Jumat, 04 Februari 2022

Kepada Hara

Kepada Hara, aku harus berimajinasi sedemikian rupa untuk menjelaskan dimana sekarang dirimu berada. Pertama aku menggambar bola dunia, lalu matahari beserta planet-planetnya, di luar itu semua aku membuat sebuah tempat tersendiri yang kunamai surga, di sana kamu tengah duduk menunduk kebawah yang kuandaikan sebagai dirimu yang selalu mengawasi dan melihat setiap perilaku anak-anaknya. Untuk itu Hara harus rajin mengaji, bersikap baik dan menurut sama mamanya. Kemudian imajinasi itu di revisi oleh kenyataan. Aku memberitahu Hara yang sebenarnya, masih memakai imajinasi meski dengan gambar berbeda. Kali kedua aku membuat sebuah tempat dimana ragamu bersemayam. Aku menggambar bola yang di andaikan sebagai rohmu yang pergi dari alam dunia, lalu selanjutnya kubuat sebuah lingkaran besar, kujelaskan bahwa ini bernama alam tunggu. Disana tempat para roh2 orang yang telah pergi dari raganya berkumpul. Alam surga masih jauh dari itu,
"Selama ini mama berbohong dengan bilang bapa sudah di surga, yang sebenarnya terjadi adalah bapa masih di alam tunggu. Sampai hari kiamat tiba, lalu saat itulah amal baik dan buruk setiap manusia di timbang. Jika lebih berat amal baik dia masuk surga, jika lebih berat amal buruk maka dia masuk...."
"Neraka!" Hara selalu menyelesaikan kalimatku dengan benar pada akhirnya.
Kepada Hara, di halaman selanjutnya aku menggambarkan sebuah timbangan besar dengan kendi di masing-masing tempat duduknya, sengaja kubuat sebelah lebih besar dari satunya, dan di atasnya kugambari koin-koin beterbangan yang tengah mengantri untuk masuk ke dalam kendi besar itu.
"Ini adalah doa-doa, sedekah yang dikirimkan oleh Hara dan mama, juga oleh orang-orang yang sayang sama bapa, sama Alloh diubah jadi koin lalu dimasukkan ke kendi amal baiknya bapa, jadi semakin sering kita berdoa dan bersedekah, semakin penuh deh kendi amal baiknya bapa,"  sengaja kubuat timbangan itu semakin miring sebelah.
"kalau kendinya penuh gimana ma? Hara kan sekarang rajin berdoa."
"kalau kendinya penuh ya tinggal di ganti aja sama yang lebiih besar."
Hara begitu suka dengan pengandaian kendi dan timbangan itu, dia berimajinasi sendiri tentang bagaimana jika koin-koin itu meluber dan tak tertampung lagi, tentang bagaimana kamu akan tertawa-tawa di tempatmu begitu tahu ada banyak koin berjatuhan yang datangnya dari doa anakmu.
Selanjutnya, aku menggambar tentang deretan antrian panjang manusia-manusia tanpa wajah menenteng kendi di kedua tangannya. Hara bersikukuh bahwa manusia pertama di barisan gambar itu adalah kamu, lalu aku, kemudian dia. Aku menjelaskan bahwa itu adalah hari penimbangan. Hari penentu ataukah kita akan di celupkan di neraka atau di masukkan ke surga.
Sampai di sana aku sudah tidak bisa berimajinasi lagi. Aku hanya mampu mengakhiri cerita itu dengan menggambar sebuah bangku di sebuah taman. Ada beragam jenis bunga dan berbagai macam buah serta tumbuhan lainnya. Sungai yang airnya memantulkan sinar keemasan mentari di penghujung hari terlihat berkelok-kelok di kejauhan sana, membelah daratan-daratan seindah mimpi. Aku memberinya nama surga. Lalu disana, di bangku itu duduk aku dan kamu. Hara dan adik tengah bermain menangkapi kupu-kupu yang beterbangan kesana kemari. 
"Jika Hara berhasil menjadi anak baik, rajin bersedekah, nurut sama mama, dan rajin berdoa. Insyaalloh kita akan berkumpul kembali dengan bapa di tempat indah ini."

Kepada Hara aku tidak bisa terus berbohong dengan mempertahankan cerita bahwa kamu sudah berada di tempat yang indah dan di damba oleh semua doa. Aku ingin Hara tahu bahwa kamu masih membutuhkan dirinya, membutuhkan doa, sedekah-sedekah dan tingkah baiknya. Aku ingin Hara tahu bahwa sisa hidupnya adalah satu-satunya kesempatan untuk "mengumpulkan koin" agar bisa kembali bertemu denganmu. Karena aku tahu di banyak kesempatan, meski tidak berbicara tapi dia merindukanmu lebih daripada aku. Aku ingin Hara tahu bahwa kamu tidak pergi terlalu jauh sampai lupa dengan tugasmu yakni menjaga dan mengawasi setiap tindak tanduknya. Aku ingin Hara mengerti bahwa kamu tidak pergi terlalu jauh, tapi hanya melangkah masuk dan sekarang hidup di dalam hatinya. Aku ingin Hara termotivasi untuk tetap mempertahankan cintanya, sayangnya pada sang idola, yakni ayahnya. Karena aku tahu waktu bisa memudarkan segalanya. Waktu bisa memutuskan apa saja. Bahkan waktu bisa menghilangkan apapun sesuka kehendaknya. 

Terlepas dari itu semua. Aku hanya tidak ingin kita berpisah begitu saja, harus ada kelanjutan dari kisah yang terjeda tanpa aba-aba ini. Di sini aku tengah menabung banyak cerita, Hara dan aku tengah berlomba dengan waktu untuk mengisi kendi kami dan juga milikmu. Supaya di tempat yang kugambar indah dan kunamai surga itu, kita semua bisa kembali bersama. Semoga saja. 

Sabtu, 20 November 2021

Mengurai Duka

Tiga hari sebelum kepergianmu, kita datang ketempat ini. Kamu masih ingat tentang bagaimana si kakak begitu terkagum-kagum melihat pengering tangan otomatis di tempat cuci tangan? Atau tentang bagaimana ia akan mengomentari betapa lucunya bentuk piring kotak disana, yang berbeda dari bentuk piring yang biasa ia gunakan di rumah. Iya, ini adalah kali pertama kita mengajak anak-anak pergi makan di tempat selain warung baso dan mie ayam. Restoran, begitu si kakak menyebutnya meski tempat yang kita tuju hanyalah tempat makan cepat saji khusus ayam. Di sana kita berbagi tugas, kamu menyuapi si kakak aku bagian si kecil.
"Pesan lagi saja satu untukmu," berkali-kali aku mengatakan itu dan jawabanmu selalu sama, 
"Tidak usah, keperluan kita masih banyak, toh kamu juga nggak makan, aku akan menghabiskan sisanya saja."
Satu piring di serbu satu keluarga dengan dua anak, aku sempat melihat berkeliling barangkali ada yang sedang menertawakan meja kami, tapi suasana saat itu terlihat cuek. 
"Aku senang sekali melihat si kakak bahagia," begitu ucapmu dengan wajah berbinar, si sulung yang mendengar itu langsung saja memanfaatkan untuk meminta kembali datang lain waktu. 
Dan jawabanmu selalu sama untuk setiap permintaannya, 
"Insyaalloh kalau kita punya uang lebih ya,"
Aku tidak pernah tahu jika lain waktu yang kita janjikan tidak akan pernah datang, 

(Inhale, exhale) 

Hari ini aku datang lagi ketempat itu, bukan untuk makan bersama, tapi untuk memenuhi janji pada si kakak, karena apa kamu tahu apa yang di tanyakan padaku beberapa hari selang kepergianmu? 
"Ma, apa sekarang kakak sudah enggak bisa makan ayam goreng?"
"Loh, kenapa begitu sayang?"
"Karena bapak sudah enggak ada, itu berati mama nggak punya uang."
Jangan tanya seperti apa rasaku saat itu, luka yang dikarenakan oleh kepergian tanpa pamitmu masih sangat baru, mataku masih membuta, telingaku masih menuli, jangankan mencerna atau memikirkan tentang bagaimana hidup akan berlanjut kedepannya, aku bahkan masih belum bisa berduka dengan tenang. Dan pertanyaan si sulung membangunkan dukaku seketika, ada yang harus kuurus sekarang, meski ada yang telah lebur dan tak lagi berbentuk tapi ia harus tetap bisa merasa dan menata. 
"Kita masih bisa makan ayam, kan mama punya bos jadi tetap punya uang,"
"Siapa bos mama?"
"Bunda,"
"Terus siapa lagi?" 
Aku menangkap keraguan di mata gadis kecilku, pertanyaan besar menggelayuti pikiran polosnya, ia melihat ada jurang lebar di depan sana, dan jawaban yang akan kuberikan entah kenapa terasa begitu penting. 
"Mama masih punya Allah sayang, kan Allah yang memberi kita rezeki. Insyaallah besok-besok kalau mama pergi dan punya uang, mama belikan."

Janji itu sudah kupenuhi, seperti halnya hak-hak lain miliknya yang mungkin dia takut akan ikut hilang bersamaan dengan kepergianmu, aku tidak berjanji tapi aku mencoba. Mencoba menyisakan waktu untuk membacakannya dongeng sebelum tidur. Mencoba menyisakan tenaga untuk bermain kokomakuci atau perang monster seperti yang selalu kalian lakukan pada malam-malam kita masih bersama. Mencoba lebih taat lagi dalam hal mengingat Yang Maha Tunggal. Bahkan, mencoba membawa mimpi sejengkal lebih dekat, meski aku sendiri telah lupa apa itu harapan.

(Inhale, exhale)

Sejatinya manusia terlahir mandiri, dibungkus kulit ari secara eksklusif tanpa harus berbagi. Tapi begitu banyaknya ikatan membuat manusia lupa, membuat manusia menjadi kurang percaya diri, dibayangi keraguan untuk melangkah ketika pasangan mulai berbeda jalan. Dan kini aku tengah terjebak di fase itu. 
"Apakah aku bisa?" Adalah pertanyaan tunggal yang konstan hadir dalam kepala. Kamu tahu benar aku terlatih menjadi tulang, dan jika sekarang kakiku harus kembali menjadi kepala, begitu juga sebaliknya. Maka dengan segala kerelaan yang masih enggan hadir, aku akan memaksa bergegas untuk bersiap. 
Seperti yang selalu kujelaskan pada si kakak di tengah-tengah sulitnya menjejalkan konsep mati-doa-surga-neraka pada anak berusia 5tahun, dengan itu pula aku meyakinkan diri bahwa aku tidak sendirian. Kamu mendengar, memperhatikan dan melihat semuanya. Hanya saja sekarang melalui jendela yang berbeda.
Terimakasih untuk sekian tahun yang telah terlalui bersama. Meski membosankan tapi aku akan masih berkata bahwa aku beruntung karena telah memintamu menjadi partner hidupku 6tahun yang lalu, dan bukan yang lain. Aku tidak akan berjanji tapi mencoba, mengisi tempatmu dihati si sulung dan si bungsu, meski aku tidak yakin tahu seperti apa caranya. Jika entah dengan cara apa kamu berhasil tahu tentang tulisan panjang dan penuh drama ini dan kamu tertawa, maka maafkan aku karena memberitahu dunia bahwa aku terluka dan sedang tertatih memaksa diri untuk bangun segera.
Seperti pesan si kakak ketika mengunjungi rumah barumu kemarin, "bubu dengan tenang ya bapa, kakak disini selalu doain bapa." Sekarang kembali kepada tanah dan beristirahatlah dengan tenang, kamu aku selalu dirindukan. 
Teriring doa di setiap kesempatan.

Minggu, 27 Desember 2020

Murid Tahun Kedua

Ini adalah kali pertama kita bertemu. Bukan tentang aku sebagai pengandungmu dan engkau sebagai benih yang tengah kutunggu. Ini adalah kali pertama kita bertemu sebagai guru dan muridnya di tahun kedua. 
Dulu, lama sebelum aku memasuki ranah penuh perjuangan ini. Dulu, sebelum nadiku masih utuh dan belum terbagi. Aku pernah memimpikanmu menjadi yang pertama. Sesuai nama yang hendak engkau rengkuh, Alfa.
Tapi nyatanya engkau hadir setelah Hara. Yang pertama untuk urutan kedua. Tapi memang harus seperti itu adanya. Ketika hidup ini adalah sebuah lahan pertanian, untuk memulai bercocok tanam maka hal pertama yang perlu di perhatikan oleh petani adalah kesuburan tanahnya. Dan kemudian unsur terpenting dalam hidup itupun mulai melaksanakan hakikat dari namanya. Hara. Mempersiapkanku, dari diri yang sangat begitu mentah, dan begitu keras menjadi sesuatu yang sedikit melembut dan juga memiliki kelenturan. Hara begitu telaten, meski terkadang diri ini masih mengutuk dan mengancam tapi dia tetap tegak di sana, menawarkan bangku peristirahatan, menggumamkan mantra-mantra baru penuh keajaiban. Guru di tahun pertamaku berujud unsur pelemas tulang, dan juga peremas gumpalan.


Tahun kedua datang dengan hanya mengangkut sedikit beban. Aku tidak segugup ketika baru pertama kali menapakkan kaki di daratan ini. Awalnya aku berpikir bahwa perjalanan satu ini akan terlewati dengan sama mulus dan lancarnya ketika dulu aku melalui tahun pertama. Dan pada saat memasuki minggu-minggu terakhir kesalahan dari perkiraanku pun terlihat. Ini berbeda. Alfa adalah guru yang lain. Jika ada tingkat dari sebuah sabar, maka satu ini adalah tingkat yang lebih senior ketimbang sabar yang pernah di ajarkan oleh Hara. Babak baru di mulai, saat di mana diri yang mengenal sepertiga malam sebagai ajang untuk bergumul bersama abjad menjadi tempat akbar untuk meminta dan merengek. Dan dari kebiasaan baru itu muncul satu bait kalimat yang begitu kusuka dan kuangankan untuk berada dalam salah satu paragraf di rumah ini. Satu kalimat singkat yang begitu menyimpan sihir dan candu dengan bunyi seperti ini, "Kepada yang menjaga malam dan mengabulkan segala keinginan-keinginan. Kepada yang selalu terjaga dan tak pernah melewatkan bisikan-bisikan." 
Alfa mengenalkanku pada Dzat yang Maha romantis, ketika mengukir kata-kata menjadi begitu manusiawi dan begitu.....pulang. Tahukah kamu perasaan seperti itu? Semenjak lahir manusia di gelayuti oleh satu tanya besar, tentang hendak menjadi siapa, dan hendak berkelana ke daratan manakah dirinya kelak. Dan ketika segala pengetahuan dan berbagai destinasi menjadi kendaraan yang siap mengantarnya kemanapun hasrat mengajak. Tapi pulang selalu menjadi tujuan akhir pada akhirnya. Tapi pulang selalu menjadi jalan yang akan di tempuh pada akhirnya. Pulang kepada diri sendiri. Pulang menjadi diri sendiri. Tempat terorisinil yang selalu menyerap segala ingin dan minat untuk kembali dan kembali. Dalam hening yang tak bersekat, dalam ketiadaan yang tak bersyarat. Selain sabar, pelajaran kedua yang kudapat dari pengajar baru satu ini adalah tentang berputar arah, menuju jalan pulang untuk diri yang sempat tersesat. Dan bahagianya jalanan itu berbalut kata-kata. Jiwa pujangga yang dulu memenuhi raga tak perlu kemana-mana, dia tak perlu turun di tengah jalan dan meneruskan pengelanaan. Karena dalam perjalanan pulang diapun akan terangkut bersama. Kali ini bahkan di restui oleh Dzat yang Maha Benar. Oh, bahagianya. 

Dear Alfa. Kepada nama yang kelak menjadi guru selanjutnya setelah Hara. Aku tahu kita biasa berbincang melalui banyak cara, lewat detak jantung yang terpompa seirama, lewat denyut nadi yang berkedut bersama, dan hanya lewat rumah inilah satu-satunya jalan yang belum pernah kulalui untuk mulai menyapamu. Dan seperti sebuah nazar yang terpenuhi, maka hari ini aku melakukannya. Membiarkan siapapun masing-masing kita untuk saling berbicara. 
Dear Alfa, aku tahu engkaulah yang paling memahami tentang jalan pulang yang telah kubicarakan. Karena disana namamu terpampang dengan sebegitu jelas sebagai referensi kelayakan jalan. Alasan kenapa sepertiga malam menjadi tempat untuk beradu tatap dengan yang selalu tersingkap kabut.
Dear Alfa, jika aku bisa mengutarakan permintaan langsung kepadamu, bersediakah engkau mengabulkannya? Untuk sejenak saja, bukalah kelopak matamu dan arahkan pada benak si dungu berjuluk pengandungmu ini. Disana tertera jelas apa hasrat terpendam yang kusimpan untukmu. Disana tertera jelas apa ingin dan angan yang selalu kubisikkan pada yang selalu menjaga malam dan siang tentangmu. Satu yang telah menyatu, hasrat yang begitu alot untuk terucap, keinginan untuk mengeluarkanmu dari dunia sana dengan sama normal dan lancarnya ketika dulu aku melakukannya untuk Hara. Aku tahu engkau akan menjadi pengajar yang baru, engkau tidak bisa di samakan dengan siapa-siapa, metodemu akan mengenalkanku pada sesuatu yang belum pernah kusentuh dan kupandang. Tapi untuk yang satu itu, doa yang telah berubah menjadi mantra, mantra yang telah mengubah lafal menjadi denyutan. Bisakah engkau memberikan kepastian akannya?
Aku telah menelan banyak cemas hingga detik ini, aku telah menelan banyak khawatir yang tak pernah kulakukan sebelumnya. Ketakutan tentang banyak ketidakpastian, sementara waktu terus saja berpacu dengan detak jantung tanpa pernah ada yang mau melambatkan aksinya. Aku pasti tengah berjalan menuju ketiadaan sekarang, melangkah dalam gelap yang di depannya terdapat jurang atau justru daratan lapang. Satu hal yang pasti tentangku adalah, bahwa aku tidak pernah menyukai kejutan, apapun bentuknya. Jadi Alfa, dengan segenap perasaan satu yang mengikat di antara kita, dengan segenap perasaan ragu yang terselip di antara pasti yang mengungkung milikmu, berikan aku satu kepastian jawaban, berikan aku satu pertanda akan rasa tenang. Berikan aku, satu jalan mulus yang dulu pernah di hadiahkan oleh Hara. Berikan satu itu, dan kita akan semakin tak terpisahkan.

Aku tahu ada banyak yang perlu kita bicarakan. Tentang masa yang akan datang, tentang cerita lampau dan yang belun terjamahkan. Tentang kita dan mereka yang kelak terikat dalam lingkaran kita. Tapi di depan sana akan ada berlembar-lembar halaman kosong yang siap untuk di isi. Tapi di depan sana akan ada bertumpuk-tumpuk jeda waktu yang siap menjadi kertas dan saksi bagi petualangan bersama kita.
Saat ini, nadiku hanya satu, denyutku telah menyatu bersama doa dan mantra tentang keinginan untuk mengantarmu melihat dunia dengan selamat, lancar dan normal. Semoga saja. Semoga saja. Semoga saja. 

Salam hangat dari murid di tahun kedua untuk pengajar kedua. Yang tengah menantikanmu dengan tanpa secuilpun ragu. Mari kita bergandengan tangan, menyatukan tekad, tak ada sulit yang tak bisa dilewati ketika kita bersama. Semoga saja. 

Kamis, 15 Oktober 2020

Tentang Musim Tak Bernama

Jika engkau mulai membicarakan sesuatu bertemakan musim, maka tidak akan pernah ada kata selesai di sana. Seperti juga pernikahan, ikatan antara anak dan pengandungnya. Hal-hal yang hanya patut di bungkus dalam bisikan, agar tidak keluar sebagai cacian. 

Musim gugur menghampiri pohon-pohon pada waktunya. Lalu dingin yang begitu dingin akan menyelimuti tanah-tanah pada akhirnya. Seperti juga pertanyaan-pertanyaan yang muncul bak tunas baru di tahun-tahun kian menuanya sebuah ikatan. Entah untuk pernikahan, atau hubungan antara anak dan pengandungnya. 

Pepohonan kian meranggas, memperlihatkan tulang-tulang rantingnya yang mencuat bak jemari yang mencoba menggapai langit. Dingin yang tak tertahankan masih memiliki level siksa di atasnya. Yakni ketika mulut-mulut mulai mengulum bara yang menyala. Membukanya hanya akan menyemburkan asap. Sementara menelannya hanya akan membuat senam gigi yang begitu teratur dan berirama. Sesuatu yang semacam itu juga berlaku bagi sebuah hubungan. Entah pertalian dalam sebuah pernikahan atau pertalian antara anak dan pengandungnya. Titik dimana seperti semua tempat akan menyuguhkan udara yang lebih baik ketimbang hanya berdiam dan mencoba menelan. Ada kekuatan di dalam untuk lari sekencang-kencangnya, memutus segala resah dan mengabaikan segala sudut pandang. Hanya demi mendapat sebuah kenyamanan. Tapi lagi-lagi manusia di ingatkan, untuk tidak pernah membahas musim, pernikahan, atau ikatan antara anak dan pengandungnya atau tidak akan pernah ada kata selesai di ujung kalimatnya.



Maka di sinilah aku. Dengan kaki-kaki yang bukan hanya beku, tapi separuh dalam perjalanan menjadi batu. Maka di sinilah aku. Dengan mata-mata jengah yang begitu haus akan warna hijau memayungi, yang begitu dahaga dengan aroma pucuk daun dan bukannya suguhan aroma api, membakar kisah tentang ranting-ranting, dedaunan kering yang menyerah pada musim meranggas. Dan sampai di mana kisah tentang  pernikahan dan juga hubungan antara anak dan pengandungnya? Mungkin sudah selesai. Pertanyaan yang dulu ada tengah dalam masa penantian untuk bertemu jawabannya. Jengah dan resah yang selalu giat menyirami tak bisa menemukan kekuatannya untuk berlari dan mencari. Hanya menunggu. Dan akan terus menunggu. 


Musim gugur mulai menyapa pohon-pohon. Dingin yang semakin dingin mulai menyelimuti tanah-tanah. Tapi di bawah itu semua ada kaki-kaki yang tengah berjuang agar tetap bisa berjalan dengan seimbang. Menyetarakan antara nalar dan juga sudut pandang. Meski sesekali terpeleset, meski sesekali harus terjatuh dan merasa tidak akan bisa melanjutkan. Tapi api di bawah sana selalu berusaha, menyulut apapun yang bisa menjadi perantara untuk kembali membakarnya. Bahkan meski hanya berupa bara di ujung mulut. Bahkan meski hanya asap yang menyelinap dari kepungan bibir. Ada hangat yang terus terjaga. Ada bara yang tak pernah berhenti menjaga. Menunggu saat yang tepat untuk membakar apa saja, menunggu saat yang tepat untuk memperbaiki semuanya, menunggu waktu yang tepat untuk merobek sesak yang di tebar bak kelambu membebat raga.

Selasa, 07 April 2020

Pendaki Amatir

Aku mendaki sebuah gunung. Terdapat banyak jalan menuju puncaknya. Dari yang di sarankan oleh ahli pendakian, lalu jalan yang di buat oleh penduduk sekitar, hingga jalan yang di tuntun oleh nurani. 
Aku memilih jalan yang terakhir. Menjadi manusia kebanyakan sama sekali bukan ciri khasku. Sementara mengikuti setapak yang telah di buat oleh penduduk sekitar sama sekali tak memberi tantangan, lagi pula apa enaknya berjalan dengan di tuntun oleh setapak yang di buat oleh orang lain? Kau harus menciptakan sendiri setapakmu. Membelah belantara hanya demi menemukan puncak tujuan. Tersesat bukan halangan, salah bukan sebuah masalah. Aku mencoba peruntunganku. Menaklukkan gunung melewati jalur yang tidak biasanya. Perjudianku dengan keberuntungan dan juga alam. 

Gelap, aku melihat nyala cahaya yang hanya berupa titik, jauh di belakang sana, pintu masukku menuju kepekatan total. Ini pilihanku. Bahkan jika ini adalah perjalanan terakhirku, sebisa mungkin tidak akan ada penyesalan di sana, karena ini adalah pilihanku. 

Aku sendiri. Berkawankan jamur dan lumut hijau yang menyebar rata di setiap kaki pepohonan tua. Aku sendiri. Hanya bertemankan nafas dari pegunungan yang tengah ku daki. Aku mencoba berbicara pada denyut yang kian menyatu dengan detak jantungku. Aku mencoba menyapa dan berharap akan mendapat petunjuk baru untuk keluar dari gelap yang kian mendekap. 

Jangan tanya seberapa banyak aku menjejalkan bekal ke dalam ransel yang menggantung kokoh di punggung. Aku tak mengira perjalananku akan menjadi semenantang ini. Dalam pemberhentianku yang selanjutnya aku berencana untuk mengurangi isi ransel, membuang barang-barang yang tidak kubutuhkan. Menghemat tenaga tentu cara terbaik untuk situasi ini. 
Ujung belantara masih panjang di depan sana, melambai, mencoba memanggil semangat yang kian menghilang seiring bertambahnya langkah. 

Tenggorokanku terasa kering, membunyikan suara akan membuatnya semakin terasa parah, tapi aku perlu melakukannya. Untuk membunuh sepi, untuk membunuh sunyi yang kian mencekam.
Satu, dua, tiga, kunyanyikan lagu tentang pahlawan. Tapi suasana justru semakin terasa buruk. Perjuangan mereka terlalu agung untuk di dendangkan di tengah belantara. Lalu aku mencoba lagu lembut. Dan sihir seketika meghampiri, memilih kelopak mata untuk merekatkan mantranya. Memang baik jika kita bisa terlelap di tengah gempuran rasa takut. Tapi proses tidurku kali ini tidak menguntungkan. Karena di alam sana, aku menemui kegelapan yang lain lagi. Kegelapan yang terasa getir. Menyapu seluruh langit-langit mimpi dan melemparkanku pada nyala nanar seketika. Aku bangun untuk tenggelam lagi dalam kegelapan yang pertama. Saatnya untuk melanjutkan jalan, bahkan jika denyut pegunungan sama sekali tidak mengirimkan pertanda, tentang jalan mana yang harusnya kupilih, tentang tikungan mana yang harus kupilih. 


Puncak masih setengah perjalanan. Dan ini adalah hari ke limaku. Memang bukan pegunungan biasa yang kupilih untuk di daki kali ini. Gunung ini biasa di sebut sebagai gunung abadi, karena panjangnya jalan yang harus di tempuh dan berapa banyak bahaya yang menghadang. 

Tidak hanya peluh yang turun membasahi tapi juga air mata, oh Tuhan, aku mulai lelah dengan jalan pilihanku. 

Mengeluh tidak akan mengurangi beban, mengeluh tidak lantas memperpendek jarak pada tujuan. Mengeluh hanya menandakan bahwa aku manusia biasa. Dan menaklukkan alam bukanlah sesuatu yang ada dalam jangkauan kekuatanku. 

Dia dengan keluasannya, dia dengan segala kisah pertama, kedua dan lainnya. Dia dengan kebesarannya yang tak mungkin bisa sepenuhnya kurengkuh. 

Penat menguji tekad. Penat menguji pilihan. Bukan sekali aku berakhir untuk mengakhiri ini. Bukan hanya sekali aku berpikir untuk menyerah pada niat pertamaku dalam menaklukkan gunung satu ini. 

Aku ingin tidak hanya nafasku saja yang mengejar jarak, aku ingin bukan hanya nadiku saja yang berima menyelaraskan langkah. Tapi dia tetap diam. Tapi dia tetap jauh di sana, ada jurang yang memberatkan langkah, bahkan ketika aku membabi buta memperpanjang langkah, dia tetap akan sepertu itu, dia akan tetap diam. 

Dear gunung tinggi nan berkuasa. Bisakah kita bercakap-cakap barang sejenak? Bisakah kau merasakan peluh yang mengaliri raga ini? Bercampur dengan air dari retina. Meski penting untuk mempertahankan tekad di awal niat tapi jujur saja aku ingin mengakhiri perjalanan ini. Meski penting mempertahankan perjuangan sampai ke puncak, tapi di sini, sesuatu tengah membeku. Aku selalu merasa bahwa dalam perjalanan ini hanya aku yang menginginkan puncak itu, engkau menutup diri, sembunyi entah dimana, tak pernah mencoba untuk berbaik hati memuji penat yang kian mendera, tak pernah mencoba untuk berbaik hati agar puncak dapat cepat terselesaikan. 

Aku merasa tengah berjuang sendiri untuk pucak itu. Dan kini aku ingin menyerah. Tidak apa jika jalan ke belakang ternyata lebih panjang ketimbang jalan di depan sana. Tidak apa jika ternyata hanya akan kutemui penyesalan di pintu masuk sana. Karena jujur saja, terlalu sulit melanjutkan perjalanan dengan hanya menggunakan satu kaki. Niatku sendiri. 

Semoga pendaki lebih beruntung dalam menaklukkan puncakmu. Semoga pendaki lain kuat niat ketimbang diriku. 

Sabtu, 04 April 2020

Jembatan, Malam dan Hujan Kecil-Kecil

Beberapa nama begitu inspiratif untuk di jadikan bahan tulisan. Beberapa nama terlalu menggiurkan untuk hanya sekedar di jadikan bahan angan-angan. 

Namamu salah satunya. Pemilik retina yang selalu mengundang siapapun untuk memandangnya. Pemilik senyum yang selalu menghadirkan kepakan kupu-kupu di setiap pulasannya. 

Aku punya rahasia manis tentang jembatan. Dengan amukan deras air di bawahnya. Aku punya rahasia manis tentang ingatan akan jembatan, dan malam, bahkan hujan kecil-kecil. Yang terkadang menawarkan undangan agar aku bersedia menilik seperti apa isinya. Masa lalu yang selalu menebarkan feromon menggelitik agar aku bersedia kembali untuk membuka halamannya. 

Kadang aku tergoda, tapi ajakan itu kian waktu kian menyusut. Bukannya tidak ada, hanya saja asinnya air yang tergenang, telah menghilang secara samar, menyisakan kepulan asap berisikan kepingan gambar, tentang bagaimana aku menangis diam-diam, tentang proses bagaimana topeng di tangan meluruhkan diri pelan-pelan. 

Namamu tetap bercokol di sana, seperti hantu yang enggan meninggalkan tempat keramatnya. Seperti bayangan hitam yang mengikuti manusia. Namamu tetap di sana dalam ingatan terdalam beserta jembatan, malam, dan hujan kecil-kecilnya. 

Aku tidak pernah berpikir tentang nama lain yang akan menjadi pendampingku. Aku tidak pernah memikirkan kemungkinan lain jika Ari tidak mengiyakan tawaran untuk berhubungan waktu itu. Beberapa kali si pembuat baret datang dalam lamunan, dan namamu secara konstan hadir juga meski dengan tegas ikatan itu telah mematahkan harapan. 

Biarkan aku menyimpan rahasia manis tentang itu.  Aku tidak ingin membuatnya hilang atau terlupakan, karena namamu pernah mengajarkan sesuatu sangat penting dalam kehidupan. Yakni tentang mengikhlaskan.
Biarkan aku menyimpan sendiri rahasia manis itu. Tentang malam, tentang jembatan, tentang amukan air di bawahnya, dan tentang hujan kecil-kecil yang menjadi serbuk pemanis kebersamaan kita. Singkat, harus di akui waktuku begitu singkat. Kemarin aku mengagumi senyuman matamu, lalu keesokan harinya aku jatuh dalam pelupuk mengundang, dan lusanya pengakuan itu datang. Aku menyerah memperjuangkan sekian hariku yang terbuang untuk mengamati, mengagumi dan mengharapkanmu. Aku menyerah untuk mengakui pada kuncup yang tengah tumbuh di dalam sana. 

Biarkan aku puas memilikimu dalam kepala. Biarkan aku menyimpan rahasia manis yang meski hanya memiliki durasi singkat namun begitu membekas dan enggan untuk di tanggalkan. Hantuku yang kesekian dan tetap bertahan hingga sekarang. 
Kenangan tentangmu hanya seputar tiga kata itu, jembatan, malam dan hujan kecil-kecil, tapi pelajaran yang kuambil dari masa singkat itu banyak hingga tak terhingga. Aku jatuh cinta, aku menjadi pengagum rahasia. Dan satu-satunya hal yang kudapat hanyalah air mata, tetesan air asin yang keluar dari retina bukan karena indikasi adanya luka, tapi perasaan bahagia. Aku terlalu bahagia untuk menjadikanmu nyata, sementara mencuri waktumu telah berhasil kulakukan, sementara senyummu telah berhasil mengenyangkan, sementara menculikmu dari siang yang membakar telah berhasil kulakukan, menculik lalu menyekapmu dalam malam-malam singkat di atas jembatan. Aku akan jadi serakah jika menginginkan lebih dari itu. 

Dalam waktu singkat kita aku bahkan lupa mengucapkan kata perpisahan. Lambaian tangan yang ku isyaratkan tak mendapat tanggapan. Sementara melayangkan pandangan mencuri untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal akan terasa seperti melanggar sebuah batasan. Garis yang di buat oleh takdir untuk mengingatkan bahwa milikmu bukan aku, bahwa namamu tercipta bukan untuk bersanding dengan namaku, bahwa peta untuk pulang kita tidak sama. Batasan yang membuatku hilang akal dan memutuskan untuk menghilang seketika. 
Biarkan aku menggenggam rahasia manis ini. Pijakan terakhir untuk terlepas keluar dari jurang yang engkau ciptakan. Aku harus menuntaskan, mengakui dan menuliskan. Menelan hanya akan mendatangkan bisa. Agar kelak yang tertinggal di dalam sana hanyalah kenang-kenangan semata, dan bukan lagi cinta. Rahasia manis kita sudah bukan lagi berbentuk rahasia. Karena aku telah berhasil mengatasi dan mengeluarkan, Ari mungkin akan membaca ini dan aku lega karena tidak harus menatap matanya langsung ketika menyatakannya. Pengakuan bahwa namamu telah melewati batas izin tinggalnya, bahwa namamu hanya menyalakan ingatan samar semata, menyisakan tiga kata kunci yang mungkin akan tersimpan selamanya. Jembatan, malam dan hujan kecil-kecil. Tiga nama yang akan membawaku kembali pada ingatan tentangmu. Tapi kini Ari dan cetak birunya telah berhasil mengumpulkan banyak memori manis lainnya, tapi kini Ari dan cetak birunya telah berhasil mengumpulkan banyak kenangan di tempat yang sama. Namamu bukan lagi satu-satunya. Namamu bukan lagi yang paling istimewa. Jika memungkinkan aku ingin dengan benar mengucapkan selamat tinggal. Cara terakhir untuk melepaskan dan mengikhlaskan. Maaf jika membutuhkan waktu selama itu, selama ini aku hanya berpikir bahwa ikhlas tidak butuh pengucapan, ikhlas tidak memerlukan formalitas semacam jabat tangan. Dan aku salah. Cara terbaik untuk melepaskan adalah dengan mengucapkan selamat tinggal, cara terbaik untuk merelakan adalah dengan mengangkat dagu dan tangan, dan mengakui secara gamblang bahwa engkau telah berhasil melepaskan. 


Biarkan namamu membeku di rumah kecil ini. Tempat abadi di mana aku akan selalu kembali, kemanapun langkah membawaku pergi. Biarkan rahasia manis itu tertuangkan disini. Hanya sebagai penanda jika kelak kenangan tentangmu kembali menggoda, bahwa aku telah berhasil menuntaskan segalanya, memutus rantai suka yang tertanam semenjak pertama kali menemui senyuman di matamu, bahkan sebelum aku dengan resmi mengetahui namamu. 

Beberapa nama memang begitu layak untuk di jadikan bahan tulisan, beberapa yang lain kenangan tentang nama itulah yang layak mendapatkan tempat dalam tiap baris dan halaman catatan. 
Namamu mengekal di sini bersama tiga kata kunci yang selalu menyertai, jembatan, malam dan hujan kecil-kecil. 

Seperti juga rahasia manis itu, begitu juga rasa kagumku terhadap namamu. Aku ingin siapapun tahu, aku ingin siapapun membaca. Agar kelak tidak ada lagi rahasia yang tersisa di kedalaman sana. Agar kelak yang terkubur bersama waktu hanyalah kenangan samar tentang persahabatan manis kita yang telah berakhir dan lupa untuk ku tutup dengan ucapan selamat tinggal. Aku tidak mengharapkan retinamu membaca ini, atau tulisan-tulisan lain tentang pengakuan cintaku padamu. Kita akan menua dengan menggenggam ingatan yang berbeda. Dan di dalam kepalaku, ijinkan jembatan, malam dan hujan kecil-kecil yang menjadi penghuni tetapnya. Cara terbaik untuk tetap memilikimu tanpa harus menyakiti siapa-siapa. Hanya ingatan singkat tanpa kata penutup, hanya kenangan singkat tanpa judul. Itu saja. 

Kamis, 02 April 2020

Menyelami Kolam Ilusi

Sudah berapa kali tepatnya aku mengelak dari kalian? Sudah berapa kali tepatnya aku mengukuhkan niat untuk pergi dari kalian? Mudah untuk pergi sulit untuk pulang. 

Aku kira kehidupan akan berakhir landai ketika kita jatuh cinta dan terikat dengan seseorang. Aku kira kehidupan telah mencapai titik puncaknya ketika berhasil mengklaim diri bahwa kita bahagia. Tapi ternyata ada puncak lain yang harus di daki. Tapi ternyata ada lembah lain yang harus di seberangi. Karena menikah bukan hanya mengesahkan kegiatan tidur bersama pasangan di atas ranjang. Menikah berati ada tahap selanjutnya dalam kehidupan yang perlu di daki, menikah berati ada banyak ikatan yang harus di urus dan di perhatikan. Menikah berati menjaga banyak kepala dan banyak perasaan. Aku tidak tahu apakah aku siap untuk semuanya. Karena belakangan aku menyadari ada banyak luka yang lupa untuk di obati, ada banyak topeng yang harus di kenakan, ada banyak kompromi yang harus di selesaikan. Aku tidak tahu apakah aku siap untuk semuanya. 

Apa kalian tahu sesuatu? Ari mengajariku untuk tidak mengeluh, Ari mengajariku untuk menjadi yang terbaik dan memberikan yang terbaik. Dan di sinilah aku sekarang. Terseok dalam langkah sendiri. Mencoba bangkit dari keterpurukan. Dan kalian selalu ada di sana, untuk memberikan dukungan. Untuk memberikan ilusi akan adanya teman. 

Aku merisaukan banyak hal akhir-akhir ini. Belakangan ragaku di mana dan pikiranku di tempat yang berbeda. Aku merisaukan tentang banyak nama. Tentang Ari yang tengah berjuang di kejauhan sana, tentang kalian yang telah berhasil baik-baik saja, tentang Hara yang tulang di tubuhnya kian terasa dalam sentuhan, tentang rumah lain yang begitu kumimpikan. 
Ya, aku memendam keinginan satu itu. Bukan berati aku tidak mau bersama pengandungku. Bukan berati aku ingin melepas tanganku dari kewajiban menjaga mereka. Tapi ada hati yang selalu teriris sewaktu-waktu. Kalian paham benar bagaimana diriku. Manusia kaca yang memiliki potensi untuk pecah lebih cepat dari pada apapun. Manusia kaca yang memiliki kepekaan lebih ketimbang siapapun. Aku mudah terluka, aku mudah merasa sakit. Bahkan hanya dengan kata-kata, bahkan hanya dengan suara-suara. Keadaan yang terkadang membuatku ingin mengutuk siapapun yang berani menyentuhku sembarang, mengusir siapapun yang berani mendekatiku sembarang. Aku semenakutkan itu. Aku setajam dan serapuh itu. Dan mengungsikan diri dalam tempat terjauh dari peradaban adalah cita-cita terbesarku hingga saat ini. Aku hanya perlu membawa Ari, membawa Hara, dan kalian. 

Seseorang mungkin akan mengingatkan bagaimana sekian tahun lalu berkali-kali telah kusanggah kenyataan bahwa aku masih memiliki rasa untuk kalian. Seseorang mungkin akan melempariku kaca hingga aku dapat melihat seperti apa ujud si penjilat ludah sendiri satu ini. Tapi dengan Ari tak bisa ku bagi kerisauan ini. Tapi bersama Ari tak ingin kubagi beban ini. Aku pernah mengatakannya sekali, dan melakukannya lagi dan lagi hanya akan membuat Ari bosan dan terbebani. Dan di sinilah aku sekarang, duduk termangu bersama suara kalian. Kerisauan ini meluncur begitu tepat dengan di latar belakangi suara kalian. Nama-nama yang masih bercokol di dalam sana, menunggu untuk di datangi, meski harus di akui aku hanya datang ketika duka tengah melanda. Aku sebrengsek itu memang. Seseorang yang bahkan tidak pantas mendapat julukan teman. Seseorang yang bahkan tidak pantas untuk sekedar mendapat sapaan, karena aku akan otomatis menghilang jika dunia nyata tengah dalam kondisi baik-baik saja. 

Aku mengkhawatirkan banyak hal belakangan ini. Tentang berapa lama sisa hariku bersama Ari. Tentang siapa yang akan pergi lebih dulu, antara aku atau Ari. Wabah ini memutus jarak pandangku akan masa yang akan datang wabah ini membuat segalanya menjadi tak terduga. Dan aku takut karenanya. 

Kalian harus baik-baik saja, bukan untukku tapi untuk penggemar di luar sana yang tak pernah lelah dalam mendukung kalian. Kalian harus baik-baik saja, untuk mereka, para penggemar yang tak pernah merasa kecewa dengan segala keputusan dan kehidupan nyata kalian. Aku hanya hidup di bawah ilusi, aku hanya pantas tenggelam dalam dunia yang bahkan tidak pantas untuk di pertahankan. Pandanganku tentang dunia telah berubah kini. Tentang suara-suara, tentang bahasa-bahasa, dan kalian berjasa besar atas pelebaran sudut pandangku sejauh ini. Tidak ada yang kusesali selama ini. Pertemuan kita, momen jatuh cinta kita, hingga ketidakmampuanku menerima kenyataan bahwa kalian perlu mentas dari panggung hiburan. Sekali lagi kutegaskan bahwa aku hidup di bawah ilusi. Teruslah berjalan, tinggalkan saja aku bersama duniaku, seseorang yang bahkan tidak pantas mendapat predikat teman. Aku telah menemukan sumber bahagiaku. Dalam ujud seseorang. Tapi berbahagia bukan puncak dari kehidupan. Akan ada puncak lain yang harus kutaklukkan. Ada daratan lain yang perlu kudaki. Dan aku menggenggam ingatan tentang kalian, temanku melangkah dalam pekat yang enggan kumasuki bersama Ari. Dan aku menggenggam ingatan tentang kalian, bekal untuk mendaki puncak lain yang menunggu di depan sana. Maaf jika aku sebrengsek itu. 

Aku akan menua, dan kalian juga. Tapi ingatanku tentang kalian akan selamanya muda, tetap utuh dan tak tersentuh. Bahkan jika esok kalian telah melangkah dalam tahap hidup selanjutnya, bagiku dan kenanganku, kalian terawetkan dalan kesendirian sekaligus kebersamaan yang mengekal. Mungkin, jauh di dalam sana, inilah alasanku sebenarnya memutuskan untuk berhenti menjadi penggemar kalian sekian tahun dulu. Aku tidak ingin menodai ingatan tentang keutuhan kalian. Hatiku tidak di siapkan untuk melihat keretakan terlebih pemutusan ikatan. Aku tidak bisa dan tidak akan pernah siap. 

Terimakasih untuk kesediaan kalian menjadi pendengar. Terimakasih untuk keheningan yang berhasil kalian hantarkan hingga ujung paragraf ini. Ari tidak akan bisa senetral itu jika menjadi pendengar. Alasan kenapa beberapa hal lebih baik tidak kusampaikan padanya, sesuatu yang hanya bergejolak di dalam hati dan hanya membutuhkan jeda sunyi untuk membuatnya mereda. Emosi seperti itu, apakah kalian pernah terjebak di dalamnya? Dan suara-suara kalian menuntunku agar lebih gampang dalam menjabarkan. Terimakasih tak terhingga untuk bantuannya dalam menjaga kestabilan warasku. 

Aku akan datang lain waktu. Entah untuk pengaduan apalagi nanti. Tetaplah di sini, berenang dalam kolam ilusi. Sekeping dunia dimana hanya ada aku dan kalian dengan anggota penuh di dalamnya. Sekeping dunia dimana hanya ada mimpi dan harapan di dalamnya. Dimana kecewa dan kata akhir tak pernah eksis di dalamnya. Sekeping dunia dimana aku bisa berdiri dengan keutuhan nama dan melangkah dengan kakiku sendiri. Sesuatu yang telah lama kutinggal di belakang sana. Karena konon dalam sebuah pernikahan yang terpenting bukanlah tentang siapa kalian. Tapi yang terpenting adalah tentang bagaimana kalian bisa bertransformasi dalam banyak nama. Dan terkadang, aku merasa lelah dengan semuanya. Kepenatan yang tidak bisa di halau dengan ketelanjangan, hanya perlu berjalan menuju senyap dengan satu nama, dengan satu peran, satu identitas. Waktu ajaib untuk memulihkan diri dan memulai semuanya lagi.