Jumat, 11 November 2016

Efek Samping Obat Bius

Dulu aku selalu bertanya-tanya, bagaimana cara menjadi seorang kakak yang baik ? Harus menjadi apa aku jika suatu hari nanti aku harus menggantikan keberadaan emak bagi adikku itu ?
Adikku terlahir dengan sedikit celah pada batas normal. Aku selalu berfikir bahwa perlu menambah bubuk ekstra pada setiap segi demi mendampinginya yang entah akan sampai kapan. Aku terus mencari dimana harus menemukan bubuk itu, aku terus bertanya tentang bagaimana cara menjadi kakak yang baik.
.
.
.
.
.
.
Di dunia yang semakin menua ini, aku menemukan banyak kejanggalan. Tentang alam yang mulai memancarkan tatapan sebal, tentang binatang yang mulai mendengus kesal, tentang angin yang mulai berani meninggalkan zona nyaman. Terlalu banyak keganjilan, terlalu banyak pertanyaan dan ketika akhirnya sebuah sadar tersingkap, malang nian, keadaan manusia dunia sudah terlambat untuk diselamatkan.
.
Aku adalah seorang Ibu, gelar yang baru saja kusandang kurang lebih sebulan lalu melalui prosesi yang tak hanya sulit tapi juga tak terbayangkan. Semenjak hari kelahiran, diantara begitu banyak doa manis dan harapan baik yang hilir mudik membanjiri nafas si buah hati, aku justru melenggang sendiri dengan keyakinan dan juga mantra rapalanku. Aku terlalu linglung untuk memahami apa yang mereka doa dan harapkan untuk jiwa yang baru sekian jam menghirup udara bumi. Mereka membebani anakku dengan banyak harapan, sampai aku sendiri bingung doa apa yang harus aku tiupkan ditelinganya. Aku seperti masih dalam masa bius setelah proses melahirkan. Anakku datang dengan begitu tiba-tiba kendati aku mengandung dan merasainya selama 41minggu. Anakku datang dengan segala keterkejutan yang tak terduga. Butuh rasa sakit setara setruman bervolume mega diputing susu untuk menyadarkan bahwa aku telah menjadi seorang Ibu. Butuh tamparan sekeras yang kuterima hari ini untuk menyadarkan bahwa aku telah berekor, dan bukan manusia yang sama seperti yang kalian lihat sebelumnya.
.
Seseorang dengan segala tingkahnya telah menunjukkan sesuatu padaku hari ini, bahwa mungkin tak akan ada kata yang bisa mewakili isi doa dan harapan seorang Ibu. Andai semua kertas dan tinta diseluruh dunia dikumpulkanpun mungkin belum akan cukup untuk menggambarkannya. Karena pada dasarnya, setiap hela dan tarikan napas seorang Ibu tak lain dan tak bukan berisi untaian-untaian mantra. Jampi yang dilafalkan tanpa lagi memandang seperti apa ujud dan cara pengucapannya.
Seseorang itu telah menunjukkan padaku, dimana posisi nyataku hari ini. Obat bius pasca mengejan telah berakhir, dan kini yang tersisa hanya perasaan lega tanpa batas dan juga perasaan khawatir tiada jeda. Bagaimana jika rambut anakku tidak tumbuh setelah diplontos dihari ke 40nya ? Bagaimana jika bentol bekas gigitan nyamuk ditengkuknya mengoreng dan menimbulkan luka ? Bagaimana jika anakku besar dan tumbuh senakal masa kecilku ? Bagaimana jika ia tumbuh dan menjadi sebejat masa remajaku ? Harus kepada siapa aku menyalahkan semua cacat dan mungkin luka yang didapat oleh anakku ? Kepada siapa aku harus mengatakan bahwa sekecil apapun sakit yang dideritanya akan bergiga lipatnya terhadap yang kurasa. Kepada siapa aku harus menunjukkan bahwa kelak aku mungkin akan merasa sakit setara patah hati hanya untuk penolakan dari masakanku dibekal makan siangnya.
.
Aku masih dengan jelas mengingat seberapa keras perjuangan mengeluarkan kepala. Doa manis saja tidak akan cukup untuk menjadi bekalnya, untuk itulah aku membungkus anakku sedari detik ketika air ketuban meleleh dengan segenap nyawa.
.
Aku telah sebulan yang lalu memparaf tanda sah untuk disebut Ibu. Tapi baru hari ini jiwa itu menggeliat dan terbangun dari masa biusnya. Sekalipun aku masih tetap bingung untuk membentuk anakku dengan harapan yang seperti apa, aku berharap kelak ia akan melihat bahwa aku lebih menyayanginya ketimbang aku mengasihi denyut nadiku sendiri. Aku berharap ia akan paham, bahwa segala tindak dan tanduknya dimasa mendatang akan menjadi taruhan bagi kelangsungan hidupku. Tindak baiknya sekecil apapun akan melambungkanku pada titik diatas tinggi dan tingkah buruknya sekecil apapun akan mematah bahkan meremukkan tak hanya hati tapi juga jantungku.
.
.
Pertanyaan itu terjawab sudah. Tentang harus menjadi apa aku kelak untuk menggantikan keberadaan emak bagi adikku. Tidak ada yang bisa memberikan kasih sebesar dan setulus seorang Ibu. Sebesar apapun aku mencobanya.
Dan tentang pertanyaan seperti apa rasanya melahirkan, jika saja ada yang mempertanyakan itu..kuberitahu kalian kawan, pada detik aku tengah menyabung nyawa yang terus berputar didalam kepala adalah tentang sebuah kenapa. Kenapa aku pernah menjadi anak nakal ? Sebesar apa rasa kecewa yang harus kubayar untuk 24 tahun keberadaanku ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar