Disana aku tidak menangis. Hanya bersedih dan diselimuti kelegaan luar biasa. Bagaimana bisa ada jenis keajaiban semacam itu di dunia ini?
Senin, 06 Januari 2025
Bagaimana mungkin?
Malam ini aku bermimpi tentang kecelakaan seseorang. Kendaraan yang di gunakan remuk tak berbentuk, dan kendati dia sekarat dengan mengalami banyak sekali patah tulang, tapi dia masih hidup.
Sabtu, 04 Januari 2025
Dear Ari
Dear Ari.
Aku kembali ke rumah kecil ini. Setelah sekian lama dan sekian waktu.
Pertama, izinkan aku berkata jika rindu itu masih ada. Meski kadang tersamarkan, namun tak pernah hilang.
Kedua, aku masih hidup sekarang. Ajaib sekali bukan? Setelah dihantam duka semendera itu. Setelah terpuruk sekejam itu. Dan aku masih tidak berteman. Seperti dugaanmu tentu saja.
Aku tidak tahu selama ini siapa yang telah kuajak berbicara mengenai duka-duka tentang namamu. Mungkin tembok, mungkin nyamuk, mungkin juga kemampuan bodohku mengarang cerita.
Aku menyamarkan keberadaanmu menjadi banyak nama. Mulai dari pangeran licin dari dunia Harry Potter, hingga artis legenda dari Korea.
Aku menjelmakan banyak kisah kita menjadi rupa-rupa judul, meski hampir kesemuanya berisi sama. Kehilangan, trauma ditinggalkan, mimpi-mimpi terbengkalai, perjuangan.
Beberapa kali aku menyamarkanmu menjadi alam semesta dengan keindahan abadi yang kujabarkan dalam susunan kalimat sedemikian rupa.
Dan dari kesemuanya membuatku tersadar, bahwa satu-satunya hal yang kubutuhkan hanyalah berbicara.
Dear Ari.
Kau merindukan mereka? Karena mereka menabung rindu yang kian menggunung spesial hanya untukmu.
Beberapa kali si sulung menangis karena teman-temannya mencandai dirinya dengan sebutan anak yatim. Dan kau tahu apa tanggapanku? Tertawa.
Terlihat kejam. Tapi aku tidak bisa memberinya kebahagiaan palsu. Dia perlu tahu bahwa itulah dirinya. Cap istimewa yang hanya bisa di percayakan oleh Tuhan. Di kemudian hari, dia akan tetap mendengar bercandaan seperti itu, entah dari teman-teman, lingkungan atau dari orang tak di kenal. Jika hari ini aku marah, kemungkinan di kemudian hari dia juga akan marah ketika hal serupa kembali mendatanginya.
Aku ingin dia melihat, bahwa status istimewa itu tidak sembarang orang bisa menanggungnya. Tempat kita berat, tidak semua orang bisa menjalaninya. Bukan hanya beban soal besok kita mau makan apa, tapi juga beban bagaimana kita tumbuh kuat tanpa penopang lengkap.
Aku ingin si sulung menerima keadaannya. Itulah benang merah takdir yang diterimanya. Jika dia sendiri tidak bisa menerima, maka dia akan berakhir. Aku selalu ingin dia tumbuh dan berlanjut. Bukan berakhir.
Tidak usah ditanya seberapa keras aku menjeritkan tangis saat tengah menyuguhi tawa pada aduan si sulung saat itu. Tidak ada orang tua mana pun yang ingin melihat anaknya di anugerahi status satu itu. Tidak ada yang berbahagia juga. Tapi aku perlu mempersiapkan si sulung supaya menjadi sosok tegar kedepannya.
Dear Ari.
Menjadi orang tua tunggal itu berat. Sangat berat.
Suatu hari aku bangun dengan separo napas tertinggal di alam mimpi. Di lain hari aku tertinggal napas saat kebutuhan hidup mengajakku lomba lari.
Kepergianmu mengacaukan jalan pernapasanku. Padahal semua orang tahu, seberapa penting proses bernapas yang benar bagi keberlangsungan hidup seseorang.
Dear Ari.
Aku benci menjadi orang yang harus mengambil dan menanggung sebuah keputusan. Aku menakutkan terlalu banyak hal. Aku... Aku tidak sekuat itu mempertanggung jawabkan keputusan sekecil aapun yang pernah keluar dari mulutku.
Aku amnesia tentang cara menggantungkan hidup. Seringnya aku hanya bisa melayang tanpa daya begitu saja, di udara. Antara ingin terbang tapi tidak bisa, tapi menapak dengan tenang sudah tidak bisa kulakukan.
Aku... Seambigu itu.
Dear Ari.
Aku butuh bahu. Ada gumpalan beban yang menggayuti kedua pundakku. Rasanya melelahkan sekali. Sungguh. Bahkan jika di paksa memilih antara mematahkan kedua lengan hingga pangkal atau memilih bertahan, bisa jadi aku akan mengambil pilihan pertama. Hanya karena... Ini benar-benar terlalu berat dan melelahkan.
Dear Ari.
Kenapa namamu mengabu secepat itu?
Dear Ari.
....
Sabtu, 31 Agustus 2024
Anomali Semesta
Ari pergi, semestaku berpusat pada pemikiran-pemikiran yang kuciptakan sendiri. Bukan lagi dari euforia yang di sebabkan oleh keberadaan Ari.
Aku rindu menjadi akar tanaman, yang meranggas, tertimbun tanah, dan di jadikan sebagai jungkat-jungkit oleh biota tanah. Kendati kata rindu hanya bisa di sandingkan dengan kejadian, cuplikan-cuplikan kenangan yang sudah berlalu, tapi menjadi akar tanaman adalah salah satu angan yang selalu kudoakan supaya menjadi nyata.
Aku rindu Ari, tapi aku lebih rindu menjadi diriku ketika Ari masih ada di sini.
Dulu bintang-bintang dan rembulan berputar di sekelilingku, menemani keseharian dan menjadi bagian dari kehidupanku. Sekarang tidak lagi, pernak-pernik alam semesta ini mendadak mewujud menjadi sesuatu yang manusiawi. Aku menemukan sinar oranye berpendar di sekitar tawa yang merebak di wajah anak perempuanku, aku membaui aroma manis awan dari gumpalan surai yang bertumpuk halus di kepala anak laki-lakiku.
Dua janin bertumbuh yang menyebutku sebagai ibu mendadak menjelma menjadi matahari sekaligus langit untukku. Bagaimana tepatnya itu bisa terjadi, aku bahkan tidak tahu. Kesedihan bertumpuk bersama harapan, air mata melelehkan darah berwarna pekat, balon-balon berisi bisikan berhamburan melalui celah kecil ventilasi di atas jendela rumah.
Setelah berkutat dan di dekap semua itu, pemikiran-pemikiran menggeser keyakinan. Akulah alam semesta ini, bagaimana mungkin selama ini tidak kusadari? Kala pucuk pelangi mulai menghilang di balik semak rerimbunan, aku menjelma menjadi apa saja, mulai dari musang pincang, rumput sewarna tulang, hingga jamur bertudung warna-warni.
Dan aku masih saja merindukan diriku sebagai manusia seutuhnya. Kala Ari masih di sini, mendekap semuanya, dan berbagi udara dengannya.
Awalnya kukira aku telah lebur menjadi serpihan abu, sempat takut juga pada keberadaan angin-angin, karena mereka pasti akan menerbangkanku dengan begitu mudahnya. Tapi tidak, aku melebur bersama tanah, dan terkadang menjadi tanah itu sendiri tanpa lebih dulu kusadari.
Awalnya kukira aku akan terkubur bersama tanah merah yang menelan Ari, hingga kutumbuhkan sayap di punggung dengan kekuatan tak terduga, sakitnya luar biasa, tapi aku ternyata mengerahkan usaha, melarikan diri dari lengan-lengan tak terlihat yang mungkin bisa menjangkau dan menjejalkanku ke dalam pusara berisi kenangan-kenangan tentang Ari.
Aku melihat genangan air selangkah di depanku, bayangan bening itu menangkapku dalam gambaran mengenai seseorang yang di cium oleh air sungai hingga habis nafas, kenangan-kenangan gelap mengenai Bapak yang hingga kini belum bisa kuatasi, sampai ketika aku pergi menjemput lautan, dan di sana kutemui genangan yang lebih besar, bahkan sangat besar, hingga diri ini beserta ketakutan-ketakutan yang di bawanya seolah tak berarti apa-apa.
Beralih pada bangunan yang kusebut rumah, pondasi-pondasi kokoh yang mulai menunjukkan tanda-tanda penuaannya. Kendati terkadang aku pergi, beranjak dan menetap, tapi rumah itu tak kan pernah terganti, hingga kata-kata meluncur bak dentuman martil pada objek pukulannya, aku dan pemikiranku meruntuhkan kekokohan bangunan yang kusebut rumah. Aku membuatnya berserakan, bebatuan kecil dan pasir-pasir.
Ari pergi dan pemikiran-pemikiran mengenai tumbuh dan berkembang mendadak terhenti. Aku tidak memiliki cukup pupuk untuk menyemai dan menumbuhkan apapun, bahkan biji kebencian sekalipun. Dan separuh dunia mengutuk perginya sisi kometitif dalam diriku, karena dalam semua ajang yang kumasuki, kurelakan semuanya berjalan tanpa perlu diri ini menyertakan diri. Aku pecundang yang berdiri di balik kerendahan hati.
Binatang-binatang menyertai pemikiran-pemikiranku di kala hari di selimuti awan gelap dan tetes-tetes air kecil mulai turun membasahi bumi. Berbicara mengenai biota kecil-kecil yang seringnya terlupakan, hingga binatang-binatang berukuran giga yang hanya hidup di alam fantasi manusia. Aku merasakan getaran mereka semua, memahami komunikasi, dan mendadak beralih menjadi bagian dari kawanan-kawanan itu. Bertanya mengapa manusia keji, mengapa manusia mengotori udara dengan serapah, mengapa manusia serakah, dan lain sebagainya. Yang mana hampir semuanya merupakan gambaran dari ketidakpuasan sisi lainku terhadap manusia, dan mempertimbangkan kembali pengukiran status mereka sebagai makhluk hampir sempurna. Maksudku, bagaimana itu bisa?
Dan meski semua bahasa berhasil kukelabui dengan ketiadaan aksara, satu-satunya pertanyaan yang selalu mengendap di sana selalu meluber dengan cairan berwarna sama. Sudahkah aku cukup berguna sebagai manusia?
Aku melihat geliat kegunaanku bangkit dengan intensitas lebih ketika Ari sudah tak lagi menampakkan diri sebagai salah satu penduduk bumi. Mengukir banyak setapak anyar, menjajal banyak kemungkinan yang selama ini selalu kuhindari, dan...berjalan di atas pemikiran-pemikiran yang berhasil kuciptakan sendiri. Dan meski aku tidak begitu yakin apa fungsinya itu bagi eksistensi kehidupan lain, kurasa aku cukup berguna juga akhirnya, jika bukan untuk dunia ini, setidaknya untuk duniaku sendiri.
Milyaran bakteri yang mendiami raga ini pasti tengah berpesta pora di dalam sana, karena mendung mengarat yang bertahun-tahun kebelakang setia memayungi semesta mereka akhirnya tercerahkan oleh waktu. Aku sembuh karena kepergian Ari, meski itu hanya berarti satu hal bahwa aku sudah tidak bisa lagi merasakan kompleksitas sebagai manusia. Mati rasa ini sudah beralih menjadi sesuatu yang permanen dan akan bertahan mungkin hingga hari terakhir bakteri-bakteri tersebut mendenyutkan keberadaan mereka.
Air mata ini tidak mengering, sumber dan rute alirannya masih ada, membekas di sepanjang garis otot sekitaran mata. Tapi pemikiran-pemikiran memaksanya untuk mengirit-irit laju pengeluaran. Dan rasa lelah membunyikan kode indikasi dengan suara paling keras. Sudahkah aku bangkit dari segala kepedihan tentang kepergian Ari? Berapa normalnya waktu yang di butuhkan manusia lain untuk bangun saat berada di posisi ini sebenarnya?
Dan matahari, dan langit-langit beserta awan dalam pelukannya. Sudahkah aku cukup baik untuk mereka?
Baikkah jika aku kehilangan hingga batas tanya pada siapa sebenarnya diri ini? Karena terkadang, di malam-malam pekat saat yang terjaga hanya raga ini dan alunan suara dari alam yang di bungkam oleh sunyi, aku merasakan perpecahan dari bagian raga ini. Ketidak sinambungan yang begitu kentara, bukan lagi berdiri di antara alam bawah sadar, tapi nyatanya aku benar-benar mempertanyakan kenapa perasaan ini tidak terhubung pada jalinan sel yang merambati bagian tangan? Milik siapakah itu? Yang bergerak tanpa mengenal waktu? Yang berusaha tanpa mengenal kata lusa.
Lalu kebiasaan-kebiasaan baru yang normalnya tidak akan kujajal apalagi di lakukan secara konstan dan berulang. Namun kebiasaan-kebiasaan itu benar-benar mewujud sebagai jalanan baru. Meski aku tak pernah mempermasalahkan mengenai opsi lain yang mungkin tidak akan pernah kupilih, tapi kepergian Ari memberiku kekuatan untuk mencicipi mereka semua.
Dan pertanyaan mendasar yang menjadi alasan sebenarnya kenapa paragraf ini tercipta, kerisauan yang mendadak hadir di hari minggu pertama bulan kesembilan tahun ini.
Sudah cukupkah aku dalam bermetamorfosa?
Kamis, 15 Agustus 2024
Hal Yang Tidak Kusukai Usai Kau Pergi
Aku mulai tidak menyukai hujan. Tentang bagaimana ia akan membawa potongan rindu tentangmu, tentang bagaimana ia akan membawa kenangan tentang kepergianmu.
Aku mulai tidak menyukai malam. Gulita yang semula membawa ketenangan mendadak menyelimuti dengan kesunyian yang menegangkan.
Aku bahkan juga mulai tidak menyukai hari terang. Harapan yang selalu berhasil dihantarkan oleh pagi mendadak gagal menunjukkan diri sejak hari kepergianmu.
Aku tidak menyukai tentang bagaimana kita sekarang berbicara dengan bahasa yang berbeda. Seperti kebiasaan kita sebelumnya, harusnya aku mendebat dan kau menimpalinya dengan tertawa. Semua jawaban sekarang selalu terdengar sama yakni beku dan beku.
Aku tidak menyukai bagaimana sekarang orang-orang akan memandang iba terhadapku, bagaimana sekarang segala keputusan baik itu besar atau kecil, benar atau salah semuanya berada dalam genggamanku.
Aku belum terlatih untuk mandiri, untuk sendiri. Meski jika di beri waktu, akan butuh selamanya untuk bisa terbiasa hidup tanpamu.
Kosong
Aku memasuki dunia baru dimana Ari tidak terikut di dalamnya. Kembaranku, separuh dari detak nadiku. Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya untuk tetap kokoh di awal paragraf ini.
Runtuh bukan kata yang tepat karena kini aku sudah tak lagi berbentuk. Remuk tidak bisa mewakili karena kini aku sudah tak bisa lagi merasa hanya memaksa.
Dulu, jauh sebelum hari ini, ketika berangan masihlah semudah menghembuskan pernapasan, hal yang paling kusuka dari keheningan adalah tentang imajinasi, aku mencari itu di sela-sela kebisingan Ari dalam merecoki hidupku, aku mencari itu melalui alam, karena konon semesta tak pernah gagal dalam menghadirkan sunyi. Aku mendatangi pantai, berdiam diri di atas sungai, menyapa dedaunan, mencoba menerobos pekatnya hutan, bahkan beberapa kali mengetuk sepertiga malam. Dan dari semuanya terkadang kudapati apa yang kucari, secercah hening, ruang dimana aku bisa berbagi dengan aksara dan spasi. Momen bercintaku dengan rumah ini, dengan dunia dimana aku bisa berdiri dan menjadi diri sendiri.
Beberapa hari terakhir, semenjak Ari pergi, aku mencoba melakukan hal yang sama, menilik satu demi satu tempat yang dulu memberikan kekuatan tapi aku selalu pulang dengan tangan dan perasaan hambar. Aku tak menemukan apapun dan dimanapun. Seakan semesta telah sepakat untuk menghadirkan kenangan tentang Ari di setiap sudut muka bumi ini.
Tidak apa-apa jika tahun-tahun telah lama berlalu, tapi kenangan tentang Ari hanya akan mengiris mata di saat luka masih mengaratkan waktu. Aku masih belum terbiasa berbicara dengan diri sendiri tentang Ari. Aku masih belum terbiasa memandang isi semesta tanpa melewati argumen dulu dengan Ari. Aku belum terbiasa berjalan tanpa pegangan kokoh dari tangan Ari. Aku bahkan belum terbiasa untuk menulis tentang Ari yang hanya berisi kenangannya. Akan butuh waktu seumur hidup untuk membiasakan itu, sementara seperti yang telah kukatakan tadi, waktu telah mengarat sekarang hingga sehari terasa bagai semilyar putaran jam.
