Sabtu, 04 Oktober 2025

4

Aku mulai takut dengan diriku sendiri. Ada keinginan untuk terus menjauh, lalu pergi.

Ari. Bagaimana jika aku memilih menemuimu lebih cepat dari waktu yang di jadwalkan?

Ari. Pantaskah aku untuk bertahan?

Ari..

0410

Suatu hari aku bertanya pada seseorang yang kedekatannya hanya sejengkal dari nadi, "Menurutmu perlukah aku menikah lagi?"

Dia tertawa, "Ya!" Jawabnya dengan begitu pasti.

"Kenapa?" Tanyaku lagi.

"Supaya kamu punya teman."

Kali ini aku yang tertawa. Bagaimana jika yang kubutuhkan bukan teman? Tapi alasan, untuk hidup?

"Aku butuh alasan untuk tidak mati, karena rasa-rasanya akhir-akhir ini ajakan untuk itu makin intens dan itu membuatku ngeri, tidakkah sekarang saatnya aku mulai mengakui sedang butuh pertolongan?" Jawabanku tidak pernah melewati kerongkongan. Takut menyeretnya sekali lagi untuk peduli. 

410

Ada kegelapan di dalam kepalaku. Dia bersembunyi seperti bayangan. Rapi dan begitu teliti. Lain hari kukira kegelapan itu akhirnya pergi, lalu kemudian aku mendapati bahwa dia masih bercokol disana. Membisikkan kalimat yang sama.

Mari pergi.

Sabtu, 01 Februari 2025

Hari

Dear Ari, hari ini aku menyerah lagi.

Sesosok monster di dalam diriku mengaum lagi. Raungannya begitu keras dan memilukan. Sampai-sampai aku tidak bisa melawan. Hanya pasrah dan mendengarkan.

Dear Ari, hari ini aku merajuk lagi.

Sebongkah bara kembali menyengat kulitku. Padahal letaknya ada di dalam nadi, harusnya tidak sampai melukai permukaan kulit, tapi itu terjadi. Luka bakarnya sampai membuatku berair mata. Rasanya panas sekali.

Dear Ari, hari ini aku merayu lagi.

Agar semesta sanggup memutar kembali waktu dan sudi mengembalikan nyawamu. Agar maut tak kembali dengan keadaan sia-sia, aku rela mengikuti langkahnya, sebagai ganti karena telah menukar sanderanya, mengambil tempat disisinya, yang seharusnya di isi oleh dirimu.

Dear Ari, hari ini aku mengeluh lagi.

Sebongkah lelah tergusur dari tebing tinggi. Yang pucuk gunungnya sama sekali tidak tercapai mata. Aku tertimpa olehnya seketika. Meski mengaduh bukan kebiasaanku, tapi aku melakukannya, demi menggenapi kebutuhanku sebagai manusia.

Dear Ari, hari ini aku berserah lagi.

Berkali-kali menggumamkan nama-Nya seperti merapal sebuah mantra. Bertanya dan kembali bertanya. Kemana kiranya kapal koyak ini akan membawaku. Gelombang besar memecah bertubi-tubi, kayuku melapuk, awakku tak bersisa, sisa dayungku masih kokoh dan utuh, tapi tanganku tergetar oleh ketiadaan kuasa.

Dear Ari, masihkah engkau disana, memunguti setiap keluh kesahku. Karena jika engkau pergi, maka aku tidak akan berpikir ulang lagi dalam menemui Dia dengan inisiatif mandiri.

Dear Ari, menurutmu apalagi kini yang tersisa dariku.
Nadi-nadi menyala, nafas-nafas menguapkan api, aku remuk karena hantaman godam besi, seseorang telah menghancurkanku lewat jalur dalam. Pengecut sekali memang, tapi aku mengenali seseorang itu. Sangat mengenalnya. Dia adalah diriku sendiri.

Dear Ari, aku menenggak racun lagi hari ini.

Segelas piala dengan cairan berpendar di sodorkan di depan mataku. Cairan di dalamnya bening seperti kaca, jernih seperti pandangan. Aku tergoda untuk mencelupkan satu ruas jari hanya untuk mencicipi. Tapi rupanya bukan rasa manis yang menyambutku, itu kegetiran, jenis racun yang bekerja secara diam-diam, menipu semua calon korbannya dengan penampilannya yang begitu tenang.

Dan aku memainkan perjudian lagi kali ini. Kutenggak isi piala hingga tak bersisa. Kapan itu termulai dan kapan itu terakhiri, seolah tak ada yang mengerti. Semua hanya terjadi. Terjadi. 



02022025-


Senin, 06 Januari 2025

Bagaimana mungkin?

Malam ini aku bermimpi tentang kecelakaan seseorang. Kendaraan yang di gunakan remuk tak berbentuk, dan kendati dia sekarat dengan mengalami banyak sekali patah tulang, tapi dia masih hidup.

Disana aku tidak menangis. Hanya bersedih dan diselimuti kelegaan luar biasa. Bagaimana bisa ada jenis keajaiban semacam itu di dunia ini? 

Sabtu, 04 Januari 2025

Dear Ari

Dear Ari.

Aku kembali ke rumah kecil ini. Setelah sekian lama dan sekian waktu.

Pertama, izinkan aku berkata jika rindu itu masih ada. Meski kadang tersamarkan, namun tak pernah hilang.
Kedua, aku masih hidup sekarang. Ajaib sekali bukan? Setelah dihantam duka semendera itu. Setelah terpuruk sekejam itu. Dan aku masih tidak berteman. Seperti dugaanmu tentu saja.

Aku tidak tahu selama ini siapa yang telah kuajak berbicara mengenai duka-duka tentang namamu. Mungkin tembok, mungkin nyamuk, mungkin juga kemampuan bodohku mengarang cerita.

Aku menyamarkan keberadaanmu menjadi banyak nama. Mulai dari pangeran licin dari dunia Harry Potter, hingga artis legenda dari Korea.

Aku menjelmakan banyak kisah kita menjadi rupa-rupa judul, meski hampir kesemuanya  berisi sama. Kehilangan, trauma ditinggalkan, mimpi-mimpi terbengkalai, perjuangan.

Beberapa kali aku menyamarkanmu menjadi alam semesta dengan keindahan abadi yang kujabarkan dalam susunan kalimat sedemikian rupa.

Dan dari kesemuanya membuatku tersadar, bahwa satu-satunya hal yang kubutuhkan hanyalah berbicara.

Dear Ari.

Kau merindukan mereka? Karena mereka menabung rindu yang kian menggunung spesial hanya untukmu.

Beberapa kali si sulung menangis karena teman-temannya mencandai dirinya dengan sebutan anak yatim. Dan kau tahu apa tanggapanku? Tertawa.

Terlihat kejam. Tapi aku tidak bisa memberinya kebahagiaan palsu. Dia perlu tahu bahwa itulah dirinya. Cap istimewa yang hanya bisa di percayakan oleh Tuhan. Di kemudian hari, dia akan tetap mendengar bercandaan seperti itu, entah dari teman-teman, lingkungan atau dari orang tak di kenal. Jika hari ini aku marah, kemungkinan di kemudian hari dia juga akan marah ketika hal serupa kembali mendatanginya.

Aku ingin dia melihat, bahwa status istimewa itu tidak sembarang orang bisa menanggungnya. Tempat kita berat, tidak semua orang bisa menjalaninya. Bukan hanya beban soal besok kita mau makan apa, tapi juga beban bagaimana kita tumbuh kuat tanpa penopang lengkap.

Aku ingin si sulung menerima keadaannya. Itulah benang merah takdir yang diterimanya. Jika dia sendiri tidak bisa menerima, maka dia akan berakhir. Aku selalu ingin dia tumbuh dan berlanjut. Bukan berakhir.

Tidak usah ditanya seberapa keras aku menjeritkan tangis saat tengah menyuguhi tawa pada aduan si sulung saat itu. Tidak ada orang tua mana pun yang ingin melihat anaknya di anugerahi status satu itu. Tidak ada yang berbahagia juga. Tapi aku perlu mempersiapkan si sulung supaya menjadi sosok tegar kedepannya.

Dear Ari.

Menjadi orang tua tunggal itu berat. Sangat berat.

Suatu hari aku bangun dengan separo napas tertinggal di alam mimpi. Di lain hari aku tertinggal napas saat kebutuhan hidup mengajakku lomba lari.

Kepergianmu mengacaukan jalan pernapasanku. Padahal semua orang tahu, seberapa penting proses bernapas yang benar bagi keberlangsungan hidup seseorang.

Dear Ari.

Aku benci menjadi orang yang harus mengambil dan menanggung sebuah keputusan. Aku menakutkan terlalu banyak hal. Aku... Aku tidak sekuat itu mempertanggung jawabkan keputusan sekecil aapun yang pernah keluar dari mulutku.

Aku amnesia tentang cara menggantungkan hidup. Seringnya aku hanya bisa melayang tanpa daya begitu saja, di udara. Antara ingin terbang tapi tidak bisa, tapi menapak dengan tenang sudah tidak bisa kulakukan.

Aku... Seambigu itu.

Dear Ari.

Aku butuh bahu. Ada gumpalan beban yang menggayuti kedua pundakku. Rasanya melelahkan sekali. Sungguh. Bahkan jika di paksa memilih antara mematahkan kedua lengan hingga pangkal atau memilih bertahan, bisa jadi aku akan mengambil pilihan pertama. Hanya karena... Ini benar-benar terlalu berat dan melelahkan.

Dear Ari.

Kenapa namamu mengabu secepat itu?

Dear Ari.

....


Sabtu, 31 Agustus 2024

Anomali Semesta

Ari pergi, semestaku berpusat pada pemikiran-pemikiran yang kuciptakan sendiri. Bukan lagi dari euforia yang di sebabkan oleh keberadaan Ari.

Aku rindu menjadi akar tanaman, yang meranggas, tertimbun tanah, dan di jadikan sebagai jungkat-jungkit oleh biota tanah. Kendati kata rindu hanya bisa di sandingkan dengan kejadian, cuplikan-cuplikan kenangan yang sudah berlalu, tapi menjadi akar tanaman adalah salah satu angan yang selalu kudoakan supaya menjadi nyata.

Aku rindu Ari, tapi aku lebih rindu menjadi diriku ketika Ari masih ada di sini.

Dulu bintang-bintang dan rembulan berputar di sekelilingku, menemani keseharian dan menjadi bagian dari kehidupanku. Sekarang tidak lagi, pernak-pernik alam semesta ini mendadak mewujud menjadi sesuatu yang manusiawi. Aku menemukan sinar oranye berpendar di sekitar tawa yang merebak di wajah anak perempuanku, aku membaui aroma manis awan dari gumpalan surai yang bertumpuk halus di kepala anak laki-lakiku.

