Senin, 23 Maret 2020

Sembunyi dan Temukan

Aku harus memulai ini dari mana? Ketakutan yang memuncak sebelum waktunya, atau menjabarkan kesedihan yang kian menumpuk dan kelegaan yang enggan untuk menemui?

Aku hampir lupa seperti apa indahnya warna langit di siang hari. Aku hampir lupa pada wangi yang selalu meruap di bawa sang mentari pagi. Aku bahkan benar-benar lupa bagaimana caranya terlelap tanpa harus lebih dulu merinding ngeri dengan kemungkinan-kemungkinan akan masa yang akan datang. 
Di masa yang sulit ini, semua orang mendadak menjadi peramal. Menakutkan masa depan, selalu memandang suram selagi matahari masih sama bersemangatnya untuk bersinar seperti hari-hari indah di belakang. 
Satu yang pasti adalah aku hampir tidak bisa mencerna apa itu makna dari kata tenang. Jangankan untuk menerapkan, memahami kata itu saja hampir membuat linglung tanpa bisa menangkap maksudnya. Tenang. Satu kata yang selalu di suntikkan kepada semua yang bisa mendengar dari awal perjalananmu oleh si bontot yang kini terseok menanti yang terburuk menjelang. Tenang. Satu kata yang selalu di harapkan Ari bisa menyumpal ketegangan yang selalu merangsek keluar dari si bayi besar satu ini. 
Seseorang, siapapun tolong ajarkan aku untuk mengerti bagaimana untuk menjadi tenang. 

Namamu kian di santer terdengar di berbagai sudut daratan di muka bumi ini. Namamu kian menjadi momok yang menghantui di setiap ujung bumi. Sampai-sampai aku hampir takut, rasa takut itu yang akan menghabisi lebih banyak orang ketimbang sentuhan mautmu itu. 

Aku sedang mengoreksi pemikiranku tentang tulisan yang lalu, bagaimana dulu aku mempunyai niat ingin menjadi temanmu. Disaat semua nama yang masuk dalam jajaran kata berhargaku mulai engkau intai dan ikuti. Tidak, engkau mengikuti langkah semua orang kini, tidak peduli siapa dan dimana. 

Teror ini mencemaskan dengan sedemikian rupa, hingga aku hampir-hampir lupa tentang cara paling mustajab dari semuanya, yakni menyerahkan segalanya pada yang Maha Berkuasa. Kecemasan ini menggerogoti waras dan nalarku sedemikianan rupa. Tentang bagaimana Ari akan pulang, tentang di mana Ari seharusnya tinggal, tentang bagaimana aku harus mengkhawatirkan langkah Hara dan semua orang. 
Seseorang, siapapun tolong bantu aku untuk memahami satu kata kunci, tenang. 


Aku berhenti mengikuti pemberitaan lain, ketika di segala jendela akan pengetahuanku tentang dunia luar mendadak hanya memiliki satu jalan, yakni menujumu, menuju namamu. Engkau benar-benar sepopuler itu. Selamat. 

Aku merasa ngeri jika harus memikirkan kita akan menjadi teman seperti yang pernah ku ucapkan dulu, ketika menyentuhmu adalah hal terakhir yang mungkin bisa kulakukan. Lalu bagaimana caranya kita bisa berteman jika bersentuhan pun akan menjadi momen untuk mengakhiri satu sama lain? Bisakah aku mengakhirimu? Siapakah yang akan menjadi penemu dari masa akhirmu? Kenapa dia tak kunjung datang? Tolong, tapi aku terjebak bersama si bontot yang di ramalkan akan memiliki akhir paling panjang. 

Fokus menjadi hal lain yang selalu sulit kulakukan akhir-akhir ini. 
Menjauhi segala hal tentangmu mungkin ide yang bagus. Tapi aku perlu tahu, segala sesuatu tentangmu berhubungan erat dengan Ari, bagaimana bisa aku melepasmu begitu saja? Aku jarang sekali meminta pada siapapun, tapi tolong, jangan dekap Ari dalam pelukanmu. 
Hara tengah menunggu uluranku, kesediaanku untuk bergabung dengan permainannya, sembunyi dan temukan. Salah satu permainan yang paling di sukainya, dia akan selalu tertawa lepas ketika kejutan demi kejutan datang menghampirinya, menemukannya, dimanapun dia bersembunyi di seluruh sudut rumah ini. 
Tapi ada satu yang selalu menjadi titik khas dari hara ketika melakukan sembunyi dan temukan ini. Yakni kebiasaannya untuk muncul terlebih dahulu bahkan sebelum si pencari benar-benar mengerahkan kemampuan maksimalnya untuk mencari. Dia mempunyai cara tersendiri untuk mengagetkan si pencari. Membalas keterkejutannya akan temuan-temuan yang selalu bisa menangkapnya dimanapun dia bersembunyi. 

Dan aku merasakan sisi lucu dari ironi yang tengah mengurung kita. Aku dan namamu, si kandidat teman yang sekarang tengah terjebak dalam sebuah permainan, sembunyi dan temukan. 
Aku tidak tahu, dalam kasus kita siapa yang akan lebih dulu memberikan kejutan. Di saat Ari masih enggan untuk pulang, di saat namamu kian mendekat ke permukiman dimana aku tengah meringkuk dan berdiam. 
Aku akan menemukan cara, tentang bagaimana terlepas dari rasa takut dan cemas yang memiliki puncak landai dan bukannya meruncing seperti puncak-puncak pada umumnya. 
Aku akan menggenggam lagi kewarasan yang tengah hilang itu. Engkau akan terkejut nanti dengan kegaranganku menantangmu. Aku berpredikat seorang ibu sekarang, ada kemustahilan yang telah kucapai sebelum ini, aku pernah berada di ujung maut juga sebelum ini. Dan jika ini bisa membuatmu terkejut, tapi aku juga pernah bosan dengan kehidupan ini, meski itu ada pada jauh, pada waktu di belakang yang telah tertinggal jauh. Kedatanganmu mungkin saja akan kusambut, tergantung dengan cara apa engkau mengetuk pintu nanti. 

Pelangi mungkin tengah kehilangan kepercayaan dirinya untuk bisa memukau manusia saat-saat ini. Bahkan bintang mungkin tengah dalam masa terpuruk karena untuk sekali ini manusia gagal mencapainya untuk bisa menggantungkan harapan dan menempelkan mimpi. Semua cahaya mendadak hanya mengeluarkan nyala samar. Dingin tengah mengetuk semua pintu. Kabut tengah membungkam birunya langit agar berhenti sejenak memberi terang dan nyala pengharapan. Hanya menyisakan pagi dengan embun baru yang tak pernah gagal menyelipkan asa di setiap tetesannya. Hanya menyisakan pagi dengan nyala tersembunyi di setiap hati manusia. Tentang kepasrahan unik mereka pada Sang Pencipta. Yang menciptakan dan mengakhiri segala denyut di muka bumi ini. 

Jika aku bisa bertanya untuk satu hal saja, seberapa besar hasratmu untuk menelan sebenarnya? Sudah mencapai angka fantastis kini dan ufuk pagi sepertinya masih jauh di depan sana, di tempat di mana jam-jam tak berhasil menyentuhnya. Apakah sebesar itu nafsumu untuk meluluh lantahkan? Tidakkah engkau ingin sejenak saja berhenti untuk merasa terkejut pada kesiapan yang muncul di hati setiap orang? Tidakkah engkau ingin sejenak saja berhenti dan bertanya pada tanah apakah ia sudah muak menelan raga-raga dengan banyak bekas kecupan milikmu? Sekali lagi jika ini bisa membuatmu terkejut, tapi seseorang yang mengulurkan tangan dan memintamu menjadi teman ini kebetulan bernama tanah, dan aku hampir sepenuhnya mual dengan angka-angka tentang raga yang pergi karena terkena sentuhan. Sentuhan milikmu. 

Sekarang hampir tak ada jendela yang terbuka tanpa menyuguhkan pemandangan tentang korban-korbanmu, sekarang hampir tak ada jendela yang terbuka tanpa menolehkan wajah kearahmu. Engkau benar-benar semenarik itu. Aku terkejut kepopuleranmu melejit begitu cepat dalam hitungan jari saja. 
Bagaimana aku akan mengakhiri tulisan ini sekarang? Bagaimana aku akan mencapai titik tanpa lebih dulu mengoyak pertahanan? Tapi jujur saja, aku mendapatkan sedikit terang sekarang. Bukan lagi gulita yang mencengkeramku, apalagi pengap yang menekan pernapasan. Jika Hara saja bisa keluar dari persembunyian untuk memberi kejutan lebih dulu pada si pencari, lalu kenapa aku tidak bisa? Mungkin akan membutuhkan beribu-ribu halaman untuk mencapainya, mungkin akan membutuhkan berlapis-lapis keberanian untuk menemukannya, tapi aku rindu akan tawa meledak yang mengisi bumi ini. Kegelapan yang menekan telah menghilangkan begitu saja keceriaan isi bumi. Dan aku merindukan keheningan menenangkan yang selalu di sajikan oleh alam, bahkan bisa di temui di setiap persimpangan dan ujung jalan. Keheningan yang menenangkan dan bukannya hening yang mencengkeram. 
Bukan butiran pil yang akan menghempaskanmu dari muka bumi ini. Tapi keteguhan hati akan kerinduan pada tawa di udara. Dan aku percaya hati manusia di ciptakan sedemikian istimewa untuk bisa menciptakan kejutan bagi makhluk mungil sepertimu. Dan ya, masih ada Sang Pencipta di atas segala yang pernah tercipta. Sang Penolong bagi segala yang tak pernah tertolong. Terang yang menyisir kabut hingga celah tersempit sekalipun. Karena setiap yang tersembunyi pasti akan di temukan. Karena di setiap permainan sembunyi dan temukan akan selalu ada kejutan. Bedanya hanya pada siapa yang akan memberikan kejutan terlebih dahulu. Harapan yang di balut kepasrahan atau maut dengan hobi memeluk dan memberi kecupan. 

Senin, 09 Maret 2020

Tentang Menyerupai Manusia

Aku keluar dari selimut beku setelah sekian lama. Melalui cahaya biru yang sinarnya hanya menyirami sisi bumi bagian tertentu saja. Aku terlahir dari balutan kepompong semesta hanya dengan mengikuti sinarnya. Cahaya ungu yang kilaunya selalu jatuh lebih dulu ketimbang kilatan gunturnya. 

Telanjang, dan kemanapun mata memandang tidak pernah kutemui deru napas menghadang. 
Telanjang, dan kemanapun kaki melangkah tidak pernah kutemui detak jantung menyapu daratan. 

Terlahir ke samsara pernah menjadi hal yang ku cita-citakan ketika masih berada dalam embrio. Melebur pernah menjadi harapan yang terus berpacu bersama detak nadi agar kehadirannya cepat terwujud. Dan hari ini datang, ketika bebatan kain yang selama ini membalut akhirnya melonggarkan diri dan melepaskan.  Aku terlahir untuk dunia yang begitu senyap, aku terlahir pada dunia dengan di sambut semburat ungu dan biru yang berkilau terang di hamparan langit. Keindahan tak terperi pertama yang menyita perhatian dan lamunanku. Tapi berdiam diri bukanlah tujuanku. Aku harus melangkah, aku harus menemukan, aku harus mencari. 

Malu tidak pernah menjadi daftarku, urat satu itu sudah ada di dalam sana namun masih belum menunjukkan diri apa fungsi dan kegunaannya. Aku berlari, menyongsong butir-butir embun yang membanjiri penglihatan. Dingin adalah definisi pertama yang ingin kusampaikan. Seluruh tubuhku memerah seketika. Kebekuan tidak hanya memampatkan pernapasan, tapi juga merebus permukaan kulitku dalam kedinginan tak terkira. Tapi tak ada waktu untuk berhenti, atau sekedar menghangatkan diri. Tapi tak ada waktu untuk berhenti atau sekedar memikirkan nyala api. Pucuk-pucuk daun menyapa kulit, menghantarkan ucapan selamat datang bagi diriku seorang. Dimana peradaban? Dimana kehidupan? Harus berapa banyak langkah lagi aku mengarungi ketidak pastian hanya untuk menemukan keduanya. Aku terengah, napasku tercekat, selain dua sinar menakjubkan biru dan ungu di awal ku membuka mata, ternyata semesta pun memiliki cara unik tersendiri untuk menyambut para tamunya. Dan tetes-tetes embun yang menyentuhku secara berkala menjadi keajaiban selanjutnya. Kemurnian yang begitu agung. Ketenangan yang begitu alami. Seperti inilah bentuk semesta yang selama ini kudamba dan kurakit dalam setiap untaian mimpi. Oh, betapa aku telah terkenyangkan dalam seketika. 

Semakin jauh kakiku melangkah, menyusuri rerimbunan tanpa setapak, kebekuan yang semula menggigit perlahan melonggarkan cengkeramannya. Ada hangat samar yang perlahan melingkupi, aku mungkin sudah berjalan cukup jauh sekarang, hingga akhirnya kutemukan peradaban, hingga akhirnya kutemukan kehidupan. Dan di depan sana semua yang kucari terserak rapi dan mengagumkan. Inilah kehidupan. Inilah peradaban. Selamat datang. 


Aku mulai mengamati mereka, tentang bagaimana cara mereka menutupi ketelanjangan, bagaimana cara mereka mengenakan topeng, bagaimana mereka bercengkerama dengan sesamanya. Untuk melebur dalam sebuah kaum bukankah kita harus menyerupai mereka? Dan aku melakukannya. Topeng terbentuk seketika di tangan, untaian ribu benang menenun gaun panjang berwarna putih tulang, aku merasa hangat dalam kungkungannya, kehangatan yang samar. Aku menyerupai mereka namun ada hal yang sama sekali tidak bisa kulakukan. Yakni mengenakan topeng. Aku terlahir dengan raut tanpa ada emosi yang bisa tertuang di sana. Tidak ada gambaran, tidak ada antusias, sedih ataupun sebaliknya. Sementara peradaban di sana berjalan dengan satu topeng konstan yang merata, yakni menunjukkan raut bahagia. Di antara begitu banyak racikan emosi yang pernah ada, dan mereka memilih untuk mengenakan topeng satu itu. Entah kenapa. 

Gemerisik gaun sewarna tulangku adalah satu-satunya penanda bahwa ada kehidupan di sana, sekarang aku tahu apa yang kurang dari penyamaan misi ini, menapakkan kaki dan membuat kebisingan dari setiap langkah yang di buatnya. Dan voila, aku berhasil mengimitasi keberisikan cara berjalan mereka.
Sebentar lagi dan aku akan menemukan sesuatu yang selama ini kucari. 
Sebentar lagi dan aku akan menemukan sesuatu yang selama ini menghilang. 
Sebentar lagi semua tujuanku terlahir ke dunia akhirnya menemukan alasannya.
Menjadi manusia yang benar-benar manusia.


Harapan melambung begitu cepat seiring kebisingan yang hinggap di indra pendengaran.
Aku sampai pada tujuan, namun masih berada di ujung mulut dari keseluruhan harapan. 
Anak kecil berambut hitam legam adalah yang pertama menyadari keberadaanku. Matanya menunjukkan keterkejutan, tapi kemudian senyum kecilnya mulai menyambutku. Untuk sesaat aku merasa aman.
Aku melenggang sehalus yang bisa kuamati dan kupraktekkan. Aku melangkah seberisik mungkin agar bisa menyaru dengan manusia-manusia sekitar. Bibirku menyunggingkan senyum semanis yang bisa di kerahkan. Di perpotongan jalan tadi aku menyerah dan membuang begitu saja topeng yang harusnya kukenakan, jika manusia terbiasa dengan topeng berwajahkan bahagia kenapa mereka tidak bisa menerima kehadiranku yang tanpa raut apa-apa? Ya, emosi bukan bagian dari diriku tapi aku akan berusaha.

Seperti ini rupanya wajah kehidupan, seperti ini ternyata raut peradaban. Manusia-manusia begitu manis, begitu mengejutkan dengan keramahan dan keterbukaannya. Aku menangkap banyak sekali emosi yang terbang di udara, tapi seberapapun kuatnya mereka, hanya ada tawa dan senyum manis yang terus menyerbu pandangan. Oh dunia, setebal ini ternyata topeng yang di kenakan manusia. Koki dari dapur agung yang mengolah begitu banyak perasaan, sayang hanya hidangan penutup yang bisa mereka sajikan. Makanan manis dan kelebihan manis yang terutama sekali sangat dipuja dan selalu di sukai oleh anak-anak. 

Aku terlena seketika. Untuk sesaat aku merasa telah menjadi manusia seutuhnya, mulutku akan menarik bibirnya otomatis begitu retinaku bertabrakan dengan milik manusia lain. Untuk sesaat aku merasa bahagia, emosi samar yang tertangkap karena terbawa euforia. Untuk sesaat aku merasa telah di terima sebagai manusia seutuhnya, ketika yang membedakanku dengan manusia-manusia lain hanyalah rambut sewarna platinum dan gaun berwarna putih tulang milikku saja. 
Aku melangkah dengan begitu alami seperti telah kutapaki bumi ini sekian waktu lamanya. Dan meski terkadang kutangkap tatapan yang secara sembunyi-sembunyi di lemparkan padaku, aku tidak melihat ancaman dari semuanya. Langit benar-benar berhujankan rantai emosi penuh warna-warni dan dari kesemuanya sulit untuk merunut dan mengungkapkan apakah benar-benar ada bahaya di sekitar. 

Oh langit, oh bumi, demi pohon tertua di bumi ini, dan dari semua yang pernah kutemui kenapa pandanganku selalu tertuju pada satu hal itu saja? alam semesta yang begitu mempesona, dan sepertinya aku jatuh cinta pada hampir separuh isinya. Bintang yang bersinar di tengah gelap yang kian memekat. Mentari yang membanjiri seluruh daratan tanpa terkecuali. Refleksi jatuhnya kegelapan yang terpantul di kejernihan danau malam. Jalanan lengang yang panjang berliku membelah perkebunan padang canola berwarna cerah. Bahkan aku jatuh cinta pada ilalang yang tumbuh liar di tanah bekas perkebunan. 
Makhluk tanpa emosi yang dulu selalu mempertanyakan seperti apa kehidupan dan peradaban perlahan mulai menikmati jalan menemukan jawaban. Kulit pucat yang dulu hampir-hampir terlihat transparan di awal kelahiran mulai menunjukkan pigmen-pigmen warna. Hangus bukan kata yang tepat, tapi sinar mentari jelas bertanggung jawab banyak akan perubahan warna kulitku. 

Sekian lama membaur dengan manusia, berupaya menyerupai mereka, membuatku hampir lupa tentang darah apa yang mengalir di bawah lapisan kulit ari. Dan manusia membangunkan keterlenaanku hampir sekian tahun sejak waktu kedatangan. Ya, aku hampir linglung dengan konsep waktu yang di usung manusia. Dalam balutan kepompong semesta waktu tidak memiliki sekat, apa itu jam, apa itu hari, apa itu bulan dan tahun, semua terlewati dalam satu dua masa penuh emas dan musim yang abadi. Realisasinya adalah kemarin ketika langit tengah bermandikan warna biru tanpa sedikitpun lompokan awan. Beberapa manusia datang bertamu dengan membawa seonggok senyuman dangkal. Topeng masih setia menempeli wajah mereka, tapi di udara berhasil kupilin garis emosi bercampurkan sedikit bahaya. Entah hal apa yang kiranya mereka bawa, namun sedikit antisipasi perlahan merangkak naik ke permukaan. Terjadinya begitu cepat ketika kudapati diri manusia-manusia itu ambruk seketika di hadapanku. Total kuhitung ada tiga manusia yang tergeletak begitu saja, tanpa nyawa, tanpa baret luka. 

Aku menyalahi aturan, aku tahu bahwa keberadaanku sudah tidak lagi aman. Manusia-manusia malang itu mencoba menggali emosi yang tak pernah ada, manusia-manusia malang itu mencoba mengorek informasi tentang keaslian diriku. Hingga tanpa sadar aku bertransformasi menjadi sesuatu bercakar yang tidak pernah siapapun duga akan ada dalam diriku. Ujud lain yang aku sendiripun tidak tahu. 

Aku berlari menembus kegelapan yang datang tiba-tiba. Gaunku terciprati banyak lumpur yang kubangannya tak sengaja terinjak langkah kaki. Dalam waktu singkat aku berhasil melihat pilinan jaring tebal mengangkasa, menyaingi gelapnya awan di atas sana. Aku melihat kemarahan, sesuatu yang jarang sekali kulihat dari manusia-manusia bertopeng wajah bahagia. Aku melihat kebengisan menyapu daratan. Catatan perjalananku sebagai manusia tidak pernah menuliskan tentang betapa mengerikannya emosi manusia satu itu. Dan aku begitu terhenyak untuk sekian waktu. 
Aku belum lulus benar dalam mempelajari konsep salah dan benar dalam peradaban manusia. Tapi aku meyakini bahwa keputusan ketiga manusia itu untuk menggali emosi dalam diriku bukanlah sesuatu yang bijak apalagi tepat. Aku mengabaikan tentang penyamaran, aku mengabaikan tentang kebingungan, kemarahan dan kepanikan yang tengah melanda bumi. Fokusku kini hanya satu, mencari ujung tangga yang akan membawaku kembali menuju pelukan semesta. Kepompong abadi yang konon di sebut manusia sebagai surga. Dan aku menemukannya. 


Kepada daun-daun sewarna emas yang berjatuhan di pangkaun, kepada mereka kisah singkatku sebagai manusia mulai mengalir perlahan. 
Aku telah di beri kesempatan, untuk melebur, untuk membaur, untuk menyerupai. Peradaban dan kehidupan yang selama ini kukira akan begitu dramatis dan menakjubkan justru membawa banyak sekali kejutan. Menemukan diri kembali telanjang seperti menghadirkan sengatan. Manusia-manusia bumi berhasil menorehkan sedikit jejak emosi dalam waktu singkat. Aku kembali menjadi si makhluk tanpa gambaran, tanpa emosi, tanpa antisipasi. Senyum yang sekian waktu terukir konstan di wajah tidak meninggalkan jejak sama sekali. Aku benar-benar telah kembali. 


Kehidupan manusia layaknya sekelumit mimpi yang datang di sela-sela tidur panjang. Suatu saat meski entah kapan siapapun akan mengakhirinya, siapapun akan terjaga. Peradaban dan kehidupan. Aku muak dengan topeng-topeng itu, merasa bisa mencopot kesemuanya dari setiap wajah yang kutemui, hanya agar bisa melihat dengan pasti perasaan mereka tanpa harus ada yang di sembunyikan dan di tutup-tutupi. Kebenaran yang mereka dengar dan punya adalah sesuatu samar yang letaknya begitu dangkal, siapapun bisa melihat, siapapun bisa memindah letakkan, siapapun bisa membalik dan membuangnya. Kebahagiaan yang mengelilingi mereka tidak cukup untuk mengajari bahwa sesuatu yang murni tidak selalu harus berwarna putih dan jernih. Terkadang hitam dan telanjanglah yang menjadi pemenang meski podium tidak pernah mengijinkan keduanya untuk naik ke atas dan mengangkat trofinya. Manusia tidak mengenal warna transparan, alasan kenapa kedatanganku di bumi membutuhkan sebuah gaun, selain agar kedatanganku di terima juga untuk membentuk sebuah nyata yang bisa masuk dalam kategori mereka. 

Aku merasa muak dengan senyum-senyum itu. Lengkungan bibir yang tidak menyampaikan kebenaran apa-apa. Ketika aku mengira bisa mengelabui manusia dengan menyamai mereka, nyatanya tidak semudah itu. Manusia menangkap gelagatku yang kian menyimpang dari kebiasaan mereka. Tentang kenapa aku selalu menghindari kerumunan, tentang kenapa aku selalu menghindari adanya keramaian. Peradaban sebenarnya yang menyimpan perisai kasat mata, dan hatiku melarang untuk mendekatinya. 
Alasan lain untuk menghindari terkuaknya fakta tentang siapa diriku sebenarnya. Cukup tiga raga yang menjadi penanda bahwa aku bukan manusia seutuhnya, cukup tiga raga untuk membuatku berhenti melakukan perjalanan dan pencarian tentang adanya kehidupan dan peradaban. Karena aku telah menemukan, pemahaman bahwa sebaik apapun aku menyamai manusia, meniru kebiasaan-kebiasaannya, darah di balik kulit ari tidak bisa membohongi, bahwa aku bukan bagian dari mereka. 

Kamis, 05 Maret 2020

Aku, Batu, dan Namaku

Beberapa manusia menyerupai kayu, yang mudah basah ketika hujan namun cepat kering ketika matahari datang. Dan ketika api menyapa secepat itu pula dia menyambarnya. 
Beberapa yang lain menyerupai batu, tidak peduli seberapa keras hujan dan terik mengguyuri dirinya, dia akan tetap keras seperti itu, tak tersentuh apalagi berubah. 

Aku adalah salah satu yang menyerupai batu. Terlahir dari seseorang yang murni manusia dan di namai tanah. Entah filosofi apa yang terpikirkan oleh pengandungku saat itu, tapi yang pasti aku bertumbuh sejalur dengan nama yang di sematkan oleh mereka di awal perjalanan. Terinjak, dan menjadi pijakan. Ya, aku mengalami keduanya secara bersama-sama. Masa kecil yang di harapkan bisa membawa keceriaan di dalamnya, ternyata hanya menyisakan aku dengan rasa malu yang sedikit berada di bawah garis standar. Pengandungku dengan secara gamblang dan menyatakan sedini mungkin tentang siapa dirinya, siapa diriku, dan siapa mereka. Tunduk menjadi sesuatu yang sulit di cerna saat itu, tapi kepalaku terus di paksa agar melakukannya tidak peduli apa arti dan tujuannya. Pengandungku benar-benar sesiap itu membentuk diriku agar bisa sejajar dengan dirinya. 
Tumbuh lebih besar membawa keliaran di setiap langkahku. Aku mulai bisa mempertanyakan, aku mulai bisa mengatakan tidak, namun jawaban yang selalu kutunggu dan kucari tak pernah datang dengan gamblang dan segera. Aku harus menunggu lebih dari sekedar lama untuk mengetahui apa sebenarnya makna terselubung di balik tunduk yang selalu di jejalkan kedalam kepalaku. Awal mula terbentuknya batu di dalam diriku, meski saat itu aku justru menyalahi artinya sebagai calon lahirnya bibit kayu. Aku berontak, tidak mengerti harus menjadi siapa diriku saat itu, tidak ada panutan yang bisa membimbing langkahku, karena jujur saja aku tidak pernah melihat siapa-siapa, efek pelajaran tunduk yang terlalu dini membuatku takut untuk melihat sekitar, kemanapun mata memandang hanya ada tanah dan jangkauan satu langkah di depan kakiku sendiri. Tunduk, bisakah aku mengutuk keberadaannya? 
Tentang namaku memang ada filosofi yang terkandung di dalamnya, aku menyadari itu ketika benar-benar telah tumbuh dewasa. Selain menjadi tempat berpijak dan terinjak, adalagi sesuatu istimewa yang dimiliki oleh tanah, yakni menjadi dasar bagi adanya kehidupan. Tidak peduli seberapa tingginya seseorang, tidak peduli seberapa besarnya dia, tanah tetaplah landasan bagi semuanya. Awal dan akhir adanya kehidupan, tempat berpasrah bagi raga-raga yang telah padam, tempat terakhir bagi nyawa-nyawa yang tak lagi memiliki cahaya. 
Dan meresapi semua itu membuatku akhirnya bisa menikmati kutukan yang selama ini selalu hadir di tengah-tengah serapah panjangku. Tunduk yang begitu telaten mengajarkan. Ada hal penting yang lupa untuk ku buka tutup sajinya, yakni tentang sebuah pandangan. Pengandungku sepertinya paham benar tentang bibit-bibit batu yang akan tumbuh di dalam diriku, bahwa kenyataan tentang menjadi batu yang meski terlihat diam dan tak bergerak namun juga terdapat fakta lain yang menyelubunginya, yakni tentang kekuatannya untuk menyakiti, tentang kebisuannya, tentang tak ketersentuhannya. Pengandungku secara tidak sengaja mengantisipasi segalanya sedemikian rupa. Di jadikanlah tunduk sebagai pelajaran sekaligus pengajar pertamaku. Di jadikanlah tunduk sebagai remah roti yang di harapkan bisa menyumpal mulut sekaligus mengenyangkanku. Karena pengandungku mungkin memahami ini, bahwa ketika sebuah batu mulai membuka mulut dan mengeluarkan suaranya, bukan keindahan yang dapat diperdengarkan, tapi serapah dan sekali lagi serapah. Itu saja. 

Oh, aku ingin menangis sekarang, batu yang selama ini kuagung-agungkan keberadaannya, batu yang tidak hanya kupoles namun juga kukubur dalam-dalam lewat namaku agar tak seorangpun mencium betapa keras dan tak tersentuhnya dia. Namun kenyataannya tak ada raga yang sanggup mengubur dirinya sendiri tanpa bantuan, tanpa terlihat oleh sekitar. 

Batu dan tanah tidak di takdirkan untuk bisa berkombinasi hingga bisa menciptakan identitas baru. Batu dan tanah memiliki entitas kuat di dalam diri masing-masing, dan menyatukan keduanya hanya akan membuat benturan baru, peperangan tiada akhir. 
Dan kata itulah yang menggambarkan tumbuh kembangku hingga hari ini. Kemanapun kaki melangkah tak pernah kutemui jawaban atas segala pertanyaan yang memenuhi angka-angka hidupku. Tentang kenapa harus menjadi batu dan bukan kayu, tentang kenapa harus tanah dan bukan api. Pertanyaan yang jawabannya menghilang ditelan kesunyian dan kegelapan. Aku terlalu takut untuk membuka kunci keduanya, lebih memilih untuk tidak mengetahui apa-apa ketimbang harus bertamu pada keduanya. 
Namun hari ini, di tengah kepungan keramaian sayup-sayup, di tengah tangisan yang terasa kian menghambar, aku, manusia perpaduan batu dan tanah, yang tidak pernah menemui jawaban tapi akhirnya bisa terkenyangkan dengan pemikiran dan kesadaran, terimakasih semesta, untuk tamparan dan pemahamannya. 

Jika kita tidak bisa menerima diri sendiri bagaimana manusia lain akan menerimanya? Aku sudah mengetahui tentang perihal nama, perihal tentang berperan sebagai apa diriku di dunia. Tengah belajar dan sepertinya selamanya akan berada di tahap itu untuk bisa menerima dan menikmatinya. Dan manusia di luar sana menuntut terlalu banyak dariku, menuntut agar aku bisa sejajar dan bisa menjadi senormal mereka. Ini terasa seperti kamu adalah seekor katak yang di paksa menjadi peserta di arena pacuan kuda. Lompatanku tidak akan bisa menyamai langkah mereka, jangkauanku berada jauh dari yang di harapkan, tapi satu yang mereka benar-benar lupa, bahwa katak dan kuda bahkan di gariskan untuk hidup di dua dunia yang berbeda. Aku tidak bisa, dan manusia tidak bisa memahami jawaban tidak. 

Dear tanah, siapapun kamu nanti atau sekarang, bahkan jika sampai akhir ternyata dirimu tetap tak di kenal namun tetap menjadi pijakan, bisakah kita bersalaman dan menjadi teman? Aku tahu seperti apa pahit dan keluasan dirimu. Aku bahkan satu-satunya yang paham tentang betapa berat dan langkanya menjadi dirimu. Aku ingin engkau tahu, bahwa jika di sodori pilihan, akupun ingin menjadi kayu, yang suatu saat akan bertemu api lalu terbakar dan menjadi abu, untuk sesaat di terbangkan angin sebelum akhirnya jatuh kepelukanmu, satu-satunya tempat yang bersedia menjadi penampungku. Satu-satunya tempat yang memang di sediakan semesta untuk menjadi tempat peristirahatanku. Sedangkan menjadi batu, selamanya aku hanya akan menjadi beban untukmu, di biarkan menghalangi langkah pejalan, di telan pun hanya menyamarkan keberadaanku dari pandangan. Aku benar-benar tercipta untuk menjadi semengganggu itu. Alasan kenapa hanya segelintir saja di antara ribuan yang di gariskan untuk menjadi seperti aku. Menjadi batu. 

Dear tanah, keluasanmu mungkin bisa menempatkanku di daratan mana saja yang benaran jauh dari jangkauan, keluasanmu mungkin bisa saja menyembunyikanku bahkan di relung terdalam, tapi apa aku tidak seberharga itu untuk terlihat dan di perjuangkan? Aku bahkan ingin mengutuk siapapun yang bertanggung jawab akan diriku, tapi semesta adalah hal baik, memberinya serapah bukan hal yang bagus untuk di lakukan. Bahkan ketika manusia-manusia lain tidak menerima perpaduan kita berdua dalam satu raga, serapah masihlah hal yang tidak bagus untuk di ucapkan. 
Aku sekompromi itu untuk keberadaan kita, dan manusia-manusia lain yang tidak memiliki andil apa-apa, hanya bertugas mengamati dan mengomentari, mereka bahkan tidak mau repot-repot untuk mengerti dan menerima. Hanya menerima dan raga ini masih menerima cela. 

Kepada raga yang mungkin pernah merasa ingin menyerah pada adanya kehidupan. Jika bisa, aku ingin meminta maaf untuk pertemuan batu dan tanah di dalammu. Dirimu mengandung identitas yang sulit untuk di ajak berbagi rasa dalam setiap kesempatan. Dirimu bahkan mengandung jawaban yang sulit untuk di terima dengan akal. Tapi demi dirimu, aku dan tanah akan mencoba untuk sejajar dengan baik-baik saja, tapi demi dirimu aku dan tanah pun akan mencoba untuk belajar tunduk agar kita benar-benar berjalan sejajar. Tumbuh lah lebih lama dan lebih tegar dari semuanya. Karena dirimu memang terlahir untuk menjadi berbeda. Bahkan ketika seluruh dunia mengabaikan dan hanya mencela, bahkan ketika seisi dunia tidak bisa menerima, ketahuilah bahwa akan selalu ada tanah yang siap untuk menghibur dan mengubur, ketahuilah bahwa ada batu yang akan selalu sedia untuk menjadi bantal dan penopang. Berhenti untuk ragu dan tersenyumlah, selalu ada dirimu yang menjadi teman terbaikmu. Selalu. 

Rabu, 04 Maret 2020

Berjalan

Aku berjalan keluar pekarangan, berharap jalanan yang dingin bisa menangkapku tanpa kami harus terlebih dulu bersentuhan. 
Aku berjalan menuju langit gelap tanpa kerlip bintang, berharap kesenyapannya bisa membiusku tanpa kami harus terlebih dulu beririsan. 
Aku mencari dan terus mencari tempat terbaik bagi makhluk yang tidak pernah bisa bertahan pada adanya sentuhan, irisan. 

Bahkan ketika sayapku mulai mengembang, menerbangkanku menuju awan, di sana masih ada bulir-bulir air yang akan menyiramiku dengan begitu ganas dan tanpa ampunan. 

Kemana, harus melangkah kemana hati yang tak pernah bisa berteman? Harus melangkah kemana kaki yang selalu enggan menemui adanya pertemuan?

Dingin, udara dari segala penjuru sepertinya berkomplot untuk menyerbu di manapun aku berdiam. Tak ada celah, apalagi ruang. Semua terkurung dalam ujung saluran mampat yang memblokir segala jalan.

Aku berharap bisa memiliki rumah dimana di dalamnya tak ada kompromi, tak ada pengertian. Yang ada hanyalah tangan terbuka, siap memeluk apa saja, siap menelan apa saja. 
Tapi memiliki rumah seperti itu membutuhkan lebih dari sekedar harga mahal. Tapi memiliki rumah seperti itu membutuhkan lebih dari sekedar pengorbanan. 
Aku terbaring dengan mata terpejam erat, berharap dengan menutup mata bisa sekaligus menutup semua pintu pengantar rasa. Tapi satu, dan hanya satu yang tak pernah bisa terdiam sepanjang waktu, bahkan ketika tengah terlelap dia masih bisa menelusup masuk lewat mimpi tanpa ucapan. Sebuah nama yang mendiami isi kepala, berlarian dari satu ujung sel ke ujung sel yang lainnya, berenang-renang dengan tanpa beban dari satu aliran darah menuju cekungan di sisi lainnya. Sebuah mulut yang tidak pernah bisa di bungkam meski segala daya dan cara telah di kerahkan. Dia yang bertanggung jawab atas segala karut marutnya indra perasa yang menempel di sekujur tubuh. Dia yang menciptakan perasaan anti sentuhan, perasaan anti irisan. 

Jalanan tidak akan pernah terdengar lengang lagi sekarang, langit gelap tidak akan pernah terlihat sunyi lagi mulai sekarang. Karena dia yang begitu rapuh seperti mekarnya bunga ilalang dewasa, yang akan pergi begitu angin datang, yang akan meluruhkan diri ketika terkena sentuhan. 
Kaca masih beruntung karena memiliki volume untuk menahan beberapa beban, setidaknya tidak ada kaca yang akan pecah karena kejatuhan daun kering. Dan dia lebih berbahaya dari sekedar itu. Dia lebih rapuh dari sekedar semua itu.

Ketika semua daratan di bumi ini mendadak memiliki kerikil di atas permukaannya. Ketika semua benda di bumi ini mendadak memiliki ujung lancip pecahan kaca, saat itulah aku ingin menangis, meraung hingga tergugu, menyadari kenyataan bahkan dia yang berdiam di ujung kepalaku sendiri tak bisa kurengkuh, kutenangkan, apalagi kumenangkan. Hanya aku dan dia, yang memahami betapa sangat menyiksanya keadaan ini, betapa berbahayanya hidup ini sebenarnya. 

Aku berjalan gontai menuju arah yang tak di rencanakan. Hanya melangkah, dan terus melakukannya. Mati rasa bukan pilihan yang terbaik, tapi bahkan kita tidak pernah bisa memilih efek samping apa yang akan di bawa oleh sebuah kejadian. Dan aku mengalaminya. Perasaan pertama yang datang begitu kuat dan hadir secara konstan dari waktu yang terlupakan hingga waktu yang bisa di kenang. Aku mengalaminya atau mungkin memilih, lebih tepatnya.

Beberapa tempat yang kudatangi menguarkan aroma tak terbendung, yang membuatku harus mengeluarkan isi perut seketika. Beberapa yang lain bisa melakukannya hanya dengan melalui pandangan saja. Lambungku baret saat itu juga. 

Aku ingin menundukkan kepala, menengadah membuatku buta, aku bahkan ingin menghentikan langkah, tidak terjatuh, tapi juga tidak berada dalam dekapan apa-apa. Perasaan telanjang saja tidak cukupan untuk merangkum semua keinginanku. Lalu jika telanjang saja tidak bisa, hal lebih polos apalagi yang bisa mengungkapkannya? 

Rumah oh rumah, betapa aku sangat mendambamu, tempat dimana aku bisa melepaskan pundak dan memereteli bagian tubuh lainnya untuk di letakkan di meja dan di istirahatkan barang sebentar saja. Rumah oh rumah, betapa aku sangat mengharapkan ujudnya menjadi nyata. Aku tidak membutuhkan bangunan, ataupun raga. Aku tidak membutuhkan pekarangan ataupun belas kasihan. Aku bahkan tidak membutuhkan semua hal yang di angan-angan kan oleh begitu banyak orang. Hanya kekuatan untuk menelan, hanya keinginan untuk melahap. Itu saja.

Jika aku menyerah, apa kiranya hal yang akan menjemputku? Identitas baru? Ataukah kekuatan baru? Jika aku ingin melebur bersama kelopak bunga ilalang dewasa, kira-kira apa hal terbaik yang bisa kuterima? Jatuh ke tanah lalu terinjak oleh siapapun yang melewatinya? Atau terbang jauh mengelilingi lautan awan? 
Bahkan bangunan terkuat pun terkadang ingin meruntuhkan dirinya sendiri kadang-kadang. 

Aku menemukan cahaya di pertigaan kedua. Dia datang menawariku bangku peristirahatan. Mencoba mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan sebelum akhirnya dia menyadari bahwa akulah si tak tersentuh, sebuah nama yang begitu ingin di hindarinya. Rautnya menunjukkan ketertarikan untuk mengetahui alasan kenapa aku terlunta di telan gelap. Di balik keengganannya bahkan tidak bisa dipungkiri bahwa dia benar-benar ingin mengetahui kenapa aku berkeliaran sebegitu jauh dari pekarangan. Tapi aku tak memiliki jawaban. Meski kerongkonganku gatal untuk melepaskan arus yang tertahan, tapi tetap tak ada kata-kata yang bisa keluar untuk menjelaskan. Bahkan cahaya pun enggan menyertai kebekuanku. Bahkan cahaya pun enggan melumatku menjadi serpihan kunang. Satu lagi alasanku untuk tidak bersentuhan, satu lagi alasanku untuk kian memeluk pekat. 

Darah, oh darah. Masihkah engkau di sana? Mengangkut segala bara yang tersisa? Karena jujur saja aku lupa kapan terakhir kali merasakan hangat yang membanjur di setiap helaan napas. Darah, oh darah. Masihkah engkau di sana? Memompa tempat yang selalu haus akan adanya tekanan? Karena jujur saja aku lupa kapan terakhir kali merasakan getaran di setiap deguban.
Darah, oh darah. Tolong jangan melarikan diri dari tanggung jawabmu. Tolong penuhi semua tugas dan kewajibanmu. Tak apa jika aku tak pernah lagi merasakan getaran, tak apa jika aku berhenti menerima sentuhan apalagi kehangatan. Karena mati rasa telah menguasaiku. Karena mati rasa telah memilih untuk mendekap erat telapak tanganku. Bersama kami akan melayang, pergi kemanapun tempat di mana tak ada sentuhan yang akan membuatku terluka sampai menitikkan air mata. Bersama kami akan menghilang, di telan apapun yang tak pernah melayangkan protes apalagi keluhan. Karena jujur saja aku sudah sampai pada tahap putus asa. Untuk mengerti, untuk memahami, untuk mencoba. 

Sabtu, 29 Februari 2020

Surat Kepada Kandidat Teman

Engkau hadir bak bulir air yang jatuh dari langit di penghujung musim kemarau. Engkau bahkan lebih dari itu, gerakmu melaju seperti angin yang tertiup kipas raksasa. Kuyup bukan kata yang tepat, karena engkau datang dan pergi tanpa menyisakan apa-apa, bahkan kata-kata. 

Aku takut tentu saja, bahkan sebelum kedatanganmu menjadi nyata engkau telah menyebar teror sedemkian rupa.
Bisakah kita menjadi teman? Tidakkah engkau ingin sejenak saja menghentikan langkahmu untuk sekedar mengistirahatkan diri atau membuka telinga dan mata bagi mereka yang telah banyak melihat dan mengalami kehilangan? Tidakkah engkau ingin tahu mimpi apa saja yang harus hanyut paksa karena serbuan tanpa peringatanmu? Aku berada di sini, jauh dari jangkauanmu dan tengah tergugu membayangkan betapa meriahnya pesta yang engkau mulai di pembukaan tahun ini. 
Sekali lagi aku ingin menjabat tanganmu dan bertanya, bisakah kita menjadi teman? Mari masuk dan menjelajahi gorong-gorong waktu dari perjalananku yang telah lalu. Aku memiliki banyak orang istimewa di luaran sana, yang nyawanya memiliki urat penyambung khusus dengan nyawaku. Sehingga apapun yang melukai mereka akan terhubung juga rasa sakitnya padaku. Aku memiliki mimpi yang setiap harinya tengah bertumbuh dan akan terus bertumbuh. Gadis kecil yang begitu kusayangi dan kucintai dengan segenap jiwa, raga dan juga hati. Memperbaiki dunia adalah cita-cita terbesar yang pernah terucap dan terpikirkan olehku hanya agar kelak dia bisa memiliki kedamaian jalan, hanya agar kelak dia bisa berjalan tanpa harus terperosok dalam jurang yang selalu menganga di tiap tikungan. Aku bahkan masih belum menentukan tentang keinginan agar gadis kecilku tumbuh besar menjadi dan seperti apa. Karena kedatanganmu perlahan mengaburkan semuanya. Ya, engkau yang hingga hari ini di harapkan masih belum menyentuh daratan dimana aku dan seluruh keluargaku tengah berpijak. Semua cerita dan derita yang datang bersamamu sampai lebih dulu di daratan ini. Dan sekali lagi kutegaskan bahwa aku takut. 

Semua orang bertanya-tanya tentang obat apa yang bisa memadamkan api dari pesta poramu. Sebagian masih mencari jalan tentang bagaimana caranya agar tidak sampai bertatap muka denganmu, sebagian yang lain pergi begitu saja dari dunia tanpa sempat melambaikan tangan, tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal setelah sempat beririsan denganmu. 
Sulit sekali untuk membayangkan makhluk sekecil dirimu bisa memiliki hati, sulit sekali membayangkan makhluk sekecil dirimu bisa menjadikan makhluk lain sebagai teman, tapi disini aku ada dan mengulurkan tangan. Bisakah kita menjadi teman? Aku tidak pandai berbicara, semua usahaku untuk menaruh kalimat manis di ujung lidah selalu menghasilkan serapah dan kekacauan saja, tidak ada yang keluar seperti yang di inginkan dan di rencanakan. Lidahku melukai lebih tajam juga lebih keras daripada yang mungkin bisa dilakukan oleh anggota tubuh lain, hingga terkadang aku sampai pada titik berdoa agar tidak bisa berbicara. Ya, aku sefrustasi itu menghadapi kekacauan yang ditimbulkan oleh anggota tubuh tak bertulangku satu itu. Tapi aku bisa menghasilkan mantra. Tapi aku bisa merunut kata-kata dengan begitu manis dan halus. Aku bisa menyentuh dengan kata-kata itu, dan berharap aku bisa menyentuhmu juga seperti yang selalu berhasil kulakukan pada manusia, menyentuh dan merangkulmu dengan begitu mesranya, sampai engkau terketuk dan akhirnya rela meninggalkan pesta pora yang telah tercipta dan pergi dari dunia ini dengan tanpa harus membawa lebih banyak nyawa mereka yang tak berdaya. 

Jika kita bisa saling terbuka untuk menyuarakan pemikiran dari tempat terdalam, jujur saja aku tidak begitu peduli dengan kerugian-kerugian yang harus di tanggung sebuah pulau atau sekumpulan manusia. Aku hanya peduli pada mereka yang masih ada dan tak pernah tahu kapan kau akan mendatanginya, memeluk dan menyeretnya pada ambang batas dunia. Aku hanya peduli pada ribuan mimpi yang harus terputus begitu saja tanpa adanya peringatan apalagi aba-aba. Aku hanya peduli pada mereka yang harus terputus dari orang-orang yang berharga dalam hidup dengan begitu tragis, dengan sekali pukul dan sekali lambaian. Kehidupan terlalu komplek untuk diberi senyuman singkat sebagai ucapan selamat tinggal. Kematian bahkan terlalu sakral untuk di hadiahkan pada ribuan nyawa dalam sekali tebasan ayunan pedang. Engkau tidak seharusnya seegois itu dengan merenggut sekian ribu dalam satu waktu, hanya karena engkau berkuasa, hanya karena engkau memiliki daya. Intip sebentar saja pada kepala-kepala mereka yang berada di tengah ambang, lihat dan rasakan apa yang tengah bergumul di dalam sana, tanyakan berapa kesiapan yang bisa mereka kumpulkan, rasakan berapa keras ketakutan yang berhasil menyelimuti. Kematian memang akan datang pada setiap yang hidup, tapi mengetahui sesuatu bertanggung jawab akan melayangnya ribuan nyawa membuatku berpikir ulang untuk mengutuk kematian, membuatku berpikir ulang untuk mengabaikan.

Dari apa sebenarnya engkau tercipta kalau aku boleh tahu? Apa engkau hadir begitu saja seperti cacing yang keluar dari dalam tanah? Apa engkau hadir begitu saja seperti tunas baru yang tumbuh dari pohon yang telah mati? Atau engkau hadir seperti manusia? Datang karena adanya penyatuan dua indukmu? Manusia perlu tahu semua itu untuk menghentikan pengelanaanmu yang begitu meraja lela tanpa melihat perbatasan dan usia. Aku khususnya perlu tahu agar bisa melanjutkan mimpiku tanpa harus terbumbui ragu tentang kapan engkau akan mendatangiku dan orang-orang di sekitarku. Aku khususnya perlu tahu agar bisa bernapas tanpa harus membawa serta beban dalam setiap helaannya. Ketakutan yang begitu menyelubungi seperti kabut tebal di atas api pembakaran. Aku sesak, aku tergugu, aku terdiam dan dari kesemuanya tidak cukupan untuk memperlihatkan bagaimana aku tengah di landa cemas berlebih dan ketakutan. 

Andai saja engkau mau menyambut uluran tanganku, lalu kita berteman seperti yang kuinginkan. Kepadamu akan kuperlihatkan indahnya siang dan malam, kepadamu akan kutunjukkan betapa nikmatnya berkhayal, memupuk mimpi dan menungguinya. Andai saja kita berteman, ingin kurengkuh dirimu dalam dan kunyanyikan lagu serta kubacakan dongeng agar engkau bisa terlelap dan menjadi tenang. Bahkan andai kita berteman, ingin sekali kuperlihatkan padamu bagaimana cara kerja dunia agar engkaupun bisa hidup di dalamnya tanpa harus membuat mereka yang terkena sentuhanmu pergi dipeluk kematian. 
Tapi sepertinya makhluk sekecil dirimu terlalu riskan jika masih harus dijejali tentang konsep hati, nurani, apalagi mimpi. Semua yang engkau butuhkan hanya pemuasan akan rasa dahagamu tentang berkembang dan berkembang. Semua yang engkau butuhkan hanya pemuasan akan rasa dahagamu tentang berpesta pora dan bersenang-senang. 

Aku mengabaikan banyak untuk menulis dan mengulurkan tangan sebagai tanda pertemanan. Menekan banyak rasa takut dan keresahan yang terus menggunung sejak pembukaan tahun baru ini. Aku setakut itu hingga sampai pada titik merasa bahwa mungkin yang engkau butuhkan uluran pertemanan dan pelukan dan kata-kata manis dan pengakuan, semua hal dan satu-satunya yang bisa kulakukan. 

Maaf jika harus menginterupsi kebahagiaanmu dalam berpesta pora. Maaf jika harus menginterupsi kesenanganmu memeluk manusia dan mengantarkannya pada ambang batas nyawa. Tapi aku percaya suatu hari nanti, entah esok atau lusa, langkahmu akan terjegal oleh penemuan dan pengetahuan. Kuasamu yang hampir melegenda akan tersapu oleh tak terhitungnya doa-doa. Dan ketahuilah bahwa masih ada Yang Maha Kuasa diatas yang paling berkuasa.
Semoga waktu yang menyembuhkan akan segera datang secepat semangat yang tumbuh di dalam hati usai menuliskan ketakutan dan keresahan ini. Semoga.

Selasa, 25 Februari 2020

Bintang Murung Dan Makhluk Hitam

Kehidupan di atas langit sering kali kurang menarik minat dan perhatian manusia. Kecuali bintang-bintang, kecuali mentari, kecuali rembulan. Tiga sumber cahaya yang begitu di agung-agungkan keberadaannya. 

Aku adalah makhluk hitam. Bernama demikian karena hanya memiki ujud dalam kegelapan malam. Ketika siang datang, wujudku menjadi transparan, menyaru dengan langit biru, dengan awan-awan melayang. Aku selalu ada di sana meski keberadaanya tak pernah disadari apalagi menuai puja puji. Jika di bandingkan dengan manusia, maka keberadaan kaumku hanya sebagian sangat kecil dari mereka. Perbandingannya adalah ketika pasir di seluruh dunia di gabungkan, lalu segenggam dari mereka adalah makhuk hitam. 
Meski tak bernama, hanya memiliki identitas sebagai makhluk hitam saja, tapi nyatanya cerita tentang kami tidaklah seminim itu. 
Konon segelintir manusia memiliki dongeng tentang makhluk hitam yang di ceritakan secara turun temurun, hingga keaslian kisahnya kian mengabur tergerus waktu. 


Makhluk hitam tidak memiliki mata, jika yang di maksud dengan mata adalah dua lubang di wajah bagian atas dengan bola putih dan lingkaran hitam kecil di tengahnya. Tapi kami memiliki jari yang begitu banyak, cukupan untuk meraup serbuk bintang yang bertabur di langit sana dalam satu pelukan. Dan meski tidak bermata, tapi kami tetap bisa melihat, melalui ujung jemari yang jumlahnya lebih dari cukup untuk menggantikan fungsi mata. 
Langit malam adalah taman bermain yang begitu mengasyikkan, memandang kerlip lampu di bawah sana yang begitu sesak dengan banyak pola dan ribuan puntiran, tidur tidak pernah ada dalam daftar hidup makhluk hitam. Bahkan ketika siang datang, cerahnya mentari terlalu sayang untuk di lewatkan dengan mengistirahatkan badan. 

Gelap selalu membawa keceriaan sendiri. Menangkapi bintang adalah permainan yang selalu membawa kejutan. Manusia entah bagaimana selalu bisa menggantungkan harapan dan asa di setiap pucuk bintang, konon doalah yang menjadi tangga sekaligus perekat bagi kemustahilan itu. Dan menyentuh harapan mereka, membaca asa dan impian mereka adalah kegiatan menyenangkan bagi makhluk hitam, terutama untukku. Aku melihat banyak nama, banyak gabungan nama dan lebih banyak lagi kata-kata yang memerlukan penerjemah khusus untuk mengetahui isinya. Manusia lebih menyukai menimbun angan di kepala mereka, melafalkan banyak mantra, begitu tergesa-gesa dalam keseluruhannya, hingga kemudia jatuh terserimpet untaian doa yang mereka panjatkan sendiri. Itu lucu, sangat lucu, terlebih lagi mengetahui ternyata sebagian besar manusia memilih untuk menghindari malam, melilih untuk tidak di lumat oleh gelap. Bola lampu adalah penyelamat untuk sepanjang malam. Entah apa sebenarnya yang mereka takutkan. Bukankah tidak ada yang lebih menyeramkan di dunia ini ketimbang momen turunnya hujan? Aku khususnya selalu menghindari hujan. Beralih dari petak satu ke ujung petak yang lain, hanya agar bisa terhindar dari berkubik-kubik air yang turun secara acak dan bertabrakan. Tidak ada yang perlu di antisipasi dari malam, hanya jika manusia mengerti bahwa gelap selalu mengulurkan tangan memohon sambutan, hanya jika manusia mengerti bahwa ada semua takut dan perasaan waspada yang menghantui manusia adalah tak lain buah dari hasil pemikiran tentang kecemasan mereka sendiri. Manusia begitu lucu dengan segala tindak dan kebiasaannya. 

Tentang menyentuh bintang, tempat di mana semua harapan dan asa manusia di gantungkan. Kemarin lalu yang telah lama aku menemukan satu bintang besar, berdiri jauh dari pandangan. Bahkan jemari terpanjangku harus sedikit mengeluarkan usaha untuk bisa menyentuhnya. Bintang satu itu berbeda, bukan bersinar putih terang seperti kebanyakan, tapi ada nyala abu yang mengelilingi dan membalut keseluruhan dirinya, membuatnya seakan hanya bintang kecil murung yang terus meredup. Karena awalnya akupun mengira begitu. Tapi ketika dilihat dadi dekat, dia benar-benar bintang dengan ukuran yang cukup besar. Dan selimut abu yang membuatnya terlihat seolah bintang murung adalah ujud dari ribuan asa yang membentuk konstelasi tersendiri. Dia memiliki beban untuk menggantungkan harapan lebih dari yang bisa dia bawa. Beberapa malah benar-benar jatuh dan tidak bisa menemukan ruang untuk merekatkan dirinya di sana. Bintang yang malang, sungguh bintang yang malang.

Aku mendekapnya, dengan begitu erat dan penuh kehati-hatian, berharap bisa mengusir selapis kecil saja selimut abu dari tubuhnya. Bintang murung itu tersenyum, mengedipkan mata padaku dan menarikku dengan lebih erat. 
"Kita akhirnya bertemu," begitu bisikknya padaku, aku tercengang lebih dari sekian cara. Suara itu begitu menggetarkan hati dan menyentuh ingatan. Aku mengenalnya, di putaran kehidupan yang entah keberapa, suaranya berdengung pelan di udara, mengirimkan lebih dari satu sinyal untuk mengetuk kembali ingatan di antara tumpukan ribuan ingatan tentang permainan dan bintang. Aku mengetahui siapa dia, melihat perjalanannya, mengenal kisahnya. Dia adalah bintang pertama yang kusentuh ketika aku masih bayi dulu. Ya, aku memahami kebingungan kalian, akan kujelaskan secara singkat sekarang, makhluk hitam di ciptakan dengan siklus sama seperti manusia, terlahir, bertumbuh lalu mati. Hanya saja putaran bertumbuh makhluk hitam mencakup waktu yang sangat lama, membutuhkan waktu lebih dari seribu tahun meski bagiku terasa seperti sekejapan mata. Dan lagi, makhluk hitam memiliki keluasan pilihan untuk menentukan sendiri kapan waktu yang diinginkan untuk menghilang, mati ketika manusia membahasakannnya. 

"Kau kembali sekarang, setelah sekian lama," lanjut si bintang murung lagi, aku mengirim getar emosi melalui jemari yang memebebat rapat badannya, dia tahu aku tengah tersenyum sekarang,
"Jangan mengalihkan pandanganmu lagi dariku," kali ini dia mengucapkan dengan sedikit merajuk. Demi semua bola lampu dengan untaian rumit di bawah sana, ingin sekali rasanya kulumat gelap malam itu agar mentari segera datang. Sinar mentari adalah pertanda bagi para bintang untuk melepaskan semua asa dan harapan yang menempeli badannya, pertanda bagi mereka untuk sebentar menghilang dari pandangan dan mengistirahatkan badan. 
Dekapanku tak mungkin bisa lebih erat lagi, tapi emosi yang merapat di ujung jemari benar-benar meminta sentuhan untuk meloloskan perasaan. 

"Sekarang waktuku untuk menghilang, maukah kau menyertai kehilanganku?" aku melepaskan pertanyaan dalam ujud sentuhan, mengangguk pelan untuk memberikan keyakinan. Jujur saja, aku belum terlalu lama lahir dalam kehidupan kali ini. Bintang besar yang sekarang murung dulunya adalah bintang paling bersinar di alam semesta. Berdiri di tempat paling strategis untuk dilihat manusia, alhasil dia menjadi sasaran bagi ribuan mata di bawah sana untuk di jadikan target penempelan asa dan harapan. Aku yang menyarankannya untuk menyingkir dari peradaban, akupula yang memboyongnya sebagai bintang jatuh meski dia tak pernah benar-benar terjatuh seperti yang terlihat. 
Menyentuh isi mimpi dan harapan manusia awalnya adalah permainan yang paling kusukai, mengetahui bagaimana mereka melalang buana dalam imaji yang tak bersekat benar-benar menyenangkan. Tapi bintang murung menunjukkan hal lain padaku. Baginya harapan manusia adalah beban sekaligus hipnotis yang begitu menggiurkan. Dua sisi koin yang memiliki magnet kuat untuk membuatnya benar-benar terbebani secara nyata. Dan dia ingin mundur perlahan dari penampakannya yang sangat menonjol dan cemerlang. Istirahat buka kata yang tepat, karena sinar mentari selalu menyuguhkan keistimewaan itu, tapi dia menginginkannya yang abadi, tanpa jeda, tanpa celah untuk bisa memulai lagi. Bintang yang selalu berkelip manja di ladang langit, bagaimana bisa memiliki sisi emosional yang begitu mencekam? Apakah kata lelah pernah ada dalam bagian hidupnya? Bagaimana dia bisa terus bersinar dengan begitu banyak beban menggelayuti dirinya? 


Sekian waktu berlalu dan disinilah aku sekarang, bersama dengan bintang murung dalam dekapan. Menikmati malam terakhir dengan jalan mematikan pandangan. Karena jujur saja, dalam relung yang terduga, akupun memiliki sedikit keluhan yang tak pernah berniat untuk kumuntahkan. 

Aku bosan di lihat sebagai hantu, hidup dalam dongeng yang keaslian ceritanya kian memudar, menganggapku sebagai makhluk yang bisa melihat apa saja, seakan kedua mata mereka belum cukup untuk mengetahui segalanya. Akupun bosan di perlakukan sebagai kaca, yang hanya bisa mendatangkan refleksi bagi siapapun yang melihatnya, yang akan hancur ketika hujan menimpanya. 

Bukan gelap apalagi pekat yang menakuti dan mengganggu denyut napasku, tapi limpahan emosi yang tersalur ketika berhasil kusentuh gantungan-gantungan angan di sekeliling badan bintang. Efek samping dari kegiatan yang kuanggap sebagai permainan. Dan aku merasa lelah karenanya. Manusia, mereka kira mereka itu siapa? Dengan ceroboh melayangkan mantra begitu saja ke atap langit, belum lagi dengan kebiasaan mereka menggantung asa dan harapan pada bintang-bintang. Tidak pernahkan sekali saja mereka sampai pada satu pemahaman, bahkan bintang yang tak pernah bergerak, menyiku apalagi berputar-putar itu pun memiliki kehidupannya sendiri, dan meski separo abadi, apakah itu alasan yang tepat untuk mereka menggerecoki kehidupannya denga ribuan asa dan harapan? Bahkan bintang paling besar dan bersinar pun pernah di gelayuti kata lelah dan ingin menyerah.

"Sekarang watunya," bisik bintang murung dalam dekapanku. Aku tersenyum, memandang untuk terakhir kali pada tempat sinar mentari biasa menampakkan diri di ufuk pagi. 
Selamat tinggal para mimpi, selamat tinggal para asa, selamat tinggal manusia, meski kita tidak benar-benar saling mengenal aku bisa meraba kalian melalui jemariku yang panjang. Kita mungkin akan kembali di pertemukan, dalam tangga doa yang terkadang menyandung langkah dan pergerakanku. Selamat tinggal makhluk naif, suatu hari nanti ketika waktu kalian tiba untuk menghilang, pemahaman itu mungkin akhirnya akan datang. Bahwa bintang juga makhluk nyata senyata kalian. Bahkan aku, si makhluk hitam, yang terlanjur meninta dalam dongeng yang kian memudar. Bahkan impian kalian memiliki berat, dan panjang, yang kian hari kian membebani langit karena volumenya. Dan ingatlah ini, jika kalian tidak benar-benar berhenti untuk berharap dan berkhayal maka bukan tidak mungkin kalian akan lenyap tertimbun reruntuhan langit yang kelebihan beban. Selamat tinggal. 

Selasa, 04 Februari 2020

13 Bintang

Karena cinta akan sulit bersanding dengan kata penggemar. 

Berapa lama aku mengenalmu, melupakannya hingga sekarang semua kenangan tentang kalian datang membanjiri ingatan. 

Cinta biasanya berdiri berdampingan dengan genggaman yang saling mengeratkan sekaligus menyalurkan kehangatan. Ikatan yang membungkus kita pastilah lebih tebal dan kuat ketimbang tali apapun yang pernah mengekang di masa lampau. Terbukti sekian tahun berjalan dan rasa itu tak pernah memudar. Aku ragu jika perasaan tercabik ini hanya berlaku pada diriku saja, penggemar yang tak pernah sekalipun melihat kalian secara nyata, penggemar yang enggan mengeluarkan dana lebih agar bisa selangkah lebih dekat dengan kalian. Tapi percayalah cintaku tidak kurang dari mereka yang telah berhasil melihat kalian secara nyata. Tapi percayalah, bahkan setelah sekian lama aku masih bisa tersentuh dengan suara kalian. 

Kerja keras tidak akan mengkhianati hasil. Dan usaha kalian selama ini dalam mengukir nama benar-benar telah mencapai titik puncaknya. Raja dari segala yang tengah bertahta sekarang ini. Pembuat setapak bagi belantara yang tak pernah terjamahkan sebelumnya. Kalian pantas mendapatkan lebih dari sekedar pengakuan cintaku. Tapi bagaimana dengan perasaan ini? Aku bahagia karena kalian berbahagia. Aku sakit ketika kalian tersakiti. Porsiku lebih parah dari kalian yang menerimanya secara langsung. Di sini, aku harus meraba, mengeluarkan kepekaan ekstra untuk bisa merasakan apa yang tengah kalian rasakan. Dan kurasa perasaan membuncah yang kian merajuk memaksa untuk di tuangkan itu adalah definisi pasti dari kata cinta. Aku terbebani dengan pesan tentang selamanya yang melekat dalam nama yang kalian pilihkan untuk kami. Sungguh, tak ada yang bisa menyaingi tingginya rasa ini, tergila-gila bukan kata yang tepat untuk mendeskripsikan, karena kami para penggemar garis besar yang bertahan setelah melewati berbagai gelombang jaman, nyatanya masih bisa kembali berkubang dalam perasaan yang sama pekatnya meski hilang pernah menelan kami seutuhnya. 

Tidak ada yang pernah tahu karena memang baru sekali ini aku akan berani mengungkapkannya. Tentang betapa aku merindukan angka tigabelas utuh tanpa celah. Tentang betapa ingin kujelaskan pada kalian bahwa antara penggemar dan idolanya berhak ada kata cinta untuk merekatkan keduanya. Dan meski pada akhirnya kita akan berakhir bahagia dengan pendamping hidup masing-masing, bukan berati ikatan kita akan terurai dengan begitu gampangnya. Karena kalian, kalian adalah masa terindah yang pernah melewati perjalanan hidupku. Cerita, derita, aku tidak hanya menelannya, aku mengekstrak keduanya agar bisa terawetkan dan memberi efek yang sama untuk jangka tak terduga. 
Aku sejatuh itu pada kalian. Entah dimana kini rasa maluku, mungkin dia sedang terangkat bersama mendung yang berkumpul nyaman di atas sana, mungkin dia telah terbawa air hujan yang membasuh bumi dalam aliran derasnya. Tapi beberapa waktu lalu memang telah kudedikasikan tulisan untuk kalian, tentang betapa aku telah melepaskan, merelakan, menghilang. Aku menjilat lagi ludah yang tercecer rapi di antara tumpukan dokumen usang. Hanya karena menyadari bahwa perasaan itu terlalu besar untuk di hilangkan. Menganggapnya hilang bukan berati membuat rasa itu benar-benar pergi, dia hanya menjadi tersembunyi dan tersamarkan. 

Aku tidak ingin kembali pada pelukan kalian, meski cinta itu meronta meminta penjelasan. Aku tidak ingin kembali kepada kalian, karena tempatku sudah bukan lagi di antara mereka yang menggila tentang kalian. Tempatku kini ada di dalam dekapan seseorang, yang tidak hanya membanting tulang, tapi juga mengucurkan darahnya demi bisa memberikan padaku sebuah kehidupan, kebahagiaan. Tempatku kini adalah daratan dengan seribu tanggung jawab dan juga beban yang akan terus terpanggul di pundak sampai akhir perjalanan hidup. Aku disini, tengah menunggu kalian untuk menyeberangi samudera itu, hingga akhirnya sampai pada daratan pribadi milik kalian, agar kita sekali lagi bisa sejajar, agar kita sekali lagi berada daratan yang sama meski sekarang masing-masing telah memiliki belenggu rapuh yang tak akan pernah terlepaskan. 


Aku melewati masa mengagumkan itu. Keindahan yang tidak hanya terekam oleh ingatan, tapi juga terhampar jelas di depan sana ketika mata tengah terpejam. Aku berhenti bermimpi setelah terakhir kali menunjukkannya secara terang-terangan bahwa aku ingin melihat kalian. Mimpi itu pupus tanpa meninggalkan apa-apa selain kekecewaan berkepanjangan. Aku tidak seberani itu untuk keluar dari garis nyaman. Dan saat itu aku berpikir bahwa meski luar sana kata selamanya hanya berlaku dalam buku dongeng pengantar tidur, tapi kata itu akan berlaku bagi perasaanku dan juga takdir kita. Tapi nyatanya tidak, aku di bohongi mentah-mentah oleh kalimat hasil adopsi buku dongeng. Akhir bahagia yang berakhir dengan kata bersama dan selamanya tidak bisa menyentuh lingkup penggemar dan idola. Bisakah aku menangisi sesuatu yang telah terhampar nyata bahkan sebelum aku menyadari apa itu arti cinta? Bisakah aku menangis sekarang? Hanya agar perasaan membuncah yang selama ini tertutupi rapat bisa memiliki judul dan masanya. 

Kita tidak hanya terbelah oleh samudera dan juga timbunan awan. Kita terpisah lebih dari satu lapisan bumi sebelum akhirnya imajinasi mematahkan kenyataan itu. Siapa di antara kita yang pertama menancapkan paku di atas lahan yang seharusnya tidak untuk di perjual belikan? Apakan aku? Atau Tuhan? Atau justru salah satu dari kalian? Ketika rasa nyaman harus mengintip melalui celah koin yang bertumpuk rapi, ketika rasa sayang terhubung melalui angka yang merembet jauh dalam sebuah kertas kusut berisikan nominal, ketika rasa sesak menjadi lem berkekuatan ampuh untuk menyatukan aku dan ribuan penggemar di luaran sana. Apa kalian mengenal perasaan itu? Kotak yang selama ini menjadi pijakan bagi kalian agar bisa menaiki panggung tanpa harus lebih dulu merakit tangga dadakan. Tangis ini nyata, senyata perjuangan kalian. Lelah kalian nyata, senyata beban yang selama ini menyesaki ruang hati dan juga pikiran kami para penggemar. 

Nadi kita mungkin terpisah, tapi detak kita berdegub dengan nada sama. Aku tahu beberapa di antara tiga belas itu benar-benar membalas perasaan kami yang jumlahnya ribuan. Dan merasakan juga kegetiran seperti yang selama ini menyergap pernapasan dan kesadaranku. Tidak mungkin perasaan seagung ini tidak bisa tersampaikan, tidak mungkin perasaan seyakin ini salah tujuan. Bahkan ketika cinta ini tak memiliki judul atau ruang untuk sekedar mengecap singkatnya kebersamaan, aku percaya doa yang di panjatkan oleh ribuan tangan hingga akhirnya terakumulasi sebelum akhirnya tangan keberuntungan menangkap jemari yang tepat, ada beberapa di antara kami yang berhasil menggenggam, menyentuh bahkan memiliki kalian. Karena samudera tidak begitu luas bagi mereka yang telah berani membuat niat untuk mendaki awan. Siapapun mereka yang akan beruntung mendapatkan kalian, tidak ada yang bisa diungkapkan untuk menjabarkan perasaan kami para penggemar, selain kegembiraan dan kebahagiaan. Kehidupan selanjutnya yang akan di tapaki oleh siapapun bahkan sosok idola sekalipun. 

Ingin rasanya kutuntaskan perasaan tentang kalian suatu hari nanti, bersamaan dengan mentasnya kalian dari dunia hiburan, bersamaan dengan terbentangnya spanduk selamat datang bagi kalian dari kami yang telah lebih dulu melangkahi satu babak kehidupan baru lebih dulu. Perasaan tentang kalian tidak akan hilang tentu saja, mungkin saja hilang tapi aku percaya akan butuh lebih dari satu putaran waktu teramat panjang untuk bisa benar-benar menghapus kalian beserta remahan yang kalian tinggalkan. Karena kita telah terikat di masa yang telah lalu. Melalui lagu, dan tarian. Melalui cerita dan derita. Melalui awan dan bayangan. Melalui tangis dan tawa. Melalui waktu yang terhitung dan tak terhingga. Melalui putaran tanpa ujung dan lekukan tumpul. Melalui matahari dan hujan. Aku lelah menghitubg semua yang telah terlewatu, bahkan meski aku hanya duduk sebagai penonton di bangku nyaman. Bagaiman dengan kalian? Bagaimana perasaan kalian? Adakah tingkatan lebih tinggi untuk menggambarkan keletihan yang teramat? Kata lelah tidak tepat untuk kalian. Dan oh, aku ingin menangis mengetahui bagaimana perasaan kalian sekarang, berada di puncak setinggi itu, dengan setelah bertahun-tahun menuangkan darah sebagai bahan utama tangga pijakan, aku bahkan tidak pernah sekalipun memperhitungkan apakah masih ada harapan yang tersisa di posisi setinggi itu. Selain rasa takut untuk di tinggalkan, di buang dan di asingkan tentu saja.


Perjuangan kalian telah mencapai titik penatnya. Nada-nada sumbang di masa lalu terdengar manis dan mengenaskan di waktu yang bersamaan, bau anyir darah terasa membingungkan untuk di jelaskan, gula yang dulu pernah di tabur di setiap sudut jalan mendadak memerahkan mata dan mengundang air untuk jatuh dari danau kelamnya. Jika terlalu lelah untuk membahasakan perasaan, bisakah membisikkan satu saja harapan tersisa yang mungkin masih mendiami benak kalian? Seperti pernikahan mungkin? Atau harapan untuk bisa beristirahat dengan tenang? Beberapa dari kalian telah keluar garis, membuat angka tigabelas yang begitu di agungkan menjadi cacat dan memiliki celah. Salah satunya malah telah berhasil menambatkan ikatan nyata pada dermaga yang akan membawanya pada kehidupan baru, yang kini tengah kudaki. Manis, tawarnya hidup telah kalian lalui bersama dan aku senantiasa menyertai juga di setiap langkah itu. Dan kini ketika sesuatu yang komplit telah menjadi keseharianku, dengan kalian di belakang sana masih berkubang dengan darah dan peluh, bagaimana bisa aku meninggalkan kalian setragis itu tanpa berbuat apa-apa? 
Ayo berlari, untuk satu terakhir ini saja, kita bersama berjuang dan mendaki bergandengan lagi seperti yang dulu pernah kita lakukan, namun kali ini menuju suatu tempat dimana hanya ada damai, senyap yang menenangkan, celoteh tawa dari penerus kita, lalu harum pagi penuh cinta yang menyambut untuk memulai hari. Semua terasa baru, dunia yang baru, lingkungan baru, suasana baru. Ayo berlari sekali lagi, meski kaki kalian telah kehilangan tulang untuk sekedar berdiri tegak, kenangan bersama kita di masa lampau semoga bisa menjadi terang yang bisa menyalakan lagi semangat ditengah-tengah keputusasaan. 

Ikatan kita, senyuman itu, peluh itu, darah itu, semuanya telah mengemas diri dalam sebongkah ransel siap angkat, siap menjadi bekal yang sangat berguna bagi perjalanan menuju akhir yang justru di harapkan tiada akhir. 
Kumasukkan kedalam ransel itu perasaan yang telah mengkristal, beku dalam keanggunannya. Menjadi saksi bisu yang siap membungkam siapa saja yang berani meragukan cinta kita. Menjadi saksi yang siap menyumpal mulut-mulut tak berharga yang berani menjatuhkan dan menghantui masa istirahatmu. Ikatan kita tidak berakhir, dan juga tidak di mulai. Lepas dan hilang adalah bersaudara yang akan mengikat kita lagi di dunia baru yang penuh dengan kejutan-kejutan baru juga di dalamnya. 


Meski kata cinta terlalu sulit untuk bisa menyentuh tempat dimana penggemar dan idola saling bergandengan. Aku bahkan tidak peduli jika kalian tak bernama, jika perasaanku, perasaan kalian tak berjudul, jika ikatan kita tak menyentuh siapapun, karena nyatanya aku telah berhasil bahagia bersama dengan tigabelas bintang yang sebentar lagi akan kehilangan sinarnya namun selamanya tak akan pernah beralih nama menjadi bintang jatuh. Tiga belas yang akan bertahan di atas langit sana, tanpa kelip, damai dan berbahagia dengan dunia barunya.