangtuaku, tak lain dan tak bukan adalah demi mengingatkanku. Bukankah tak ada tanah yang bisa mengotori hamparan kapas langit ?
.
Hari keruntuhanku pun tiba. Bukan tanpa permisi sebenarnya. Perlu dua nama dan dua tahun untuk melakukannya. Ari dan Hara. Dua yang menjebol eratnya perisai yang terbentuk dari darah rangerku. Dan untungnya menyisakan kenormalan melegakan yang belakangan ini kusyukuri keberadaannya. Ari begitu mengerti siapa aku, seperti apa warna dan seberapa kental cairan darahku. Dia begitu paham seberapa banyak bekal yang di jejalkan ayahku ke dalam kantong saku milikku. Kekokohan yang sepantasnya dimiliki oleh kaum lelaki, dan kekuatan yang seyogianya dikuasai oleh para tetua di atasku. Aku menguasai keduanya dan pemikiran yang terus mendominasi karena efek samping keduanya adalah bahwa aku tak pernah membutuhkan siapa-siapa. Darah rangerku sudah lebih dari cukup untuk menopang kehidupanku. Dan kelembutan Ari, ketelatenannya dalam menghadapi, kesabarannya dalam menuntun dan mengiringi, serta ketidaksudiannya untuk mengungguli, berhasil melumpuhkan titik terpuncakku. Secara perlahan, keberadaan Ari dan keajaiban yang datang silih berganti semenjak kelahiran Hara, berhasil melelehkan separo isi kepalaku. Manusia separo ranger ini berhasil menguasai jiwa manusianya sepenuhnya. Manusia berdarah separo ranger ini menyadari bahwa tanah tak seharusnya berserakan di atas langit sana. Ia harus menapak di bumi karena memang disanalah tempat seharusnya. Tak ada lagi puji-puja, tak ada lagi tatapan memangsa. Kini yang tersisa hanyalah tatapan penuh takjub milikku karena menyadari telah memiliki dua darah mengagumkan yang berpotensi menghasilkan cerita yang lebih sempurna ketimbang cerita tentang manusia berdarah ranger.
Sabtu, 28 Oktober 2017
Rabu, 25 Oktober 2017
Hubungan Lucu
Baru saja beberapa waktu lalu aku berkata bahwa aku bisa menghasilkan tulisan hanya jika tengah berduka saja. Tapi nyatanya sekarang disinilah aku, terdampar dalam paragraf bersama seseorang yang tak kuketahui nama lengkapnya. Kesedihan itu ada, tapi berada ditempat lain, dalam relung tersembunyi dan sedang tak ingin kubagi-bagi.
.
Dia bukan siapa-siapa, hanya sebuah nama yang secara kebetulan mampir dalam secuil waktu bernapasku. Sebuah nama yang secara sukarela mau untuk kubebani segala tetek bengek tentang mimpi. Sebuah nama yang mau untuk berbagi semua borok diri. Aku selalu merasa telanjang ketika tengah bersamanya. Bahkan lebih dari itu. Membeberkan segala rasa tanpa sedikitpun tameng aling-aling, bukankah itu lebih memalukan ketimbang hanya berpolos diri tanpa mengenakan apa-apa ? Ya, dan aku selalu melakukan itu di depannya. Rasanya sungguh melegakan sekali ketika kita memiliki telinga yang dapat menampung segala macam perbendaharaan kata tanpa perlu repot menyaring dan memilah dulu. Dan bersamanya, borok hidup yang selama sekian tahun kubekap dan kututup rapat, satu persatu mulai menunjukkan diri. Sungguh aku tak pernah tahu sebelumnya bahwa ternyata melelehkan dosa akan segampang dan seenak ini.
.
.
Kami bukanlah dua sahabat manis seperti yang mungkin tertangkap mata kalian. Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, bahwa dia bukanlah siapa-siapa. Hanya sebuah nama yang secara tak sengaja terangkut perjalanan darah dalam memompa detak nadi. Kami bertemu karena sebuah mimpi. Kami di pertemukan karena adanya banyak persamaan mengikat. Tapi kemudian mimpiku membeku, dan ya, aku manusia normal, yang otaknya akan secara aktif memproduksi mimpi-mimpi lain ketika mendapati mimpi beku di dalam kepala. Mimpi beku tak ubahnya seperti sampah yang harus menemukan peristirahatan sewajarnya. Mimpi beku tak lain adalah memori bertanda kutip yang perlu untuk dikemas dan diselotip ganda. Mimpi yang dulu menyatukan
aku dan si nama itu perlahan menemui garis akhir. Dan aku berpikir akan terselesaikan juga ikatan yang pernah kami ikat bersama. Tapi nyatanya tidak. Sekalipun tidak seerat pada mulanya, tapi ia dengan muka badaknya berhasil menembus teritoriku. Mengelabui si manusia "sok cool" ini hingga tanpa menyisakan ampas. Ya. Kegigihannya untuk menyambung tali bersamaku melupakan tentang siapa sebenarnya aku dan siapa sebenarnya dia. Dunianya yang seringnya gagal untuk kupahami, dan duniaku yang selalu kupamerkan dengan tujuan untuk membuatnya iri. Selalu mulus dalam menjembatani ikatan ini. Dan dalam relung entah dimana, satu jawaban muncul kepadanya yang selalu menggadang bahwa ia akan bertahan bersamaku selamanya. Aku jelas sama sekali tak percaya kata selamanya, apa yang akan ia harapkan lagi ? Dan satu kenyataan yang tak berani kubagi dengannya adalah bahwa entah pada mimpinya yang mana dan yang keberapa nanti, aku yakin mimpinya itu akan secara perlahan mengurai ikatan kami, memisahkan dan membuat jarak itu ada sekaligus nyata. Ia selalu berkata dan seakan percaya pada kata selamanya. Tapi memangnya siapa aku ? Siapa dia ? Teman ? Bukan. Saudara ? Bukan. Pacar gelap ? Bukan. Lalu tali mana lagi yang akan sanggup menyelamatkan ikatan ini ? Mungkin kegilaan adalah satu-satunya jawaban yang hampir mendekati kata tepat sepenuhnya.
.
Kami, dua wanita dewasa yang siang ini menyentuh kata tentang kematian segampang mengaduk gula pasir dalam secangkir teh panas. Ternyata tak memiliki hubungan apa-apa sebenarnya. Dia bukan siapa-siapa bagiku, dan aku harap dirinya pun menempatkanku diposisi sama sepertiku menempatkannya. Aku tak berani menaikkan keberadaannya pada posisi yang lebih tinggi, karena sebenarnya hanya dengan satu langkah lagi dia melangkah, posisi vital lah yang tengah menunggunya untuk di tempati. Dan posisi itu tak akan pernah tertempati, karena memang jarak itu ada dan nyata. Keberadaannya yang selalu tepat mengisi kenyamananku selama sekian waktu tak pelak menghadirkan tanya yang tak pernah termuntahkan dari bibir, mungkinkah makhluk ini benaran nyata ? Mungkinkah kakinya berjalan menapak dan bukan mengambang ?
.
.
Dia hanyalah nama yang secara kebetulan terisap masuk dalam rotasi yang terbentuk di sekeliling hidupku, makhluk yang berdiam di penghujung Sumatera sana. Yang kebetulan lagi disanalah salah satu tempat yang masuk dalam daftar kunjungku meski sekali dalam hidup. Dan ya, kami perlu bertemu secara nyata suatu hari nanti, entah untuk memastikan bahwa kakinya menapak atau tidak, entah untuk menyaksikan bahwa tanah kediamannya memang seapik yang pernah kubaca dan kudengar atau mungkin alasan yang lain. Hanya saja yang pasti. Aku akan memantrai jalan hidupnya agar tetap mulus dan tanpa hambatan, hingga akhirnya ia memiliki peluang untuk menemuiku hanya demi saling memastikan borok dan dosa yang pernah terucap tak tersebar dan tersimpan aman. Catatan kali ini hanya untuk memastikannya tetap sadar dan ingat bahwa aku ada. Dan betapa hubungan tanpa nama ini ternyata menguntungkan dan membahagiakan.
.
Dia bukan siapa-siapa, hanya sebuah nama yang secara kebetulan mampir dalam secuil waktu bernapasku. Sebuah nama yang secara sukarela mau untuk kubebani segala tetek bengek tentang mimpi. Sebuah nama yang mau untuk berbagi semua borok diri. Aku selalu merasa telanjang ketika tengah bersamanya. Bahkan lebih dari itu. Membeberkan segala rasa tanpa sedikitpun tameng aling-aling, bukankah itu lebih memalukan ketimbang hanya berpolos diri tanpa mengenakan apa-apa ? Ya, dan aku selalu melakukan itu di depannya. Rasanya sungguh melegakan sekali ketika kita memiliki telinga yang dapat menampung segala macam perbendaharaan kata tanpa perlu repot menyaring dan memilah dulu. Dan bersamanya, borok hidup yang selama sekian tahun kubekap dan kututup rapat, satu persatu mulai menunjukkan diri. Sungguh aku tak pernah tahu sebelumnya bahwa ternyata melelehkan dosa akan segampang dan seenak ini.
.
.
Kami bukanlah dua sahabat manis seperti yang mungkin tertangkap mata kalian. Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, bahwa dia bukanlah siapa-siapa. Hanya sebuah nama yang secara tak sengaja terangkut perjalanan darah dalam memompa detak nadi. Kami bertemu karena sebuah mimpi. Kami di pertemukan karena adanya banyak persamaan mengikat. Tapi kemudian mimpiku membeku, dan ya, aku manusia normal, yang otaknya akan secara aktif memproduksi mimpi-mimpi lain ketika mendapati mimpi beku di dalam kepala. Mimpi beku tak ubahnya seperti sampah yang harus menemukan peristirahatan sewajarnya. Mimpi beku tak lain adalah memori bertanda kutip yang perlu untuk dikemas dan diselotip ganda. Mimpi yang dulu menyatukan
aku dan si nama itu perlahan menemui garis akhir. Dan aku berpikir akan terselesaikan juga ikatan yang pernah kami ikat bersama. Tapi nyatanya tidak. Sekalipun tidak seerat pada mulanya, tapi ia dengan muka badaknya berhasil menembus teritoriku. Mengelabui si manusia "sok cool" ini hingga tanpa menyisakan ampas. Ya. Kegigihannya untuk menyambung tali bersamaku melupakan tentang siapa sebenarnya aku dan siapa sebenarnya dia. Dunianya yang seringnya gagal untuk kupahami, dan duniaku yang selalu kupamerkan dengan tujuan untuk membuatnya iri. Selalu mulus dalam menjembatani ikatan ini. Dan dalam relung entah dimana, satu jawaban muncul kepadanya yang selalu menggadang bahwa ia akan bertahan bersamaku selamanya. Aku jelas sama sekali tak percaya kata selamanya, apa yang akan ia harapkan lagi ? Dan satu kenyataan yang tak berani kubagi dengannya adalah bahwa entah pada mimpinya yang mana dan yang keberapa nanti, aku yakin mimpinya itu akan secara perlahan mengurai ikatan kami, memisahkan dan membuat jarak itu ada sekaligus nyata. Ia selalu berkata dan seakan percaya pada kata selamanya. Tapi memangnya siapa aku ? Siapa dia ? Teman ? Bukan. Saudara ? Bukan. Pacar gelap ? Bukan. Lalu tali mana lagi yang akan sanggup menyelamatkan ikatan ini ? Mungkin kegilaan adalah satu-satunya jawaban yang hampir mendekati kata tepat sepenuhnya.
.
Kami, dua wanita dewasa yang siang ini menyentuh kata tentang kematian segampang mengaduk gula pasir dalam secangkir teh panas. Ternyata tak memiliki hubungan apa-apa sebenarnya. Dia bukan siapa-siapa bagiku, dan aku harap dirinya pun menempatkanku diposisi sama sepertiku menempatkannya. Aku tak berani menaikkan keberadaannya pada posisi yang lebih tinggi, karena sebenarnya hanya dengan satu langkah lagi dia melangkah, posisi vital lah yang tengah menunggunya untuk di tempati. Dan posisi itu tak akan pernah tertempati, karena memang jarak itu ada dan nyata. Keberadaannya yang selalu tepat mengisi kenyamananku selama sekian waktu tak pelak menghadirkan tanya yang tak pernah termuntahkan dari bibir, mungkinkah makhluk ini benaran nyata ? Mungkinkah kakinya berjalan menapak dan bukan mengambang ?
.
.
Dia hanyalah nama yang secara kebetulan terisap masuk dalam rotasi yang terbentuk di sekeliling hidupku, makhluk yang berdiam di penghujung Sumatera sana. Yang kebetulan lagi disanalah salah satu tempat yang masuk dalam daftar kunjungku meski sekali dalam hidup. Dan ya, kami perlu bertemu secara nyata suatu hari nanti, entah untuk memastikan bahwa kakinya menapak atau tidak, entah untuk menyaksikan bahwa tanah kediamannya memang seapik yang pernah kubaca dan kudengar atau mungkin alasan yang lain. Hanya saja yang pasti. Aku akan memantrai jalan hidupnya agar tetap mulus dan tanpa hambatan, hingga akhirnya ia memiliki peluang untuk menemuiku hanya demi saling memastikan borok dan dosa yang pernah terucap tak tersebar dan tersimpan aman. Catatan kali ini hanya untuk memastikannya tetap sadar dan ingat bahwa aku ada. Dan betapa hubungan tanpa nama ini ternyata menguntungkan dan membahagiakan.
Minggu, 08 Oktober 2017
Mantra Selanjutnya
Pesan singkat ini ada terkhusus untukmu yang pesat kembangnya selalu ku awasi dan begitu ku kagumi. Dan kau bisa memanggilku dengan nama ibu.
.
.
Awal dari semua ini jelas adalah sebuah perencanaan matang yang secara kebetulan di luluskan oleh Sang Pencipta. Ya, aku tak pernah begitu percaya bahwasanya doa adalah tak lain nama singkat dari mantra. Sampai kemudian hari itu datang. Bukan hari kedatanganmu yang kumaksudkan, tapi hari kesadaranku. Mantra tak lain adalah doa. Dan doa ialah mantra.
.
.
Suatu hari yang telah lalu, aku pernah bercita-cita untuk memiliki hanya satu lelaki di sepanjang hidupku yang singkat ini, kenapa di cita-citakan dan bukan di doakan ? Karena otakku mungkin tercipta lain, doa terhubung dengan Yang Maha Besar, sedangkan aku ini siapa ? Rasanya terlalu besar untuk meminta sesuatu kepada-NYA. Sementara di luaran sana, yang lebih segalanya dariku ada beribu bahkan milyaran beserta doa-doa yang terpangku di masing-masing kedua tangannya. Aku terlalu sadar diri untuk tidak semakin membebani-NYA dengan permintaan milikku yang begitu remeh dan tak berarti. Aku sengaja mendaftarkannya ke dalam cita-cita dengan niatan agar kelak dalam perjalanan memiliki tekad kuat demi mencapai apa yang di harapkan. Memantrainya setiap saat dan setiap hari agar benaran bisa terwujud apapun itu yang kucita-citakan. Dan ya, aku sedikit gagal untuk menjaga mata dan juga hatiku, karena faktanya aku pernah patah hati dan terluka meskipun tak pernah memiliki siapa-siapa. Dan Ari adalah perkabulan cita-citaku yang di dengar oleh Tuhan. Aku bahagia, tentu saja. Terlalu bahagia.
.
.
.
Kedatanganmu, separo tahun setelah hari penyatuan dengan Ari, engkau mulai menampakkan detak nadi. Jenis keajaiban yang baru pertama kali ku lihat dan ku kenali. Terkejut bukanlah satu-satunya kata yang pas untuk menggambar suasana hatiku saat itu. Aku takut, bingung, senang, sekaligus luar biasa senangnya. Dan ya, otakku memang tercipta dengan sedikit lain, hari-hari penantianmu terpenuhi dengan banyaknya taburan mantra dan juga doa. Aku menulis terlalu gembira saat itu di paragraf yang telah lalu, aku menelan semua kengerian demi menyambut utuh kedatanganmu. Dan aku tidak berpikir apakah suatu hari nanti jemarimu akan sudi memunguti mantra-mantra yang kusebar, dan keberadaannya terserak acak di seluruh dinding rumah kesukaanku.
.
.
Puluhan mantra ini, yang terus ku tambah seiring bertambahnya jumlah detak nadi, adalah bekal yang mungkin alpa ku berikan ketika usiaku bertambah nanti. Aku takut lupa untuk tidak memberikanmu segalanya yang terbaik, untuk itulah kenapa rumah tak berpintu ini ada, karena di harapkan setiap spasi dan judulnya adalah alarm bagi langkah-langkahmu. Karena di harapkan engkau tak akan lagi salah dalam melangkah seperti yang mungkin aku atau Ari pernah lakukan. Aku membekalimu dengan mantra, tak peduli jika engkau tak bertumbuh menjadi seperti apa yang kumau, tak peduli jika engkau bahkan tak mengetahui bahwa semua ini ada. Mantra-mantraku, di harapkan telah terbang jauh dan tinggi menembus awan dan tiba saatnya nanti akan sampai pada daftar tunggu doa kepada Yang Maha Sempurna. Ketahuilah nak, aku tak berhenti berdoa bahkan ketika keajaiban itu sebenarnya telah nyata ada di hadapanku.
.
Tak perlu lagi mengulangi apa yang kuharapkan kelak akan tertumbuh kepadamu, tak perlu lagi ku rinci apa yang kuminta darimu. Karena engkau mungkin akan bosan untuk mendengar dan membacanya. Tapi nak, seiring dengan hampir berakhirnya paragraf ini, bolehkah aku menambah lagi beberapa keinginan baru untukmu ? Pemikiran ini datang secara tiba-tiba, tapi percayalah, keresahannya telah menahanku selama sekian waktu. Yang pertama. Ini tentang Ari. Atau kau bisa menyebutnya sebagai ayah. Jika kelak datang hari dimana aku lupa atau tak lagi bisa mengurusi dan juga memperhatikannya, maka ketika hari itu tiba, perlakukanlah ia sebagai raja. Sebagaimana dulu ia menghabiskan segala dayanya demi memberikan perlakuan ratu kepadaku. Dia yang terbaik nak. Jika tanpa sengaja engkau menemukan beberapa cacat Ari yang pernah kusebar secara acak di dinding entah mana rumah ini, maka jangan dulu berprasangka. Karena hari itu aku bodoh, dan tengah berlatih menuju dewasa. Ari menuntun dan membantuku terlalu banyak untuk itu. Lalu, ketahuilah nak. Ini yang terpenting. Umurmu satu tahun lepas satu minggu ketika tulisan ini ada. Tapi dalam sekejap itu keberadaanmu, engkau telah memberiku banyak makna. Mengajariku apa yang luput Ari jabarkan. Menuntunku kepada jalan yang lupa Ari tunjukkan. Engkau mengajariku untuk menjadi ibu, anak, manusia, dan istri yang lebih sempurna. Oh..betapa mahal karunia yang kupegang semenjak kedatanganmu. Sungguh. Kesabaran, dedikasi, cinta, kasih sayang, dan bahkan untuk hal seremeh menghargai, aku perlu dan telah belajar semua itu darimu. Seiring dengan bertambahnya waktu, kantung belajar milikku akan semakin menebal. Dan kita akan bertumbuh menjadi teman yang saling mengait dan menguntungkan. Mantraku selanjutnya.
.
.
Awal dari semua ini jelas adalah sebuah perencanaan matang yang secara kebetulan di luluskan oleh Sang Pencipta. Ya, aku tak pernah begitu percaya bahwasanya doa adalah tak lain nama singkat dari mantra. Sampai kemudian hari itu datang. Bukan hari kedatanganmu yang kumaksudkan, tapi hari kesadaranku. Mantra tak lain adalah doa. Dan doa ialah mantra.
.
.
Suatu hari yang telah lalu, aku pernah bercita-cita untuk memiliki hanya satu lelaki di sepanjang hidupku yang singkat ini, kenapa di cita-citakan dan bukan di doakan ? Karena otakku mungkin tercipta lain, doa terhubung dengan Yang Maha Besar, sedangkan aku ini siapa ? Rasanya terlalu besar untuk meminta sesuatu kepada-NYA. Sementara di luaran sana, yang lebih segalanya dariku ada beribu bahkan milyaran beserta doa-doa yang terpangku di masing-masing kedua tangannya. Aku terlalu sadar diri untuk tidak semakin membebani-NYA dengan permintaan milikku yang begitu remeh dan tak berarti. Aku sengaja mendaftarkannya ke dalam cita-cita dengan niatan agar kelak dalam perjalanan memiliki tekad kuat demi mencapai apa yang di harapkan. Memantrainya setiap saat dan setiap hari agar benaran bisa terwujud apapun itu yang kucita-citakan. Dan ya, aku sedikit gagal untuk menjaga mata dan juga hatiku, karena faktanya aku pernah patah hati dan terluka meskipun tak pernah memiliki siapa-siapa. Dan Ari adalah perkabulan cita-citaku yang di dengar oleh Tuhan. Aku bahagia, tentu saja. Terlalu bahagia.
.
.
.
Kedatanganmu, separo tahun setelah hari penyatuan dengan Ari, engkau mulai menampakkan detak nadi. Jenis keajaiban yang baru pertama kali ku lihat dan ku kenali. Terkejut bukanlah satu-satunya kata yang pas untuk menggambar suasana hatiku saat itu. Aku takut, bingung, senang, sekaligus luar biasa senangnya. Dan ya, otakku memang tercipta dengan sedikit lain, hari-hari penantianmu terpenuhi dengan banyaknya taburan mantra dan juga doa. Aku menulis terlalu gembira saat itu di paragraf yang telah lalu, aku menelan semua kengerian demi menyambut utuh kedatanganmu. Dan aku tidak berpikir apakah suatu hari nanti jemarimu akan sudi memunguti mantra-mantra yang kusebar, dan keberadaannya terserak acak di seluruh dinding rumah kesukaanku.
.
.
Puluhan mantra ini, yang terus ku tambah seiring bertambahnya jumlah detak nadi, adalah bekal yang mungkin alpa ku berikan ketika usiaku bertambah nanti. Aku takut lupa untuk tidak memberikanmu segalanya yang terbaik, untuk itulah kenapa rumah tak berpintu ini ada, karena di harapkan setiap spasi dan judulnya adalah alarm bagi langkah-langkahmu. Karena di harapkan engkau tak akan lagi salah dalam melangkah seperti yang mungkin aku atau Ari pernah lakukan. Aku membekalimu dengan mantra, tak peduli jika engkau tak bertumbuh menjadi seperti apa yang kumau, tak peduli jika engkau bahkan tak mengetahui bahwa semua ini ada. Mantra-mantraku, di harapkan telah terbang jauh dan tinggi menembus awan dan tiba saatnya nanti akan sampai pada daftar tunggu doa kepada Yang Maha Sempurna. Ketahuilah nak, aku tak berhenti berdoa bahkan ketika keajaiban itu sebenarnya telah nyata ada di hadapanku.
.
Tak perlu lagi mengulangi apa yang kuharapkan kelak akan tertumbuh kepadamu, tak perlu lagi ku rinci apa yang kuminta darimu. Karena engkau mungkin akan bosan untuk mendengar dan membacanya. Tapi nak, seiring dengan hampir berakhirnya paragraf ini, bolehkah aku menambah lagi beberapa keinginan baru untukmu ? Pemikiran ini datang secara tiba-tiba, tapi percayalah, keresahannya telah menahanku selama sekian waktu. Yang pertama. Ini tentang Ari. Atau kau bisa menyebutnya sebagai ayah. Jika kelak datang hari dimana aku lupa atau tak lagi bisa mengurusi dan juga memperhatikannya, maka ketika hari itu tiba, perlakukanlah ia sebagai raja. Sebagaimana dulu ia menghabiskan segala dayanya demi memberikan perlakuan ratu kepadaku. Dia yang terbaik nak. Jika tanpa sengaja engkau menemukan beberapa cacat Ari yang pernah kusebar secara acak di dinding entah mana rumah ini, maka jangan dulu berprasangka. Karena hari itu aku bodoh, dan tengah berlatih menuju dewasa. Ari menuntun dan membantuku terlalu banyak untuk itu. Lalu, ketahuilah nak. Ini yang terpenting. Umurmu satu tahun lepas satu minggu ketika tulisan ini ada. Tapi dalam sekejap itu keberadaanmu, engkau telah memberiku banyak makna. Mengajariku apa yang luput Ari jabarkan. Menuntunku kepada jalan yang lupa Ari tunjukkan. Engkau mengajariku untuk menjadi ibu, anak, manusia, dan istri yang lebih sempurna. Oh..betapa mahal karunia yang kupegang semenjak kedatanganmu. Sungguh. Kesabaran, dedikasi, cinta, kasih sayang, dan bahkan untuk hal seremeh menghargai, aku perlu dan telah belajar semua itu darimu. Seiring dengan bertambahnya waktu, kantung belajar milikku akan semakin menebal. Dan kita akan bertumbuh menjadi teman yang saling mengait dan menguntungkan. Mantraku selanjutnya.
Rabu, 16 Agustus 2017
Wajah Yang Lain
Aku kembali lagi kesana. Setelah berhari-hari pergi meninggalkannya. Sebuah tempat yang tak pernah kutahu itu di mana. Bersama orang-orang yang tak asing dan lagipun mereka memang tengah beririsan denganku secara nyata selama beberapa hari terakhir. Dengan kekuatan yang teramat mustahal untuk kumiliki namun tak bisa menyangkal bahwa aku memang menyimpannya. Kami berenam, atau mungkin berempat, tak lagi jelas menyoal hitungan yang tepat. Yang pasti kami adalah sekumpulan orang-orang yang terlempar. Sekumpulan orang-orang yang keluar dari perimeter dengan bukan tanpa alasan. Rasanya menyenangkan mengetahui bahwa aku tidak sendirian. Berada dalam dunia yang tak kukenal dan kami mulai berjalan menuju..mungkin pulang.
.
Disana, beberapa wajah tak dapat kukenali dengan pasti. Tapi bisa sangat kupastikan bahwa hati mereka tak asing dan pernah kukenal. Yang satu seorang laki-laki berwajah asing dengan hati yang ku kenal. Sementara yang lain adalah sebuah wajah yang tak hanya kukenal tapi juga merupakan bagian nyata dalam dunia nyataku. Sisa-sisa wajah di sana, adalah sosok yang tak pernah kutahu dan tak pernah kulihat sebelumnya. Berparas cantik, gagah dan tampan, tapi sayang mereka hanya manusia biasa dengan jiwa mengenaskan, yang kutahu itu setelah beberapa kali berpapasan dan kemudian mereka mulai menunjukkan jati dirinya tak lama setelah kami yang berempat atau berenam ini pergi. Dan yang terakhir. Wajah tak asing yang melatari kenapa tulisan ini tercipta. Bahkan setelah separo sesi tidur malam terlewati. Dan wajah itu telah datang kepadaku dua kali dalam kurun waktu mungkin satu minggu terakhir ini. Wajah yang tak mungkin kulupa bagaimana ekspresinya ketika mencoba menjegal pergerakan kakiku untuk menjejak tanah sebelum akhirnya terbang. Aku menemukan diriku yang tak kukenali di tempat asing itu. Dan. Ya! Aku terbang! Bukankah pernah kukatakan sebelumnya bahwa aku memiliki kekuatan yang diriku sendiri tak tahu bahwa telah menyimpannya. Terbang. Aku bukan satu-satunya. Orang-orang yang terlempar dari perimeter pun memiliki kekuatan yang sama. Hanya kami saja. Berempat atau berenam, karena memang disana hitungan terlihat seperti kasat mata.
.
.
Mungkin sebagian dari kalian akan mengerutkan kening demi memahami ketikan dalam separo lebih malam ini. Ya, akupun demikian halnya. Nafasku begitu terengah-engah ketika baru saja terlempar dari tempat itu. Setelah beberapa waktu lalu berhasil membuat diriku yang lain- namun dengan jiwa yang tak kukenali meringkuk kalah dengan wajah memar dan hidung teraliri darah. Siapa dia ? Aku yang lain itu, kenapa begitu inginnya menjegal langkahku untuk terbang bersama orang-orang yang terlempar dari perimeter dan hendak pulang. Aku menyimpan dengan erat ekspresi itu. Wajah terengah penuh luka dengan ringis kesakitan yang begitu mendalam. Di tempat yang tak kutahu, dengan bangunan-bangunan tinggi menjulang, aku menemukan diriku yang lain tengah berusaha menjegal pergerakan langkahku. Namun dalam satu kesempatan setelah perjalanan yang begitu melelahkan, aku berhasil memadu padankan kekuatan melayangku dan hantaman kepalan tangan. Aku berhasil membuat diriku yang lain bersimbah darah dan meringkuk penuh sakit di tanah di bawah sana. Ya, karena setelah pertarungan yang aneh itu, aku berhasil menjejak tanah dengan segera. Aku terhuyung-huyung dalam menjejaki udara tentu saja. Pertarungan itu, entah bagaimana telah menguras tenagaku. Bahkan bisa kurasakan kedua tanganku menggenggam erat atap bangunan tua, agar aku bisa menjejak dengan kuat pergi ke atas sana dan meninggalkan aku yang lain tengah terkapar. Tidak. Sedetik sebelum aku benar-benar menjejak udara untuk mengangkasa lebih tinggi, kusempatkan diri untuk menengok aku yang lain di bawah sana. Memastikan ataukah benaran sosok itu adalah diriku atau bukan. Dan ternyata memang benar. Namun dengan keanehan yang lain, di raut wajahnya, tak kudapati sosok yang beberapa waktu lalu mengerang kesakitan. Luka yang terkopyok jelas dalam bulatan matanya mendadak hilang tergantikan dengan mata yang lebih teduh dan menyenangkan. Lebam itu masih ada, berhias lelehan merah dari kedua lubang hidungnya. Dan wajahnya tersenyum. Demi apapun! Diriku yang lain itu tersenyum kepadaku, setelah meringkuk kesakitan dengan ekspresi wajah yang tak akan pernah kulupakan. Siapa dia ? Benarkah sosok itu adalah aku ?
.
.
Waktuku di tempat asing itu masih dalam separo jalan. Kenapa aku bisa tahu ? Karena aku pernah berada di sana sebelumnya. Bukankah pernah kukatakan di awal ? Dan tentang lelaki asing yang kukenali hatinya, juga wanita tak asing yang memang adalah bagian nyata dalam kehidupanku di dunia. Keduanya seperti cermin yang membuatku linglung setengah mati demi memahami yang mana keaslian dunia ini. Keduanya yang tanpa kuminta telah menjejalkan bekal beserta ketulusan di dalam saku yang lagi-lagi membuatku hampir kehilangan separo kewarasan tersisa untuk memahami yang mana sebenarnya keaslian dunia ini. Kasur yang tengah kutiduri, atau tempat asing itu.
.
Disana, beberapa wajah tak dapat kukenali dengan pasti. Tapi bisa sangat kupastikan bahwa hati mereka tak asing dan pernah kukenal. Yang satu seorang laki-laki berwajah asing dengan hati yang ku kenal. Sementara yang lain adalah sebuah wajah yang tak hanya kukenal tapi juga merupakan bagian nyata dalam dunia nyataku. Sisa-sisa wajah di sana, adalah sosok yang tak pernah kutahu dan tak pernah kulihat sebelumnya. Berparas cantik, gagah dan tampan, tapi sayang mereka hanya manusia biasa dengan jiwa mengenaskan, yang kutahu itu setelah beberapa kali berpapasan dan kemudian mereka mulai menunjukkan jati dirinya tak lama setelah kami yang berempat atau berenam ini pergi. Dan yang terakhir. Wajah tak asing yang melatari kenapa tulisan ini tercipta. Bahkan setelah separo sesi tidur malam terlewati. Dan wajah itu telah datang kepadaku dua kali dalam kurun waktu mungkin satu minggu terakhir ini. Wajah yang tak mungkin kulupa bagaimana ekspresinya ketika mencoba menjegal pergerakan kakiku untuk menjejak tanah sebelum akhirnya terbang. Aku menemukan diriku yang tak kukenali di tempat asing itu. Dan. Ya! Aku terbang! Bukankah pernah kukatakan sebelumnya bahwa aku memiliki kekuatan yang diriku sendiri tak tahu bahwa telah menyimpannya. Terbang. Aku bukan satu-satunya. Orang-orang yang terlempar dari perimeter pun memiliki kekuatan yang sama. Hanya kami saja. Berempat atau berenam, karena memang disana hitungan terlihat seperti kasat mata.
.
.
Mungkin sebagian dari kalian akan mengerutkan kening demi memahami ketikan dalam separo lebih malam ini. Ya, akupun demikian halnya. Nafasku begitu terengah-engah ketika baru saja terlempar dari tempat itu. Setelah beberapa waktu lalu berhasil membuat diriku yang lain- namun dengan jiwa yang tak kukenali meringkuk kalah dengan wajah memar dan hidung teraliri darah. Siapa dia ? Aku yang lain itu, kenapa begitu inginnya menjegal langkahku untuk terbang bersama orang-orang yang terlempar dari perimeter dan hendak pulang. Aku menyimpan dengan erat ekspresi itu. Wajah terengah penuh luka dengan ringis kesakitan yang begitu mendalam. Di tempat yang tak kutahu, dengan bangunan-bangunan tinggi menjulang, aku menemukan diriku yang lain tengah berusaha menjegal pergerakan langkahku. Namun dalam satu kesempatan setelah perjalanan yang begitu melelahkan, aku berhasil memadu padankan kekuatan melayangku dan hantaman kepalan tangan. Aku berhasil membuat diriku yang lain bersimbah darah dan meringkuk penuh sakit di tanah di bawah sana. Ya, karena setelah pertarungan yang aneh itu, aku berhasil menjejak tanah dengan segera. Aku terhuyung-huyung dalam menjejaki udara tentu saja. Pertarungan itu, entah bagaimana telah menguras tenagaku. Bahkan bisa kurasakan kedua tanganku menggenggam erat atap bangunan tua, agar aku bisa menjejak dengan kuat pergi ke atas sana dan meninggalkan aku yang lain tengah terkapar. Tidak. Sedetik sebelum aku benar-benar menjejak udara untuk mengangkasa lebih tinggi, kusempatkan diri untuk menengok aku yang lain di bawah sana. Memastikan ataukah benaran sosok itu adalah diriku atau bukan. Dan ternyata memang benar. Namun dengan keanehan yang lain, di raut wajahnya, tak kudapati sosok yang beberapa waktu lalu mengerang kesakitan. Luka yang terkopyok jelas dalam bulatan matanya mendadak hilang tergantikan dengan mata yang lebih teduh dan menyenangkan. Lebam itu masih ada, berhias lelehan merah dari kedua lubang hidungnya. Dan wajahnya tersenyum. Demi apapun! Diriku yang lain itu tersenyum kepadaku, setelah meringkuk kesakitan dengan ekspresi wajah yang tak akan pernah kulupakan. Siapa dia ? Benarkah sosok itu adalah aku ?
.
.
Waktuku di tempat asing itu masih dalam separo jalan. Kenapa aku bisa tahu ? Karena aku pernah berada di sana sebelumnya. Bukankah pernah kukatakan di awal ? Dan tentang lelaki asing yang kukenali hatinya, juga wanita tak asing yang memang adalah bagian nyata dalam kehidupanku di dunia. Keduanya seperti cermin yang membuatku linglung setengah mati demi memahami yang mana keaslian dunia ini. Keduanya yang tanpa kuminta telah menjejalkan bekal beserta ketulusan di dalam saku yang lagi-lagi membuatku hampir kehilangan separo kewarasan tersisa untuk memahami yang mana sebenarnya keaslian dunia ini. Kasur yang tengah kutiduri, atau tempat asing itu.
Senin, 14 Agustus 2017
Keajaiban Selanjutnya
Juli telah berlalu setelah berhasil memutar banyak angka penuh makna. Agustus datang dan telah beranjak hingga separo perjalanan. Dan aku bahkan belum menandakan dalam satu judulpun di bulan ini. Entahlah, setiap kali aku ingin mulai untuk menulis, sesuatu seakan membisiki telinga hatiku, "Tidak saat ini." aku bisa apa memangnya ? Sementara memaksa tidak apa pernah menghasilkan apa-apa. Otakku sepertinya tengah dalam upaya istirahat untuk mendeskripsi. Ia bahkan tak membiarkanku untuk berpujangga seperti sebelum-sebelumnya. Keresahan bukannya tidak ada, dia selalu nampak tapi dalam kondisi yang tersamar acak. Dan seperti biasanya, aku selalu sulit untuk bisa menangkap garis merah dari sinyal yang samar dan lemah. Jadilah dalam separo bulan ini, kuhabiskan apapun dengan cara menikmati. Seperti pula negeri ini, aku pun memiliki cerita spesial di bulan ini. Semua orang tahu, sebuah klimaks akan sesuatu yang kusebut penyiksaan diri paling elegan telah terjadi di angka dalam separo bulan ini. Agustus dengan banyaknya rentetan cerita, dan aku terlalu bingung untuk memulainya dari mana. Ari akan menabokku keras-keras jika tahu aku menjadikannya lagi sebagai intisari dari tema kali ini. Aku telah lama mencium aroma keengganan darinya jika menyangkut hal-hal yang berbau puitis dan dramatis. Tapi memang selama ini tulisanku berbumbu seperti itu ? Rasanya tidak, kan ? Entahlah. Tapi keengganan itu tak pernah mau beranjak dari perkiraanku. Mungkin karena aku berekspetasi terlalu tinggi, berharap Ari pun akan bersedia membalas kekagumannya pada diriku dengan cara yang sama, yakni menuangkan dalam ujud cerita. Aku telah salah paham kepadanya untuk angan yang satu itu. Karena Ari adalah Ari. Sebuah nama yang tak akan bisa bersanding dengan kata-kata romantis dan juga bunga. Sebuah nama yang terlalu sulit untuk bersanding dengan cinta. Tapi Ari selalu ada, dan menjaga.
.
Berbicara mengenai Ari akan sulit jika tidak menyinggung keturunannya. Cetak biru dari Ari yang selalu bisa membuatku menggelengkan kepala. Sebuah nama yang dalam satu tahun terakhir telah mematenkan diri untuk menjadi sebuah tema yang konsisten hilir mudir di tempat ini. Hara. Ketika manusia-manusia lain menyambut semburat keemasan di ufuk timur sana dengan berbagai usaha dan perjuangan. Maka aku akan di sibukkan dengan cara yang lain. Yakni mencintai. Aku sibuk mengagumi bayi mungil yang tengah beranjak menjadi gadis kecil milikku. Cetak biru Ari yang begitu cantik dan menggemaskan. Hari-hari terlalui bersamanya dengan sangat menggembirakan. Setiap keajaiban akan jatuh bersamaan dengan gerak-gerik dan tutur kata yang keluar dari mulutnya. Aku tidak sedang berandai dan melebihkan. Karena memang itu nyata adanya. Jiwaku telah terbelah menjadi dua semenjak ia ada. Tapi aku baru benar-benar menyadarinya beberapa waktu belakangan ini. Rasa sakit seperti tercabik saat dulu harus melahirkannya telah terhapus secara perlahan dari ingatan. Waktu bergulir dengan sangat cepat dan Hara adalah sebuah keajaiban. Hadiah terbesar yang pernah kuterima selama keberadaanku di dunia. Ia membuatku berhenti menginginkan. Namun alih-alih membuatku mandek, ia justru membuatku berangan tentang masa depan. Sebuah masa dimana nanti disana yang ada hanyalah cinta. Aku akan memaksa Ari untuk kembali berpujangga, agar dunia tahu betapa menakjubkan perkembangan dari cetak birunya. Aku bahkan kembali berpikir untuk bisa menghadirkan lagi yang seperti Hara. Tentu saja aku akan rela, rela melewati masa tercabik itu lagi, rela membagi lagi jiwa yang hanya tinggal separo ini, rela menghabiskan waktu-waktu menuju tuaku untuk mengurus mereka. Apapun untuk keajaiban yang ke dua. Ari mungkin akan tertawa jika aku mengutarakan niat ini. Tapi tak apa, aku rela di tertawakan olehnya. Karena aku yakin Ari pun memendam niat yang sama, menciptakan keajaiban yang ke dua. Hanya dua. Karena mungkin aku tak akan sanggup lagi untuk membopong bahagia yang terlampau besar jika saja ada keajaiban yang ke tiga, ke empat dan seterusnya. Ari benaran akan menertawakanku setelah ini.
.
Dan untuk rumah ini, kepada pengikut yang hampir selalu ada untuk sekedar mampir atau mengagumi setiap keping sajian. Jangan bertanya kenapa aku tahu bahwa kalian ada. Cukup pahami ini, bahwa aku telah menghabiskan banyak cerita bahkan hampir separo dari satu keutuhan bulat yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku berbahagia ? Tentu saja. Rumah ini berperan penting dalam menjagaku agar tidak serta-merta menjadi gila. Endapan sampah yang kutuang tema demi tema adalah proses untuk menjagaku tetap bersih dan sehat. Ya, ketika manusia lain menjaga keduanya dengan cara mandi dan berolah raga, aku cukup dengan menulis. Penghematan besar-besaran bukan ? Kehadiranku di tempat ini mungkin akan semakin menjarang setiap waktunya. Karena seperti yang selalu kukatakan, aku tak bisa menghasilkan tulisan apa-apa ketika tengah berbahagia. Dan aku tengah mengantisipasi hal itu seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan Hara. Sekian.
.
Berbicara mengenai Ari akan sulit jika tidak menyinggung keturunannya. Cetak biru dari Ari yang selalu bisa membuatku menggelengkan kepala. Sebuah nama yang dalam satu tahun terakhir telah mematenkan diri untuk menjadi sebuah tema yang konsisten hilir mudir di tempat ini. Hara. Ketika manusia-manusia lain menyambut semburat keemasan di ufuk timur sana dengan berbagai usaha dan perjuangan. Maka aku akan di sibukkan dengan cara yang lain. Yakni mencintai. Aku sibuk mengagumi bayi mungil yang tengah beranjak menjadi gadis kecil milikku. Cetak biru Ari yang begitu cantik dan menggemaskan. Hari-hari terlalui bersamanya dengan sangat menggembirakan. Setiap keajaiban akan jatuh bersamaan dengan gerak-gerik dan tutur kata yang keluar dari mulutnya. Aku tidak sedang berandai dan melebihkan. Karena memang itu nyata adanya. Jiwaku telah terbelah menjadi dua semenjak ia ada. Tapi aku baru benar-benar menyadarinya beberapa waktu belakangan ini. Rasa sakit seperti tercabik saat dulu harus melahirkannya telah terhapus secara perlahan dari ingatan. Waktu bergulir dengan sangat cepat dan Hara adalah sebuah keajaiban. Hadiah terbesar yang pernah kuterima selama keberadaanku di dunia. Ia membuatku berhenti menginginkan. Namun alih-alih membuatku mandek, ia justru membuatku berangan tentang masa depan. Sebuah masa dimana nanti disana yang ada hanyalah cinta. Aku akan memaksa Ari untuk kembali berpujangga, agar dunia tahu betapa menakjubkan perkembangan dari cetak birunya. Aku bahkan kembali berpikir untuk bisa menghadirkan lagi yang seperti Hara. Tentu saja aku akan rela, rela melewati masa tercabik itu lagi, rela membagi lagi jiwa yang hanya tinggal separo ini, rela menghabiskan waktu-waktu menuju tuaku untuk mengurus mereka. Apapun untuk keajaiban yang ke dua. Ari mungkin akan tertawa jika aku mengutarakan niat ini. Tapi tak apa, aku rela di tertawakan olehnya. Karena aku yakin Ari pun memendam niat yang sama, menciptakan keajaiban yang ke dua. Hanya dua. Karena mungkin aku tak akan sanggup lagi untuk membopong bahagia yang terlampau besar jika saja ada keajaiban yang ke tiga, ke empat dan seterusnya. Ari benaran akan menertawakanku setelah ini.
.
Dan untuk rumah ini, kepada pengikut yang hampir selalu ada untuk sekedar mampir atau mengagumi setiap keping sajian. Jangan bertanya kenapa aku tahu bahwa kalian ada. Cukup pahami ini, bahwa aku telah menghabiskan banyak cerita bahkan hampir separo dari satu keutuhan bulat yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku berbahagia ? Tentu saja. Rumah ini berperan penting dalam menjagaku agar tidak serta-merta menjadi gila. Endapan sampah yang kutuang tema demi tema adalah proses untuk menjagaku tetap bersih dan sehat. Ya, ketika manusia lain menjaga keduanya dengan cara mandi dan berolah raga, aku cukup dengan menulis. Penghematan besar-besaran bukan ? Kehadiranku di tempat ini mungkin akan semakin menjarang setiap waktunya. Karena seperti yang selalu kukatakan, aku tak bisa menghasilkan tulisan apa-apa ketika tengah berbahagia. Dan aku tengah mengantisipasi hal itu seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan Hara. Sekian.
Rabu, 26 Juli 2017
Dewa Kucing Dan Cacatnya
Aku adalah salah satu makhluk dengan cacat terbanyak di muka bumi ini. Jika manusia lain hidup dengan bertopang pada udara dan kinerja jantung juga paru-parunya, maka aku lain. Insting adalah penunjuk arah, langkah dan juga cara bernapasku. Orang lain akan melihat bahwa aku adalah manusia dengan senyum terpelit di dunia. Padahal tidak. Aku tidak pelit, hanya tidak bisa. Memiliki kemauan tapi tak bisa melakukannya.
.
Raut wajah adalah area yang sangat nyata untuk melihat suasana hati. Dan wajahku tak pernah lebih bisa menyembunyikan apapun yang insting bisikkan padaku. Ini adalah pernyataan lamaku, tapi kebenarannya tidak pernah kuragukan. Detik pertama aku melihat mata seseorang, aku akan bisa membaca akankah selanjutnya seseorang itu akan membawa dampak buruk atau baik. Aku membaca gelagat hanya dari tarian tangannya. Aku menangkap sinyal hanya dari lengkungan bibirnya. Dan mata, adalah sudut terfavoritku. Tak ada yang bisa menyembunyikan apapun disana, dariku.
.
Aku mungkin saja normal, seperti kalian, seperti manusia kebanyakan. Tapi cacatku membuat pengecualian. Aku memang berbeda. Bola mata, insting dan raut wajahku seketika akan bekerja sama dengan tingkat ketelitian yang super detail ketika mulai berhadapan dengan seseorang. Dan ketika sinyal mulai mengirim tanda negatif, maka disinilah pertaruhan di mulai. Cacatku mulai menunjukkan diri. Aku tidak ingin bereaksi, sama sekali tidak ingin menggubris apa yang insting mulai bisikkan padaku. Bukankah kita tidak bisa dengan begitu cepat mengambil keputusan untuk menilai seseorang hanya dari tatapan pertamanya ? Jatuh cinta pada pandangan pertama sering kudengar, tapi membenci pada pandangan pertama adalah sesuatu yang tak kusukai yang sialnya justru sering kualami. Cacat terbesarku selalu muncul secara tiba-tiba. Aku tak pernah bisa berpura-pura. Ketika insting mulai membisikkan tanda kurang baik, seketika wajahku akan bereaksi. Menarik keras otot-otot senyum di bibir. Bahkan otakpun akan terkena imbasnya dengan mulai melancarkan perkataan-perkataan dingin nan sarkastik. Aku membenci sisi cacat diriku. Aku kewalahan untuk menerapkan pada diri sendiri pernyataan bahwa manusia tak boleh menilai sebuah buku hanya dari sampulnya.
.
.
Seringnya, aku hanya bisa memaki diri sendiri. Memaki kenapa tak bisa berpura-pura. Menyembunyikan sedikit saja rasa tak suka dan menukarnya dengan seulas senyum. Aku menderita, karena bisikan-bisikan dari dalamku yang tak pernah mau menyumpal mulutnya.
.
Satu kenyataan yang tak bisa untuk kupungkiri hingga saat ini adalah, kenyataan bahwa instingku selalu membisikkan petunjuk-petunjuk yang hampir selalu benar. Ragaku seakan tidak di desain untuk kecewa. Karena ketika pandangan pertamanya saja berhasil mengirim tanda, petunjuk agar aku mempersiapkan diri selanjutnya.
.
.
Terkadang aku mulai berpikir, apa asyiknya hidup ini tanpa misteri ? Tidak semua manusia memiliki niat baik di dalam hatinya. Lalu kenapa ? Kenapa aku harus terburu-buru untuk tidak menyukai seseorang ? Dan kenapa pula aku harus terlahir dengan cacat besar di gendongan ?
.
Orang akan berpikir aku masuk dalam jajaran manusia-manusia normal. Padahal tidak. Selalu ada percakapan dan pertikaian di dalam kepalaku. Jika memungkinkan, bahkan bisa kupastikan ada sesuatu yang tengah berperang pula di dalamnya. Dan jika ternyata keinginan menjadi normal adalah hal sia-sia, maka keinginanku selanjutnya hanyalah satu. Aku ingin bisa berpura-pura. Dengan senyum dan mata berbinar yang tak pernah meninggalkan wajah. Aku ingin bisa berpura-pura. Dengan jalan terus mengabaikan apa yang insting selalu bisikkan padaku. Tak peduli kenyataan bahwa apa yang selalu ia tunjukkan adalah sebuah kebenaran. Karena aku bosan di cap sebagai pemurung, dan pemarah. Meski telah kusiasati dengan melaksanakan sebuah jurus jitu yakni menjadi pendiam, tetap saja tak ada yang bisa menutupi perasaan apapun pada reaksi raut wajah. Akankah ini keinginan normal ? Kenapa kata normal mendadak menjadi ambigu setelah catatan ini hampir menyentuh akhir ? Wajarkah jika aku mulai berkata bahwa aku adalah manusia separo dewa ? Bukankah dewa tak memiliki kepintaran untuk menyembunyikan kenyataan ? Lalu bagaimana jika ternyata aku ini manusia separo kucing, karena setelah kuingat-ingat, kucingpun hampir memiliki kemiripan yang sama dengan cacat besarku. Ia akan menatap bengis pada apapun yang kiranya ingin mengacau harinya. Ia akan berlari dalam pelukan begitu sang majikan menebar aura positif dan menyenangkan. Insting kah yang menuntun hidupnya ? Atau sesuatu yang lain ? Aku harap kali ini aku memiliki cukup kewarasan untuk mengakhiri paragraf ini. Termasuk ketika harus mengakui bahwa ada kemungkinan aku adalah manusia dengan darah separo dewa kucing yang pada masanya dulu memiliki kemampuan untuk meraba dan melihat aura. Ouh..pernyataan yang terlalu mengerikan sepertinya. Tapi aku menyukai pemikiran tentang kemungkinan itu. Sekian.
