Selasa, 07 April 2020

Pendaki Amatir

Aku mendaki sebuah gunung. Terdapat banyak jalan menuju puncaknya. Dari yang di sarankan oleh ahli pendakian, lalu jalan yang di buat oleh penduduk sekitar, hingga jalan yang di tuntun oleh nurani. 
Aku memilih jalan yang terakhir. Menjadi manusia kebanyakan sama sekali bukan ciri khasku. Sementara mengikuti setapak yang telah di buat oleh penduduk sekitar sama sekali tak memberi tantangan, lagi pula apa enaknya berjalan dengan di tuntun oleh setapak yang di buat oleh orang lain? Kau harus menciptakan sendiri setapakmu. Membelah belantara hanya demi menemukan puncak tujuan. Tersesat bukan halangan, salah bukan sebuah masalah. Aku mencoba peruntunganku. Menaklukkan gunung melewati jalur yang tidak biasanya. Perjudianku dengan keberuntungan dan juga alam. 

Gelap, aku melihat nyala cahaya yang hanya berupa titik, jauh di belakang sana, pintu masukku menuju kepekatan total. Ini pilihanku. Bahkan jika ini adalah perjalanan terakhirku, sebisa mungkin tidak akan ada penyesalan di sana, karena ini adalah pilihanku. 

Aku sendiri. Berkawankan jamur dan lumut hijau yang menyebar rata di setiap kaki pepohonan tua. Aku sendiri. Hanya bertemankan nafas dari pegunungan yang tengah ku daki. Aku mencoba berbicara pada denyut yang kian menyatu dengan detak jantungku. Aku mencoba menyapa dan berharap akan mendapat petunjuk baru untuk keluar dari gelap yang kian mendekap. 

Jangan tanya seberapa banyak aku menjejalkan bekal ke dalam ransel yang menggantung kokoh di punggung. Aku tak mengira perjalananku akan menjadi semenantang ini. Dalam pemberhentianku yang selanjutnya aku berencana untuk mengurangi isi ransel, membuang barang-barang yang tidak kubutuhkan. Menghemat tenaga tentu cara terbaik untuk situasi ini. 
Ujung belantara masih panjang di depan sana, melambai, mencoba memanggil semangat yang kian menghilang seiring bertambahnya langkah. 

Tenggorokanku terasa kering, membunyikan suara akan membuatnya semakin terasa parah, tapi aku perlu melakukannya. Untuk membunuh sepi, untuk membunuh sunyi yang kian mencekam.
Satu, dua, tiga, kunyanyikan lagu tentang pahlawan. Tapi suasana justru semakin terasa buruk. Perjuangan mereka terlalu agung untuk di dendangkan di tengah belantara. Lalu aku mencoba lagu lembut. Dan sihir seketika meghampiri, memilih kelopak mata untuk merekatkan mantranya. Memang baik jika kita bisa terlelap di tengah gempuran rasa takut. Tapi proses tidurku kali ini tidak menguntungkan. Karena di alam sana, aku menemui kegelapan yang lain lagi. Kegelapan yang terasa getir. Menyapu seluruh langit-langit mimpi dan melemparkanku pada nyala nanar seketika. Aku bangun untuk tenggelam lagi dalam kegelapan yang pertama. Saatnya untuk melanjutkan jalan, bahkan jika denyut pegunungan sama sekali tidak mengirimkan pertanda, tentang jalan mana yang harusnya kupilih, tentang tikungan mana yang harus kupilih. 


Puncak masih setengah perjalanan. Dan ini adalah hari ke limaku. Memang bukan pegunungan biasa yang kupilih untuk di daki kali ini. Gunung ini biasa di sebut sebagai gunung abadi, karena panjangnya jalan yang harus di tempuh dan berapa banyak bahaya yang menghadang. 

Tidak hanya peluh yang turun membasahi tapi juga air mata, oh Tuhan, aku mulai lelah dengan jalan pilihanku. 

Mengeluh tidak akan mengurangi beban, mengeluh tidak lantas memperpendek jarak pada tujuan. Mengeluh hanya menandakan bahwa aku manusia biasa. Dan menaklukkan alam bukanlah sesuatu yang ada dalam jangkauan kekuatanku. 

Dia dengan keluasannya, dia dengan segala kisah pertama, kedua dan lainnya. Dia dengan kebesarannya yang tak mungkin bisa sepenuhnya kurengkuh. 

Penat menguji tekad. Penat menguji pilihan. Bukan sekali aku berakhir untuk mengakhiri ini. Bukan hanya sekali aku berpikir untuk menyerah pada niat pertamaku dalam menaklukkan gunung satu ini. 

Aku ingin tidak hanya nafasku saja yang mengejar jarak, aku ingin bukan hanya nadiku saja yang berima menyelaraskan langkah. Tapi dia tetap diam. Tapi dia tetap jauh di sana, ada jurang yang memberatkan langkah, bahkan ketika aku membabi buta memperpanjang langkah, dia tetap akan sepertu itu, dia akan tetap diam. 

Dear gunung tinggi nan berkuasa. Bisakah kita bercakap-cakap barang sejenak? Bisakah kau merasakan peluh yang mengaliri raga ini? Bercampur dengan air dari retina. Meski penting untuk mempertahankan tekad di awal niat tapi jujur saja aku ingin mengakhiri perjalanan ini. Meski penting mempertahankan perjuangan sampai ke puncak, tapi di sini, sesuatu tengah membeku. Aku selalu merasa bahwa dalam perjalanan ini hanya aku yang menginginkan puncak itu, engkau menutup diri, sembunyi entah dimana, tak pernah mencoba untuk berbaik hati memuji penat yang kian mendera, tak pernah mencoba untuk berbaik hati agar puncak dapat cepat terselesaikan. 

Aku merasa tengah berjuang sendiri untuk pucak itu. Dan kini aku ingin menyerah. Tidak apa jika jalan ke belakang ternyata lebih panjang ketimbang jalan di depan sana. Tidak apa jika ternyata hanya akan kutemui penyesalan di pintu masuk sana. Karena jujur saja, terlalu sulit melanjutkan perjalanan dengan hanya menggunakan satu kaki. Niatku sendiri. 

Semoga pendaki lebih beruntung dalam menaklukkan puncakmu. Semoga pendaki lain kuat niat ketimbang diriku. 

Sabtu, 04 April 2020

Jembatan, Malam dan Hujan Kecil-Kecil

Beberapa nama begitu inspiratif untuk di jadikan bahan tulisan. Beberapa nama terlalu menggiurkan untuk hanya sekedar di jadikan bahan angan-angan. 

Namamu salah satunya. Pemilik retina yang selalu mengundang siapapun untuk memandangnya. Pemilik senyum yang selalu menghadirkan kepakan kupu-kupu di setiap pulasannya. 

Aku punya rahasia manis tentang jembatan. Dengan amukan deras air di bawahnya. Aku punya rahasia manis tentang ingatan akan jembatan, dan malam, bahkan hujan kecil-kecil. Yang terkadang menawarkan undangan agar aku bersedia menilik seperti apa isinya. Masa lalu yang selalu menebarkan feromon menggelitik agar aku bersedia kembali untuk membuka halamannya. 

Kadang aku tergoda, tapi ajakan itu kian waktu kian menyusut. Bukannya tidak ada, hanya saja asinnya air yang tergenang, telah menghilang secara samar, menyisakan kepulan asap berisikan kepingan gambar, tentang bagaimana aku menangis diam-diam, tentang proses bagaimana topeng di tangan meluruhkan diri pelan-pelan. 

Namamu tetap bercokol di sana, seperti hantu yang enggan meninggalkan tempat keramatnya. Seperti bayangan hitam yang mengikuti manusia. Namamu tetap di sana dalam ingatan terdalam beserta jembatan, malam, dan hujan kecil-kecilnya. 

Aku tidak pernah berpikir tentang nama lain yang akan menjadi pendampingku. Aku tidak pernah memikirkan kemungkinan lain jika Ari tidak mengiyakan tawaran untuk berhubungan waktu itu. Beberapa kali si pembuat baret datang dalam lamunan, dan namamu secara konstan hadir juga meski dengan tegas ikatan itu telah mematahkan harapan. 

Biarkan aku menyimpan rahasia manis tentang itu.  Aku tidak ingin membuatnya hilang atau terlupakan, karena namamu pernah mengajarkan sesuatu sangat penting dalam kehidupan. Yakni tentang mengikhlaskan.
Biarkan aku menyimpan sendiri rahasia manis itu. Tentang malam, tentang jembatan, tentang amukan air di bawahnya, dan tentang hujan kecil-kecil yang menjadi serbuk pemanis kebersamaan kita. Singkat, harus di akui waktuku begitu singkat. Kemarin aku mengagumi senyuman matamu, lalu keesokan harinya aku jatuh dalam pelupuk mengundang, dan lusanya pengakuan itu datang. Aku menyerah memperjuangkan sekian hariku yang terbuang untuk mengamati, mengagumi dan mengharapkanmu. Aku menyerah untuk mengakui pada kuncup yang tengah tumbuh di dalam sana. 

Biarkan aku puas memilikimu dalam kepala. Biarkan aku menyimpan rahasia manis yang meski hanya memiliki durasi singkat namun begitu membekas dan enggan untuk di tanggalkan. Hantuku yang kesekian dan tetap bertahan hingga sekarang. 
Kenangan tentangmu hanya seputar tiga kata itu, jembatan, malam dan hujan kecil-kecil, tapi pelajaran yang kuambil dari masa singkat itu banyak hingga tak terhingga. Aku jatuh cinta, aku menjadi pengagum rahasia. Dan satu-satunya hal yang kudapat hanyalah air mata, tetesan air asin yang keluar dari retina bukan karena indikasi adanya luka, tapi perasaan bahagia. Aku terlalu bahagia untuk menjadikanmu nyata, sementara mencuri waktumu telah berhasil kulakukan, sementara senyummu telah berhasil mengenyangkan, sementara menculikmu dari siang yang membakar telah berhasil kulakukan, menculik lalu menyekapmu dalam malam-malam singkat di atas jembatan. Aku akan jadi serakah jika menginginkan lebih dari itu. 

Dalam waktu singkat kita aku bahkan lupa mengucapkan kata perpisahan. Lambaian tangan yang ku isyaratkan tak mendapat tanggapan. Sementara melayangkan pandangan mencuri untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal akan terasa seperti melanggar sebuah batasan. Garis yang di buat oleh takdir untuk mengingatkan bahwa milikmu bukan aku, bahwa namamu tercipta bukan untuk bersanding dengan namaku, bahwa peta untuk pulang kita tidak sama. Batasan yang membuatku hilang akal dan memutuskan untuk menghilang seketika. 
Biarkan aku menggenggam rahasia manis ini. Pijakan terakhir untuk terlepas keluar dari jurang yang engkau ciptakan. Aku harus menuntaskan, mengakui dan menuliskan. Menelan hanya akan mendatangkan bisa. Agar kelak yang tertinggal di dalam sana hanyalah kenang-kenangan semata, dan bukan lagi cinta. Rahasia manis kita sudah bukan lagi berbentuk rahasia. Karena aku telah berhasil mengatasi dan mengeluarkan, Ari mungkin akan membaca ini dan aku lega karena tidak harus menatap matanya langsung ketika menyatakannya. Pengakuan bahwa namamu telah melewati batas izin tinggalnya, bahwa namamu hanya menyalakan ingatan samar semata, menyisakan tiga kata kunci yang mungkin akan tersimpan selamanya. Jembatan, malam dan hujan kecil-kecil. Tiga nama yang akan membawaku kembali pada ingatan tentangmu. Tapi kini Ari dan cetak birunya telah berhasil mengumpulkan banyak memori manis lainnya, tapi kini Ari dan cetak birunya telah berhasil mengumpulkan banyak kenangan di tempat yang sama. Namamu bukan lagi satu-satunya. Namamu bukan lagi yang paling istimewa. Jika memungkinkan aku ingin dengan benar mengucapkan selamat tinggal. Cara terakhir untuk melepaskan dan mengikhlaskan. Maaf jika membutuhkan waktu selama itu, selama ini aku hanya berpikir bahwa ikhlas tidak butuh pengucapan, ikhlas tidak memerlukan formalitas semacam jabat tangan. Dan aku salah. Cara terbaik untuk melepaskan adalah dengan mengucapkan selamat tinggal, cara terbaik untuk merelakan adalah dengan mengangkat dagu dan tangan, dan mengakui secara gamblang bahwa engkau telah berhasil melepaskan. 


Biarkan namamu membeku di rumah kecil ini. Tempat abadi di mana aku akan selalu kembali, kemanapun langkah membawaku pergi. Biarkan rahasia manis itu tertuangkan disini. Hanya sebagai penanda jika kelak kenangan tentangmu kembali menggoda, bahwa aku telah berhasil menuntaskan segalanya, memutus rantai suka yang tertanam semenjak pertama kali menemui senyuman di matamu, bahkan sebelum aku dengan resmi mengetahui namamu. 

Beberapa nama memang begitu layak untuk di jadikan bahan tulisan, beberapa yang lain kenangan tentang nama itulah yang layak mendapatkan tempat dalam tiap baris dan halaman catatan. 
Namamu mengekal di sini bersama tiga kata kunci yang selalu menyertai, jembatan, malam dan hujan kecil-kecil. 

Seperti juga rahasia manis itu, begitu juga rasa kagumku terhadap namamu. Aku ingin siapapun tahu, aku ingin siapapun membaca. Agar kelak tidak ada lagi rahasia yang tersisa di kedalaman sana. Agar kelak yang terkubur bersama waktu hanyalah kenangan samar tentang persahabatan manis kita yang telah berakhir dan lupa untuk ku tutup dengan ucapan selamat tinggal. Aku tidak mengharapkan retinamu membaca ini, atau tulisan-tulisan lain tentang pengakuan cintaku padamu. Kita akan menua dengan menggenggam ingatan yang berbeda. Dan di dalam kepalaku, ijinkan jembatan, malam dan hujan kecil-kecil yang menjadi penghuni tetapnya. Cara terbaik untuk tetap memilikimu tanpa harus menyakiti siapa-siapa. Hanya ingatan singkat tanpa kata penutup, hanya kenangan singkat tanpa judul. Itu saja. 

Kamis, 02 April 2020

Menyelami Kolam Ilusi

Sudah berapa kali tepatnya aku mengelak dari kalian? Sudah berapa kali tepatnya aku mengukuhkan niat untuk pergi dari kalian? Mudah untuk pergi sulit untuk pulang. 

Aku kira kehidupan akan berakhir landai ketika kita jatuh cinta dan terikat dengan seseorang. Aku kira kehidupan telah mencapai titik puncaknya ketika berhasil mengklaim diri bahwa kita bahagia. Tapi ternyata ada puncak lain yang harus di daki. Tapi ternyata ada lembah lain yang harus di seberangi. Karena menikah bukan hanya mengesahkan kegiatan tidur bersama pasangan di atas ranjang. Menikah berati ada tahap selanjutnya dalam kehidupan yang perlu di daki, menikah berati ada banyak ikatan yang harus di urus dan di perhatikan. Menikah berati menjaga banyak kepala dan banyak perasaan. Aku tidak tahu apakah aku siap untuk semuanya. Karena belakangan aku menyadari ada banyak luka yang lupa untuk di obati, ada banyak topeng yang harus di kenakan, ada banyak kompromi yang harus di selesaikan. Aku tidak tahu apakah aku siap untuk semuanya. 

Apa kalian tahu sesuatu? Ari mengajariku untuk tidak mengeluh, Ari mengajariku untuk menjadi yang terbaik dan memberikan yang terbaik. Dan di sinilah aku sekarang. Terseok dalam langkah sendiri. Mencoba bangkit dari keterpurukan. Dan kalian selalu ada di sana, untuk memberikan dukungan. Untuk memberikan ilusi akan adanya teman. 

Aku merisaukan banyak hal akhir-akhir ini. Belakangan ragaku di mana dan pikiranku di tempat yang berbeda. Aku merisaukan tentang banyak nama. Tentang Ari yang tengah berjuang di kejauhan sana, tentang kalian yang telah berhasil baik-baik saja, tentang Hara yang tulang di tubuhnya kian terasa dalam sentuhan, tentang rumah lain yang begitu kumimpikan. 
Ya, aku memendam keinginan satu itu. Bukan berati aku tidak mau bersama pengandungku. Bukan berati aku ingin melepas tanganku dari kewajiban menjaga mereka. Tapi ada hati yang selalu teriris sewaktu-waktu. Kalian paham benar bagaimana diriku. Manusia kaca yang memiliki potensi untuk pecah lebih cepat dari pada apapun. Manusia kaca yang memiliki kepekaan lebih ketimbang siapapun. Aku mudah terluka, aku mudah merasa sakit. Bahkan hanya dengan kata-kata, bahkan hanya dengan suara-suara. Keadaan yang terkadang membuatku ingin mengutuk siapapun yang berani menyentuhku sembarang, mengusir siapapun yang berani mendekatiku sembarang. Aku semenakutkan itu. Aku setajam dan serapuh itu. Dan mengungsikan diri dalam tempat terjauh dari peradaban adalah cita-cita terbesarku hingga saat ini. Aku hanya perlu membawa Ari, membawa Hara, dan kalian. 

