Saat masih belum datang Ari, saat ketika seluruh pintu di dunia ini terbuka lebar-lebar, saat ketika kuraba pundak belakang dan yang kutemui adalah sepasang sayap dan bukannya penat dan lebam. Dulu, aku berani berteriak sekeras baja. Dulu aku memaki ombak, menyalahkan hantamannya dan memeluk karang dengan penuh rasa iba dan kasihan. Dulu aku berani mengutarakan. Sebelum akhirnya suaraku teredam oleh keadaan.
Tapi seiring menuanya angka, aku semakin menarik diri dari semua sudut bumi. Eksis yang dulu kupuja sekarang sudah tidak memiliki arti lagi. Kedatangan seseorang membuatku mengganti semua konsep nyaman hanya dalam satu balutan nama yakni Ari. Bukankah rasanya menyenangkan sekali ketika akhirnya kita memiliki seseorang yang bisa di ajak tidak hanya berbagi suka namun juga berbagi borok dan luka?
Kedatangan Ari tidak serta merta berfungsi sekomplek itu. Ada waktu dimana aku menimbang dan menimang apakah Ari sosok yang tepat untuk di ajak menengok segala remah yang tersembunyi. Tapi kemudian aku mengerti, pernikahan berarti berbagi segalanya. Tidak peduli jika pada akhirnya kita terlihat buruk di mata pasangan. Karena sejatinya makna pernikahan adalah juga memahami, menerima dan merelakan. Di penghujung hari kebersamaan kami, Ari sudah mengantongi segala remah tersembunyi milikku. Melegakan sekali memiliki seseorang yang bisa kita ajak berbicara tentang segalanya. Dan ya, yang kumaksud adalah segalanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar