Sabtu, 16 Januari 2016

Perburuan Kisah Berkarat

Kekasihku bergelantung manja dileher. Bertalikan pengalung warna hitam, menemaniku menjelajah hingga sudut tak terlewatkan. Medan terjal, jalanan terang, hingga tanah lapang yang kian menggulita seiring perputaran jarum jam adalah makanan. Aku yang bertugas merasai tiap keping perjalanan sedangkan kekasihku bertugas mengabadikannya menjadi lembar-lembar kenangan juga pembelajaran.
Petualangan kami tak pernah memiliki batas ataupun ruang. Setiap butir waktu adalah padi berharga yang tergantung malu-malu diujung tangkainya. Setiap satu saja tarikan nafas adalah kepulan panas yang dinantikan dan terbang manis diatas penanak nasi. Aku dan kekasihku mengemban misi memotret remah-remah tercecer yang tak mungkin mau dipungut oleh siapapun mereka. Mereka yang terlalu sibuk mencari dimana ujung bahagia dan pangkal nestapa.

.
.
.
Ia adalah sebuah alat pemotret. Benda yang kudapat dari nenek tua lewat perkataannya yang membangunkan titik sadar. Sebelumnya, aku tak pernah mempunyai kesempatan untuk memiliki apapun. Melalui nenek tua lah akhirnya aku terbangun dan mulai meramu sayang untuk benda yang kelak kuangkat ia pada titik setara kedudukan pacar. Kekasihku tak berkaki, ia hanya mampu berjalan jika leherku mau menampung beban lewat tali pengikatnya. Kekasihku tak bertangan, tapi ia mampu dengan tepat menunjukkan tempat dimana aku harus duduk, condong atau bahkan bersujud total. Kekasihku tak berhidung, letak penciumannya ada pada seberapa peka kulitku menyapa juga menjamahi tiap lekuk tubuhnya. Kekasihku memiliki mata, hanya mata. Ia mengajariku melihat, membaca dan juga memangsa.
.
.
Hari ini, aku dan kekasihku berburu potret pada kisah yang menumpang hidup pada sebuah nama. Sebuah kisah yang menyimpan nada sumbang disetiap tetes tinta salah satu paragrafnya. Sebuah kisah yang konon mengharamkan bagi siapapun untuk merangka lebih detail apa dan siapa yang telah membuat kisah itu sendiri sekarang berkarat dan mati. Aku mengenali nama dari pemilik kisah itu, ia sosok penuh misteri. Dan perburuan kali ini mengekalkan tekad milikku dan sang kekasih untuk bisa merekamnya secara detail dan tanpa penghalang. Mata lensaku menyukai petualangan, hari ini mungkin badanku tak harus tertelan lumpur dalam demi mengabadikan dengan cermatnya proses mengepaknya burung berbunyi sengak. Kekasihku tak harus berlumur dingin seperti ketika kami hendak mengabadikan tetes romantikal sebutih salju pertama. Perjalanan kami hari ini akan melalui rute yang berbeda. Terbang hanya akan menyia-nyiakan banyak kesempatan, mengarungi hanya akan membuat semua tanda tujuan justru hilang dan terlupakan. Hari ini kami menggunakan jalan dalam. Menyusup bak tikus liar diparit-parit hingga tanpa siapapun mengenali derap jejaknya. Aku dan kekasihku memulai dengan mengulik sebuah nama. Bukan nama yang asing. Bahkan aroma nafasnya masih bisa kubaui dengan baik. Penyusupan dimulai.
.
.
.
.
.
.
Satu hari..dua hari..tiga bulan..seperempat tahun berlalu. Tas selempang yang selama ini hanya tersampir dibahu sebagai formalitas saja akhirnya memiliki guna. Lensa pembidikku terlelap dalam senyum bangganya. Memotret selalu bisa menambah porsi bahagia.
Kisah itu dimulai dari pengejaan sebuah nama. Nama yang kelak hidup dalam pengajaran ketat sang waktu. Dilembar pertama, yang berhasil lensa pembidikku tangkap hanyalah ruangan hampa..aku tak mengenali dimana dan apa. Lembar kedua datang mengagetkanku. Inilah kisah yang mengarat itu, ia mati terkulai dengan damainya. Jejak-jejak tintanya mulai memudar tertimpa tetes air hujan. Kisah mengarat itu memperlihatkan sang empunya nama tengah dalam masa remuknya. Aku bisa merasa, pemotret tua yang setia bergelantung dileher berhasil menceritakan semuanya. Cinta, bahagia, obsesi, mimpi yang kemudian berganti menjadi marah, lelah, kecewa dan perasaan sia-sia.
.
Dear pemilik nama misterius, inikah kisah yang kau biarkan mati dan berkarat itu. Aku berhasil menyingkap tirainya sekalipun tetap banyak buram menghiasi sudut-sudut gambarnya. Aku masih bertanya, aku memiliki banyak tanya, ribuan tanya. Engkau pernah sejatuh itu ternyata, pernah pula engkau setenggelam itu. Keikhlasan yang terus engkau coba terapkan patut mendapat penghargaan. Karena bahkan sosok ratu dan malaikat pun berhasil dengan rela engkau lepas. Dear sebuah nama, jika bisa bagiku dan kekasihku menarik benang dari semuanya. Benar adanya memang jika waktu adalah pengajar terhebat sepanjang masa. Engkau pernah jatuh pada cinta yang tidak dangkal. Engkau pernah terlena pada kasih yang akarnya berserabutan. Namun akhir dari semuanya, engkau justru terpelanting dalam mimpi yang sama sekali tak disengaja. Dan engkau bertumbuh teramat kuat kini.
.
.
.
.
.
Petang menyapa dalam kecupan rinai hujan, kisah berkarat itu masih menjadi target perburuan yang menarik, sekalipun sampah tetaplah sampah tak peduli dimana mereka meringkuk. Kisah berkarat itu mungkin telah lama selesai. Aku tak lagi peduli. Tantangan hari ini selesai dan kami sangat merindukan kembali kepada alam.

Rabu, 13 Januari 2016

Lelaki Tertampan

Ia bukanlah jenis lelaki yang diidamkan banyak wanita. Kulitnya hitam akibat terlalu sering terpapar sinar matahari. Kakinya penuh bekas luka di kiri dan juga di kanan, entah itu karena jatuh atau tergores atau bekas alergi atau malah cinderamata dari panas knalpot si kuda besi. Bulatan matanya tidak begitu putih dan jernih, tapi bola kecil hitamnya menyimpan bongkahan banyak bara. Ditelapak tangannya terdapat banyak kapal, kulit mati yang kian mengeras dan menimbulkan efek aneh disaat telapak itu ia gunakan untuk meraba dan menyentuh. Keras yang akan mengingatkanmu pada masa-masa berseragam, keras yang terasa seperti gumpalan tanah liat kering ditelapak tangan sisa membuat prakarya. Mungkin seperti itu. Ia, aku tegaskan sekali lagi bukanlah jenis lelaki yang diperebutkan banyak wanita. Namun aku, manusia dengan jenis kelamin dipertanyakan ternyata berhasil ditaklukkannya.
.
.
Dulu, aku selalu memiliki anggapan bahwa lelaki tampan adalah mereka yang memiliki kulit putih dan semulus pualam. Mereka yang memiliki tatanan rambut menarik dengan sedikit lencir di ujung tengkuk. Mereka yang bermata putih yang saking jernihnya sanggup terpantul bayangan objek di depan lewat bola matanya. Aku selalu menganggap lelaki tampan ialah mereka yang berkaki jenjang, berbulu jarang, dengan kuku-kuku lentik bersih. Dulu aku selalu menganggap tampan adalah apa yang sanggup dicerna oleh retina, bukan apa yang dihasilkan dari perpaduan debat banyak indera. Dulu aku selalu berkhayal bisa menyentuh kulit-kulit bak pualam milik idola ternama, berkayal juga bisa meneliti setiap jengkal leher mulus mereka, menangkupnya dalam resapan jemari, membiarkan tangan-tanganku menikmati sajian halus yang sekali lagi kuibaratkan mirip pualam.
.
.
.
Dan itu adalah aku yang dulu, aku yang masih mencari jawaban kenapa aku ada, aku yang masih berkeliaran menangkapi ribuan tanda tanya. Sekarang, aku telah memiliki. Dengan bangga aku akan memamerkan diri bahwa aku telah memiliki. Lelakiku bukanlah jenis yang banyak diidamkan para wanita. Kulitnya legam, rambut ikal halus dan tak tertata, matanya hampir menyerupai warna abu, kakinya pun penuh cinderamata. Namun alam berhasil menyihirnya menjadi lelaki penuh misteri. Setidaknya sihir itu benar-benar bekerja padaku. Bagiku ia teramat tampan. Lelakiku adalah jenis yang hanya ada satu dialam ini, ia terlahir istimewa untuk menyempurnakanku. Untuk itulah aku tak pernah alpa mengucap syukur karena berhasil memilikinya. Aku tau, dari semua yang pernah kumiliki..dari yang tergenggam ataupun terikhlaskan. Dengan percaya diri kunyatakan bahwa aku masihlah yang paling beruntung diantara semuanya.
.
Namanya Ari. Ariku. Aku selalu suka memandangi kelopak matanya lama-lama, mengecupi hingga bibirku mati rasa. Binar retinanya selalu menyimpan bongkahan banyak bara. Memandanginya lama-lama sanggup menularkan asa, harap dan tak lupa juga kehangatan. Matanya adalah bagian terindah yang bisa kuapresiasi hingga saat ini. Sorotnya membuatku aman sekaligus nyaman, berada jauh dari mata itu selalu mendatangkan takut berlebih, khawatir tak beralasan. Aku selalu suka membenamkan mukaku dikerumunan helai ikal halusnya. Menyesapi aroma shampo yang tertinggal disana, menyisir helai itu hingga tengkuk dan membiarkan jemariku beristirahat dipangkalnya. Mendekapnya adalah hal terbaik yang pernah kulakukan hingga hari ini. Membiarkannya meringkuk dalam dekapan menghadirkan padaku perasaan agung melebihi jatuh cinta. Pernahkan engkau terhanyut pada perasaan hingga titik itu ?
Aku selalu suka menautkan jemariku pada jemarinya, menyalurkan energi baginya yang tak pernah sudi memperlihatkan luka. Aku tahu ia makhluk terkuat yang pernah kutemui. Jemari kasarnya selalu menyadarkanku lagi dan lagi bahwa aku adalah perempuan. Ya, alam selama ini mengombang-ambingkan pengetahuanku, terkadang aku merasa gagah seperti kaum adam, terkadang aku merasa jelita seperti halnya kaum hawa. Dan ia selalu berhasil membuatku merasa perempuan, ia selalu berhasil membuka tabir yang melumuti waktu bahwa aku sudah seharusnya memiliki kehalusan dan kelembutan seorang wanita yang selama ini sangat asing bagiku. Ia membuatku merasa sempurna.
.
.
.
Dulu aku menamai idola tampanku sebagai si malaikat tanpa sayap. Kini, ketika aku terbangun dari tidurku dan menyadari Ari berada lelap mendekapku, saat itulah aku merasa bahwa Tuhan begitu sayang kepadaku. Malaikat tanpa sayap tak lagi ada dalam format idola, ia hadir nyata. Dulu aku selalu bermimpi untuk bisa mengecupi iris karamel idolaku, kini lagi-lagi aku merasa Tuhan terlalu menyayangiku. Ari yang tengah terlelap lebih mendamaikan ketimbang memandangi air terjun niagara di seberang sana. Dulu aku selalu berdoa untuk bisa meski hanya satu kali saja melihat idola tampanku tanpa penghalang layar kaca. Dan kini, Ari bagiku adalah lelaki tertampan yang pernah berhasil kudekap erat-erat, lebih dari itu karena kini dan entah kapanpun nanti..aku telah berhasil memilikinya. Lelaki berhargaku. ARI. :-)

Selasa, 12 Januari 2016

Catatan Pendaki Gunung Amatiran

Aku melihat hijaunya batang padi ditengah sawah melambai. Gemericik suara sungai kecil dibawah kaki..jalanan yang tidak bisa dikatakan sempit untuk ukuran jalan menuju pemakaman. Kombinasi yang aneh, dari tempat dudukku sekarang hanya berjarak tak lebih dari satu kilometer menuju tempat pembaringan umat manusia. Disambungkan oleh jalan berbatu kasar, dikelilingi hijau sawah disepanjang mata memandang. Diujung penglihatan, tertangkap jalanan aspal beserta hilir mudik beban dibadannya. Kendaraan mengkerdilkan diri dari tempatku kini. Dan aku, aku duduk dipintu masuknya. Di salah satu bangku panjang di bawah naungan pohon bambu dan aliran sungai yang dibelah oleh kokohnya semen jembatan. Dengan sebuah buku bersampul hitam ditangan, "Kundalini". Ya, kundalini adalah salah satu metodi setara meditasi (mungkin, aku kurang begitu paham). Aku tengah berjuang menenangkan diri, memenangkan diri, menyembuhkan diri. Karena kemarin lusa, aku telah terluka..atau mungkin melukai..atau mungkin justru tengah berlatih mengoyak diri demi mengetes seberapa panjang batas tahan warasku. Dan alasan aku memilih berdiam diri disini sekarang adalah karena mungkin hanya disinilah satu-satunya tempat didunia dimana aku bisa melihat bukti betapa dunia ini sangat sempit. Dengan berada ditempat dudukku kini, aku sanggup mengapresiasi betapa indahnya alam ini..namun hanya dengan beberapa langkah saja, aku disodori tempat tidur terakhir dan terdamai yang justru tiket menuju kesana malah sangat ditakuti bagi sebagian manusia. Lucu bukan ? Dua medan yang tak lagi bertolak-tolakan. Tapi bersandingan, berjejeran saling mengingatkan manusia-manusia lupa. Terlepas dari alasan itu, adalah karena aku menyukai alam. Tempat dudukku sekarang sangat asri untuk disinggahi. Udaranya begitu membelai dan menyejukkan. Cocok untuk membangun konsentrasi memahami isi kundalini yang rencananya hendak kulahap dengan harapan sanggup mengenyangkan juga menambal dinding hati malang yang disetiap jengkalnya terdapat lubang bekas tusukan dan sayatan.
.
.
.
Aku tidak duduk hanya bersama kundalini ditangan sebenarnya. Tapi ada sosok disebelahku. Sosok kompleks yang keberadaannya sangat membingungkan. Sosok yang dalam satu waktu ingin kumasukkan ia ke dalam toples lalu mendekapnya dan membakarnya dalam waktu yang bersamaan. Tidak ada runutan antara mendekapnya dahulu lalu membakarnya, atau membakarnya lalu baru mendekapnya. Tidak. Aku ingin melakukan keduanya bersama dalam satu kerjapan mata. Ia adalah guru yang ingin terus kupuja, ia adalah kakak yang ingin terus kujaga, ia adalah sahabat yang ingin terus kuikat, ia adalah ibu yang ingin terus ku ingat, ia adalah musuh yang ingin terus kulihatnya menderita. Ia sekompleks itu. Tidak ada yang tahu...tapi pernah kuangkat bendera putih tanda menyerah pada kokohnya egoku demi bisa bersanding menggenggam tangannya. Tidak ada yang tahu...tapi pernah kuangkat ia menjadi setingkat lebih tinggi dari sekedar teman, yakni menjadi anggota keluarga. Tidak ada yang tahu...tapi pernah kuletakkan baki berisi bahagiaku tepat dikedua bola matanya.
.
.
.
.
.
Dan hari ini, lima tahun telah berlalu semenjak hari penyembuhanku bersama kundalini dikursi jembatan itu...aku ingin melepas kekompleksannya. Meletakkan ia pada posisi yang tak terduga. Aku hendak menyama ratakan ia seperti abu, yang akan habis termakan udara, yang akan habis dilahap cerobong asap atau dihisap indra pembau manusia. Siapa yang peduli ? Aku hanya menginginkannya pergi..bertahun-tahun menjejalkan ilmu ikhlas ternyata tak semulus yang diharapkan. Aku tidak berkata aku menyerah, aku juga tidak ingin mengklaim diri bahwa aku lelah. Aku hanya sadar bahwa didunia ini memang tak ada yang bisa tergenggam. Dunia ini penuh kabut. Ada saatnya aku harus memandang dalam jarak yang sangat dekat. Ada saatnya aku harus meracuni rongga paru-paru karena memenuhinya dengan kabut berracun. Ada saatnya juga aku harus paham dan melihat, bahwa aku hanya perlu untuk terus berjalan bukan malah berusaha menggenggam kabut dalam tangan. Aku mengibaratkan diri tengah mendaki gunung sekarang, kabut dikaki bukit telah tercemar..namun aku harus tetap menatap puncak. Setelah bebas dari kabut kaki gunung yang sempat menggoyangkan iman, kini saatnya aku menemui jalan baru. Mungkin akan berliku, mungkin juga penuh semak tajam, atau bahkan tak ada jalan lurus didepan sana. Tak ada yang tahu, tugasku hanyalah bernafas. Terus bernafas dan menggerakkan raga menapaki misteri yang terpampang didepan mata. Entah aku akan mati hilang nafas ditengah perjalanan atau akan mati di kawah gunungnya sekalipun, tak jadi soal. Yang terpenting sekarang aku telah bebas dari salah satu penggoda iman. Kaki gunung kini bisa dengan bebas kupandang. Aku pernah hampir terjebak dan memilih mati karena kabut tercemarnya. Aku pernah hampir pulang kerumah tanpa dapat apa-apa. Karena aku sadar, bahagiaku tak akan lengkap jika terus berkutat dikubangan kaki gunung berkabut. Untuk itulah aku memutuskan tetap bernafas dan berjalan.

Sabtu, 09 Januari 2016

Setoples Manisan

Mentari bersinar malu-malu diperaduan ufuk timur. Tanah lembab bersemburat manis menaburkan aroma khasnya. Hawa yang sangat cocok
untuk kembali meraih selimut dan menggumuli sisa-sisa mimpi.
Selamat pagi dunia. Selamat pagi teman kecil disurga. Pagi adalah kabut manis yang kedatangannya selalu dinanti, seperti juga
kehadiranmu yang tak pernah alpa disebut dalam doa.
Cakrawala aksaraku, betapapun luasnya, aku tahu tidak akan sampai untuk bisa terbang mengepakkan asanya menembusi langit dan menyampaikan salam hangatku pagi ini. Tapi tak mengapa, seperti halnya
doa, cakrawala milikku memiliki jalan dan caranya sendiri untuk bisa mengetuk setiap hati, terlebih untukmu yang masih berpangkat putih dan suci.
Malam tadi aku melukiskan banyak tentang engkau wahai yang masih tertitipkan.
Tentang bagaimana aku akan menamaimu, tentang apa yang akan ku persembahkan bagimu, dan tentang cinta yang tengah aku dan kepingan pasku persiapkan demi membantumu berkembang dan menjadi manusia. Andai
engkau tahu, sengatan-sengatan kecil kebahagiaan memberondong inchi
demi inchi hati disetiap aku menyebut namamu. Lihat ? Sebelum engkau berujud nyata pun aku sudah direngkuh perasaan bahagia. Sanggupkah aku
ditelan perasaan yang membeludak ketika engkau nanti benaran sudah datang dipangkuan ?
.
.
.
-
.
.
.
Dear kepingan pas milikku, Tuhan akan mendengar doamu, cepat atau
lambat hanyalah soal kesabaranmu. Ia akan datang sayang, teman kecil
kita. Peri mungil yang sekarang masih bersembunyi di surga. Ia akan
datang dengan membawa segala kemisteriusan dan keajaibannya. Ia akan
bangun dan mendatangi kita tanpa dugaan sebelumnya.
Aku mulai meraba seperti apa ujudnya. Lengkung mata yang indah, semburat-semburat manis di lesung pipinya. Lihat sayang, ia benaran
racikan pas dari perpaduan kita.
.
.
.
-
.
.
.
Burung berkicau mesra menyambutku membuka jendela. Udara pagi
mengantri tertib memasuki paru-paru. Terasa sangat nikmat bahkan ketika sadar aku tak memiliki uang, udara pagi tetaplah makanan lezat
yang akan membuat dunia sempurna.
Apa yang harus dirisaukan ? Seperti juga pagi yang menyapa diujung hari, aku juga sempurna dalam penantian ini. Menyadari malaikat telah datang ada dan melindungiku. Menyadari peri kecil tengah tertidur
lelap di surga menanti waktu yang tepat untuk datang kepangkuan. Aku
tahu, keputusanku melepas masa lajang beberapa bulan lalu adalah tiket untuk melepaskan diri dari pengapnya dunia. Karena setelahnya, melalui ruang gelap sekalipun sanggup kulihat surga. Kebahagiaan ini, ingin kutuang semanis mungkin dalam secawan judul. Memolesi dinding cakrawala dengan sebanyak mungkin percikan kembang
api diujung kepala. Berharap siapapun yang berkunjung sanggup mendulang juga bahagia yang disuguhkan. Setoples manisan dalam ujud
ketikan. Menyapa, merangkul lidah-lidah bertuan untuk sanggup betah dalam masa perjamuan.
Selamat datang.

Senin, 21 Desember 2015

Kamu

Aku tidak memiliki tempat untuk berbagi jika itu adalah tentangmu.
Aku tidak memiliki pendengar untuk sekedar melegakan jika itu adalah tentangmu.
Karena burukmu adalah sesuatu yang harus kudekap.
Karena burukmu adalah sesuatu yang harus kutelan.
Karena burukmu adalah burukku juga semenjak kita terikat satu.
Bagaimana bisa kubiarkan siapapun tahu tentang celah kurangmu.
Bagaimana bisa...sedangkan celahmu adalah sebagian dari kurangku.

Minggu, 20 Desember 2015

Lighters dan Aku

Pertengahan 2012,
.
.
.
.
.
.
Lighters
.
.
Kau mengenal lagu ini ? Kau menyukainya ?
Apa kau juga merasakan sebuah kedamaian lebih dari dentingan piano yang tersamarkan oleh suara cepatnya Eminem ?
Kau tidak akan menyadari betapa nada-nada -yang tersamarkan- itu benar-benar melemparkan rintik kecil bernama air yang perlahan meresap melalui dinding-dindingbercelah saluran sel darah bernama hati.
Denting-dentingtersamarkan yang selalu membuatku seperti terlempar pada jurang yang paling mendasar, sebuah perasaan yang teramat halus dimana tak ada sebuah kata apalagi sesosok tangan yang bisa menyentuhnya.
Sebuah perasaan yang ketika itu terusik maka akan menciptakan sebuah petaka batin yang tak terselesaikan.
Kau akan mengetahui itu dalam situasi yang berbeda mungkin.
.
.
Disana, diantara denting-dentingtersamarkan itu, bahkan aku seperti tengah mendengar sebuah lolongan,
sebuah kepasrahan yang tak terselesaikan. Bukan sebuah teriakan, hanya sayup-sayup kecil penuh syarat.
Aku tau suara itu tidak ada..bahkan ketika aku membuat semacam riset terhadap beberapa telinga, dan jawabannya sangat mencengangkan, suara ? denting piano ? yang mereka dengar hanyalah berisiknya si rapper itu. Mereka menganggapku berhalusinasi untuk suara penuh syarat itu,
dan berakhir pada aku yang akan memilih terdiam kini. Jangan mengatakan telingaku juga memiliki perbedaan. Sebut saja mereka yang tak mendengar suara itu. Aku juga terkadang tidak mendengarnya, hanya ketika hatiku tengah berada dalam jangkauan ketenangan paling akutlah suara itu akan teraba.
.
.
.
Apa yang ingin ku ketik sekarang ? terlalu banyak yang ingin ku sampaikan hingga semuanya membias dan menghilang, aku membenci saat-saat seperti ini.
Aku hanya tengah merasa.. sebuah mimpi telah menjeratku dengan rantai waktu yang tak mengenal akhir. Sebuah pelemparan sembarang akan pengarahan pola pikir terrencana tapi penuh halusi.
.
.
Pemenang, apa yang kau artikan dalam sebuah kata pemenang ? ataukah dia yang mengangkat trofi berkilau emas, ataukah dia yang berhasil memeluk dengan erat sesuatu yang menjadi objek berharga itu ?
"Pemenang adalah dia yang berhasil memiliki hatiku" itu kalimat yang keluar dari mulut seorang Cho Kyuhyun.
Aku sepenuhnya menyetujui kalimat itu..tapi dalam artian yang lain, ketika aku berhasil memenangkan hatiku sendiri, maka saat itulah aku berhak berteriak aku pemenang !
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan sebuah kekeringan pun datang. Sebuah musim yang selalu berhasil membuatku terjebak dalam masa keruntuhan karena dinginnya. Aku benci musim kemarau, aku membencinya karena dia selalu menghadirkan dingin terbaik daripada musim lain yang menghadirkannya.
Aku membenci itu sama halnya ketika aku membenci bahkan mengutuk sendiri karena tak dapat menghentikan diri dari sebuah ketercanduan.
Aku berkata aku berhenti untuk melakukan hal paling menyenangkan itu, berhenti memandang tetes demi tetes aliran kehidupan yang tejilat dengan penuh napsunya oleh lidah-lidah tajam itu.
Aku berjanji aku akan berhenti pada mereka -tanpa mereka tau sebuah janji itu yang tengah membantuku berhenti- dan kemudian perlahan mereka mati..ataukah aku justru yang membunuh diri sendiri ? Aku tidak yakin,
mereka tidak memahami ini bahkan ketika aku telah mengatakannya, mereka tidak mengetahui dan tetap tidak tau apa-apa sampai mungkin nanti lidah tajam
akan mengatakan kepada mereka dengan teramat gamblang alasannya. Dan karena ini hidup, akan selalu ada yang mati bukan ?
Kebingungan ini, kesendirian yang tak pernah untuk seseorang bisa memasukan dalam kamus hidup mereka. Sebuah kesunyian yang selalu sukses tertuang dengan indah dan rapi dalam sebuah cerita, ataukah sebuah perasaan yang terwakili oleh senyapnya dentingan piano yang tersamarkan dalam sebuah komposisi bernama lighters. Kehidupan ini melahirkanku, dan setelahnya mereka membunuhku.
Aku benaran tidak yakin tengah menyelami kehidupan yang seperti apa. Aku tidak tau bahwa akan ada sebuah emosi yang membuat aliran darah menuju jantung terasa seperti tersumbat seperti ini.
Aku tidak pernah mendapatkan sesuatu, sekalipun hanya memegangnya, dan salahkan saja perasaan ini yang dengan sepenuhnya merasakan telah memiliki mereka dengan sepenuhnya.
Salahkan saja hembusan waktu yang juga telah menyematkan sebuah kata dalam tanda petik, bahwa kenyataan memang ditakdirkan untuk hidup lebih lama dari pada aku , yang notabene bernafas dari pada kenyataan itu sendiri.
.
.
.
.
Perasaan ini, kembali menyudutkan aku pada sebuah pagi yang penuh dengan aroma ketakutan disudut kamar pengap dan teracak dengan sangat sempurna. Perasaan ini, kembali melemparku dalam pagi dimana sebuah tangis menyergapku tanpa sebuah kata permisi sebelumnya. Dan pada akhirnya, biarkan aku merangkak menangis untuk meminta siapapun membiarkanku mengubur kembali dari telapak tangan yang dingin ini sampai berakhir pada tak terlihatnya aku.. seluruh tubuhku.

Selasa, 01 Desember 2015

Celoteh Sang Pemenang

Usia kita terpaut hanya beberapa tahun saja. Dilihat dari kecakapanmu berceloteh, sanggup kusimpulkan bahwa engkau mengenal isi dunia ini lebih jauh dan lebih luas daripada aku. Tapi pepatah sang bijak tak pernah salah, bahwa jam terbang adalah kendaraan paling baik demi memberi pengalaman. Dan dengan izin alam, aku menang. Atas sekian tahun milikku yang terpaut diatasmu. Hari ini aku tidak ingin berbicara tentang alam, malam, ataupun tentang cicak di dinding kamar. Tapi tentang engkau atau beberapa makhluk yang setara denganmu.
.
.
.
Sekalipun jika rasa percaya akan adanya teman adalah sesuatu yang mustahal. Tapi tidak bisa dipungkiri jika dunia ini terlalu luas untuk bisa ditaklukkan sendiri. Ya, sekalipun aku tidak bisa percaya pada kata 'teman' atau bahkan memilikinya. Tapi..tetap saja, Tuhan tak akan membiarkan aku tertatih sendiri di kehidupan yang membingungkan ini. Dengan segala ketidakrelaan, kubiarkan satu demi satu nama terpikat pada(entah apa)ku. Dan mengikat satu kata 'teman'. Dirimu termasuk dalam daftar yang tertarik untuk menjadikanku teman.
.
.
.
.
Selamat datang. Engkau dengan segala ketidaktahuanmu tentang aku, tentang darah apa yang mengiliri hingga berbagai penjuru selku, atau tentang siapa sebenarnya yang memakai topeng sebagai aku. Engkau hanya bisa bertindak sebagai manusia normal, yang menyamaratakan segala jenis raga. Dan aku membenci ketidaktahuanmu itu. Tapi memang siapa aku ? Hingga engkau dituntut untuk bisa serinci itu tahu tentangku ? Lihat betapa ini sangat menggelikan. Aku ingin tertawa. Dari segala probabilitas yang mungkin bisa kau temui didunia ini. Dan itu aku, kenapa harus aku ? manusia yang menganggap dirinya istimewa, padahal sesungguhnya ia tak lebih dari seorang anomali. Dan kau terlena dengan keanomalianku, mungkinkah ?
.
.
.
.
Aku tidak memilihmu, seperti aku tidak memilih siapapun diantara beberapa mereka. Engkau datang dengan kerelaan, bukankah ?
Dan ketika datang hari dimana topengku terjatuh, terkuaklah siapa diriku. Dan engkau mulai membenciku ? Menyalahkan aku, mengarang sebait cerita seakan-akan aku telah melakukan pengkhianatan besar abad ini. Oh dewa...aku pemenang. Lupakah kau untuk satu garis takdir itu ? Aku pemenang, untuk sekian tahun milikku yang terpaut diatasmu.
.
.
Bahkan jika aku terlahir kemarin sore, akan kupastikan benar bahwa beberapa baris kata yang kuyakini sebenarnya adalah mantra. Bahwasanya, hanya aku dan Tuhan..dua-duanya yang bisa kupercayai didunia ini. Hanya aku teman terbaikku didunia ini. Tidak ada makhluk yang akan sanggup menjabat kedudukan itu selain diriku. Hanya diriku.
.
.
.
Engkau mungkin akan bertanya, aku ini makhluk apa. Bukankah ?
Tidak, jangan kau putar lagu yang sama seperti yang mereka selalu lakukan sebelumnya. Aku hanyalah aku. Yang sadar mempesona namun tak ingin terikat dengan judul apapun. Aku adalah aku. Yang sadar istimewa namun tak ingin digurui oleh siapapun.
.
.
.
Dunia begitu membosankan teman. Tidak, bukan karena aku membenci adanya kehidupan. Aku hanya merasakan jenuh pada para pecundang-pecundang dalam balutan dandanan menor, pada para bajingan. Dan mungkin kau termasuk dalam jajaran mereka teman. Aku berkata jujur, dan kau mengerikan.
.
.
.
Nama-nama menyimpan mantra. Dan dari sekian ribu pilihan yang disediakan, kenapa juga tanah harus menjadi yang menarik bagi mereka ? Untukku pula . Mungkinkah jika mereka telah mengetahui bahwa aku bukan manusia biasa bahkan sebelum aku sempat menginjak tanah ? Kenapa tanah ? Karena mereka berharap aku akan siap ? Karena mereka berharap aku akan manut ? Manut untuk dijadikan dasar. Siap untuk dibentuk, digali, ditumpuk dan bahkan diinjak ?
Bagi siapapun yang tak paham, termasuk engkau. Mungkin akan mendeskripsikan tanah hanyalah sedangkal itu. Kalian tak paham. Bahwa aku juga mempunyai tugas untuk melumat. Tak peduli seberapa dalam kalian bersembunyi, kuasaku akan terus membayangi. Dalam tanganmu, aku bisa hadir dalam ujud lucu. Dengan kakimu, aku sanggup terpijaki sekuat itu. Dengan kekuatanmu, aku bisa menjadi apapun yang kiranya sanggup memenuhi harapan dan hasratmu. Tapi dalam kuasa dan mantra yang dibekalkan padaku, engkau dan mereka semua tak akan pernah bisa menolak dan lepas dari tangan, ketika aku mulai jengah, ketika aku mulai paham kenyataan, ketika aku mulai sadar.
.
.
.
Bukan aku yang memilihmu. Bukan aku yang memaksamu. Tapi ketidaktahuanmulah yang aku benci. Tapi ketidaktahuanmulah yang ingin ku maki. Dalam gelap, dalam terang. Aku sanggup menelan, meluluhlantahkan. Tanpa seizinmu sekalipun, karena aku adalah yang ditakdirkan menang. Aku pemenang, untuk sekian tahun yang terpaut diatasmu.
Andai ada satu pertanyaan yang kuingin kalian jawab tanpa harus melewati proses gila, pasti adalah sebuah tebakan asal. Berapa usiaku ?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pada kenyataannya. Ketidaktahuan, terkadang memang lebih berarti dari segalanya.