Seseorang mungkin akan mengingatkan bagaimana sekian tahun lalu berkali-kali telah kusanggah kenyataan bahwa aku masih memiliki rasa untuk kalian. Seseorang mungkin akan melempariku kaca hingga aku dapat melihat seperti apa ujud si penjilat ludah sendiri satu ini. Tapi dengan Ari tak bisa ku bagi kerisauan ini. Tapi bersama Ari tak ingin kubagi beban ini. Aku pernah mengatakannya sekali, dan melakukannya lagi dan lagi hanya akan membuat Ari bosan dan terbebani. Dan di sinilah aku sekarang, duduk termangu bersama suara kalian. Kerisauan ini meluncur begitu tepat dengan di latar belakangi suara kalian. Nama-nama yang masih bercokol di dalam sana, menunggu untuk di datangi, meski harus di akui aku hanya datang ketika duka tengah melanda. Aku sebrengsek itu memang. Seseorang yang bahkan tidak pantas mendapat julukan teman. Seseorang yang bahkan tidak pantas untuk sekedar mendapat sapaan, karena aku akan otomatis menghilang jika dunia nyata tengah dalam kondisi baik-baik saja. 

Aku mengkhawatirkan banyak hal belakangan ini. Tentang berapa lama sisa hariku bersama Ari. Tentang siapa yang akan pergi lebih dulu, antara aku atau Ari. Wabah ini memutus jarak pandangku akan masa yang akan datang wabah ini membuat segalanya menjadi tak terduga. Dan aku takut karenanya. 

Kalian harus baik-baik saja, bukan untukku tapi untuk penggemar di luar sana yang tak pernah lelah dalam mendukung kalian. Kalian harus baik-baik saja, untuk mereka, para penggemar yang tak pernah merasa kecewa dengan segala keputusan dan kehidupan nyata kalian. Aku hanya hidup di bawah ilusi, aku hanya pantas tenggelam dalam dunia yang bahkan tidak pantas untuk di pertahankan. Pandanganku tentang dunia telah berubah kini. Tentang suara-suara, tentang bahasa-bahasa, dan kalian berjasa besar atas pelebaran sudut pandangku sejauh ini. Tidak ada yang kusesali selama ini. Pertemuan kita, momen jatuh cinta kita, hingga ketidakmampuanku menerima kenyataan bahwa kalian perlu mentas dari panggung hiburan. Sekali lagi kutegaskan bahwa aku hidup di bawah ilusi. Teruslah berjalan, tinggalkan saja aku bersama duniaku, seseorang yang bahkan tidak pantas mendapat predikat teman. Aku telah menemukan sumber bahagiaku. Dalam ujud seseorang. Tapi berbahagia bukan puncak dari kehidupan. Akan ada puncak lain yang harus kutaklukkan. Ada daratan lain yang perlu kudaki. Dan aku menggenggam ingatan tentang kalian, temanku melangkah dalam pekat yang enggan kumasuki bersama Ari. Dan aku menggenggam ingatan tentang kalian, bekal untuk mendaki puncak lain yang menunggu di depan sana. Maaf jika aku sebrengsek itu. 

Aku akan menua, dan kalian juga. Tapi ingatanku tentang kalian akan selamanya muda, tetap utuh dan tak tersentuh. Bahkan jika esok kalian telah melangkah dalam tahap hidup selanjutnya, bagiku dan kenanganku, kalian terawetkan dalan kesendirian sekaligus kebersamaan yang mengekal. Mungkin, jauh di dalam sana, inilah alasanku sebenarnya memutuskan untuk berhenti menjadi penggemar kalian sekian tahun dulu. Aku tidak ingin menodai ingatan tentang keutuhan kalian. Hatiku tidak di siapkan untuk melihat keretakan terlebih pemutusan ikatan. Aku tidak bisa dan tidak akan pernah siap. 

Terimakasih untuk kesediaan kalian menjadi pendengar. Terimakasih untuk keheningan yang berhasil kalian hantarkan hingga ujung paragraf ini. Ari tidak akan bisa senetral itu jika menjadi pendengar. Alasan kenapa beberapa hal lebih baik tidak kusampaikan padanya, sesuatu yang hanya bergejolak di dalam hati dan hanya membutuhkan jeda sunyi untuk membuatnya mereda. Emosi seperti itu, apakah kalian pernah terjebak di dalamnya? Dan suara-suara kalian menuntunku agar lebih gampang dalam menjabarkan. Terimakasih tak terhingga untuk bantuannya dalam menjaga kestabilan warasku. 

Aku akan datang lain waktu. Entah untuk pengaduan apalagi nanti. Tetaplah di sini, berenang dalam kolam ilusi. Sekeping dunia dimana hanya ada aku dan kalian dengan anggota penuh di dalamnya. Sekeping dunia dimana hanya ada mimpi dan harapan di dalamnya. Dimana kecewa dan kata akhir tak pernah eksis di dalamnya. Sekeping dunia dimana aku bisa berdiri dengan keutuhan nama dan melangkah dengan kakiku sendiri. Sesuatu yang telah lama kutinggal di belakang sana. Karena konon dalam sebuah pernikahan yang terpenting bukanlah tentang siapa kalian. Tapi yang terpenting adalah tentang bagaimana kalian bisa bertransformasi dalam banyak nama. Dan terkadang, aku merasa lelah dengan semuanya. Kepenatan yang tidak bisa di halau dengan ketelanjangan, hanya perlu berjalan menuju senyap dengan satu nama, dengan satu peran, satu identitas. Waktu ajaib untuk memulihkan diri dan memulai semuanya lagi. 

Selasa, 31 Maret 2020

Langkah Kelima

Tidak ada parang atau pedang yang menjadi penghubung untuk ikatan ini. Tidak ada sumpah atau mantra yang mengikat aku dan Ari. 
Semua terjadi begitu saja. Aku menawarkan padanya sebuah hubungan lalu Ari mengiyakan. Sesingkat itu. Tanpa ada drama, tanpa ada bunga ataupun kata-kata. 

Skenario seterusnya berlanjut dengan sedikit berbeda, ada tambahan bumbu di dalamnya. Ari yang dari awal sedingin butiran salju tetap saja seperti itu, tidak ada rencana atau tanda-tanda ingin menjadi air yang mengalir terlebih lagi menjadi air di dalam panci dan berada di atas tungku penuh api, menjadi air yang menghangatkan. Aku yang meminta, menuntut Ari agar bisa lebih menghayati perannya dalam sebuah hubungan. Dari sinilah drama itu di mulai. 

Tumbuh semakin besar dengan di suguhi berbagai macam hidangan tentang Korea membuatku haus akan segala drama yang di sajikannya. Pengakuan adalah hal pertama yang kuinginkan dari Ari. Maklum saja, ini hubungan pertamaku, dan tidak seperti pada umumnya gadis-gadis akan mendapati hatinya tumbuh di usia yang relatif muda, terikat, patah lalu tumbuh lagi, terikat lagi, patah lagi lalu tumbuh, begitu seterusnya. Ini ikatan pertamaku, benar-benar yang pertama. Bukannya aku tidak pernah mendapati sesuatu tumbuh di dalam hati, tapi apapun itu akan patah lebih dulu sebelum sampai pada sebuah ikatan, sekali, dua kali, aku mempunyai banyak pengalaman tentang gagal tunbuhnya benih di dalam hati. Keadaan yang otomatis membuatku menjadi si posesif dan si buta tak tertolong. Aku tidak tahu cara bermain dalam sebuah hubungan, apa saja peraturannya, apa saja pantangan dan yang di sarankan. Hubungan pertamaku menjadi ajang pembuktian akan drama yang dihidangan dari Negeri ginseng sana, yang kutelan bulat-bulat tanpa pernah bersusah payah mengunyahnya. 

Aku kehausan di tengah jalan, sementara Ari tetap bersikap manis dan beku seperti biasa, tapi aku membungkam diri, membiarkan rasa itu kian membakar dari dalam sana, dan sampai pada titik dimana aku hampir sekarat karenanya. Tetesan air yang kuharap akan meluncur dari sikap Ari, hanya menyisakan kekecewaan semata. Aku bukan yang pertama dalam hidup Ari, sebelumnya ada beberapa nama, Ari jelas saja sangat berpengalaman dalam menangani dan bertindak dalam sebuah hubungan. Aku yang buta, aku yang tak tahu apa-apa. Kubiarkan diriku tersesat dalam pengharapan-pengharapan kosong, kubiarkan diriku tersesat dalam drama yang tak mungkin akan terjadi di dunia nyata, terlebih jika Ari adalah lawan mainnya. Dia benar-benar menyalahi segala standar romantis yang pernah kubaca dan kulihat di layar kaca. 

