Ari tidak pernah tahu jika menjadi orangtua tunggal seberat ini. Ari tidak pernah tahu jika kepergiannya membuatku mengerti arti sebuah kesepian. Aku berteman, bertemu orang baru, datang ke tempat yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Tapi aku gagal untuk menemukan nyawa. Semuanya seakan tak lagi bisa memberi arti.
Jika saja Ari paham betapa sunyi dunia yang ia tinggalkan. Dunia tetap berputar, dunia terus bertumbuh dan berkembang. Tapi sesuatu dalam diriku justru terus menciut dan tak mampu lagi memunculkan harapan. Manusia satu ini memiliki cacat permanen yang tak bisa di lihat oleh mata telanjang. Hanya karena dua nama saja raga ini mau menuruti kemauan jantung untuk terus berdetak dan bergerak. Hanya karena dua nama, Alfa dan Hara.
Dear Ari, dulu aku selalu berpikir bagaimana bisa mengutarakan segala pikiran rumitku padamu tanpa harus berkata-kata. Dulu aku sempat ingin semua tulisanku di tempat ini kau baca, tapi kita memang seperti gugur dan semi, dua musim berbeda yang tidak mungkin akan bertemu di titik sama, karena kita memang berbeda. Tulisanku kian menjamur di tempat ini, sementara engkau sudah tak lagi memiliki kuasa atas pergerakan raga.
Dear Ari, kamu mungkin tidak bisa membaca ini, tapi entah kenapa aku yakin kamu lebih memahamiku kini.
Dear Ari, aku tidak yakin ini benar, tapi aku selalu merasa kamu ada disini, masih ada untukku dan tak beranjak kemana-mana. Meski bukan untukku, kamu ada untuk darah yang kamu tinggalkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar