Sabtu, 23 November 2019
Tanah dan Hujan
Senin, 18 November 2019
Catatan Singkat
Rabu, 13 November 2019
Abu Yang Lain
Selasa, 12 November 2019
Membuat Setapak Baru
Senin, 28 Oktober 2019
Hampir
Jumat, 27 September 2019
Separo Waktu
Dulu, ketika air lautan masih terasa hangat meski kucelupkan kakiku ketika gelap melanda.
Dulu, ketika masih bisa kulahap setiap makian sebagai candaan.
Waktu seperti telah berlalu sangat lama sejak hari itu.
Engkau yang pertama mengulurkan tangan, menyambutku dalam tawa penuh terimakasih dan juga bahagia. Engkau yang pertama mengetuk hatiku agar mau kita bergandengan. Engkau yang pertama memperkenalkanku pada duniamu yang sekarang menjadi dunia kita.
Aku tidak serta merta mengulurkan tanganku waktu itu, jelas saja. Aku menimbang teliti tentang bagaimana aku akan bisa melanjutkan kehidupanku selanjutnya. Tapi kau meyakinkan keraguanku dalam genggaman yang tereratkan. Hingga kemudian kita berjalan beriringan. Melewatkan separo siang dan separo malam lebih lama untuk bersama ketimbang dengan siapapun nama. Apa kau ingat cerita tentang kesalahan-kesalahan itu? Apa kau ingat tentang waktu buruk yang lalu itu? Ya aku bersamamu, dan aku mengingatnya. Apa kau juga ingat perjalanan panjang menelan malam yang kita lalui bersama? Apa kau juga mungkin ingat ketika kita bersama menyusuri tiap sudut jalanan demi satu tujuan? Ya, aku menyertaimu, dan mengingat itu. Aku mengingat semua suka duka itu meski aku percaya kepalamu berisi sebaliknya.
Terkadang, kita merasa telah berhasil menemukan jalan menuju kehidupan yang damai menyenangkan. Tapi terkadang, jalanan lengang yang menyapa kita justeru tidak akan membawa kita kemana-mana, sekalipun kita tabah menapakinya hanya ada kebuntuan di depan sana. Jalan kehidupan tidak pernah tercipta sebagus dan semulus itu, dan bagi siapapun tercipta sama, hanya memiliki liku dan jenis kepanjangan yang saling berbeda.
Aku mengira hubungan ini akan mengekal untuk selamanya. Aku mengira keberadaanku telah naik status menjadi semacam saudara, aku bahkan sempat mengira akan kau rangkul dengan lebih mesra, setelah banyaknya duka yang kita lalui bersama. Tapi nyatanya aku keliru. Jalanan berliku yang semula terlihat sebagai jalan hidupku ternyata masih saja menemui jalan buntu, sekali lagi aku salah mengartikan isi takdir tuhan, karena selain meragu sekarangpun tekadku kian menguat untuk bisa melepaskan.
Perjalanan panjang ini bukannya tidak memberikan padaku pengaruh apa-apa, karena itu sangat berharga. Sedih mengatakan ini tapi perjalanan panjang kita seperti harus menemui titik akhirnya. Kebahagiaan kita menemui titik buntu, aku merasa ragu, dan yang terpenting dari semuanya adalah jarak panjang yang secara tak sadar terus engkau ciptakan. Aku mengabulkan permintaanmu yang kedua, aku akan berusaha untuk berjalan teratur mundur dari jajaranmu, dari patner langkahmu, dari separo siang dan malammu.
Semua orang nanti akan mengira berakhirnya hubungan kita karena lemahnya keinginanku untuk terus bertahan, kelemahan terbesarkulah yang mengacaukan segalanya. Ya semua orang paham bagaimana mudah tersentuhnya diriku, terlahir sebagai nama dengan perasaan yang lebih sensitif dari siapapun, dengan hati yang begitu rentan untuk menghadapi kondisi apapun. Nyatanya, sebelum ini telah kutempa diriku menjadi sekuat baja, perjalanan panjangku sebelumnya telah menitipkan padaku kekuatan tersembunyi yang masih enggan kubagi-bagi. Tapi seberapa kuatpun aku berusaha untuk menjadi manusia baja, tetap saja kudapati goresan luka muncul di setiap percakapan yang menggulir di beberapa waktu bersama kita. Ya, aku yang berdarah dan tengah merangkak mundur untuk menghindari luka yang lebih menganga.
Tapi apakah kau sadar tentang hal itu? Kau pasti mencium juga keenggananku akhir-akhir ini, kau pasti juga merasa sesuatu yang tak baik tengah melanda hubungan kita. Dan sekali lagi aku terluka oleh ketiadaanmu merespon semua yang tengah menerpa. Kau bertindak seakan semuanya baik-baik saja. Itulah satu-satunya hal yang menyakitiku, andai kau ingin tahu.
Tentu saja aku ingin kita bisa memperbaiki semuanya, waktu yang sekian lama terlewati tak ingin begitu saja terbuang tanpa makna. Dan lagi-lagi ragu itu datang lebih cepat dari kedipan mata. Aku meragu untuk langkah di depan kita, aku meragu untuk ketulusan yang pernah kau tawarkan di muka. Akan sulit tentu saja mengakhiri kebiasaan, terlebih yang terbentuk oleh separo siang dan separo malam, tapi aku akan bertahan, lupa di anggap ada bukanlah hal baru dalam babak hidupku, lupa di anggap berharga bukanlah sesuatu yang pertama menjumpai perjalananku. Aku akan baik-baik saja. Mungkin memang bukan engkau yang menggariskan jarak di antara kita, aku yang melakukannya. Mungkin bukan engkau yang mengiris disetiap pertemuan kita, tapi akulah yang memegang pisaunya.
Ya, dengan berbekal kejujuran itu, maukah kau melepaskanku? Maukah kau berbaik hati menghapusku dari separo siang dan malammu? Karena sebuah paksaan tidak akan menghasilkan apa-apa, karena sesuatu yang terbumbui ragu tidak akan menghasilkan hidangan, karena meski tidak pernah tertulis di atas kertas tapi seperti telah menjadi ciri khas diriku untuk tetap melanjutkan langkah yang pernah ku ambil. Dan aku memilih untuk memutar langkah, menjauhimu beserta duniamu, meninggalkannya meski tanpa rela. Sekali lagi aku ingin engkau menjawab semua keraguanku, maukah kau melepasku dari separo siang dan malammu?
Senin, 23 September 2019
Pepesan Angan
Pada malam-malam tertentu dimana otak milikku bergeser beberapa senti dari letak normal, adalah waktu favoritku untuk menggerecoki kepala Ari dengan banyak ocehan-ocehan di luar nalar.
Sudut bibir Ari juga adalah tempat kesukaanku untuk mendaratkan ciuman-ciuman ringan. Dan bertumpukan sebelah tangan dan juga dadanya aku bisa mengocehkan apa saja yang terlintas dalam kepala meski itu hanya pepesan angan atau justru lipatan kenangan.
Aku selalu suka mengenang bagaimana dulu aku dan Ari pertama bertemu, dalam sebuah reuni akbar yang tidak hanya melibatkan satu kursi angkatan tapi membaris dari tahun berapapun yang bersedia hadir untuk ikut memeriahkannya. Aku memegang jabatan sedikit penting selain sebagai seksi konsumsi, yakni sebagai salah satu pencetus ide tentang reuni tersebut, mengobarkan semangat para teman-teman adalah pekerjaanku ketika masih di lingkup maya, aku dekat dengan semua anggota tak terkecuali, tapi ketika turun dalam ranah nyata api yang selalu tergenggam di telapak tangan mendadak mati seketika, aku bertemu orang-orang baik, tapi lupa bahwa diri sendiri adalah anomali yang selalu canggung dan gagal dalam bersosialisasi. Keberadaan Ari saat itu tidak serta merta menyelesaikan permasalahan, dia sama seperti yang lain, melihatku sebagai anomali namun tidak memiliki kekuatan memboyongku untuk keluar dari sana, interaksi terintim kami saat itu hanyalah sebatas duduk di atas sepeda motor berdua, dalam rangka mencari isian kardus snack yang di nilai kurang memadai.