Tapi Ari bertindak, tapi Ari menunjukkan aksi. Kompensasi atas segala depresi yang kulalui sendiri selama sekian waktu. Tetesan salju itu perlahan menemui titik lelehnya. Ari mulai berkata-kata meski tetap tanpa untaian bunga. Kali pertama Ari menunjukkan pesonanya dan aku jatuh seketika di dalamnya. Skenario berlanjut dengan di bumbui semakin banyak drama. 


Pengakuan sudah ada dalam genggaman, yang selanjutnya kuinginkan adalah menguasai. Serakah, aku paham benar kebenaran satu itu. Tapi saat itu aku merasa hanya memiliki cangkang yang membungkus Ari. Ada kedalaman yang terus di lindunginya agar tidak bisa kumasuki. Sesuatu tentang Ari yang tidak benar-benar kuketahui. Sesuatu tentang Ari yang ingin segera kumiliki. Aku memaksa, aku menuntut, tapi sadar benar bukan cara itu yang akan membuka Ari dari ketertutupannya. Aku harus melakukan pendekatan dengan cara lain, jika ternyata yang di sembunyikan Ari adalah emas berharga, maka mungkin akan membutuhkan lebih dari sekedar sabar untuk mendapatkannya. Dan lagi-lagi aku terbakar sendiri oleh tantangan yang di berikan Ari. Aku ingin segera menaklukkan puncak itu, kemustahilan yang menguras waras dan juga isi hati. Aku hampir menyerah pada semuanya. Pada ikatan pertamaku. Pada hubungan dengan si manusia beku. Menyerah pada Ari. 
Tapi lagi-lagi drama terjadi. Aku mulai jatuh cinta pada Ari. Petualanganku dalam mengenal, menjelajahi dan ambisi untuk menaklukkan Ari ternyata membuahkan sebuah rasa yang kelak akan mengubur semua identitasku. Aku jatuh cinta pada ikatan pertamaku. Manusia buta yang bersanding dengan si manusia beku. Jika awalnya aku mengira hubungan ini akan menjadi yang pertama dan akan menghadirkan rangkaian patah lalu tumbuh lagi seperti yang umum di lalui para gadis-gadis, ternyata aksi Ari dan kata-katanya yang meski tetap tanpa di sertai bunga telah menciptakan pemahaman lain. Ada ikatan di dunia ini yang memang tercipta tanpa sama sekali dikalungi untaian bunga. Ada ikatan di dunia ini yang memang tercipta dan tidak sedramatis yang ada di film-film Korea. Dan baru belakangan ini aku menyadari bahwa ternyata bukan drama Korea yang menggambarkan kehidupan nyata, dan justeru kebalikannya. Tidak ada kisah nyata di dunia yang semanis drama Korea, dan baru belakangan ini juga aku mendapati pemahaman betapa Ari adalah cerminan dari laki-laki idaman yang selalu di teriakkan para wanita. Ikatan pertamaku memberikan bonus tak terduga, keberuntunganku karena telah berhasil menaklukkan puncak yang di suguhkan Ari. Kebekuan yang telah melalui masa lelehnya, mengalir sedemikian rupa menuju kolam penuh siraman panas matahari. Kehangatan yang kuharapkan hanya bersifat sementara ternyata di taburi panas abadi. Aku tenggelam seketika, dalam kebahagiaan yang mendera. 
Drama belum berhenti. Masih ada banyak dan sepertinya tidak pernah ada hari yang akan terlalui tanpanya, tanpa drama, tanpa bumbu yang menjadi perekat bagi ikatan yang sering tiba-tiba merenggang ini. 

Aku menemukan palung itu. Kedalaman yang selalu di sembunyikan Ari selama ini. Realisasinya tercipta pada banyak malam tanpa benang yang kami lalui bersama. Jika awalnya aku mengira kedalaman itu tersembunyi di ruang yang tak bisa kusentuh dan kujelajahi, ternyata aku salah. Kedalaman itu ada pada kebungkaman yang selama ini terus menyelimuti ikatan ini. Kesempurnaan dan kebaikan yang selalu di junjung teguh dan di harapkan akan menjadi tiang pancang bagi menara dalam hubungan ini, ternyata justeru menjadi jurang pemisah antara aku dan Ari. Baru ketika kata-kata semakin banyak meluncur, baru ketika kekurangan-kekurangan perlahan merembes keluar melalui banyak kata, saat itulah ketelanjangan mendadak menjadi tangga menuju jurang yang kedalamannya tak terlihat dan tak terduga. Akulah yang menciptakan ruang, si bisu yang terus mengais cara untuk memasuki palung dan jalan tersembunyi menuju kesana hadir ketika si bisu ini mengakhiri kebiasaannya dalam menelan kata-kata.

Ikatan membutuhkan lebih dari sekedar dua raga tanpa benang untuk bisa saling terhubung, ikatan membutuhkan lebih dari sekedar perasaan telanjang untuk bisa mengenali satu sama lain. Kata-kata tetap harus di muntahkan. Di telan hanya akan menciptakan jurang. Dan mengutarakan adalah jalan terbaik untuk menuju kesempurnaan hubungan. Sesuatu yang jarang di ketahui oleh pemikiran umum. Bahwa sempurna tidak berati harus sesuatu yang utuh, tanpa celah, tanpa retak, sempurna bukan berati harus sesuatu yang berbau wangi, berwarna putih dan bertekstur halus. Sempurna bisa jadi adalah tentang lubang-lubang menganga. Kesempurnaan bisa jadi tentang perasaan menerima celah yang tak mungkin bisa tertutupi dan tak mungkin juga di tiadakan. Kesempurnaan dalam sebuah hubungan adalah tentang menerima kekurangan. Butuh lebih dari sekedar sabar untuk bisa sampai pada tahap itu. Kesempurnaan ikatan, yang selalu di idam-idamkan oleh semua pasangan. Dan aku beruntung karena tidak hanya telah melewati tapi juga telah melalui tahapan-tahapan keramat yang di suguhkan hidup untuk mendapatkan Ari.
Langkah kaki ikatan ini yang telah sampai pada hitungan lima. Dan aku masih belum menemukan kata yang pas untuk menggambarkan betapa aku bersyukur karena telah menawarkan sebuah hubungan di awal kepada Ari. Dan bukan kepada nama yang lain. 

Drama tidak pernah luput untuk hadir, drama tidak pernah alpa untuk membumbui. Ikatan yang semula hanya berupa tawaran tanpa tujuan mendaki sebuah hasil yang begitu di nanti. Kesempurnaan yang begitu diminati. Dan meski tak ada parang dan pedang yang menjadi pengikat hubungan ini. Tapi di sana tertoreh banyak luka, di setiap inchi, di setiap lekukan. Hanya saja semua luka itu terbahasakan. Hanya saja semua luka terkatakan. Kata-kata yang tanpa bunga tapi lebih bekerja ketimbang bunga yang di bungkus kata-kata. Tentang keunikan Ari dalam memahami si buta dan si bisu satu ini. Tentang kekuatan Ari untuk melelehkan diri demi sebuah kehangatan yang di harapkan mengekal. Dan langkah kelima barulah sebuah awal untuk perjalanan yang sangat panjang. Dan langkah kelima adalah sebuah lompatan besar bagi si buta dan si bisu dan juga si beku. Tiga nilai minus yang menjadi penopang bagi adanya kesempurnaan hubungan. Ikatan yang di harapkan sempurna hingga akhir masa. Semoga saja. 

Rabu, 25 Maret 2020

Menyeberangi Pekat

Gelap dan berat. Dua kata yang mewakili perjalanku kali ini. Pekat dan sesak adalah dua perkataan yang mungkin bisa di gunakan untuk menjabarkan perasaanku saat ini.
Aku memasuki medan perang dengan bekal yang bisa di bilang sangat sedikit. Aku memasuki medan perang dengan banyak angan dan harapan tersimpan di belakang. 

Dulu ketika medan pertempuran masih jauh di ujung sana, melihat manusia lain telah bergerak cepat dan memasuki medannya lebih dulu, membuatku bertanya-tanya seperti apa rasanya di dalam sana. Ini kali pertama kakiku akan memasukinya, dan wajar saja jika aku bertanya. 
Aku tidak tahu bekal apa yang seharusnya kumasukkan dalam kantong belacuku. Aku tidak tahu harus memilah apa di antara sekian banyak yang harus kujadikan teman untuk perjalanan panjangku. Perang pertama memang selalu membuat gugup dan gagap. Tapi aku tetap bersiap. 

Aku melihat darah menggenangi tanah pertempuran. Tubuh-tubuh bergelimpangan. Beberapa ada yang bersorak dan merayakan, namun ada lebih banyak lagi yang memilih mengubur raga teman seperjuangan untuk melampiaskan rasa kemenangan. 
Seperti apa rasanya berada di tengah-tengah mereka? Akan menjadi pihak mana kelak jika aku resmi memasuki medannya? Ataukah menjadi yang merayakan? Menjadi yang megubur temannya? Atau justru menjadi yang di gotong lalu di timbun tanah oleh teman-temannya?  Aku begitu ingin tahu namun juga begitu ingin segera pergi dari setapak ini. Takdir yang di gariskan untuk kulalui. Dimana melalui jalanan ini ribuan orang telah lebih dulu melewati dan terpandu menuju medan bermandikan merah darah di depan sana. 

Aku meninggalkan banyak nama kusayangi di belakang sana. Mengikat mereka pada tiang kegarangan agar langkahku tidak tercegat oleh tangisan dan ratapan pilu mereka. Menangisi bukanlah cara terbaik untuk mengucapkan selamat jalan pada pejuang yang hendak maju ke medan perang. Tapi sebagian orang melakukan itu. Dan dalam kasusku, aku mengenali benar seperti apa bentuk hati sendiri. Jangankan melihat mereka membasahi setapak yang hendak kulewati dengan air mata. Melihat bunga kesedihan mekar di tengah-tengah retina mereka pun sudah berhasil menyurutkan baraku. Aku tidak akan bisa melakukan langkah pertama jika masih membiarkan mereka berkeliaran bebas, mengikuti semua jejak langkahku hingga batas pengantaran. Aku tidak akan setegar itu jika harus berangkat perang dengan di antar oleh air mata orang-orang terkasihku. Biarkan saja kuikat kaki dan tangan mereka, lalu kututup mataku sendiri dengan kain seadanya. Bukan mata mereka. Agar jika kelak perjalanan ini tidak berhasil mengantarkan ragaku pulang, mereka masih memiliki sedikit kenangan tentang betapa gagahnya langkahku menuju medan perang. 

Untuk itulah perjalanan ini di mulai. Untuk mereka nama-nama yang kusayangi. Bahkan jika gelap dan berat, bahkan jika pekat dan sesak tidak ada lagi alasan untukku kembali tanpa membawa kemenangan di atas pundak. 
Begitulah perjalanan ini di mulai. Perang melawan kegelapan yang akan menjadi ajang pertamaku mengayunkan pedang. Meski malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang, namun tak ada pejuang yang gentar dengan perang. Sekalipun yang harus di menangkan adalah kabut pekat yang memampatkan pernapasan. Sekalipun yang harus di menangkan adalah bayangan tak terlihat. 
Ini sungguh akan menjadi malam yang sangat panjang. 

Lelah menjadi menu makan malamku yang di nikmati terlalu dini. Dan lelah sepertinya juga akan menjadi santapan malamku dalam menjelang pagi. 

Perang ini baru kumasuki ujung pintunya. Aliran lautan yang begitu dalam dan kelam dan aku baru mencelupkan ujung jari kukuku untuk bisa mengerti betapa dingin dan membekukannya medan yang hendak kumasuki ini. 

Sudah bukan lagi waktunya untuk merenungi mimpi. Sudah tidak ada lagi waktu untuk menengokkan pandangan kepada jalan yang telah terlalui. Di depan sana, takdir terbentang seluas samudera. Memasukinya, mengarunginya, adalah cara terbaik dan terakhir untuk mengetahui apa yang tengah menanti di seberang sana. Bahkan jika ini adalah perjalanan terkahirku di atas bumi. Bahkan jika ternyata aku di gariskan untuk menjadi pihak yang di gotong lalu di timpa tanah hingga ujung lihatku. 

Jika saja sekali lagi bisa, aku ingin melihat mereka, nama-nama yang kusayangi meski hanya sekelebat saja. Aku tidak tahu perang akan datang secepat ini, aku tidak tahu jika jadwalku untuk memasuki medan perang adalah hari ini. Karena jika aku tahu sebelumnya, aku akan menahan siapapun untuk pergi. Karena jika aku tahu sebelumnya, aku akan mengerahkan segala daya agar bisa menahan mereka beranjak. Kesempatan terakhirku yang kusia-siakan dengan mengikat selembar kain hitam di atas mata. Berharap agar pemandangan terakhir yang terkenang dari mereka bukanlah wajah sembab berurai air mata. Berharap agar langkahku kian lantang menebas ketidakpastian jalan. Berharap mataku tidak melihat kesedihan mekar di ujung mata mereka. Tapi bahkan di kesempatan yang sempit ini aku masih melupakan sesuatu. Jika mata tertutup maka telinga akan melipat gandakan siaganya menjadi lebih peka. Dan aku memiliki rekaman jelas tentang bagaimana banyak kuntum bunga jatuh di depan langkahku ketika aku memulai perjalanan ini dulu. Tentang bagaimana aku memiliki rekaman tentang isak yang kutangkap lolos dari beribu dengung yang menyerbu gendang telingaku. Terkutuklah pendengaran ini. Jalan terakhirku untuk berpamitan dan mengucapkan selmat tinggal. Terkutuklah pendengaran ini. Yang berhasil merekam banyak momen perpisahan dengan di penuhi aroma kesedihan. 

Langkahku semakin maju. Bukan langkah yang kini tengah kuhitung, tapi tentang seberapa banyak tebasan pedangku tepat mengenai sasaran. Bayangan hitan busuk yang melayang-layang kesana kemari mengundang kemarahan. 
Aku harus menghabisi mereka semua. Aku harus melenyapkan musuh tak terlihat ini. Aku harus berhasil menyeberangi daratan berkolam darah ini. Aku harus pulang kepada mereka yang tak lelah menanti. Aku harus pulang demi memenuhi janji bahwa akan kuantar cenderamata dari peperangan ini. Bahkan jika yang kembali dari raga ini hanya bersisa separuhnya, bahkan jika yang kembali dadi pertempuran ini adalah raga yang dengan jiwa yang tak lagi sama. Aku harus kembali untuk mereka. 

Dulu aku selalu berkata jika manusia hendaknya jangan terlalu keras dalam mengadili. Sesuatu yang hitam tidak selalu benar-benar berisi pekat, sesuatu yang putih tidak selalu benar-benar berisi kemurnian. Dan kutukan yang di awal perjalanan kulayangkan pada telinga yang menggantung di kedua sisi kepalaku kutarik secepat kilatan pedang yang keluar dari sarungnya. Aku memiliki rekaman kenangan tentang mereka dan itu adalah pelita di tengah kegelapan yang semakin membaur dengan seluruh bumi. Aku memiliki rekaman tentang mereka, meski hanya berujud denting kuntum bunga yang jatuh satu langkah di depan sana, meski hanya berujud lolongan tertahan yang masih harus berbaur dengan lautan tangisan dan sesenggukan. Tapi aku mengenalinya. Dan keduanya telah beralih sebagai mantra. Bekerja sedemikian rupa menciptakan percik-percik bunga api yang terus menyala menuju bara. 

Aku harus kembali untuk mereka yang selalu menanti. Bahkan jika hanya separuh dari raga ini yang kembali, bahkan jika jiwa ini sudah tak lagi sama. Aku harus kembali pada mereka.


Akhir masih jauh di depan sana. Suatu tempat yang tak terlihat meski hanya ujung daratannya. Ramalanku sebelumnya telah bekerja. Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang. Bahkan malam-malam yang akan datang, bahkan siang yang menjadi gulita hingga menipu pandangan mengira gelap ini adalah malam. 
Mengakumulasi tentang apa saja penopang keberanian dan kebahagiaan selama ini adalah bagian terpenting dari sebuah peperangan. Dan aku melakukannya meski medan ini baru saja kumasuki. Ada hati yang perlu kukenyangkan terlebih dahulu sebelum tanganku menjadi kebas dalam mencengkeram pedang. Ada waras yang perlu kutenangkan terlebih dahulu sebelum kegilaan dari pekat ini membius dan mengantarku pada kekalahan. Bekal yang dulu selalu kupertanyakan. Pertanyaan tentang seperti apa rasanya berada di tengah-tengah medan perang. Aku mempunyai jawaban untuk semuanya, yang datang bersamaan dengan langkah kaki dan ayunan pedang. 

Tak ada lagi waktu untuk mengeluhkan beban. Tak ada lagi waktu untuk mengeluhkan cahaya yang kian temaram. Dalam kebutaan total segalanya justru kian menantang. Dalam kelelahan total kesadaran justru memberikan kekuatan.

Akan kumenangkan peperangan ini bahkan jika ragaku tak kembali dengan ujud utuh seperti semula. Akan kumenangkan pertarungan ini bahkan jika satu-satunya sinar yang bisa kunyalakan untuk menerangi kegelapan ini adalah dari tiap tetes-tetes darah yang kumiliki.

Pekat ini salah jika mengira aku segagap yang terlihat. Pekat ini salah jika mengira aku selentur pedang yang terayun kesana kemari menciptakan larik kilat kecil di setiap tebasannya. Aku lebih kuat dari itu. Aku lebih kuat dari yang dikira. 

Karena di balik kabut ini ada tangan-tangan mereka yang siap terulur menyambut kedatanganku. Karena di ujung kegelapan ini ada masa indah yang tengah menanti dengan banyak tawa dan celoteh yang sepertinya telah absen dari pendengaranku selama berabad-abad lalu. Karena di balik beban berat ini ada nama-nama yang telah mengucurkan mantra dan kata ajaib lainnya demi membakar bara di dalam hati. Bekal pertama yang tak akan pernah habis meski peperangan ini telah usai. Bekal pertama yang menjadi nyala di kala kegelapan total membungkus raga ini menuju puncak pertarungan. Bekal yang berubah menjadi janji akan kedatanganku di masa yang akan datang. Kepulanganku dari medan perang. Entah di ujung pagi yang keberapa, entah di sudut pagi yang mana. Karena sungguh tak ada yang lebih di nanti oleh kaum pejuang selain nyala matahari di ufuk sana, sinar pembawa harapan abadi yang tak pernah terkalahkan. Pagi yang di nanti. Pagi yang menyembuhkan. Semoga saja lekas datang. 

Senin, 23 Maret 2020

Sembunyi dan Temukan

Aku harus memulai ini dari mana? Ketakutan yang memuncak sebelum waktunya, atau menjabarkan kesedihan yang kian menumpuk dan kelegaan yang enggan untuk menemui?

Aku hampir lupa seperti apa indahnya warna langit di siang hari. Aku hampir lupa pada wangi yang selalu meruap di bawa sang mentari pagi. Aku bahkan benar-benar lupa bagaimana caranya terlelap tanpa harus lebih dulu merinding ngeri dengan kemungkinan-kemungkinan akan masa yang akan datang. 
Di masa yang sulit ini, semua orang mendadak menjadi peramal. Menakutkan masa depan, selalu memandang suram selagi matahari masih sama bersemangatnya untuk bersinar seperti hari-hari indah di belakang. 
Satu yang pasti adalah aku hampir tidak bisa mencerna apa itu makna dari kata tenang. Jangankan untuk menerapkan, memahami kata itu saja hampir membuat linglung tanpa bisa menangkap maksudnya. Tenang. Satu kata yang selalu di suntikkan kepada semua yang bisa mendengar dari awal perjalananmu oleh si bontot yang kini terseok menanti yang terburuk menjelang. Tenang. Satu kata yang selalu di harapkan Ari bisa menyumpal ketegangan yang selalu merangsek keluar dari si bayi besar satu ini. 
Seseorang, siapapun tolong ajarkan aku untuk mengerti bagaimana untuk menjadi tenang. 

Namamu kian di santer terdengar di berbagai sudut daratan di muka bumi ini. Namamu kian menjadi momok yang menghantui di setiap ujung bumi. Sampai-sampai aku hampir takut, rasa takut itu yang akan menghabisi lebih banyak orang ketimbang sentuhan mautmu itu. 

Aku sedang mengoreksi pemikiranku tentang tulisan yang lalu, bagaimana dulu aku mempunyai niat ingin menjadi temanmu. Disaat semua nama yang masuk dalam jajaran kata berhargaku mulai engkau intai dan ikuti. Tidak, engkau mengikuti langkah semua orang kini, tidak peduli siapa dan dimana. 

Teror ini mencemaskan dengan sedemikian rupa, hingga aku hampir-hampir lupa tentang cara paling mustajab dari semuanya, yakni menyerahkan segalanya pada yang Maha Berkuasa. Kecemasan ini menggerogoti waras dan nalarku sedemikianan rupa. Tentang bagaimana Ari akan pulang, tentang di mana Ari seharusnya tinggal, tentang bagaimana aku harus mengkhawatirkan langkah Hara dan semua orang. 
Seseorang, siapapun tolong bantu aku untuk memahami satu kata kunci, tenang. 


Aku berhenti mengikuti pemberitaan lain, ketika di segala jendela akan pengetahuanku tentang dunia luar mendadak hanya memiliki satu jalan, yakni menujumu, menuju namamu. Engkau benar-benar sepopuler itu. Selamat. 

Aku merasa ngeri jika harus memikirkan kita akan menjadi teman seperti yang pernah ku ucapkan dulu, ketika menyentuhmu adalah hal terakhir yang mungkin bisa kulakukan. Lalu bagaimana caranya kita bisa berteman jika bersentuhan pun akan menjadi momen untuk mengakhiri satu sama lain? Bisakah aku mengakhirimu? Siapakah yang akan menjadi penemu dari masa akhirmu? Kenapa dia tak kunjung datang? Tolong, tapi aku terjebak bersama si bontot yang di ramalkan akan memiliki akhir paling panjang. 

Fokus menjadi hal lain yang selalu sulit kulakukan akhir-akhir ini. 
Menjauhi segala hal tentangmu mungkin ide yang bagus. Tapi aku perlu tahu, segala sesuatu tentangmu berhubungan erat dengan Ari, bagaimana bisa aku melepasmu begitu saja? Aku jarang sekali meminta pada siapapun, tapi tolong, jangan dekap Ari dalam pelukanmu. 
Hara tengah menunggu uluranku, kesediaanku untuk bergabung dengan permainannya, sembunyi dan temukan. Salah satu permainan yang paling di sukainya, dia akan selalu tertawa lepas ketika kejutan demi kejutan datang menghampirinya, menemukannya, dimanapun dia bersembunyi di seluruh sudut rumah ini. 
Tapi ada satu yang selalu menjadi titik khas dari hara ketika melakukan sembunyi dan temukan ini. Yakni kebiasaannya untuk muncul terlebih dahulu bahkan sebelum si pencari benar-benar mengerahkan kemampuan maksimalnya untuk mencari. Dia mempunyai cara tersendiri untuk mengagetkan si pencari. Membalas keterkejutannya akan temuan-temuan yang selalu bisa menangkapnya dimanapun dia bersembunyi. 

Dan aku merasakan sisi lucu dari ironi yang tengah mengurung kita. Aku dan namamu, si kandidat teman yang sekarang tengah terjebak dalam sebuah permainan, sembunyi dan temukan. 
Aku tidak tahu, dalam kasus kita siapa yang akan lebih dulu memberikan kejutan. Di saat Ari masih enggan untuk pulang, di saat namamu kian mendekat ke permukiman dimana aku tengah meringkuk dan berdiam. 
Aku akan menemukan cara, tentang bagaimana terlepas dari rasa takut dan cemas yang memiliki puncak landai dan bukannya meruncing seperti puncak-puncak pada umumnya. 
Aku akan menggenggam lagi kewarasan yang tengah hilang itu. Engkau akan terkejut nanti dengan kegaranganku menantangmu. Aku berpredikat seorang ibu sekarang, ada kemustahilan yang telah kucapai sebelum ini, aku pernah berada di ujung maut juga sebelum ini. Dan jika ini bisa membuatmu terkejut, tapi aku juga pernah bosan dengan kehidupan ini, meski itu ada pada jauh, pada waktu di belakang yang telah tertinggal jauh. Kedatanganmu mungkin saja akan kusambut, tergantung dengan cara apa engkau mengetuk pintu nanti. 

Pelangi mungkin tengah kehilangan kepercayaan dirinya untuk bisa memukau manusia saat-saat ini. Bahkan bintang mungkin tengah dalam masa terpuruk karena untuk sekali ini manusia gagal mencapainya untuk bisa menggantungkan harapan dan menempelkan mimpi. Semua cahaya mendadak hanya mengeluarkan nyala samar. Dingin tengah mengetuk semua pintu. Kabut tengah membungkam birunya langit agar berhenti sejenak memberi terang dan nyala pengharapan. Hanya menyisakan pagi dengan embun baru yang tak pernah gagal menyelipkan asa di setiap tetesannya. Hanya menyisakan pagi dengan nyala tersembunyi di setiap hati manusia. Tentang kepasrahan unik mereka pada Sang Pencipta. Yang menciptakan dan mengakhiri segala denyut di muka bumi ini. 

Jika aku bisa bertanya untuk satu hal saja, seberapa besar hasratmu untuk menelan sebenarnya? Sudah mencapai angka fantastis kini dan ufuk pagi sepertinya masih jauh di depan sana, di tempat di mana jam-jam tak berhasil menyentuhnya. Apakah sebesar itu nafsumu untuk meluluh lantahkan? Tidakkah engkau ingin sejenak saja berhenti untuk merasa terkejut pada kesiapan yang muncul di hati setiap orang? Tidakkah engkau ingin sejenak saja berhenti dan bertanya pada tanah apakah ia sudah muak menelan raga-raga dengan banyak bekas kecupan milikmu? Sekali lagi jika ini bisa membuatmu terkejut, tapi seseorang yang mengulurkan tangan dan memintamu menjadi teman ini kebetulan bernama tanah, dan aku hampir sepenuhnya mual dengan angka-angka tentang raga yang pergi karena terkena sentuhan. Sentuhan milikmu. 

Sekarang hampir tak ada jendela yang terbuka tanpa menyuguhkan pemandangan tentang korban-korbanmu, sekarang hampir tak ada jendela yang terbuka tanpa menolehkan wajah kearahmu. Engkau benar-benar semenarik itu. Aku terkejut kepopuleranmu melejit begitu cepat dalam hitungan jari saja. 
Bagaimana aku akan mengakhiri tulisan ini sekarang? Bagaimana aku akan mencapai titik tanpa lebih dulu mengoyak pertahanan? Tapi jujur saja, aku mendapatkan sedikit terang sekarang. Bukan lagi gulita yang mencengkeramku, apalagi pengap yang menekan pernapasan. Jika Hara saja bisa keluar dari persembunyian untuk memberi kejutan lebih dulu pada si pencari, lalu kenapa aku tidak bisa? Mungkin akan membutuhkan beribu-ribu halaman untuk mencapainya, mungkin akan membutuhkan berlapis-lapis keberanian untuk menemukannya, tapi aku rindu akan tawa meledak yang mengisi bumi ini. Kegelapan yang menekan telah menghilangkan begitu saja keceriaan isi bumi. Dan aku merindukan keheningan menenangkan yang selalu di sajikan oleh alam, bahkan bisa di temui di setiap persimpangan dan ujung jalan. Keheningan yang menenangkan dan bukannya hening yang mencengkeram. 
Bukan butiran pil yang akan menghempaskanmu dari muka bumi ini. Tapi keteguhan hati akan kerinduan pada tawa di udara. Dan aku percaya hati manusia di ciptakan sedemikian istimewa untuk bisa menciptakan kejutan bagi makhluk mungil sepertimu. Dan ya, masih ada Sang Pencipta di atas segala yang pernah tercipta. Sang Penolong bagi segala yang tak pernah tertolong. Terang yang menyisir kabut hingga celah tersempit sekalipun. Karena setiap yang tersembunyi pasti akan di temukan. Karena di setiap permainan sembunyi dan temukan akan selalu ada kejutan. Bedanya hanya pada siapa yang akan memberikan kejutan terlebih dahulu. Harapan yang di balut kepasrahan atau maut dengan hobi memeluk dan memberi kecupan. 

Senin, 09 Maret 2020

Tentang Menyerupai Manusia

Aku keluar dari selimut beku setelah sekian lama. Melalui cahaya biru yang sinarnya hanya menyirami sisi bumi bagian tertentu saja. Aku terlahir dari balutan kepompong semesta hanya dengan mengikuti sinarnya. Cahaya ungu yang kilaunya selalu jatuh lebih dulu ketimbang kilatan gunturnya. 

Telanjang, dan kemanapun mata memandang tidak pernah kutemui deru napas menghadang. 
Telanjang, dan kemanapun kaki melangkah tidak pernah kutemui detak jantung menyapu daratan. 

Terlahir ke samsara pernah menjadi hal yang ku cita-citakan ketika masih berada dalam embrio. Melebur pernah menjadi harapan yang terus berpacu bersama detak nadi agar kehadirannya cepat terwujud. Dan hari ini datang, ketika bebatan kain yang selama ini membalut akhirnya melonggarkan diri dan melepaskan.  Aku terlahir untuk dunia yang begitu senyap, aku terlahir pada dunia dengan di sambut semburat ungu dan biru yang berkilau terang di hamparan langit. Keindahan tak terperi pertama yang menyita perhatian dan lamunanku. Tapi berdiam diri bukanlah tujuanku. Aku harus melangkah, aku harus menemukan, aku harus mencari. 

Malu tidak pernah menjadi daftarku, urat satu itu sudah ada di dalam sana namun masih belum menunjukkan diri apa fungsi dan kegunaannya. Aku berlari, menyongsong butir-butir embun yang membanjiri penglihatan. Dingin adalah definisi pertama yang ingin kusampaikan. Seluruh tubuhku memerah seketika. Kebekuan tidak hanya memampatkan pernapasan, tapi juga merebus permukaan kulitku dalam kedinginan tak terkira. Tapi tak ada waktu untuk berhenti, atau sekedar menghangatkan diri. Tapi tak ada waktu untuk berhenti atau sekedar memikirkan nyala api. Pucuk-pucuk daun menyapa kulit, menghantarkan ucapan selamat datang bagi diriku seorang. Dimana peradaban? Dimana kehidupan? Harus berapa banyak langkah lagi aku mengarungi ketidak pastian hanya untuk menemukan keduanya. Aku terengah, napasku tercekat, selain dua sinar menakjubkan biru dan ungu di awal ku membuka mata, ternyata semesta pun memiliki cara unik tersendiri untuk menyambut para tamunya. Dan tetes-tetes embun yang menyentuhku secara berkala menjadi keajaiban selanjutnya. Kemurnian yang begitu agung. Ketenangan yang begitu alami. Seperti inilah bentuk semesta yang selama ini kudamba dan kurakit dalam setiap untaian mimpi. Oh, betapa aku telah terkenyangkan dalam seketika. 

Semakin jauh kakiku melangkah, menyusuri rerimbunan tanpa setapak, kebekuan yang semula menggigit perlahan melonggarkan cengkeramannya. Ada hangat samar yang perlahan melingkupi, aku mungkin sudah berjalan cukup jauh sekarang, hingga akhirnya kutemukan peradaban, hingga akhirnya kutemukan kehidupan. Dan di depan sana semua yang kucari terserak rapi dan mengagumkan. Inilah kehidupan. Inilah peradaban. Selamat datang. 


Aku mulai mengamati mereka, tentang bagaimana cara mereka menutupi ketelanjangan, bagaimana cara mereka mengenakan topeng, bagaimana mereka bercengkerama dengan sesamanya. Untuk melebur dalam sebuah kaum bukankah kita harus menyerupai mereka? Dan aku melakukannya. Topeng terbentuk seketika di tangan, untaian ribu benang menenun gaun panjang berwarna putih tulang, aku merasa hangat dalam kungkungannya, kehangatan yang samar. Aku menyerupai mereka namun ada hal yang sama sekali tidak bisa kulakukan. Yakni mengenakan topeng. Aku terlahir dengan raut tanpa ada emosi yang bisa tertuang di sana. Tidak ada gambaran, tidak ada antusias, sedih ataupun sebaliknya. Sementara peradaban di sana berjalan dengan satu topeng konstan yang merata, yakni menunjukkan raut bahagia. Di antara begitu banyak racikan emosi yang pernah ada, dan mereka memilih untuk mengenakan topeng satu itu. Entah kenapa. 

Gemerisik gaun sewarna tulangku adalah satu-satunya penanda bahwa ada kehidupan di sana, sekarang aku tahu apa yang kurang dari penyamaan misi ini, menapakkan kaki dan membuat kebisingan dari setiap langkah yang di buatnya. Dan voila, aku berhasil mengimitasi keberisikan cara berjalan mereka.
Sebentar lagi dan aku akan menemukan sesuatu yang selama ini kucari. 
Sebentar lagi dan aku akan menemukan sesuatu yang selama ini menghilang. 
Sebentar lagi semua tujuanku terlahir ke dunia akhirnya menemukan alasannya.
Menjadi manusia yang benar-benar manusia.


Harapan melambung begitu cepat seiring kebisingan yang hinggap di indra pendengaran.
Aku sampai pada tujuan, namun masih berada di ujung mulut dari keseluruhan harapan. 
Anak kecil berambut hitam legam adalah yang pertama menyadari keberadaanku. Matanya menunjukkan keterkejutan, tapi kemudian senyum kecilnya mulai menyambutku. Untuk sesaat aku merasa aman.
Aku melenggang sehalus yang bisa kuamati dan kupraktekkan. Aku melangkah seberisik mungkin agar bisa menyaru dengan manusia-manusia sekitar. Bibirku menyunggingkan senyum semanis yang bisa di kerahkan. Di perpotongan jalan tadi aku menyerah dan membuang begitu saja topeng yang harusnya kukenakan, jika manusia terbiasa dengan topeng berwajahkan bahagia kenapa mereka tidak bisa menerima kehadiranku yang tanpa raut apa-apa? Ya, emosi bukan bagian dari diriku tapi aku akan berusaha.

Seperti ini rupanya wajah kehidupan, seperti ini ternyata raut peradaban. Manusia-manusia begitu manis, begitu mengejutkan dengan keramahan dan keterbukaannya. Aku menangkap banyak sekali emosi yang terbang di udara, tapi seberapapun kuatnya mereka, hanya ada tawa dan senyum manis yang terus menyerbu pandangan. Oh dunia, setebal ini ternyata topeng yang di kenakan manusia. Koki dari dapur agung yang mengolah begitu banyak perasaan, sayang hanya hidangan penutup yang bisa mereka sajikan. Makanan manis dan kelebihan manis yang terutama sekali sangat dipuja dan selalu di sukai oleh anak-anak. 

Aku terlena seketika. Untuk sesaat aku merasa telah menjadi manusia seutuhnya, mulutku akan menarik bibirnya otomatis begitu retinaku bertabrakan dengan milik manusia lain. Untuk sesaat aku merasa bahagia, emosi samar yang tertangkap karena terbawa euforia. Untuk sesaat aku merasa telah di terima sebagai manusia seutuhnya, ketika yang membedakanku dengan manusia-manusia lain hanyalah rambut sewarna platinum dan gaun berwarna putih tulang milikku saja. 
Aku melangkah dengan begitu alami seperti telah kutapaki bumi ini sekian waktu lamanya. Dan meski terkadang kutangkap tatapan yang secara sembunyi-sembunyi di lemparkan padaku, aku tidak melihat ancaman dari semuanya. Langit benar-benar berhujankan rantai emosi penuh warna-warni dan dari kesemuanya sulit untuk merunut dan mengungkapkan apakah benar-benar ada bahaya di sekitar. 

Oh langit, oh bumi, demi pohon tertua di bumi ini, dan dari semua yang pernah kutemui kenapa pandanganku selalu tertuju pada satu hal itu saja? alam semesta yang begitu mempesona, dan sepertinya aku jatuh cinta pada hampir separuh isinya. Bintang yang bersinar di tengah gelap yang kian memekat. Mentari yang membanjiri seluruh daratan tanpa terkecuali. Refleksi jatuhnya kegelapan yang terpantul di kejernihan danau malam. Jalanan lengang yang panjang berliku membelah perkebunan padang canola berwarna cerah. Bahkan aku jatuh cinta pada ilalang yang tumbuh liar di tanah bekas perkebunan. 
Makhluk tanpa emosi yang dulu selalu mempertanyakan seperti apa kehidupan dan peradaban perlahan mulai menikmati jalan menemukan jawaban. Kulit pucat yang dulu hampir-hampir terlihat transparan di awal kelahiran mulai menunjukkan pigmen-pigmen warna. Hangus bukan kata yang tepat, tapi sinar mentari jelas bertanggung jawab banyak akan perubahan warna kulitku. 

Sekian lama membaur dengan manusia, berupaya menyerupai mereka, membuatku hampir lupa tentang darah apa yang mengalir di bawah lapisan kulit ari. Dan manusia membangunkan keterlenaanku hampir sekian tahun sejak waktu kedatangan. Ya, aku hampir linglung dengan konsep waktu yang di usung manusia. Dalam balutan kepompong semesta waktu tidak memiliki sekat, apa itu jam, apa itu hari, apa itu bulan dan tahun, semua terlewati dalam satu dua masa penuh emas dan musim yang abadi. Realisasinya adalah kemarin ketika langit tengah bermandikan warna biru tanpa sedikitpun lompokan awan. Beberapa manusia datang bertamu dengan membawa seonggok senyuman dangkal. Topeng masih setia menempeli wajah mereka, tapi di udara berhasil kupilin garis emosi bercampurkan sedikit bahaya. Entah hal apa yang kiranya mereka bawa, namun sedikit antisipasi perlahan merangkak naik ke permukaan. Terjadinya begitu cepat ketika kudapati diri manusia-manusia itu ambruk seketika di hadapanku. Total kuhitung ada tiga manusia yang tergeletak begitu saja, tanpa nyawa, tanpa baret luka. 

Aku menyalahi aturan, aku tahu bahwa keberadaanku sudah tidak lagi aman. Manusia-manusia malang itu mencoba menggali emosi yang tak pernah ada, manusia-manusia malang itu mencoba mengorek informasi tentang keaslian diriku. Hingga tanpa sadar aku bertransformasi menjadi sesuatu bercakar yang tidak pernah siapapun duga akan ada dalam diriku. Ujud lain yang aku sendiripun tidak tahu. 

Aku berlari menembus kegelapan yang datang tiba-tiba. Gaunku terciprati banyak lumpur yang kubangannya tak sengaja terinjak langkah kaki. Dalam waktu singkat aku berhasil melihat pilinan jaring tebal mengangkasa, menyaingi gelapnya awan di atas sana. Aku melihat kemarahan, sesuatu yang jarang sekali kulihat dari manusia-manusia bertopeng wajah bahagia. Aku melihat kebengisan menyapu daratan. Catatan perjalananku sebagai manusia tidak pernah menuliskan tentang betapa mengerikannya emosi manusia satu itu. Dan aku begitu terhenyak untuk sekian waktu. 
Aku belum lulus benar dalam mempelajari konsep salah dan benar dalam peradaban manusia. Tapi aku meyakini bahwa keputusan ketiga manusia itu untuk menggali emosi dalam diriku bukanlah sesuatu yang bijak apalagi tepat. Aku mengabaikan tentang penyamaran, aku mengabaikan tentang kebingungan, kemarahan dan kepanikan yang tengah melanda bumi. Fokusku kini hanya satu, mencari ujung tangga yang akan membawaku kembali menuju pelukan semesta. Kepompong abadi yang konon di sebut manusia sebagai surga. Dan aku menemukannya. 


Kepada daun-daun sewarna emas yang berjatuhan di pangkaun, kepada mereka kisah singkatku sebagai manusia mulai mengalir perlahan. 
Aku telah di beri kesempatan, untuk melebur, untuk membaur, untuk menyerupai. Peradaban dan kehidupan yang selama ini kukira akan begitu dramatis dan menakjubkan justru membawa banyak sekali kejutan. Menemukan diri kembali telanjang seperti menghadirkan sengatan. Manusia-manusia bumi berhasil menorehkan sedikit jejak emosi dalam waktu singkat. Aku kembali menjadi si makhluk tanpa gambaran, tanpa emosi, tanpa antisipasi. Senyum yang sekian waktu terukir konstan di wajah tidak meninggalkan jejak sama sekali. Aku benar-benar telah kembali. 


Kehidupan manusia layaknya sekelumit mimpi yang datang di sela-sela tidur panjang. Suatu saat meski entah kapan siapapun akan mengakhirinya, siapapun akan terjaga. Peradaban dan kehidupan. Aku muak dengan topeng-topeng itu, merasa bisa mencopot kesemuanya dari setiap wajah yang kutemui, hanya agar bisa melihat dengan pasti perasaan mereka tanpa harus ada yang di sembunyikan dan di tutup-tutupi. Kebenaran yang mereka dengar dan punya adalah sesuatu samar yang letaknya begitu dangkal, siapapun bisa melihat, siapapun bisa memindah letakkan, siapapun bisa membalik dan membuangnya. Kebahagiaan yang mengelilingi mereka tidak cukup untuk mengajari bahwa sesuatu yang murni tidak selalu harus berwarna putih dan jernih. Terkadang hitam dan telanjanglah yang menjadi pemenang meski podium tidak pernah mengijinkan keduanya untuk naik ke atas dan mengangkat trofinya. Manusia tidak mengenal warna transparan, alasan kenapa kedatanganku di bumi membutuhkan sebuah gaun, selain agar kedatanganku di terima juga untuk membentuk sebuah nyata yang bisa masuk dalam kategori mereka. 

Aku merasa muak dengan senyum-senyum itu. Lengkungan bibir yang tidak menyampaikan kebenaran apa-apa. Ketika aku mengira bisa mengelabui manusia dengan menyamai mereka, nyatanya tidak semudah itu. Manusia menangkap gelagatku yang kian menyimpang dari kebiasaan mereka. Tentang kenapa aku selalu menghindari kerumunan, tentang kenapa aku selalu menghindari adanya keramaian. Peradaban sebenarnya yang menyimpan perisai kasat mata, dan hatiku melarang untuk mendekatinya. 
Alasan lain untuk menghindari terkuaknya fakta tentang siapa diriku sebenarnya. Cukup tiga raga yang menjadi penanda bahwa aku bukan manusia seutuhnya, cukup tiga raga untuk membuatku berhenti melakukan perjalanan dan pencarian tentang adanya kehidupan dan peradaban. Karena aku telah menemukan, pemahaman bahwa sebaik apapun aku menyamai manusia, meniru kebiasaan-kebiasaannya, darah di balik kulit ari tidak bisa membohongi, bahwa aku bukan bagian dari mereka.