Sabtu, 23 November 2019

Tanah dan Hujan

Apa kau mendengarku? Aku bersuara melalui banyak cara, melihat melalui banyak mata, tapi percakapan itu selalu hanya ada di dalam kepalaku. 
Apa kau mendengarku? Ketika derasnya hujan mengalahkan segala suara yang ada, bahkan keheningan pun terasa kian membungkam. 

Aku berjalan menembus hujan. Berharap bisa menemukan lagi kesejukan yang dulu selalu berhasil mengguyur kepolosanku. Mengabaikan dimana jalan setapak, karena dalam keremangan semua daratan terlihat datar dan seperti bisa di jadikan pijakan. Tapi cacatnya jalanan selalu bisa memerangkap kaki-kaki yang lengah. Tapi air menyamarkan jalanan berlubang dan seakan membisikkan kata aman. 

Waktu berlalu sudah sangat lama ketika hujan berkekuatan mendatangkan senyuman. Waktu berlalu sudah sangat lama sejak terakhir kali bisa tertawa riang di bawah pelukan hujan sebelum akhirnya dingin datang. 
Sekarang banyak drama yang terjadi dan terjalani. Dari yang hanya meruapkan rasa bahagia hingga yang mengucurkan air mata.

Kini, tak ada lagi yang peduli bahkan jika aku harus menjadi layu dalam dekapan hujan. Kini semua mata menyiratkan satu ekspresi sama, berupa kebekuan. Tidak terlalu tajam tapi berhasil menusuk sasaran. 

Tanah bukankah tidak seharusnya mengikatkan diri terlalu akrab dengan air? Atau semuanya akan lenyap dalam sekali sapaan panjang. Tanah bukankah harus membatasi pengetahuan tentang jati diri? Karena terkadang memang ketidaktahuan adalah hal terbaik yang pernah ada dan palig baik dari segalanya. 
Angan, harapan, tergusur air yang di tumpahkan oleh tangan besar di atas langit sana. Angin, air, hanya bisa memandang, mengamati bagaimana tanah tersapu hujan sebelum akhirnya terkikis lalu menghilang. 

Perasaan itu seperti tak terbahasakan. Yang hadir melalui celah rapat deretan air hujan. Menetes bergantian dengan si bintang utama. Menyelipkan banyak kenangan dan pesan. Tapi mata selalu lelah memandang sesuatu yang monoton membosankan. Tapi telinga selalu menghindar untuk menerima adanya sinyal-sinyal. 

Sudah seberapa lama tanah satu ini menjauh dari peradaban? Menontoni semuanya dan semakin merasa nyaman di bangku berlengan. Tidakkah ia merindukan sapaan-sapaan? Sudah berapa lama sejak terkahir kali si tanah mencoba mengerti percakapan antara angin yang bertiup ke utara dan hujan yang menyapu daratan di bagian selatan. Hitungan waktu mendadak menghilang, semu, samar, semuanya beraduk dalam keterlenaan. 

Tanah tidak seharusnya mencoba terbang. Sekalipun ketika kemarau melanda beberapa terpaksa harus merasakan udara secara singkat, tapi membayangkan gumpalan-gumpalan tanah beterbangan melintasi langit biru adalah sesuatu yang sedikit mengerikan. Jangan kesana lagi, udara, walaupun kadang terlihat menggiurkan memang tak senyata yang di bayangkan. Udara, tempat segala yang berpindah, tempat segala yang bergerak. Tak ada ketetapan, tak ada keteguhan. Tolong, jangan kembali lagi kesana. Tempatmu bukan di tengah-tengah antara langit dan daratan. Tempatmu jelas, menapak, berujud dan tak berpindah-pindah. Sangat maklum ketika melihat sesuatu yang baru dan lain lalu kita akan merasa takjub hingga kemudian mencobanya. Tapi terbang bukanlah sesuatu yang semudah itu, di butuhkan lebih dari sekedar mengayun lalu mengkhayalkan agar bisa benar-benar mengangkat kaki lalu melangkah nyaman tanpa pijakan. Butuh lebih dari sekedar niat dan keinginan untuk benar-benar bisa berlari melintasi banyak partikel-partikel kasat mata, tanpa warna, ujud dan aroma. 

Adakah yang menunggumu di atas langit sana? Siapa? Engkau tidak bertanggung jawab atas apa yang menimpa langit dan mencemari udara, sekalipun mendung gemar sekali menggantung di ujung sana, meski udara tak lagi seringan bulu-bulu angsa yang di terbangkan. Engkau tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi di lintas kuasamu. Sekalipun aku yakin kegatalan untuk mengatasi semuanya sudah begitu kentara. Sekalipun aku yakin engkau memang tidak sepadat ujudmu, rasamu hadir sehalus udara yang tak teraba, rasamu hadir senyaman air yang mengalir melalui arusnya. Hanya mereka yang tidak paham tentang dirimu yang beranggapan tanah adalah sesuatu yang hanya patut untuk di injak dan di bentuk sedemikian rupa. 

Lalu hujan, dimana mereka akan memuara jika bukan dalam dekapan dan pelukanmu. Lalu hujan, dimana mereka akan menemukan tempat peristirahatannya kalau bukan dalam genggaman dan rengkuhanmu? Mereka mengira tanahlah yang membutuhkan air untuk bisa melahirkan kehidupan. Mereka mengira tanahlah yang berpangku tangan menerima segalanya demi lahirnya sebuah nadi baru. Mereka mengira tanahlah yang menjadi perantara terciptanya cinta antara angin yang berlarian menuju utara dan air yang merembesi wilayah di sebelahnya. 
Karena nyatanya tidak seperti itu, nyatanya tidak semudah itu. Tanah bekerja dengan ribuan kalkulasi. Bertengkar dengan tak terhingganya kemungkinan. Bergandengan dengan ketidak nyamanan. Semua yang terlihat begitu diam tidak selalu tak bersuara, semua yang terlihat begitu rentan tidak selalu membutuhkan uluran, semua yang begitu terlihat beku tidak selalu membahayakan. Hanya karena mereka tidak memahami bagaimana aku bercanda dan berbicara tidak lantas aku bisa begitu saja di jadikan objek pengasingan.

Hanya satu yang selalu ingin kusemat dan sampaikan. Air hujan tidak selalu membawa arus emosi yang sama meskipun volume air yang di tumpahkan tertakar sama. Air hujan tidak selalu membawa keheningan seperti yang khasnya akan selalu dihadirkan. 

Senin, 18 November 2019

Catatan Singkat

Untuk sekali ini saja, bisakah kita berbicara seperti layaknya dua teman? Mari sejenak lupakan ikatan pengandung dan yang dikandung antara kita. 

Ketika kamu mulai memahami ketikan ini dan juga tulisan-tulisan yang lainnya, aku mungkin sudah mencapai surga atau sebaliknya sedang terseok di ujung neraka.

Namamu berarti unsur penting dalam sebuah kehidupan. Dan memang begitulah adanya dirimu. 
Memahamiku tidak semudah membaca halaman demi halaman buku, memahamiku tidak segampang menghapal rute perjalanan. 

Awal kedatanganmu adalah sebuah keajaiban. Kita di pertemukan untuk mempererat dua ikatan yang hampir melonggar. Dan tahukah kamu bahwa aku telah lebih dari sekali untuk menyerah dari Ari? Dan tahukah kamu bahwa hingga saat ini aku masih berpendapat bahwa kalian berdua layak mendapatkan teman yang lebih dan jauh lebih baik dari pada si brengsek satu ini? 

Ada kalanya aku seperti mengenali diriku sendiri, dan waktu lainnya benar-benar membuatku bertanya siapa aku sebenarnya. Beberapa waktu terasa lebih menakutkan ketimbang halaman terburuk dari episode yang paling mengerikan. 
Berapa kali dalam pertemuan singkat kita aku telah mengeluarkan auman dan juga cakaran? Berapa kali aku melukaimu sebelum akhirnya benar-benar merobek lembar kehidupanmu? 

Dulu aku selalu berangan-angan akan menjadi teman terbaik sedunia. Dulu aku selalu berharap agar kehadiranmu bisa menenangkan pertarungan di dalam kepala. Tidak harus selalu menjadi pemenang, karena aku hanya ingin sebuah ketenangan.
Setahun, lima tahun, entah sudah berapa waktu aku menyadari bahwa kepalaku bertanggung jawab untul sekian banyal drama, yang selalu membuatku tersudut, terasing dan sampai akhirnya terbuang. Ya, aku bukan orang baik jika kau ingin tahu. Aku adalah sesuatu yang buruk dengan jenis perasaan yang lebih peka ketimbang paus sekalipun ataupun makhluk lain di alam semesta. Awalnya aku mengira itu sebuah kewajaran yang selalu dimiliki kaum perempuan, tapi nyatanya bukan. Aku mengandung  hal yang tidak bisa kupahami atau kumengerti di dalam tubuh ini.
Ari beruntung jika masih bisa hidup sampai kau benar-benar bisa memahami tulisan ini nantinya. 

Ingatkah kau pada malam-malam sepi bersama kita? Ketika orang lain menyanyikan lagu-lagu manis untuk mengantarkan tidur anaknya, aku justru melakukannya dengan membisikimu banyak maaf. 
Ingatkah kau pada air mata yang selalu merebak hanya di depanmu? Ya, aku takut terlihat tidak sempurna, namun semakin aku takut justru semakin terus kulakukan hal yang sebaliknya. Dunia mendadak berbalik muka semuanya. Aku yang awalnya tidak berteman dan berkubang dalam kesendirian harus mengakui bahwa yang terburuk masih ada dan menyergapku pada akhirnya. 

Jika ada hal lain yang harus kukatakan, maka itu adalah maaf (lagi). Aku melukai yang lain juga selain dirimu, Ari tak terkecuali. Ada sesak yang tak pernah ku bagi dengan siapa-siapa yang akhirnya hanya bisa kulepaskan dalam ujud air mata. 
Normalnya orang akan berubah menjadi lebih baik bukankah? Tapi padaku, hal yang sebaliknya justru yang terjadi. Bekal yang dulu pernah kuucapkan akan di selipkan pada saku milikmu, mendadak lupa daftar. Bekal yang dulu sudah kusiapkan meski hanya seadanya, mendadak kehilangan arah dan tujuan. Aku pernah mengarahkanmu bukan menjadi sesuatu yang kuinginkan, tapi menjadi sesuatu yang baik menurut pengalaman dan juga yang pernah dunia standarkan. Tapi apakah itu akan terpatri di ingatanmu?
Hal yang kutahu adalah aku ingin benar-benar menyerah pada semua hal. Berhenti menjadi manusiawi dan hanya terus bernapas tanpa pernah benar-benar memikirkan apa yang kumau dan apa yang dunia butuhkan. 

Rabu, 13 November 2019

Abu Yang Lain

Harusnya semua hal tentangmu telah lama hilang dari ingatanku. Harusnya semua ingatan tentangmu telah lama menjadi debu seiring dengan padamnya bara yang dulu menyala dengan begitu hebatnya. Tapi nyatanya disinilah aku, terseok dalam langkah sendiri, memunguti remah-remah ingatan tentangmu yang berjatuhan dengan begitu derasnya seperti tetesan hujan di luar. Aku bahagia karena ketika akhir menyentuh hubungan kita, hanya hal baik yang menyelimuti kenangannya. Sepuluh,  sebelas, berapa angka yang kau suka sekarang? Apakah masih tigabelas seperti dulu itu? Apakah tidak terlalu naif untuk mempertahankan keutuhan ketika kepingan dan keretakan telah nyata hadir di depan mata? Atau justru itu cara terakhirmu untuk mempertahankan kehidupan? 

Harusnya aku hidup berbahagia dengan pilihan yang sekian waktu lalu kubuat. Dan memang seperti itu adanya. Tapi kebahagiaan mendadak hadir sebagai kepingan puzzle ketika aku mengenalmu lalu pergi dan kemudian menemukannya. Bukankah kebahagiaan harusnya adalah sebuah perasaan tunggal dan utuh? Bukannya sesuatu yang terbagi dan bisa di bongkar lalu di pasang ulang? Aku mendadak linglung dalam memahami mode emosi yang satu itu. Karena tidak bisa di pungkiri, aku masih bisa merasakan sentuhan hangat dalam kehadiran samarmu. Bukankah semua ingatan tentang sentuhanmu harusnya juga ikut menghilang seiring dengan kuatnya tekadku meninggalkanmu? Tapi nyatanya kenangan hadir dalam caranya sendiri, yang harus di akui begitu unik dan mengagumkan. 

Lihatlah, aku terlihat seperti anak umur belasan, yang ragu dengan perasaannya sendiri, gamang untuk menjabarkan apa yang ada di dalam hati atau dengan sesuatu yang samar mengganggu pandangan. 

Apakah kau ingat ketika aku mengenalmu dalam umur belasan? Awal dari pertemuan kita. Obsesi sekaligus api pertamaku. Aku lupa apa panggilan pertamaku untukmu, atau bagaimana ejaan pertamaku dalam memanggil namamu. Semua begitu abu, tapi kepingan masa ketika aku akhirnya mengakui jatuh cinta dan tergila-gila denganmu adalah sesuatu yang saat ini terasa jelas terlihat seperti tegasnya warna biru di atas langit tanpa awan, atau sejernih hijaunya rumput tanpa selimut embun yang dinginnya selalu membekukan. Aku pernah jatuh cinta dengan begitu hebatnya, seperti melihat putaran video tentang dua kaki dengan tarian yang sangat indah, sementara sekarang memandang dua kaki itu terdiam membuat pertanyaan tentang benarkah aku pernah melakukannya? merasakannya? Semuanya terlalu nyata untuk hanya di anggap angan. 
Apa kau ingat sekian tahun yang terlewati untuk mengobservasi dan juga menemukanmu? Bahkan sekarang masih bisa kurasakan mekarnya kuntum cantik itu di dalam dada. Perasaan berbunga-bunga yang selalu membuat iri siapapun yang mendengarnya. 
Apa kau ingat tentang buku bersampul biru bergambar lautan yang pernah kubuat dulu? Aku punya dua dan belum selesai juga membacanya, entahlah, mungkin titik puncakku dalam mengobservasi dan menemukanmu ada pada saat proses pembuatan buku-buku itu, menuliskan pengalaman cinta adalah sesuatu yang sangat menakjubkan, hingga kesalahan-kesalahan pun akan terlihat seperti ornamen lain penghias halaman, bukannya sesuatu yang mengganggu pandangan. Baru beberapa waktu terakhir ini aku menyadari bahwa buku itu mengandung banyak kesalahan, bukan lagi terlihat seperti buku menggemaskan dengan banyak hiasan yang sedap dipandang. Aku terlalu telanjang, meskipun malu tetap harus di akui bagaimanapun juga. Tentang vulgarnya penulisanku saat itu mengenai perasaanku kepadamu. Ketika orang lain mengakui cinta monyetnya yang begitu membekas dengan dijadikan ajang untuk saling ledek dan banyolan. Aku memperlakukan kenangan cinta monyetku dengan cara mengemasnya dalam buku absurd penuh pengakuan-pengakuan memalukan. Apa kataku saat itu? Percaya pada kata selamanya? Tidak ada kata akhir yang ada hanyalah kata selanjutnya? Dan disinilah aku sekarang, meringis ngeri sendiri sambil memunguti remah-remah kenangan. Karena kita telah berakhir tentu saja, karena hubungan kita menemui kata selanjutnya tapi dengan nama tokoh dan latar belakang yang berbeda. Namamu masih hidup tapi hanya sebagai catatan kaki semata. Maaf untuk mengakuinya seperti itu, tapi seperti yang selalu kukatakan pada mereka yang haus pada peneranganku, bahwa tersesat pada dalamnya lubang cintamu adalah sesuatu yang patut untuk dikemas dan dikenang. Bukan hal yang aneh untuk menempatkan cinta monyet sebagai hal tergila dalam perjalanan hidup seseorang, karena bagaimanapun setiap orang akan melewati fase satu itu, dan aku berterimakasih kepada siapapun pembuat skenario hidup karena menempatkanmu sebagai bahan untuk dikenang.
Lalu apa kau ingat tentang waktu-waktu intim ketika kita bersama? Entah dalam sesi melamunku di dalam sebuah perjalanan ataupun malam-malam panas di sepertiga malam yang selalu kita lewatkan. Karena aku mengingat semuanya. Aku bukan hanya si pemantik tapi juga nyala api itu sendiri, akulah bara yang kemudian beralih menjadi abu itu sendiri. Aku melalui semuanya dan mengingatnya. 


Awalnya aku mengira hanya luka yang bisa disembuhkan oleh waktu, tapi ternyata rasa rindu pun bisa diobati olehnya. Sekian tahun memunggungi, beberapa kali memungkiri, tapi sekarang kakiku berdiri tegak dan mengakui lantang, bahwasanya semua putaran video yang datang sejelas warna kabut di kejauhan ternyata memiliki warna tunggal dan nama terang. Yakni kerinduan. Semua terjelaskan akhirnya petang ini, kenapa abu yang harusnya telah lama hilang terbawa waktu mendadak menempelkan diri di setiap ujung helai rambut yang ada di sekujur tubuh. Karena abu itu tidak pergi kemana-mana, benar si pemantik telah menyalakan dirinya sendiri untuk membuat api, benar bara telah tersulut dengan begitu mudah tanpa adanya bantuan, tapi abu adalah sesuatu yang lain, dia mati namun selalu memiliki cara untuk menampakkan diri, dia mati namun keluasan udara justru membuatnya bisa pergi kemanapun sesuka hati, termasuk juga memasuki sudut antartika lalu kembali kesini, relung hati yang pernah membuatnya terdiam nyaman. Kembali padaku. 


Apa kau lihat itu? Seberapa mudah aku mengingat semuanya jika itu tentangmu. Betapa akhir masihlah menjadi misteri karena kisah selanjutnya pastilah selalu ada, betapa selalu ada spasi panjang di belakang titik yang jelas-jelas membawa tanda untuk mengakhiri kalimat atau sebuah cerita. Semuanya jelas karena selalu ada kesempatan untuk membuat cerita yang lain, kisah yang lain, dan meskipun ceritaku berlanjut sekarang, dan meskipun si buku biru bersampul gambar lautan pada akhirnya nanti memiliki 'adik kecilnya', tapi tentangmu, kisah unik denganmu memilki judul tersendiri yang tak mungkin bisa untuk digabung dengan judul yang lain. Itulah kenapa kabahagiaan seperti sebuah puzzle sekarang, karena ada banyak tema cinta, ada banyak alasan untuk berbahagia, entah yang datang dari masa lampau dalam ujud kenangan, atau yang datang dari masa kini dalam ujud kenyataan, atau justru yang hadir dari masa mendatang dan berujud harapan atau impian. Semua tergantung pada pilihan kita untuk berbahagia pada kisah yang mana, untuk alasan kenapa dan pada siapa. 

Untukku, namamu adalah yang paling tepat mengisi celah kepingan di dalam sana. Tempat yang tak mungkin kau datangi tapi akan selalu kujaga. 

Selasa, 12 November 2019

Membuat Setapak Baru

Jalanan tidak pernah begini lengang sebelumnya. Bahkan suara jangkrik pun tak terdengar. Desau angin yang biasa menjadi penanda kesunyian hanya menghembuskan napasnya pelan. Kemana perginya semua orang? Kemarin masih kujumpai mulut-mulut berjalan dengan ludah tercecer di belakangnya. Kemarin masih kulihat topeng-topeng yang menyemburkan sapa dalam beraneka rupa. 

Aku masih tergolong baru dalam menapaki jalanan asing satu ini, biasanya aku akan melangkah ke jalan dimana disana ada banyak bekas tapak mengering, pertanda di depanku sudah banyak yang melangkah lebih dulu. Tapi terlalu sering mencari belas tapak membuatku akhirnya di landa kebosanan, mengikuti jalan yang di buat oleh orang lain tidak lagi senikmat yang dulu pernah kurasakan. Aku ingin membuat bekas tapakku tercetak sebelum yang lainnya, aku ingin berhenti mengikuti tapi menjadi yang pertama. Bahkan ketika pintu di belakang tertutup rapat untuk bisa membiarkan siapapun mengikuti langkahku, mencari bekas tapakku. Bahkan ketika jalanan di depan sana masih penuh alang-alang sebatas dada bahkan mungkin melampaui batas penglihatan. Aku ingin terus berjalan. 

Langkah pertama yang ingin kulakukan sebelum benaran memasuki jalanan adalah mempersiapkan bekal. Mengemas semua pelajaran yang bisa di ambil dari masa lampau, mengikat erat tangan pada satu tongkat yang akan menjadi pegangan, bahkan aku mulai ahli dalam membebat ikatan yang dulu selalu longgar di batas betis dan lututku. Jalan di depan tak mungkin lebih buruk dari yang pernah tertapaki,  bahkan jika yang terburuk pun masih berani menghampiri, setidaknya aku bisa dengan gagah mengakui bahwa keputusan itu adalah mutlak milikku, aku yang menanggung penuh segala beban yang mungkin terhampar, tanpa perlu menyalahkan bekas tapak milik orang lain yang berani menuntunku ke dalam jurang. 

Banyak orang mungkin akan bertanya kenapa aku yang sekarang berubah menjadi begitu pahit, meski jika harus kujelaskan semua itu tidak semudah menggelembungkan balon udara. Ada proses berat yang akhirnya memutus semua sisi sosial dalam diriku yang enggan kubagi dengan siapa-siapa. Aku ingin menjadi manusia seutuhnya. Itu adalah alasan yang pertama. Memang selama ini menjadi apa? Siapa pemilik si lidah manis itu? Siapa pemilik si mata nanar itu? Aku pernah bermutasi menjadi sesuatu yang ingin orang lain lihat, dan orang lain harapkan. Menggantung syarat-syarat untuk menjadi  manusia seutuhnya seperti terlihat bahagia, buruk, kejam,  beringas dan sebagainya. Ada batas tertentu tentang perilaku manusia di dunia ini dan cara mengekspresikannya yang diciptakan dan di populerkan entah oleh siapa dan jujur saja beberapa sangat tidak bisa di terapkan olehku. Kekangan dalam ujud pemikiran adalah awal matinya seseorang. Dan sejak kapan atau berapa kali aku mati sejak terlahir ke dunia ini? Hitungannya adalah tak terhingga. Aku benci mengakui, tapi harus melakukannya atau aku akan terjebak dalam kekangan selama berapa kalipun aku terjun dalam siklus hidup mati ala manusia. 

Jalanan lengang yang menyapa langkah pertamaku tidak lantas menyuarakan apa-apa. Sebelum ini aku telah membiasakan diri di makan senyap, kesendirian dan pengap. Tanpa suara bukanlah sesuatu yang menakutkan, malah lebih seperti menghadirkan rasa nyaman. Lihat, bahkan atmosfir jalanan pun mengapresiasi pilihanku untuk membuat setapak baru. Tentu itu adalah awal yang bagus. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain mendatangi tempat baru yang langsung memperkenalkan diri sebagai teman. Aku berteman dengan seluruh isi bumi kecuali mungkin manusia. Kenapa begitu? Perasaan lelah mungkin adalah jawabannya. Aku tidak perlu merasa takut di khianati oleh akar pohon yang menjalar, tidak perlu merasa takut untuk di kecewakan oleh sinar matahari yang mengelantang. Seluruh isi bumi menyambut uluran tanganku dengan tanpa memberi secuilpun harapan, dan itu adalah yang terbaik dari yang terbaik. 


Lalu apa kiranya hal yang membuatku mungkin takut untuk melangkah? Jawabannya adalah kehabisan bekal. Meskipun sanggup mendedikasikan diri untuk memahami kayu, atau melihat seluruh manusia sebagai batu, tapi habis bekal adalah sesuatu yang lain. Jika asupanku berupa makanan akan lebih mudah persoalannya. Asupanku adalah pemikiran yang awalnya mentah lalu kemudian di panaskan, terus di panaskan hingga bahannya habis lalu hanya menyisakan pelajaran. Butuh waktu tidak sebentar untuk menggodok bekalku agar siap makan. Lalu apa kiranya yang sanggup mengikis bekal tanpa bentuk itu? Aku tidak berani membayangkan apalagi memberi jawaban. Sekalipun aku benci batasan dan lingkup mengekang, tapi ada satu hal yang garisnya benar-benar tidak berani kusentuh terlebih kulangkahi, yakni jalan kesadaran. Jalanan yang hanya bisa di tapaki dengan satu syarat mutlak yakni sabar. 

Satu-satunya hal yang tersisa dan berani kuharapkan adalah ujung akan segera terlihat selagi bekalku masih bisa cukup menghilangkan lapar dan dahaga.

Satu-satunya hal yang tersisa dan berani kuharapkan adalah ketetapan hati ini untuk melangkah dalam sunyi, nyaman dan menenangkan namun sendirian. Sekali lagi kuingatkan, sendiri bukanlah hal yang baru kutemui, tapi mencari langkah yang tepat untuk dijadikan pijakan adalah sesuatu yang baru dan sepertinya sulit tapi jelas menantang.

Dear akhir, akankah kita semakin dekat, atau justru langkahku makin tersesat? 

Senin, 28 Oktober 2019

Hampir

Sekarat bukanlah kata yang tepat untuk menggambarkan manusia yang masih bisa tertawa dan bernapas, terlebih lagi bagi manusia yang mengaku cinta pada alam semesta.

Tapi nyatanya disinilah aku, tersudut di tempat nan gelap dan juga pengap. Jauh di dalam sana, masih bisa kudengar degub jantung memompa napas,  jauh di dalam sana, masih bisa kudengar tawa dan perdebatan yang enggan meninggalkan kepala. Tapi rasanya semua itu begitu jauh dari jangkauan kesadaran. Aku sekarat oleh ketiadaan sinar alih-alih terkepung di tengah-tengah debu di penghujung musim panas. 

Dimana matahari, dimana kehangatan, dimana denyut nadi. Semua lenyap begitu saja sekarang dari pandangan, dari jangkauan. Kakiku melangkah terseok mengejar nalar, mengejar zaman, tapi tak bisa kurasakan solidnya tanah pijakan. Kemana gerangan perginya kerikil yang biasa menghadang? Kemana perginya jurang yang tak pernah luput dari pandangan? 

Terlalu lama aku berjalan dengan memejamkan mata, menyusuri jalan menuju rumah bukan dengan melihat tapi dengan menghapal, satu belokan ke kanan, dua langkah kecil, dua napas sedang, belok selatan, begitulah biasanya aku akan pulang. Rumahku bukan berupa bangunan, tidak selalu berujud seperti itu, kadang berada di sudut jalur melintang di atas sungai panjang, kadang berupa gundukan tanah yang mencuat begitu saja di sisi ladang, kadang pula berada di jalanan panjang tanpa nama yang terus di susuri tanpa tujuan pasti. Rumahku tersebar di banyak tempat, atau sesekali pula tidak di mana-mana. Seanomali itu hidupku jika kalian ingin tahu. Tapi sekian tahun terakhir rumahku menetap dalam ujud nyawa dan badan. Bernama Ari yang kemudian mendatangkan nama lain, yakni Hara. Dua rumah yang selalu menahan langkahku agar berdiam dan beristirahat. Bersama keduanya aku menjadi seseorang yang utuh dan terkendalikan. Berada dalam naungan keduanya menghadirkan padaku sinar bulan dan matahari secara bersamaan. Aku jauh dari kata kedinginan, jauh dari kata pengap yang selalu mendekap. Ari dan Hara adalah manusia lengkap, manusia berbahagia yang bisa dengan mudah menularkan tawa dan kehangatan. Berada di dekat mereka membuat si manusia sekarat pun perlahan kembali terisi nyawa. Tapi apakah sang gelap benar-benar meninggalkannya? Atau dia hanya menyingkir sebentar tak tahan dengan silau gabungan matahari dan bulan? Jawaban kedua adalah yang paling benar. Karena begitu Ari menjauh pergi, meski bayangannya tak pernah lepas menaungi, tapi nyatanya dingin kembali merayap dengan begitu cepat. Aku ketakutan, merasa terkikis sekaligus terbakar. Ari tak pernah begitu mengenali gejala sekaratku. Dia mungkin hanya akan berujar semua kata rinduku adalah jalan untuk menyambung hubungan, mempererat ikatan yang terrenggangkan oleh jarak. Ingin sekali rasanya menjelaskan konsep sekarat pada makhluk yang tak pernah benar-benar hidup kepada Ari. Suatu saat nanti mungkin akhirnya Ari akan terpahamkan, tentang betapa nasib buruk telah mengikatnya dengan diriku dalam sebuah tema pernikahan. Ya, aku selalu merasa terlalu buruk rupa untuk bisa bersanding nyata dengan Ari yang baik dan terlalu manusia. Dia pantas untuk terikat dengan seseorang yang tidak hanya bertahan hidup dari sinarnya, tapi juga siap menyalakan sendiri cahayanya untuk menerangi Ari. Bersamaku hanya akan ada hubungan simbiosis parasitisme dan bukannya mutualisme. Tapi Ari bertahan, tabah, dan meski terkadang menjengkelkan namun dia terpesona, pada kemampuanku tidak bisa menghasilkan cahaya. Semoga ketabahannya bisa bertahan hingga kemampuannya untuk membaui bisa merasai sekaratku. Makhluk-makhluk yang hanya bisa mengagumi alam semesta tanpa bisa menyerupai apalagi mewarisi sedikit saja keajaibannya. 
Sedangkan Hara, ia adalah pemilik nyala abadi, di awal pertemuan kami, kurasakan perkenalan yang teramat canggung, hingga kemudian dia dengan telaten mengarahkanku, mengajariku untuk berjalan menuju sinar terang di tengah-tengah kegelapan. Pelajaran baru yang memantik antusias berlebih, hingga nyaris saja aku tergoda untuk meluluskan diri sebelum pelajaran itu sendiri usai. Dia pengajar yang hebat, terlalu hebat untuk murid yang terlalu haus akan pelepasan dahaga. Cahaya dan gulita dengan perlahan mulai berjalan bersisian, tak ada lagi ungkapan habis napas, ketika sekejap saja pelukannya sanggup menghadirkan hangat sekekal bara. Aku benar-benar terpesona akan kelihaiannya menyentuh palung terjal. Terpesona pada kekuatan ajaibnya dalam menghadirkan cahaya. Lalu, apakah kali ini gelap itu telah benar-benar lenyap? Kenapa aku masih bisa merasakan gaung suaranya di balik gejolak jantung yang kian membara? Kenapa aku masih bisa menggigil sesekali ketika alam mimpi mulai menjemput dan memisahkanku dari Hara? Halo gelap...tidak cukupkah dengan membuatku hanya sekarat? Aku ngeri memikirkan ini, tapi nampaknya engkau terobsesi untuk melenyapkanku dari dunia ini. Kenapa? Apa karena aku menyukai alam semesta? Atau karena aku tak pernah bisa menghasilkan cahaya, sementara dia adalah satu-satunya yang selalu engkau takuti? Engkau telah berhasil menyekap diriku di dalam kepalaku sendiri, hingga aku tak pernah bisa keluar darinya, bahkan untuk sekedar membela diriku sendiri. Aku muak dengan segala percakapan dan perdebatan itu, aku muak dengan segala sedu sedan yang selalu menjadi kambing hitam bagi perilaku diluar nalarku. Aku ingin bertemankan manusia dan bukan hanya tumbuhan, angin atau hewan. Aku ingin bertemankan siapapun yang tak pernah mengingatkan bahwa aku ini makhluk cacat yang tak bisa menghasilkan cahayanya sendiri. Aku ingin mereka, rumah-rumahku yang berderet normal di setiap ujung dan persimpangan. Aku ingin terlepas dari suara-suara yang tak pernah berhenti berdengung di kepalaku, merapalkan mantra agar aku terbiasa untuk menelan semua percakapan ketimbang meludahkanya keluar.

Ari tolong kembali, berikan lagi padaku sinar nyalamu yang begitu hangat dan menghidupkan. Dia mendekapku lagi, getir, pengap nan menyesakkan yang tak pernah berhasil untuk kuutarakan dalam bahasa yang bisa kau pahami. Ari tolong kembali, bantu Hara dalam menunaikan habis pelajarannya. Sekarat ini seperti akan merenggutku paksa, aku telah berhenti berbicara, berhenti bercanda dan juga tertawa, apa itu cukup untuk di jadikan alasan bagimu untuk kembali? Ari tolong kembali, karena aku mulai melukai Hara, dengan segala kegusaran dan ketidaksabaranku. Aku melukainya dengan itu. 

Jalanan tidak akan pernah menemui titik akhir selama denyut nadi masih bergelayut menemani, jalanan tidak akan berhenti untuk menjalari selama degub jantung masih terdengar riang di setiap desahan, seberapa jauhpun suara itu terdengar, seberapa jauhpun suara itu bergaung. Menyisakan penderitaan tak terkatakan bernama sekarat yang berkepanjangan. 

Jumat, 27 September 2019

Separo Waktu

Dulu, ketika air lautan masih terasa hangat meski kucelupkan kakiku ketika gelap melanda.
Dulu, ketika masih bisa kulahap setiap makian sebagai candaan.
Waktu seperti telah berlalu sangat lama sejak hari itu.

Engkau yang pertama mengulurkan tangan, menyambutku dalam tawa penuh terimakasih dan juga bahagia. Engkau yang pertama mengetuk hatiku agar mau kita bergandengan. Engkau yang pertama memperkenalkanku pada duniamu yang sekarang menjadi dunia kita.
Aku tidak serta merta mengulurkan tanganku waktu itu, jelas saja. Aku menimbang teliti tentang bagaimana aku akan bisa melanjutkan kehidupanku selanjutnya. Tapi kau meyakinkan keraguanku dalam genggaman yang tereratkan. Hingga kemudian kita berjalan beriringan. Melewatkan separo siang dan separo malam lebih lama untuk bersama ketimbang dengan siapapun nama. Apa kau ingat cerita tentang kesalahan-kesalahan itu? Apa kau ingat tentang waktu buruk yang lalu itu? Ya aku bersamamu, dan aku mengingatnya. Apa kau juga ingat perjalanan panjang menelan malam yang kita lalui bersama? Apa kau juga mungkin ingat ketika kita bersama menyusuri tiap sudut jalanan demi satu tujuan? Ya, aku menyertaimu, dan mengingat itu. Aku mengingat semua suka duka itu meski aku percaya kepalamu berisi sebaliknya.

Terkadang, kita merasa telah berhasil menemukan jalan menuju kehidupan yang damai menyenangkan. Tapi terkadang, jalanan lengang yang menyapa kita justeru tidak akan membawa kita kemana-mana, sekalipun kita tabah menapakinya hanya ada kebuntuan di depan sana. Jalan kehidupan tidak pernah tercipta sebagus dan semulus itu, dan bagi siapapun tercipta sama, hanya memiliki liku dan jenis kepanjangan yang saling berbeda.

Aku mengira hubungan ini akan mengekal untuk selamanya. Aku mengira keberadaanku telah naik status menjadi semacam saudara, aku bahkan sempat mengira akan kau rangkul dengan lebih mesra, setelah banyaknya duka yang kita lalui bersama. Tapi nyatanya aku keliru. Jalanan berliku yang semula terlihat sebagai jalan hidupku ternyata masih saja menemui jalan buntu, sekali lagi aku salah mengartikan isi takdir tuhan, karena selain meragu sekarangpun tekadku kian menguat untuk bisa melepaskan.

Perjalanan panjang ini bukannya tidak memberikan padaku pengaruh apa-apa, karena itu sangat berharga. Sedih mengatakan ini tapi perjalanan panjang kita seperti harus menemui titik akhirnya. Kebahagiaan kita menemui titik buntu, aku merasa ragu, dan yang terpenting dari semuanya adalah jarak panjang yang secara tak sadar terus engkau ciptakan. Aku mengabulkan permintaanmu yang kedua, aku akan berusaha untuk berjalan teratur mundur dari jajaranmu, dari patner langkahmu, dari separo siang dan malammu.

Semua orang nanti akan mengira berakhirnya hubungan kita karena lemahnya keinginanku untuk terus bertahan, kelemahan terbesarkulah yang mengacaukan segalanya. Ya semua orang paham bagaimana mudah tersentuhnya diriku, terlahir sebagai nama dengan perasaan yang lebih sensitif dari siapapun, dengan hati yang begitu rentan untuk menghadapi kondisi apapun. Nyatanya, sebelum ini telah kutempa diriku menjadi sekuat baja, perjalanan panjangku sebelumnya telah menitipkan padaku kekuatan tersembunyi yang masih enggan kubagi-bagi. Tapi seberapa kuatpun aku berusaha untuk menjadi manusia baja, tetap saja kudapati goresan luka muncul di setiap percakapan yang menggulir di beberapa waktu bersama kita. Ya, aku yang berdarah dan tengah merangkak mundur untuk menghindari luka yang lebih menganga.

Tapi apakah kau sadar tentang hal itu? Kau pasti mencium juga keenggananku akhir-akhir ini, kau pasti juga merasa sesuatu yang tak baik tengah melanda hubungan kita. Dan sekali lagi aku terluka oleh ketiadaanmu merespon semua yang tengah menerpa. Kau bertindak seakan semuanya baik-baik saja. Itulah satu-satunya hal yang menyakitiku, andai kau ingin tahu.

Tentu saja aku ingin kita bisa memperbaiki semuanya, waktu yang sekian lama terlewati tak ingin begitu saja  terbuang tanpa makna. Dan lagi-lagi ragu itu datang lebih cepat dari kedipan mata. Aku meragu untuk langkah di depan kita, aku meragu untuk ketulusan yang pernah kau tawarkan di muka. Akan sulit tentu saja mengakhiri kebiasaan, terlebih yang terbentuk oleh separo siang dan separo malam, tapi aku akan bertahan, lupa di anggap ada bukanlah hal baru dalam babak hidupku, lupa di anggap berharga bukanlah sesuatu yang pertama menjumpai perjalananku. Aku akan baik-baik saja. Mungkin memang bukan engkau yang menggariskan jarak di antara kita, aku yang melakukannya. Mungkin bukan engkau yang mengiris disetiap pertemuan kita, tapi akulah yang memegang pisaunya.

Ya, dengan berbekal kejujuran itu, maukah kau melepaskanku? Maukah kau berbaik hati menghapusku dari separo siang dan malammu? Karena sebuah paksaan tidak akan menghasilkan apa-apa, karena sesuatu yang terbumbui ragu tidak akan menghasilkan hidangan, karena meski tidak pernah tertulis di atas kertas tapi seperti telah menjadi ciri khas diriku untuk tetap melanjutkan langkah yang pernah ku ambil. Dan aku memilih untuk memutar langkah, menjauhimu beserta duniamu, meninggalkannya meski tanpa rela. Sekali lagi aku ingin engkau menjawab semua keraguanku, maukah kau melepasku dari separo siang dan malammu?

Senin, 23 September 2019

Pepesan Angan

Pada malam-malam tertentu dimana otak milikku bergeser beberapa senti dari letak normal, adalah waktu favoritku untuk menggerecoki kepala Ari dengan banyak ocehan-ocehan di luar nalar.
Sudut bibir Ari juga adalah tempat kesukaanku untuk mendaratkan ciuman-ciuman ringan. Dan bertumpukan sebelah tangan dan juga dadanya aku bisa mengocehkan apa saja yang terlintas dalam kepala meski itu hanya pepesan angan atau justru lipatan kenangan.

Aku selalu suka mengenang bagaimana dulu aku dan Ari pertama bertemu, dalam sebuah reuni akbar yang tidak hanya melibatkan satu kursi angkatan tapi membaris dari tahun berapapun yang bersedia hadir untuk ikut memeriahkannya. Aku memegang jabatan sedikit penting selain sebagai seksi konsumsi, yakni sebagai salah satu pencetus ide tentang reuni tersebut, mengobarkan semangat para teman-teman adalah pekerjaanku ketika masih di lingkup maya, aku dekat dengan semua anggota tak terkecuali, tapi ketika turun dalam ranah nyata api yang selalu tergenggam di telapak tangan mendadak mati seketika, aku bertemu orang-orang baik, tapi lupa bahwa diri sendiri adalah anomali yang selalu canggung dan gagal dalam bersosialisasi. Keberadaan Ari saat itu tidak serta merta menyelesaikan permasalahan, dia sama seperti yang lain, melihatku sebagai anomali namun tidak memiliki kekuatan memboyongku untuk keluar dari sana, interaksi terintim kami saat itu hanyalah sebatas duduk di atas sepeda motor berdua, dalam rangka mencari isian kardus snack yang di nilai kurang memadai.

Aku di kenang sebagai sosok yang pendiam, begitulah Ari selalu akan menimpali jika tengah berbincang tentang reuni kala itu. Dia mengutarakan dengan tepat, tapi mendengar orang lain mengucapkannya benar-benar terdengar aneh, seperti ada makhluk lain yang menjawab di dalam diriku, bahwa pendiam bukan kata yang tepat karena aku lebih dari sekedar itu. Aku hampir menganggap diriku tidak normal ketika momen reuni terjadi. Kegagalan yang mengiringi acara reuni, setidaknya itulah yang selalu kuingat, menjadi beban besar yang mendadak jatuh tepat di atas kedua bahuku. Bagaimana bisa aku mengacaukan segalanya? Aku gagal bersinar secemerlang ketika masih di dunia maya, aku mendadak menjadi abu yang teringin sekali tertiup angin lalu pergi ke mana saja asalkan tidak berada satu tempat dengan mereka, para korban kobaran apiku. Aku adalah bintang cemerlang yang sengaja menjatuhkan diri dan bukan karena kehilangan gravitasi.
Momen menghilangku pernah beberapa kali di pertanyakan Ari, tapi aku menyahutinya dengan menjadi abu, jawaban tanpa semangat dan tercecer kemana-mana.