Aku di kenang sebagai sosok yang pendiam, begitulah Ari selalu akan menimpali jika tengah berbincang tentang reuni kala itu. Dia mengutarakan dengan tepat, tapi mendengar orang lain mengucapkannya benar-benar terdengar aneh, seperti ada makhluk lain yang menjawab di dalam diriku, bahwa pendiam bukan kata yang tepat karena aku lebih dari sekedar itu. Aku hampir menganggap diriku tidak normal ketika momen reuni terjadi. Kegagalan yang mengiringi acara reuni, setidaknya itulah yang selalu kuingat, menjadi beban besar yang mendadak jatuh tepat di atas kedua bahuku. Bagaimana bisa aku mengacaukan segalanya? Aku gagal bersinar secemerlang ketika masih di dunia maya, aku mendadak menjadi abu yang teringin sekali tertiup angin lalu pergi ke mana saja asalkan tidak berada satu tempat dengan mereka, para korban kobaran apiku. Aku adalah bintang cemerlang yang sengaja menjatuhkan diri dan bukan karena kehilangan gravitasi.
Momen menghilangku pernah beberapa kali di pertanyakan Ari, tapi aku menyahutinya dengan menjadi abu, jawaban tanpa semangat dan tercecer kemana-mana.
Sekian tahun berlalu mengaburkan pula kabar Ari dari radarku, dia terkenang hanya sebagai si hitam berambut keriting yang selalu berisik dan sedikit nakal. Selain itu, aku melupakannya seperti aku melupakan anggota pengurus reuni yang lainnya. Zaman reuni berganti menjadi zaman korea. Aku menyentuh Ari lagi, melalui tatapan dan komentar sinis karena perbedaan yang merambati kami, dia anak rebel yang benci segala hal tentang korea, sesuatu yang saat itu tengah kuanut dan kusembah mati-matian, keberadaannya menjadi semacam tongkat pentungan yang siap melambai-lambai di depan mata ketika aku mulai mengumandangkan setiap bait mimpi dan khayalan. Aku benci dia yang selalu menarik paksa kakiku untuk menjejak tanah ketika hasrat untuk terbang tengah dalam dekapan. Keberadaannya tak semanis ingatan pertama kami bertemu. Dia mengacaukan kenangan manis yang pernah tersemat di antara tumpukan pahitnya ampas kopi. Tapi sesuatu menarikku untuk tetap berada dalam jangkauan radarnya. Entah kenapa.
Dan ini adalah bagian favoritku untuk mengingatnya. Malam tergila dari semua malam-malam gila yang pernah mampir dalam hidupku. Aku dan Ari terikat dalam hubungan pacar, bukan karena kita jatuh cinta, tapi tepatnya adalah karena sadar sama-sama manusia gila. Zaman korea hampir berakhir sekarang, ketika lambat laun aku mulai sadar ikatan, masih belum jatuh cinta, lebih tepatnya pemanfaatan pada fasilitas yang di sebabkan karena ikatan itu sendiri. Aku menyukai lautan, selalu lautan, dan Ari tidak paham awalnya, sampai kemudian kami mendatangi kaki gunung dan aku tergugu dalam dekapannya karena setengah mati menahan dingin yang seketika melelehkan air mata, mengguncang raga. Memalukan bukan? Karena itu barulah kaki gunung, bagaimana kalau badan gunung? Kepala gunung? Musnah sudah harapan untuk bisa berduaan di daratan di atas awan. Ari tahu kelemahanku. Setelahnya dia paham akan melajukan kendaraan kemana ketika aku mulai memasang wajah kurang senyuman. Selalu lautan, dan akan terus seperti itu.