.
Raut wajah adalah area yang sangat nyata untuk melihat suasana hati. Dan wajahku tak pernah lebih bisa menyembunyikan apapun yang insting bisikkan padaku. Ini adalah pernyataan lamaku, tapi kebenarannya tidak pernah kuragukan. Detik pertama aku melihat mata seseorang, aku akan bisa membaca akankah selanjutnya seseorang itu akan membawa dampak buruk atau baik. Aku membaca gelagat hanya dari tarian tangannya. Aku menangkap sinyal hanya dari lengkungan bibirnya. Dan mata, adalah sudut terfavoritku. Tak ada yang bisa menyembunyikan apapun disana, dariku.
.
Aku mungkin saja normal, seperti kalian, seperti manusia kebanyakan. Tapi cacatku membuat pengecualian. Aku memang berbeda. Bola mata, insting dan raut wajahku seketika akan bekerja sama dengan tingkat ketelitian yang super detail ketika mulai berhadapan dengan seseorang. Dan ketika sinyal mulai mengirim tanda negatif, maka disinilah pertaruhan di mulai. Cacatku mulai menunjukkan diri. Aku tidak ingin bereaksi, sama sekali tidak ingin menggubris apa yang insting mulai bisikkan padaku. Bukankah kita tidak bisa dengan begitu cepat mengambil keputusan untuk menilai seseorang hanya dari tatapan pertamanya ? Jatuh cinta pada pandangan pertama sering kudengar, tapi membenci pada pandangan pertama adalah sesuatu yang tak kusukai yang sialnya justru sering kualami. Cacat terbesarku selalu muncul secara tiba-tiba. Aku tak pernah bisa berpura-pura. Ketika insting mulai membisikkan tanda kurang baik, seketika wajahku akan bereaksi. Menarik keras otot-otot senyum di bibir. Bahkan otakpun akan terkena imbasnya dengan mulai melancarkan perkataan-perkataan dingin nan sarkastik. Aku membenci sisi cacat diriku. Aku kewalahan untuk menerapkan pada diri sendiri pernyataan bahwa manusia tak boleh menilai sebuah buku hanya dari sampulnya.
.
.
Seringnya, aku hanya bisa memaki diri sendiri. Memaki kenapa tak bisa berpura-pura. Menyembunyikan sedikit saja rasa tak suka dan menukarnya dengan seulas senyum. Aku menderita, karena bisikan-bisikan dari dalamku yang tak pernah mau menyumpal mulutnya.
.
Satu kenyataan yang tak bisa untuk kupungkiri hingga saat ini adalah, kenyataan bahwa instingku selalu membisikkan petunjuk-petunjuk yang hampir selalu benar. Ragaku seakan tidak di desain untuk kecewa. Karena ketika pandangan pertamanya saja berhasil mengirim tanda, petunjuk agar aku mempersiapkan diri selanjutnya.
.
.
Terkadang aku mulai berpikir, apa asyiknya hidup ini tanpa misteri ? Tidak semua manusia memiliki niat baik di dalam hatinya. Lalu kenapa ? Kenapa aku harus terburu-buru untuk tidak menyukai seseorang ? Dan kenapa pula aku harus terlahir dengan cacat besar di gendongan ?
.
Orang akan berpikir aku masuk dalam jajaran manusia-manusia normal. Padahal tidak. Selalu ada percakapan dan pertikaian di dalam kepalaku. Jika memungkinkan, bahkan bisa kupastikan ada sesuatu yang tengah berperang pula di dalamnya. Dan jika ternyata keinginan menjadi normal adalah hal sia-sia, maka keinginanku selanjutnya hanyalah satu. Aku ingin bisa berpura-pura. Dengan senyum dan mata berbinar yang tak pernah meninggalkan wajah. Aku ingin bisa berpura-pura. Dengan jalan terus mengabaikan apa yang insting selalu bisikkan padaku. Tak peduli kenyataan bahwa apa yang selalu ia tunjukkan adalah sebuah kebenaran. Karena aku bosan di cap sebagai pemurung, dan pemarah. Meski telah kusiasati dengan melaksanakan sebuah jurus jitu yakni menjadi pendiam, tetap saja tak ada yang bisa menutupi perasaan apapun pada reaksi raut wajah. Akankah ini keinginan normal ? Kenapa kata normal mendadak menjadi ambigu setelah catatan ini hampir menyentuh akhir ? Wajarkah jika aku mulai berkata bahwa aku adalah manusia separo dewa ? Bukankah dewa tak memiliki kepintaran untuk menyembunyikan kenyataan ? Lalu bagaimana jika ternyata aku ini manusia separo kucing, karena setelah kuingat-ingat, kucingpun hampir memiliki kemiripan yang sama dengan cacat besarku. Ia akan menatap bengis pada apapun yang kiranya ingin mengacau harinya. Ia akan berlari dalam pelukan begitu sang majikan menebar aura positif dan menyenangkan. Insting kah yang menuntun hidupnya ? Atau sesuatu yang lain ? Aku harap kali ini aku memiliki cukup kewarasan untuk mengakhiri paragraf ini. Termasuk ketika harus mengakui bahwa ada kemungkinan aku adalah manusia dengan darah separo dewa kucing yang pada masanya dulu memiliki kemampuan untuk meraba dan melihat aura. Ouh..pernyataan yang terlalu mengerikan sepertinya. Tapi aku menyukai pemikiran tentang kemungkinan itu. Sekian.
Selasa, 25 Juli 2017
Kado Yang Terlambat Datang
Dua tahun. Bukan lagi satu tahun sekian bulan, atau dua tahun kurang beberapa minggu. Tapi ini benaran dua yang utuh. Dan sepertinya aku telah sedikit menemukan kendali atas diriku kali ini. Tidak bermaksud sengaja memperpanjang kesabaran Ari hingga angka dua itu benar-benar utuh, tapi kemungkinan aku yang lelah untuk terus menentang.
.
Sinar temaram yang terus menerangi hari pernikahan kami, mendadak mendapat pasokan energinya secara tiba-tiba. Seperti separo gelas sirup yang terdesak oleh bongkahan es batu besar-besar. Dahagaku terpuaskan dalam umur kedua yang masih dikategorikan muda. Entah siapa yang memulai, tapi aroma rumah ini tak lagi seberingas ketika keberadaan Ari baru memasuki hitungan minggu dan bulan. Panas yang dulu terbakar pada malam pertama kedatangannya kian membara setiap harinya. Terus memuncak hingga kemudian angka dua menemukan keutuhannya. Tak ada lagi panas yang menyengat, yang ada tinggal bara yang menghangat. Dan aku menyukai itu.
.
Entah apa alasan di balik semua ini, tapi Ari terlihat lunak dan semakin manis akhir-akhir ini. Dan si kepala batu ini pun sepertinya tengah dalam separo jalan mengikis keras dirinya. Apalagi yang lebih membahagiakan ketimbang dua manusia yang tengah berusaha melunakkan diri agar lebih bisa saling terikat ? Dan Ari adalah pemenang. Bersamanya membuatku kembali ingin bermimpi, bersamanya membuatku tak lagi ngeri untuk berangan. Ari tak hanya membuatku terbang, tapi juga menumbuhkan sayap-sayap di punggung agar kelak aku bisa terbang tanpa bantuan.
.
.
Bukankah akan selalu ada cuaca cerah setelah badai menerjang ? Dan masa kritis momen romantisku berada pada dua ambang bulan. Yakni pada urutan ke tujuh dan ke delapan. Agustus adalah akhir. Berhentinya cerita cinta yang bahkan tak sampai di ujung lidah. Garis semu yang hampir saja kutapaki dengan membabi buta dan menghalalkan segala cara. Tapi bebarengan dengan momen sesakral tujuhbelasan, telah kutelan semua rasa cinta, kagum, sedih, kecewa dan berharap semuanya akan menjadi sampah dan berakhir di tempat dimana kotoran seharusnya berada. Mungkin ini telat untuk di ungkapkan. Tapi aku menyukai momen di mana aku merasa teriris hanya karena melihat sebuah nama bersanding dengan kekasihnya. Aku menyukai momen di mana Ari ada dan datang di saat yang tepat dan tak terduga. Bukan datang, tapi aku yang meminta lebih tepatnya. Tuhan membuatku menyadari tujuan-Nya setelah dua tahun berlalu. Ari bukanlah sebuah kebetulan yang menjadi nyata. Hari dimana aku memintanya untuk menemani duniaku adalah insting pertama yang berhasil kuraba untuk mengobati patah hati yang akan datang beberapa hari ke depan. Bahkan aku sudah bisa lebih peka dengan tidak secara sengaja menyentuh pintu instingku. Tapi ternyata tidaklah segampang itu, dibutuhkan angka dua yang utuh untuk menyadari bahwa keberadaan Ari bukanlah penambal dinding hatiku yang koyak. Ari tidak berfungsi dan tidak di desain untuk seperti itu. Ari adalah setebal namanya. Menjadikanku memilih di antara dua. Membiarkanku menjadi godam yang kelak menghancurkan kerasku sendiri. Ari dengan cara uniknya menunjukkan bahwa ia berharga. Dan aku menyukai itu.
.
.
.
Tiga, dan akan ada empat, lima, tujuh, dan seterusnya. Bersama Ari membuatku kembali berani menarikan lidah dan mengucap kata-kata berpemanis lebih. Sekalipun ia dan bahkan aku adalah makhluk fana, tapi dalam kesemuan yang membingungkan ini, aku ingin menjadi sebuah pasti bagi langkah-langkah Ari. Sebuah pasti yang di harapkan bisa menghentikan langkah ragu dan gundahnya. Aku ingin menjadi jawaban untuk Ari. Bagi semua pertanyaan yang terus membelit di sepanjang perjalanan hidupnya. Namun jika semua itu terlalu muluk dan berat untuk terlaksanakan, maka sebuah harapan tersingkat adalah keinginanku untuk membuatnya bahagia sekalipun aku tak memberikannya apa-apa. Aku telah menyerah untuk menjadi diriku yang sekeras batu. Aku ingin terus kembali melunakkan diri agar bisa setidaknya menyamai kelenturan Ari. Agar ketika raga kami berpelukan, tak ada sesuatu apapun lagi yang menghalangi dan mengganjal.
.
.
Hari jadi kami yang kedua bergulir begitu saja tanpa terucap banyak keinginan muluk. Merayakan tidak ada dalam daftar pernikahan kami sepertinya. Dua makhluk kaku yang tak pernah tahu bagaimana cara menghormati sebuah tanggal. Dan kado dariku selamanya tak akan berubah menjadi sesuatu yang layak di makan. Karena memang aku tak pernah memberi apa-apa. Dan hanya kata. Pengakuan bahwa aku telah bahagia. Pengakuan bahwa aku telah berhenti menganggap kedatangan Ari adalah sebuah kebetulan yang tidak di sengaja. Pengakuan bahwa aku merasa telah dalam separo jalan mengikis diri. Pengakuan bahwa aku tak lagi menginginkan apapun hal di dunia kecuali bersama dan melihat keluarga kami bahagia. Pengakuan bahwa mungkin, keluarga kami telah dalam separo tangga jalan menuju keluarga terharmonis sedunia.
.
Apalagi yang perlu kucari lagi setelah ini ? Ari memuat segala syarat untuk menuju bahagia. Dan dia adalah milikku. Hanya milikku.
.
Sinar temaram yang terus menerangi hari pernikahan kami, mendadak mendapat pasokan energinya secara tiba-tiba. Seperti separo gelas sirup yang terdesak oleh bongkahan es batu besar-besar. Dahagaku terpuaskan dalam umur kedua yang masih dikategorikan muda. Entah siapa yang memulai, tapi aroma rumah ini tak lagi seberingas ketika keberadaan Ari baru memasuki hitungan minggu dan bulan. Panas yang dulu terbakar pada malam pertama kedatangannya kian membara setiap harinya. Terus memuncak hingga kemudian angka dua menemukan keutuhannya. Tak ada lagi panas yang menyengat, yang ada tinggal bara yang menghangat. Dan aku menyukai itu.
.
Entah apa alasan di balik semua ini, tapi Ari terlihat lunak dan semakin manis akhir-akhir ini. Dan si kepala batu ini pun sepertinya tengah dalam separo jalan mengikis keras dirinya. Apalagi yang lebih membahagiakan ketimbang dua manusia yang tengah berusaha melunakkan diri agar lebih bisa saling terikat ? Dan Ari adalah pemenang. Bersamanya membuatku kembali ingin bermimpi, bersamanya membuatku tak lagi ngeri untuk berangan. Ari tak hanya membuatku terbang, tapi juga menumbuhkan sayap-sayap di punggung agar kelak aku bisa terbang tanpa bantuan.
.
.
Bukankah akan selalu ada cuaca cerah setelah badai menerjang ? Dan masa kritis momen romantisku berada pada dua ambang bulan. Yakni pada urutan ke tujuh dan ke delapan. Agustus adalah akhir. Berhentinya cerita cinta yang bahkan tak sampai di ujung lidah. Garis semu yang hampir saja kutapaki dengan membabi buta dan menghalalkan segala cara. Tapi bebarengan dengan momen sesakral tujuhbelasan, telah kutelan semua rasa cinta, kagum, sedih, kecewa dan berharap semuanya akan menjadi sampah dan berakhir di tempat dimana kotoran seharusnya berada. Mungkin ini telat untuk di ungkapkan. Tapi aku menyukai momen di mana aku merasa teriris hanya karena melihat sebuah nama bersanding dengan kekasihnya. Aku menyukai momen di mana Ari ada dan datang di saat yang tepat dan tak terduga. Bukan datang, tapi aku yang meminta lebih tepatnya. Tuhan membuatku menyadari tujuan-Nya setelah dua tahun berlalu. Ari bukanlah sebuah kebetulan yang menjadi nyata. Hari dimana aku memintanya untuk menemani duniaku adalah insting pertama yang berhasil kuraba untuk mengobati patah hati yang akan datang beberapa hari ke depan. Bahkan aku sudah bisa lebih peka dengan tidak secara sengaja menyentuh pintu instingku. Tapi ternyata tidaklah segampang itu, dibutuhkan angka dua yang utuh untuk menyadari bahwa keberadaan Ari bukanlah penambal dinding hatiku yang koyak. Ari tidak berfungsi dan tidak di desain untuk seperti itu. Ari adalah setebal namanya. Menjadikanku memilih di antara dua. Membiarkanku menjadi godam yang kelak menghancurkan kerasku sendiri. Ari dengan cara uniknya menunjukkan bahwa ia berharga. Dan aku menyukai itu.
.
.
.
Tiga, dan akan ada empat, lima, tujuh, dan seterusnya. Bersama Ari membuatku kembali berani menarikan lidah dan mengucap kata-kata berpemanis lebih. Sekalipun ia dan bahkan aku adalah makhluk fana, tapi dalam kesemuan yang membingungkan ini, aku ingin menjadi sebuah pasti bagi langkah-langkah Ari. Sebuah pasti yang di harapkan bisa menghentikan langkah ragu dan gundahnya. Aku ingin menjadi jawaban untuk Ari. Bagi semua pertanyaan yang terus membelit di sepanjang perjalanan hidupnya. Namun jika semua itu terlalu muluk dan berat untuk terlaksanakan, maka sebuah harapan tersingkat adalah keinginanku untuk membuatnya bahagia sekalipun aku tak memberikannya apa-apa. Aku telah menyerah untuk menjadi diriku yang sekeras batu. Aku ingin terus kembali melunakkan diri agar bisa setidaknya menyamai kelenturan Ari. Agar ketika raga kami berpelukan, tak ada sesuatu apapun lagi yang menghalangi dan mengganjal.
.
.
Hari jadi kami yang kedua bergulir begitu saja tanpa terucap banyak keinginan muluk. Merayakan tidak ada dalam daftar pernikahan kami sepertinya. Dua makhluk kaku yang tak pernah tahu bagaimana cara menghormati sebuah tanggal. Dan kado dariku selamanya tak akan berubah menjadi sesuatu yang layak di makan. Karena memang aku tak pernah memberi apa-apa. Dan hanya kata. Pengakuan bahwa aku telah bahagia. Pengakuan bahwa aku telah berhenti menganggap kedatangan Ari adalah sebuah kebetulan yang tidak di sengaja. Pengakuan bahwa aku merasa telah dalam separo jalan mengikis diri. Pengakuan bahwa aku tak lagi menginginkan apapun hal di dunia kecuali bersama dan melihat keluarga kami bahagia. Pengakuan bahwa mungkin, keluarga kami telah dalam separo tangga jalan menuju keluarga terharmonis sedunia.
.
Apalagi yang perlu kucari lagi setelah ini ? Ari memuat segala syarat untuk menuju bahagia. Dan dia adalah milikku. Hanya milikku.
Langganan:
Postingan (Atom)