Sabtu, 07 Juli 2018

Permulaan

Aku ingin menulis. Meski tak tahu apa yang sebenarnya ingin aku tulis. Aku ingin melepas kutukan yang dibuat saat aku masih muda, bukan berati hari ini sudah tua, hanya saja, tahun-tahun terakhir membuatku merasa seperti manusia sepenuhnya, bukan lagi remaja yang tengah mengoreki jati diri di setiap jengkal jalanan. Aku pernah berada di sana, di jalanan itu, merasakan dengan pasti apa itu sebuah kesepian dan berteman. Aku muda memiliki banyak teman dan juga penggemar. Meski aku sendiri tak mengerti apa yang mereka lihat lebih pada diriku. Bohong, aku tidak sebodoh itu untuk tidak memahami apa bakat yang kumiliki. Dan jujur adalah sebuah badai yang datang di siang hari kala panas tengah menyengat kota ini. Aku muda, selalu memainkan sebuah peran, peran tentang seseorang yang begitu mengarat, peran tentang seseorang yang membutuhkan kasih sayang, peran tentang seseorang yang begitu bijak. Aku mengganti peranku sesuai dengan moodku hari itu. Atau dengan siapa aku tengah berbicara lebih tepatnya. Aku menjadi orang lain, aku tidak mengenakan topeng, tapi dari lubuk hatiku menyadari bahwa aku tengah bersembunyi di balik sebuah peran. Aku ingin terlihat berguna, aku ingin sekedar terlihat, dan aku ingin sempurna. Khayalan termuluk yang di miliki hampir seluruh remaja di dunia. Termasuk diriku.

Ketika muda, aku gemar sekali menulis, menceritakan apapun keresahan yang tengah kurasakan, atau hal apapun yang saat itu singgah di otakku. Aku tidak memperhatikan apapun saat itu, tidak ejaan, tidak pula letak titik dan koma yang benar. Yang aku tau aku tengah menuangkan, seperti melukis abstrak di atas sebuah kanvas. Tidak banyak orang yang bisa mengapresiasi lukisan abstrak, termasuk juga jenis tulisanku. Tapi saat itu, aku tidak peduli, selama menulis tetap bisa menjaga kewarasanku, aku sudah cukup berbahagia karena alasan satu itu. Dulu aku adalah seseorang yang polos, bukan polos tapi jujur mendekati bodoh lebih tepatnya. Aku menuangkan segala yang kurasa, tanpa peduli jika diriku akan menjadi sebuah buku di atas sebuah meja, siapapun akan membacanya, dan siapapun bisa mengetahui isinya, namun itulah memang tujuanku, aku ingin berguna, sempurna, dan terlihat ada. Aku membuat tulisan seperti meletakkan makanan yang dengan sengaja bertujuan untuk mengundang lalat. Aku keji, berpikir akan memiliki penggemar dengan menarik mereka secara perlahan melalui tulisan dan isi hatiku. Dan semua itu adalah masa lalu.

Beberapa tahun ke belakang, aku menghentikan kegiatan menulisku. Bukan sebuah rencana sebenarnya, karena tidak bisa menghasilkan tulisan memang bukanlah keinginanku. Aku berbahagia, satu alasan yang mendasari mandeknya ide mengetik di kepalaku. Aku gugup, aku mentah, aku merasa tidak akan bisa menghasilkan apa-apa. Dan memang benar, semua ketikan-ketikan yang terus ku coba hanya berhasil sampai ke titik tunggu, dan bukan publikasi. Aku berbahagia untuk kehidupan yang tidak akan kurincikan detailnya di halaman ini. Mungkin pada lain waktu, dan pasti memang akan ku tulis pada lain waktu. Bahagia adalah sebuah perasaan kompleks. Aku tidak bisa berfokus pada satu keresahan yang ingin ku angkat. Ketika aku mulai mencoba, entah dari penjuru mana, aku melihat sebuah godam yang melenyapkan semuanya, aku gagal meresapi penderitaan, dan merasa harus tertawa. Ketika muda, aku menarik sebuah kesimpulan dari ketidak beraturannya sistem menulisku. Aku membuat sebuah mantra yang kelak mengutuk dan mengurungku dalam pernyataan itu, bahwa aku tidak akan bisa menghasilkan tulisan apa-apa ketika tengah berbahagia. Lihatlah, kehidupan baruku beberapa tahun terakhir memberikan bukti nyatanya. Namun pagi ini, aku ingin bangun. Aku ingin mengakali dan berlari dari kutukan yang pernah mengurungku. Jangan tanya berapa kali sudah aku mencoba, karena memang, memulai sebuah tulisan panjang setelah sekian lama rehat adalah sesuatu yang sulitnya tak terbayangkan. Seperti mencoba merasakan keberadaan tangan ketika tengah berada di alam mimpi. Sebuah pemaksaan yang harus di jadikan kenyataan. Dan pagi ini, di usia yang masih muda namun memiliki pandangan dan juga pegangan pasti. Bukan sebuah sapa penggemar yang ingin ku tuai dari ketikan ini. Tapi sebuah rasa lapar akan kebutuhan yang harus terus dan tetap terpenuhi. Tidak peduli seberapa buruknya itu, aku harus tetap menggerakkan tanganku dan mengenyangkan jiwa dengan sebuah tulisan.

Sabtu, 28 April 2018

Diam

Aku berharap aku tidak menulis ini, dan membiarkan orang lain mengetahui apapun yang hendak kukatakan nanti. Aku berharap aku tidak pernah memperlihatkan raut yang terlalu gembira ataupun terlarut dalam euforia suka, ketika yang ku inginkan di akhir adalah menjadi sesuatu yang tak terbaca. Aku berharap, aku memiliki kekuatan untuk membagi ini dengan Ari, tanpa harus membaginya terlebih dahulu dengan dunia. Tapi rupanya sempurna adalah klimaks yang begitu ku idam-idamkan dari hubunganku dengannya. Aku tak ingin membuat Ari berfikir bahwa aku keliru dan menambah daftar kekurangan yang tak kan pernah mau ia ucapkan. Dan kenyataan di depan mata perlahan menghisap kebahagiaanku. Harapan-harapan yang tak pernah lolos dari kungkungan lidah, keinginan yang tak pernah begitu mulus tersampaikan. Dan aku pernah berharap menjadi seorang tunawicara agar tak melukai siapapun dengan perkataanku. Aku berharap aku tak memiliki keinginan untuk menjadi sempurna. Aku berharap aku bisa menggantikan peran siapapun yang telah berhasil mengambil hati mereka, manusia-manusia yang tengah ku bicarakan saat ini. Aku berharap aku tak pernah begitu terlihat bahagia sebelumnya, hanya karena saat ini aku mengerti, satu-satunya cara untuk memutus lidah tajamku adalah dengan menjadi diam. Dan mereka mulai merasa tak nyaman dengan situasi baru ini.

Minggu, 11 Maret 2018

Kupu

Detik pertama aku membuka mata, adalah hari di mana aku tahu bahwa diriku ternyata sesosok kupu-kupu. Dan kebebasan adalah hal pertama yang singgah di kepalaku waktu itu. Tunjukkan satu saja kekurangan yang dimiliki oleh hidup sang kupu-kupu, dan kau tak akan bisa menemukannya dengan cepat. Ya, hidupku telah di takdirkan untuk menjadi sempurna. Aku memiliki sayap cantik mengagumkan, aku terbang, dan aku mati dengan sebegitu mudahnya. Ya, karena percaya atau tidak, hidup adalah salah satu hal yang paling di risaukan oleh sebagian makhluk di dunia, mereka memuja hidup tapi juga merindu adanya ketiadaan. Sementara aku, rentang hidupku tidak selama itu, tidak sampai pada titik bosan yang hampir melanda separo makhluk benyawa di dunia.

Tapi waktu berlalu dengan sangat cepat semenjak hari itu, semenjak aku turut memuja kecantikan dan keindahan sayapku. Aku mulai bosan dengan semuanya. Dalam takdir hidup yang sesingkat ini, masih pula aku di lalui rasa bosan, ironis bukankah?

Rabu, 28 Februari 2018

Kupu-kupu Biru

Dunia adalah tempat bermain yang sangat luas. Kita berputar, mengayun dan melakukannya hingga habis tenaga, dan dunia ini belum juga akan habis keluasannya. Kupu-kupu adalah jenis makhluk yang paling ku puja keberadaannya di dunia ini. Mereka menawanku dalam kekaguman yang tak kunjung luntur. Bahkan diamnya mereka adalah sesuatu yang menakjubkan. Melalui kepakan kecilnya, dunia seperti sebuah lorong panjang yang tak memiliki ujung batasan. Aku dulu selalu bertanya-tanya apakah dengan keberadaan sayap itu lantas membuat mereka memiliki keinginan untuk bisa mengelilingi dunia atau tidak, atau mungkinkah keserakahan itu hanya di miliki oleh kaum melata sepertiku? Hingga kemudian keajaiban pun datang, seekor kupu-kupu berwarna biru mendatangiku seperti dia mendengar kepenasaranku. Dan kami mulai berbincang, jangan tanyakan bagaimana caranya aku bisa memahami perbendaharaan katanya, karena jika kamu lupa, aku ini seekor cicak dan kaumku memiliki kemampuan untuk memahami segala bahasa dari separuh binatang yang ada di dunia ini. Jika kamu merasa hal itu adalah sesuatu yang hebat, tunggu di lain waktu hingga bisa kuceritakan kelebihan-kelebihan diriku yang lain, terlihat congkak bukan?

Kembali kepada si kupu-kupu biru, dia bernama Kat, dia berumur hampir sama sepertiku, tapi kemampuannya dalam melihat dunia berlipat lebih banyak dariku. Dia menarik, aku yang dari semula begitu memuja secara khusus kepada makhluk cantik sepertinya, merasa semakin tertarik ketika akhirnya bisa mengenal lebih jauh salah satu dari mereka. Kat, sayapnya memiliki warna yang akan mengingatkanmu pada kejernihan dasar lautan, lebih pekat dari biru yang di suguhkan langit ketika sedang ceria-cerianya. Dan di ujung sayapnya, terdapat bercak hitam sebesar jengkalan tangan, tapi keberadaannya bukanlah sesuatu yang merusak, karena Kat semakin terlihat sempurna dengan warna hitam di ujung kelopaknya itu. Ahh, aku semakin kentara menunjukkan minat kepada Kat, bukankah?

Dia selalu menjadi teman yang baik untuk membicarakan apapun, dunia menjadi semakin luas lagi karena keberadaannya, jangan tanya sejak kapan aku dan Kat mulai berteman, karena ada sesuatu yang lebih penting lagi daripada mengingat sebuah tanggal. Aku mengutarakan rasa kagumku kepada Kat, dan dia pun memiliki perasaan yang sama terhadapku. Kita beranjak menjadi sepasang kekasih? Tidak, tidak secepat itu, dan aku begitu mengerti makhluk seperti apa si Kat itu, kaum mereka begitu benci dengan keterikatan, terlalu lama berada di angkasa dan memiliki keluasaan untuk mengarungi, mungkin adalah alasan yang tepat kenapa terikat menjadi sesuatu yang sangat merepotkan. Dan aku memaksa. Aku menyesal melakukannya, tapi sebelum aku berhasil mengucap sempurna kalimat itu, Kat telah pergi.

Sosok yang begitu sempurna, yang begitu ku puji dan ku puja, yang menunjukkan padaku keindahan juga keluasan dunia, kini telah tiada. Aku yang memaksanya mengambil keputusan itu, aku buta kala itu, berangan sebuah kenyamanan akan beranjak menjadi lebih dalam sebuah ikatan, aku melupakan kenyataan bahwa tak ada tahta yang berhasil mengungguli sebuah kenyamanan. Dan si makhluk biru dengan titik hitam di ujung sayapnya kini tak pernah lagi menampakkan diri dalam jangkauan. Kat pergi membawa separuh diriku dalam kepakan kecilnya. Menjauh dari cakrawala, menjauh dariku.

Waktu beranjak jauh semenjak hari kepergian makhluk cantik bernama Kat, dan hari ini, di sinilah aku, berayun di sebatang tangkai di tengah perkebunan yang hampir di penuhi ilalang. Aku memberanikan diri keluar dari kungkungan ruang. Memunguti remah harapan yang mungkin tak sengaja ia jatuhkan. Aku ingin kembali bersua dengannya, aku ingin kami kembali berlomba mengukir kata, aku ingin ia mendengar alasan di balik sebuah keterikatan yang ku damba darinya. Ya, terlahir menjadi seekor cicak bukan sesuatu yang menjadi pilihanku. Terkurung dalam ruang, bukan pula sesuatu yang ku harapkan. Menjadi apapun terlihat lebih baik ketimbang menjadi diriku. Tapi seperti inilah aku terlahir ada. Tak ada jalan lain, satu-satunya yang tersisa adalah bahwa aku harus menjabat tangan takdir. Bersahabat dengannya, dan mematuhi semua jalanan yang di lukiskannya. Makhluk sepertiku tak mengenal kata teman, sekalipun jika kalian mungkin pernah melihat ada dua atau tiga ekor cicak yang tengah berada dalam satu lingkaran, percayalah, mereka di sana tidak sedang bersenda gurau terlebih dengan cangkir-cangkir teh dan kudapan di sekelilingnya. Persaingan adalah darah dalam kehidupan makhluk seperti kami, dan hati adalah bagian paling kecil dalam anggota tubuh kami. Bisa kalian bayangkan bukan? Seperti apa dunia yang melingkupiku ini. Sesekali aku tergoda untuk merajuk kepada takdir, menabur harap ia akan luluh untuk menyulapku menjadi kodok atau ayam. Sungguh, menjadi apapun tetap terlihat lebih baik ketimbang menjadi aku, sudah pernah kukatakan itu, bukan? Namun hasil selalu nihil, alih-alih merubahku menjadi kodok atau ayam, takdir justru mengajariku berpujangga, mengolah kata,  dan meraciknya menjadi sesuatu yang enak untuk di suguhkan. Aku ingat, Kat selalu memuji kelihaianku memainkan bahasa, dan jika aku tak salah hitung, itulah kali pertama dan terakhir Kat menunjukkan sebuah minat terhadapku, sebuah tindakan yang mendasariku untuk berbesar kepala yang menjadi alasan kepergian Kat.

Kat, belum mendengar pengakuanku, betapa selama ini aku telah menjadi gila karena api yang terus membara oleh perangai kaumku, betapa aku ingin memiliki kawan sekedar untuk bisa saling mendengarkan. Usahaku untuk bersahabat dengan takdir belum sepenuhnya membuahkan hasil ternyata. Tembok selama ini adalah hal terbaik yang bisa kumuntahi segala isi otakku. Dia mendengar semuanya dalam diam, dia selalu menelan semuanya tanpa bersisa. Tapi bertahun-tahun melakukannya, tak lantas membuatku kebal pada kenyataan bahwa tak akan pernah ada sebuah jawaban yang terucap. Dan aku semakin gila karenanya. Aku bosan berbicara dengan tembok. Aku bosan tak berpendengar. Aku bosan harus merumus sebuah jawaban dalam terkaan. Aku bosan melihat si tembok hanya diam. Aku muak dengan semua itu, aku muak hingga sampai pada titik dimana sebuah pemikiran tentang bunuh diri adalah sesuatu yang teramat menggiurkan. Kat tak pernah memahami, betapa keinginanku selama ini adalah sesingkat itu, Kat tak pernah mengerti betapa takdir yang bodoh itu telah salah karena menjadikanku pintar berpujangga. Dan, kepada siapa lagi aku harus menyalahkan atas kepergian Kat?

Kat benar, ia selalu benar, bahwa jika dunia ini adalah sebuah lorong tanpa batasan karena memang seperti itulah kenyataan yang ada. Aku sekarang adalah seekor cicak yang bebas. Dunia menjadi pijakan yang luas, sekaligus taman bermain tanpa akhir yang begitu merongrong rasa dahagaku agar terpuaskan. Tapi kemanapun kakiku melangkah, Kat tak pernah ada di sana, ia benaran pergi tanpa sudi mendengarkan sebuah alasan, alasan milikku.

Sabtu, 18 November 2017

Kembali

Aku berlari, terus dan terus tanpa mau sedikit saja peduli akankah jalanan di hadapanku telah mencapai ujung atau justru tengah menemui persimpangannya.

Mereka kembali, hatiku tak pernah berhenti membisikkan kenyataan bahwa mereka telah kembali. Rumah yang selalu kuhindari untuk kembali, senyum teduh yang setengah mati kuhindari untuk tidak terus terpatri, sekian tahun berjuang dan seperti hujan pertama yang datang setelah kemarau panjang nan mencekam.  Dahaga itupun akhirnya terpuaskan.