Di lain waktu, ketika Ari tengah terlalu sibuk mendalami peran sebagai orang normal aku akan menggerecoki dia dengan angan-angan. Sungguh, aku bertransformasi menjadi perempuan tanpa urat malu dan tak tahu diri sejak menikahi Ari. Obsesiku yang lain selain mengikat Ari semalam suntuk di atas ranjang, jangan dulu berpikiran macam-macam, aku memerlukan dia untuk menghangatkan badan karena tidak peduli seberapapun suhu normal berkisar anehnya aku akan selalu merasa kedinginan. Dan obsesi itu adalah bisa berkeliling dunia, menyambangi padang-padang bunga berukuran giga dengan warna-warna menggoda yang akan selalu memanjakan mata. Aku terobsesi bisa merasai sapuan padang canola, terobsesi pula untuk merasai seperti apa ujud lautan ketika gelap melanda. Hitam pekat bukan alasan, karena aku bisa menikmatinya melalui indera yang lain, tentang bagaimana aroma hasrat berterbangan di sela-sela debur ombak menghantam karang, tentang bagaimana dingin pasir malam bisa menghangatkan manusia yang hampir tak pernah merasa kegerahan. Aku tergoda untuk mencicipi bagaimana rasanya berkendara membelah malam, mengejar satu bintang dan meninggalkan bintang lain di belakangnya, aku benci angin malam tentu saja, apalagi alasannya kalau bukan karena mereka selalu menaburkan dingin tak berperi kemanusiaaan di sekeliling badanku, dan anehnya hanya sekeliling badanku, karena sejauh yang ku tahu Ari selalu memilih telanjang jika kupaksa berdiam diri mendekapku di atas ranjang, alasannya jelas, dia kepanasan.
Selain lautan, dan bunga canola aku juga tertarik untuk mencicipi sungai, tebing, garis pantai, dan pedesaan. Semua hal berbau alam selalu bisa menyirep minat dan penglihatanku, Ari paham betul sisiku satu itu.
Aku terobsesi memiliki satu kendaraan, dengan warna dan jenis yang sudah berkali-kali di bicarakan dengan Ari, tidak peduli kapan kami bisa memilikinya atau apakah kesempatan untuk memilikinya bahkan masih ada atau tidak, tapi aku selalu menyebutkan satu nama itu, warna hitam akan sangat manis jika di sandingkan dengan warna kuning bunga matahari atau bahkan jika beruntung deretan canola, bukankah? Ya, aku memimpikan warna hitam yang benar-benar hitam yang akan menemani masa tua kami menjelajahi berbagai hidangan alam. Bahkan sepertinya tak masalah jika akhirnya aku dan Ari akan berakhir tak dimanapun tapi berada dalam rapatnya baris jejeran bintang dalam kegelapan, yang memantul di atas permukaan air tenang hingga jika sekejap aku memejamkan mata lalu membukanya kembali akan terasa seperti aku tengah berdiri di tengah udara. Atau mungkin aku akan merelakan untuk tertelan dalam lingkaran hidup tanaman canola, memandanginya ketika musim berbunga, mengucapkan sampai jumpa ketika musim panen tiba, lalu bersuka cita ketika si kecil tanaman canola mulai tumbuh menyapa. Atau jika keduanya akan terlalu indah untuk menjadi kenyataan, aku sunggup rela hanya menghabiskan tua dengan terus berkendara, membelah malam, menelan siang, meninggalkan bintang, mengejar matahari.
Menurutmu apa yang lebih menyenangkan daripada menemukan sosok yang rela di hujani berbagai angan? Ketabahan Ari untuk mengimbangi sisi berimajiku benar-benar patut di hadiahi pujian,
Mungkin itulah alasan terpendam kenapa dulu aku menikahinya, berhasil mengendus kesabaran seseorang meskipun untuk menghadapi rangkaian isi otak yang jika di jabarkan panjangnya akan menghabiskan semua sudut semesta.
Menurutmu apa yang lebih menenangkan ketimbang memiliki sosok yang siap menua bersamamu bahkan sebelum waktunya? Aku memilikinya, nama yang selalu sigap melahap setiap pepesan angan dan kenangan dan tidak hanya itu, dia pun berani memberi bumbu tambahan dan sedia menghangatkannya kapanpun aku hendak makan. Betapa menyenangkan.