Dua janin bertumbuh yang menyebutku sebagai ibu mendadak menjelma menjadi matahari sekaligus langit untukku. Bagaimana tepatnya itu bisa terjadi, aku bahkan tidak tahu. Kesedihan bertumpuk bersama harapan, air mata melelehkan darah berwarna pekat, balon-balon berisi bisikan berhamburan melalui celah kecil ventilasi di atas jendela rumah.

Setelah berkutat dan di dekap semua itu, pemikiran-pemikiran menggeser keyakinan. Akulah alam semesta ini, bagaimana mungkin selama ini tidak kusadari? Kala pucuk pelangi mulai menghilang di balik semak rerimbunan, aku menjelma menjadi apa saja, mulai dari musang pincang, rumput sewarna tulang, hingga jamur bertudung warna-warni.

Dan aku masih saja merindukan diriku sebagai manusia seutuhnya. Kala Ari masih di sini, mendekap semuanya, dan berbagi udara dengannya.

Awalnya kukira aku telah lebur menjadi serpihan abu, sempat takut juga pada keberadaan angin-angin, karena mereka pasti akan menerbangkanku dengan begitu mudahnya. Tapi tidak, aku melebur bersama tanah, dan terkadang menjadi tanah itu sendiri tanpa lebih dulu kusadari.

Awalnya kukira aku akan terkubur bersama tanah merah yang menelan Ari, hingga kutumbuhkan sayap di punggung dengan kekuatan tak terduga, sakitnya luar biasa, tapi aku ternyata mengerahkan usaha, melarikan diri dari lengan-lengan tak terlihat yang mungkin bisa menjangkau dan menjejalkanku ke dalam pusara berisi kenangan-kenangan tentang Ari.

Aku melihat genangan air selangkah di depanku, bayangan bening itu menangkapku dalam gambaran mengenai seseorang yang di cium oleh air sungai hingga habis nafas, kenangan-kenangan gelap mengenai Bapak yang hingga kini belum bisa kuatasi, sampai ketika aku pergi menjemput lautan, dan di sana kutemui genangan yang lebih besar, bahkan sangat besar, hingga diri ini beserta ketakutan-ketakutan yang di bawanya seolah tak berarti apa-apa.

Beralih pada bangunan yang kusebut rumah, pondasi-pondasi kokoh yang mulai menunjukkan tanda-tanda penuaannya. Kendati terkadang aku pergi, beranjak dan menetap, tapi rumah itu tak kan pernah terganti, hingga kata-kata meluncur bak dentuman martil pada objek pukulannya, aku dan pemikiranku meruntuhkan kekokohan bangunan yang kusebut rumah. Aku membuatnya berserakan, bebatuan kecil dan pasir-pasir.

Ari pergi dan pemikiran-pemikiran mengenai tumbuh dan berkembang mendadak terhenti. Aku tidak memiliki cukup pupuk untuk menyemai dan menumbuhkan apapun, bahkan biji kebencian sekalipun. Dan separuh dunia mengutuk perginya sisi kometitif dalam diriku, karena dalam semua ajang yang kumasuki, kurelakan semuanya berjalan tanpa perlu diri ini menyertakan diri. Aku pecundang yang berdiri di balik kerendahan hati.

Binatang-binatang menyertai pemikiran-pemikiranku di kala hari di selimuti awan gelap dan tetes-tetes air kecil mulai turun membasahi bumi. Berbicara mengenai biota kecil-kecil yang seringnya terlupakan, hingga binatang-binatang berukuran giga yang hanya hidup di alam fantasi manusia. Aku merasakan getaran mereka semua, memahami komunikasi, dan mendadak beralih menjadi bagian dari kawanan-kawanan itu. Bertanya mengapa manusia keji, mengapa manusia mengotori udara dengan serapah, mengapa manusia serakah, dan lain sebagainya. Yang mana hampir semuanya merupakan gambaran dari ketidakpuasan sisi lainku terhadap manusia, dan mempertimbangkan kembali pengukiran status mereka sebagai makhluk hampir sempurna. Maksudku, bagaimana itu bisa?

Dan meski semua bahasa berhasil kukelabui dengan ketiadaan aksara, satu-satunya pertanyaan yang selalu mengendap di sana selalu meluber dengan cairan berwarna sama. Sudahkah aku cukup berguna sebagai manusia?

Aku melihat geliat kegunaanku bangkit dengan intensitas lebih ketika Ari sudah tak lagi menampakkan diri sebagai salah satu penduduk bumi. Mengukir banyak setapak anyar, menjajal banyak kemungkinan yang selama ini selalu kuhindari, dan...berjalan di atas pemikiran-pemikiran yang berhasil kuciptakan sendiri. Dan meski aku tidak begitu yakin apa fungsinya itu bagi eksistensi kehidupan lain, kurasa aku cukup berguna juga akhirnya, jika bukan untuk dunia ini, setidaknya untuk duniaku sendiri.

Milyaran bakteri yang mendiami raga ini pasti tengah berpesta pora di dalam sana, karena mendung mengarat yang bertahun-tahun kebelakang setia memayungi semesta mereka akhirnya tercerahkan oleh waktu. Aku sembuh karena kepergian Ari, meski itu hanya berarti satu hal bahwa aku sudah tidak bisa lagi merasakan kompleksitas sebagai manusia. Mati rasa ini sudah beralih menjadi sesuatu yang permanen dan akan bertahan mungkin hingga hari terakhir bakteri-bakteri tersebut mendenyutkan keberadaan mereka.

Air mata ini tidak mengering, sumber dan rute alirannya masih ada, membekas di sepanjang garis otot sekitaran mata. Tapi pemikiran-pemikiran memaksanya untuk mengirit-irit laju pengeluaran. Dan rasa lelah membunyikan kode indikasi dengan suara paling keras. Sudahkah aku bangkit dari segala kepedihan tentang kepergian Ari? Berapa normalnya waktu yang di butuhkan manusia lain untuk bangun saat berada di posisi ini sebenarnya?

Dan matahari, dan langit-langit beserta awan dalam pelukannya. Sudahkah aku cukup baik untuk mereka?

Baikkah jika aku kehilangan hingga batas tanya pada siapa sebenarnya diri ini? Karena terkadang, di malam-malam pekat saat yang terjaga hanya raga ini dan alunan suara dari alam yang di bungkam oleh sunyi, aku merasakan perpecahan dari bagian raga ini. Ketidak sinambungan yang begitu kentara, bukan lagi berdiri di antara alam bawah sadar, tapi nyatanya aku benar-benar mempertanyakan kenapa perasaan ini tidak terhubung pada jalinan sel yang merambati bagian tangan? Milik siapakah itu? Yang bergerak tanpa mengenal waktu? Yang berusaha tanpa mengenal kata lusa.

Lalu kebiasaan-kebiasaan baru yang normalnya tidak akan kujajal apalagi di lakukan secara konstan dan berulang. Namun kebiasaan-kebiasaan itu benar-benar mewujud sebagai jalanan baru. Meski aku tak pernah mempermasalahkan mengenai opsi lain yang mungkin tidak akan pernah kupilih, tapi kepergian Ari memberiku kekuatan untuk mencicipi mereka semua.

Dan pertanyaan mendasar yang menjadi alasan sebenarnya kenapa paragraf ini tercipta, kerisauan yang mendadak hadir di hari minggu pertama bulan kesembilan tahun ini.

Sudah cukupkah aku dalam bermetamorfosa?


Kamis, 15 Agustus 2024

Hal Yang Tidak Kusukai Usai Kau Pergi

Aku mulai tidak menyukai hujan. Tentang bagaimana ia akan membawa potongan rindu tentangmu, tentang bagaimana ia akan membawa kenangan tentang kepergianmu.

Aku mulai tidak menyukai malam. Gulita yang semula membawa ketenangan mendadak menyelimuti dengan kesunyian yang menegangkan.

Aku bahkan juga mulai tidak menyukai hari terang. Harapan yang selalu berhasil dihantarkan oleh pagi mendadak gagal menunjukkan diri sejak hari kepergianmu.

Aku tidak menyukai tentang bagaimana kita sekarang berbicara dengan bahasa yang berbeda. Seperti kebiasaan kita sebelumnya, harusnya aku mendebat dan kau menimpalinya dengan tertawa. Semua jawaban sekarang selalu terdengar sama yakni beku dan beku.

Aku tidak menyukai bagaimana sekarang orang-orang akan memandang iba terhadapku, bagaimana sekarang segala keputusan baik itu besar atau kecil, benar atau salah semuanya berada dalam genggamanku.

Aku belum terlatih untuk mandiri, untuk sendiri. Meski jika di beri waktu, akan butuh selamanya untuk bisa terbiasa hidup tanpamu.

Kosong

Aku memasuki dunia baru dimana Ari tidak terikut di dalamnya. Kembaranku, separuh dari detak nadiku. Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya untuk tetap kokoh di awal paragraf ini.
Runtuh bukan kata yang tepat karena kini aku sudah tak lagi berbentuk. Remuk tidak bisa mewakili karena kini aku sudah tak bisa lagi merasa hanya memaksa. 

Dulu, jauh sebelum hari ini, ketika berangan masihlah semudah menghembuskan pernapasan, hal yang paling kusuka dari keheningan adalah tentang imajinasi, aku mencari itu di sela-sela kebisingan Ari dalam merecoki hidupku, aku mencari itu melalui alam, karena konon semesta tak pernah gagal dalam menghadirkan sunyi. Aku mendatangi pantai, berdiam diri di atas sungai, menyapa dedaunan, mencoba menerobos pekatnya hutan, bahkan beberapa kali mengetuk sepertiga malam. Dan dari semuanya terkadang kudapati apa yang kucari, secercah hening, ruang dimana aku bisa berbagi dengan aksara dan spasi. Momen bercintaku dengan rumah ini, dengan dunia dimana aku bisa berdiri dan menjadi diri sendiri.

Beberapa hari terakhir, semenjak Ari pergi, aku mencoba melakukan hal yang sama, menilik satu demi satu tempat yang dulu memberikan kekuatan tapi aku selalu pulang dengan tangan dan perasaan hambar. Aku tak menemukan apapun dan dimanapun. Seakan semesta telah sepakat untuk menghadirkan kenangan tentang Ari di setiap sudut muka bumi ini. 

Tidak apa-apa jika tahun-tahun telah lama berlalu, tapi kenangan tentang Ari hanya akan mengiris mata di saat luka masih mengaratkan waktu. Aku masih belum terbiasa berbicara dengan diri sendiri tentang Ari. Aku masih belum terbiasa memandang isi semesta tanpa melewati argumen dulu dengan Ari. Aku belum terbiasa berjalan tanpa pegangan kokoh dari tangan Ari. Aku bahkan belum terbiasa untuk menulis tentang Ari yang hanya berisi kenangannya. Akan butuh waktu seumur hidup untuk membiasakan itu, sementara seperti yang telah kukatakan tadi, waktu telah mengarat sekarang hingga sehari terasa bagai semilyar putaran jam.

Ari mungkin tidak tahu jika kepergiannya akan menimbulkan lubang tanpa ada obat penambalnya. Luka karena cinta hanya bisa di obati dengan cinta. Tapi kehilangan Ari bukanlah luka yang seperti itu, ini berbeda kasta. Hubunganku dengan Ari bukan hanya mengikatkan cinta di dalamnya, ada ketergantungan, ada belas kasihan, keterbiasaan, empati, yang kesemuanya dibungkus oleh kucuran darah bernama Hara dan Alfa. Sekomplet itu isi ikatan kami, alasan kenapa susah sekali bagiku untuk terbiasa, tapi tak ada yang mengerti, semuanya selalu berkata agar aku tetap baik-baik saja, tapi seolah kata-kata tak pernah bisa di cerna oleh kepalaku yang sekarang.

Draf Sebelum Ari Pergi

Hidupku sesunyi pohon mangga di pekarangan. Terlahir dari keluarga yang menyisihkan fakta tentang betapa pentingnya sebuah komunikasi membuatku tumbuh menjadi sekeras batu, bahkan lebih dari itu. Aku terlatih menelan segala yang kuterima dan rasakan seorang diri. Bukannya tidak mengerti cara berbagi, tapi tidak paham harus dengan siapa berbagi. Hidupku sekeras itu. 

Saat masih belum datang Ari, saat ketika seluruh pintu di dunia ini terbuka lebar-lebar, saat ketika kuraba pundak belakang dan yang kutemui adalah sepasang sayap dan bukannya penat dan lebam. Dulu, aku berani berteriak sekeras baja. Dulu aku memaki ombak, menyalahkan hantamannya dan memeluk karang dengan penuh rasa iba dan kasihan. Dulu aku berani mengutarakan. Sebelum akhirnya suaraku teredam oleh keadaan.

Tapi seiring menuanya angka, aku semakin menarik diri dari semua sudut bumi. Eksis yang dulu kupuja sekarang sudah tidak memiliki arti lagi. Kedatangan seseorang membuatku mengganti semua konsep nyaman hanya dalam satu balutan nama yakni Ari. Bukankah rasanya menyenangkan sekali ketika akhirnya kita memiliki seseorang yang bisa di ajak tidak hanya berbagi suka namun juga berbagi borok dan luka?

Kedatangan Ari tidak serta merta berfungsi sekomplek itu. Ada waktu dimana aku menimbang dan menimang apakah Ari sosok yang tepat untuk di ajak menengok segala remah yang tersembunyi. Tapi kemudian aku mengerti, pernikahan berarti berbagi segalanya. Tidak peduli jika pada akhirnya kita terlihat buruk di mata pasangan. Karena sejatinya makna pernikahan adalah juga memahami, menerima dan merelakan. Di penghujung hari kebersamaan kami, Ari sudah mengantongi segala remah tersembunyi milikku. Melegakan sekali memiliki seseorang yang bisa kita ajak berbicara tentang segalanya. Dan ya, yang kumaksud adalah segalanya. 

Senin, 12 Agustus 2024

Membuat Cerita

Beberapa hari kebelakang aku seperti melihat Hara yang lain. Dia sering diam dan selalu berkutat dengan gambar-gambarnya saja. Dia mulai sering membicarakan dirimu, entah kepada Alfa atau sekedar memutar koleksi ingatannya ketika bersamamu kepadaku. Dia bahkan beberapa kali melukis tentang bagaimana dirimu sekarang. Semuanya terlalu terlihat jelas seperti mendapati pantulan diri yang terjebak di dalam cermin. Dia merindukanmu, sangat merindukanmu, lebih dari sekedar itu, dia membutuhkanmu lebih dari pada aku. Dulu aku pernah berkata bahwa ada dua wanita yang terluka dalam oleh kepergianmu, yakni aku dan ibumu. Tapi aku melupakan satu perempuan lain lagi, dan dia adalah Hara. Untuk sesaat aku lupa siapa dirimu untuknya dan dimatanya. Kamu adalah cintanya, mimpinya, tiangnya dan 
payungnya. Dan aku tidak bisa memahami perasaan ketika harus kehilangan semua itu dalam satu waktu. Aku selama ini terlalu egois karena hanya merasa diri sendiri paling menderita. Dan yang paling genting dari semuanya adalah ketika aku tidak tahu cara untuk mengobati kehilangannya. Maafkan ibumu nak, suatu hari nanti kau akan melihat ini dan memahami betapa jauh-jauh waktu berlari dengan membawa beban dipundak ibumu yang berlipat karena ada tambahan rasa bersalah pada anak-anaknya. Aku selalu merasa harus menjadi dan memberikan yang terbaik meski yang bisa kulakukan hanyalah mencoba dan mencoba. Aku masih ingat betul bagaimana selama ini telah memakai topeng manusia lain. Mengajari Hara tentang rasa bersyukur untuk setiap detail hidup ini, aku memberinya contoh tentang keadaan buruk di luar sana. Beberapa tidak bisa makan setiap hari, beberapa tidak memiliki orangtua sama sekali, beberapa tidak memiliki tempat untuk berteduh, dan yang terkejam aku menakutinya dengan berkata diluar sana ada yang tidak pernah diberi pelukan. Aku bekerja sekeras itu untuk membuatnya merasakan surga ditengah lunglainya kaki mengarungi gunung pasir. Dan ada bagian diriku yang merasa bahwa semua ajaran itu harusnya diteriakkan untuk telingaku sendiri, bukan untuk Hara. Kelemahanku untuk berdamai dengan duka ini menjadi kemunduran bagi Hara untuk bisa kembali bangkit segera. Dan dia layak mendapatkan pengobatan segera. Tapi aku bisa apa? Yang bisa kuberikan hanyalah pelukan dan waktu, sisanya adalah semangkuk masakan dengan bumbu cinta. Dan sosokmu, dimana aku harus mencarinya? Dengan apa aku harus menggantinya? Atau bagian mana yang harus kuambil dari dirimu untuk kujadikan contoh peran? Dirimu tidak sempurna, tapi peranmu iya. Ini sedikit aneh, kepergianmu justru hanya menamparku pada satu hal, yakni pengakuan betapa kurang ajarnya aku dan betapa baiknya dirimu. Kudapati itu ketika dalam perjalanan menuju paragraf ini. Mataku sejauh ini hanya bisa melihat rekaman kebaikanmu dan hanya itu, 

Dear Ari, jika suatu masa di waktu tunggumu itu ada kekuatan untuk membaca semua ini, maukah kau melihatnya? Rasakan betapa hancurnya kami disini, semua keadaan berjalan kembali normal bagi mata orang diluar sana, akupun mengakui bahwa kehidupan ini sudah kembali baik-baik saja, tapi rindu serta kebutuhan akan hadirnya sosokmu enggan sekali kuusir pergi. Dia bercokol disana, mendekapku ketika suasana sedang sendu, hanya untuk membuatku tergugu dan menjilat asinnya air mata. 
Dear Ari, jika entah dengan cara apa dirimu bisa mengetahui semua ini, lihatlah betapa aku telaten dalam memupuk cerita, agar kelak ketika kita bisa kembali bertemu tak ada waktu kosong di antara kita, aku akan menjejalimu dengan banyak sekali protes dan tabungan cerita, aku akan melihat dirimu yang tersenyum karena melihatku merengek dan merajuk ketika melakukan semuanya. Aku akan bekerja begitu keras untuk membuatmu mengusap kepalaku sambil berkata bahwa dirimu begitu bangga dan tidak salah karena menitipkan anak-anak pada sosok sepertiku. Aku akan berusaha keras lagi agar bisa melihatmu mengusap air mataku ketika tengah menceritakan ulang betapa kerasnya hidup setelah kepergianmu. Bukankah esok kita kembali bertemu? Tolong berbisiklah iya, karena jujur saja hanya harapan itu satu-satunya pelita yang menerangi jalanku sekarang.
Kepada Alfa dan Hara, tolong genggam erat tangan ibu. Jangan biarkan aku beranjak dan lari dari kesadaran ini. Tumbuhlah lebih bahagia dan selalu bahagia. Aku akan berusaha menjadi sosok yang lebih baik, aku ingin mengisi kekosongan itu dengan tepat, kepingan puzzle yang dibawa pergi Ari, aku akan berusaha menempatinya juga. Tolong tunggu ibumu ini berproses, tidak mudah untuk begitu saja mengurai ikatan dengan duka, diperlukan doa, waktu, atensi dan juga lebih dari sekedar tenaga. Tapi aku akan berusaha. Jangan mengendurkan pelukan kalian, atau aku akan terjatuh dan terbang. Jangan mengeluhkan keadaan kalian, atau aku akan runtuh dari ujung karang. Karena senyum kalian lebih berharga dari apapun isi dunia ini. Dan ya, yang kumaksud adalah lebih dari apapun. Apapun. 

















 

Minggu, 11 Agustus 2024

Ari

Suatu hari nanti hara akan datang ke tempat ini, lalu membaca semuanya. Dia akan tahu bagaimana ibunya sejauh ini hidup hanya untuk kedua anaknya. Mimpinya telah lama di renggut darinya, hasratnya di paksa mati, bahkan segala keinginannya kini harus selalu di saring dan di tinjau ulang.

Ari tidak pernah tahu jika menjadi orangtua tunggal seberat ini. Ari tidak pernah tahu jika kepergiannya membuatku mengerti arti sebuah kesepian. Aku berteman, bertemu orang baru, datang ke tempat yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Tapi aku gagal untuk menemukan  nyawa. Semuanya seakan tak lagi bisa memberi arti.

Jika saja Ari paham betapa sunyi dunia yang ia tinggalkan. Dunia tetap berputar, dunia terus bertumbuh dan berkembang. Tapi sesuatu dalam diriku justru terus menciut dan tak mampu lagi memunculkan harapan. Manusia satu ini memiliki cacat permanen yang tak bisa di lihat oleh mata telanjang. Hanya karena dua nama saja raga ini mau menuruti kemauan jantung untuk terus berdetak dan bergerak. Hanya karena dua nama, Alfa dan Hara.

Dear Ari, dulu aku selalu berpikir bagaimana bisa mengutarakan segala pikiran rumitku padamu tanpa harus berkata-kata. Dulu aku sempat ingin semua tulisanku di tempat ini kau baca, tapi kita memang seperti gugur dan semi, dua musim berbeda yang tidak mungkin akan bertemu di titik sama, karena kita memang berbeda. Tulisanku kian menjamur di tempat ini, sementara engkau sudah tak lagi memiliki kuasa atas pergerakan raga.

Dear Ari, kamu mungkin tidak bisa membaca ini, tapi entah kenapa aku yakin kamu lebih memahamiku kini.
Dear Ari, aku tidak yakin ini benar, tapi aku selalu merasa kamu ada disini, masih ada untukku dan tak beranjak kemana-mana. Meski bukan untukku, kamu ada untuk darah yang kamu tinggalkan.

Kamis, 12 Mei 2022

Segumpal Tanah

Aku adalah sebongkah tanah yang terbiasa berada di bawah. Aku adalah sebongkah tanah yang biasa terinjak dan menengadah. Bukan hanya secara harfiah tapi juga dalam artian yang sebenarnya. Ibuku menamaiku tanah, entah karena jika menamainya dengan nama langit atau mentari akan menjadi sesuatu yang terlihat sangat muluk atau memang murni bertujuan agar aku selalu sadar siapa diri ini bermula.

Hidupku selalu berdampingan dengan air, aku berteman dengannya, mengaguminya, lalu mengutuknya. Tapi kini aku terbiasa memandangi air sebagai kawan biasa, seperti Draco yang memperlakukan Harry pasca perang. Kita tetap bisa berdamai dengan efek yang ditimbulkan oleh masa lalu, sekelam apapun masa itu pernah terlalui.

Ari adalah sejenis pot bunga yang mengangkatku dari bawah sana dan memperkenalkan dunia baru beserta keindahan yang di tawarkannya. Ari datang begitu saja pada suatu waktu yang tengah berbadai. Ari datang begitu saja, memungutku, membuatku berharga, membuatku memiliki nama dan menghasilkan juga. Tanah yang dulu selalu terinjak dan berada di bawah kaki akhirnya menemui masa untuk bisa naik ke atas meja, di siram setiap hari, di rawat, di sayang-sayang untuk kemudian di pamerkan. Tanah yang dulu hanya bisa melihat tapak kaki manusia kini bisa sejajar dengan mata si empunya, ketika ada istilah sombong maka itulah definisi yang tepat untuk menggambarkan betapa melayangnya situasiku berkat keberadaan Ari. Aku tidak membandingkan hidupku dengan tanah liat di luar sana yang di proses begitu rumit untuk dijadikan sebuah maha karya, aku tidak membandingkan hidupku dengan tanah galian manapun, yang mencoba di angkat namun tetap harus berakhir di bawah juga. Aku hanya membandingkan hidupku dengan kehidupanku juga selama Ari belum datang. Aku berangan, aku bermimpi, aku menyentuh pelangi, aku memeluk rembulan, bahkan pernah kuagendakan diri untuk memetik bintang. Segala hal mustahil yang pernah di larang untuk sekedar kubayangkan satu persatu mulai kunikmati, mulai kujelajahi. Ari seperti melemparkanku pada bulatan bumi yang benar-benar lain dan baru. Aku tidak pernah tahu sebelumnya bahwa ada jenis keindahan seperti itu di atas muka bumi ini. Aku tidak pernah tahu sebelumnya bahwa aku akan sanggup melangkah sejauh ini, ketika dulu yang terbayang olehku hanyalah bagaimana aku akan menua, terkurung dalam dunia mencekam dan menakutkan. Aku terbang, bukan sesuatu yang bisa kulakukan memang, tapi aku berhasil merasakan sensasinya. Lagi-lagi Ari berperan dalam hal itu. Seakan segala hal yang melingkari kehidupan baruku adalah kreasi dan tak akan terjadi tanpa campur tangan dari seorang Ari. Seonggok tanah ini mulai lupa diri, bukan hanya sombong tapi sangat tidak sadar diri. Bahwasanya ada yang lebih berkuasa pada diri setiap makhluk yakni Penciptanya.
Dan hari itupun datang, setelah gelap melanda, dan Ari membiarkanku menari di atas danau bercerminkan kerlip bintang. Setelah cerahnya padang canola memeluk dan aku lari melepaskan diri, menjauh dari jangkauan Ari sekedar untuk mengetahui seberapa besar inginnya untuk bisa menangkapku.
Dan sekali lagi, hari itu datang, dimana tempat biasa kubernaung dari segala kejahatan dan ketidak amanan yang ada dibumi ini mendadak jatuh dan untuk pertama kalinya melepaskan kesiagaannya untuk melindungi diri ini. Aku yang semula tak berbebat untaian benang, merasa memiliki arti setelah berada dalam eratnya pelukan Ari. Aku yang semula merasa tak memiliki makna, perlahan memiliki nama, angan, sebelum akhirnya harus kembali di paksa merasa rawan dan telanjang. Sang Pemilik merasa sudah saatnya melepas segumpal tanah ini dari pelukan potnya. Sang Pemilik secara tidak sengaja dalam tanda kutip membuat Ari terjatuh, terpecah dan tercerailah dirinya dari segumpal tanah ini. Aku menangis. Tangisan terbesar dan terdalam yang pernah kulakukan selama hidup, bukan yang terkeras, karena kuasa akan raga ini telah memudar seiring informasi yang datang dan tercerna mengenai proses jatuhnya Ari. Ketakutan terbesar yang bahkan belum sempat kubayangkan itu terjadi. Ketakutan yang tak pernah berani kuangankan mendadak menjadi sebuah nyata yang membetot hingga separuh akar yang mengikat nyawa. Seonggok tanah ini telah porak poranda. Seonggok tanah ini ikut menelan serpihan Ari yang jatuh tanpa aba-aba, hingga ketika dunia harus mengumpulkan remahan Ari untuk kemudian dikebumikan, ada bagian dariku yang terikut dalam pemakamannya.
Dunia mungkin hanya melihat aku dan Ari seperti pot dan tanah yang lainnya, seperti ribuan bahkan jutaan lain yang ada di dunia. Yang tidak dunia tahu adalah bagaimana Ari telah mencemplungkanku pada dunia baru, mengangkatku dari keterpurukan dan memberiku kehidupan. Aku tidak mengutuk apapun, aku tidak membenci siapapun. Aku menerima semuanya seperti halnya menikmati takdir yang membuatku menjadi tanah, dan bernasib juga bernama sama pula. Bukan karena keberadaan Ari kurang berharga, bukan pula karena kurangnya rasa cintaku padanya. Aku hanya merasa Ari tidak pernah melepaskan pelukannya. Aku hanya masih belum percaya semua kesudahan ini adalah sebuah nyata. Aku hanya masih menyimpan asa bahwa suatu masa nanti entah di kehidupan yang mana kami akan kembali bertemu dan kembali menjadi satu. Itu saja.
Sang Pemilik yang selalu berkuasa, mencabut apapun sekehendakNya, segumpal tanah yang selalu bersombong diri inipun akhirnya harus terisak dan berkaca. Segala hal di muka bumi ini memiliki pemilik, bahkan untuk sebutir debu, bahkan untuk setetes keringat. Dan pemilik di atas segala yang paling berhak untuk memiliki. KepadaNya harus kutumpahkan segala rasa yang mendera.
Tuhan, aku terluka, aku sakit, aku sekarat, aku mati rasa, dan aku di paksa untuk tetap hidup dan menikmatinya.
Memang apalagi yang masih tersisa? Ari adalah segalanya. Sang Pemilik membuatku pergi ketempat baru, berjumpa dengan banyak gumpalan lain yang memiliki takdir sama atau bahkan lebih buruk dari pada aku. Sang Pemilik membukakan pintu lain dari sudut lain bumi ini namun pandanganku tetap saja terpaku. Segala keindahan yang kutemui seperti tak bisa lagi menyentuhku. Beberapa nyawa mencoba berempati dan berusaha, tapi aku sudah terpuruk terlalu dalam untuk bisa diselamatkan. Aku memang menerima segalanya, tapi kehilangan ini benar-benar nyata dan tidak lantas membuatku bisa berkata bahwa aku sudah baik-baik saja. Dan aku tidak yakin jika waktu memang bisa bekerja sesakti itu untuk bisa menyembuhkan luka jenis satu ini.

Di suatu petang yang telah lalu, aku mencoba menengadah ke langit lepas, pekatnya masih sama seperti dulu ketika kami masih bersama, ada bintang tergantung di sana, ada rembulan yang menyembul malu dari persembunyiannya, dan.....ada Ari di antara semuanya, duduk berayun di salah satu awan, memandang turun ke bumi, matanya menghujam tepat menemuiku. Ada yang ingin dia sampaikan namun suaranya tertahan oleh perbedaan dimensi dan waktu.
Aku tahu dia ingin menyemangatiku, ingin memberikan kata-kata penghiburan yang selalu bisa menyalamatkan mental hampir matiku. Seperti yang selalu dia lakukan sebelum-sebelumnya di kehidupan ini.
Aku kembali pergi ke jalan lama, ingin kembali melihat apakah dunia masih berputar seperti biasa atau ikut macet mengarat seperti duniaku, tapi tak kutemui apa-apa, selain fakta bahwa aku melihat Ari beserta segala kenangannya saat kami masih bersama-sama. Aku seperti tengah berada di tengah bioskop dimana layarnya hanya menampilkan potongan-potongan gambar yang telah lalu. Dan aku harus kembali tergigit oleh perasaan ngilu. Luka ini seperti tak ada kata-kata yang bisa hadir untuk mendefinisikan. Luka ini, seperti tak ada satu manusiapun yang bisa menyentuh apalagi ikut merasakan sedikit saja legit perihnya.

Segumpal tanah ini kehilangan pelindung terbaiknya, kehilangan pendengar terbaiknya, kehilangan satu-satunya temannya, kehilangan oli pengatur putaran rodanya, seperti waktu yang sanggup mengarat, begitu pula nafasku selama ini tersendat. Segumpal tanah ini masih belum sepenuhnya percaya bahwa makhluk sekuat Ari bisa amblas begitu saja dalam satu pukulan. Segumpal tanah ini masih belum percaya bahwa di dunia ini ada sesuatu yang tak akan bisa kembali hadir untuk memeluknya meski dengan apapun caranya. Segumpal tanah ini hanya hidup berbekal asa bahwa di kehidupan selanjutnya kami akan kembali bertemu dan dipersatukan, itu saja.

Aku sering berandai pada semua momen mengambil keputusan yang datang di depan hidungku. Akan bereaksi seperti apa Ari jika kini ia masih ada dan mengalami juga melihat semua yang tengah kulihat? Aku hampir menanyakan pertanyaan satu itu di setiap kesempatan, mengulangnya ribuan kali sejauh ini.
Dulu ketika jatuhnya Ari masih berada dalam hitungan hari, aku sering bertanya kepada Sang Pemilik kehidupan, kenapa bukan aku saja yang pergi? Biarkan Ari tetap utuh, ada dan melanjutkan semuanya. Aku segumpal tanah yang buta, pemarah dan rentan tersesat. Jika hari ini aku masih tetap berada di jalan yang benar, maka itu tak lain adalah berkat dari Ari sebagai pemandu navigasinya. Kenapa bukan aku yang kehilangan kuasa untuk bersuara, mendengar dan merasa, lalu kembali menjadi tanah yang tak berdaya
seperti fitrahnya?
Kehilangan Ari berati kehilangan rumah terbesarku, kehilangan Ari berati kehilangan pakaian terbaikku. Kehilangan Ari berati kehilangan perisai terkuatku.
Segumpal tanah ini seketika merasa telanjang, merasa rentan, tak aman dan tak nyaman.
Segumpal tanah ini selalu kehujanan meski musim tengah gersang, selalu di dera dingin meski terik mentari tengah berada di puncaknya. Aku harus kembali menjadi anomali yang mempertanyakan fungsi denyut nadi, mempertanyakan guna matahari, tapi segumpal tanah ini tak akan pernah kembali kepada waktu di mana Ari masihlah sebuah teka-teki. Aku terpuruk, tapi Ari telah menyentuhku. Meninggalkan banyak kenangan selama kami berjalan bersama, dan saat ini, itu cukup untuk menjadi penopangku. Aku akan kembali melangkah, entah menjadi apa diriku nanti, entah singgah dimana, dan entah seperti apa bentukku saat ini, itu semua tak lagi penting. Yang terpenting adalah memulainya, entah dengan merangkak atau berjalan, entah berupa remahan atau hanya sebagian.
Semua lelah yang kudekap hanya akan menjadi milikku sepenuhnya. Semua resah yang menghampiri hanya akan menjadi spasi bagi kelanjutan gerakku. Aku tidak sedang berjanji, aku hanya sedang membangun tongkat penyangga bagi diriku, aku tak lagi sanggup berdiri sendiri, aku memerlukan tongkat hingga segala tremor ini menghilang.

Dan kepada Ari, maaf jika aku terlalu egois karena meminta Dia untuk selalu mengahadirkanmu dalam mimpiku. Engkau kini tengah di sibukkan dengan urusan dunia barumu, tak akan lagi sempat menilik dunia kecil yang kau tinggalkan ini. Tapi aku disini, hidup, terikat pada masa lalu dan tidak hilang ingatan. Semua kenangan tentangmu masih sama segarnya seperti saat engkau masih ada. Aku masih menangis tiba-tiba, masih menemukanmu di setiap sudut rumah ini, bahkan meski jika aku keluar. Maka hadirmu meski hanya dalam dunia gelap alam bawah sadar akan menjadi sebuah morfin yang memacu nadiku untuk lebih bersemangat dalam mendenyutkan darahnya.
Dan kepada Ari, maaf jika selama ini aku masih belum menjadi yang terbaik dan hanya selalu mencoba. Aku tahu engkau lebih dari layak untuk mendapatkan yang lebih dari pada semua itu. Tapi waktu tidak memberiku kesempatan lebih untukku mempersembahkan darah dalam mencobanya.
Aku akan menjaga mereka, menjadikannya tangga bagiku dan bagimu agar bisa kembali bersua di surga. Sungguh tak ada lagi pecut yang lebih dahsyat daripada sebuah ingin untuk menemuimu lalu melanjutkan kisah kita.
Dan kepada Ari, maaf jika kelak aku akan menerima dengan lapang dada ketiadaanmu. Seperti aku yang semula memaki air lalu kemudian berteman dengannya, maka akan seperti itu jugalah nanti keadaanku sepertinya, berdamai dengan masa lalu. Tidak peduli sedramatis apa luka ini. Tidak peduli sejauh apa aku terjatuh dalam keputusasaan. Karena aku yakin engkau akan lebih berbahagia ketika melihatku bangun dan tertawa. Meski aku tidak yakin masih mengingat caranya.


Kita tetap bisa berdamai dengan efek yang ditimbulkan oleh masa lalu, sekelam apapun masa itu pernah terlalui. Semoga saja. 

Kamis, 31 Maret 2022

Petang itu

Aku tidak akan melupakan perjalanan petang itu. Ketika senja mengirim rintik gerimis. Saat ketika aku harus melewati tempat dimana dirimu meregang nyawa dan di tempat yang sama aku masih berpikir harus membawa bekal pakaian apa saja jika harus merawat inapkan dirimu nanti. Luka itu tidak membutuhkan perawatan berlanjut rupanya, tidak ada yang harus di tunggui sampai harus menginap di bangunan besar berbau disinfektan itu. Engkau begitu cepat, bahkan terkesan tegesa-gesa, hingga lupa untuk pamit, lupa untuk menyematkan doa di kepala si kecil seperti kebiasaanmu ketika hendak pergi. Semuanya menghilang secepat senja yang di telan malam. 

Jumat, 04 Februari 2022

Kepada Hara

Kepada Hara, aku harus berimajinasi sedemikian rupa untuk menjelaskan dimana sekarang dirimu berada. Pertama aku menggambar bola dunia, lalu matahari beserta planet-planetnya, di luar itu semua aku membuat sebuah tempat tersendiri yang kunamai surga, di sana kamu tengah duduk menunduk kebawah yang kuandaikan sebagai dirimu yang selalu mengawasi dan melihat setiap perilaku anak-anaknya. Untuk itu Hara harus rajin mengaji, bersikap baik dan menurut sama mamanya. Kemudian imajinasi itu di revisi oleh kenyataan. Aku memberitahu Hara yang sebenarnya, masih memakai imajinasi meski dengan gambar berbeda. Kali kedua aku membuat sebuah tempat dimana ragamu bersemayam. Aku menggambar bola yang di andaikan sebagai rohmu yang pergi dari alam dunia, lalu selanjutnya kubuat sebuah lingkaran besar, kujelaskan bahwa ini bernama alam tunggu. Disana tempat para roh2 orang yang telah pergi dari raganya berkumpul. Alam surga masih jauh dari itu,
"Selama ini mama berbohong dengan bilang bapa sudah di surga, yang sebenarnya terjadi adalah bapa masih di alam tunggu. Sampai hari kiamat tiba, lalu saat itulah amal baik dan buruk setiap manusia di timbang. Jika lebih berat amal baik dia masuk surga, jika lebih berat amal buruk maka dia masuk...."
"Neraka!" Hara selalu menyelesaikan kalimatku dengan benar pada akhirnya.
Kepada Hara, di halaman selanjutnya aku menggambarkan sebuah timbangan besar dengan kendi di masing-masing tempat duduknya, sengaja kubuat sebelah lebih besar dari satunya, dan di atasnya kugambari koin-koin beterbangan yang tengah mengantri untuk masuk ke dalam kendi besar itu.
"Ini adalah doa-doa, sedekah yang dikirimkan oleh Hara dan mama, juga oleh orang-orang yang sayang sama bapa, sama Alloh diubah jadi koin lalu dimasukkan ke kendi amal baiknya bapa, jadi semakin sering kita berdoa dan bersedekah, semakin penuh deh kendi amal baiknya bapa,"  sengaja kubuat timbangan itu semakin miring sebelah.
"kalau kendinya penuh gimana ma? Hara kan sekarang rajin berdoa."
"kalau kendinya penuh ya tinggal di ganti aja sama yang lebiih besar."
Hara begitu suka dengan pengandaian kendi dan timbangan itu, dia berimajinasi sendiri tentang bagaimana jika koin-koin itu meluber dan tak tertampung lagi, tentang bagaimana kamu akan tertawa-tawa di tempatmu begitu tahu ada banyak koin berjatuhan yang datangnya dari doa anakmu.
Selanjutnya, aku menggambar tentang deretan antrian panjang manusia-manusia tanpa wajah menenteng kendi di kedua tangannya. Hara bersikukuh bahwa manusia pertama di barisan gambar itu adalah kamu, lalu aku, kemudian dia. Aku menjelaskan bahwa itu adalah hari penimbangan. Hari penentu ataukah kita akan di celupkan di neraka atau di masukkan ke surga.
Sampai di sana aku sudah tidak bisa berimajinasi lagi. Aku hanya mampu mengakhiri cerita itu dengan menggambar sebuah bangku di sebuah taman. Ada beragam jenis bunga dan berbagai macam buah serta tumbuhan lainnya. Sungai yang airnya memantulkan sinar keemasan mentari di penghujung hari terlihat berkelok-kelok di kejauhan sana, membelah daratan-daratan seindah mimpi. Aku memberinya nama surga. Lalu disana, di bangku itu duduk aku dan kamu. Hara dan adik tengah bermain menangkapi kupu-kupu yang beterbangan kesana kemari. 
"Jika Hara berhasil menjadi anak baik, rajin bersedekah, nurut sama mama, dan rajin berdoa. Insyaalloh kita akan berkumpul kembali dengan bapa di tempat indah ini."

Kepada Hara aku tidak bisa terus berbohong dengan mempertahankan cerita bahwa kamu sudah berada di tempat yang indah dan di damba oleh semua doa. Aku ingin Hara tahu bahwa kamu masih membutuhkan dirinya, membutuhkan doa, sedekah-sedekah dan tingkah baiknya. Aku ingin Hara tahu bahwa sisa hidupnya adalah satu-satunya kesempatan untuk "mengumpulkan koin" agar bisa kembali bertemu denganmu. Karena aku tahu di banyak kesempatan, meski tidak berbicara tapi dia merindukanmu lebih daripada aku. Aku ingin Hara tahu bahwa kamu tidak pergi terlalu jauh sampai lupa dengan tugasmu yakni menjaga dan mengawasi setiap tindak tanduknya. Aku ingin Hara mengerti bahwa kamu tidak pergi terlalu jauh, tapi hanya melangkah masuk dan sekarang hidup di dalam hatinya. Aku ingin Hara termotivasi untuk tetap mempertahankan cintanya, sayangnya pada sang idola, yakni ayahnya. Karena aku tahu waktu bisa memudarkan segalanya. Waktu bisa memutuskan apa saja. Bahkan waktu bisa menghilangkan apapun sesuka kehendaknya. 

Terlepas dari itu semua. Aku hanya tidak ingin kita berpisah begitu saja, harus ada kelanjutan dari kisah yang terjeda tanpa aba-aba ini. Di sini aku tengah menabung banyak cerita, Hara dan aku tengah berlomba dengan waktu untuk mengisi kendi kami dan juga milikmu. Supaya di tempat yang kugambar indah dan kunamai surga itu, kita semua bisa kembali bersama. Semoga saja. 

Sabtu, 20 November 2021

Mengurai Duka

Tiga hari sebelum kepergianmu, kita datang ketempat ini. Kamu masih ingat tentang bagaimana si kakak begitu terkagum-kagum melihat pengering tangan otomatis di tempat cuci tangan? Atau tentang bagaimana ia akan mengomentari betapa lucunya bentuk piring kotak disana, yang berbeda dari bentuk piring yang biasa ia gunakan di rumah. Iya, ini adalah kali pertama kita mengajak anak-anak pergi makan di tempat selain warung baso dan mie ayam. Restoran, begitu si kakak menyebutnya meski tempat yang kita tuju hanyalah tempat makan cepat saji khusus ayam. Di sana kita berbagi tugas, kamu menyuapi si kakak aku bagian si kecil.
"Pesan lagi saja satu untukmu," berkali-kali aku mengatakan itu dan jawabanmu selalu sama, 
"Tidak usah, keperluan kita masih banyak, toh kamu juga nggak makan, aku akan menghabiskan sisanya saja."
Satu piring di serbu satu keluarga dengan dua anak, aku sempat melihat berkeliling barangkali ada yang sedang menertawakan meja kami, tapi suasana saat itu terlihat cuek. 
"Aku senang sekali melihat si kakak bahagia," begitu ucapmu dengan wajah berbinar, si sulung yang mendengar itu langsung saja memanfaatkan untuk meminta kembali datang lain waktu. 
Dan jawabanmu selalu sama untuk setiap permintaannya, 
"Insyaalloh kalau kita punya uang lebih ya,"
Aku tidak pernah tahu jika lain waktu yang kita janjikan tidak akan pernah datang, 

(Inhale, exhale) 

Hari ini aku datang lagi ketempat itu, bukan untuk makan bersama, tapi untuk memenuhi janji pada si kakak, karena apa kamu tahu apa yang di tanyakan padaku beberapa hari selang kepergianmu? 
"Ma, apa sekarang kakak sudah enggak bisa makan ayam goreng?"
"Loh, kenapa begitu sayang?"
"Karena bapak sudah enggak ada, itu berati mama nggak punya uang."
Jangan tanya seperti apa rasaku saat itu, luka yang dikarenakan oleh kepergian tanpa pamitmu masih sangat baru, mataku masih membuta, telingaku masih menuli, jangankan mencerna atau memikirkan tentang bagaimana hidup akan berlanjut kedepannya, aku bahkan masih belum bisa berduka dengan tenang. Dan pertanyaan si sulung membangunkan dukaku seketika, ada yang harus kuurus sekarang, meski ada yang telah lebur dan tak lagi berbentuk tapi ia harus tetap bisa merasa dan menata. 
"Kita masih bisa makan ayam, kan mama punya bos jadi tetap punya uang,"
"Siapa bos mama?"
"Bunda,"
"Terus siapa lagi?" 
Aku menangkap keraguan di mata gadis kecilku, pertanyaan besar menggelayuti pikiran polosnya, ia melihat ada jurang lebar di depan sana, dan jawaban yang akan kuberikan entah kenapa terasa begitu penting. 
"Mama masih punya Allah sayang, kan Allah yang memberi kita rezeki. Insyaallah besok-besok kalau mama pergi dan punya uang, mama belikan."

Janji itu sudah kupenuhi, seperti halnya hak-hak lain miliknya yang mungkin dia takut akan ikut hilang bersamaan dengan kepergianmu, aku tidak berjanji tapi aku mencoba. Mencoba menyisakan waktu untuk membacakannya dongeng sebelum tidur. Mencoba menyisakan tenaga untuk bermain kokomakuci atau perang monster seperti yang selalu kalian lakukan pada malam-malam kita masih bersama. Mencoba lebih taat lagi dalam hal mengingat Yang Maha Tunggal. Bahkan, mencoba membawa mimpi sejengkal lebih dekat, meski aku sendiri telah lupa apa itu harapan.

(Inhale, exhale)

Sejatinya manusia terlahir mandiri, dibungkus kulit ari secara eksklusif tanpa harus berbagi. Tapi begitu banyaknya ikatan membuat manusia lupa, membuat manusia menjadi kurang percaya diri, dibayangi keraguan untuk melangkah ketika pasangan mulai berbeda jalan. Dan kini aku tengah terjebak di fase itu. 
"Apakah aku bisa?" Adalah pertanyaan tunggal yang konstan hadir dalam kepala. Kamu tahu benar aku terlatih menjadi tulang, dan jika sekarang kakiku harus kembali menjadi kepala, begitu juga sebaliknya. Maka dengan segala kerelaan yang masih enggan hadir, aku akan memaksa bergegas untuk bersiap. 
Seperti yang selalu kujelaskan pada si kakak di tengah-tengah sulitnya menjejalkan konsep mati-doa-surga-neraka pada anak berusia 5tahun, dengan itu pula aku meyakinkan diri bahwa aku tidak sendirian. Kamu mendengar, memperhatikan dan melihat semuanya. Hanya saja sekarang melalui jendela yang berbeda.
Terimakasih untuk sekian tahun yang telah terlalui bersama. Meski membosankan tapi aku akan masih berkata bahwa aku beruntung karena telah memintamu menjadi partner hidupku 6tahun yang lalu, dan bukan yang lain. Aku tidak akan berjanji tapi mencoba, mengisi tempatmu dihati si sulung dan si bungsu, meski aku tidak yakin tahu seperti apa caranya. Jika entah dengan cara apa kamu berhasil tahu tentang tulisan panjang dan penuh drama ini dan kamu tertawa, maka maafkan aku karena memberitahu dunia bahwa aku terluka dan sedang tertatih memaksa diri untuk bangun segera.
Seperti pesan si kakak ketika mengunjungi rumah barumu kemarin, "bubu dengan tenang ya bapa, kakak disini selalu doain bapa." Sekarang kembali kepada tanah dan beristirahatlah dengan tenang, kamu aku selalu dirindukan. 
Teriring doa di setiap kesempatan.

Minggu, 27 Desember 2020

Murid Tahun Kedua

Ini adalah kali pertama kita bertemu. Bukan tentang aku sebagai pengandungmu dan engkau sebagai benih yang tengah kutunggu. Ini adalah kali pertama kita bertemu sebagai guru dan muridnya di tahun kedua. 
Dulu, lama sebelum aku memasuki ranah penuh perjuangan ini. Dulu, sebelum nadiku masih utuh dan belum terbagi. Aku pernah memimpikanmu menjadi yang pertama. Sesuai nama yang hendak engkau rengkuh, Alfa.
Tapi nyatanya engkau hadir setelah Hara. Yang pertama untuk urutan kedua. Tapi memang harus seperti itu adanya. Ketika hidup ini adalah sebuah lahan pertanian, untuk memulai bercocok tanam maka hal pertama yang perlu di perhatikan oleh petani adalah kesuburan tanahnya. Dan kemudian unsur terpenting dalam hidup itupun mulai melaksanakan hakikat dari namanya. Hara. Mempersiapkanku, dari diri yang sangat begitu mentah, dan begitu keras menjadi sesuatu yang sedikit melembut dan juga memiliki kelenturan. Hara begitu telaten, meski terkadang diri ini masih mengutuk dan mengancam tapi dia tetap tegak di sana, menawarkan bangku peristirahatan, menggumamkan mantra-mantra baru penuh keajaiban. Guru di tahun pertamaku berujud unsur pelemas tulang, dan juga peremas gumpalan.


Tahun kedua datang dengan hanya mengangkut sedikit beban. Aku tidak segugup ketika baru pertama kali menapakkan kaki di daratan ini. Awalnya aku berpikir bahwa perjalanan satu ini akan terlewati dengan sama mulus dan lancarnya ketika dulu aku melalui tahun pertama. Dan pada saat memasuki minggu-minggu terakhir kesalahan dari perkiraanku pun terlihat. Ini berbeda. Alfa adalah guru yang lain. Jika ada tingkat dari sebuah sabar, maka satu ini adalah tingkat yang lebih senior ketimbang sabar yang pernah di ajarkan oleh Hara. Babak baru di mulai, saat di mana diri yang mengenal sepertiga malam sebagai ajang untuk bergumul bersama abjad menjadi tempat akbar untuk meminta dan merengek. Dan dari kebiasaan baru itu muncul satu bait kalimat yang begitu kusuka dan kuangankan untuk berada dalam salah satu paragraf di rumah ini. Satu kalimat singkat yang begitu menyimpan sihir dan candu dengan bunyi seperti ini, "Kepada yang menjaga malam dan mengabulkan segala keinginan-keinginan. Kepada yang selalu terjaga dan tak pernah melewatkan bisikan-bisikan." 
Alfa mengenalkanku pada Dzat yang Maha romantis, ketika mengukir kata-kata menjadi begitu manusiawi dan begitu.....pulang. Tahukah kamu perasaan seperti itu? Semenjak lahir manusia di gelayuti oleh satu tanya besar, tentang hendak menjadi siapa, dan hendak berkelana ke daratan manakah dirinya kelak. Dan ketika segala pengetahuan dan berbagai destinasi menjadi kendaraan yang siap mengantarnya kemanapun hasrat mengajak. Tapi pulang selalu menjadi tujuan akhir pada akhirnya. Tapi pulang selalu menjadi jalan yang akan di tempuh pada akhirnya. Pulang kepada diri sendiri. Pulang menjadi diri sendiri. Tempat terorisinil yang selalu menyerap segala ingin dan minat untuk kembali dan kembali. Dalam hening yang tak bersekat, dalam ketiadaan yang tak bersyarat. Selain sabar, pelajaran kedua yang kudapat dari pengajar baru satu ini adalah tentang berputar arah, menuju jalan pulang untuk diri yang sempat tersesat. Dan bahagianya jalanan itu berbalut kata-kata. Jiwa pujangga yang dulu memenuhi raga tak perlu kemana-mana, dia tak perlu turun di tengah jalan dan meneruskan pengelanaan. Karena dalam perjalanan pulang diapun akan terangkut bersama. Kali ini bahkan di restui oleh Dzat yang Maha Benar. Oh, bahagianya. 

Dear Alfa. Kepada nama yang kelak menjadi guru selanjutnya setelah Hara. Aku tahu kita biasa berbincang melalui banyak cara, lewat detak jantung yang terpompa seirama, lewat denyut nadi yang berkedut bersama, dan hanya lewat rumah inilah satu-satunya jalan yang belum pernah kulalui untuk mulai menyapamu. Dan seperti sebuah nazar yang terpenuhi, maka hari ini aku melakukannya. Membiarkan siapapun masing-masing kita untuk saling berbicara. 
Dear Alfa, aku tahu engkaulah yang paling memahami tentang jalan pulang yang telah kubicarakan. Karena disana namamu terpampang dengan sebegitu jelas sebagai referensi kelayakan jalan. Alasan kenapa sepertiga malam menjadi tempat untuk beradu tatap dengan yang selalu tersingkap kabut.
Dear Alfa, jika aku bisa mengutarakan permintaan langsung kepadamu, bersediakah engkau mengabulkannya? Untuk sejenak saja, bukalah kelopak matamu dan arahkan pada benak si dungu berjuluk pengandungmu ini. Disana tertera jelas apa hasrat terpendam yang kusimpan untukmu. Disana tertera jelas apa ingin dan angan yang selalu kubisikkan pada yang selalu menjaga malam dan siang tentangmu. Satu yang telah menyatu, hasrat yang begitu alot untuk terucap, keinginan untuk mengeluarkanmu dari dunia sana dengan sama normal dan lancarnya ketika dulu aku melakukannya untuk Hara. Aku tahu engkau akan menjadi pengajar yang baru, engkau tidak bisa di samakan dengan siapa-siapa, metodemu akan mengenalkanku pada sesuatu yang belum pernah kusentuh dan kupandang. Tapi untuk yang satu itu, doa yang telah berubah menjadi mantra, mantra yang telah mengubah lafal menjadi denyutan. Bisakah engkau memberikan kepastian akannya?
Aku telah menelan banyak cemas hingga detik ini, aku telah menelan banyak khawatir yang tak pernah kulakukan sebelumnya. Ketakutan tentang banyak ketidakpastian, sementara waktu terus saja berpacu dengan detak jantung tanpa pernah ada yang mau melambatkan aksinya. Aku pasti tengah berjalan menuju ketiadaan sekarang, melangkah dalam gelap yang di depannya terdapat jurang atau justru daratan lapang. Satu hal yang pasti tentangku adalah, bahwa aku tidak pernah menyukai kejutan, apapun bentuknya. Jadi Alfa, dengan segenap perasaan satu yang mengikat di antara kita, dengan segenap perasaan ragu yang terselip di antara pasti yang mengungkung milikmu, berikan aku satu kepastian jawaban, berikan aku satu pertanda akan rasa tenang. Berikan aku, satu jalan mulus yang dulu pernah di hadiahkan oleh Hara. Berikan satu itu, dan kita akan semakin tak terpisahkan.

Aku tahu ada banyak yang perlu kita bicarakan. Tentang masa yang akan datang, tentang cerita lampau dan yang belun terjamahkan. Tentang kita dan mereka yang kelak terikat dalam lingkaran kita. Tapi di depan sana akan ada berlembar-lembar halaman kosong yang siap untuk di isi. Tapi di depan sana akan ada bertumpuk-tumpuk jeda waktu yang siap menjadi kertas dan saksi bagi petualangan bersama kita.
Saat ini, nadiku hanya satu, denyutku telah menyatu bersama doa dan mantra tentang keinginan untuk mengantarmu melihat dunia dengan selamat, lancar dan normal. Semoga saja. Semoga saja. Semoga saja. 

Salam hangat dari murid di tahun kedua untuk pengajar kedua. Yang tengah menantikanmu dengan tanpa secuilpun ragu. Mari kita bergandengan tangan, menyatukan tekad, tak ada sulit yang tak bisa dilewati ketika kita bersama. Semoga saja. 

Kamis, 15 Oktober 2020

Tentang Musim Tak Bernama

Jika engkau mulai membicarakan sesuatu bertemakan musim, maka tidak akan pernah ada kata selesai di sana. Seperti juga pernikahan, ikatan antara anak dan pengandungnya. Hal-hal yang hanya patut di bungkus dalam bisikan, agar tidak keluar sebagai cacian. 

Musim gugur menghampiri pohon-pohon pada waktunya. Lalu dingin yang begitu dingin akan menyelimuti tanah-tanah pada akhirnya. Seperti juga pertanyaan-pertanyaan yang muncul bak tunas baru di tahun-tahun kian menuanya sebuah ikatan. Entah untuk pernikahan, atau hubungan antara anak dan pengandungnya. 

Pepohonan kian meranggas, memperlihatkan tulang-tulang rantingnya yang mencuat bak jemari yang mencoba menggapai langit. Dingin yang tak tertahankan masih memiliki level siksa di atasnya. Yakni ketika mulut-mulut mulai mengulum bara yang menyala. Membukanya hanya akan menyemburkan asap. Sementara menelannya hanya akan membuat senam gigi yang begitu teratur dan berirama. Sesuatu yang semacam itu juga berlaku bagi sebuah hubungan. Entah pertalian dalam sebuah pernikahan atau pertalian antara anak dan pengandungnya. Titik dimana seperti semua tempat akan menyuguhkan udara yang lebih baik ketimbang hanya berdiam dan mencoba menelan. Ada kekuatan di dalam untuk lari sekencang-kencangnya, memutus segala resah dan mengabaikan segala sudut pandang. Hanya demi mendapat sebuah kenyamanan. Tapi lagi-lagi manusia di ingatkan, untuk tidak pernah membahas musim, pernikahan, atau ikatan antara anak dan pengandungnya atau tidak akan pernah ada kata selesai di ujung kalimatnya.



Maka di sinilah aku. Dengan kaki-kaki yang bukan hanya beku, tapi separuh dalam perjalanan menjadi batu. Maka di sinilah aku. Dengan mata-mata jengah yang begitu haus akan warna hijau memayungi, yang begitu dahaga dengan aroma pucuk daun dan bukannya suguhan aroma api, membakar kisah tentang ranting-ranting, dedaunan kering yang menyerah pada musim meranggas. Dan sampai di mana kisah tentang  pernikahan dan juga hubungan antara anak dan pengandungnya? Mungkin sudah selesai. Pertanyaan yang dulu ada tengah dalam masa penantian untuk bertemu jawabannya. Jengah dan resah yang selalu giat menyirami tak bisa menemukan kekuatannya untuk berlari dan mencari. Hanya menunggu. Dan akan terus menunggu. 


Musim gugur mulai menyapa pohon-pohon. Dingin yang semakin dingin mulai menyelimuti tanah-tanah. Tapi di bawah itu semua ada kaki-kaki yang tengah berjuang agar tetap bisa berjalan dengan seimbang. Menyetarakan antara nalar dan juga sudut pandang. Meski sesekali terpeleset, meski sesekali harus terjatuh dan merasa tidak akan bisa melanjutkan. Tapi api di bawah sana selalu berusaha, menyulut apapun yang bisa menjadi perantara untuk kembali membakarnya. Bahkan meski hanya berupa bara di ujung mulut. Bahkan meski hanya asap yang menyelinap dari kepungan bibir. Ada hangat yang terus terjaga. Ada bara yang tak pernah berhenti menjaga. Menunggu saat yang tepat untuk membakar apa saja, menunggu saat yang tepat untuk memperbaiki semuanya, menunggu waktu yang tepat untuk merobek sesak yang di tebar bak kelambu membebat raga.

Selasa, 07 April 2020

Pendaki Amatir

Aku mendaki sebuah gunung. Terdapat banyak jalan menuju puncaknya. Dari yang di sarankan oleh ahli pendakian, lalu jalan yang di buat oleh penduduk sekitar, hingga jalan yang di tuntun oleh nurani. 
Aku memilih jalan yang terakhir. Menjadi manusia kebanyakan sama sekali bukan ciri khasku. Sementara mengikuti setapak yang telah di buat oleh penduduk sekitar sama sekali tak memberi tantangan, lagi pula apa enaknya berjalan dengan di tuntun oleh setapak yang di buat oleh orang lain? Kau harus menciptakan sendiri setapakmu. Membelah belantara hanya demi menemukan puncak tujuan. Tersesat bukan halangan, salah bukan sebuah masalah. Aku mencoba peruntunganku. Menaklukkan gunung melewati jalur yang tidak biasanya. Perjudianku dengan keberuntungan dan juga alam. 

Gelap, aku melihat nyala cahaya yang hanya berupa titik, jauh di belakang sana, pintu masukku menuju kepekatan total. Ini pilihanku. Bahkan jika ini adalah perjalanan terakhirku, sebisa mungkin tidak akan ada penyesalan di sana, karena ini adalah pilihanku. 

Aku sendiri. Berkawankan jamur dan lumut hijau yang menyebar rata di setiap kaki pepohonan tua. Aku sendiri. Hanya bertemankan nafas dari pegunungan yang tengah ku daki. Aku mencoba berbicara pada denyut yang kian menyatu dengan detak jantungku. Aku mencoba menyapa dan berharap akan mendapat petunjuk baru untuk keluar dari gelap yang kian mendekap. 

Jangan tanya seberapa banyak aku menjejalkan bekal ke dalam ransel yang menggantung kokoh di punggung. Aku tak mengira perjalananku akan menjadi semenantang ini. Dalam pemberhentianku yang selanjutnya aku berencana untuk mengurangi isi ransel, membuang barang-barang yang tidak kubutuhkan. Menghemat tenaga tentu cara terbaik untuk situasi ini. 
Ujung belantara masih panjang di depan sana, melambai, mencoba memanggil semangat yang kian menghilang seiring bertambahnya langkah. 

Tenggorokanku terasa kering, membunyikan suara akan membuatnya semakin terasa parah, tapi aku perlu melakukannya. Untuk membunuh sepi, untuk membunuh sunyi yang kian mencekam.
Satu, dua, tiga, kunyanyikan lagu tentang pahlawan. Tapi suasana justru semakin terasa buruk. Perjuangan mereka terlalu agung untuk di dendangkan di tengah belantara. Lalu aku mencoba lagu lembut. Dan sihir seketika meghampiri, memilih kelopak mata untuk merekatkan mantranya. Memang baik jika kita bisa terlelap di tengah gempuran rasa takut. Tapi proses tidurku kali ini tidak menguntungkan. Karena di alam sana, aku menemui kegelapan yang lain lagi. Kegelapan yang terasa getir. Menyapu seluruh langit-langit mimpi dan melemparkanku pada nyala nanar seketika. Aku bangun untuk tenggelam lagi dalam kegelapan yang pertama. Saatnya untuk melanjutkan jalan, bahkan jika denyut pegunungan sama sekali tidak mengirimkan pertanda, tentang jalan mana yang harusnya kupilih, tentang tikungan mana yang harus kupilih. 


Puncak masih setengah perjalanan. Dan ini adalah hari ke limaku. Memang bukan pegunungan biasa yang kupilih untuk di daki kali ini. Gunung ini biasa di sebut sebagai gunung abadi, karena panjangnya jalan yang harus di tempuh dan berapa banyak bahaya yang menghadang. 

Tidak hanya peluh yang turun membasahi tapi juga air mata, oh Tuhan, aku mulai lelah dengan jalan pilihanku. 

Mengeluh tidak akan mengurangi beban, mengeluh tidak lantas memperpendek jarak pada tujuan. Mengeluh hanya menandakan bahwa aku manusia biasa. Dan menaklukkan alam bukanlah sesuatu yang ada dalam jangkauan kekuatanku. 

Dia dengan keluasannya, dia dengan segala kisah pertama, kedua dan lainnya. Dia dengan kebesarannya yang tak mungkin bisa sepenuhnya kurengkuh. 

Penat menguji tekad. Penat menguji pilihan. Bukan sekali aku berakhir untuk mengakhiri ini. Bukan hanya sekali aku berpikir untuk menyerah pada niat pertamaku dalam menaklukkan gunung satu ini. 

Aku ingin tidak hanya nafasku saja yang mengejar jarak, aku ingin bukan hanya nadiku saja yang berima menyelaraskan langkah. Tapi dia tetap diam. Tapi dia tetap jauh di sana, ada jurang yang memberatkan langkah, bahkan ketika aku membabi buta memperpanjang langkah, dia tetap akan sepertu itu, dia akan tetap diam. 

Dear gunung tinggi nan berkuasa. Bisakah kita bercakap-cakap barang sejenak? Bisakah kau merasakan peluh yang mengaliri raga ini? Bercampur dengan air dari retina. Meski penting untuk mempertahankan tekad di awal niat tapi jujur saja aku ingin mengakhiri perjalanan ini. Meski penting mempertahankan perjuangan sampai ke puncak, tapi di sini, sesuatu tengah membeku. Aku selalu merasa bahwa dalam perjalanan ini hanya aku yang menginginkan puncak itu, engkau menutup diri, sembunyi entah dimana, tak pernah mencoba untuk berbaik hati memuji penat yang kian mendera, tak pernah mencoba untuk berbaik hati agar puncak dapat cepat terselesaikan. 

Aku merasa tengah berjuang sendiri untuk pucak itu. Dan kini aku ingin menyerah. Tidak apa jika jalan ke belakang ternyata lebih panjang ketimbang jalan di depan sana. Tidak apa jika ternyata hanya akan kutemui penyesalan di pintu masuk sana. Karena jujur saja, terlalu sulit melanjutkan perjalanan dengan hanya menggunakan satu kaki. Niatku sendiri. 

Semoga pendaki lebih beruntung dalam menaklukkan puncakmu. Semoga pendaki lain kuat niat ketimbang diriku. 

Sabtu, 04 April 2020

Jembatan, Malam dan Hujan Kecil-Kecil

Beberapa nama begitu inspiratif untuk di jadikan bahan tulisan. Beberapa nama terlalu menggiurkan untuk hanya sekedar di jadikan bahan angan-angan. 

Namamu salah satunya. Pemilik retina yang selalu mengundang siapapun untuk memandangnya. Pemilik senyum yang selalu menghadirkan kepakan kupu-kupu di setiap pulasannya. 

Aku punya rahasia manis tentang jembatan. Dengan amukan deras air di bawahnya. Aku punya rahasia manis tentang ingatan akan jembatan, dan malam, bahkan hujan kecil-kecil. Yang terkadang menawarkan undangan agar aku bersedia menilik seperti apa isinya. Masa lalu yang selalu menebarkan feromon menggelitik agar aku bersedia kembali untuk membuka halamannya. 

Kadang aku tergoda, tapi ajakan itu kian waktu kian menyusut. Bukannya tidak ada, hanya saja asinnya air yang tergenang, telah menghilang secara samar, menyisakan kepulan asap berisikan kepingan gambar, tentang bagaimana aku menangis diam-diam, tentang proses bagaimana topeng di tangan meluruhkan diri pelan-pelan. 

Namamu tetap bercokol di sana, seperti hantu yang enggan meninggalkan tempat keramatnya. Seperti bayangan hitam yang mengikuti manusia. Namamu tetap di sana dalam ingatan terdalam beserta jembatan, malam, dan hujan kecil-kecilnya. 

Aku tidak pernah berpikir tentang nama lain yang akan menjadi pendampingku. Aku tidak pernah memikirkan kemungkinan lain jika Ari tidak mengiyakan tawaran untuk berhubungan waktu itu. Beberapa kali si pembuat baret datang dalam lamunan, dan namamu secara konstan hadir juga meski dengan tegas ikatan itu telah mematahkan harapan. 

Biarkan aku menyimpan rahasia manis tentang itu.  Aku tidak ingin membuatnya hilang atau terlupakan, karena namamu pernah mengajarkan sesuatu sangat penting dalam kehidupan. Yakni tentang mengikhlaskan.
Biarkan aku menyimpan sendiri rahasia manis itu. Tentang malam, tentang jembatan, tentang amukan air di bawahnya, dan tentang hujan kecil-kecil yang menjadi serbuk pemanis kebersamaan kita. Singkat, harus di akui waktuku begitu singkat. Kemarin aku mengagumi senyuman matamu, lalu keesokan harinya aku jatuh dalam pelupuk mengundang, dan lusanya pengakuan itu datang. Aku menyerah memperjuangkan sekian hariku yang terbuang untuk mengamati, mengagumi dan mengharapkanmu. Aku menyerah untuk mengakui pada kuncup yang tengah tumbuh di dalam sana. 

Biarkan aku puas memilikimu dalam kepala. Biarkan aku menyimpan rahasia manis yang meski hanya memiliki durasi singkat namun begitu membekas dan enggan untuk di tanggalkan. Hantuku yang kesekian dan tetap bertahan hingga sekarang. 
Kenangan tentangmu hanya seputar tiga kata itu, jembatan, malam dan hujan kecil-kecil, tapi pelajaran yang kuambil dari masa singkat itu banyak hingga tak terhingga. Aku jatuh cinta, aku menjadi pengagum rahasia. Dan satu-satunya hal yang kudapat hanyalah air mata, tetesan air asin yang keluar dari retina bukan karena indikasi adanya luka, tapi perasaan bahagia. Aku terlalu bahagia untuk menjadikanmu nyata, sementara mencuri waktumu telah berhasil kulakukan, sementara senyummu telah berhasil mengenyangkan, sementara menculikmu dari siang yang membakar telah berhasil kulakukan, menculik lalu menyekapmu dalam malam-malam singkat di atas jembatan. Aku akan jadi serakah jika menginginkan lebih dari itu. 

Dalam waktu singkat kita aku bahkan lupa mengucapkan kata perpisahan. Lambaian tangan yang ku isyaratkan tak mendapat tanggapan. Sementara melayangkan pandangan mencuri untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal akan terasa seperti melanggar sebuah batasan. Garis yang di buat oleh takdir untuk mengingatkan bahwa milikmu bukan aku, bahwa namamu tercipta bukan untuk bersanding dengan namaku, bahwa peta untuk pulang kita tidak sama. Batasan yang membuatku hilang akal dan memutuskan untuk menghilang seketika. 
Biarkan aku menggenggam rahasia manis ini. Pijakan terakhir untuk terlepas keluar dari jurang yang engkau ciptakan. Aku harus menuntaskan, mengakui dan menuliskan. Menelan hanya akan mendatangkan bisa. Agar kelak yang tertinggal di dalam sana hanyalah kenang-kenangan semata, dan bukan lagi cinta. Rahasia manis kita sudah bukan lagi berbentuk rahasia. Karena aku telah berhasil mengatasi dan mengeluarkan, Ari mungkin akan membaca ini dan aku lega karena tidak harus menatap matanya langsung ketika menyatakannya. Pengakuan bahwa namamu telah melewati batas izin tinggalnya, bahwa namamu hanya menyalakan ingatan samar semata, menyisakan tiga kata kunci yang mungkin akan tersimpan selamanya. Jembatan, malam dan hujan kecil-kecil. Tiga nama yang akan membawaku kembali pada ingatan tentangmu. Tapi kini Ari dan cetak birunya telah berhasil mengumpulkan banyak memori manis lainnya, tapi kini Ari dan cetak birunya telah berhasil mengumpulkan banyak kenangan di tempat yang sama. Namamu bukan lagi satu-satunya. Namamu bukan lagi yang paling istimewa. Jika memungkinkan aku ingin dengan benar mengucapkan selamat tinggal. Cara terakhir untuk melepaskan dan mengikhlaskan. Maaf jika membutuhkan waktu selama itu, selama ini aku hanya berpikir bahwa ikhlas tidak butuh pengucapan, ikhlas tidak memerlukan formalitas semacam jabat tangan. Dan aku salah. Cara terbaik untuk melepaskan adalah dengan mengucapkan selamat tinggal, cara terbaik untuk merelakan adalah dengan mengangkat dagu dan tangan, dan mengakui secara gamblang bahwa engkau telah berhasil melepaskan. 


Biarkan namamu membeku di rumah kecil ini. Tempat abadi di mana aku akan selalu kembali, kemanapun langkah membawaku pergi. Biarkan rahasia manis itu tertuangkan disini. Hanya sebagai penanda jika kelak kenangan tentangmu kembali menggoda, bahwa aku telah berhasil menuntaskan segalanya, memutus rantai suka yang tertanam semenjak pertama kali menemui senyuman di matamu, bahkan sebelum aku dengan resmi mengetahui namamu. 

Beberapa nama memang begitu layak untuk di jadikan bahan tulisan, beberapa yang lain kenangan tentang nama itulah yang layak mendapatkan tempat dalam tiap baris dan halaman catatan. 
Namamu mengekal di sini bersama tiga kata kunci yang selalu menyertai, jembatan, malam dan hujan kecil-kecil. 

Seperti juga rahasia manis itu, begitu juga rasa kagumku terhadap namamu. Aku ingin siapapun tahu, aku ingin siapapun membaca. Agar kelak tidak ada lagi rahasia yang tersisa di kedalaman sana. Agar kelak yang terkubur bersama waktu hanyalah kenangan samar tentang persahabatan manis kita yang telah berakhir dan lupa untuk ku tutup dengan ucapan selamat tinggal. Aku tidak mengharapkan retinamu membaca ini, atau tulisan-tulisan lain tentang pengakuan cintaku padamu. Kita akan menua dengan menggenggam ingatan yang berbeda. Dan di dalam kepalaku, ijinkan jembatan, malam dan hujan kecil-kecil yang menjadi penghuni tetapnya. Cara terbaik untuk tetap memilikimu tanpa harus menyakiti siapa-siapa. Hanya ingatan singkat tanpa kata penutup, hanya kenangan singkat tanpa judul. Itu saja.