Delapan atau mungkin tujuh tahun lalu, aku pernah merasakan kelengkapan yang tiada terkira. Aku memuja, aku mencinta, aku memahami dan aku pula tercabik karenanya. Siapapun mereka tak ingin kusebut namanya disini, biarkan saja nama itu hanya mengalun dalam relung yang hanya diriku yang bisa mendengarnya. Menjamahi mereka sekali lagi, terasa seperti bercinta di garis vertikal yang memisahkan atau justru menghubungkan dua subjek alam. Lebur bukan lagi kata yang tepat untuk menggambarkan. Karena duka menyelimuti apapun yang tersisa, karena bahagia menempeli apapun yang terlaluinya.

Kamis, 16 November 2017

Menanam Bintang

Seperempat abad mendapat kesempatan  hidup membuatku melihat banyak, begitu banyak jenis bintang beserta teka-teki yang di kandungnya.
Satu kali pernah kudapati bintang yang berkilau lemah namun memancarkan pesona penuh keajaiban, pernah pula ku temukan sekumpulan bintang dalam langit oranye di ufuk sana, berkedip manja seolah mengundangku untuk memetiknya. Dan kali ini,  aku ingin bercerita lebih tentang bintang istimewa milikku. Bintang satu ini tidak hidup di angkasa sana, tidak pula mendiami ufuk dengan warna apapun di atas sana.  Bintang ini istimewa, sekali lagi kutegaskan,  karena dia hidup di pekarangan istanaku. Mendiami sekian petak tanah yang memang sengaja kudedikasikan untuk perkembangan alaminya.

Hari itu, tepatnya dua hampir menyentuh angka selanjutnya, tahun berlalu di belakangku, ketika aku menemukannya tergeletak lemah di atas salah satu bantal di atas ranjangku. Awalnya aku mengira masih terjebak di dunia mimpi, karena memang tak pernah kulihat sesuatu yang seindah itu hadir di dunia ini. Besarnya tak lebih dari kuku jempol orang dewasa, dengan pendar putih tapi tak menyilaukan, berkedut lembut seperti tengah bernafas. Kunang-kunang jelas tidak mirip seperti itu, lalu dalam kengerian yang bercampur dengan rasa takjub aku mencoba untuk menyentuhnya, memastikan bahwa benda seperti bola berhallo di atas bantal dan kutemukan tepat ketika aku pertama membuka mata itu bukanlah sesuatu yang mengancam atau membahayakan. Dan tepat ketika kulit jariku menyentuh sesuatu entah apa itu, di antara sadar dan kengerian yang teraduk menjadi satu, aku merasa seperti sesuatu telah mengalirkan listrik melalui ujung kulit jariku, bola berhallo dengan penampakan imut-imut menggemaskan itu ternyata lebih dari sekedar membahayakan. Karena jujur saja aku adalah jenis manusia yang membenci segala sesuatu tentang sengat menyengat. Namun, di luar kesadaranku atau memang sesuatu itu benar adanya, tapi aku merasakan sebuah sapaan masuk perlahan di dalam otakku, mungkin aku masih terjebak di alam mimpi, tapi keanehan itu terasa sangat nyata. Bola berpendar di atas bantalku ternyata adalah sesuatu bernyawa! Atau setidaknya ia sendiri lah nyawa itu. Dalam kebingungan dan ketakjuban, kuberanikan diri untuk mencoba memulai bertanya, awalnya terasa agak janggal, karena secara teknis memang tak ada siapapun yang bisa kuajak berbicara selain lingkar bercahaya di hadapanku, dan keanehan kembali terjadi ketika kudapati berbagai informasi yang berhubungan dengan pertanyaanku mulai mencapai sisi kepala letak otak berada. Dan entah dalam waktu yang ke berapa, entah dalam titik kesadaran yang mana, aku merasa sesuatu seperti tengah mengajakku entah kemana, berbekal keberanian yang janggal, aku mulai berjalan melintasi ruang, menembusi langit menghitam di atas sana, mengabaikan sapaan bulan dalam sapuan senyumnya yang nyaman.
Aku berjalan dan berhenti di atas tanah perkebunan di pekarangan. Seperti tahu apa yang menjadi tujuanku, bola berhallo dalam genggaman menggelincir dengan sangat anggunnya, menjejak tanah tanpa ada acara memantul terlebih dahulu, sedikit di luar nalar memang, sesuatu bercahaya yang seolah tak memiliki massa ketika berada dalam genggaman, tetiba saja memeluk tanah dengan begitu erat dalam satu entakan saja. Bahkan bila kuteliti sedikit lebih dekat, ada kedalaman yang mengelilingi dengan sangat tepatnya, seolah sepasang tangan telah dengan sengaja menggali lubang itu untuk di tempati. Tanpa keraguan lagi, kujangkau sejumput tanah dan rumput dalam genggaman yang lain, mencoba menutupi apa yang memang sepertinya ingin bersembunyi dan tertelan. Dalam kesadaran yang masih mengambang, kusempatkan untuk mengucapkan sepenggal ucapan selamat tinggal kepada seonggok kecil tanah baru di hadapanku. Hari itu aku telah menyimpan sebuah misteri, hari itu aku telah menabur sebuah teka-teki.

Seperempat abad berlalu, dan hari ini aku memeluk sebuah bintang yang tengah meringkuk nyaman dalam pelukan. Puluhan cerita telah ku dengar tentang asal mula sebuah bintang, tapi sesuatu hangat dalam dekapanku adalah benar-benar sesuatu yang lain, karena ia istimewa, karena ia terlahir dalam balutan kehangatan yang tak pernah luput ku curahkan, karena ia tumbuh di bawah pengawasan mataku, bahkan dengan tanganku sendiri pula aku menelantari kelahirannya ke dunia. Bintang istimewa yang membisikkan padaku banyak pengetahuan ambigu, ketika dulu pertama kali kita bertemu.
Sebuah kemustahilan yang menemukan jalan pulangnya. Sebuah teka-teki yang tak pernah ia bagi dengan siapapun dan tak akan pula ku bagi kepada siapapun. Bulatan kecil berpendar lembut yang pada akhirnya kunamainya sebagai bintang, adalah sesuatu yang dulu hadir di atas bantalku, mambuatku waspada sekaligus bertanya-tanya, bintang yang kemudian terlahir dari persembunyiannya, memastikan diriku bahwa keajaiban bukanlah sebuah abstrak dalam balon pengetahuan. Memastikan bahwa mulai saat kedatangannya, aku tak perlu lagi berkhayal tentang terbang dan memetik bintang, karena salah satu dari mereka telah menghadirkan dirinya sendiri terkhusus untuk manusia paling beruntung di abad ini.

Sabtu, 28 Oktober 2017

Mantan Anomali

Manusia separo ranger. Apa kiranya hal yang muncul ketika kalian menemeui kalimat satu itu ? Apakah aku ? Sedikit mengejutkan, tapi aku pun berpikir bahwa itu adalah aku. Atau mungkin lebih tepatnya pernah berpikir bahwa itu adalah diriku.
.
Waktu telah berlalu dengan begitu cepatnya, waktu mengguyur kehausanku akan ketenaran yang sepantasnya dimiliki oleh kaum-kaum yang unik dan berbakat. Sementara aku, namaku hanya cocok di sandingkan dengan kata unik semata, tidak dengan berbakatnya. Sekian tahun lalu, ketika darahku masih mengangkut serta bara api di dalamnya, ketika aku melihat angkasa berada dalam jangkauan lima buah tangga yang disatukan, ketika semua masih ternilai dalam nominal, ketika sosok yang mengencerkan kental darah manusiaku dengan darah rangernya masih berdiri ada. Saat itu aku adalah seonggok daging yang begitu kokoh, hampir menyentuh sombong. Aku berteriak, aku memaki, dan aku mengeluh. Tiga hal yang dewasa ini secara mati-matian tengah kutekan agar tak sampai lolos keluar dari kerongkongan. Ayahku, si ranger langka itu, menempaku tidak seperti kebanyakan orangtua dalam mengasuh anaknya. Ia dengan caranya sendiri membuatku begitu kokoh, kuat dan dewasa, dewasa dalam artian yang kutahu pada umurku saat itu tentu saja. Aku masih ingat bagaimana masa itu benar-benar sebuah perjuangan yang teramat keras. Aku hampir saja keluar rumah jika saja sesuatu di dalamku tidak dengan sabar menyirami kepala mendidihku dengan banyak nasehat. Tiada hari yang terlewati tanpa adanya makian dm umpatan yang terus merangsek mencoba keluar dari tenggorokan. Jika saja di dalam kepalaku terdapat dua tangan, aku yakin mereka akan saling baku hantam dan merobek kepalaku dengan segera. Masalah remaja tak akan pernah ada habisnya. Dan si ranger yang kelak menjadi paracetamolku, mendinginkan segalanya hingga titik teraman, menyumbangkan pula sekian persen dari seluruh 'permasalahan remaja' yang tengah menimpaku saat itu. Ranger itu membisikkan kutukan sekaligus menyanyikan lulaby secara bersamaan dalam tempo singkat hidupnya. Membuatku akhirnya menyadari bahwa mungkin aku tidak akan tercipta untuk menjadi manusia biasa-biasa saja. Hari itu mataku terbuka dan segera mengetahui bahwa ternyata sosok pembuat sekaligus yang selama ini menuntunku adalah seorang ranger. Bersamaan dengan itu pula ayah mengakhiri perjalanannya didunia. Aku sempat menyimpan curiga kalau ini memang skenario yang telah di sepakati oleh alam, bahwasanya kontrak hidupnya akan berakhir tepat ketika kesadaranku terbangun dari masa lupanya. Dan perpisahan memang selalu berbaik hati menyisipkan pelajaran pada mereka yang ditinggalkan. Aku manusia separo ranger yang berbahagia saat itu, bagaimana tidak, kokohnya diriku, pemikiran (sok) bijak yang kupetik dari setiap langkah ayahku berhasil kuadopsi dengan begitu sempurna. Perlahan namun pasti, aku menemukan banyak mata yang menatap memuja untuk setiap butir kata yang kumuntahkan. Sedikit menjijikan memang, tapi kala itu aku begitu menikmati setiap puja-puji yang terlontar. Aku yang semula mengira hanya remaja kebanyakan, dalam sekejap mata mengetahui ternyata dirinya teraliri darah ranger. Aku pun seketika lupa, bahwa namaku mengandung arti yang tak secara sembarangan di rangkai orangtuaku, tak lain dan tak bukan adalah demi mengingatkanku. Bukankah tak ada tanah yang bisa mengotori hamparan kapas langit ?
.
Hari keruntuhanku pun tiba. Bukan tanpa permisi sebenarnya. Perlu dua nama dan dua tahun untuk melakukannya. Ari dan Hara. Dua yang menjebol eratnya perisai yang terbentuk dari darah rangerku. Dan untungnya menyisakan kenormalan melegakan yang belakangan ini kusyukuri keberadaannya. Ari begitu mengerti siapa aku, seperti apa warna dan seberapa kental cairan darahku. Dia begitu paham seberapa banyak bekal yang di jejalkan ayahku ke dalam kantong saku milikku. Kekokohan yang sepantasnya dimiliki oleh kaum lelaki, dan kekuatan yang seyogianya dikuasai oleh para tetua di atasku. Aku menguasai keduanya dan pemikiran yang terus mendominasi karena efek samping keduanya adalah bahwa aku tak pernah membutuhkan siapa-siapa. Darah rangerku sudah lebih dari cukup untuk menopang kehidupanku. Dan kelembutan Ari, ketelatenannya dalam menghadapi, kesabarannya dalam menuntun dan mengiringi, serta ketidaksudiannya untuk mengungguli, berhasil melumpuhkan titik terpuncakku. Secara perlahan, keberadaan Ari dan keajaiban yang datang silih berganti semenjak kelahiran Hara, berhasil melelehkan separo isi kepalaku. Manusia separo ranger ini berhasil menguasai jiwa manusianya sepenuhnya. Manusia berdarah separo ranger ini menyadari bahwa tanah tak seharusnya berserakan di atas langit sana. Ia harus menapak di bumi karena memang disanalah tempat seharusnya. Tak ada lagi puji-puja, tak ada lagi tatapan memangsa. Kini yang tersisa hanyalah tatapan penuh takjub milikku karena menyadari telah memiliki dua darah mengagumkan yang berpotensi menghasilkan cerita yang lebih sempurna ketimbang cerita tentang manusia berdarah ranger.