Minggu, 27 Desember 2020

Murid Tahun Kedua

Ini adalah kali pertama kita bertemu. Bukan tentang aku sebagai pengandungmu dan engkau sebagai benih yang tengah kutunggu. Ini adalah kali pertama kita bertemu sebagai guru dan muridnya di tahun kedua. 
Dulu, lama sebelum aku memasuki ranah penuh perjuangan ini. Dulu, sebelum nadiku masih utuh dan belum terbagi. Aku pernah memimpikanmu menjadi yang pertama. Sesuai nama yang hendak engkau rengkuh, Alfa.
Tapi nyatanya engkau hadir setelah Hara. Yang pertama untuk urutan kedua. Tapi memang harus seperti itu adanya. Ketika hidup ini adalah sebuah lahan pertanian, untuk memulai bercocok tanam maka hal pertama yang perlu di perhatikan oleh petani adalah kesuburan tanahnya. Dan kemudian unsur terpenting dalam hidup itupun mulai melaksanakan hakikat dari namanya. Hara. Mempersiapkanku, dari diri yang sangat begitu mentah, dan begitu keras menjadi sesuatu yang sedikit melembut dan juga memiliki kelenturan. Hara begitu telaten, meski terkadang diri ini masih mengutuk dan mengancam tapi dia tetap tegak di sana, menawarkan bangku peristirahatan, menggumamkan mantra-mantra baru penuh keajaiban. Guru di tahun pertamaku berujud unsur pelemas tulang, dan juga peremas gumpalan.


Tahun kedua datang dengan hanya mengangkut sedikit beban. Aku tidak segugup ketika baru pertama kali menapakkan kaki di daratan ini. Awalnya aku berpikir bahwa perjalanan satu ini akan terlewati dengan sama mulus dan lancarnya ketika dulu aku melalui tahun pertama. Dan pada saat memasuki minggu-minggu terakhir kesalahan dari perkiraanku pun terlihat. Ini berbeda. Alfa adalah guru yang lain. Jika ada tingkat dari sebuah sabar, maka satu ini adalah tingkat yang lebih senior ketimbang sabar yang pernah di ajarkan oleh Hara. Babak baru di mulai, saat di mana diri yang mengenal sepertiga malam sebagai ajang untuk bergumul bersama abjad menjadi tempat akbar untuk meminta dan merengek. Dan dari kebiasaan baru itu muncul satu bait kalimat yang begitu kusuka dan kuangankan untuk berada dalam salah satu paragraf di rumah ini. Satu kalimat singkat yang begitu menyimpan sihir dan candu dengan bunyi seperti ini, "Kepada yang menjaga malam dan mengabulkan segala keinginan-keinginan. Kepada yang selalu terjaga dan tak pernah melewatkan bisikan-bisikan." 
Alfa mengenalkanku pada Dzat yang Maha romantis, ketika mengukir kata-kata menjadi begitu manusiawi dan begitu.....pulang. Tahukah kamu perasaan seperti itu? Semenjak lahir manusia di gelayuti oleh satu tanya besar, tentang hendak menjadi siapa, dan hendak berkelana ke daratan manakah dirinya kelak. Dan ketika segala pengetahuan dan berbagai destinasi menjadi kendaraan yang siap mengantarnya kemanapun hasrat mengajak. Tapi pulang selalu menjadi tujuan akhir pada akhirnya. Tapi pulang selalu menjadi jalan yang akan di tempuh pada akhirnya. Pulang kepada diri sendiri. Pulang menjadi diri sendiri. Tempat terorisinil yang selalu menyerap segala ingin dan minat untuk kembali dan kembali. Dalam hening yang tak bersekat, dalam ketiadaan yang tak bersyarat. Selain sabar, pelajaran kedua yang kudapat dari pengajar baru satu ini adalah tentang berputar arah, menuju jalan pulang untuk diri yang sempat tersesat. Dan bahagianya jalanan itu berbalut kata-kata. Jiwa pujangga yang dulu memenuhi raga tak perlu kemana-mana, dia tak perlu turun di tengah jalan dan meneruskan pengelanaan. Karena dalam perjalanan pulang diapun akan terangkut bersama. Kali ini bahkan di restui oleh Dzat yang Maha Benar. Oh, bahagianya. 

Dear Alfa. Kepada nama yang kelak menjadi guru selanjutnya setelah Hara. Aku tahu kita biasa berbincang melalui banyak cara, lewat detak jantung yang terpompa seirama, lewat denyut nadi yang berkedut bersama, dan hanya lewat rumah inilah satu-satunya jalan yang belum pernah kulalui untuk mulai menyapamu. Dan seperti sebuah nazar yang terpenuhi, maka hari ini aku melakukannya. Membiarkan siapapun masing-masing kita untuk saling berbicara. 
Dear Alfa, aku tahu engkaulah yang paling memahami tentang jalan pulang yang telah kubicarakan. Karena disana namamu terpampang dengan sebegitu jelas sebagai referensi kelayakan jalan. Alasan kenapa sepertiga malam menjadi tempat untuk beradu tatap dengan yang selalu tersingkap kabut.
Dear Alfa, jika aku bisa mengutarakan permintaan langsung kepadamu, bersediakah engkau mengabulkannya? Untuk sejenak saja, bukalah kelopak matamu dan arahkan pada benak si dungu berjuluk pengandungmu ini. Disana tertera jelas apa hasrat terpendam yang kusimpan untukmu. Disana tertera jelas apa ingin dan angan yang selalu kubisikkan pada yang selalu menjaga malam dan siang tentangmu. Satu yang telah menyatu, hasrat yang begitu alot untuk terucap, keinginan untuk mengeluarkanmu dari dunia sana dengan sama normal dan lancarnya ketika dulu aku melakukannya untuk Hara. Aku tahu engkau akan menjadi pengajar yang baru, engkau tidak bisa di samakan dengan siapa-siapa, metodemu akan mengenalkanku pada sesuatu yang belum pernah kusentuh dan kupandang. Tapi untuk yang satu itu, doa yang telah berubah menjadi mantra, mantra yang telah mengubah lafal menjadi denyutan. Bisakah engkau memberikan kepastian akannya?
Aku telah menelan banyak cemas hingga detik ini, aku telah menelan banyak khawatir yang tak pernah kulakukan sebelumnya. Ketakutan tentang banyak ketidakpastian, sementara waktu terus saja berpacu dengan detak jantung tanpa pernah ada yang mau melambatkan aksinya. Aku pasti tengah berjalan menuju ketiadaan sekarang, melangkah dalam gelap yang di depannya terdapat jurang atau justru daratan lapang. Satu hal yang pasti tentangku adalah, bahwa aku tidak pernah menyukai kejutan, apapun bentuknya. Jadi Alfa, dengan segenap perasaan satu yang mengikat di antara kita, dengan segenap perasaan ragu yang terselip di antara pasti yang mengungkung milikmu, berikan aku satu kepastian jawaban, berikan aku satu pertanda akan rasa tenang. Berikan aku, satu jalan mulus yang dulu pernah di hadiahkan oleh Hara. Berikan satu itu, dan kita akan semakin tak terpisahkan.

Aku tahu ada banyak yang perlu kita bicarakan. Tentang masa yang akan datang, tentang cerita lampau dan yang belun terjamahkan. Tentang kita dan mereka yang kelak terikat dalam lingkaran kita. Tapi di depan sana akan ada berlembar-lembar halaman kosong yang siap untuk di isi. Tapi di depan sana akan ada bertumpuk-tumpuk jeda waktu yang siap menjadi kertas dan saksi bagi petualangan bersama kita.
Saat ini, nadiku hanya satu, denyutku telah menyatu bersama doa dan mantra tentang keinginan untuk mengantarmu melihat dunia dengan selamat, lancar dan normal. Semoga saja. Semoga saja. Semoga saja. 

Salam hangat dari murid di tahun kedua untuk pengajar kedua. Yang tengah menantikanmu dengan tanpa secuilpun ragu. Mari kita bergandengan tangan, menyatukan tekad, tak ada sulit yang tak bisa dilewati ketika kita bersama. Semoga saja. 

Kamis, 15 Oktober 2020

Tentang Musim Tak Bernama

Jika engkau mulai membicarakan sesuatu bertemakan musim, maka tidak akan pernah ada kata selesai di sana. Seperti juga pernikahan, ikatan antara anak dan pengandungnya. Hal-hal yang hanya patut di bungkus dalam bisikan, agar tidak keluar sebagai cacian. 

Musim gugur menghampiri pohon-pohon pada waktunya. Lalu dingin yang begitu dingin akan menyelimuti tanah-tanah pada akhirnya. Seperti juga pertanyaan-pertanyaan yang muncul bak tunas baru di tahun-tahun kian menuanya sebuah ikatan. Entah untuk pernikahan, atau hubungan antara anak dan pengandungnya. 

Pepohonan kian meranggas, memperlihatkan tulang-tulang rantingnya yang mencuat bak jemari yang mencoba menggapai langit. Dingin yang tak tertahankan masih memiliki level siksa di atasnya. Yakni ketika mulut-mulut mulai mengulum bara yang menyala. Membukanya hanya akan menyemburkan asap. Sementara menelannya hanya akan membuat senam gigi yang begitu teratur dan berirama. Sesuatu yang semacam itu juga berlaku bagi sebuah hubungan. Entah pertalian dalam sebuah pernikahan atau pertalian antara anak dan pengandungnya. Titik dimana seperti semua tempat akan menyuguhkan udara yang lebih baik ketimbang hanya berdiam dan mencoba menelan. Ada kekuatan di dalam untuk lari sekencang-kencangnya, memutus segala resah dan mengabaikan segala sudut pandang. Hanya demi mendapat sebuah kenyamanan. Tapi lagi-lagi manusia di ingatkan, untuk tidak pernah membahas musim, pernikahan, atau ikatan antara anak dan pengandungnya atau tidak akan pernah ada kata selesai di ujung kalimatnya.



Maka di sinilah aku. Dengan kaki-kaki yang bukan hanya beku, tapi separuh dalam perjalanan menjadi batu. Maka di sinilah aku. Dengan mata-mata jengah yang begitu haus akan warna hijau memayungi, yang begitu dahaga dengan aroma pucuk daun dan bukannya suguhan aroma api, membakar kisah tentang ranting-ranting, dedaunan kering yang menyerah pada musim meranggas. Dan sampai di mana kisah tentang  pernikahan dan juga hubungan antara anak dan pengandungnya? Mungkin sudah selesai. Pertanyaan yang dulu ada tengah dalam masa penantian untuk bertemu jawabannya. Jengah dan resah yang selalu giat menyirami tak bisa menemukan kekuatannya untuk berlari dan mencari. Hanya menunggu. Dan akan terus menunggu. 


Musim gugur mulai menyapa pohon-pohon. Dingin yang semakin dingin mulai menyelimuti tanah-tanah. Tapi di bawah itu semua ada kaki-kaki yang tengah berjuang agar tetap bisa berjalan dengan seimbang. Menyetarakan antara nalar dan juga sudut pandang. Meski sesekali terpeleset, meski sesekali harus terjatuh dan merasa tidak akan bisa melanjutkan. Tapi api di bawah sana selalu berusaha, menyulut apapun yang bisa menjadi perantara untuk kembali membakarnya. Bahkan meski hanya berupa bara di ujung mulut. Bahkan meski hanya asap yang menyelinap dari kepungan bibir. Ada hangat yang terus terjaga. Ada bara yang tak pernah berhenti menjaga. Menunggu saat yang tepat untuk membakar apa saja, menunggu saat yang tepat untuk memperbaiki semuanya, menunggu waktu yang tepat untuk merobek sesak yang di tebar bak kelambu membebat raga.

Selasa, 07 April 2020

Pendaki Amatir

Aku mendaki sebuah gunung. Terdapat banyak jalan menuju puncaknya. Dari yang di sarankan oleh ahli pendakian, lalu jalan yang di buat oleh penduduk sekitar, hingga jalan yang di tuntun oleh nurani. 
Aku memilih jalan yang terakhir. Menjadi manusia kebanyakan sama sekali bukan ciri khasku. Sementara mengikuti setapak yang telah di buat oleh penduduk sekitar sama sekali tak memberi tantangan, lagi pula apa enaknya berjalan dengan di tuntun oleh setapak yang di buat oleh orang lain? Kau harus menciptakan sendiri setapakmu. Membelah belantara hanya demi menemukan puncak tujuan. Tersesat bukan halangan, salah bukan sebuah masalah. Aku mencoba peruntunganku. Menaklukkan gunung melewati jalur yang tidak biasanya. Perjudianku dengan keberuntungan dan juga alam. 

Gelap, aku melihat nyala cahaya yang hanya berupa titik, jauh di belakang sana, pintu masukku menuju kepekatan total. Ini pilihanku. Bahkan jika ini adalah perjalanan terakhirku, sebisa mungkin tidak akan ada penyesalan di sana, karena ini adalah pilihanku. 

Aku sendiri. Berkawankan jamur dan lumut hijau yang menyebar rata di setiap kaki pepohonan tua. Aku sendiri. Hanya bertemankan nafas dari pegunungan yang tengah ku daki. Aku mencoba berbicara pada denyut yang kian menyatu dengan detak jantungku. Aku mencoba menyapa dan berharap akan mendapat petunjuk baru untuk keluar dari gelap yang kian mendekap. 

Jangan tanya seberapa banyak aku menjejalkan bekal ke dalam ransel yang menggantung kokoh di punggung. Aku tak mengira perjalananku akan menjadi semenantang ini. Dalam pemberhentianku yang selanjutnya aku berencana untuk mengurangi isi ransel, membuang barang-barang yang tidak kubutuhkan. Menghemat tenaga tentu cara terbaik untuk situasi ini. 
Ujung belantara masih panjang di depan sana, melambai, mencoba memanggil semangat yang kian menghilang seiring bertambahnya langkah. 

Tenggorokanku terasa kering, membunyikan suara akan membuatnya semakin terasa parah, tapi aku perlu melakukannya. Untuk membunuh sepi, untuk membunuh sunyi yang kian mencekam.
Satu, dua, tiga, kunyanyikan lagu tentang pahlawan. Tapi suasana justru semakin terasa buruk. Perjuangan mereka terlalu agung untuk di dendangkan di tengah belantara. Lalu aku mencoba lagu lembut. Dan sihir seketika meghampiri, memilih kelopak mata untuk merekatkan mantranya. Memang baik jika kita bisa terlelap di tengah gempuran rasa takut. Tapi proses tidurku kali ini tidak menguntungkan. Karena di alam sana, aku menemui kegelapan yang lain lagi. Kegelapan yang terasa getir. Menyapu seluruh langit-langit mimpi dan melemparkanku pada nyala nanar seketika. Aku bangun untuk tenggelam lagi dalam kegelapan yang pertama. Saatnya untuk melanjutkan jalan, bahkan jika denyut pegunungan sama sekali tidak mengirimkan pertanda, tentang jalan mana yang harusnya kupilih, tentang tikungan mana yang harus kupilih. 


Puncak masih setengah perjalanan. Dan ini adalah hari ke limaku. Memang bukan pegunungan biasa yang kupilih untuk di daki kali ini. Gunung ini biasa di sebut sebagai gunung abadi, karena panjangnya jalan yang harus di tempuh dan berapa banyak bahaya yang menghadang. 

Tidak hanya peluh yang turun membasahi tapi juga air mata, oh Tuhan, aku mulai lelah dengan jalan pilihanku. 

Mengeluh tidak akan mengurangi beban, mengeluh tidak lantas memperpendek jarak pada tujuan. Mengeluh hanya menandakan bahwa aku manusia biasa. Dan menaklukkan alam bukanlah sesuatu yang ada dalam jangkauan kekuatanku. 

Dia dengan keluasannya, dia dengan segala kisah pertama, kedua dan lainnya. Dia dengan kebesarannya yang tak mungkin bisa sepenuhnya kurengkuh. 

Penat menguji tekad. Penat menguji pilihan. Bukan sekali aku berakhir untuk mengakhiri ini. Bukan hanya sekali aku berpikir untuk menyerah pada niat pertamaku dalam menaklukkan gunung satu ini. 

Aku ingin tidak hanya nafasku saja yang mengejar jarak, aku ingin bukan hanya nadiku saja yang berima menyelaraskan langkah. Tapi dia tetap diam. Tapi dia tetap jauh di sana, ada jurang yang memberatkan langkah, bahkan ketika aku membabi buta memperpanjang langkah, dia tetap akan sepertu itu, dia akan tetap diam. 

Dear gunung tinggi nan berkuasa. Bisakah kita bercakap-cakap barang sejenak? Bisakah kau merasakan peluh yang mengaliri raga ini? Bercampur dengan air dari retina. Meski penting untuk mempertahankan tekad di awal niat tapi jujur saja aku ingin mengakhiri perjalanan ini. Meski penting mempertahankan perjuangan sampai ke puncak, tapi di sini, sesuatu tengah membeku. Aku selalu merasa bahwa dalam perjalanan ini hanya aku yang menginginkan puncak itu, engkau menutup diri, sembunyi entah dimana, tak pernah mencoba untuk berbaik hati memuji penat yang kian mendera, tak pernah mencoba untuk berbaik hati agar puncak dapat cepat terselesaikan. 

Aku merasa tengah berjuang sendiri untuk pucak itu. Dan kini aku ingin menyerah. Tidak apa jika jalan ke belakang ternyata lebih panjang ketimbang jalan di depan sana. Tidak apa jika ternyata hanya akan kutemui penyesalan di pintu masuk sana. Karena jujur saja, terlalu sulit melanjutkan perjalanan dengan hanya menggunakan satu kaki. Niatku sendiri. 

Semoga pendaki lebih beruntung dalam menaklukkan puncakmu. Semoga pendaki lain kuat niat ketimbang diriku. 

Sabtu, 04 April 2020

Jembatan, Malam dan Hujan Kecil-Kecil

Beberapa nama begitu inspiratif untuk di jadikan bahan tulisan. Beberapa nama terlalu menggiurkan untuk hanya sekedar di jadikan bahan angan-angan. 

Namamu salah satunya. Pemilik retina yang selalu mengundang siapapun untuk memandangnya. Pemilik senyum yang selalu menghadirkan kepakan kupu-kupu di setiap pulasannya. 

Aku punya rahasia manis tentang jembatan. Dengan amukan deras air di bawahnya. Aku punya rahasia manis tentang ingatan akan jembatan, dan malam, bahkan hujan kecil-kecil. Yang terkadang menawarkan undangan agar aku bersedia menilik seperti apa isinya. Masa lalu yang selalu menebarkan feromon menggelitik agar aku bersedia kembali untuk membuka halamannya. 

Kadang aku tergoda, tapi ajakan itu kian waktu kian menyusut. Bukannya tidak ada, hanya saja asinnya air yang tergenang, telah menghilang secara samar, menyisakan kepulan asap berisikan kepingan gambar, tentang bagaimana aku menangis diam-diam, tentang proses bagaimana topeng di tangan meluruhkan diri pelan-pelan. 

Namamu tetap bercokol di sana, seperti hantu yang enggan meninggalkan tempat keramatnya. Seperti bayangan hitam yang mengikuti manusia. Namamu tetap di sana dalam ingatan terdalam beserta jembatan, malam, dan hujan kecil-kecilnya. 

Aku tidak pernah berpikir tentang nama lain yang akan menjadi pendampingku. Aku tidak pernah memikirkan kemungkinan lain jika Ari tidak mengiyakan tawaran untuk berhubungan waktu itu. Beberapa kali si pembuat baret datang dalam lamunan, dan namamu secara konstan hadir juga meski dengan tegas ikatan itu telah mematahkan harapan. 

Biarkan aku menyimpan rahasia manis tentang itu.  Aku tidak ingin membuatnya hilang atau terlupakan, karena namamu pernah mengajarkan sesuatu sangat penting dalam kehidupan. Yakni tentang mengikhlaskan.
Biarkan aku menyimpan sendiri rahasia manis itu. Tentang malam, tentang jembatan, tentang amukan air di bawahnya, dan tentang hujan kecil-kecil yang menjadi serbuk pemanis kebersamaan kita. Singkat, harus di akui waktuku begitu singkat. Kemarin aku mengagumi senyuman matamu, lalu keesokan harinya aku jatuh dalam pelupuk mengundang, dan lusanya pengakuan itu datang. Aku menyerah memperjuangkan sekian hariku yang terbuang untuk mengamati, mengagumi dan mengharapkanmu. Aku menyerah untuk mengakui pada kuncup yang tengah tumbuh di dalam sana. 

Biarkan aku puas memilikimu dalam kepala. Biarkan aku menyimpan rahasia manis yang meski hanya memiliki durasi singkat namun begitu membekas dan enggan untuk di tanggalkan. Hantuku yang kesekian dan tetap bertahan hingga sekarang. 
Kenangan tentangmu hanya seputar tiga kata itu, jembatan, malam dan hujan kecil-kecil, tapi pelajaran yang kuambil dari masa singkat itu banyak hingga tak terhingga. Aku jatuh cinta, aku menjadi pengagum rahasia. Dan satu-satunya hal yang kudapat hanyalah air mata, tetesan air asin yang keluar dari retina bukan karena indikasi adanya luka, tapi perasaan bahagia. Aku terlalu bahagia untuk menjadikanmu nyata, sementara mencuri waktumu telah berhasil kulakukan, sementara senyummu telah berhasil mengenyangkan, sementara menculikmu dari siang yang membakar telah berhasil kulakukan, menculik lalu menyekapmu dalam malam-malam singkat di atas jembatan. Aku akan jadi serakah jika menginginkan lebih dari itu. 

Dalam waktu singkat kita aku bahkan lupa mengucapkan kata perpisahan. Lambaian tangan yang ku isyaratkan tak mendapat tanggapan. Sementara melayangkan pandangan mencuri untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal akan terasa seperti melanggar sebuah batasan. Garis yang di buat oleh takdir untuk mengingatkan bahwa milikmu bukan aku, bahwa namamu tercipta bukan untuk bersanding dengan namaku, bahwa peta untuk pulang kita tidak sama. Batasan yang membuatku hilang akal dan memutuskan untuk menghilang seketika. 
Biarkan aku menggenggam rahasia manis ini. Pijakan terakhir untuk terlepas keluar dari jurang yang engkau ciptakan. Aku harus menuntaskan, mengakui dan menuliskan. Menelan hanya akan mendatangkan bisa. Agar kelak yang tertinggal di dalam sana hanyalah kenang-kenangan semata, dan bukan lagi cinta. Rahasia manis kita sudah bukan lagi berbentuk rahasia. Karena aku telah berhasil mengatasi dan mengeluarkan, Ari mungkin akan membaca ini dan aku lega karena tidak harus menatap matanya langsung ketika menyatakannya. Pengakuan bahwa namamu telah melewati batas izin tinggalnya, bahwa namamu hanya menyalakan ingatan samar semata, menyisakan tiga kata kunci yang mungkin akan tersimpan selamanya. Jembatan, malam dan hujan kecil-kecil. Tiga nama yang akan membawaku kembali pada ingatan tentangmu. Tapi kini Ari dan cetak birunya telah berhasil mengumpulkan banyak memori manis lainnya, tapi kini Ari dan cetak birunya telah berhasil mengumpulkan banyak kenangan di tempat yang sama. Namamu bukan lagi satu-satunya. Namamu bukan lagi yang paling istimewa. Jika memungkinkan aku ingin dengan benar mengucapkan selamat tinggal. Cara terakhir untuk melepaskan dan mengikhlaskan. Maaf jika membutuhkan waktu selama itu, selama ini aku hanya berpikir bahwa ikhlas tidak butuh pengucapan, ikhlas tidak memerlukan formalitas semacam jabat tangan. Dan aku salah. Cara terbaik untuk melepaskan adalah dengan mengucapkan selamat tinggal, cara terbaik untuk merelakan adalah dengan mengangkat dagu dan tangan, dan mengakui secara gamblang bahwa engkau telah berhasil melepaskan. 


Biarkan namamu membeku di rumah kecil ini. Tempat abadi di mana aku akan selalu kembali, kemanapun langkah membawaku pergi. Biarkan rahasia manis itu tertuangkan disini. Hanya sebagai penanda jika kelak kenangan tentangmu kembali menggoda, bahwa aku telah berhasil menuntaskan segalanya, memutus rantai suka yang tertanam semenjak pertama kali menemui senyuman di matamu, bahkan sebelum aku dengan resmi mengetahui namamu. 

Beberapa nama memang begitu layak untuk di jadikan bahan tulisan, beberapa yang lain kenangan tentang nama itulah yang layak mendapatkan tempat dalam tiap baris dan halaman catatan. 
Namamu mengekal di sini bersama tiga kata kunci yang selalu menyertai, jembatan, malam dan hujan kecil-kecil. 

Seperti juga rahasia manis itu, begitu juga rasa kagumku terhadap namamu. Aku ingin siapapun tahu, aku ingin siapapun membaca. Agar kelak tidak ada lagi rahasia yang tersisa di kedalaman sana. Agar kelak yang terkubur bersama waktu hanyalah kenangan samar tentang persahabatan manis kita yang telah berakhir dan lupa untuk ku tutup dengan ucapan selamat tinggal. Aku tidak mengharapkan retinamu membaca ini, atau tulisan-tulisan lain tentang pengakuan cintaku padamu. Kita akan menua dengan menggenggam ingatan yang berbeda. Dan di dalam kepalaku, ijinkan jembatan, malam dan hujan kecil-kecil yang menjadi penghuni tetapnya. Cara terbaik untuk tetap memilikimu tanpa harus menyakiti siapa-siapa. Hanya ingatan singkat tanpa kata penutup, hanya kenangan singkat tanpa judul. Itu saja. 

Kamis, 02 April 2020

Menyelami Kolam Ilusi

Sudah berapa kali tepatnya aku mengelak dari kalian? Sudah berapa kali tepatnya aku mengukuhkan niat untuk pergi dari kalian? Mudah untuk pergi sulit untuk pulang. 

Aku kira kehidupan akan berakhir landai ketika kita jatuh cinta dan terikat dengan seseorang. Aku kira kehidupan telah mencapai titik puncaknya ketika berhasil mengklaim diri bahwa kita bahagia. Tapi ternyata ada puncak lain yang harus di daki. Tapi ternyata ada lembah lain yang harus di seberangi. Karena menikah bukan hanya mengesahkan kegiatan tidur bersama pasangan di atas ranjang. Menikah berati ada tahap selanjutnya dalam kehidupan yang perlu di daki, menikah berati ada banyak ikatan yang harus di urus dan di perhatikan. Menikah berati menjaga banyak kepala dan banyak perasaan. Aku tidak tahu apakah aku siap untuk semuanya. Karena belakangan aku menyadari ada banyak luka yang lupa untuk di obati, ada banyak topeng yang harus di kenakan, ada banyak kompromi yang harus di selesaikan. Aku tidak tahu apakah aku siap untuk semuanya. 

Apa kalian tahu sesuatu? Ari mengajariku untuk tidak mengeluh, Ari mengajariku untuk menjadi yang terbaik dan memberikan yang terbaik. Dan di sinilah aku sekarang. Terseok dalam langkah sendiri. Mencoba bangkit dari keterpurukan. Dan kalian selalu ada di sana, untuk memberikan dukungan. Untuk memberikan ilusi akan adanya teman. 

Aku merisaukan banyak hal akhir-akhir ini. Belakangan ragaku di mana dan pikiranku di tempat yang berbeda. Aku merisaukan tentang banyak nama. Tentang Ari yang tengah berjuang di kejauhan sana, tentang kalian yang telah berhasil baik-baik saja, tentang Hara yang tulang di tubuhnya kian terasa dalam sentuhan, tentang rumah lain yang begitu kumimpikan. 
Ya, aku memendam keinginan satu itu. Bukan berati aku tidak mau bersama pengandungku. Bukan berati aku ingin melepas tanganku dari kewajiban menjaga mereka. Tapi ada hati yang selalu teriris sewaktu-waktu. Kalian paham benar bagaimana diriku. Manusia kaca yang memiliki potensi untuk pecah lebih cepat dari pada apapun. Manusia kaca yang memiliki kepekaan lebih ketimbang siapapun. Aku mudah terluka, aku mudah merasa sakit. Bahkan hanya dengan kata-kata, bahkan hanya dengan suara-suara. Keadaan yang terkadang membuatku ingin mengutuk siapapun yang berani menyentuhku sembarang, mengusir siapapun yang berani mendekatiku sembarang. Aku semenakutkan itu. Aku setajam dan serapuh itu. Dan mengungsikan diri dalam tempat terjauh dari peradaban adalah cita-cita terbesarku hingga saat ini. Aku hanya perlu membawa Ari, membawa Hara, dan kalian. 

Seseorang mungkin akan mengingatkan bagaimana sekian tahun lalu berkali-kali telah kusanggah kenyataan bahwa aku masih memiliki rasa untuk kalian. Seseorang mungkin akan melempariku kaca hingga aku dapat melihat seperti apa ujud si penjilat ludah sendiri satu ini. Tapi dengan Ari tak bisa ku bagi kerisauan ini. Tapi bersama Ari tak ingin kubagi beban ini. Aku pernah mengatakannya sekali, dan melakukannya lagi dan lagi hanya akan membuat Ari bosan dan terbebani. Dan di sinilah aku sekarang, duduk termangu bersama suara kalian. Kerisauan ini meluncur begitu tepat dengan di latar belakangi suara kalian. Nama-nama yang masih bercokol di dalam sana, menunggu untuk di datangi, meski harus di akui aku hanya datang ketika duka tengah melanda. Aku sebrengsek itu memang. Seseorang yang bahkan tidak pantas mendapat julukan teman. Seseorang yang bahkan tidak pantas untuk sekedar mendapat sapaan, karena aku akan otomatis menghilang jika dunia nyata tengah dalam kondisi baik-baik saja. 

Aku mengkhawatirkan banyak hal belakangan ini. Tentang berapa lama sisa hariku bersama Ari. Tentang siapa yang akan pergi lebih dulu, antara aku atau Ari. Wabah ini memutus jarak pandangku akan masa yang akan datang wabah ini membuat segalanya menjadi tak terduga. Dan aku takut karenanya. 

Kalian harus baik-baik saja, bukan untukku tapi untuk penggemar di luar sana yang tak pernah lelah dalam mendukung kalian. Kalian harus baik-baik saja, untuk mereka, para penggemar yang tak pernah merasa kecewa dengan segala keputusan dan kehidupan nyata kalian. Aku hanya hidup di bawah ilusi, aku hanya pantas tenggelam dalam dunia yang bahkan tidak pantas untuk di pertahankan. Pandanganku tentang dunia telah berubah kini. Tentang suara-suara, tentang bahasa-bahasa, dan kalian berjasa besar atas pelebaran sudut pandangku sejauh ini. Tidak ada yang kusesali selama ini. Pertemuan kita, momen jatuh cinta kita, hingga ketidakmampuanku menerima kenyataan bahwa kalian perlu mentas dari panggung hiburan. Sekali lagi kutegaskan bahwa aku hidup di bawah ilusi. Teruslah berjalan, tinggalkan saja aku bersama duniaku, seseorang yang bahkan tidak pantas mendapat predikat teman. Aku telah menemukan sumber bahagiaku. Dalam ujud seseorang. Tapi berbahagia bukan puncak dari kehidupan. Akan ada puncak lain yang harus kutaklukkan. Ada daratan lain yang perlu kudaki. Dan aku menggenggam ingatan tentang kalian, temanku melangkah dalam pekat yang enggan kumasuki bersama Ari. Dan aku menggenggam ingatan tentang kalian, bekal untuk mendaki puncak lain yang menunggu di depan sana. Maaf jika aku sebrengsek itu. 

Aku akan menua, dan kalian juga. Tapi ingatanku tentang kalian akan selamanya muda, tetap utuh dan tak tersentuh. Bahkan jika esok kalian telah melangkah dalam tahap hidup selanjutnya, bagiku dan kenanganku, kalian terawetkan dalan kesendirian sekaligus kebersamaan yang mengekal. Mungkin, jauh di dalam sana, inilah alasanku sebenarnya memutuskan untuk berhenti menjadi penggemar kalian sekian tahun dulu. Aku tidak ingin menodai ingatan tentang keutuhan kalian. Hatiku tidak di siapkan untuk melihat keretakan terlebih pemutusan ikatan. Aku tidak bisa dan tidak akan pernah siap. 

Terimakasih untuk kesediaan kalian menjadi pendengar. Terimakasih untuk keheningan yang berhasil kalian hantarkan hingga ujung paragraf ini. Ari tidak akan bisa senetral itu jika menjadi pendengar. Alasan kenapa beberapa hal lebih baik tidak kusampaikan padanya, sesuatu yang hanya bergejolak di dalam hati dan hanya membutuhkan jeda sunyi untuk membuatnya mereda. Emosi seperti itu, apakah kalian pernah terjebak di dalamnya? Dan suara-suara kalian menuntunku agar lebih gampang dalam menjabarkan. Terimakasih tak terhingga untuk bantuannya dalam menjaga kestabilan warasku. 

Aku akan datang lain waktu. Entah untuk pengaduan apalagi nanti. Tetaplah di sini, berenang dalam kolam ilusi. Sekeping dunia dimana hanya ada aku dan kalian dengan anggota penuh di dalamnya. Sekeping dunia dimana hanya ada mimpi dan harapan di dalamnya. Dimana kecewa dan kata akhir tak pernah eksis di dalamnya. Sekeping dunia dimana aku bisa berdiri dengan keutuhan nama dan melangkah dengan kakiku sendiri. Sesuatu yang telah lama kutinggal di belakang sana. Karena konon dalam sebuah pernikahan yang terpenting bukanlah tentang siapa kalian. Tapi yang terpenting adalah tentang bagaimana kalian bisa bertransformasi dalam banyak nama. Dan terkadang, aku merasa lelah dengan semuanya. Kepenatan yang tidak bisa di halau dengan ketelanjangan, hanya perlu berjalan menuju senyap dengan satu nama, dengan satu peran, satu identitas. Waktu ajaib untuk memulihkan diri dan memulai semuanya lagi. 

Selasa, 31 Maret 2020

Langkah Kelima

Tidak ada parang atau pedang yang menjadi penghubung untuk ikatan ini. Tidak ada sumpah atau mantra yang mengikat aku dan Ari. 
Semua terjadi begitu saja. Aku menawarkan padanya sebuah hubungan lalu Ari mengiyakan. Sesingkat itu. Tanpa ada drama, tanpa ada bunga ataupun kata-kata. 

Skenario seterusnya berlanjut dengan sedikit berbeda, ada tambahan bumbu di dalamnya. Ari yang dari awal sedingin butiran salju tetap saja seperti itu, tidak ada rencana atau tanda-tanda ingin menjadi air yang mengalir terlebih lagi menjadi air di dalam panci dan berada di atas tungku penuh api, menjadi air yang menghangatkan. Aku yang meminta, menuntut Ari agar bisa lebih menghayati perannya dalam sebuah hubungan. Dari sinilah drama itu di mulai. 

Tumbuh semakin besar dengan di suguhi berbagai macam hidangan tentang Korea membuatku haus akan segala drama yang di sajikannya. Pengakuan adalah hal pertama yang kuinginkan dari Ari. Maklum saja, ini hubungan pertamaku, dan tidak seperti pada umumnya gadis-gadis akan mendapati hatinya tumbuh di usia yang relatif muda, terikat, patah lalu tumbuh lagi, terikat lagi, patah lagi lalu tumbuh, begitu seterusnya. Ini ikatan pertamaku, benar-benar yang pertama. Bukannya aku tidak pernah mendapati sesuatu tumbuh di dalam hati, tapi apapun itu akan patah lebih dulu sebelum sampai pada sebuah ikatan, sekali, dua kali, aku mempunyai banyak pengalaman tentang gagal tunbuhnya benih di dalam hati. Keadaan yang otomatis membuatku menjadi si posesif dan si buta tak tertolong. Aku tidak tahu cara bermain dalam sebuah hubungan, apa saja peraturannya, apa saja pantangan dan yang di sarankan. Hubungan pertamaku menjadi ajang pembuktian akan drama yang dihidangan dari Negeri ginseng sana, yang kutelan bulat-bulat tanpa pernah bersusah payah mengunyahnya. 

Aku kehausan di tengah jalan, sementara Ari tetap bersikap manis dan beku seperti biasa, tapi aku membungkam diri, membiarkan rasa itu kian membakar dari dalam sana, dan sampai pada titik dimana aku hampir sekarat karenanya. Tetesan air yang kuharap akan meluncur dari sikap Ari, hanya menyisakan kekecewaan semata. Aku bukan yang pertama dalam hidup Ari, sebelumnya ada beberapa nama, Ari jelas saja sangat berpengalaman dalam menangani dan bertindak dalam sebuah hubungan. Aku yang buta, aku yang tak tahu apa-apa. Kubiarkan diriku tersesat dalam pengharapan-pengharapan kosong, kubiarkan diriku tersesat dalam drama yang tak mungkin akan terjadi di dunia nyata, terlebih jika Ari adalah lawan mainnya. Dia benar-benar menyalahi segala standar romantis yang pernah kubaca dan kulihat di layar kaca. 

Tapi Ari bertindak, tapi Ari menunjukkan aksi. Kompensasi atas segala depresi yang kulalui sendiri selama sekian waktu. Tetesan salju itu perlahan menemui titik lelehnya. Ari mulai berkata-kata meski tetap tanpa untaian bunga. Kali pertama Ari menunjukkan pesonanya dan aku jatuh seketika di dalamnya. Skenario berlanjut dengan di bumbui semakin banyak drama. 


Pengakuan sudah ada dalam genggaman, yang selanjutnya kuinginkan adalah menguasai. Serakah, aku paham benar kebenaran satu itu. Tapi saat itu aku merasa hanya memiliki cangkang yang membungkus Ari. Ada kedalaman yang terus di lindunginya agar tidak bisa kumasuki. Sesuatu tentang Ari yang tidak benar-benar kuketahui. Sesuatu tentang Ari yang ingin segera kumiliki. Aku memaksa, aku menuntut, tapi sadar benar bukan cara itu yang akan membuka Ari dari ketertutupannya. Aku harus melakukan pendekatan dengan cara lain, jika ternyata yang di sembunyikan Ari adalah emas berharga, maka mungkin akan membutuhkan lebih dari sekedar sabar untuk mendapatkannya. Dan lagi-lagi aku terbakar sendiri oleh tantangan yang di berikan Ari. Aku ingin segera menaklukkan puncak itu, kemustahilan yang menguras waras dan juga isi hati. Aku hampir menyerah pada semuanya. Pada ikatan pertamaku. Pada hubungan dengan si manusia beku. Menyerah pada Ari. 
Tapi lagi-lagi drama terjadi. Aku mulai jatuh cinta pada Ari. Petualanganku dalam mengenal, menjelajahi dan ambisi untuk menaklukkan Ari ternyata membuahkan sebuah rasa yang kelak akan mengubur semua identitasku. Aku jatuh cinta pada ikatan pertamaku. Manusia buta yang bersanding dengan si manusia beku. Jika awalnya aku mengira hubungan ini akan menjadi yang pertama dan akan menghadirkan rangkaian patah lalu tumbuh lagi seperti yang umum di lalui para gadis-gadis, ternyata aksi Ari dan kata-katanya yang meski tetap tanpa di sertai bunga telah menciptakan pemahaman lain. Ada ikatan di dunia ini yang memang tercipta tanpa sama sekali dikalungi untaian bunga. Ada ikatan di dunia ini yang memang tercipta dan tidak sedramatis yang ada di film-film Korea. Dan baru belakangan ini aku menyadari bahwa ternyata bukan drama Korea yang menggambarkan kehidupan nyata, dan justeru kebalikannya. Tidak ada kisah nyata di dunia yang semanis drama Korea, dan baru belakangan ini juga aku mendapati pemahaman betapa Ari adalah cerminan dari laki-laki idaman yang selalu di teriakkan para wanita. Ikatan pertamaku memberikan bonus tak terduga, keberuntunganku karena telah berhasil menaklukkan puncak yang di suguhkan Ari. Kebekuan yang telah melalui masa lelehnya, mengalir sedemikian rupa menuju kolam penuh siraman panas matahari. Kehangatan yang kuharapkan hanya bersifat sementara ternyata di taburi panas abadi. Aku tenggelam seketika, dalam kebahagiaan yang mendera. 
Drama belum berhenti. Masih ada banyak dan sepertinya tidak pernah ada hari yang akan terlalui tanpanya, tanpa drama, tanpa bumbu yang menjadi perekat bagi ikatan yang sering tiba-tiba merenggang ini. 

Aku menemukan palung itu. Kedalaman yang selalu di sembunyikan Ari selama ini. Realisasinya tercipta pada banyak malam tanpa benang yang kami lalui bersama. Jika awalnya aku mengira kedalaman itu tersembunyi di ruang yang tak bisa kusentuh dan kujelajahi, ternyata aku salah. Kedalaman itu ada pada kebungkaman yang selama ini terus menyelimuti ikatan ini. Kesempurnaan dan kebaikan yang selalu di junjung teguh dan di harapkan akan menjadi tiang pancang bagi menara dalam hubungan ini, ternyata justeru menjadi jurang pemisah antara aku dan Ari. Baru ketika kata-kata semakin banyak meluncur, baru ketika kekurangan-kekurangan perlahan merembes keluar melalui banyak kata, saat itulah ketelanjangan mendadak menjadi tangga menuju jurang yang kedalamannya tak terlihat dan tak terduga. Akulah yang menciptakan ruang, si bisu yang terus mengais cara untuk memasuki palung dan jalan tersembunyi menuju kesana hadir ketika si bisu ini mengakhiri kebiasaannya dalam menelan kata-kata.

Ikatan membutuhkan lebih dari sekedar dua raga tanpa benang untuk bisa saling terhubung, ikatan membutuhkan lebih dari sekedar perasaan telanjang untuk bisa mengenali satu sama lain. Kata-kata tetap harus di muntahkan. Di telan hanya akan menciptakan jurang. Dan mengutarakan adalah jalan terbaik untuk menuju kesempurnaan hubungan. Sesuatu yang jarang di ketahui oleh pemikiran umum. Bahwa sempurna tidak berati harus sesuatu yang utuh, tanpa celah, tanpa retak, sempurna bukan berati harus sesuatu yang berbau wangi, berwarna putih dan bertekstur halus. Sempurna bisa jadi adalah tentang lubang-lubang menganga. Kesempurnaan bisa jadi tentang perasaan menerima celah yang tak mungkin bisa tertutupi dan tak mungkin juga di tiadakan. Kesempurnaan dalam sebuah hubungan adalah tentang menerima kekurangan. Butuh lebih dari sekedar sabar untuk bisa sampai pada tahap itu. Kesempurnaan ikatan, yang selalu di idam-idamkan oleh semua pasangan. Dan aku beruntung karena tidak hanya telah melewati tapi juga telah melalui tahapan-tahapan keramat yang di suguhkan hidup untuk mendapatkan Ari.
Langkah kaki ikatan ini yang telah sampai pada hitungan lima. Dan aku masih belum menemukan kata yang pas untuk menggambarkan betapa aku bersyukur karena telah menawarkan sebuah hubungan di awal kepada Ari. Dan bukan kepada nama yang lain. 

Drama tidak pernah luput untuk hadir, drama tidak pernah alpa untuk membumbui. Ikatan yang semula hanya berupa tawaran tanpa tujuan mendaki sebuah hasil yang begitu di nanti. Kesempurnaan yang begitu diminati. Dan meski tak ada parang dan pedang yang menjadi pengikat hubungan ini. Tapi di sana tertoreh banyak luka, di setiap inchi, di setiap lekukan. Hanya saja semua luka itu terbahasakan. Hanya saja semua luka terkatakan. Kata-kata yang tanpa bunga tapi lebih bekerja ketimbang bunga yang di bungkus kata-kata. Tentang keunikan Ari dalam memahami si buta dan si bisu satu ini. Tentang kekuatan Ari untuk melelehkan diri demi sebuah kehangatan yang di harapkan mengekal. Dan langkah kelima barulah sebuah awal untuk perjalanan yang sangat panjang. Dan langkah kelima adalah sebuah lompatan besar bagi si buta dan si bisu dan juga si beku. Tiga nilai minus yang menjadi penopang bagi adanya kesempurnaan hubungan. Ikatan yang di harapkan sempurna hingga akhir masa. Semoga saja. 

Rabu, 25 Maret 2020

Menyeberangi Pekat

Gelap dan berat. Dua kata yang mewakili perjalanku kali ini. Pekat dan sesak adalah dua perkataan yang mungkin bisa di gunakan untuk menjabarkan perasaanku saat ini.
Aku memasuki medan perang dengan bekal yang bisa di bilang sangat sedikit. Aku memasuki medan perang dengan banyak angan dan harapan tersimpan di belakang. 

Dulu ketika medan pertempuran masih jauh di ujung sana, melihat manusia lain telah bergerak cepat dan memasuki medannya lebih dulu, membuatku bertanya-tanya seperti apa rasanya di dalam sana. Ini kali pertama kakiku akan memasukinya, dan wajar saja jika aku bertanya. 
Aku tidak tahu bekal apa yang seharusnya kumasukkan dalam kantong belacuku. Aku tidak tahu harus memilah apa di antara sekian banyak yang harus kujadikan teman untuk perjalanan panjangku. Perang pertama memang selalu membuat gugup dan gagap. Tapi aku tetap bersiap. 

Aku melihat darah menggenangi tanah pertempuran. Tubuh-tubuh bergelimpangan. Beberapa ada yang bersorak dan merayakan, namun ada lebih banyak lagi yang memilih mengubur raga teman seperjuangan untuk melampiaskan rasa kemenangan. 
Seperti apa rasanya berada di tengah-tengah mereka? Akan menjadi pihak mana kelak jika aku resmi memasuki medannya? Ataukah menjadi yang merayakan? Menjadi yang megubur temannya? Atau justru menjadi yang di gotong lalu di timbun tanah oleh teman-temannya?  Aku begitu ingin tahu namun juga begitu ingin segera pergi dari setapak ini. Takdir yang di gariskan untuk kulalui. Dimana melalui jalanan ini ribuan orang telah lebih dulu melewati dan terpandu menuju medan bermandikan merah darah di depan sana. 

Aku meninggalkan banyak nama kusayangi di belakang sana. Mengikat mereka pada tiang kegarangan agar langkahku tidak tercegat oleh tangisan dan ratapan pilu mereka. Menangisi bukanlah cara terbaik untuk mengucapkan selamat jalan pada pejuang yang hendak maju ke medan perang. Tapi sebagian orang melakukan itu. Dan dalam kasusku, aku mengenali benar seperti apa bentuk hati sendiri. Jangankan melihat mereka membasahi setapak yang hendak kulewati dengan air mata. Melihat bunga kesedihan mekar di tengah-tengah retina mereka pun sudah berhasil menyurutkan baraku. Aku tidak akan bisa melakukan langkah pertama jika masih membiarkan mereka berkeliaran bebas, mengikuti semua jejak langkahku hingga batas pengantaran. Aku tidak akan setegar itu jika harus berangkat perang dengan di antar oleh air mata orang-orang terkasihku. Biarkan saja kuikat kaki dan tangan mereka, lalu kututup mataku sendiri dengan kain seadanya. Bukan mata mereka. Agar jika kelak perjalanan ini tidak berhasil mengantarkan ragaku pulang, mereka masih memiliki sedikit kenangan tentang betapa gagahnya langkahku menuju medan perang. 

Untuk itulah perjalanan ini di mulai. Untuk mereka nama-nama yang kusayangi. Bahkan jika gelap dan berat, bahkan jika pekat dan sesak tidak ada lagi alasan untukku kembali tanpa membawa kemenangan di atas pundak. 
Begitulah perjalanan ini di mulai. Perang melawan kegelapan yang akan menjadi ajang pertamaku mengayunkan pedang. Meski malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang, namun tak ada pejuang yang gentar dengan perang. Sekalipun yang harus di menangkan adalah kabut pekat yang memampatkan pernapasan. Sekalipun yang harus di menangkan adalah bayangan tak terlihat. 
Ini sungguh akan menjadi malam yang sangat panjang. 

Lelah menjadi menu makan malamku yang di nikmati terlalu dini. Dan lelah sepertinya juga akan menjadi santapan malamku dalam menjelang pagi. 

Perang ini baru kumasuki ujung pintunya. Aliran lautan yang begitu dalam dan kelam dan aku baru mencelupkan ujung jari kukuku untuk bisa mengerti betapa dingin dan membekukannya medan yang hendak kumasuki ini. 

Sudah bukan lagi waktunya untuk merenungi mimpi. Sudah tidak ada lagi waktu untuk menengokkan pandangan kepada jalan yang telah terlalui. Di depan sana, takdir terbentang seluas samudera. Memasukinya, mengarunginya, adalah cara terbaik dan terakhir untuk mengetahui apa yang tengah menanti di seberang sana. Bahkan jika ini adalah perjalanan terkahirku di atas bumi. Bahkan jika ternyata aku di gariskan untuk menjadi pihak yang di gotong lalu di timpa tanah hingga ujung lihatku. 

Jika saja sekali lagi bisa, aku ingin melihat mereka, nama-nama yang kusayangi meski hanya sekelebat saja. Aku tidak tahu perang akan datang secepat ini, aku tidak tahu jika jadwalku untuk memasuki medan perang adalah hari ini. Karena jika aku tahu sebelumnya, aku akan menahan siapapun untuk pergi. Karena jika aku tahu sebelumnya, aku akan mengerahkan segala daya agar bisa menahan mereka beranjak. Kesempatan terakhirku yang kusia-siakan dengan mengikat selembar kain hitam di atas mata. Berharap agar pemandangan terakhir yang terkenang dari mereka bukanlah wajah sembab berurai air mata. Berharap agar langkahku kian lantang menebas ketidakpastian jalan. Berharap mataku tidak melihat kesedihan mekar di ujung mata mereka. Tapi bahkan di kesempatan yang sempit ini aku masih melupakan sesuatu. Jika mata tertutup maka telinga akan melipat gandakan siaganya menjadi lebih peka. Dan aku memiliki rekaman jelas tentang bagaimana banyak kuntum bunga jatuh di depan langkahku ketika aku memulai perjalanan ini dulu. Tentang bagaimana aku memiliki rekaman tentang isak yang kutangkap lolos dari beribu dengung yang menyerbu gendang telingaku. Terkutuklah pendengaran ini. Jalan terakhirku untuk berpamitan dan mengucapkan selmat tinggal. Terkutuklah pendengaran ini. Yang berhasil merekam banyak momen perpisahan dengan di penuhi aroma kesedihan. 

Langkahku semakin maju. Bukan langkah yang kini tengah kuhitung, tapi tentang seberapa banyak tebasan pedangku tepat mengenai sasaran. Bayangan hitan busuk yang melayang-layang kesana kemari mengundang kemarahan. 
Aku harus menghabisi mereka semua. Aku harus melenyapkan musuh tak terlihat ini. Aku harus berhasil menyeberangi daratan berkolam darah ini. Aku harus pulang kepada mereka yang tak lelah menanti. Aku harus pulang demi memenuhi janji bahwa akan kuantar cenderamata dari peperangan ini. Bahkan jika yang kembali dari raga ini hanya bersisa separuhnya, bahkan jika yang kembali dadi pertempuran ini adalah raga yang dengan jiwa yang tak lagi sama. Aku harus kembali untuk mereka. 

Dulu aku selalu berkata jika manusia hendaknya jangan terlalu keras dalam mengadili. Sesuatu yang hitam tidak selalu benar-benar berisi pekat, sesuatu yang putih tidak selalu benar-benar berisi kemurnian. Dan kutukan yang di awal perjalanan kulayangkan pada telinga yang menggantung di kedua sisi kepalaku kutarik secepat kilatan pedang yang keluar dari sarungnya. Aku memiliki rekaman kenangan tentang mereka dan itu adalah pelita di tengah kegelapan yang semakin membaur dengan seluruh bumi. Aku memiliki rekaman tentang mereka, meski hanya berujud denting kuntum bunga yang jatuh satu langkah di depan sana, meski hanya berujud lolongan tertahan yang masih harus berbaur dengan lautan tangisan dan sesenggukan. Tapi aku mengenalinya. Dan keduanya telah beralih sebagai mantra. Bekerja sedemikian rupa menciptakan percik-percik bunga api yang terus menyala menuju bara. 

Aku harus kembali untuk mereka yang selalu menanti. Bahkan jika hanya separuh dari raga ini yang kembali, bahkan jika jiwa ini sudah tak lagi sama. Aku harus kembali pada mereka.


Akhir masih jauh di depan sana. Suatu tempat yang tak terlihat meski hanya ujung daratannya. Ramalanku sebelumnya telah bekerja. Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang. Bahkan malam-malam yang akan datang, bahkan siang yang menjadi gulita hingga menipu pandangan mengira gelap ini adalah malam. 
Mengakumulasi tentang apa saja penopang keberanian dan kebahagiaan selama ini adalah bagian terpenting dari sebuah peperangan. Dan aku melakukannya meski medan ini baru saja kumasuki. Ada hati yang perlu kukenyangkan terlebih dahulu sebelum tanganku menjadi kebas dalam mencengkeram pedang. Ada waras yang perlu kutenangkan terlebih dahulu sebelum kegilaan dari pekat ini membius dan mengantarku pada kekalahan. Bekal yang dulu selalu kupertanyakan. Pertanyaan tentang seperti apa rasanya berada di tengah-tengah medan perang. Aku mempunyai jawaban untuk semuanya, yang datang bersamaan dengan langkah kaki dan ayunan pedang. 

Tak ada lagi waktu untuk mengeluhkan beban. Tak ada lagi waktu untuk mengeluhkan cahaya yang kian temaram. Dalam kebutaan total segalanya justru kian menantang. Dalam kelelahan total kesadaran justru memberikan kekuatan.

Akan kumenangkan peperangan ini bahkan jika ragaku tak kembali dengan ujud utuh seperti semula. Akan kumenangkan pertarungan ini bahkan jika satu-satunya sinar yang bisa kunyalakan untuk menerangi kegelapan ini adalah dari tiap tetes-tetes darah yang kumiliki.

Pekat ini salah jika mengira aku segagap yang terlihat. Pekat ini salah jika mengira aku selentur pedang yang terayun kesana kemari menciptakan larik kilat kecil di setiap tebasannya. Aku lebih kuat dari itu. Aku lebih kuat dari yang dikira. 

Karena di balik kabut ini ada tangan-tangan mereka yang siap terulur menyambut kedatanganku. Karena di ujung kegelapan ini ada masa indah yang tengah menanti dengan banyak tawa dan celoteh yang sepertinya telah absen dari pendengaranku selama berabad-abad lalu. Karena di balik beban berat ini ada nama-nama yang telah mengucurkan mantra dan kata ajaib lainnya demi membakar bara di dalam hati. Bekal pertama yang tak akan pernah habis meski peperangan ini telah usai. Bekal pertama yang menjadi nyala di kala kegelapan total membungkus raga ini menuju puncak pertarungan. Bekal yang berubah menjadi janji akan kedatanganku di masa yang akan datang. Kepulanganku dari medan perang. Entah di ujung pagi yang keberapa, entah di sudut pagi yang mana. Karena sungguh tak ada yang lebih di nanti oleh kaum pejuang selain nyala matahari di ufuk sana, sinar pembawa harapan abadi yang tak pernah terkalahkan. Pagi yang di nanti. Pagi yang menyembuhkan. Semoga saja lekas datang.