Sabtu, 04 Oktober 2025

4

Aku mulai takut dengan diriku sendiri. Ada keinginan untuk terus menjauh, lalu pergi.

Ari. Bagaimana jika aku memilih menemuimu lebih cepat dari waktu yang di jadwalkan?

Ari. Pantaskah aku untuk bertahan?

Ari..

0410

Suatu hari aku bertanya pada seseorang yang kedekatannya hanya sejengkal dari nadi, "Menurutmu perlukah aku menikah lagi?"

Dia tertawa, "Ya!" Jawabnya dengan begitu pasti.

"Kenapa?" Tanyaku lagi.

"Supaya kamu punya teman."

Kali ini aku yang tertawa. Bagaimana jika yang kubutuhkan bukan teman? Tapi alasan, untuk hidup?

"Aku butuh alasan untuk tidak mati, karena rasa-rasanya akhir-akhir ini ajakan untuk itu makin intens dan itu membuatku ngeri, tidakkah sekarang saatnya aku mulai mengakui sedang butuh pertolongan?" Jawabanku tidak pernah melewati kerongkongan. Takut menyeretnya sekali lagi untuk peduli. 

410

Ada kegelapan di dalam kepalaku. Dia bersembunyi seperti bayangan. Rapi dan begitu teliti. Lain hari kukira kegelapan itu akhirnya pergi, lalu kemudian aku mendapati bahwa dia masih bercokol disana. Membisikkan kalimat yang sama.

Mari pergi.

Sabtu, 01 Februari 2025

Hari

Dear Ari, hari ini aku menyerah lagi.

Sesosok monster di dalam diriku mengaum lagi. Raungannya begitu keras dan memilukan. Sampai-sampai aku tidak bisa melawan. Hanya pasrah dan mendengarkan.

Dear Ari, hari ini aku merajuk lagi.

Sebongkah bara kembali menyengat kulitku. Padahal letaknya ada di dalam nadi, harusnya tidak sampai melukai permukaan kulit, tapi itu terjadi. Luka bakarnya sampai membuatku berair mata. Rasanya panas sekali.

Dear Ari, hari ini aku merayu lagi.

Agar semesta sanggup memutar kembali waktu dan sudi mengembalikan nyawamu. Agar maut tak kembali dengan keadaan sia-sia, aku rela mengikuti langkahnya, sebagai ganti karena telah menukar sanderanya, mengambil tempat disisinya, yang seharusnya di isi oleh dirimu.

Dear Ari, hari ini aku mengeluh lagi.

Sebongkah lelah tergusur dari tebing tinggi. Yang pucuk gunungnya sama sekali tidak tercapai mata. Aku tertimpa olehnya seketika. Meski mengaduh bukan kebiasaanku, tapi aku melakukannya, demi menggenapi kebutuhanku sebagai manusia.

Dear Ari, hari ini aku berserah lagi.

Berkali-kali menggumamkan nama-Nya seperti merapal sebuah mantra. Bertanya dan kembali bertanya. Kemana kiranya kapal koyak ini akan membawaku. Gelombang besar memecah bertubi-tubi, kayuku melapuk, awakku tak bersisa, sisa dayungku masih kokoh dan utuh, tapi tanganku tergetar oleh ketiadaan kuasa.

Dear Ari, masihkah engkau disana, memunguti setiap keluh kesahku. Karena jika engkau pergi, maka aku tidak akan berpikir ulang lagi dalam menemui Dia dengan inisiatif mandiri.

Dear Ari, menurutmu apalagi kini yang tersisa dariku.
Nadi-nadi menyala, nafas-nafas menguapkan api, aku remuk karena hantaman godam besi, seseorang telah menghancurkanku lewat jalur dalam. Pengecut sekali memang, tapi aku mengenali seseorang itu. Sangat mengenalnya. Dia adalah diriku sendiri.

Dear Ari, aku menenggak racun lagi hari ini.

Segelas piala dengan cairan berpendar di sodorkan di depan mataku. Cairan di dalamnya bening seperti kaca, jernih seperti pandangan. Aku tergoda untuk mencelupkan satu ruas jari hanya untuk mencicipi. Tapi rupanya bukan rasa manis yang menyambutku, itu kegetiran, jenis racun yang bekerja secara diam-diam, menipu semua calon korbannya dengan penampilannya yang begitu tenang.

Dan aku memainkan perjudian lagi kali ini. Kutenggak isi piala hingga tak bersisa. Kapan itu termulai dan kapan itu terakhiri, seolah tak ada yang mengerti. Semua hanya terjadi. Terjadi. 



02022025-


Senin, 06 Januari 2025

Bagaimana mungkin?

Malam ini aku bermimpi tentang kecelakaan seseorang. Kendaraan yang di gunakan remuk tak berbentuk, dan kendati dia sekarat dengan mengalami banyak sekali patah tulang, tapi dia masih hidup.

Disana aku tidak menangis. Hanya bersedih dan diselimuti kelegaan luar biasa. Bagaimana bisa ada jenis keajaiban semacam itu di dunia ini? 

Sabtu, 04 Januari 2025

Dear Ari

Dear Ari.

Aku kembali ke rumah kecil ini. Setelah sekian lama dan sekian waktu.

Pertama, izinkan aku berkata jika rindu itu masih ada. Meski kadang tersamarkan, namun tak pernah hilang.
Kedua, aku masih hidup sekarang. Ajaib sekali bukan? Setelah dihantam duka semendera itu. Setelah terpuruk sekejam itu. Dan aku masih tidak berteman. Seperti dugaanmu tentu saja.

Aku tidak tahu selama ini siapa yang telah kuajak berbicara mengenai duka-duka tentang namamu. Mungkin tembok, mungkin nyamuk, mungkin juga kemampuan bodohku mengarang cerita.

Aku menyamarkan keberadaanmu menjadi banyak nama. Mulai dari pangeran licin dari dunia Harry Potter, hingga artis legenda dari Korea.

Aku menjelmakan banyak kisah kita menjadi rupa-rupa judul, meski hampir kesemuanya  berisi sama. Kehilangan, trauma ditinggalkan, mimpi-mimpi terbengkalai, perjuangan.

Beberapa kali aku menyamarkanmu menjadi alam semesta dengan keindahan abadi yang kujabarkan dalam susunan kalimat sedemikian rupa.

Dan dari kesemuanya membuatku tersadar, bahwa satu-satunya hal yang kubutuhkan hanyalah berbicara.

Dear Ari.

Kau merindukan mereka? Karena mereka menabung rindu yang kian menggunung spesial hanya untukmu.

Beberapa kali si sulung menangis karena teman-temannya mencandai dirinya dengan sebutan anak yatim. Dan kau tahu apa tanggapanku? Tertawa.

Terlihat kejam. Tapi aku tidak bisa memberinya kebahagiaan palsu. Dia perlu tahu bahwa itulah dirinya. Cap istimewa yang hanya bisa di percayakan oleh Tuhan. Di kemudian hari, dia akan tetap mendengar bercandaan seperti itu, entah dari teman-teman, lingkungan atau dari orang tak di kenal. Jika hari ini aku marah, kemungkinan di kemudian hari dia juga akan marah ketika hal serupa kembali mendatanginya.

Aku ingin dia melihat, bahwa status istimewa itu tidak sembarang orang bisa menanggungnya. Tempat kita berat, tidak semua orang bisa menjalaninya. Bukan hanya beban soal besok kita mau makan apa, tapi juga beban bagaimana kita tumbuh kuat tanpa penopang lengkap.

Aku ingin si sulung menerima keadaannya. Itulah benang merah takdir yang diterimanya. Jika dia sendiri tidak bisa menerima, maka dia akan berakhir. Aku selalu ingin dia tumbuh dan berlanjut. Bukan berakhir.

Tidak usah ditanya seberapa keras aku menjeritkan tangis saat tengah menyuguhi tawa pada aduan si sulung saat itu. Tidak ada orang tua mana pun yang ingin melihat anaknya di anugerahi status satu itu. Tidak ada yang berbahagia juga. Tapi aku perlu mempersiapkan si sulung supaya menjadi sosok tegar kedepannya.

Dear Ari.

Menjadi orang tua tunggal itu berat. Sangat berat.

Suatu hari aku bangun dengan separo napas tertinggal di alam mimpi. Di lain hari aku tertinggal napas saat kebutuhan hidup mengajakku lomba lari.

Kepergianmu mengacaukan jalan pernapasanku. Padahal semua orang tahu, seberapa penting proses bernapas yang benar bagi keberlangsungan hidup seseorang.

Dear Ari.

Aku benci menjadi orang yang harus mengambil dan menanggung sebuah keputusan. Aku menakutkan terlalu banyak hal. Aku... Aku tidak sekuat itu mempertanggung jawabkan keputusan sekecil aapun yang pernah keluar dari mulutku.

Aku amnesia tentang cara menggantungkan hidup. Seringnya aku hanya bisa melayang tanpa daya begitu saja, di udara. Antara ingin terbang tapi tidak bisa, tapi menapak dengan tenang sudah tidak bisa kulakukan.

Aku... Seambigu itu.

Dear Ari.

Aku butuh bahu. Ada gumpalan beban yang menggayuti kedua pundakku. Rasanya melelahkan sekali. Sungguh. Bahkan jika di paksa memilih antara mematahkan kedua lengan hingga pangkal atau memilih bertahan, bisa jadi aku akan mengambil pilihan pertama. Hanya karena... Ini benar-benar terlalu berat dan melelahkan.

Dear Ari.

Kenapa namamu mengabu secepat itu?

Dear Ari.

....