Sekian tahun berlalu mengaburkan pula kabar Ari dari radarku, dia terkenang hanya sebagai si hitam berambut keriting yang selalu berisik dan sedikit nakal. Selain itu, aku melupakannya seperti aku melupakan anggota pengurus reuni yang lainnya. Zaman reuni berganti menjadi zaman korea. Aku menyentuh Ari lagi, melalui tatapan dan komentar sinis karena perbedaan yang merambati kami, dia anak rebel yang benci segala hal tentang korea, sesuatu yang saat itu tengah kuanut dan kusembah mati-matian, keberadaannya menjadi semacam tongkat pentungan yang siap melambai-lambai di depan mata ketika aku mulai mengumandangkan setiap bait mimpi dan khayalan. Aku benci dia yang selalu menarik paksa kakiku untuk menjejak tanah ketika hasrat untuk terbang tengah dalam dekapan. Keberadaannya tak semanis ingatan pertama kami bertemu. Dia mengacaukan kenangan manis yang pernah tersemat di antara tumpukan pahitnya ampas kopi. Tapi sesuatu menarikku untuk tetap berada dalam jangkauan radarnya. Entah kenapa.

Dan ini adalah bagian favoritku untuk mengingatnya. Malam tergila dari semua malam-malam gila yang pernah mampir dalam hidupku. Aku dan Ari terikat dalam hubungan pacar, bukan karena kita jatuh cinta, tapi tepatnya adalah karena sadar sama-sama manusia gila. Zaman korea hampir berakhir sekarang, ketika lambat laun aku mulai sadar ikatan, masih belum jatuh cinta, lebih tepatnya pemanfaatan pada fasilitas yang di sebabkan karena ikatan itu sendiri. Aku menyukai lautan, selalu lautan, dan Ari tidak paham awalnya, sampai kemudian kami mendatangi kaki gunung dan aku tergugu dalam dekapannya karena setengah mati menahan dingin yang seketika melelehkan air mata, mengguncang raga. Memalukan bukan? Karena itu barulah kaki gunung, bagaimana kalau badan gunung? Kepala gunung? Musnah sudah harapan untuk bisa berduaan di daratan di atas awan. Ari tahu kelemahanku. Setelahnya dia paham akan melajukan kendaraan kemana ketika aku mulai memasang wajah kurang senyuman. Selalu lautan, dan akan terus seperti itu.

Di lain waktu, ketika Ari tengah terlalu sibuk mendalami peran sebagai orang normal aku akan menggerecoki dia dengan angan-angan. Sungguh, aku bertransformasi menjadi perempuan tanpa urat malu dan tak tahu diri sejak menikahi Ari. Obsesiku yang lain selain mengikat Ari semalam suntuk di atas ranjang, jangan dulu berpikiran macam-macam, aku memerlukan dia untuk menghangatkan badan karena tidak peduli seberapapun suhu normal berkisar anehnya aku akan selalu merasa kedinginan. Dan obsesi itu adalah bisa berkeliling dunia, menyambangi padang-padang bunga berukuran giga dengan warna-warna menggoda yang akan selalu memanjakan mata. Aku terobsesi bisa merasai sapuan padang canola, terobsesi pula untuk merasai seperti apa ujud lautan ketika gelap melanda. Hitam pekat bukan alasan, karena aku bisa menikmatinya melalui indera yang lain, tentang bagaimana aroma hasrat berterbangan di sela-sela debur ombak menghantam karang, tentang bagaimana dingin pasir malam bisa menghangatkan manusia yang hampir tak pernah merasa kegerahan. Aku tergoda untuk mencicipi bagaimana rasanya berkendara membelah malam, mengejar satu bintang dan meninggalkan bintang lain di belakangnya, aku benci angin malam tentu saja, apalagi alasannya kalau bukan karena mereka selalu menaburkan dingin tak berperi kemanusiaaan di sekeliling badanku, dan anehnya hanya sekeliling badanku, karena sejauh yang ku tahu Ari selalu memilih telanjang jika kupaksa berdiam diri mendekapku di atas ranjang, alasannya jelas, dia kepanasan.
Selain lautan, dan bunga canola aku juga tertarik untuk mencicipi sungai, tebing, garis pantai, dan pedesaan. Semua hal berbau alam selalu bisa menyirep minat dan penglihatanku, Ari paham betul sisiku satu itu.
Aku terobsesi memiliki satu kendaraan, dengan warna dan jenis yang sudah berkali-kali di bicarakan dengan Ari, tidak peduli kapan kami bisa memilikinya atau apakah kesempatan untuk memilikinya bahkan masih ada atau tidak, tapi aku selalu menyebutkan satu nama itu, warna hitam akan sangat manis jika di sandingkan dengan warna kuning bunga matahari atau bahkan jika beruntung deretan canola, bukankah? Ya, aku memimpikan warna hitam yang benar-benar hitam yang akan menemani masa tua kami menjelajahi berbagai hidangan alam. Bahkan sepertinya tak masalah jika akhirnya aku dan Ari akan berakhir tak dimanapun tapi berada dalam rapatnya baris jejeran bintang dalam kegelapan, yang memantul di atas permukaan air tenang hingga jika sekejap aku memejamkan mata lalu membukanya kembali akan terasa seperti aku tengah berdiri di tengah udara. Atau mungkin aku akan merelakan untuk tertelan dalam lingkaran hidup tanaman canola, memandanginya ketika musim berbunga, mengucapkan sampai jumpa ketika musim panen tiba, lalu bersuka cita ketika si kecil tanaman canola mulai tumbuh menyapa. Atau jika keduanya akan terlalu indah untuk menjadi kenyataan, aku sunggup rela hanya menghabiskan tua dengan terus berkendara, membelah malam, menelan siang, meninggalkan bintang, mengejar matahari.

Menurutmu apa yang lebih menyenangkan daripada menemukan sosok yang rela di hujani berbagai angan? Ketabahan Ari untuk mengimbangi sisi berimajiku benar-benar patut di hadiahi pujian,
Mungkin itulah alasan terpendam kenapa dulu aku menikahinya, berhasil mengendus kesabaran seseorang meskipun untuk menghadapi rangkaian isi otak yang jika di jabarkan panjangnya akan menghabiskan semua sudut semesta.
Menurutmu apa yang lebih menenangkan ketimbang memiliki sosok yang siap menua bersamamu bahkan sebelum waktunya? Aku memilikinya, nama yang selalu sigap melahap setiap pepesan angan dan kenangan dan tidak hanya itu, dia pun berani memberi bumbu tambahan dan sedia menghangatkannya kapanpun aku hendak makan. Betapa menyenangkan.