Ari mungkin tidak tahu jika kepergiannya akan menimbulkan lubang tanpa ada obat penambalnya. Luka karena cinta hanya bisa di obati dengan cinta. Tapi kehilangan Ari bukanlah luka yang seperti itu, ini berbeda kasta. Hubunganku dengan Ari bukan hanya mengikatkan cinta di dalamnya, ada ketergantungan, ada belas kasihan, keterbiasaan, empati, yang kesemuanya dibungkus oleh kucuran darah bernama Hara dan Alfa. Sekomplet itu isi ikatan kami, alasan kenapa susah sekali bagiku untuk terbiasa, tapi tak ada yang mengerti, semuanya selalu berkata agar aku tetap baik-baik saja, tapi seolah kata-kata tak pernah bisa di cerna oleh kepalaku yang sekarang.
Draf Sebelum Ari Pergi
Hidupku sesunyi pohon mangga di pekarangan. Terlahir dari keluarga yang menyisihkan fakta tentang betapa pentingnya sebuah komunikasi membuatku tumbuh menjadi sekeras batu, bahkan lebih dari itu. Aku terlatih menelan segala yang kuterima dan rasakan seorang diri. Bukannya tidak mengerti cara berbagi, tapi tidak paham harus dengan siapa berbagi. Hidupku sekeras itu.
Saat masih belum datang Ari, saat ketika seluruh pintu di dunia ini terbuka lebar-lebar, saat ketika kuraba pundak belakang dan yang kutemui adalah sepasang sayap dan bukannya penat dan lebam. Dulu, aku berani berteriak sekeras baja. Dulu aku memaki ombak, menyalahkan hantamannya dan memeluk karang dengan penuh rasa iba dan kasihan. Dulu aku berani mengutarakan. Sebelum akhirnya suaraku teredam oleh keadaan.
Tapi seiring menuanya angka, aku semakin menarik diri dari semua sudut bumi. Eksis yang dulu kupuja sekarang sudah tidak memiliki arti lagi. Kedatangan seseorang membuatku mengganti semua konsep nyaman hanya dalam satu balutan nama yakni Ari. Bukankah rasanya menyenangkan sekali ketika akhirnya kita memiliki seseorang yang bisa di ajak tidak hanya berbagi suka namun juga berbagi borok dan luka?
Kedatangan Ari tidak serta merta berfungsi sekomplek itu. Ada waktu dimana aku menimbang dan menimang apakah Ari sosok yang tepat untuk di ajak menengok segala remah yang tersembunyi. Tapi kemudian aku mengerti, pernikahan berarti berbagi segalanya. Tidak peduli jika pada akhirnya kita terlihat buruk di mata pasangan. Karena sejatinya makna pernikahan adalah juga memahami, menerima dan merelakan. Di penghujung hari kebersamaan kami, Ari sudah mengantongi segala remah tersembunyi milikku. Melegakan sekali memiliki seseorang yang bisa kita ajak berbicara tentang segalanya. Dan ya, yang kumaksud adalah segalanya.
Senin, 12 Agustus 2024
Membuat Cerita
Beberapa hari kebelakang aku seperti melihat Hara yang lain. Dia sering diam dan selalu berkutat dengan gambar-gambarnya saja. Dia mulai sering membicarakan dirimu, entah kepada Alfa atau sekedar memutar koleksi ingatannya ketika bersamamu kepadaku. Dia bahkan beberapa kali melukis tentang bagaimana dirimu sekarang. Semuanya terlalu terlihat jelas seperti mendapati pantulan diri yang terjebak di dalam cermin. Dia merindukanmu, sangat merindukanmu, lebih dari sekedar itu, dia membutuhkanmu lebih dari pada aku. Dulu aku pernah berkata bahwa ada dua wanita yang terluka dalam oleh kepergianmu, yakni aku dan ibumu. Tapi aku melupakan satu perempuan lain lagi, dan dia adalah Hara. Untuk sesaat aku lupa siapa dirimu untuknya dan dimatanya. Kamu adalah cintanya, mimpinya, tiangnya dan
payungnya. Dan aku tidak bisa memahami perasaan ketika harus kehilangan semua itu dalam satu waktu. Aku selama ini terlalu egois karena hanya merasa diri sendiri paling menderita. Dan yang paling genting dari semuanya adalah ketika aku tidak tahu cara untuk mengobati kehilangannya. Maafkan ibumu nak, suatu hari nanti kau akan melihat ini dan memahami betapa jauh-jauh waktu berlari dengan membawa beban dipundak ibumu yang berlipat karena ada tambahan rasa bersalah pada anak-anaknya. Aku selalu merasa harus menjadi dan memberikan yang terbaik meski yang bisa kulakukan hanyalah mencoba dan mencoba. Aku masih ingat betul bagaimana selama ini telah memakai topeng manusia lain. Mengajari Hara tentang rasa bersyukur untuk setiap detail hidup ini, aku memberinya contoh tentang keadaan buruk di luar sana. Beberapa tidak bisa makan setiap hari, beberapa tidak memiliki orangtua sama sekali, beberapa tidak memiliki tempat untuk berteduh, dan yang terkejam aku menakutinya dengan berkata diluar sana ada yang tidak pernah diberi pelukan. Aku bekerja sekeras itu untuk membuatnya merasakan surga ditengah lunglainya kaki mengarungi gunung pasir. Dan ada bagian diriku yang merasa bahwa semua ajaran itu harusnya diteriakkan untuk telingaku sendiri, bukan untuk Hara. Kelemahanku untuk berdamai dengan duka ini menjadi kemunduran bagi Hara untuk bisa kembali bangkit segera. Dan dia layak mendapatkan pengobatan segera. Tapi aku bisa apa? Yang bisa kuberikan hanyalah pelukan dan waktu, sisanya adalah semangkuk masakan dengan bumbu cinta. Dan sosokmu, dimana aku harus mencarinya? Dengan apa aku harus menggantinya? Atau bagian mana yang harus kuambil dari dirimu untuk kujadikan contoh peran? Dirimu tidak sempurna, tapi peranmu iya. Ini sedikit aneh, kepergianmu justru hanya menamparku pada satu hal, yakni pengakuan betapa kurang ajarnya aku dan betapa baiknya dirimu. Kudapati itu ketika dalam perjalanan menuju paragraf ini. Mataku sejauh ini hanya bisa melihat rekaman kebaikanmu dan hanya itu,
Dear Ari, jika suatu masa di waktu tunggumu itu ada kekuatan untuk membaca semua ini, maukah kau melihatnya? Rasakan betapa hancurnya kami disini, semua keadaan berjalan kembali normal bagi mata orang diluar sana, akupun mengakui bahwa kehidupan ini sudah kembali baik-baik saja, tapi rindu serta kebutuhan akan hadirnya sosokmu enggan sekali kuusir pergi. Dia bercokol disana, mendekapku ketika suasana sedang sendu, hanya untuk membuatku tergugu dan menjilat asinnya air mata.
Dear Ari, jika entah dengan cara apa dirimu bisa mengetahui semua ini, lihatlah betapa aku telaten dalam memupuk cerita, agar kelak ketika kita bisa kembali bertemu tak ada waktu kosong di antara kita, aku akan menjejalimu dengan banyak sekali protes dan tabungan cerita, aku akan melihat dirimu yang tersenyum karena melihatku merengek dan merajuk ketika melakukan semuanya. Aku akan bekerja begitu keras untuk membuatmu mengusap kepalaku sambil berkata bahwa dirimu begitu bangga dan tidak salah karena menitipkan anak-anak pada sosok sepertiku. Aku akan berusaha keras lagi agar bisa melihatmu mengusap air mataku ketika tengah menceritakan ulang betapa kerasnya hidup setelah kepergianmu. Bukankah esok kita kembali bertemu? Tolong berbisiklah iya, karena jujur saja hanya harapan itu satu-satunya pelita yang menerangi jalanku sekarang.
Kepada Alfa dan Hara, tolong genggam erat tangan ibu. Jangan biarkan aku beranjak dan lari dari kesadaran ini. Tumbuhlah lebih bahagia dan selalu bahagia. Aku akan berusaha menjadi sosok yang lebih baik, aku ingin mengisi kekosongan itu dengan tepat, kepingan puzzle yang dibawa pergi Ari, aku akan berusaha menempatinya juga. Tolong tunggu ibumu ini berproses, tidak mudah untuk begitu saja mengurai ikatan dengan duka, diperlukan doa, waktu, atensi dan juga lebih dari sekedar tenaga. Tapi aku akan berusaha. Jangan mengendurkan pelukan kalian, atau aku akan terjatuh dan terbang. Jangan mengeluhkan keadaan kalian, atau aku akan runtuh dari ujung karang. Karena senyum kalian lebih berharga dari apapun isi dunia ini. Dan ya, yang kumaksud adalah lebih dari apapun. Apapun.
.
Langganan:
Postingan (Atom)