Aku mulai tidak menyukai malam. Gulita yang semula membawa ketenangan mendadak menyelimuti dengan kesunyian yang menegangkan.
Aku bahkan juga mulai tidak menyukai hari terang. Harapan yang selalu berhasil dihantarkan oleh pagi mendadak gagal menunjukkan diri sejak hari kepergianmu.
Aku tidak menyukai tentang bagaimana kita sekarang berbicara dengan bahasa yang berbeda. Seperti kebiasaan kita sebelumnya, harusnya aku mendebat dan kau menimpalinya dengan tertawa. Semua jawaban sekarang selalu terdengar sama yakni beku dan beku.
Aku tidak menyukai bagaimana sekarang orang-orang akan memandang iba terhadapku, bagaimana sekarang segala keputusan baik itu besar atau kecil, benar atau salah semuanya berada dalam genggamanku.
Aku belum terlatih untuk mandiri, untuk sendiri. Meski jika di beri waktu, akan butuh selamanya untuk bisa terbiasa hidup tanpamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar