Runtuh bukan kata yang tepat karena kini aku sudah tak lagi berbentuk. Remuk tidak bisa mewakili karena kini aku sudah tak bisa lagi merasa hanya memaksa.
Dulu, jauh sebelum hari ini, ketika berangan masihlah semudah menghembuskan pernapasan, hal yang paling kusuka dari keheningan adalah tentang imajinasi, aku mencari itu di sela-sela kebisingan Ari dalam merecoki hidupku, aku mencari itu melalui alam, karena konon semesta tak pernah gagal dalam menghadirkan sunyi. Aku mendatangi pantai, berdiam diri di atas sungai, menyapa dedaunan, mencoba menerobos pekatnya hutan, bahkan beberapa kali mengetuk sepertiga malam. Dan dari semuanya terkadang kudapati apa yang kucari, secercah hening, ruang dimana aku bisa berbagi dengan aksara dan spasi. Momen bercintaku dengan rumah ini, dengan dunia dimana aku bisa berdiri dan menjadi diri sendiri.
Beberapa hari terakhir, semenjak Ari pergi, aku mencoba melakukan hal yang sama, menilik satu demi satu tempat yang dulu memberikan kekuatan tapi aku selalu pulang dengan tangan dan perasaan hambar. Aku tak menemukan apapun dan dimanapun. Seakan semesta telah sepakat untuk menghadirkan kenangan tentang Ari di setiap sudut muka bumi ini.
Tidak apa-apa jika tahun-tahun telah lama berlalu, tapi kenangan tentang Ari hanya akan mengiris mata di saat luka masih mengaratkan waktu. Aku masih belum terbiasa berbicara dengan diri sendiri tentang Ari. Aku masih belum terbiasa memandang isi semesta tanpa melewati argumen dulu dengan Ari. Aku belum terbiasa berjalan tanpa pegangan kokoh dari tangan Ari. Aku bahkan belum terbiasa untuk menulis tentang Ari yang hanya berisi kenangannya. Akan butuh waktu seumur hidup untuk membiasakan itu, sementara seperti yang telah kukatakan tadi, waktu telah mengarat sekarang hingga sehari terasa bagai semilyar putaran jam.
Ari mungkin tidak tahu jika kepergiannya akan menimbulkan lubang tanpa ada obat penambalnya. Luka karena cinta hanya bisa di obati dengan cinta. Tapi kehilangan Ari bukanlah luka yang seperti itu, ini berbeda kasta. Hubunganku dengan Ari bukan hanya mengikatkan cinta di dalamnya, ada ketergantungan, ada belas kasihan, keterbiasaan, empati, yang kesemuanya dibungkus oleh kucuran darah bernama Hara dan Alfa. Sekomplet itu isi ikatan kami, alasan kenapa susah sekali bagiku untuk terbiasa, tapi tak ada yang mengerti, semuanya selalu berkata agar aku tetap baik-baik saja, tapi seolah kata-kata tak pernah bisa di cerna oleh kepalaku yang sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar